JURNAL PEMBELAJARAN
MODUL 1 : PEMBELAJARAN SOSIAL EMOSIONAL
TOPIK 4 : SCHOOL WELL-BEING
DISUSUN OLEH :
NAMA : FIDA SARY NAFISA, [Link].
NIM : 25105462726
BIDANG STUDI : ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
PPG GURU TERTENTU TAHAP 2
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
TAHUN 2025
RANGKUMAN
School Well-being
A. Pengertian School Well-being
School well-being mengacu pada rasa bahagia dan kesejahteraan bagi orang-
orang yang berada di lingkungan sekolah, termasuk peserta didik dan guru. Secara
umum, kesejahteraan (well-being) adalah kondisi di mana seseorang merasa bahagia
dan nyaman, sehingga mencerminkan sikap dan perasaan yang positif. Jika kondisi
tersebut tidak terpenuhi, bisa muncul rasa cemas dan perasaan negatif.
Konsep school well-being yang dikembangkan oleh Konu & Rimpela (2002)
berdasarkan teori Allardt mencakup empat dimensi utama yang harus terpenuhi agar
individu di sekolah merasa sejahtera, yaitu:
Having (Kondisi/Situasi Sekolah): Lingkungan sekolah yang nyaman dan
memiliki fasilitas serta layanan pendukung yang memadai.
Loving (Hubungan Sosial): Lingkungan sosial yang hangat dan positif serta
dukungan dalam interaksi antar warga sekolah.
Being (Pemenuhan Diri): Rasa percaya diri dan peluang untuk berkembang
secara pribadi serta kreatif.
Health (Kesehatan): Kesehatan fisik dan mental yang baik bagi guru maupun
siswa..
B. Dimensi School Well-being
Konu dan Rimpela (2002) menjelaskan empat dimensi school well-being yaitu:
having, loving, being, dan health. Terdapat beberapa dimensi yang dapat
menggambarkan apakah sekolah tersebut sehat atau sejahtera. Hascher dalam Jarvela
(2011) menjelaskan ciri-ciri kondisi sekolah yang membahagiakan dan sejahtera,
yaitu:
1. Sikap dan emosi positif terhadap situasi sekolah secara keseluruhan baik dari
peserta didik ataupun guru
2. Peserta didik memiliki konsep diri yang positif dalam hal akademik
3. Guru dan peserta didik menikmati aktivitas sekolah
4. Guru dan peserta didik bebas dari kecemasan untuk pergi bersekolah
5. Guru dan peserta didik bebas dari berbagai keluhan mengenai kondisi sekolah,
dan
6. Tidak ada masalah/konflik yang berat di sekolah.
C. Faktor Yang Mempengaruhi School Well-being
Beberapa faktor penting yang mempengaruhi kesejahteraan sekolah adalah:
1. Stress Pada Guru
Beban kerja yang terlalu berat bisa menyebabkan stress, yang membuat guru
sulit berkomunikasi dan memberikan dukungan kepada siswa. Guru yang sedang
stress juga sulit menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan.
2. Kemampuan Sosial-Emosional
Kemampuan Emotional literacy atau kemampuan untuk memahami dan
mengelola emosi membantu guru dan siswa beradaptasi dengan lingkungan
sekolah serta memperbaiki hubungan sosial yang sehat.
3. Kepribadian dan Karakter Siswa
Motivasi belajar, kemampuan komunikasi, disiplin, serta kemampuan bekerja
sama turut mempengaruhi iklim dan kebahagiaan di sekolah
4. Keterlibatan Seluruh Warga Sekolah
Kesejahteraan sekolah tercipta apabila seluruh pihak di sekolah, seperti guru,
siswa, staf, dan manajemen bersama-sama membangun suasana yang positif dan
mendukung.
D. Iklim Ruang Kelas
Kesejahteraan di sekolah juga dipengaruhi oleh iklim ruang kelas atau suasana
dalam kelas yang dapat digolongkan berdasarkan dua dimensi, yaitu tingkat kontrol
dan tingkat kehangatan dalam interaksi guru dan siswa.
a. Kontrol Tinggi dan Kehangatan Rendah
Guru lebih berfokus pada tugas, menggunakan hukuman dan jarang
memberikan pujian. Suasana menjadi kaku dan terlalu formal.
b. Kontrol Tinggi dan Kehangatan Tinggi
Guru tetap fokus tugas tetapi juga memberikan penghargaan dan respon positif
kepada siswa, sehingga menciptakan keseimbangan antara disiplin dan
hubungan yang hangat.
c. Kontrol Rendah dan Kehangatan Tinggi
Aturan di kelas lebih fleksibel, guru berperan sebagai fasilitator, suasana kelas
yang santai dan penuh pujian sehingga siswa merasa nyaman.
d. Kontrol Rendah dan Kehangatan Rendah
Kurang kontrol dan kehangatan, sehingga kelas kurang terbina. Guru sering
marah, membentak, minim peraturan, menjadikan suasana belajar yang tidak
nyaman.
Iklim kelas yang sehat biasanya adalah kombinasi kontrol yang cukup antara
kontrol dan kehangatan yang tinggi, sehingga menciptakan menciptakan suasana
belajar yang menyenangkan dan efektif.
E. Peran Pembelajaran Sosial-Emosional dalam Menciptakan School Well-being
Pembelajaran sosial-emosional sangat penitng untuk menciptakan lingkungan
sekolah yang positif dan sehat. Melalui pembelajaran ini, guru dan siswa belajar
mengenali, mengelola, serta menyampaikan emosi secara sehat. Mereka juga belajar
membangun hubungan sosial yang penuh empati dan harmonis. Hal ini membantu
mengurangi konflik, mengurangi stress, serta meningkatkan semangat dan hasil
belajar siswa.
Guru yang memiliki keterampilan sosial-emosional yang baik juga dapat
menjadi teladan bagi siswa. Mereka juga dapat mencegah bullying dan menciptakan
suasana yang aman dan nyaman bagi seluruh warga sekolah.
AKSI NYATA
School Well-being
Bagaimana Anda sebagai guru mengelola emosi supaya bisa berpengaruh positif pada
lingkungan pembelajaran Anda?
Sebagai seorang guru, mampu mengelola emosi dengan baik adalah hal penting untuk
menciptakan pengaruh positif di lingkungan belajar, terutama ketika menghadapi anak-anak
usia dini. Sebagai guru, saya perlu menggunakan pendekatan khusus yang peka terhadap
kebutuhan perkembangan sosial, emosional, kognitif, dan fisik siswa pada masa tersebut.
Berikut adalah beberapa Langkah yang dapat saya terapkan:
1. Mengenali dan menerima emosi diri
Saya selalu berusaha menyadari perasaan yang muncul saat menghadapi situasi di
kelas, baik itu stress, lelah, bahagia, atau frustasi. Dengan mengenali emosi tersebut,
saya bisa merespons dengan tepat, bukan hanya bereaksi secara impulsif.
2. Menggunakan Teknik pengelolaan emosi
Saya mempraktikkan teknik bernapas dalam, mengambil jeda sejenak, dan berbicara
dengan diri sendiri (self-talk positif) agar tetap tenang. Jika menghadapi situasi sulit
atau ketegangan dengan siswa, saya mengambil waktu untuk menenangkan diri
terlebih dahulu sebelum memberi respons.
3. Menjadi teladan sikap positif (role model)
Saya menunjukkan sikap tenang, sabar, dan penuh empati di depan siswa, baik saat
memberi instruksi, memberikan koreksi, maupun Ketika berdiskusi.
Siswa belajar dari apa yang mereka lihat, bukan hanya dari apa yang mereka dengar.
4. Mengembangkan komunikasi terbuka dan asertif
Saya terbiasa menyampaikan perasaan dengan cara yang asertif, tidak memaksa atau
menghakimi. Contohnya, ketika situasi di kelas sedang tidak kondusif, saya
menyampaikan dengan cara yang sopan seperti,” Anak-anak kalo mau gosip nanti lagi
yah, sekarang waktunya belajar”.
5. Mengendalikan stress dan mencari dukungan
Jika merasa lelah atau cemas, saya tidak ragu untuk berdiskusi dengan rekan sejawat
atau mencari bantuan professional jika diperlukan. Saya juga menjaga keseimbangan
hidup dengan beristirahat cukup dan meluangkan waktu untuk hobi.
6. Membuat lingkungan kelas yang suportif
Saya mendorong siswa untuk memahami dan mengelola emosi mereka melalui
aktivitas reflektif, diskusi emosi, atau bermain peran. Dengan begitu, kelas menjadi
tempat yang aman dan nyaman bagi siswa untuk belajar dan berkembang positif
secara sosial dan emosional.
Melalui berbagai cara ini, saya percaya bahwa emosi yang sehat dan terkelola dengan
baik dari seorang guru akan menular pada siswa, menciptakan lingkungan sekolah yang
harmonis, penuh motivasi, dan mendorong tumbuhnya school well-being bagi semua warga
sekolah.
Bagaimana menciptakan lingkungan positif dengan kemampuan peserta didik yang beragam?
Membuat lingkungan sekolah yang positif dan mendukung anak-anak dengan
kemampuan yang berbeda membutuhkan cara yang inklusif dan penuh empati. Lingkungan
ini harus bisa menerima perbedaan setiap siswa sekaligus membangun rasa persatuan dan
saling hormat.
Sebagai seorang guru, saya akan menerapkan langkah-langkah berikut untuk
menciptakan suasana belajar yang positif dan inklusif bagi semua siswa.
Berikut adalah langkah-langkah yang akan saya lakukan:
Menerapkan pembelajaran berdiferensiasi
Saya menyesuaikan metode mengajar agar sesuai dengan kemampuan masing-masing
siswa.
Misalnya, untuk siswa yang kesulitan memahami konsep abstrak, saya menggunakan
alat peraga seperti miniatur pasar atau kartu bergambar pekerjaan. Sementara itu,
siswa yang sudah lebih mampu diberikan tantangan tambahan, seperti membuat peta
pikiran tentang proses produksi suatu barang atau wawancara orang tua tentang
pekerjaan mereka.
Membangun budaya kelas yang saling menghargai
Saya mengajarkan anak-anak untuk tidak membandingkan diri dengan teman-
temannya, tetapi fokus pada usaha yang telah mereka lakukan.
Selain itu, saya juga mendorong mereka untuk saling bantu. Contohnya, ketika
membahas materi tentang pengelolaan uang, anak yang lebih mahir dalam matematika
dapat membantu teman yang kesulitan dalam mengerjakan soal cerita tentang
pengeluaran pribadi..
Memberikan apresiasi sesuai kemajuan individu
Saya tidak hanya memuji hasil akhir, tetapi juga menghargai upaya anak dalam
belajar.
Hal ini membuat anak yang masih dalam proses belajar lebih percaya diri dan
termotivasi untuk terus berusaha.
Menciptakan suasana kelas yang aman secara emosional
Saya mencoba membangun hubungan yang hangat, mendengarkan keluhan siswa,
serta memastikan semua anak merasa nyaman dan diterima.
Saya juga memastikan tidak ada siswa yang dihina atau ditolak karena perbedaan
mereka.
Melibatkan siswa dalam aktivitas sosial dan bermain
Saya menyediakan berbagai permainan edukatif dan kerja kelompok agar semua anak
bisa menjalin hubungan, saling bekerja sama, serta belajar dari satu sama lain.
Kegiatan ini memperkuat aspek sosial dan kesehatan mental dalam lingkungan
belajar, sekaligus menjadikan pembelajaran lebih menyenangkan.
Dengan menciptakan lingkungan belajar yang positif dan mengakomodasi keragaman
kemampuan siswa, saya berharap setiap anak merasa bangga menjadi bagian dari kelas, bisa
berkembang secara optimal, dan senang belajar di sekolah.
REFLEKSI
School Well-being
Melalui pengalaman nyata dalam mengelola emosi dan menciptakan lingkungan
belajar yang positif di kelas, saya semakin memahami betapa pentingnya peran seorang guru
sebagai penggerak suasana dan penentu kenyamanan psikologis di kelas. Anak usia dini
membutuhkan contoh dari ekspresi dan respons emosi guru. Maka, menjaga kestabilan emosi
saya tidak hanya bermanfaat bagi diri sendiri, tetapi juga memberikan dampak besar terhadap
perkembangan sosial dan emosional, serta motivasi belajar siswa.
Dalam proses ini, saya belajar bahwa kesabaran, suara lembut, dan kemampuan
menenangkan diri saat menghadapi situasi sulit adalah kunci untuk menciptakan suasana
belajar yang aman dan mendukung. Hal ini tidak hanya membantu saya menghindari konflik
atau ketegangan di kelas, tetapi juga menjadi contoh nyata bagi siswa dalam mengelola emosi
mereka sendiri. Pendekatan ini memperkuat aspek kesehatan dan hubungan sosial dalam
konsep school well-being.
Di sisi lain, saya juga menyadari bahwa keragaman kemampuan siswa tidak boleh
menjadi penghalang terhadap suasana positif di kelas. Justru, keragaman ini seharusnya
menjadi peluang untuk membangun lingkungan belajar yang inklusif. Penerapan
pembelajaran berbeda, penghargaan terhadap perbedaan, dan kegiatan bekerja sama telah
terbukti efektif dalam memotivasi siswa belajar serta menciptakan rasa saling menghargai
antar teman sekelas. Saya merasa sangat terbantu dengan kebiasaan melakukan refleksi
setelah proses belajar mengajar selesai. Dengan begitu, saya bisa terus meningkatkan
kesadaran terhadap kebutuhan emosional siswa dan juga menemukan ruang-ruang perbaikan
dalam mengelola emosi sendiri.
Aksi nyata ini memperkuat keyakinan saya bahwa membangun school well-being
tidak hanya tentang fasilitas atau kebijakan di sekolah, tetapi dimulai dari kehadiran seorang
guru yang sadar, peduli, dan mampu menciptakan suasana kelas yang manusiawi, di mana
setiap anak merasa diterima, dihargai, dan bahagia belajar.
DOKUMENTASI