JENIS LAYANAN dan KEGIATAN PENDUKUNG
dalam BIMBINGAN dan KONSELING
Dosen Pengampu :
DR. ASNITI KARNI, [Link]., Kons
Disusun Oleh :
1. Aizalia Gantina Putri
2. Meifira Raudatul Jannah
3. Sasta Wulandari
PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAM
FAKULTAS USHULUDDIN ADAB DAN DAKWAH
UIN FATMAWATI SOEKARNO BENGKULU
2025
BAB I
PENDAHULUAN
Pendidikan tidak hanya berfungsi untuk mengembangkan aspek kognitif, tetapi juga mencakup
pembinaan sikap, kepribadian, serta keterampilan sosial peserta didik. Dalam proses tersebut,
bimbingan dan konseling memiliki peranan penting sebagai salah satu layanan pendidikan yang
bertujuan membantu individu dalam memahami diri, mengatasi permasalahan, serta mencapai
perkembangan yang optimal sesuai potensi yang dimiliki.
Bimbingan dan konseling tidak hanya sebatas memberikan arahan ketika peserta didik
menghadapi kesulitan, melainkan juga mencakup berbagai jenis layanan yang bersifat preventif,
kuratif, maupun pengembangan. Untuk mendukung keberhasilan layanan tersebut, terdapat pula
kegiatan pendukung yang dirancang agar pelaksanaan bimbingan dan konseling berjalan lebih
efektif, terarah, dan menyentuh kebutuhan nyata peserta didik.
Dengan memahami jenis layanan dan kegiatan pendukung dalam bimbingan dan konseling,
pendidik maupun konselor dapat memberikan bantuan yang lebih komprehensif. Hal ini penting
agar peserta didik mampu berkembang secara utuh, baik dalam aspek pribadi, sosial, belajar,
maupun karier. Oleh karena itu, pembahasan dalam makalah ini difokuskan pada uraian mengenai
berbagai jenis layanan bimbingan dan konseling serta kegiatan pendukung yang menyertainya.
BAB II
MATERI
Jenis Layanan dalam Bimbingan dan Konseling
1. Layanan Orientasi
Layanan untuk membantu siswa mengenal lingkungan baru (sekolah, kelas, aturan, program)
agar mudah beradaptasi.
Contoh: Kegiatan MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah) bagi siswa baru.
2. Layanan Informasi
Pengertian: Layanan untuk memberikan informasi yang dibutuhkan siswa tentang pendidikan,
karier, maupun sosial pribadi, guna membantu pengambilan keputusan.
Contoh: Penyuluhan tentang prospek jurusan kuliah dan lapangan pekerjaan.
3. Layanan Penempatan dan Penyaluran
Layanan untuk membantu siswa menempati kelas, jurusan, atau kegiatan sesuai dengan
potensi, bakat, minat, dan kemampuannya.
Contoh: Menempatkan siswa kelas XI sesuai pilihan jurusan (IPA/IPS) berdasarkan tes minat
bakat.
4. Layanan Penguasaan Konten (Pembelajaran)
Layanan untuk membantu siswa menguasai keterampilan, pengetahuan, dan sikap tertentu
yang bermanfaat dalam belajar maupun kehidupan.
Contoh: Pelatihan strategi belajar efektif menjelang ujian.
5. Layanan Konseling Perorangan
Layanan konseling tatap muka secara langsung antara konselor dengan siswa untuk
membahas masalah pribadi.
Contoh: Konseling dengan siswa yang mengalami stres karena tekanan belajar.
6. Layanan Bimbingan Kelompok
Layanan yang dilakukan dalam bentuk kegiatan kelompok, dipandu konselor, untuk
membahas topik tertentu yang bermanfaat bagi perkembangan siswa. Fokusnya adalah
pencegahan dan pengembangan wawasan, bukan pemecahan masalah pribadi.
Contoh: Diskusi kelompok tentang cara belajar efektif atau bahaya merokok.
7. Layanan Konseling Kelompok
Layanan konseling dalam kelompok kecil (4–10 siswa), di mana setiap anggota saling berbagi
masalah, memberi dukungan, dan menemukan solusi bersama dengan bantuan konselor.
Tujuannya adalah pemecahan masalah pribadi melalui dinamika kelompok.
Contoh: Konseling kelompok bagi siswa yang kurang percaya diri atau sulit beradaptasi.
8. Layanan Mediasi
Layanan yang menjadikan konselor sebagai pihak netral (mediator) untuk membantu
menyelesaikan konflik antar siswa atau antara siswa dengan guru. Tujuannya mencapai
kesepakatan damai.
Contoh: Guru BK menengahi konflik antar siswa yang bertengkar karena salah paham.
9. Layanan Konsultasi
Layanan di mana konselor memberikan bantuan profesional kepada guru, orang tua, atau
pihak sekolah lainnya dalam menangani masalah siswa. Fokusnya adalah kerja sama demi
mendukung perkembangan siswa.
Contoh: Konselor berdiskusi dengan wali kelas tentang cara menangani siswa yang sering
melanggar tata tertib.
10. Layanan Advokasi
Layanan yang berfungsi membela, melindungi, dan memperjuangkan hak-hak siswa agar tidak
dirugikan atau didiskriminasi, serta memperoleh layanan pendidikan yang adil.
Contoh: Guru BK memperjuangkan siswa miskin agar tetap bisa ikut kegiatan sekolah tanpa
biaya tambahan.
Kegiatan Pendukung dalam Bimbingan dan Konseling
Kegiatan pendukung Bimbingan Konseling (BK) adalah kegiatan yang dilakukan untuk
mendukung pelaksanaan layanan BK dan membantu tercapainya tujuan bimbingan. Kegiatan ini
meliputi aplikasi instrumentasi, himpunan data, kunjungan rumah, konferensi kasus, tampilan
kepustakaan, dan alih tangan kasus. Contohnya, aplikasi instrumen seperti tes psikologi digunakan
untuk mengumpulkan data kepribadian siswa, sementara himpunan data yang berkelanjutan
memastikan konselor memiliki informasi yang relevan untuk membantu siswa.
1. Aplikasi Instrumentasi
Penjelasan: Penerapan berbagai instrumen untuk mengumpulkan data dan informasi
tentang pribadi peserta didik dan masalah yang dihadapinya.
Contoh: Penggunaan tes psikologi, kuesioner, angket, atau skala minat untuk mendapatkan
gambaran mendalam tentang diri siswa.
2. Himpunan Data
Penjelasan: Proses mengumpulkan, mengelola, dan memelihara data dan keterangan yang
relevan mengenai peserta didik secara berkelanjutan dan sistematis.
Contoh: Membuat dan memelihara file data pribadi siswa secara rahasia, yang berisi
informasi dari berbagai instrumen yang telah diaplikasikan.
3. Kunjungan Rumah (Home Visit)
Penjelasan: Upaya untuk memperoleh data, kemudahan, dan dukungan dari keluarga siswa
dengan mengunjungi rumah mereka untuk mendeteksi kondisi keluarga yang berkaitan
dengan permasalahan siswa.
Contoh: Konselor berkunjung ke rumah siswa yang sering bolos untuk memahami latar
belakang keluarganya dan mencari solusi bersama.
4. Konferensi Kasus
Penjelasan: Rapat atau pertemuan terbatas yang melibatkan beberapa pihak (misalnya guru,
orang tua, wali kelas) untuk membahas permasalahan siswa dan mencari solusi terbaik.
Contoh: Guru BK mengadakan pertemuan dengan orang tua dan guru mata pelajaran untuk
membahas masalah belajar siswa yang mengalami kesulitan.
5. Tampilan Kepustakaan
Penjelasan: Penyediaan berbagai materi atau bahan pustaka yang relevan dengan topik
bahasan atau permasalahan peserta didik untuk mendukung kegiatan bimbingan.
Contoh: Konselor menyediakan buku, artikel, atau sumber informasi lain tentang
manajemen waktu, pemahaman karir, atau pencegahan narkoba di ruang BK.
6. Alih Tangan Kasus
Penjelasan: Memindahkan penanganan kasus atau masalah peserta didik kepada pihak lain
yang memiliki keahlian atau kewenangan lebih, jika masalah tersebut berada di luar ruang
lingkup tugas dan kewenangan konselor.
Contoh: Jika seorang siswa memiliki masalah kesehatan mental yang serius, konselor dapat
mengalih tangankan kasusnya kepada psikolog atau psikiater untuk mendapatkan
penanganan profesional.
BAB III
KESIMPULAN
Bimbingan dan konseling merupakan bagian integral dari pendidikan yang tidak hanya berfokus
pada aspek akademik, tetapi juga mencakup pembinaan sikap, kepribadian, dan keterampilan
sosial peserta didik. Melalui berbagai jenis layanan seperti orientasi, informasi, penempatan dan
penyaluran, penguasaan konten, konseling perorangan, bimbingan kelompok, konseling kelompok,
mediasi, konsultasi, hingga advokasi, bimbingan dan konseling berperan membantu siswa dalam
memahami diri, mengatasi masalah, serta mengembangkan potensi yang dimilikinya.
Agar pelaksanaan layanan tersebut berjalan efektif, diperlukan pula kegiatan pendukung, antara
lain aplikasi instrumentasi, himpunan data, kunjungan rumah, konferensi kasus, tampilan
kepustakaan, dan alih tangan kasus. Kegiatan pendukung ini membantu konselor memperoleh
informasi yang lebih lengkap, bekerja sama dengan berbagai pihak, serta memberikan solusi yang
lebih tepat sesuai kebutuhan siswa.
Dengan adanya sinergi antara layanan bimbingan konseling dan kegiatan pendukungnya,
diharapkan peserta didik dapat berkembang secara optimal dalam aspek pribadi, sosial, belajar,
maupun karier. Hal ini sejalan dengan tujuan pendidikan, yaitu membentuk generasi yang tidak
hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional, sosial, dan moral.
DAFTAR PUSTAKA
1. Prayitno. (2009). Layanan Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Rineka Cipta.
2. Nursalim, M. (2002). Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Surabaya: Unesa
University Press.
3. Prayitno (2004). Layanan Bimbingan Kelompok dan Konseling Kelompok. Jakarta:
Rineka Cipta.
4. Prayitno & Amti, E. (2013). Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Rineka
Cipta.
5. Yusuf, Syamsu (2017). Bimbingan dan Konseling: Teori dan Praktik di Sekolah.
Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
6. Tohirin (2011). Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah. Jakarta: Raja
Grafindo Persada.
7. Prayitno (2012). Layanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah. Padang: UNP Press.
8. Prayitno (2004), kegiatan pendukung BK meliputi pengelolaan administrasi,
pengembangan kurikulum, dan evaluasi program [2].
9. Departemen Pendidikan Nasional (2007), kegiatan pendukung BK meliputi pengelolaan
informasi, pengembangan kompetensi konselor, dan pengelolaan sarana dan prasarana
[3].