0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan18 halaman

Rencana Keselamatan Kerja TPS-3R Kota Batu

Dokumen ini adalah Rencana Keselamatan Kerja (RKK) untuk pembangunan TPS-3R di Kota Batu, yang mencakup ketentuan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) dalam konstruksi. Penyedia Jasa diwajibkan untuk menerapkan sistem manajemen K3, menyediakan fasilitas yang memadai, dan melibatkan tenaga kerja yang terlatih dalam K3. Selain itu, dokumen ini juga menjelaskan prosedur untuk bekerja di tempat tinggi dan perlunya pengamanan untuk mencegah kecelakaan kerja.

Diunggah oleh

saaptea7
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan18 halaman

Rencana Keselamatan Kerja TPS-3R Kota Batu

Dokumen ini adalah Rencana Keselamatan Kerja (RKK) untuk pembangunan TPS-3R di Kota Batu, yang mencakup ketentuan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) dalam konstruksi. Penyedia Jasa diwajibkan untuk menerapkan sistem manajemen K3, menyediakan fasilitas yang memadai, dan melibatkan tenaga kerja yang terlatih dalam K3. Selain itu, dokumen ini juga menjelaskan prosedur untuk bekerja di tempat tinggi dan perlunya pengamanan untuk mencegah kecelakaan kerja.

Diunggah oleh

saaptea7
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

PEMERINTAH PROVINSI JAWA TIMUR

DINAS PERUMAHAN RAKYAT, KAWASAN PERMUKIMAN


DAN CIPTA KARYA
JI. Gayung Kebonsari No. 169 Telp. (031) 8287275 (Hunting) Fax. (031) 8292270

S U R A B A Y A - 60233

RENCANA KESELAMATAN KERJA (RKK)


PEMBANGUNAN TPS-3R KOTA BATU
KELURAHAN DADAPREJO - KECAMATAN JUNREJO
KOTA BATU
RENCANA KESELAMATAN KERJA
1.1. KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

1.1.1. Umum

1) Sub bab ini mencakup ketentuan-ketentuan penanganan keselamatan dan kesehatan kerja
(K3) konstruksi kepada setiap orang yang berada di tempat kerja yang berhubungan
dengan pemindahan bahan baku, penggunaan peralatan kerja konstruksi, proses produksi
dan lingkungan sekitar tempat kerja.
2) Penanganan K3 mencakup penyediaan sarana pencegah kecelakaan kerja dan
perlindungan kesehatan kerja konstruksi maupun penyediaan personil yang kompeten dan
organisasi pengendalian K3 Konstruksi sesuai dengan tingkat risiko yang ditetapkan oleh
Pengawas Pekerjaan.
3) Penyedia Jasa harus mengikuti ketentuan-ketentuan pengelolaan K3 yang tertuang dalam
Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat No.02/PRT/M/2018 atau
perubahannya (jika ada) tentang Pedoman Sistem Manjemen Keselamatan dan Kesehatan
Kerja Konstruksi Bidang Pekerjaan Umum dan Pedoman Pelaksanaan.
4) Semua fasilitas dan sarana lainnya yang disiapkan oleh Penyedia Jasa menurut Sub babini
tetap menjadi milik Penyedia Jasa setelah Kontrak berakhir.

1.1.2. Sistem Manajemen K3 Konstruksi

1) Penyedia Jasa harus membuat, menerapkan, dan memelihara prosedur untuk


identifikasi bahaya, penilaian risiko dan pengendaliannya secara berkesinambungan
sesuai dengan Rencana Keselamatan dan Kesehatan Kerja Konstruksi (RK3K) yang
telah disetujui oleh Pengawas Pekerjaan sebagaimana dijelaskan dalam Sub bab 1.2
Mobilisasi.
2) Penyedia Jasa wajib melengkapi RK3K dengan rencana penerapan K3 Konstruksi
untuk seluruh tahapan pekerjaan.
3) Penyedia Jasa wajib mempresentasikan RK3K pada rapat persiapan pelaksanaan
pekerjaan konstruksi untuk disahkan dan ditanda tangani oleh Wakil Pengguna Jasa
sesuai ketentuan Permen PUPR No.02/PRT/M/2018 atau perubahannya (jika ada)
tentang Pedoman Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Konstruksi
Bidang Pekerjaan Umum.
4) Penyedia Jasa harus melibatkan Ahli K3 Konstruksi pada paket pekerjaan dengan
potensi risikotinggi dan harus melibatkan Petugas K3 Konstruksi pada paket

2
pekerjaan dengan potensi bahaya rendah. Identifikasi dan potemsi bahaya K3
ditetapkan oleh Wakil Pengguna Jasa.
5) Pekerjaan dengan tingkat risiko tinggi seperti pekerjaan pengelasan, masuk tempat
tertutup/terbatas (confined space), isolasi peralatan (lockout/tagout), penggalian,
bekerja di ketinggian, pekerjaan listrik, memerlukan izin khusus yang dibuat oleh
Penyedia Jasa dan disetujui oleh Pengawas Pekerjaan.
6) Ahli K3 adalah seseorang yang mempunyai sertifikat dari yang berwenang dan sudah
berpengalaman sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun dalam pelaksanaan K3
Konstruksi Bidang Pekerjaan Umum yang dibuktikan dengan referensi pengalaman
kerja. Petugas K3 adalah petugas di dalam organisasi Penyedia Jasa yang telah
mengikuti pelatihan/sosialisasi K3 Konstruksi Bidang Pekerjaan Umum. Aplikasi ahli
K3 atau petugas K3 akan merujuk Permen PUPR No.02/PRT/M/2018 atau
perubahannya (jika ada).
7) Penyedia Jasa harus membentuk Panitia Pembina K3 (P2K3) bila:

• Mengelola pekerjaan yang mempekerjakan tenaga kerja dengan jumlah paling


sedikit 100 orang atau nilai kontrak di atas Rp [Link],- (seratus milyar
rupiah) atau sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
• Mengelola pekerjaan yang mempekerjakan tenaga kerja kurang dari 100 orang,
akan tetapi menggunakan bahan, proses dan instalasi yang mempunyai risiko
yang besar akan terjadinya peledampakan, kebakaran, keracunan dan penyinaran
radioaktif.
8) P2K3 (Panitia Pembina K3) adalah badan pembantu di perusahaan dan tempat kerja
yang merupakan wadah kerjasama antara pengusaha dan tenaga kerja untuk
mengembangkan kerja sama saling pengertian dan partisipasi efektif dalam
penerapan keselamatan dan kesehatan kerja. Unsur P2K3 terdiri dari Ketua,
Sekretaris dan Anggota. Ketua P2K3 adalah pimpinan puncak organisasi Penyedia
Jasa dan Sekretaris P2K3 adalah Ahli K3 Konstruksi.
9) Penyedia Jasa harus membuat Laporan Rutin Kegiatan P2K3 ke Dinas Tenaga Kerja
setempat dan tembusannya disaikan kepada Pengawas Pekerjaan.
10) Penyedia Jasa haras melaksanakan Audit Internal K3 Konstruksi bidang Pekerjaan
Umum.
11) Penyedia Jasa bersama dengan Pengawas Pekerjaan melakukan inspeksi K3
Konstruksi secara periodik dalam mingguan dan/atau bulanan.
12) Penyedia Jasa segera melakukan tindampakan perbaikan yang diperlukan terhadap
ketidaksesuaian yang ditemukan pada saat inspeksi K3 Konstruksi. Hasil inspeksi K3
Konstruksi disaikan oleh Penyedia Jasa kepada Pengawas Pekerjaan.

3
13) Penyedia Jasa haras melakukan tinjauan ulang terhadap RK3K (pada bagian yang memang
perlu dilakukan kaji ulang) secara berkesinambungan selama pelaksanaan pekerjaan
konstruksi berlangsung.

1.1.3. K3 Kantor Lapangan dan Fasilitasnya


1) Fasilitas Mandi dan Cuci
Penyedia Jasa haras menyediakan fasilitas cuci yang memadai dan sesuai dengan
pekerjaan yang dilakukan untuk seluruh tenaga kerja konstruksi. Fasilitas cuci termasuk
penyediaan air panas dan zat pembersih untuk kondisi berikut ini:

a) Jika tenaga kerja berisiko terpapar kontaminasi kulit yang diakibatkan oleh zat beracun, zat
yang menyebabkan infeksi dan iritasi atau zat sensitif lainnya;
b) Jika tenaga kerja menangani bahan kulit yang sulit dicuci jika menggunakan air dingin;
c) Jika tenaga kerja harus membersihkan seluruh badannya;
d) Jika tenaga kerja terpapar pada kondisi panas atau dingin yang berlebih, atau bekerja pada
kondisi basah yang tidak biasa sehingga menyebabkan para tenaga kerja harus
membersihkan seluruh badannya, maka Penyedia Jasa harus menyediakan pancuran
air (shower) dengan jumlah yang memadai;

e) Untuk kondisi normal, Penyedia Jasa harus menyediakan panCampuran air untuk mandi
dengan jumlah sekurang-kurangnya satu untuk setiap 15 orang.

2) Fasilitas Sanitasi

a) Penyedia Jasa harus menyediakan toilet yang memadai baik toilet khusus pria maupun
toilet khusus wanita yang diperkerjakan di dalam atau di sekitar tempat kerja serta tempat
sah dengan kapasitas yang memadai.
b) Jika Penyedia Jasa mempekerjakan sai dengan 30 orang tenaga kerja, maka persyaratan
minimumnya adalah: 1 toilet terdiri dari 1 kloset
c) Jika Penyedia Jasa mempekerjakan wanita, toilet harus disertai fasilitas pembuangan
pembalut wanita.
d) Toilet pria dan wanita harus dipisahkan dengan dinding tertutup penuh. Toilet harus mudah
diakses, mempunyai penerangan dan ventilasi yang cukup, dan terlindung dari cuaca. Jika
toilet berada di luar, harus disediakan jalur jalan kaki yang baik dengan penerangan yang
memadai di sepanjang jalur tersebut. Toilet harus dibuat dan ditempatkan sedemikian rupa
sehinga dapat menjaga privasi orang yang menggunakannya dan terbuat dari bahan yang
mudah dibersihkan.

4
e) Penyedia Jasa dapat menyediakan satu toilet jika: jumlah pria dan
setiap jumlah wanita kurang dari 10 orang; toilet benar-benar tertutup;
mempunyai kunci dalam; tersedia fasilitas pembuangan pembalut
wanita; tidak terdapat urinal di dalam toilet tersebut.
f) Dalam segala hal toilet harus menyediakan sekurang-kurangnya air
bersih dengan debit yang cukup dan lancar, sistem plumbing yang
memisahkan air bersih dan air kotor serta pembuangannya melalui
saluran drainase dengan sanitasi baik.

3) Air Minum

Penyedia Jasa harus menyediakan pasokan air minum yang memadai bagi
seluruh tenaga kerja dengan persyaratan:

a) Mudah diakses oleh seluruh tenaga kerja dan diberi label yang jelas
sebagai air minum;
b) Kontainer untuk air minum harus memenuhi standar kesehatan yang
berlaku;
c) Jika disimpan dalam kontainer, kontainer harus: bersih dan terlindungi
dari kontaminasi dan panas; harus dikosongkan dan diisi air minum
setiap hari dari sumber yang memenuhi standar kesehatan.

4) Fasilitas Pertolongan Pertama pada Kecelakaan (P3K)

a) Peralatan P3K harus tersedia dalam seluruh kendaraan konstruksi


dan di tempat kerja. Standar isi kotak P3K tercantum dalam Liran II
Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia
No. PER.15/MEN/VIII/ 2008 atau perubahannya (jika ada) tentang
Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan di Tempat Kerja.
b) Di tempat kerja harus selalu terdapat tenaga kerja yang sudah terlatih
dan/atau bertanggung jawab dalam Pertolongan Pertama
PadaKecelakaan.

5
5) Akomodasi untuk Makan dan Baju

a) Akomodasi yang memadai bagi tenaga kerja harus disediakan oleh


Penyedia Jasa sebagai tempat untuk makan, istirahat, dan
perlindungan dari cuaca.
b) Akomodasi tersebut harus mempunyai lantai yang bersih, dilengkapi
meja dan kursi, serta fornitur lainnya untuk menjamin tersedianya
tempat istirahat makan dan perlindungan dari cuaca.
c) Tempat sah harus disediakan terpisah terdiri dari tempat sah organik,
non organik dan limbah B3, dikosongkan dan dibersihkan secara
periodik.
d) Tempat ganti baju untuk tenaga kerja dan tempat penyimpanan pakaian
yang tidak digunakan selama bekerja harus disediakan. Setiap tenaga
kerja harus disediakan lemari penyimpan pakaian (locker).

6) Penerangan

a) Penerangan harus disediakan di seluruh tempat kerja, termasuk


di ruangan, jalan, jalan penghubung, tangga dan gang. Semua
penerangan harus dapat dinyalakan ketika setiap orang melewati atau
menggunakannya.
b) Penerangan tambahan harus disediakan untuk pekerjaan detail, proses
berbahaya, atau jika menggunakan mesin.
c) Penerangan darurat yang memadai juga harus disediakan.

7) Pemeliharaan Fasilitas
Penyedia Jasa harus menjamin terlaksananya pemeliharaan fasilitas- fasilitas
yang disediakan dalam kondisi bersih dan higienis, serta dapat diakses
secara nyaman oleh pekerja

8) Ventilasi

a) Seluruh tempat kerja harus mempunyai aliran udara yang bersih.


b) Pada kondisi tempat kerja yang sangat berdebu misalnya tempat
pemotongan beton, penggunaan bahan kimia berbahaya seperti
perekat, dan pada kondisi lainnya, Penyedia Jasa harus menyediakan
alat pelindung nafas seperti respirator dan pelindung mata.

6
1.1.4. Ketentuan Bekerja Pada Tempat Tinggi

1) Bekerja di tempat kerja yang tinggi harus dilakukan hanya oleh tenaga
kerja yang mempunyai pengetahuan, pengalaman dan mempunyai
sumberdaya yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan
denganselamat.
2) Keselamatan kerja untuk bekerja pada tempat tinggi dapat menggunakan
satu atau beberapa pelindung sebagai berikut: terali pengaman lokasi
kerja, jaring pengaman, sistem penangkap jatuh.
3) Pengamanan di sekeliling pelataran kerja atau tempat kerja

a) Terali pengaman lokasi kerja harus dibuat sepanjang tepi lantai


kerjaatau tempat kerja yang terbuka .
b) Jika pelataran kerja atau tempat kerja berada di atas jalan umum
dan jika ada bahaya material atau barang lain jatuh pada pengguna
jalan, maka daerah di bawah pelataran kerja atau tempat kerja
harus dibebaskan dari akses orang atau dapat digunakan jaring
pengaman.

4) Terali Pengaman Lokasi Kerja

Jika terali pengaman lokasi kerja digunakan di sekeliling bangunan, atau


bukaan di atap, lantai, atau lubang lift, maka terali pengaman harus
memenuhi syarat:

a) 900 - 1100 mm dari lantai kerja;

b) Mempunyai batang tengah (mid-rail);

c) Mempunyai papan bawah (toeboard) j ika terdapat risiko jatuhnya


alat kerja atau material dari atap/tempat kerja.

5) Jaring Pengaman

a) Tenaga kerja yang memasang jaring pengaman harus dilindungi


dari bahaya jatuh. Sebaiknya digunakan kendaraan khusus (mobile
work platform) saat memasang jaring pengaman. Akan tetapi jika
peralatan mekanik tersebut tidak tersedia maka tenaga kerja yang
memasang jaring harus dilindungi dengan tali pengaman (safety
harness) yang dikaitkan ke tali keselamatan (safety line) atau
menggunakan perancah(scaffolding).
b) Jaring pengaman harus dipasang sedekat mungkin pada sisi dalam
area kerja.

12
7
c) Jaring pengaman harus dipasang dengan jarak bersih yang cukup
dari permukaan lantai/tanah sehingga jika seorang tenaga kerja
jatuh pada jaring tidak akan terjadi kontak dengan permukaan
lantai/tanah.

6) Sistem Pengaman Jatuh Individu (Individual Fall Arrest System)


a) Sistem pengaman jatuh individu (individual fall arrest system)
termasuksistem rel inersia (inertia reel system), safety harness dan
tali statik. Tenaga kerja yang diharuskan menggunakan alat ini
haras dilatih terlebih dahulu.
b) Jenis sabuk pinggang tidak boleh digunakan untuk pekeijaan atap.
c) Tenaga kerja yang menggunakan safety harness tidak
diperbolehkan bekerja sendiri. Tenaga kerja yang jatuh dan
tergantung pada safety harness haras diselamatkan paling lambat
20 menit sejak terjatuh.
d) Perhatian haras diberikan pada titik angker untuk tali statik, jalur
relinersia, dan/atau jaring pengaman.

7) Tangga

Jika tangga akan digunakan, maka Penyedia Jasa haras:


a) Memilih jenis tangga yang sesuai dengan pekerjaan yang akan
dilakukan;
b) Menyediakan pelatihan penggunaan tangga;
c) Mengikat bagian atas dan bawah tangga untuk
mencegah kecelakaanakibat bergesernya tangga;
d) Tempatkan tangga sedekat mungkin dengan pekerjaan;
e) Jika tangga digunakan untuk naik ke lantai kerja di atas, pastikan
bahwa tangga berada sekurang-kurangnya 1m di atas lantai kerja.

8) Perancah (scaffolding)

a) Perancah dengan tinggi lebih dari 5 m dari permukaan hanya dapat


dibangun oleh orang yang mempunyai kompetensi sebagai
scaffolder.
b) Seluruh perancah harus diinspeksi oleh petugas yang berkompeten
pada saat sebelum digunakan, sekurang-kurangnya seminggu
sekali saat digunakan, setelah cuaca buruk atau gangguan lain yang
dapat mempengaruhi stabilitasnya, jika perancah tidak pernah
digunakan dalam jangka waktu lama. Hasil inspeksi harus dicatat,

12
8
termasuk kerusakan yang diperbaiki saat inspeksi. Catatan tersebut
harus ditandatangani oleh petugas yang melakukan inspeksi.

c) Petugas yang melakukan inspeksi harus memastikan bahwa :


i) Tersedia akses yang cukup pada lantai kerja perancah.
ii) Semua komponen tiang diletakkan di atas fondasi yang kuat
dan dilengkapi dengan plat dasar. Jika perlu, gunakan alas
kayu atau cara lainnya untuk mencegah tiang bergeser
dan/atau tenggelam.
iii) Perancah telah terhubung dengan bangunan/struktur dengan
kuat sehingga dapat mencegah runtuhnya perancah dan
menjaga agar ikatannya cukup kuat.
iv) Jika beberapa pengikat telah dipindahkan sejak perancah
didirikan, maka ikatan tambahan atau cara lainnya untuk
mengganti harus dilakukan.
v) Perancah telah diperkaku (bracing) dengan cukup untuk
menjaminstabilitas.
vi) Tiang, batang, pengaku (bracing), atau strut belum diindahkan.
vii) Papan lantai keija telah dipasang dengan benar, papan harus
bersih dari cacat dan telah tersusun dengan baik.

viii) Seluruh papan harus diikat dengan benar agar tidak terjadi
pergeseran.
ix) Tersedia pagar pengaman dan toeboard di setiap sisi di
manasuatu orang dapat jatuh.
x) Jika perancah didesain dan dibangun untuk menahan
beban material, pastikan bahwa bebannya disebarkan secara
merata.
xi) Tersedia penghalang atau peringatan untuk mencegah
orang menggunakan perancah yang tidak lengkap.

1.1.5. Elektrikal

1) Pasokan listrik

Alat elektrik portabel yang dapat digunakan di situasi lembab hanyalah alat
yang memenuhi syarat:
i) Mempunyai pasokan yang terisolasi dari pembumian atau grounding
(earth) dengan voltase antar konduktor tidak lebih dari 230 volt.

12
9
ii) Mempunyai sirkuit pembumian (earth) yang termonitor di mana
pasokan listrik pada alat akan secara otomatis terputus jika terjadi
kerusakan pada pembumian earth.
iii) Alat mempunyai insulasi ganda.

iv) Mempunyai sumber listrik yang dihubungkan dengan pembumian


(earth) sedemikian rupa sehingga voltase ke pembumian (earth) tidak
akanmelebihi 55 volt AC; atau
v) Mempunyai alat pengukur arus sisa (residual).

2) Supply Switchboard sementara

Seluruh supply switchboard yang digunakan di lokasi pekerjaan harus


menjadi perhatian utama dan harus:
i) Jika ditempatkan di luar ruangan, harus dibuat sedemikian rupa
sehingga tidak akan terganggu oleh cuaca.
ii) Dilengkapi dengan pintu dan kunci. Pintu harus dirancang dan dan
ditempel sedemikian rupa sehingga tidak akan merusak kabel lentur
yang tersambung dengan panel dan harus dapat melindungi switch
dari kerusakan mekanis. Pintu harus diberi tanda: HARAP SELALU
DITUTUP.
iii) Mempunyai slot yang terinsulasi di bagian bawah.

iv) Ditempelkan pada dinding permanen atau struktur yang didesain


khususuntuk ini.
v) Jika ditempel, pastikan menempel dengan baut.

3) Inspeksi peralatan

Seluruh alat dan perlengkapan kelistrikan harus diinspeksi sebelum


digunakan untuk pertama kali dan setelahnya sekurang-kurangnya tiap tiga
bulan. Seluruh alat dan perlengkapan kelistrikan harus mempunyai tanda
identifikasi yang menginformasikan tanggal terakhir inspeksi dan tanggal
inspeksi selanjutnya.

1.1.6. Material Dan Kimia Berbahaya

1) Alat Pelindung Diri (APD)

Penyedia Jasa bertanggung jawab untuk menyediakan alat pelindung diri


bagi pekeijanya dengan ketentuan:

12
10
a) Seluruh tenaga kerja dan personil lainnya yang terlibat harus dilatih
cara penggunaan alat pelindung diri dan harus memahami alasan
penggunaannya.

b) Jika dipandang tidak praktis untuk melindungi bagian atas dan jika
ada risiko terluka dari objek jatuh, maka Penyedia Jasa menyediakan
helm pelindung dan seluruh personil yang terlibat di lapangan harus
menggunakannya.
c) Perlindungan mata harus digunakan jika terdapat kemungkinan
kerusakan mata akibat pekerjaan las, atau dari serpihan material
seperti potongan gergaji kayu, atau potongan beton.
d) Sepatu yang digunakan harus mu melindungi kaki pekerja. Gunakan
sepatu dengan ujung besi di bagian jari kaki.
e) Pelindung kebisingan harus digunakan jika tingkat kebisingan tinggi.
f) Sarung tangan akan diperlukan pada beberapa pekerjaan.
g) Perlindungan pernafasan harus disediakan untuk tenaga kerja yang
terekspos pada bahaya seperti asbes, asap dan debu kimia.

2) Bahaya pada Kulit

a) Setiap tenaga kerja harus melapor jika mendapatkan masalah kulit,


terutama di tangan akibat penggunaan bahan berbahaya.

b) Tangan dan mata tenaga kerja harus dilindungi terhadap kontak


dengan semen. Usahakan kontak dengan semen seminimum
mungkin. Penggunaan krim pelindung dapat mengurangi risiko
kerusakan kulit.
c) Sedapat mungkin, pakaian pelindung harus digunakan selama
pekerjaan. Pakaian ini termasuk baju lengan panjang, sarung
tangandan sepatu pelindung.
d) Penyedia Jasa harus menyediakan fasilitas untuk mandi dan
mengganti pakaian
e) Alat pelindung pernapasan harus digunakan selama proses
pemeraman beton di mana debu mulai terbentuk.

3) Penggunaan Bahan Kimia

a) Penyedia Jasa harus mempunyai prosedur yang mengatur tata cara


menangani bahan kimia atau zat berbahaya dengan sehat, tata cara
penyimpanan, tata cara pembuangan limbah.
12
11
b) Seluruh bahan kimia harus disimpan di kontainer asalnya dalam suatu
tempat yang aman dan berventilasi baik.
c) Seluruh tenaga kerja harus dilatih jika menangani bahan kimia atau
zat berbahaya termasuk tindampakan darurat yang perlu dilakukan
jika terjadi masalah.

d) Penyedia Jasa yang menggunakan material mengandung B3 pada


pekerjaan jalan dan/atau jembatan wajib menyusun dokumen
pengelolaan, termasuk di dalamnya adalah pengangkutan,
penyimpanan, pengumpulan, pemanfaatan, dan/atau pengolahan
material tersebut, dan diajukan kepada Kementerian Lingkungan
Hidup dan Kehutanan (LHK) atau Badan Lingkungan Hidup Daerah
(BLHD).

4) Pemotongan dan Pengelasan dengan Gas Bertekanan Tinggi

a) Penyedia Jasa harus memperhatikan potensi bahaya sebagai berikut:


i) Kebakaran akibat kebocoran bahan bakar (propana, asetilen),
biasanya dari kerusakan pada selang atau pada sambungan
selang.
ii) Ledampakan tabung akibat kebocoran oksigen dari selang atau
alat pijar pemotong.
iii) Menghisap asap berbahaya dari pelaksanaan pekeijaanlas.
iv) Kebakaran dari material yang mudah terbakar di sekeliling
tempat las.

b) Penanganan Tabung Gas

i) Tabung gas tidak boleh digelindingkan di permukaan tanah atau


ditangani dengan kasar. Jika memungkinkan, gunakan troli
dengan mengikat tabung dengan rantai.
ii) Tabung gas tidak boleh ditempatkan berdiri bebas sendiri untuk
mencegah jatuhnya tabung.
iii) Tabung gas harus diberi waktu beberapa saat ketika
diposisikan berdiri sebelum digunakan.
iv) Tabung gas dan katup manifold harus ditutup ketika tidak
digunakansesuai prosedur.

c) Penyimpanan Tabung dan Aksesorinya

12
12
i) Seluruh selang dan aksesoris pemotong harus dilepas ketika
pekerjaan selesai dan disimpan jauh dari tabung.
ii) Tabung harus disimpan dalam posisi jauh dari bahan mudah
terbakar dan sumber api.
iii) Penyimpanan tabung kosong harus terpisah dari tabung gas
yang diisi penuh.

iv) Dalam penyimpanan, oksigen harus dipisahkan dari gas bahan


bakar dan bahan yang mudah terbakar dan cairan setidaknya 7
meter atau memiliki penghalang tidak mudah terbakar
(noncombustible) setinggi lima kaki.
v) Alat pemadam api tidak boleh lebih dekat dari 8 meter, tetapi
tidak lebih dari 50 meter, dari tempat penyimpanan gas bahan
bakar.
vi) Silinder harus dijauhkan dari sumber panas.

d) Peralatan

§ Hanya selang yang memenuhi standar yang dapat digunakan.


Selang harus diperiksa setiap hari untuk memeriksa potensi
kerusakan.
§ Selang yang digunakan harus sependek mungkin. Jika selang
harus disambung akibat adanya bagian yang rusak, gunakan
hose coupler dan hosecls.
§ Jika terjadi kebocoran dan tidak bisa dihentikan, tabung harus
dipindahkan ke tempat aman dan dalam udara terbuka dan
segera kontak suppliernya.

§ Selang oksigen harus memiliki warna yang berbeda dari selang


untuk saluran gas bahan bakar (oksigen - hijau; bahan bakar -
merah).
§ Pastikan penahan flashback dipasang pada kedua regulator
(saluran oksigen dan saluran bahan bakar) atau di garis
inlettorch.

e) Peralatan Pemadam Kebakaran dan Alat Pelindung

i) Bahan mudah terbakar harus dipindahkan dari daerah kerja dan


alat pemadam yang memadai harus disediakan oleh Penyedia
Jasa.

12
13
ii) Tenaga kerja harus menggunakan pelindung mata dan pakaian
pelindung untuk melindungi dari api, sarung tangan kulit lengan
panjang, helm, serta perlengkapan pelindung lainnya.

1.1.7. Penggunaan Alat-Alat Bermesin


1) Umum

Seluruh alat-alat bermesin harus dilengkapi dengan manual penggunaan


dan keselamatan yang salinannya dapat diakses secara mudah oleh
operator atau pengawas lapangan.

2) Alat Pemaku dan Stapler Otomatis dan Portabel

Jika Penyedia Jasa menggunakan pemaku dan stapler otomatis dan


portabel, maka ketentuan keselamatan di bawah ini harus dipenuhi:

a) Alat tidak boleh diarahkan pada orang, walaupun alat tersebut


memilikipengaman.
b) Pemicu pada alat pemaku dan stapler tidak boleh ditekan kecuali
ujungalat diarahkan pada suatu permukaan benda yang aman.

c) Perhatian khusus harus diberikan jika memaku di daerah tepi suatu


benda.
d) Jika sumber tenaga alat pemaku dan stapler otomatis menggunakan
tenaga pneumatik, tidak diperkenankan menggunakan sumber gas
yangberbahaya dan mudah terbakar.
e) Alat yang rusak tidak boleh digunakan.

f) Pelindung pendengaran dan pelindung mata yang sesuai harus


digunakan saat menggunakan alat tersebut.

3) Alat Portabel Bermesin (Portable Power Tools)

a) Gergaji mesin, mesin pengaduk beton, alat pemotong beton dan alat
bermesin lainnya harus dilengkapi dengan alat pengaman sepanjang
waktu.
b) Penyedia Jasa harus memenuhi ketentuan keselamatan berikut:

i) Setiap operator harus telah dilatih untuk menggunakan alat-


alat tersebut di atas.
ii) Gunakan hanya alat dan metoda yang tepat untuk setiap
jenis pekerjaan yang dilakukan.
iii) Alat atau mesin yang rusak tidak boleh digunakan.

12
14
iv) Alat pemotong haras terjaga ketajamannya.

v) Pelindung pendengaran dan pelindung mata yang sesuai


harus digunakan saat menggunakan alat tersebut.
vi) Daerah di sekitar alat atau mesin haras bersih.

vii) Kabel penyambung (extension) haras ditempatkan


sedemikian rupaagar terhindar dari kerusakan dari peralatan
dan material.
viii) Penerangan tambahan harus diberikan ketika menggunakan
alatatau mesin tersebut.

4) Alat Kerekan (Hoist) Pengangkat Material dan Orang

a) Alat pengangkat material dan orang harus didirikan oleh orang


yangberkompeten.
b) Operator harus orang yang terlatih dan diberikan izin khusus untuk
menjalankan alat.
c) Alat pengangkat harus berada di atas fondasi yang kokoh dan
diikatpada bangunan atau struktur.

d) Akses untuk operator dan personil yang melakukan pemeliharaan


harus aman.
e) Keranjang alat pengangkat mempunyai ketinggian minimum 2 m,
dengan sisi dan pintu tertutup penuh (solid) atau ditutup dengan ram
kawat dengan diameter kawat minimum 3 mm dan dengan bukaan
maksimum 9 mm. Keranjang alat pengangkat harus ditutup dengan
atap sekurang-kurangnya dari papan kayu atau plywood dengan
tebal minimal 18 mm.
f) Tinggi pintu keranjang minimum 2 m dan mempunyai kunci yang
aman. Pintu solid harus mempunyai panel yang tembus pandang.

g) Jarak dari lantai keranjang ke permukaan tanah tidak boleh lebih dari
50 mm.
h) Keranjang alat pengangkat harus mempunyai mekanisme pengunci
elektro-mekanik yang hanya dapat dibuka dari keranjang dan hanya
dapat dibuka ketika keranjang berada di permukaan tanah serta
dapat mencegah alat pengangkat sedang aktif ketika keranjang
sedang dibuka.
i) Pengangkatan dikendalikan di dalam keranjang alat pengangkat.

j) Semua bagian dari metal harus dihubungkan ke bumi (earth).

12
15
k) Alat penyelamat harus ada untuk menghentikan keranjang
jika jatuhatau bergerak terlalu cepat.
l) Keterangan pabik pembuat, model dan kapasitas beban harus
ditempeldalam keranjang.
m) Harus tersedia suatu mekanisme untuk keadaan darurat dan untuk
mengeluarkan orang yang terjebak dalam keranjang.
n) Harus tersedia alarm darurat di dalam keranjang.

o) Jika memungkinkan, sediakan alat komunikasi antara operator dan


personil yang bekerja.

5) Crane dan Alat Pengangkat

a) Tidak dibenarkan melakukan pekerjaan pemindahan atau


pengangkatan barang/material dengan risiko gangguan fisik terhadap
tenaga kerja tanpa menggunakan alat pengangkat.

b) Pekerjaan pemindahan atau pengangkatan barang-barang/material


dengan perbedaan ketinggian lebih dari 5 m dan berat lebih dari 500
kg harus menggunakan crane, excavator atau forklift.
c) Pengoperasian pesawat angkat dan angkut dapat dibantu oleh
petugas pesawat angkat dan angkut yang mempunyai Lisensi K3 dan
buku kerja sesuai jenis dan kualifikasinya. Persyaratan kompetensi
petugas pengangkatan merujuk kepada Peraturan Menteri Tenaga
Kerja dan Transmigrasi No. 09/Men/VII/2010 tentang Operator dan
Petugas Pesawat Angkat dan Angkut;
d) Asisten operator harus dilatih untuk memberikan sinyal pada operator
dan untuk mengikatkan beban secara benar dan mengetahui
kapasitas pengangkatan crane.
e) Menaikan, menurunkan dan mengangkat muatan dengan pesawat
pengangkat harus diatur dengan sandi isyarat yang seragam dan
yang

benar-benar dimengerti.
f) Apabila lebih dari seorang tenaga kerja yang bekerja pada peralatan
angkat operator harus bekerja berdasarkan isyarat hanya dari satu
orang yang ditunjuk;
g) Sebelum dilakukan pengangkatan, beban yang telah ditentukan oleh
operator yang dapat diangkat.
h) Tali serat sebelum dipakai harus diperiksa dan selama dalam
pemakaian untuk mengangkat tali harus diperiksa sesering mungkin
dansekurang-kurangnya 3 bulan;

12
16
i) Tali baja harus diperiksa pada waktu pemasangan pertama dan
setiap hari oleh operator serta sekurang-kurangnya satu kali dalam
seminggu oleh tenaga yang berkeahlian khusus Pesawat Angkat dan
Angkut dari Perusahaan;
j) Tali baja dilarang digunakan jika terdapat kawat yang putus, aus atau
karat sesuai dengan ketentuan
k) Crane harus berdiri/berpijak di atas landasan yang kokoh.

l) Persyaratan pemakaian dan kelaikan peralatan kerja pengangkatan


merujuk kepada Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi
No. PER.05/MEN/1985 atau perubahannya (jika ada) tentang
Pesawat Angkat Angkut, serta peraturan terkait lainnya.

m) Semua crane harus dilengkapi dengan perlengkapan keselamatan


yang secara otomatis dapat memberi tanda peringatan yang j elas,
apabila kapasitas angkatnya melaui yang diizinkan.
n) Crane harus diperiksa setiap minggu, dan diperiksa secara
menyeluruh setiap 12 bulan oleh orang yang berkompeten. Hasil
inspeksi harus dicatat.
o) Gigi pengangkat harus dalam kondisi baik dan telah diperiksa secara
menyeluruh.
p) Alat kendali (tuas, saklar, dan sebagainya) harus diberi keterangan
yangjelas.
q) Harus disediakan ruang yang cukup untuk pelaksanaan
pengangkatan yang aman.
r) Setiap jib crane dengan kapasitas lebih dari 1 ton harus mempunyai
indikator beban aman (safe load indicator) yang diperiksa setiap
minggu.
s) Kait (hook) harus dilengkapi dengan kunci pengaman (latch).

12
17
1.9.1 PENETAPAN RESIKO KESELAMATAN KERJA KONSTRUKSI

No Uraian Pekerjaan Identifikasi Bahaya Bobot


Persiapan
1 Terluka, tertimpa material 4
(Alat/Tenaga Kerja)
Uitzet Pengukuran Tertusuk benda/tanaman berduri,
2 5
dan Pematokan Terpeleset/terkena serangan binatang
Terluka dan terperosok pada saat
3 15
Pekerjaan Galian penggalian terkena cangkul/ pacul/ linggis/
Tanah sekop, tertabrak bucket excavator
Gangguan Kesehatan/iritasi 7
Pekerjaan Terluka dan terjatuh pada saat pemasangan 15
4. Pemasangan Baja, terkena percikan las, tertimpa baja
Konstruksi Baja Gangguan Kesehatan/iritasi 10
5. Terluka, tertimpa besi / alat, tersayat benda 12
saat begisting.
Pekerjaan Beton Terpeleset dan terjatuh dan tertimpa besi/ 10
tersayat kawat tulangan
Gangguan pernafasan dan kesehatan 7
Terluka karena alat pada saat pengurugan
6. 8
Pekerjaan Urugan (cangkul/ pacul/ linggis/ sekop, tertabrak
Tanah bucket excavator)
Gangguan kulit/nafas 7

Berdasarkan tabel tersebut diatas, penetapan uraian pekerjaan dan identifikasi bahaya
pekerjaan dengan bahaya yang tingkat risiko terbesar adalah sebagai berikut :
No Uraian Pekerjaan Identifikasi Bahaya
1. Pekerjaan Terluka dan terjatuh pada saat pemasangan Baja,
Pemasangan terkena percikan las, tertimpa baja
Konstruksi Baja Gangguan Kesehatan/iritasi

12
18

Anda mungkin juga menyukai