Price Pattern
Price Pattern Dalam Trading Forex
Apa itu Price Pattern?
Price Pattern merupakan suatu pola yang muncul dari pergerakan harga yang terjadi di pasar
forex dan komoditi dimana pola-pola tertentu akan muncul kembali.
Dalam trading forex dan komoditi, dikenal istilah “History repeats itself” yang artinya sejarah
terulang dengan sendirinya. Dengan mempelajari dan mengenali Price Pattern, maka Anda bisa
memperkirakan pergerakan harga selanjutnya ketika suatu pola muncul.
Pada dasarnya ada dua jenis pattern, yaitu reversal pattern dan continuation pattern.
Continuation pattern merupakan pola yang memberikan indikasi bahwa harga akan cenderung
meneruskan pergerakan sesuai dengan tren sebelumnya.
Misalnya, kalau pola ini muncul pada saat uptrend maka setelah pola ini terkonfirmasi maka
harga cenderung akan bergerak naik meneruskan uptrend tersebut.
Demikian pula jika pola ini muncul pada saat downtrend, maka harga pun akan cenderung akan
turun meneruskan downtrend tadi.
Panduan Lengkap Reversal Pattern
Pengertian Reversal Pattern
Reversal pattern adalah suatu pola yang mengisyaratkan akan adalanya pembalikan arah tren.
Jika pada saat uptrend atau downtrend kemudian pola ini muncul, maka diperkirakan harga akan
bergerak berlawanan dengan arah tren sebelumnya.
Pola Double Top dan Double Bottom
Kenali Perbedaan Pola Double Top dan Double Bottom
Anda akan memahami kata top sebagai puncak dan bottom sebagai lembah. Dengan demikian,
double top artinya adalah dua puncak. Sedangkan double bottom artinya adalah dua lembah.
Pola double top dan double bottom memang terlihat seperti dua puncak dan dua lembah yang
berdampingan. Kedua pola ini cukup mudah dikenali dan juga memiliki akurasi yang cukup
tinggi.
Double Top
Gambar diatas adalah ilustrasi dari pola double top. Pola ini biasanya muncul di ujung uptrend
dan memiliki indikasi bearish. Perhatikan bahwa ada enam titik yang ditandai pada gambar
tersebut. Anda bisa mengatakan bahwa ada potensi akan terbentuk pola double top jika harga
telah bergerak turun dari titik (3).
Ingat, baru potensi.
Ketika titik (4) tembus, barulah Anda bisa mengatakan bahwa pola double top sudah terbentuk.
Dengan kata lain, terkonfirmasi. Perhatikan pula bahwa konfirmasi double top ini sebenarnya
adalah tembusnya garis base.
Jika pola tersebut sudah ter-konfirmasi, maka pergerakan harga selanjutnya adalah potensial
bearish. Gambar panah menunjukkan potensi jauhnya potensi bearish yang mungkin terjadi.
Jarak yang mungkin akan ditempuh pergerakan harga adalah sejauh level puncak ke base.
Jadi, jika misalnya jarak antara level puncak ke base adalah 100 pips, maka harga akan
berpotensi turun 100 pips juga setelah base ditembus. Namun ada kalanya pullback akan terjadi
kembali ke area base sebelum target pergerakan bearish tecapai.
Biasanya, pullback berpotensi akan terjadi ketika harga sudah "setengah jalan" menuju target.
Jika seandainya target pergerakan adalah 100 pips, maka biasanya pullback akan berpotensi
terjadi ketika harga sudah turun sekitar 50 – 60 pips setelah base tembus.
Namun jika pullback yang terjadi "kebablasan" hingga tembus lagi ke atas base, maka pola ini
dikatakan sudah tidak valid lagi atau fail (gagal).
Double Bottom
Double bottom secara sederhana adalah kebalikan dari double top. Pola ini biasa muncul di ujung
downtrend dan memiliki indikasi bullish. Ketika base tembus dan pola ini terkonfirmasi, maka
harga berpotensi bullish.
Cara memperkirakan target peregerakan bullish-nya sama persis dengan double top, hanya saja
arahnya ke atas. Double bottom dikatakan fail jika pullback yang terjadi berlanjut hingga tembus
kembali ke bawah base.
Pola Triple Top & Triple Bottom
Kenali Pola Triple Top & Triple Bottom
Kedua pola ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan double top dan double bottom. Hanya saja,
triple top memiliki tiga puncak, dan triple bottom memiliki tiga lembah.
Cara mengenali konfirmasinya pun sama, yaitu tembusnya garis base. Demikian juga dengan
cara memperkirakan target pergerakan setelah pola tersebut terkonfirmasi.
Di bawah ini adalah ilustrasi dari triple top dan triple bottom.
Dari kedua gambar di atas terlihat bahwa ada kemungkinan pullback akan terjadi ke base dari
titik (7). Namun perlu diingat bahwa pullback semacam ini (meskipun cukup sering) tidak selalu
terjadi. Selalu, jika base tembus lagi pada saat pullback.
Catatan: ketiga titik lembah atau puncak tidak harus berada pada level yang sama persis, namun
perbedaannya juga tidak boleh terlalu signifikan.
Dengan kata lain, jika dilihat sekilas, ketiga titik lembah tersebut terlihat selevel. Demikian juga
pada pola double top dan double bottom, level puncak dan lembahnya tidak harus sama persis.
Jangan Keliru, Inilah Bedanya Head and Shoulders & Inverse Head and Shoulders
Bedanya Head and Shoulders & Inverse Head and Shoulders
Pola ini juga merupakan pola reversal yang cukup populer karena akurasinya yang cukup tinggi.
Dinamakan head and shoulders karena memang bentuk polanya seolah-olah membentuk kepala
dan bahu.
Terkadang pola ini sering di-salahpersepsikan sebagai triple top atau triple bottom, namun ada
faktor kunci yang membedakan pola ini dengan triple top atau triple bottom.
Pola Head and Shoulders
Mari kita perhatikan pola dasar head and shoulders di bawah ini:
Kalau Anda perhatikan dengan seksama, terlihat bahwa titik (3) pola ini lebih tinggi daripada
titik (1) dan (5). Pada pola triple top, ketiga titik ini cenderung selevel. Titik puncak yang lebih
tinggi itulah yang menjadi head-nya, sementara titik (1) dan (5) adalah titik shoulders-nya.
Pola head and shoulders ini menjadi pola reversal bearish jika muncul di ujung sebuah uptrend.
Konfirmasinya adalah ketika garis neckline sudah tembus (titik ke-6).
Jika pola ini sudah terkonfirmasi, maka harga cenderung akan bergerak turun sejauh jarak dari
puncak head ke neckline. Pada gambar di atas, direpresentasikan dengan panah merah.
Pullback juga sering (meskipun tidak selalu) terjadi kembali ke area neckline sebelum harga
kembali bergerak turun untuk mencapai target pergerakan harga. Pola ini dikatakan fail jika
pullback terjadi hingga tembus ke atas neckline.
Inverse Head and Shoulders
Kebalikan dari pola head and shoulders adalah pola inverse head and shoulders. Pola ini
merupakan pola reversal bullish yang biasanya muncul di ujung sebuah downtrend.
Konfirmasinya sama persis dengan head and shoulders.
Jika pola ini sudah terkonfirmasi, maka harga cenderung akan bergerak naik sejauh jarak dari
puncak head ke neckline.
Gambar di bawah ini akan membantu untuk menjelaskan pola inverse head and shoulders:
Jenis-Jenis Triangles
Jenis Triangle Yang Harus Anda Ketahui
Dari namanya, Anda mungkin sudah bisa mengira-ngira bentuk pola ini.
Ya, pola ini memang memiliki bentuk yang mirip dengan segitiga. Pola ini terjadi karena pasar
bergerak sideways dan pertarungan antara bull dan bear seimbang.
Sehingga, akhirnya grafik pergerakan harga mengerucut dan membentuk mirip segitiga. Ada tiga
jenis triangle:
1. Symmetrical triangle
2. Ascending triangle
3. Descending triangle
Kita akan bahas satu per satu mulai dari symmetrical triangle.
Cara Menggunakan Symmetrical Triangle
Pahami Penggunaan Symmetrical Triangle
Meskipun artinya adalah segitiga simetris, namun pada kenyataannya bentuknya tidaklah selalu
simetris. Symmetrical triangle adalah pola triangle yang memiliki garis support (lower line) dan
resistance (upper line) yang konvergen (kemiringannya berlawanan menuju satu titik).
Agar lebih mudah dipahami, mari kita lihat gambar di bawah ini:
Dari gambar diatas, Anda bisa melihat bahwa pola ini terbentuk ketika pasar sedang bergerak
sideways setelah mengalami rally bullish. Istilahnya adalah berkonsolidasi.
Contoh di atas memperlihatkan sebuah symmetrical triangle yang terbentuk pada saat uptrend.
Sebuah symmetrical triangle paling tidak harus memiliki empat reversal point (titik pembalikan)
yang terdiri dari dua titik puncak dan dua titik lembah.
Gambar di atas memperlihatkan sebuah symmetrical triangle yang memiliki enam reversal point,
yaitu titik 1, 2, 3, 4, 5 dan 6. Konfirmasi dari pola ini adalah tembusnya upper line (garis bagian
atas). Ketika pola ini sudah terkonfirmasi maka pergerakan selanjutnya adalah naik.
Cara memperkirakan targetnya adalah dengan berpatokan pada baseline dari symmetrical
triangle tersebut, yaitu jarak dari A ke titik 1. Jadi, kalau misalnya baseline-nya sepanjang 100
pips, maka pergerakan selanjutnya pun diperkirakan akan sejauh 100 pips.
Cara lain yang bisa dipergunakan untuk memperkirakan target pergerakan adalah dengan
menarik garis yang sejajar dengan lower line, di mana garis tersebut dimulai dari titik 1.
Sebagaimana pola yang lain, pullback kemungkinan bisa saja akan terjadi. Pada gambar diatas
terlihat pullback terjadi dari titik 7 kembali ke titik 8 yang berada di area upper line. Jika Anda
perhatikan lagi, garis upper line dan lower line bertemu di satu titik.
Titik tersebut kita sebut sebagai apex.
Anda perlu memperhatikan apex tersebut karena tembusnya upper line yang merupakan
konfirmasi dari pola symmetrical triangle tidak boleh terlalu dekat dengan apex.
Sebagai aturan umum, harga harus sudah menembus upper line pada jarak kira-kira 2/3
(dua-per-tiga) hingga ¾ (tiga-per-empat) dari panjang polanya.
Panjang pola yang dimaksud adalah jarak dari baseline ke apex.
Jadi, kalau penembusan terjadi kurang dari 2/3 atau lebih dari ¾ panjang pola, kemungkinan
besar tidak valid. Selain terjadi pada saat uptrend, symmetrical triangle juga bisa terjadi pada saat
downtrend.
Sebenarnya sama saja, hanya saja posisinya berada di bawah.
Kalau pada contoh di atas Anda menantikan tembusnya upper line sebagai konfirmasi dan harga
cenderung akan bergerak naik, maka jika polanya terjadi pada saat downtrend Anda akan
menantikan tembusnya lower line dan harga cenderung akan bergerak turun.
Hanya itu perbedaannya.
Penerapan Pola Ascending Triangle
Pola Ascending Triangle
Pada dasarnya, ascending triangle tidak jauh berbeda dengan symmetrical triangle dari sisi
menganalisanya. Perbedaan kedua pola tersebut hanya pada bentuknya. Ascending triangle
merupakan continuation pattern yang biasanya muncul pada saat uptrend.
Kemunculan pola ini merupakan pertanda bahwa tekanan bullish semakin melebihi tekanan
bearish secara bertahap.
Seperti halnya symmetrical triangle, pola ascending triangle juga minimal harus memiliki empat
reversal point. Gambar diatas menunjukkan ascending triangle yang memiliki enam reversal
point.
Konfirmasi dari pola tersebut adalah tembusnya upper line yang kemudian berpotensi untuk
diikuti oleh pergerakan bullish. Cara memperkirakan target pergerakan harga juga mirip dengan
symmetrical triangle, hanya saja baseline-nya bukan berpatokan pada titik 1, melainkan
berpatokan pada titik 2.
Meskipun pada dasarnya ascending triangle adalah continuation pattern, namun ia juga bisa
menjadi reversal pattern jika terjadi pada saat downtrend. Pada keadaan seperti itu, tembusnya
upper line merupakan konfirmasi bahwa ascending triangle merupakan pola reversal.
Perhatikan gambar berikut untuk mempermudah pemahaman Anda:
Pola seperti ini populer dengan nama ascending triangle bottom.
Penjelasan Pola Descending Triangle
Pola Descending Triangle
Kita sudah membicarakan symmetrical triangle dan ascending triangle.
Sepertinya Anda sudah tidak akan kesulitan lagi untuk memahami jenis triangle yang ke-3, yaitu
descending triangle. Sederhana saja, descending triangle adalah kebalikan dari ascending
triangle.
Dengan demikian, kalau ascending triangle adalah pola bullish, maka descending triangle adalah
pola bearish. Descending triangle merupakan continuation pattern yang muncul pada saat
downtrend.
Bagaimana, sederhana kan?
Descending triangle juga bisa berubah menjadi pola reversal jika muncul pada saat uptrend.
Namanya mengalami modifikasi menjadi descending triangle top. Jadi ceritanya akan seperti
pada gambar di bawah ini:
Pengenalan Flag & Pennant
Ketahui Pengertian Flag & Pennant
Flag
Kita akan membicarakan flag terlebih dahulu. Flag sebenarnya adalah channel kecil yang
muncul setelah rally. Arah channelnya berlawanan dengan arah rally-nya.
Jadi, jika ada down channel kecil yang muncul setelah rally bullish, itu disebut sebagai bullish
flag. Sebaliknya, up channel kecil yang muncul setelah rally bearish disebut dengan bearish flag.
Mari kita perhatikan gambar berikut:
Ya, begitulah bentuk dasar flag.
Sekarang Anda sudah tahu kan, mengapa pola ini disebut sebagai flag?
Karena, bentuknya mirip dengan bendera (flag) dan tiangnya (flagpole).
Flag direpresentasikan oleh channel kecil sedangkan flagpole-nya adalah titik a ke b yang
terlihat pada gambar di atas. Pada bearish flag, tembusnya lower line dari up channel adalah
konfirmasinya.
Harga cenderung akan bergerak turun jika bearish flag sudah terkonfirmasi. Sebaliknya, pada
bullish flag, konfirmasinya adalah tembusnya upper line dari down channel.
Proyeksi pergerakan harga selanjutnya adalah bullish jika bullish flag telah terkonfirmasi. Cara
menentukan target pergerakan harga juga sederhana. Anda cukup mengukur panjang flagpole-
nya saja.
Sepanjang flagpole itulah jarak yang termungkinkan untuk ditempuh oleh pergerakan harga.
Misalnya, jika panjang flagpole-nya adalah 100 pips, maka harga cenderung akan bergerak
sejauh 100 pips setelah pola flag-nya terkonfirmasi.
Tetapi pada prakteknya, kebanyakan trader berhenti (menutup posisinya) setelah harga bergerak
“setengah jalan” sebelum mencapai target. Misalnya jika target adalah sejauh 100 pips, maka
mereka cenderung untuk berhenti di 50 – 60 pips.
Syarat umum dari flag adalah sebagai berikut:
1. Terjadi rally sebelum channel kecil terbentuk.
2. Channel yang terjadi arahnya harus berlawanan dengan arah rally sebelumnya.
3. Panjang channel (flag) paling tidak sepertiga panjang flagpole.
Penannt
OK, kita akan membahas pennant sekarang. Pennant pada dasarnya adalah pengembangan dari
pola symmetrical triangle. Hanya saja, pennant didahului oleh rally yang panjang dan cukup
curam.
Bisa dikatakan bahwa pennant merupakan hasil kawin silang antara symmetrical triangle dengan
flag. Oleh karena pennant mirip dengan symmetrical triangle dan flag, maka dengan sendirinya
aturan-aturan yang berlaku pada symmetrical triangle dan flag juga berlaku pada pennant.
Di bawah ini adalah ilustrasi yang menggambarkan bentuk pennant.
Mengenal Wedge Formation
Kenali Wedge Formation
Wedge hampir mirip dengan pennant. Hanya saja, kemiringan kedua garis segitiga-nya searah,
dalam arti keduanya mengarah ke atas atau ke bawah. Derajat kemiringannya memang berbeda,
namun searah. Gambar di bawah ini akan memperjelas definisi wedge.
Kita bisa mengenali wedge dengan memeprhatikan kemiringannya yang mengarah ke atas atau
ke bawah. Sebagai aturan umum; hampir mirip dengan flag – kemiringan wedge sebagai
continuation pattern arahnya berlawanan dengan tren yang sedang berlangsung.
Dengan demikian, falling wedge adalah pola bullish, sedangkan rising wedge adalah pola
bearish.
Catatan:
Meskipun pada dasarnya wedge adalah pola continuation, namun wedge bisa juga berfungsi
sebagai pola reversal. Akan tetapi kejadian ini jarang terjadi. Falling wedge bisa menjadi pola
reversal bullish jika terjadi di ujung sebuah dowtrend. Sebaliknya, jika rising wedge muncul
pada saat uptrend, maka ia bisa jadi akan menjadi pola reversal bearish.
Pahami Pola Rectangle formation
Pola Rectangle Formation
Rectangle formation memiliki banyak nama, namun pola ini sangat mudah dikenali. Pola ini
merepresentasikan jeda yang terjadi di mana harga bergerak sideways di antara dua garis
horizontal yang sejajar.
Rectangle terkadang disebut sebagai trading range atau area kongesti. Apa pun namanya, pola
ini merepresentasikan periode konsolidasi pada sebuah tren, dan biasanya dilanjutkan dengan
pergerakan yang searag dengan tren sebelumnya.
Sebuah rectangle minimal harus memiliki empat reversal point. Pada contoh gambar di atas,
Anda bisa melihat contoh rectangle yang memiliki enam reversal point.
Konfirmasi bullish rectangle adalah pecahnya garis resistance atau upper line. Sedangkah
konfirmasi bearish rectangle adalah tembusnya garis support atau lower line.
Memahami Perbedaan Pola Continuation Head & Shoulders Pattern
Pola Continuation Head and Shoulders Pattern
Sebelumnya, kita telah membahas mengenai pola head and shoulders sebagai pola reversal. Pada
pola continuation head and shoulders, pola yang terbentuk benar-benar sama persis dengan pola
head and shoulders. Yang membedakan adalah poin-poin berikut ini:
1. Pola head and shoulders muncul pada saat downtrend. Tembusnya neckline merupakan
konfirmasi pola continuation head and shoulders.
2. Pola inverse head and shoulders muncul pada saat uptrend. Tembusnya neckline
merupakan konfirmasi pola continuation inverse head and shoulders.
Jadi tidak perlu bingung. Yang perlu Anda ingat hanyalah bahwa pola inverse head and
shoulders memiliki implikasi bullish. Sedangkan pola head and shoulders memiliki implikasi
bearish, terlepas dari pada saat tren apa pola tersebut muncul.