Rencana Penanganan Ruang Terbuka Hijau Aceh Tamiang
Rencana Penanganan Ruang Terbuka Hijau Aceh Tamiang
Pada dasarnya terdapat 2 (dua) pola pendekatan yang digunakan Konsultan untuk
pelaksanaan pekerjaan ini, yaitu :
1) Pendekatan Konseptual
Yaitu pola-pikir pendekatan yang bersifat konseptual menyangkut kebijaksanaan,
strategi, kerangka filosofi, atau konsep dasar yang akan digunakan konsultan
dalam merumuskan, memilih, dan menetapkan strategi serta rekomendasi
Penataan Ruang Terbuka Hijau (RTH) untuk pembenahan Kabupaten Aceh
Tamiang.
Terdapat cukup banyak pendekatan konseptual yang akan menjadi acuan dalam
pekerjaan ini. Adapun yang akan dijelaskan berikut ini hanya merupakan pendekatan
utama yang penting diperhatikan dalam pelaksanaan pekerjaan ini. Pada dasarnya,
pendekatan utama berikut merupakan pendekatan yang saling terkait erat dan
berhubungan, sehingga dalam implementasinya akan digunakan dalam satu kesatuan
kerangka pendekatan.
1 | GLOBAL DESIGN, CV
Rencana Tindak Penanganan Lingkungan Ruang Terbuka
Hijau (RTH) Kabupaten Aceh Tamiang PAKET PBL-05
A.2 KONSEP RUANG TERBUKA HIJAU (RTH)
2 | GLOBAL DESIGN, CV
Rencana Tindak Penanganan Lingkungan Ruang Terbuka
Hijau (RTH) Kabupaten Aceh Tamiang PAKET PBL-05
2. Fungsi dan Manfaat
Ruang Terbuka Hijau (RTH), baik RTH publik maupun RTH privat, memiliki fungsi
utama (intrinsik) yaitu fungsi ekologis, dan fungsi tambahan (ekstrinsik) yaitu fungsi
arsitek-tural, sosial, dan fungsi ekonomi. Dalam suatu wilayah perkotaan empat fungsi
utama ini dapat dikombinasikan sesuai dengan kebutuhan, kepentingan, dan
keberlanjutan kota.
RTH berfungsi ekologis, yang menjamin keberlanjutan suatu wilayah kota secara
fisik, harus merupakan satu bentuk RTH yang berlokasi, berukuran, dan berbentuk pasti
dalam suatu wilayah kota, seperti RTH untuk perlindungan sumberdaya penyangga
kehidupan manusia dan untuk membangun jejaring habitat hidupan liar. RTH untuk
fungsi-fungsi lainnya (sosial, ekonomi, arsitektural) merupakan RTH pendukung dan
penambah nilai kualitas lingkungan dan budaya kota tersebut, sehingga dapat berlokasi
dan berbentuk sesuai dengan kebutuhan dan kepentingannya, seperti untuk ke-
indahan, rekreasi, dan pendukung arsitektur kota.
RTH struktural merupakan pola RTH yang dibangun oleh hubungan fungsional
antar komponen pembentuknya yang mempunyai pola hierarki planologis yang bersifat
antroposentris. RTH tipe ini didominasi oleh fungsi-fungsi non ekologis dengan struktur
3 | GLOBAL DESIGN, CV
Rencana Tindak Penanganan Lingkungan Ruang Terbuka
Hijau (RTH) Kabupaten Aceh Tamiang PAKET PBL-05
RTH binaan yang berhierarkhi. Contohnya adalah struktur RTH berdasarkan fungsi sosial
dalam melayani kebutuhan rekreasi luar ruang (outdoor recreation) penduduk
perkotaan seperti yang diperlihatkan dalam urutan hierakial sistem pertamanan kota
(urban park system) yang dimulai dari taman perumahan, taman lingkungan, taman
kecamatan, taman kota, taman regional, dst). RTH non struktural merupakan pola RTH
yang dibangun oleh hubungan fungsional antar komponen pem-bentuknya yang
umumnya tidak mengikuti pola hierarki planologis karena bersifat ekosentris. RTH tipe
ini memiliki fungsi ekologis yang sangat dominan dengan struktur RTH alami yang tidak
berhierarki. Contohnya adalah struktur RTH yang dibentuk oleh konfigurasi ekologis
bentang alam perkotaan tersebut, seperti RTH kawasan lindung, RTH perbukitan yang
terjal, RTH sempadan sungai, RTH sempadan danau, RTH pesisir.
Untuk suatu wilayah perkotaan, maka pola RTH kota tersebut dapat dibangun
dengan mengintegrasikan dua pola RTH ini berdasarkan bobot tertinggi pada kerawanan
ekologis kota (tipologi alamiah kota: kota lembah, kota pegunungan, kota pantai, kota
pulau, dan lain-lain) sehingga dihasilkan suatu pola RTH struktural.
4 | GLOBAL DESIGN, CV
Rencana Tindak Penanganan Lingkungan Ruang Terbuka
Hijau (RTH) Kabupaten Aceh Tamiang PAKET PBL-05
a. Disenangi dan tidak berbahaya bagi warga kota
b. Mampu tumbuh pada lingkungan yang marjinal (tanah tidak subur, udara
dan air yang tercemar)
c. Tahan terhadap gangguan fisik (vandalisme)
d. Perakaran dalam sehingga tidak mudah tumbang
e. Tidak gugur daun, cepat tumbuh, bernilai hias dan arsitektural
f. Dapat menghasilkan O2 dan meningkatkan kualitas lingkungan
g. Bibit/benih mudah didapatkan dengan harga yang murah/terjangkau oleh
masyarakat
h. Prioritas menggunakan vegetasi endemik/lokal
i. Keanekaragaman hayati
Jenis tanaman endemik atau jenis tanaman lokal yang memiliki keunggulan
tertentu (ekologis, sosial budaya, ekonomi, arsitektural) dalam wilayah kota tersebut
menjadi bahan tanaman utama penciri RTH kota tersebut, yang selanjutnya akan
dikembangkan guna mempertahankan keanekaragaman hayati wilayahnya dan juga
nasional.
Ruang terbuka hijau memiliki fungsi utama yaitu sebagai perlindungan tata air,
keseimbangan ekologi dan konservasi hayati suatu kawasan. Penyediaan dan
pemanfaatan ruang terbuka hijau yang kurang didasarkan pada pemikiran untuk
menunjang perkembangan dan kemajuan kegiatan perkekonomian suatu wilayah.
Namun tanpa disadari, pesatnya pembangunan fisik akan menyebabkan makin
minimnya ruang terbuka hijau sehingga dapat mengubah wajah alam menjadi wajah
5 | GLOBAL DESIGN, CV
Rencana Tindak Penanganan Lingkungan Ruang Terbuka
Hijau (RTH) Kabupaten Aceh Tamiang PAKET PBL-05
kota yang penuh dengan gedung dan bangunan – bangunan.
Beberapa karakteristik dari Ruang Terbuka Hijau (RTH) dapat diuraikan sebagai
berikut, yaitu :
1. Luasan ruang terbuka hijau, menurut Undang-undang No. 26 Tahun 2007
tentang Penataan Ruang disebutkan bahwa RTH minimal harus memiliki
luasan 30% dari luas total wilayah, dengan porsi 20% sebagai RTH publik.
Selain itu, Iklim perkotaan juga merupakan salah satu penyebab menurunnya
kuantitas dan kualitas lingkungan pada suatau wilayah kawasan perkotaan,
hal ini perlu diperhatikan mengingat iklim perkotaan merupakan hasil
interaksi banyak faktor alami dan antropogenik. Polusi udara, material
perkotaan, emisi panas anthropogenik, bersama-sama dengan faktor alam
menyebabkan iklim antara kota dan area non perkotaan.
Iklim suatu kota dikendalikan oleh banyak faktor alam, baik pada skala makro
(seperti garis lintang) maupun pada skala meso (seperti topografi, badan air).
Pada kota atau daerah yang tumbuh berkembang, faktor-faktor baru dapat
mengubah iklim lokal kota. Guna lahan, jumlah penduduk, aktivitas industri
dan transportasi, serta ukuran dan struktur kota, adalah faktor-faktor yang
terus berkembang dan mempengaruhi iklim perkotaan. (Gambar 1)
6 | GLOBAL DESIGN, CV
Rencana Tindak Penanganan Lingkungan Ruang Terbuka
Hijau (RTH) Kabupaten Aceh Tamiang PAKET PBL-05
dan aktivitasnya, ruang hijau tersebut cenderung mengalami konversi guna
lahan menjadi kawasan terbangun. Sebagian besar permukaannya, terutama
di pusat kota, tertutup oleh jalan, bangunan dan lain-lain dengan karakter
yang sangat kompleks dan berbeda dengan karakter ruang terbuka hijau.
7 | GLOBAL DESIGN, CV
Rencana Tindak Penanganan Lingkungan Ruang Terbuka
Hijau (RTH) Kabupaten Aceh Tamiang PAKET PBL-05
2. Bentuk ruang terbuka hijau, ada dua bentuk RTH yaitu bentuk jalur atau
memanjang dan bentuk pulau atau mengelompok. RTH berbentuk jalur
biasanya mengikuti pola ruang yang berdampingan, misalnya jalur hijau di
pinggir atau di median jalan, jalur hijau di sempadan sungai, jalur hijau
sepanjang rel kereta api, jalur hijau dibawah SUTET, dan sabuk hijau kota.
Sedangkan RTH yang berbentuk mengelompok seperti taman, hutan kota,
tempat pemakaman umum, pengaman bandara, dan kebun raya.
Sumber : [Link]
8 | GLOBAL DESIGN, CV
Rencana Tindak Penanganan Lingkungan Ruang Terbuka
Hijau (RTH) Kabupaten Aceh Tamiang PAKET PBL-05
9 | GLOBAL DESIGN, CV
Rencana Tindak Penanganan Lingkungan Ruang Terbuka
Hijau (RTH) Kabupaten Aceh Tamiang PAKET PBL-05
3. Elemen vegetasi atau tanaman merupakan unsur yang dominan dalam RTH.
Vegetasi dapat ditata sedemikian rupa sehingga mampu berfungsi sebagai
pembentuk ruang, pengendalian suhu udara, memperbaiki kondisi tanah dan
sebagainya. Vegetasi dapat menghadirkan estetika tertentu yang terkesan
alamiah dari garis, bentuk, warna, dan tekstur yang ada dari tajuk, daun,
batang, cabang, kulit batang, akar, bunga, buah maupun aroma yang
ditimbukan dari daun, bunga maupun buahnya. Untuk memaksimalkan fungsi
RTH, hendaknya dipilih tanaman berdasarkan beberapa pertimbangan
dengan tujuan agar tanaman dapat tumbuh baik dan dapat menanggulangi
masalah lingkungan yang muncul. Aspek hortikultural sangat penting
dipertimbangkan dalam pemilihan jenis tanaman untuk RTH. Selain itu guna
menunjang estetika urban design, pemilihan jenis vegetasi untuk RTH juga
harus mempertimbangkan aspek arsitektural dan artistik visual. Beberapa
persayaratan bagi vegetasi yang ditujukan untuk RTH adalah :a) disenangi
dan tidak berbahaya bagi warga kota, b) mampu tumbuh pada lingkungan
yang marjinal (tanah tidak subur, udara dan air yang tercemar), c) cepat
tumbuh dan mempunyai umur yang panjang, d) perakaran dalam sehingga
tidak mudah tumbang, e) tidak mempunyai akar yang besar di permukaan
tanah, f) dahan dan ranting tidak mudah patah, g) buah tidak terlalu besar, h)
tidak gugur daun (serasah yang dihasilkan sedikit), i) cukup teduh, tetapi tidak
terlalu gelap, j) luka akibat benturan mobil mudah sembuh, k) tahan terhadap
pencemar dari kendaraan bermotor dan industri, l) tahan terhadap gangguan
fisik, m) dapat menghasilkan O2 dan meningkatkan kualitas lingkungan kota,
n) bibit/benih mudah didapatkan dengan harga yang murah/terjangkau oleh
masyarakat, o) mempunyai bentuk yang indah, p) ketika dewasa sesuai
dengan ruang yang ada, q) kompatibel dengan tanaman lain, r) serbuk
sarinya tidak bersifat alergis, s) daun, bunga, buah, batang dan
percabangannya secara keseluruhan indah/artistik, baik ditinjaudari bentuk,
warna, tekstur maupun aromanya, dan t) prioritas menggunakan vegetasi
endemik/lokal. Jenis tanaman endemik atau jenis tanaman lokal yang
10 | GLOBAL DESIGN, CV
Rencana Tindak Penanganan Lingkungan Ruang Terbuka
Hijau (RTH) Kabupaten Aceh Tamiang PAKET PBL-05
memiliki keunggulan tertentu (ekologis, sosial budaya, ekonomi, arsitektural)
dalam wilayah kota tersebut menjadi bahan tanaman utama penciri RTH kota
tersebut, yang selanjutnya akan dikembangkan guna mempertahankan
keanekaragaman hayati wilayahnya dan juga nasional.
11 | GLOBAL DESIGN, CV
Rencana Tindak Penanganan Lingkungan Ruang Terbuka
Hijau (RTH) Kabupaten Aceh Tamiang PAKET PBL-05
Tabel.., Tanaman/Tumbuh-tumbuhan dan Vegetasi yang dapat dikembangkan sebagai
elemen Lansekap Rencana Tindak Penanganan Lingkungan Ruang Terbuka Hijau (RTH)
12 | GLOBAL DESIGN, CV
Rencana Tindak Penanganan Lingkungan Ruang Terbuka
Hijau (RTH) Kabupaten Aceh Tamiang PAKET PBL-05
13 | GLOBAL DESIGN, CV
Rencana Tindak Penanganan Lingkungan Ruang Terbuka
Hijau (RTH) Kabupaten Aceh Tamiang PAKET PBL-05
A.3 DASAR PEMIKIRAN
1. Kota mempunyai luas yang tertentu dan terbatas
Permintaan akan pemanfaatan lahan kota yang terus tumbuh dan bersifat
akseleratif untuk untuk pembangunan berbagai fasilitas perkotaan, ter-masuk kemajuan
teknologi, industri dan transportasi, selain sering meng-ubah konfigurasi alami
lahan/bentang alam perkotaan juga menyita lahan-lahan tersebut dan berbagai
bentukan ruang terbuka lainnya. Kedua hal ini umumnya merugikan keberadaan RTH
yang sering dianggap sebagai lahan cadangan dan tidak ekonomis. Di lain pihak,
kemajuan alat dan pertambah-an jalur transportasi dan sistem utilitas, sebagai bagian
dari peningkatan kesejahteraan warga kota, juga telah menambah jumlah bahan
pencemar dan telah menimbulkan berbagai ketidak nyamanan di lingkungan perkota-
an. Untuk mengatasi kondisi lingkungan kota seperti ini sangat diperlukan RTH sebagai
suatu teknik bioengineering dan bentukan biofilter yang relatif lebih murah, aman,
sehat, dan menyamankan.
2. Tata ruang kota penting dalam usaha untuk efisiensi sumberdaya kota dan juga
efektifitas penggunaannya, baik sumberdaya alam maupun sumberdaya lainnya.
Ruang-ruang kota yang ditata terkait dan saling berkesinambungan ini mem-
punyai berbagai pendekatan dalam perencanaan dan pembangunannya. Tata guna
lahan, sistem transportasi, dan sistem jaringan utilitas merupakan tiga faktor utama
dalam menata ruang kota. Dalam perkembangan selanjutnya, konsep ruang kota selain
dikaitkan dengan permasalahan utama perkotaan yang akan dicari solusinya juga
dikaitkan dengan pencapaian tujuan akhir dari suatu penataan ruang yaitu untuk
kesejahteraan, kenyamanan, serta kesehatan warga dan kotanya.
14 | GLOBAL DESIGN, CV
Rencana Tindak Penanganan Lingkungan Ruang Terbuka
Hijau (RTH) Kabupaten Aceh Tamiang PAKET PBL-05
kehidupan perkotaan tetapi juga dapat menjadi nilai kebanggaan dan identitas kota.
Untuk mendapatkan RTH yang fungsional dan estetik dalam suatu sistem perkotaan
maka luas minimal, pola dan struktur, serta bentuk dan distribusinya harus menjadi
pertimbangan dalam membangun dan mengembangkannya. Karakter ekologis, kondisi
dan keinginan warga kota, serta arah dan tujuan pembangunan dan perkembangan kota
merupakan determinan utama dalam menentukan besaran RTH fungsional ini.
5. Kelestarian RTH suatu wilayah perkotaan harus disertai dengan ketersediaan dan
seleksi tanaman yang sesuai dengan arah rencana dan rancangannya.
Saat ini pembangunan yang terjadi dalam setiap wilayah meningkat secara pesat
dan terus menerus salah satunya diwilayah perencanaa dalam kegiatan ini adalah
Kabupaten Aceh Tamiang. Pembangunan yang terjadi dewasa ini seringkali
memprioritaskan fungsi ekonomi daripada fungsi ekologis dan kelestarian lingkungan.
Pembangunan terutama pada kawasan perkotaan akhirnya lebih mementingkan
perkembangan fisik daripada penyediaan dan pemanfaatan ruang terbuka hijau untuk
lahan terbangun maupun lahan terbuka
Dalam Kegiatan Rencana Tindak Penanganan Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang
dilaksanakan diwilayah administrasi Kabupaten Aceh Tamiang, melalui SNVT Penataan
Bangunan dan Lingkungan Bagian Pelaksanaan Kegiatan Penataan Lingkungan
Permukiman Provinsi Nanggroe Aceh Dasrussalam (NAD), diharapkan tersedianya Ruang
Terbuka Hijau (RTH) skala medium kawasan Taman Kota (City Park) dan RTH non alami
perkotaan di Provinsi, Kabupaten/Kota sehingga dapat dikategorikan sebagai Ruang
15 | GLOBAL DESIGN, CV
Rencana Tindak Penanganan Lingkungan Ruang Terbuka
Hijau (RTH) Kabupaten Aceh Tamiang PAKET PBL-05
Terbuka bentuk Pulau atau Mengelompok seperti yang telah diuraikan diatas.
Sejauh ini penyediaan akan ruang teduh bagi aktivitas perkotaan kota-kota di
Indonesia dapat dikatakan sangat kurang. Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang ada banyak
dialihfungsikan menjadi pertokoan, permukiman, tempat rekreasi, industri dan fungsi
yang lain. Kenyataan ini berdampak pada peningkatan kemajuan ekonomi kota namun
kemunduran bagi kualitas ekologi lingkungan kota. Kestabilan ekologi kota sangat
penting dimana ruang terbuka hijau berfungsi sebagai paru-paru kota dan penetralisir
dari dampak - dampak negatif pembangunan seperti zat-zat berbahaya dan kerusakan
lingkungan. Sebagai perbandingan, satu hektar RTH mampu menetralisir 736.000 liter
limbah cair; menghasilkan 0,6 ton oksigen; menyimpan 900 m3 air tanah pertahun;
menetralisisr air 4.000 liter perhari atau setara dengan pengurangan suhu 5-8 Celsius
dan mampu meredam kebisingan hingga 25 - 80 persen dan mengurangi kekuatan angin
sebanyak 75 - 80 persen.
Mengingat pentingnya fungsi RTH maka jika keberadaan RTH sangat kurang akan
mengganggu kestabilan ekosistem perkotaaan. Indikasi terganggunya kestabilan
ekosistem perkotaan yaitu meningkatnya suhu udara di perkotaan, penurunan muka air
tanah, banjir/genangan, penurunan permukaan air tanah, intrusi air laut, abrasi pantai,
pencemaran air (air minum berbau dan mengandung logam berat), pencemaran udara
(meningkatnya kadar CO, ozon, oksida nitrogen dan belerang), debu, suasana yang
gersang, monoton dan bising.
16 | GLOBAL DESIGN, CV
Rencana Tindak Penanganan Lingkungan Ruang Terbuka
Hijau (RTH) Kabupaten Aceh Tamiang PAKET PBL-05
Kabupaten Tamiang mempunyai fungsi sebagai pusat pelayanan permukiman dan
mengalami pembangunan fisik kota yang semakin pesat. Kedudukannya yang dilintasi
Jalan arteri primer Medan – Banda Aceh menjadikan Kabupaten Tamiang sebagai
daerah yang strategis dalam pengembangan dalam lingkup regional Aceh. Pola
perkembangan penduduk pada dasarnya disertai perkembangan kegiatan kapasitas
produksi pada satu atau beberapa sektor ekonomi sebagai usaha untuk memenuhi
kebutuhan masyarakatnya. Namun dalam perkembangan yang sudah semakin pesat
terutama fisik kota, keberadaan RTH seringkali kurang mendapatkan perhatian khusus,
keberadaan RTH yang ada saat ini masih belum tertata dengan baik, sehingga seringkali
terlihat sebagai lahan yang terlantar dan kurang produktif.
Oleh karena itu diperlukan Penyusunan Kebijakan, Norma, Standar, Prosedur dan
Manual Pengelolaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Kabupaten Tamiang dengan tujuan
untuk menciptakan kualitas lingkungan kota menjadi lebih baik, nyaman dan
meminimalkan permasalahan yang ditimbulkan pembangunan kota serta terkelolanya
Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang ada maupun yang telah direncanakan.
17 | GLOBAL DESIGN, CV
Rencana Tindak Penanganan Lingkungan Ruang Terbuka
Hijau (RTH) Kabupaten Aceh Tamiang PAKET PBL-05
penyediaan, pemanfaatan dan pengelolaan.
3. Tersusunnya rencana RTH meliputi komponen RTH, sebaran luasan, arahan
penataan, arahan pembiayaan dan indikasi program penyediaan RTH.
Dengan sasaran yang akan dicapai dari kegiatan Rencana Tindak Penanganan
Lingkungan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Kabupaten Aceh Tamiang adalah sebagai berikut
adalah :
1. Mengidentifikasi dan memetakan komponen RTH yang ada di Kabupaten Tamiang
meliputi jenis komponen, kondisi, luasan, sebaran dan permasalahan pengelolaan
komponen RTH.
2. Mengidentifikasi pola pengelolaan RTH di Kabupaten Tamiang serta
permasalahannya dan kendala dalam pengelolaan tersebut.
3. Mengidentifikasi komponen RTH Kabupaten Tamiang eksisting meliputi jumlah,
jenis, luasan dan sebarannya.
4. Menyusun rencana tindak RTH Kabupaten Tamiang untuk masing – masing
komponen RTH berdasarkan identifikasi – identifikasi yang telah dilakukan.
5. Tersusunnya Master Plan/ peta ruang terbuka hijau di Kabupaten Aceh Tamiang
6. Tersusunnya Detailed Engineering Design (DED) fisik percontohan ruang terbujka
hijau di Kabupaten Aceh Tamiang
7. Tersusunnya rencana investasi selama lima tahun ke depan bagi Pemerintah
Kabupaten Aceh Tamiang dalam mengarahkan peran serta seluruh pelaku
pembangunan (pemerintah, swasta, masyarakat local, investor) dalam mewujudkan
rencana dan program ruang terbuka hijau yang dikehendaki.
Materi yang diperlukan akan dikumpulkan pada tahap awal kegiatan, diperoleh dari
satuan kerja Direktorat Jenderal Cipta Karya dan Dinas/Instansi terkait lainnya/
pemangku kepentingan (stakeholders) maupun dari hasil lapangan yang terdiri dari data
18 | GLOBAL DESIGN, CV
Rencana Tindak Penanganan Lingkungan Ruang Terbuka
Hijau (RTH) Kabupaten Aceh Tamiang PAKET PBL-05
kualitatif dan kuantitatif yang bersumber dari data primer maupun sekunder yang akan
nantinya akan dijadikan bahan analisis. Materi dalam pekerjaan ini meliputi :
19 | GLOBAL DESIGN, CV
Rencana Tindak Penanganan Lingkungan Ruang Terbuka
Hijau (RTH) Kabupaten Aceh Tamiang PAKET PBL-05
• Kajian penataan ruang Kabupaten Tamiang, khususnya tentang :
- Tata kota dan zoning peruntukannya.
- Pola penataan ruang, tentang : RTH yang direncanakan, RTH yang sudah
ada, RTH yang berubah fungsi, keseimbangan tata ruang, lokasi hutan kota.
3. Identifikasi kebutuhan ruang terbuka hijau pada Kabupaten Tamiang yang terdiri
dari RTH publik dan RTH privat. Identifikasi ini meliputi :
Luas guna lahan RTH yang dibutuhkan Kabupaten Tamiang
Komponen – komponen RTH yang harus dimiliki Kabupaten Tamiang
Pembuatan Peta Kerja akan menggunakan peta yang diperoleh dari pengumpulan data
awal atau pada saat Aanwijzing. Peta ini akan dipakai untuk Orientasi Lapangan dimana
akan diidentifikasi wilayah kegiatan rencana tindak penataan ruang terbuka hijau. Selain
informasi dari Satuan Kerja Direktorat Jenderal Cipta Karya, juga akan dilengkapi dari
informasi Dinas terkait dalam rangka melengkapi peta kerja tersebut yang akan
menggambarkan lokasi-lokasi yang perlu dilakukan identifikasi. Dari hasil Survey
20 | GLOBAL DESIGN, CV
Rencana Tindak Penanganan Lingkungan Ruang Terbuka
Hijau (RTH) Kabupaten Aceh Tamiang PAKET PBL-05
Pendahuluan ini, Team akan menyusun Rencana Kerja untuk masing-masing kegiatan
berpedoman pada Peta Kerja tersebut sebagai acuan konsep pengembangan.
Program kerja yang akan disusun meliputi Jadwal Pengerahan Personil dan Alat serta
rangkaian kegiatan yang akan dilakukan termasuk Metodologi dan Pendekatan yang
diusulkan. Program kerja ini akan disusun dan dilengkapi dengan Jadwal Pelaksanaan,
Personil dan Alat, diserahkan untuk didiskusikan kepada Pemberi Tugas/ Tim Teknis.
Dalam diskusi/ pertemuan rapat koordinasi ini diharapkan akan didapat persepsi yang
sama antara Konsultan dan Pemberi Tugas/Tim Teknis serta membahas permasalahan
yang akan muncul dan cara pemecahannya. Dalam jadwal tersebut diuraikan masing
masing personil dalam penugasannya yang dikaitkan dengan keterlibatannya dalam
masing-masing tahapan kegiatan yang nantinya akan diterapkan dalam pelaksanaan
pekerjaan.
21 | GLOBAL DESIGN, CV
Rencana Tindak Penanganan Lingkungan Ruang Terbuka
Hijau (RTH) Kabupaten Aceh Tamiang PAKET PBL-05
terutama dalam meningkatkan nilai dan kualitas lingkungan dan kultural kota.
2. Lokasi lahan kota yang potensial dan tersedia untuk RTH.
3. Sruktur dan pola RTH yang akan dikembangkan (bentuk, konfigurasi, dan
distribusi)
4. Seleksi vegetasi sesuai kepentingan/tujuan pembangunan kota.
22 | GLOBAL DESIGN, CV
Rencana Tindak Penanganan Lingkungan Ruang Terbuka
Hijau (RTH) Kabupaten Aceh Tamiang PAKET PBL-05
Model Pembangunan dan Pengelolaan
Ruang Terbuka Hijau (RTH)
23 | GLOBAL DESIGN, CV
Rencana Tindak Penanganan Lingkungan Ruang Terbuka
Hijau (RTH) Kabupaten Aceh Tamiang PAKET PBL-05
A. METODE ANALISIS
1. Analisis Kebutuhan Hutan Kota
Ada dua pendekatan yang dipakai dalam membangun hutan kota. Pendekatan
pertama, hutan kota dibangun pada lokasi-lokasi tertentu saja. Pada pendekatan ini
hutan kota merupakan bagian dari suatu kota. Penentuan luasannya pun dapat
berdasarkan :
- Prosentase, yaitu luasan hutan kota ditentukan dengan menghitungnya dari
luasan kota.
- Perhitungan per kapita, yaitu luasan hutan kota ditentukan berdasarkan jumlah
penduduknya.
- Berdasarkan isu utama yang muncul.
24 | GLOBAL DESIGN, CV
Rencana Tindak Penanganan Lingkungan Ruang Terbuka
Hijau (RTH) Kabupaten Aceh Tamiang PAKET PBL-05
a.V + b.W
L = -------------------
20
Misalnya untuk menghitung luasan hutan kota pada suatu kota dapat dihitung
25 | GLOBAL DESIGN, CV
Rencana Tindak Penanganan Lingkungan Ruang Terbuka
Hijau (RTH) Kabupaten Aceh Tamiang PAKET PBL-05
berdasarkan tujuan pemenuhan kebutuhan akan oksigen, air dan kebutuhan lainnya.
Pendekatan kedua, semua areal yang ada di suatu kota pada dasarnya adalah
areal untuk hutan kota. Pada pendekatan ini komponen yang ada di kota seperti
pemukiman, perkantoran dan industri dipandang sebagai suatu enklave (bagian) yang
ada dalam suatu hutan kota.
Hutan kota merupakan bagian dari program Ruang Terbuka Hijau. Ruang
26 | GLOBAL DESIGN, CV
Rencana Tindak Penanganan Lingkungan Ruang Terbuka
Hijau (RTH) Kabupaten Aceh Tamiang PAKET PBL-05
Terbuka Hijau dinyatakan sebagai ruang-ruang dalam kota atau wilayah yang lebih luas,
baik dalam bentuk membulat maupun dalam bentuk memanjang/jalur di mana dalam
penggunaannya lebih bersifat terbuka yang pada dasarnya tanpa bangunan (Instruksi
Menteri Dalam Negeri Nomor 14 Tahun 1988). Pelaksanaan program pengembangan
Ruang Terbuka Hijau dilakukan dengan pengisian hijau tumbuhan secara alamiah
ataupun tanaman budidaya seperti pertanian, pertamanan, perkebunan dan
sebagainya.
Dalam menentukan rencana tata ruang terbuka hijau hutan kota berperan penting
bagi wilayah kota, beberapa peran Hutan Kota diantaranya adalah :
- Identitas Kota
- Pelestarian Plasma Nutfah
- Penahan dan Penyaring Partikel Padat dari Udara
- Penyerap dan Penjerap Partikel Timbal
- Penyerap dan Penjerap Debu Semen
- Peredam Kebisingan
- Mengurangi Bahaya Hujan Asam
- Penyerap Karbon-monoksida
- Penyerap Karbon-dioksida dan Penghasil Oksigen
- Penahan Angin
- Penyerap dan Penapis Bau
- Mengatasi Penggenangan
- Mengatasi Intrusi Air Laut
- Produksi Terbatas
- Ameliorasi Iklim
- Pengelolaan Sampah
- Pelestarian Air Tanah
- Penapis Cahaya Silau
- Meningkatkan Keindahan
- Sebagai Habitat Burung
27 | GLOBAL DESIGN, CV
Rencana Tindak Penanganan Lingkungan Ruang Terbuka
Hijau (RTH) Kabupaten Aceh Tamiang PAKET PBL-05
- Mengurangi Stress
- Mengamankan Pantai Terhadap Abrasi
- Meningkatkan Industri Pariwisata
- Sebagai Hobi dan Pengisi Waktu Luang
a. Tipe Pemukiman
Hutan kota di daerah pemukiman dapat berupa taman dengan
komposisi tanaman pepohonan yang tinggi dikombinasikan dengan semak
dan rerumputan. Taman adalah sebidang tanah terbuka dengan luasan
tertentu di dalamnya ditanam pepohonan, perdu, semak dan rerumputan
yang dapat dikombinasikan dengan kreasi dari bahan lainnya. Umumnya
dipergunakan untuk olah raga, bersantai, bermain dan sebagainya.
b. Tipe Kawasan Industri
Suatu wilayah perkotaan pada umumnya mempunyai satu atau
28 | GLOBAL DESIGN, CV
Rencana Tindak Penanganan Lingkungan Ruang Terbuka
Hijau (RTH) Kabupaten Aceh Tamiang PAKET PBL-05
beberapa kawasan industri. Limbah dari industri dapat berupa partikel,
aerosol, gas dan cairan dapat mengganggu kesehatan manusia. Di samping
itu juga dapat menimbulkan masalah kebisingan dan bau yang dapat
mengganggu kenyamanan.
Beberapa jenis tanaman telah diketahui kemampuannya dalam
menyerap dan menjerap polutan. Dewasa ini juga tengah diteliti ketahanan
dari beberapa jenis tanaman terhadap polutan yang dihasilkan oleh suatu
pabrik. Dengan demikian informasi ini dapat dijadikan sebagai bahan
pertimbangan dalam memilih jenis-jenis tanaman yang akan dikembangkan
di kawasan industri.
29 | GLOBAL DESIGN, CV
Rencana Tindak Penanganan Lingkungan Ruang Terbuka
Hijau (RTH) Kabupaten Aceh Tamiang PAKET PBL-05
supaya siap menghadapi tugas yang baru. Untuk mendapatkan kesegaran
diperlukan suatu masa istirahat yang terbebas dari proses berpikir yang
rutin sambil menikmati sajian alam yang indah, segar dan penuh
ketenangan.
30 | GLOBAL DESIGN, CV
Rencana Tindak Penanganan Lingkungan Ruang Terbuka
Hijau (RTH) Kabupaten Aceh Tamiang PAKET PBL-05
karbohidrat dan lain-lain. Apabila hutan ini hilang, maka detritus tidak
tersedia lagi dan akibatnya hewan pemakan detritus pun akan musnah.
e. Tipe Perlindungan
Selain dari tipe yang telah disebutkan di atas, areal kota dengan
mintakat ke lima yaitu daerah dengan kemiringan yang cukup tinggi yang
ditandai dengan tebing-tebing yang curam ataupun daerah tepian sungai
perlu dijaga dengan membangun hutan kota agar terhindar dari bahaya
erosi dan longsoran.
f. Tipe Pengamanan
Yang dimaksudkan hutan kota dengan tipe pengamanan adalah
jalur hijau di sepanjang tepi jalan bebas hambatan. Dengan menanam perdu
yang liat dan dilengkapi dengan jalur pohon pisang dan tanaman yang
merambat dari legum secara berlapis-lapis, akan dapat menahan kendaraan
yang keluar dari jalur jalan. Sehingga bahaya kecelakaan karena pecah ban,
patah setir ataupun karena pengendara mengantuk dapat dikurangi.
31 | GLOBAL DESIGN, CV
Rencana Tindak Penanganan Lingkungan Ruang Terbuka
Hijau (RTH) Kabupaten Aceh Tamiang PAKET PBL-05
yang tidak mengundang masyarakat untuk memanfaatkannya. Tanaman
yang tidak enak rasanya seperti pisang hutan dapat dianjurkan untuk
ditanam di sini.
Kawasan riparian seperti : delta sungai, kanal, saluran irigasi, tepian danau
dan tepi pantai dapat merupakan bagian lokasi dari kegiatan pengembangan
hutan kota. Penanaman tanaman di kawasan ini diharapkan dapat memperbaiki
kuantitas dan kualitas air serta untuk memperkecil erosi.
Seperti telah disebutkan di atas, jalur hijau di tepi jalan bebas hambatan
yang terdiri dari jalur tanaman pisang dan jalur tanaman yang merambat serta
tanaman perdu yang liat yang ditanam secara berlapis-lapis diharapkan dapat
berfungsi sebagai penyelamat bagi kendaraan yang keluar dari badan jalan.
Sedangkan pada bagian yang lebih luar lagi dapat ditanami dengan tanaman
yang tinggi dan rindang untuk menyerap pencemar yang diemisikan oleh
kendaraan bermotor.
b. Taman Kota
Taman dapat diartikan sebagai tanaman yang ditanam dan ditata sedemikian
32 | GLOBAL DESIGN, CV
Rencana Tindak Penanganan Lingkungan Ruang Terbuka
Hijau (RTH) Kabupaten Aceh Tamiang PAKET PBL-05
rupa, baik sebagian maupun semuanya hasil rekayasa manusia untuk
mendapatkan komposisi tertentu yang indah.
Tekstur daun dapat pula dijadikan bahan pertimbangan dalam suatu komposisi
taman. Ada daun dengan tekstur yang kasar (Ficus elastica), tekstur sedang
(duren) dan ada yang halus (lamtoro).
Jenis tanaman yang ditanam di kebun dan halaman biasanya dari jenis yang
dapat menghasilkan buah seperti : mangga, durian, sawo, rambutan, jambu,
pala, jeruk, delima, kelapa dan lain-lain serta dari jenis yang tidak diharapkan
hasil buahnya seperti : cemara, palem, pakis, filisium dan beberapa jenis lainnya.
Halaman rumah dapat memberikan prestise tertentu. Oleh sebab itu halaman
rumah ditata apik sedemikian rupa untuk mendapatkan citra, kebanggaan dan
keindahan tertentu bagi yang empunya rumah maupun orang lain yang
memandang dan menikmatinya. Maka halaman tidak hanya ditanam dengan
tanaman seperti tersebut di atas, namun dilengkapi juga dengan tanaman
bebungaan yang indah. Tanaman lainnya yang dapat dijumpai adalah : sayuran,
33 | GLOBAL DESIGN, CV
Rencana Tindak Penanganan Lingkungan Ruang Terbuka
Hijau (RTH) Kabupaten Aceh Tamiang PAKET PBL-05
empon-empon dan tanaman apotik hidup lainnya. Pada halaman rumah pun
dapat dijumpai unggas, ikan dan heawan lainnya.
Kebun raya, hutan raya dan kebun binatang dapat dimasukkan ke dalam salah
satu bentuk hutan kota. Tanaman dapat berasal dari daerah setempat, maupun
dari daerah lain, baik dari daerah lain di dalam negeri maupun di luar negeri.
Soemarwoto (1983) berpendapat, kebun raya ada yang bersifat ekonomi dan
yang bertujuan utama untuk ilmiah.
e. Hutan Lindung
Mintakat kota ke lima yaitu darah dengan lereng yang curam harus dijadikan
kawasan hutan karena rawan longsor. Demikian pula dengan daerah pantai yang
rawan akan abrasi air laut, hendaknya dijadikan hutan lindung.
34 | GLOBAL DESIGN, CV
Rencana Tindak Penanganan Lingkungan Ruang Terbuka
Hijau (RTH) Kabupaten Aceh Tamiang PAKET PBL-05
Analisis ruang terbuka hijau merupakan penilaian terhadap seluruh bidang tanah
yang tidak ditempati bangunan, dimana ruang tersebut meliputi : lapangan parkir,
tempat bermain, taman pribadi dan memberikan fasilitas visual yang disediakan oleh
tanah, rerumputan, bunga-bungaan, pepohonan maupun elemen-elemen kawasan
lahan (landscape).
Sesuai dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 2007 tentang
Penataan Ruang Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan; ditetapkan bahwa ruang terbuka
yang harus tersedia dalam suatu wilayah/perkotaan adalah 30 % dari luas seluruh
wilayah/kota dengan princian : 20 % berupa ruang terbuka hijau publik dan 10 % berupa
ruang terbuka hijau privat.
Dimana ruang terbuka hijau berdasarkan fungsinya terbagi atas :
1. RTH Berdasarkan Fungsi Estetika
2. RTH Berdasarkan Fungsi Fasilitas
3. RTH Berdasarkan Fungsi Penyangga
4. RTH Berdasarkan Fungsi Kawasan Khusus
5. RTH Berdasarkan Fungsi Konservasi
1. Kontrol pandangan
• Menahan silau yang ditimbulkan matahari, lampu, pantulan sinar
- Jalan Raya
Dengan peletakan tanaman di jalan raya atau dijalur tengah jalan
sebaiknya dipilih pohon perdu padat
- Bangunan
Peletakan pohon, perdu, semak, penutup tanah dan rumput dapat
menahan pemantulan sinar dari perkerasan, air dan menahan jatuhnya
35 | GLOBAL DESIGN, CV
Rencana Tindak Penanganan Lingkungan Ruang Terbuka
Hijau (RTH) Kabupaten Aceh Tamiang PAKET PBL-05
sinar ke daerah yang membutuhkan keteduhan, seperti gambar di
bawah ini :
Peneduh
Ditempatkan pada jalur
tanaman
( minimal 1,5 m)
Percabangan 2 m di
atas tanah.
Bentuk percabangan
batang tidak
merunduk.
Bermassa daun padat.
Ditanam secara
berbaris.
• Ruang Luar
Tanaman dapat dipakai sebagai dinding, atap dan lantai. Dinding
dapat dibentuk oleh pembatas, atap dibentuk oleh pohon yang membentuk
kanopi atau tanaman merambat pada pergola, sebagai lantai digunakan
rumput atau penutup tanah.
• Privasi
Tanaman dapat digunakan untuk membentuk kesan privasi, yang
dibentukkan oleh manusia.
2. Penghalang Pandangan
Dapat pula digunakan sebagai penghalang pandangan terhadap hal-hal
yang tidak menyenangkan untuk dilihat seperti : sampah, galian, pembangunan,
36 | GLOBAL DESIGN, CV
Rencana Tindak Penanganan Lingkungan Ruang Terbuka
Hijau (RTH) Kabupaten Aceh Tamiang PAKET PBL-05
dll.
3. Pembatas Fisik
Tanaman dapat dipakai sebagai penghalang gerak manusia dan hewan,
selain itu juga dapat berfungsi untuk mengarahkan.
Pembatas Fisik
4. Pengendalian Iklim
37 | GLOBAL DESIGN, CV
Rencana Tindak Penanganan Lingkungan Ruang Terbuka
Hijau (RTH) Kabupaten Aceh Tamiang PAKET PBL-05
Tanaman berfungsi sebagai pengendali iklim untuk kenyamanan
manusia. Faktor iklim yang mempengaruhi kenyamanan manusia adalah :
- Kontrol Radiasi matahari dan suhu
- Pengendalian Angin
- Pengendali Kelembaban
- Pengendali Suara
Pemecah Angin
Cemara (Cassuarina-equisetifolia).
Angsana (Ptherocarphus indicus)
Tanjung (Mimusops elengi)
Kiara Payung (Filicium decipiens)
Kembang sepatu (Hibiscus rosa sinensis)
38 | GLOBAL DESIGN, CV
Rencana Tindak Penanganan Lingkungan Ruang Terbuka
Hijau (RTH) Kabupaten Aceh Tamiang PAKET PBL-05
6. Pengendali Erosi
Kegiatan manusia dalam menggunakan lahan, selain menimbulkan efek positif
juga menimbulkan efek negatif terhadap kondisi tanah. Misalnya pembuatan
bangunan, konstruksi, pengolahan tanah, dsb.
7. Habitat Binatang
Tanaman sebagi sumber makanan bagi hewan dan sebagai tempat
perlindungannya sehingga secara tidak langsung tanaman membantu
pelestarian binatang tersebut.
39 | GLOBAL DESIGN, CV
Rencana Tindak Penanganan Lingkungan Ruang Terbuka
Hijau (RTH) Kabupaten Aceh Tamiang PAKET PBL-05
B. PROGRAM KERJA
B.1 Umum
Setelah rencana operasi tersusun tahap demi tahap termasuk analisis personil serta
peralatan dihitung setepat mungkin, kemudian disusun jadwal pelaksanaan pekerjaan,
jadwal penugasan personil dan peralatan. Setelah itu disusun organisasi pelaksanaan
sesuai dengan kaitan kaitan pekerjaan dan personil yang dibutuhkan berdasarkan
tahapan pekerjaan dan selanjutnya disusun Rencana Mutu Pekerjaan (RMP).
40 | GLOBAL DESIGN, CV
Rencana Tindak Penanganan Lingkungan Ruang Terbuka
Hijau (RTH) Kabupaten Aceh Tamiang PAKET PBL-05
Bestek (Gambar Kerja Perencanaan), Rencana Anggaran Biaya (RAB) dan
Rencana Kerja Syarat (RKS)
1. Persiapan Administrasi
Persiapan administrasi merupakan kegiatan paling awal dari Konsultan setelah
menerima Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK)/Kontrak dari Pemberi Tugas.
Persiapan administrasi tersebut mencakup pembuatan dokumen kontrak,
pengurusan surat ijin ke instansi terkait, pembuatan surat tugas kepada personil
yang akan terlibat dalam penanganan kegiatan, surat permohonan data dan
sebagainya. Persiapan administrasi tersebut diusahakan dapat diselesaikan
sesegera mungkin sehingga tidak menghambat pelaksanaan pekerjaan tahap
berikutnya.
41 | GLOBAL DESIGN, CV
Rencana Tindak Penanganan Lingkungan Ruang Terbuka
Hijau (RTH) Kabupaten Aceh Tamiang PAKET PBL-05
Setelah persiapan administrasi dan Penyusunan Rencana Mutu Pekerjaan (RMP)
dapat diselesaikan, selanjutnya seluruh Tenaga Ahli yang dibutuhkan untuk
peiaksanaan pekerjaan akan dimobilisasi sesuai dengan jadwal penugasan yang
telah disusun. Dengan telah dimobilisasinya Tenaga Ahli tersebut, maka kegiatan
penanganan kegiatan dengan skala penuh telah berjalan. Tingkat keberhasilan
suatu kegiatan tidak hanya tergantung atas kemampuan dari para Tenaga Ahli
yang menangani, akan tetapi faktor koordinasi akan memegang peranan penting.
Dengan adanya koordinasi diharapkan tidak ada kerancuan dan tumpang tindih
pelaksanaan kegiatan dari masing-masing Tenaga Ahli, sehingga dukungan dari
masing-masing personil akan memberikan hasil yang optimal. Mengingat
pentingnya koordinasi ini, Team Leader akan memimpin langsung untuk
membicarakan dan mendiskusikan masalah-masalah yang berkaitan dengan :
42 | GLOBAL DESIGN, CV
Rencana Tindak Penanganan Lingkungan Ruang Terbuka
Hijau (RTH) Kabupaten Aceh Tamiang PAKET PBL-05
Untuk mendapatkan gambaran dan informasi sekitar lokasi pekerjaan yang dapat
dijadikan referensi dalam pelaksanaan kegiatan. Pada tahap ini sangat
tergantung dari konsultasi dengan direksi pekerjaan apakah team melakukan
survey pendahuluan sebelum menyusun laporan pendahuluan atau sebaliknya
mengingat waktu yang tersedia untuk melakukan kunjungan awal untuk lokasi
Kabupaten Aceh Tamiang dan waktu pelaksanaan dibatasi hanya 4 (empat) bulan
setelah diterbitkannya Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK).
Dengan adanya Laporan Pendahuluan ini, diharapkan dapat diketahui secara jelas
konsep/kerangka dasar kegiatan Rencana Tindak Penanganan Lingkungan Ruang
Terbuka Hijau (RTH) Kabupaten Aceh Tamiang, mulai tahap input, proses sampai output
yang dihasilkan serta rekomendasi dan tahapan pelaksanaannya. Penyusunan Laporan
pendahuluan intinya berisikan tentang :
Latar Belakang, Maksud dan Tujuan, Ruang Lingkup Perencanaan serta
Penyediaan Prasarana Dasar.
Prinsip-prinsip Penyusunan Ruang Terbuka Hijau.
Metodologi Pendekatan Studi dan Teknik Analisis.
Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan Penyusunan.
Sistematika Laporan Kemajuan Pekerjaan.
Struktur Organisasi Pelaksana Pekerjaan.
43 | GLOBAL DESIGN, CV
Rencana Tindak Penanganan Lingkungan Ruang Terbuka
Hijau (RTH) Kabupaten Aceh Tamiang PAKET PBL-05
Komposisi dan Pendayagunaan Tenaga Ahli.
Dalam laporan ini akan dilengkapi Rencana Mutu Pekerjaan (RMP), dan apabila
disetujui dilaksanakannya tinjauan awal lapangan maka dalam Laporan
Pendahuluan ini sudah tercermin informasi lapangan/ gambaran wilayah hasil dari
dilaksanakannya tinjauan lapangan.
44 | GLOBAL DESIGN, CV
Rencana Tindak Penanganan Lingkungan Ruang Terbuka
Hijau (RTH) Kabupaten Aceh Tamiang PAKET PBL-05
Merupakan pengumpulan data atau perekaman data instansi, baik itu berupa
uraian, data angka maupun peta yang berhubungan dengan wilayah
perencanaan dan terkait dengan data yang dibutuhkan bagi penyusunan
laporan. Data-data sekunder tersebut diantaranya adalah :
- Produk-produk kebijakan rencana tata ruang yang berpengaruh pada
wilayah studi seperti (RTRW, RUTRK, RDTRK, RTRK, Rencana Sektoral)
- Nama RTH/taman, Kondisi RTH, persebaran RTH, kependudukan,
fasilitas, utilitas, infrastruktur/sarana prasarana trasnportasi, pedestrian,
jenis penggunaan tanah dan luasannya.
2) Survey Lapangan
Survey lapangan ini dilakukan untuk mendapatkan data primer agar di
ketahui kondisi RTH di wilayah studi yang sebenarnya. Hasil dari survey ini
berupa peta-peta maupun data-data yang mencakup :
- Dalam lingkup eksternal, dilakukan peninjauan posisi dan fungsi wilayah
studi terhadap wilayah yang lebih luas.
- Untuk lingkup wilayah studi, maka survey yang dilakukan adalah survey
pola penggunaan lahan, kondisi hidrologi, topografi, geologi, fasilitas,
utilitas, sarana prasarana transportasi, kondisi RTH/Taman, Lokasi
RTH/taman, kawasan rawan genangan, kegiatan-kegiatan khusus yang
biasa dilakukan oleh masyarakat.
- Survey obyek khusus, berupa pengisian daftar pertanyaan kepada
masyarakat dan pengguna jasa di wilayah studi tentang aspirasinya
terhadap perlu atau tidaknya RTH.
45 | GLOBAL DESIGN, CV
Rencana Tindak Penanganan Lingkungan Ruang Terbuka
Hijau (RTH) Kabupaten Aceh Tamiang PAKET PBL-05
Salah satu teknik yang akan digunakan adalah berupa penyebaran
kuesioner dengan kriteria jumlah responden sesuai stardar yang berlaku
untuk seluruh wilayah lokasi yang mengalami penurunan kualitas dan
kuantitas lingkungan. Kuesioner ini disusun sesuai dengan kebutuhan dan
mudah dimengerti oleh masyarakat, yang dapat menggambarkan kondisi
ditinjau dari beberapa aspek yaitu aspek sosial ekonomi, aspek fisik
morfologi, aspek lingkungan, dan aspek lainnya yang mendukung
keperluan analisis.
- Observasi,
- Wawancara,
46 | GLOBAL DESIGN, CV
Rencana Tindak Penanganan Lingkungan Ruang Terbuka
Hijau (RTH) Kabupaten Aceh Tamiang PAKET PBL-05
Hasil pendataan dan identifikasi secara lengkap selanjutnya akan diolah pada
tahap kompilasi dan pengolahan data, yaitu dengan pengorganisasian data,
mengurutkan data dengan pola, kategori dan uraian-uraian sehingga dapat
dipilah-pilah antara data yang terkait (relevan), kurang terkait atau tidak
terkait dengan Penyusunan Rencana Tindak Penataan Ruang Terbuka Hijau
(RTH) Kabupaten Aceh Tamiang. Kegiatan pendataan atau identifikasi ini
setidaknya mendapatkana data-data tentang :
47 | GLOBAL DESIGN, CV
Rencana Tindak Penanganan Lingkungan Ruang Terbuka
Hijau (RTH) Kabupaten Aceh Tamiang PAKET PBL-05
Kawasan yang disurvei meliputi bagian Kawasan Kota yang telah
ditetapkan menjadi kawasan percontohan dalam pelaksanaan kegiatan
Rencana Tindak Penataan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Kabupaten Aceh
tamiang. Berikut uraian tata cara pengukuran Topografi yang meliputi :
Pengukuran Pengikatan
- Metoda Pelaksanaan
Referensi vertikal akan diikatkan pada LLWL (Lowest Low Water Level)
pasang surut yang akan didapatkan dari hasil Analisis pasang surut.
48 | GLOBAL DESIGN, CV
Rencana Tindak Penanganan Lingkungan Ruang Terbuka
Hijau (RTH) Kabupaten Aceh Tamiang PAKET PBL-05
Mengingat fungsinya tersebut maka patok-patok beton ini diusahakan
ditanam pada kondisi tanah yang stabil dan aman. Kedua jenis titik ikat ini
diberi nomenklatur atau kode, untuk memudahkan pembacaan peta yang
dihasilkan. Disamping itu perlu pula dibuat deskripsi dari kedua jenis titik
ikat yang memuat sketsa lokasi dimana titik ikat tersebut dipasang dan
nilai koordinat maupun elevasinya.
Pengukuran Poligon
Pengukuran Jarak
49 | GLOBAL DESIGN, CV
Rencana Tindak Penanganan Lingkungan Ruang Terbuka
Hijau (RTH) Kabupaten Aceh Tamiang PAKET PBL-05
Pembacaan sudut jurusan dilakukan dalam posisi teropong biasa dan luar
biasa. Spesifikasi teknis pengukuran poligon adalah sebagai berikut:
50 | GLOBAL DESIGN, CV
AB
B
AC
Rencana Tindak Penanganan Lingkungan Ruang Terbuka
Hijau (RTH) Kabupaten Aceh Tamiang PAKET PBL-05
Utara Matahari
51 | GLOBAL (Geografi)
DESIGN, CV
M
M T
Rencana Tindak Penanganan Lingkungan Ruang Terbuka
Hijau (RTH) Kabupaten Aceh Tamiang PAKET PBL-05
T = M +
atau
T = M + ( T - M )
dimana:
T = azimuth ke target.
52 | GLOBAL DESIGN, CV
Rencana Tindak Penanganan Lingkungan Ruang Terbuka
Hijau (RTH) Kabupaten Aceh Tamiang PAKET PBL-05
Kerangka dasar vertikal diperoleh dengan melakukan pengukuran sipat
datar pada titik-titik jalur poligon. Jalur pengukuran dilakukan tertutup
(loop), yaitu pengukuran dimulai dan diakhiri pada titik yang sama.
Pengukuran beda tinggi dilakukan double stand dan pergi pulang. Seluruh
ketinggian di traverse net (titik-titik kerangka pengukuran) telah diikatkan
terhadap BM.
Slag 2
Slag 1 b2 m21
b1 m1
Bidang Referensi
D
D
- Setiap pindah slag rambu muka menjadi rambu belakang dan rambu
belakang menjadi rambu muka.
53 | GLOBAL DESIGN, CV
Rencana Tindak Penanganan Lingkungan Ruang Terbuka
Hijau (RTH) Kabupaten Aceh Tamiang PAKET PBL-05
- Setiap awal dan akhir pengukuran dilakukan pengecekan garis bidik.
- Toleransi salah penutup beda tinggi (T) ditentukan dengan rumus berikut:
T =( 8 √ D ) mm
dimana D = Jarak antara 2 titik kerangka dasar vertikal dalam satuan km.
- Azimuth magnetis
54 | GLOBAL DESIGN, CV
Rencana Tindak Penanganan Lingkungan Ruang Terbuka
Hijau (RTH) Kabupaten Aceh Tamiang PAKET PBL-05
III. Tahap Analisis dan Konsep Pra-Rancangan
1. Pengolahan Data
Dalam pengolahan ini, data akan dikelompokkan menurut jenis-jenis dan
sistematika data sesuai dengan laporan yang akan dibuat. Adapun pengelompokan
itu meliputi :
1) Skala Makro, terdiri dari :
a. Tinjauan eksternal dan aspek Kebijaksanaan Pembangunan Wilayah
Kabupaten Tamiang.
- Kebijaksanaan sektoral, yang membahas tentang kebijaksanaan-
kebijaksanaan pembangunan RTH
- Kebijaksanaan spatial, yang berdasarkan kepada pendekatan tata ruang yang
telah dihasilkan.
- Data mengenai Dokumen Perencanaan Daerah antara lain, RPJPD, RPJMD,
Rencana Kerja dinas terkait.
- Data/informasi arahan RTRW Kabupaten;
55 | GLOBAL DESIGN, CV
Rencana Tindak Penanganan Lingkungan Ruang Terbuka
Hijau (RTH) Kabupaten Aceh Tamiang PAKET PBL-05
- Peta dan data jenis tanah (informasi kemampuan daya dukungnya, terhadap
antara lain : pertanian, pengairan dan bangunan)
- Peta dan data klimatologi
- Peta dan data kawasan rawan bencana (banjir, tanah gerak, gempa, dan
gejala-gejala alam lain yang perlu diwaspadai)
c. Aspek Kependudukan
- Data jumlah penduduk (time series minimal 5 tahun)
- Data kepadatan penduduk
- Data pertumbuhan penduduk
- Data tentang norma dan nilai-nilai sosial masyarakat setempat
d. Fasilitas
- Fasilitas ekonomi/perdagangan dan jasa
- Fasilitas pendidikan
- Fasilitas kesehatan
- Fasilitas peribadatan
- Fasilitas rekreasi dan olahraga
e. Utilitas
- Data dan peta prasarana pengairan
- Data dan peta sumber air baku
- Data dan peta sistem jaringan listrik
56 | GLOBAL DESIGN, CV
Rencana Tindak Penanganan Lingkungan Ruang Terbuka
Hijau (RTH) Kabupaten Aceh Tamiang PAKET PBL-05
- Data dan peta sistem telekomunikasi
- Data dan peta sistem jaringan air bersih
- Data dan peta sistem jaringan drainase
- Data peta sistim persampahan
57 | GLOBAL DESIGN, CV
Rencana Tindak Penanganan Lingkungan Ruang Terbuka
Hijau (RTH) Kabupaten Aceh Tamiang PAKET PBL-05
mempengaruhi eksistensi RTH;
Analisis pengembangan Sumberdaya (Resources) yang ada guna mendukung RTH,
termasuk utilitas dan fasilitas pendukung
Analisis penataan Ruang Terbuka Hijau (RTH)
Didalam keseluruhan analisis pada prinsipnya terdapat empat jenis penilaian umum, yaitu :
Analisis keadaan dasar yang merupakan penilaian terhadap kondisi pada saat sekarang.
Analisis kecenderungan perkembangan yang menilai dari masa lalu sampai masa
sekarang dan kemungkinannya dimasa yang akan datang.
Analisis sistem kebutuhan wilayah yang menilai hubungan ketergantungan antara sub
sistem atau antara fungsi dan pengaruhnya.
Analisis dan perumusan arahan pengembangan dilakukan berdasarkan data yang telah dikompilasi.
Tujuan pelaksanaan tahapan ini adalah untuk mendapatkan parameter-parameter dasar yang
dibutuhkan bagi perumusan konsep perencanaan. Hasil dari kajian identifikasi karakteristik kawasan
merupakan masukan pada tahap analisis ini, dimana karakter kawasan termasuk karakteristik
masyarakat diharapkan dapat menjadi salah satu prospek pengembangan kawasan.
58 | GLOBAL DESIGN, CV
Rencana Tindak Penanganan Lingkungan Ruang Terbuka
Hijau (RTH) Kabupaten Aceh Tamiang PAKET PBL-05
Perumusan Arah, Tujuan dan Sasaran Pengembangan
Penyusunan Konsep Pengembangan
3. Kompilasi Data
Merupakan suatu tahapan proses seleksi, tabulasi dan pengelompokkan atau
mensistemasikan data dan informasi yang diperoleh dari hasil survey, serta penelitian
terhadap kondisi aspek-aspek perencanaan seperti :
Tahap Analisis
- Penyiapan konsep desain,
- Pengembangan rancangan,
- Perkiraan bentuk / sketsa ide rancangan.
Dalam penyusunan rencana dan konsep kebutuhan dan analisa tata ruang, perencanaan
dilakukan atas dasar (preliminary desaign) masing-masing fasilitas.
a. Fasilitas Bangunan
59 | GLOBAL DESIGN, CV
Rencana Tindak Penanganan Lingkungan Ruang Terbuka
Hijau (RTH) Kabupaten Aceh Tamiang PAKET PBL-05
Jenis fasilitas dan tata letak akan direncanakan sesuai dengan kebutuhan dan
memperhatikan perkembangan kawasan wilayah kota. Berkenaan dengan
perencanaan/desain seperti yang diuraikan di atas, metode pendekatan atau standar-
standar yang akan dipakai dalam perncanaan adalah standar teknis yang behubungan
dengan perencanaan tata ruang suatu kawasan yang berkaitan dengan konsep perencanaan
Ruang Terbuka Hijau (RTH).
Tampak
Adanya fungsi dan aktifitas yang berbeda dalam pemamfaatan tata ruang dengan
konsep Ruang Terbuka Hijau (RTH).
d. Hasil perencanaan
Hasil perencanaan ini merupakan laporan final sehingga telah mempunyai muatan materi
yang telah di revisi sesuai berita acara diskusi. Laporan ini pada dasarnya memuat :
1. Gambaran umum wilayah perencanaan, yang meliputi kondisi eksisting kawasan, potensi
dan prioritas kawasan yang akan ditetapkan sebagai kawasan percontohan fisik.
2. Laporan hasil evaluasi terhadap lahan-lahan yang akan digunakan sebagai lokasi
penanganan dalam kegiatan Rencana Tindak Penataan Ruang Terbuka Hijau (RTH)
3. Arahan penanganan permasalahan Ruang Terbuka Hijau
4. Arahan luas RTH minimum yang diperlukan dalam Kabupaten Tamiang ditentukan secara
60 | GLOBAL DESIGN, CV
Rencana Tindak Penanganan Lingkungan Ruang Terbuka
Hijau (RTH) Kabupaten Aceh Tamiang PAKET PBL-05
komposit dengan 3 (tiga) komponen yaitu :
- Kapasitas atau daya dukung alami wilayah;
- Kebutuhan perkapita (kenyamanan, kesehatan, dan bentuk pelayanan lainnya;
- Arah dan tujuan pembangunan RTH kota.
5. Arahan lahan kota yang potensial untuk dikembangkan sebagai RTH
6. Arahan pola ruang terbuka hijau, dalam hal ini struktur yang akan dikembangkan
(bentuk, konfigurasi dan distribusi/penyebaran).
7. Arahan elemen pengisi ruang terbuka hijau dalam hal ini termasuk tanaman sesuai
dengan kepentingan kota serta sarana pendukung lainnya.
8. Arahan Konsep Penataan Ruang Terbuka Hijau Kabupaten Tamiang
9. Merencanakan penataan Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang murah, sehat, nyaman,
produktif dan berkelanjutan.
10. Rencana Penatan Ruang Terbuka Hijau Kabupaten Tamiang.
11. Laporan-laporan Detail Engineering Desain (DED) disajikan dalam bentuk :
- Gambar arsitektur, gambar struktur dilengkapi dengan gambar detail
- Rencana Kerja dan Syarat-syarat (RKS)
- Rencana Anggaran Biaya (EE, OE dan BQ)
- Laporan perencanaan dan Nota perhitungan
a. Sistem Pelaporan
Setiap hasil dari kegiatan yang dilaksanakan konsultan perencana setelah melalui tahap
konsultasi dengan pemberi tugas atau tim teknis selanjutnya dituangkan dalam penyusunan
dalam bentuk laporan yang terdiri dari :
Latar belakang, Maksud, Tujuan dan Saran, Ruang Lingkup Kegiatan dan Sistematika
Laporan;
Rencana pencapaian kegiatan mencakup : Jadwal Kerja, Target/ Sasaran, Alokasi Tenaga
Ahli, Organisasi Pelaksanaan Pekerjaan, dan lain sebagainya;
Tinjauan Teoritis, Pendekatan dan Metodologi pelaksanaan kegiatan dengan metode
61 | GLOBAL DESIGN, CV
Rencana Tindak Penanganan Lingkungan Ruang Terbuka
Hijau (RTH) Kabupaten Aceh Tamiang PAKET PBL-05
pengumpulan, pengolahan dan analisis data, termasuk kajian kepustakaan serta studi
kasus sejenis, analisi pemecahan masalah;
Konsep penanganan terhadap permasalahan dalam pelaksanaan di wilayah studi dalam
hal ini penataan Ruang Terbuka Hijau (RTH)
Rencana dan metode kerja penyedia jasa secara menyeluruh meliputi sasaran yang akan
dicapai.
Gambaran umum kawasan perencanaan
62 | GLOBAL DESIGN, CV
Rencana Tindak Penanganan Lingkungan Ruang Terbuka
Hijau (RTH) Kabupaten Aceh Tamiang PAKET PBL-05
Rencana Anggaran Biaya (RAB) beserta rekapitulasi dan Rencana Kerja dan Syarat-Syarat
(RKS).
b. Pembahasan, Diskusi/Presentasi
Peserta diskusi diikuti oleh Tim Teknis dari dinas instansi terkait. Pada diskusi Laporan
Pendahuluan ini bersifat sebagai pengenalan/introduksi terhadap rencana kerja yang
akan dilakukan oleh konsultan/pelaksana.
Buku draft Laporan Pendahuluan yang diserahkan sebanyak 12 eks (bahan diskusi) dan
10 eks laporan hasil pertemuan
Buku Laporan Kompilasi Data disusun berisi data yang diperoleh dari hasil survey
terhadap masing-masing data, Laporan Analisa memuat kajian/analisis sementara dari
data yang ada. Laporan ini dibahas dengan Tim Teknis dari instansi terkait Kabupaten
agar data penunjang tersebut dapat lebih akurat dan menghasilkan analisa yang tepat.
Hasil diskusi merupakan kesepakatan yang harus dipenuhi oleh Konsultan, sebagai
penyempurnaan untuk Penyusunan Draft Rencana. Buku Draft laporan Kompilasi Data
dan Analisa yang diserahkan masing-masing 6 eks ( Bahan Diskusi ) dan 5 eks laporan
hasil pertemuan
Tahap ini merupakan tahap penyempurnaan akhir yang dilakukan Tim Teknis sebelum
penyerahan produk pekerjaan dalam kgeiatan Rencana Tindak Penataan Ruang Terbuka
Hijau (RTH) Kabupaten Aceh Tamiang. Dalam diskusi ini Tim Teknis mengkonsentrasikan
bahasan pada kebijaksanaan pelaksanaan (pemantapan) dan konsolidasi lahan.
Buku draft Rencana yang diserahkan sebanyak 12 eks (bahan diskusi) dan 10 eks laporan
hasil pertemuan.
63 | GLOBAL DESIGN, CV
Rencana Tindak Penanganan Lingkungan Ruang Terbuka
Hijau (RTH) Kabupaten Aceh Tamiang PAKET PBL-05
C. Organisasi dan Personil
Agar pelaksanaan pekerjaan dapat dilaksanakan dengan baik dan output pekerjaan
yang diharapkan dapat tercapai, maka disusunlah susunan organisasi konsultan.
Penyusunan struktur organisasi pelaksana pekerjaan dimaksudkan untuk menciptakan
sistem koordinasi yang terkendali dan sebagai usaha untuk melaksanakan pekerjaan
dengan seoptimal mungkin. Hal ini dimaksudkan agar pelaksanaan pekerjaan dapat
berlangsung lancar, efisien, terintegrasi, dan selesai secara tepat waktu dengan
memberikan keluaran seperti yang diharapkan.
64 | GLOBAL DESIGN, CV
Rencana Tindak Penanganan Lingkungan Ruang Terbuka
Hijau (RTH) Kabupaten Aceh Tamiang PAKET PBL-05
organisasi penyelenggaraan proyek ini akan dibagi dalam 4 jenjang (lihat gambar) yaitu :
1) Ketua Tim (Team Leader) merupakan jenjang yang mengkoordinasikan
pelaksanakan pekerjaan
2) Tenaga Ahli yang terdiri dari beberapa disiplin ilmu dan saling membantu dalam
penyelesaian pekerjaan
3) Tenaga Pendukung yang terdiri dari tenaga non keahlian yang akan membantu
dalam proses penyelesaian dan mendukung kelancaran pekerjaan.
Konsultan telah memilih dan menunjuk tenaga-tenaga ahli untuk pekerjaan ini,
yang telah mempunyai pengalaman dalam melaksanakan pekerjaan sejenis, serta
didukung oleh kemampuan akademik yang memadai dalam mengatasi permasalahan
yang berkaitan dengan pekerjaan Rencana Tindak Penanganan Lingkungan Ruang
Terbuka Hijau (RTH) Kabupaten Aceh Tamiang.
Team Leader
Ahli Arsitektur
Surveyor Draftman/Juru
Gambar
65 | GLOBAL DESIGN, CV
Rencana Tindak Penanganan Lingkungan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Kabupaten Aceh
Tamiang PAKET PBL-05
66 | GLOBAL DESIGN, CV
Rencana Tindak Penanganan Lingkungan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Kabupaten Aceh
Tamiang PAKET PBL-05
2. Kualifikasi Tim
Sesuai dengan kerangka acuan kerja pekerjaan Rencana Tindak Penanganan Lingkungan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Kabupaten Aceh
Tamiang, maka dibutuhkan beberapa tenaga ahli dan asisten tenaga ahli yang terlibat dalam pekerjaan ini. Beberapa tenaga ahli dan asisten
tenaga ahli yang terlibat dalam pekerjaan ini seperti yang telah disampaikan pada sub bab sebelumnya.
Selanjutnya dalam sub bab ini kebutuhan tenaga ahli kualifikasi minimal tenaga ahli yang akan dilibatkan sehingga dengan
terpenuhinya kualifikasi minimal tersebut keluaran yang diharapkan dari pekerjaan ini dapat tercapai. Tabel berikut menguraikan kualifikasi
minimal tenaga ahli dan asisten tenaga ahli yang akan dilibatkan.
67 | GLOBAL DESIGN, CV
Rencana Tindak Penanganan Lingkungan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Kabupaten Aceh
Tamiang PAKET PBL-05
Ahli dibidang Sistem Informasi Geografis (Pendidikan S-1 Teknik Geodesi dengan pengalaman minimal 10 tahun atau Pendidikan
4. Ahli GIS
S-2 atau S-3 Teknik Geodesi dengan pengalaman minimal 5 tahun).
Ahli dibidang penyusunan kebijakan publik (Pendidikan S-1 Ilmu Administrasi Negara dengan pengalaman minimal 10 tahun atau
Ahli Kebijakan
5. Pendidikan S-2 atau S-3 Ilmu Administrasi Negara dengan pengalaman minimal 5 tahun).
Publik
Tenaga ahli yang akan terlibat juga diberikan deskripsi tugas pada saat nantinya akan melaksanakan pekerjaan, sehingga tidak akan
terjadi tumpang tindih tanggung jawab pada saat pelaksanaan kegiatan. Keterlibatan masing-masing tenaga ahli ini sangatlah erat, karenanya
mereka akan saling bekerjasama untuk saling melengkapi guna mencapai hasil yang diinginkan.
68 | GLOBAL DESIGN, CV