0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan5 halaman

Karakteristik dan Budaya Sapi Madura

Sapi Madura adalah jenis sapi potong yang berkembang di Pulau Madura, dikenal karena karakteristik fisiknya yang khas dan peran pentingnya dalam budaya lokal. Ternak ini memiliki beberapa jenis, seperti sapi Sonok dan sapi Karapan, yang berpartisipasi dalam berbagai kontes dan tradisi budaya. Karakterisasi sapi Madura meliputi sifat kuantitatif dan kualitatif yang penting untuk pengelolaan sumber daya genetik.

Diunggah oleh

nataliawijayanti265
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan5 halaman

Karakteristik dan Budaya Sapi Madura

Sapi Madura adalah jenis sapi potong yang berkembang di Pulau Madura, dikenal karena karakteristik fisiknya yang khas dan peran pentingnya dalam budaya lokal. Ternak ini memiliki beberapa jenis, seperti sapi Sonok dan sapi Karapan, yang berpartisipasi dalam berbagai kontes dan tradisi budaya. Karakterisasi sapi Madura meliputi sifat kuantitatif dan kualitatif yang penting untuk pengelolaan sumber daya genetik.

Diunggah oleh

nataliawijayanti265
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

[Link] [Link].

id

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Sapi Madura

Sapi Madura merupakan salah satu plasma nutfah sapi potong yang
berkembang baik di Pulau Madura pada lingkungan agroekosistem kering. Sapi ini
merupakan ternak yang dikembangkan sebagai ternak kerja, ternak potong, karapan
dan Sonok. Sapi Madura merupakan sapi hasil persilangan antara sapi India (Bos
indicus) dengan sapi Bali (Bos sondaicus). Karakteristik sapi Madura sangat
seragam, yaitu bentuk tubuh kecil dengan kaki pendek dan kuat, berwarna merah
bata sedikit kekuningan, bagian perut dan paha bagian dalam berwarna putih, serta
memiliki tanduk yang khas dan pada jantan terdapat gumba (Samsil dan Ruhyadi,
2010).
Sapi Madura dipelihara dan diternakkan oleh masyarakat sekitar untuk
kebutuhan daging maupun sebagai kebudayaan. Memahami dan menilai nilai-nilai
budaya ternak adalah penting dalam pelaksanaan intervensi untuk tujuan konservasi
dan pemanfaatan sumber daya genetik (Wijono dan Setiadi, 2004). Budaya sapi
Madura banyak ragamnya mulai dari sapi Sonok, Kolom Taccek, kontes sapi
Sonok, warung Taccek, manajeman pemeliharaan dan pembibitan sapi Sonok.
Sapi Taccek adalah sapi peserta Kolom Taccek yang dipajang di lapangan
atau halaman rumah peternak, tempat pemandian, penjemuran, pengobatan dan
sarana melatih sapi yang akan dijadikan sebagai sapi Sonok. Kontes sapi Sonok
adalah lenggak  lenggok sapi betina yang dirias cantik, berpenampilan bersih,
proporsional dan gemulai serta perilakunya jinak, dalam kontes ini banyak tontonan
lainnya yang menarik yakni tarian joki, sinden, musik saronen dan keunikan
perilaku peternak sapi Sonok yang spontan, bersahabat serta menyatu dengan irama
budaya sapi Sonok (Kutsiyah et al., 2014a).

B. Klasifikasi Sapi Madura

Masyarakat Madura memiliki ikatan budaya yang kuat dengan ternak sapi,
bahkan mereka merawat ternak seolah  olah ternak sapi tersebut adalah anggota
keluarga mereka sendiri. Pentingnya ternak dalam budaya masyarakat Madura juga
terlihat dari munculnya sapi jantan di cerita rakyat setempat, pepatah dan ukiran

4
[Link] [Link]

kayu yang menggambarkan sapi jantan dan dari tanduk di rumah-rumah tradisional.
Terdapat beberapa jenis sapi Madura yang dipelihara dan dibagi menjadi beberapa
kelas, antara lain yaitu sapi Sonok, sapi Karapan, sapi Taccek, sapi Pemacek dan
sapi komersil (Sayur). Ciri khas pada umunya sapi Madura Sayur yaitu bentuk
tubuh kecil dengan kaki pendek dan kuat, berwarna merah bata sedikit kekuningan,
bagian perut dan paha bagian dalam berwarna putih, serta memiliki tanduk yang
khas dan pada sapi Madura jantan terdapat gumba (Samsil dan Ruhyadi, 2010).
Sumber utama sapi Karapan adalah Pulau Sapudi. Ternak Sonok ditemukan
terutama di bagian utara Madura. Sapi Madrasin dan sapi Madura konvensional
dapat ditemukan di seluruh Madura. Sapi Madura yang berpartisipasi dalam acara-
acara kebudayaan seperti Karapan dan kontes sapi Sonok dihargai dengan harga 2
sampai 3,5 kali lebih tinggi. Tradisi Karapan jauh lebih tua dan lebih dikenal
daripada Sonok, tetapi antusiasme untuk kontes Sonok tampaknya meningkat dari
tahun ke tahun. Sonok dapat menjadi penting bagi pariwisata daripada Karapan dan
mungkin sonok lebih disukai di masa depan karena ada kekhawatiran tentang
kekejaman hewan Karapan dan perjudian selama balapan (Widi et al., 2014).
Kontes sapi Sonok merupakan bentuk kesenian tradisional masyarakat Madura
yang mengedepankan segi keindahan bentuk tubuh, warna bulu, keserasian dan
keterampilan sapi betina yang merupakan hasil seleksi dan pemeliharaan secara
spesifik (Kosim, 2007).
Metode seleksi yang diterapkan didasarkan pada uji performa tetua atau
moyangnya, dan seleksi berdasarkan uji performa. Sapi sonok diperoleh dari sapi
Madura betina yang diseleksi dan dipilih dari sapi Taccek/sapi Pajangan. Kriteria
seleksi mencakup bentuk tubuh, warna bulu, tanduk, kuku, kesehatan sapi, tingkat
pertumbuhannya berdasarkan umur, tingkah laku dan silsilah keluarganya (Nurlaila
et al., 2018). Alur pemilihan sapi Sonok di kabupaten Pamekasan digambarkan
pada Gambar 1.

5
[Link] [Link]

Gambar 1. Proses Pemilihan Sapi Unggul di Ex- Kawedanan Waru.

Sapi Taccek atau Pajangan yang jinak dan terlihat mudah dilatih akan cepat
dijadikan sebagai sapi Sonok. Sapi yang tidak terpilih sebagai sapi Sonok menjadi
sapi induk biasa. Cara spesifik untuk mendapatkan bibit sapi Sonok yang pertama
dengan silsilah, silsilah merupakan seleksi yang didasarkan pada reputasi yang
ditunjukkan oleh nenek moyang sapi yang bersangkutan, yakni asal usul pejantan
dan asal usul betina (jika ada). Cara kedua yaitu dengan seleksi eksterior atau
penampilan sapi dengan ciri-ciri kepala bulat, moncong tidak panjang dan agak
tumpul, tanduk congkrang, mata sipit dan bergaris hitam tebal (bercelak), dahi
lebar, leher tebal dan bergelambir lebih dari tiga buah (berbeda dengan sapi Jawa),
punuk atas besar dan bulat, berpunuk bawah (dekat gelambir), kaki (tracak) pendek
dan seimbang, ekor panjang selutut serta bulu merah bata dan kuning padi
(Kutsiyah, 2012).
Sapi Sonok merupakan sepasang sapi betina Madura yang dihias
sedemikian rupa sehingga tampil cantik dan menawan. Sepasang sapi Sonok yang
dikaitkan dengan sebuah “Pangonong” (sebuah kayu penghubung antara kedua
sapi) untuk diperagakan. Sapi Sonok telah terampil mengikuti instruksi joki atau
pengemudi dengan langkah jalan “Neter Kalenang” (secara perlahan) memasuki
pajangan (gapura) sebagai batas akhir lomba dan berdiri tegak dengan kaki depan
di atas balok kayu. Seni budaya sapi Sonok telah ada sejak tahun 1951 di Desa
Dempo Barat Kecamatan Pasean Kabupaten Pamekasan dan telah mendapat Hak
Paten dari Kementerian Hukum dan HAM Republik Indonesia tahun 2009. Prinsip
dari kesenian ini adalah penerapan seleksi ternak, performan sapi jantan yang

6
[Link] [Link]

memiliki kualitas unggul menjadi pejantan Pemacek dan performan sapi betina
unggulan dijadikan sapi Sonok (Sudarmaji, 2014).

C. Sifat Kuantitatif dan Kualitatif

Karakterisasi merupakan kegiatan pengidentifikasian sifat-sifat penting


yang bernilai ekonomis, atau yang merupakan pencirian dari rumpun yang
bersangkutan. Karakterisasi merupakan langkah penting yang harus ditempuh
apabila akan melakukan pengelolaan sumberdaya genetik secara baik (Chamdi,
2005). Karakterisasi dapat dilakukan secara dua cara, yaitu secara kualitatif dan
secara kuantitatif.
Sifat kuantitatif adalah sifat-sifat produksi dan reproduksi atau sifat yang
dapat diukur. Ekspresi sifat ini ditentukan oleh banyak pasangan gen dan
dipengaruhi oleh lingkungan, baik internal (umur dan seks) maupun eksternal
(iklim, pakan, penyakit dan pengelolaan). Sedangkan sifat kualitatif adalah sifat-
sifat yang pada umumnya dijelaskan dengan kata  kata atau gambar, misalnya
warna bulu atau kulit, pola warna, sifat bertanduk atau tidak bertanduk yang dapat
dibedakan tanpa harus mengukurnya (Warwick et al., 1995).
Sapi betina Madura memiliki karakteristik berwarna kuning kecoklatan
sampai merah bata, warna sekitar mata berwarna hitam, pinggir telinga berwarna
hitam, bagian kaki berwarna putih dan ujung ekor berwarna hitam. Memiliki postur
tubuh kecil sampai sedang dengan kaki relatif pendek, bagian perut dan paha bagian
dalam berwarna putih, serta memiliki tanduk yang khas (Kementan, 2010).
Sifat kualitatif sapi betina Madura antara lain tubuh berwarna kuning
kecoklatan, pola sekitar mata berwarna hitam, pinggir telinga berwarna hitam, kaki
bagian bawah (tarsal/metatarsal) berwarna putih, ujung ekor berwarna hitam. Sapi
Madura betina juga memiliki postur tubuh kecil sampai sedang dengan kaki pendek,
tidak terdapat garis belut berwarna hitam serta memiliki tanduk kecil pendek
mengarah keluar. Sifat kuantitatif sapi betina Madura meliputi lingkar dada, tinggi
gumba dan panjang badan. Pengukuran dilakukan pada posisi sapi berdiri sempurna
(paralelogram/ keempat kaki berbentuk empat persegi panjang) di atas lantai atau
permukaan yang rata. Syarat kuantitatif sapi betina Madura seperti tertera pada
Tabel.1:

7
[Link] [Link]

Tabel 1. Persyaratan Kuantitatif Sapi Betina Madura


Satuan dalam cm
Umur (bulan) Parameter Kelas
I II III
12 - <18 Lingkar dada (min) 141 133 125
Tinggi gumba/pundak (min) 116 111 106
Panjang badan (min) 115 108 101
18- <24 Lingkar dada (min) 154 148 142
Tinggi gumba/pundak (min) 120 117 114
Panjang badan (min) 127 123 119
24 - 36 Lingkar dada (min) 167 161 155
Tinggi gumba/pundak (min) 131 126 121
Panjang badan (min) 134 130 125
Sumber : Badan Standardisasi Nasional, 2013
Pengukuran sifat kuantitatif dilakukan dengan cara sebagai berikut :
1. Panjang badan diukur dengan menarik garis mendatar dari tepi depan sendi bahu
sampai ke tepi belakang bungkul tulang duduk dengan menggunakan pita ukur,
dinyatakan dalam satuan centimeter (cm).
2. Lingkar dada diukur dalam satuan cm yang diambil dengan cara mengikuti
lingkaran dada/ tubuh tepat di belakang bahu melewati gumba atau pada sapi
berpunuk tepat di belakang punuk dengan menggunakan pita ukur.
3. Tinggi pundak diukur dari bagian tertinggi gumba ke tanah mengikuti garis
tegak lurus dengan menggunakan tongkat ukur dari stainless steel.
4. Tinggi pinggul diukur dengan menempatkan tongkat ukur tegak lurus dan
pastikan bagian mendatar dari tongkat persis berada diatas pinggul (Santoso,
2003).
5. Bobot badan diperoleh dengan cara menimbang sapi dinyatakan dalam kilogram
(kg) (Djagra, 2009).

Anda mungkin juga menyukai