0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan6 halaman

Penganiayaan Tajam: Laporan Kasus Forensik

Dokumen ini melaporkan kasus penganiayaan seorang pria berusia 25 tahun yang mengalami luka akibat benda tajam, termasuk luka tusuk dan iris, setelah terlibat konflik dengan pacarnya dan pria lain. Penelitian ini menekankan pentingnya forensik klinik dalam menentukan kategori luka untuk keperluan hukum dan penegakan keadilan. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa luka yang dialami korban memerlukan perawatan medis dan dapat digunakan sebagai bukti dalam proses hukum.

Diunggah oleh

nadiya123faradisa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan6 halaman

Penganiayaan Tajam: Laporan Kasus Forensik

Dokumen ini melaporkan kasus penganiayaan seorang pria berusia 25 tahun yang mengalami luka akibat benda tajam, termasuk luka tusuk dan iris, setelah terlibat konflik dengan pacarnya dan pria lain. Penelitian ini menekankan pentingnya forensik klinik dalam menentukan kategori luka untuk keperluan hukum dan penegakan keadilan. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa luka yang dialami korban memerlukan perawatan medis dan dapat digunakan sebagai bukti dalam proses hukum.

Diunggah oleh

nadiya123faradisa
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Laporan Kasus: Penganiayaan Akibat Benda Tajam

Muh. Syahrir Ramadhan1*, Mauluddin2, Denny Mathius2, S. Zulfikar Assegaf2


1 Mahasiswa Profesi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan,
Universitas Muhammadiyah Makassar
2 Dosen Departemen Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan,

Universitas Muhammadiyah Makassar


Corresponding Author’s e-mail : syahrirramadhann99@[Link]*

Abstract : Background: In line with the times, legal


problems that arise in society are increasingly diverse
and increasingly complex, one of which is cases of
violence. Acts of violence against victims of abuse can
occur in various other forms of violence/trauma, either
e-ISSN: 2964-2981 together or individually. A victim of abuse has the right
to get justice by making VeR as one of the valid evidence
ARMADA : Jurnal Penelitian Multidisiplin in court, this is in accordance with article 184
paragraph 1 of the Criminal Procedure Code. In the VeR,
[Link] there will be a description of the findings of an expert
Vol. 2, No. 5 May 2024
who will determine the level of the category of the
impact of abuse experienced by patients, in this case the
Page: 308-313 qualification of injuries consisting of 3 types, namely:
minor injuries, moderate injuries, and severe injuries. So
that the results of the qualification of this wound will
DOI:
determine the trial that will be accepted by the
perpetrator of abuse.
[Link] Case Description: A 25-year-old male with initials ATR
was taken to the Emergency Department of Labuang Baji
Regional General Hospital on March 29, 2024 in a
Article History: conscious state after being assaulted on both shoulders of
the victim. The victim revealed that this incident was
Received: April, 12 2024 preceded by an alleged affair committed by the victim's
Revised: May, 11 2024 boyfriend. The results of the physical examination
showed that there was one sharp wound in the right
Accepted: May, 13 2024 back area, one stab wound in the left back area, one iris
wound in the right elbow area due to sharp trauma.
Conclusion: a sharp wound to the patient's right back
area and one stab wound to the left back and an iris
wound to the right elbow area caused by sharp trauma.
In the world of forensics, sharp wounds, stab wounds
and cuts suffered by a person can indicate violence or
abuse on the victim, which requires further investigation
to uncover the cause of the incident. In the process of
proving cases of criminal abuse, the category of injuries
suffered by victims is described in article 352, article
351 paragraph 1, article 353 paragraph 1 and article 90
in the Criminal Code. In this case, the patient's injuries
create obstacles to carry out activities for a while because
the victim requires medical care and action.
Keywords : Assault, Forensic Examination, Iris Wound,
Stab Wound, Trauma, Visum Et Repertum.

Abstrak : Latar Belakang: Sejalan dengan perkembangan


zaman, permasalahan hukum yang timbul dimasyarakat
semakin beragam dan semakin kompleks, salah satunya
adalah kasus kekerasan. Tindakan kekerasan terhadap

| 308
Ramadhan et al. 10.55681/armada.v2i5.1302

korban penganiyaan dapat terjadi dalam berbagai


bentuk kekerasan/trauma yang lain, baik secara
bersama-sama maupun sendiri-sendiri. Seorang korban
tindak penganiyaan berhak mendapatkan keadilan
dengan menjadikan VeR sebagai salah satu alat bukti
yang sah dalam peradilan, hal ini sesuai dengan yang
tercantum dalam pasal 184 ayat 1 KUHAP. Dalam VeR
akan tercantum keterangan temuan seorang ahli yang
akan menentukan tingkatan kategori dampak
penganiyaan yang dialami pasien dalam hal ini
kualifikasi luka yang terdiri dari 3 jenis yakni: luka
ringan, luka sedang, dan luka berat. Sehingga hasil dari
kualifikasi luka ini akan menetukan peradilan yang akan
diterima oleh pelaku penganiyaan.
Deskripsi Kasus: Seorang laki-laki berusia 25 tahun
dengan inisial ATR dibawa ke Instalasi Gawat Darurat
Rumah Sakit Umum Daerah Labuang Baji pada tanggal
29 Maret 2024 dalam keadaan sadar setelah mengalami
penyerangan pada kedua bahu korban. Korban
mengungkapkan bahwa kejadian ini diawali oleh
dugaan perselingkuhan yang dilakukan oleh pacar
korban. Hasil pemeriksaan fisik menunjukkan terdapat
satu buah luka tajam di daerah punggung kanan, satu
buah luka tusuk di daerah punggung kiri, satu buah luka
iris didaerah siku kanan karena diakibatkan trauma
tajam.
Kesimpulan: luka tajam pada daerah punggung kanan
pasien dan satu buah luka tusuk pada punggung kiri
serta sebuah luka iris didaerah siku sebelah kanan yang
diakibatkan oleh trauma tajam. Dalam dunia forensik,
luka tajam, luka tusuk dan luka iris yang dialami
seseorang dapat menunjukkan tindak kekerasan atau
penganiyaan pada korban, yang memerlukan
penganganan investigasi lebih lanjut guna mengungkap
penyebab kejadiannya. Dalam proses pembuktian kasus
tindak pidana penganiyaan kategori luka yang dialami
korban dijelaskan dalam pasal 352, pasal 351 ayat 1,
pasal 353 ayat 1 dan pasal 90 dalam Kitab Undang –
Undang Hukum Pidana. Dalam hal ini luka yang dialami
pasien menimbulkan halangan untuk melakukan
aktivitas untuk sementara waktu karena korban
memerlukan perawatan dan tindakan medis.

Kata Kunci : Luka Iris, Luka Tusuk, Pemeriksaan


Forensik, Penyerangan, Trauma, Visum et Repertum.

PENDAHULUAN
Forensik klinik merupakan suatu cabang ilmu kedokteran forensik yang berfokus pada
penegakan keadilan pada kasus pasien yang masih hidup. Tujuan dari forensik klinik adalah
untuk memenuhi kebutuhan medikolegal, medis, psikososial pasien, serta mendapattkan alat
bukti berupa surat keterangan atau yang dikenal dengan visum et repertum. Forensik klinik
mencakup pada berbagai kasus berupa kekerasan, pemerkosaan, pencabulan, kecelakaan lalu
lintas. Kekerasan disini secara lebih rinci juga mencakup pada kekerasan-kekerasan khusus yakni
Kekerasan Dalam Rumah Tangga, kekerasan pada anak (Hardani, 2024).
Luka dapat diartikan sebagai hasil dari kekerasan fisik, yang merusak kontinuitas jaringan
tubuh. Luka yang didapatkan seseorang dalam aspek medikolegal bisa berasal dari akibat

Laporan Kasus: Penganiayaan Akibat Benda Tajam … | 309


Ramadhan et al. 10.55681/armada.v2i5.1302

kecelekaan, penganiyaan atau perbuatan sendiri (Petrus, 2021). Dalam ilmu kedokteran forensik,
luka adalah hasil dari kekerasan fisik, yang merusak kontinuitas jaringan tubuh. Trauma
dijelaskan sebagai luka pada tubuh yang disebabkan oleh kekerasan fisik, mekanik atau kimiawi,
yang dapat menyebabkan luka atau kemungkinan komplikasi. Secara medis, kekerasan mengacu
kepada perilaku yang mengakibatkan cedera atau cedera itu sendiri. Kekerasan ini bisa berakibat
secara psikologis maupun secara fisik (Putri, 2023).
Mekanisme cedera mengacu pada berbagai kekuatan yang umumnya terkait dengan
trauma (misalnya proyektil, kekerasan tajam, kekerasan tumpul, trauma termal serta trauma
multipel). Identifikasi luka mengenai mekanisme cedera tergantung pada pola luka dan juga
kontribusi baik faktor intrinsik dan ekstrinsik dari mekanisme perlukaan. Dalam ilmu kedokteran
forensik dikenal trauma tumpul dan trauma tajam. Trauma tumpul ialah suatu ruda paksa yang
mengakibatkan luka pada permukaan tubuh oleh benda-benda tumpul. Hal ini disebabkan oleh
benda-benda yang mempunyai permukaan tumpul, seperti batu, kayu, martil, terkena bola, dan
lain-lain. Sedangkan trauma tajam ialah suatu ruda paksa yang mengakibatkan luka pada
permukaan tubuh oleh benda-benda tajam. Trauma tajam dikenal dalam tiga bentuk pula yaitu
luka iris atau luka sayat (vulmus scissum), luka tusuk (vulmus punctum) atau luka bacok
(vulmus caesum) (Surya, 2019).

METODE PENELITIAN
Penelitian ini berupa laporan kasus yaitu dimana seorang laki-laki dengan inisial ATR
berusia dua puluh lima tahun dibawa ke Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Umum Daerah
Labuang Baji pada tanggal dua puluh sembilan bulan Maret tahun dua ribu dua puluh empat,
pada pukul sembilan belas lewat lima puluh menit Waktu Indonesia Bagian Tengah. Korban
dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah Labuang Baji dalam keadaan sadar.
Menurut keterangan korban, pada malam kejadian korban mengunjungi pacarnya untuk
memberikan beras dan sembako lainnya. Namun, pada saat berkunjung korban mendapati
pacarnya sedang bersama pria lain, maka terjadilah perdebatan antara korban, pacarnya dan
pria yang didapati sedang bersama pacarnya namun dari keterangan korban ia tidak melakukan
kekerasan secara fisik namun hanya memarahi keduanya.
Berbeda halnya dengan keterangan yang disampaikan pelaku bahwa korban sempat
menendang pelaku sehingga pelaku merasa takut dilukai lebih dulu oleh korban. Sehingga
pelaku mengambil pisau dan menusuk bahu kanan korban sebanyak satu kali kemudian pada
saat korban ingin berlari keluar pelaku kemudian menusuk kembali bahu kiri korban. Namun,
pada saat inigin menarik pisau yang digunakan ternyata pisau tersebut hanya tertarik setengah
yakni hanya bagian gagang pisau yang terlepas hingga mengakibatkan separuh bagian pisau
tersebut tertancap pada bahu kiri korban. Kemudian korban dilarikan ke IGD RSUD Labuang Baji
oleh warga dan pihak kepolisian.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan pasien dalam keadaan kesadaran penuh dengan
Glasgow Coma Scale: Lima Belas (E4V5M6). Pada pemeriksaan luka ditemukan dengan deskripsi:
• Tampak luka terbuka pertama di daerah punggung kanan dengan ukuran panjang 1 cm x
lebar 0,4 cm berbentuk celah menganga, tepi luka rata, dasar sulit dinilai, salah satu sudut
luka tajam dan satu sudut luka tumpul., tidak ada jembatan jaringan, sekitar luka bersih,
tidak ada memar, perdarahan aktif tidak ada, daerah sekitar tidak ada kelainan.
• Tampak luka tusuk di daerah punggung kiri dengan panjang 0,9 cm dan lebar 0,3 cm
tampak tertancap pisau disertai perdarahan, daerah sekitar tidak ada kelainan.
• Tampak luka terbuka di daerah siku kanan panjang 1 cm dan lebar 0,2 cm pinggiran luka
rata, tampak darah mengering sekitar luka, tidak ada perdarahan aktif, sekitar luka tidak
terdapat kelainan.
• Dari hasil pemeriksaan penunjang berupa foto thorax dengan posisi anterior-posterior dan
lateral. Maka, didapatkan kesan cor dan pulmo dalam keadaan normal, tampak corpus
alenium metal (pisau) ada hemitoraks sinistra menembus dinding posterior thorax.

Laporan Kasus: Penganiayaan Akibat Benda Tajam … | 310


Ramadhan et al. 10.55681/armada.v2i5.1302

Gambar 1 Dokumentasi Korban Gambar 2 Dokumentasi Pisau yang digunakan

Gambar3 Gambar Luka Pasien

Gambar 4 Dokumentasi Hasil X-Ray Thorax AP/Lateral

HASIL DAN PEMBAHASAN


Ilmu kedokteran forensik mempelajari hal ikhwal manusia atau organ manuisa atau bagian
dari manusia dengan kaitannya peristiwa kejahatan. Ilmu kedokteran forensik juga dikenal
sebagai penerapan atau pemanfaatan ilmu kedokteran untuk kepentingan penegakan hukum dan
pengadilan, sehingga dalam kasus forensik, penyebab kematian bisa di identifikasi dengan cara
pemeriksaan medik yang bertujuan untuk membantu penegakan hukum antara lain seperti
Laporan Kasus: Penganiayaan Akibat Benda Tajam … | 311
Ramadhan et al. 10.55681/armada.v2i5.1302

pembuatan Visum et Repertum. Dimana surat keterangan berupa visum et repertum dapat
dijadikan sebagai alat bukti yang sah sesuai yang tercantum dalam pasal 184 ayat 1 KUHAP
(Marissha, 2022). Traumatologi dalam ilmu kedokteran forensic selain untuk kepentingan
pengobatan yaitu penanganan untuk penyembuhan luka, juga untuk kepentingan penyelesaian
kasus hukum yang mana awal pemeriksaan oleh penyidik diduga ada unsure tindak pidana
(Petrus, 2021). Dalam praktik medicolegal, istilah 'luka' dan 'cedera' adalah sinonim, tetapi luka
ketat akan mencakup lesi, eksternal atau internal, yang disebabkan oleh kekerasan, dengan atau
tanpa pelanggaran kontinuitas kulit. Apakah cedera terjadi setelah penerapan energi, dalam
bentuk apa pun, tergantung pada fisik (derajat, luas, durasi dan arah gaya yang diterapkan) dan
faktor biologis (mobilitas bagian tubuh, antisipasi dan koordinasi dan sifat biomekanik jaringan)
(Putri, 2023). Ahli forensic akan menilai luka tersebut berupa kapan terjadinya, apakah luka
terjadi akibat perbuatan sendiri, perbuatan orang lain atau akibat kecelakaan, lalu menilai sejauh
mana luka tersebut berdampak terhadap kesehatan dan pekerjaan korban (Petrus, 2021).

Klasifikasi luka berdasarkan mekanik


Suatu trauma jika diklasifikasikan berdasarkan mekanik maka dapat dibedakan menjadi:
luka tumpul, luka tembak, dan luka tajam.
1. Trauma tumpul
Trauma tumpul adalah keadaan yang disebabkan adanya kekerasan mekanik dari benda
tumpul dengan permukaan yang tumpul/ keras/ kasar, seperti: batu, kayu, martil, kepalan
tangan, dll) terhadap jaringan tubuh sehingga terdapat adanya trauma. Selain disebabkan
karena suatu alat atau senjata yang dapat melukai seseorang yang tidak bergerak, trauma
tumpul juga dapat melukai seseorang yang bergerak ke arah objek, sehingga dapat terbentuk
suatu kombinasi, baik dari luka memar, luka lecet, luka robek, patah tulang ataupun luka
(Surya, 2019).
2. Trauma tajam
Trauma tajam ialah kelainan pada tubuh oleh karena persentuhan benda yang
permukaanya mampu mengiris sehingga kontinuitas jaringan hilang. Kekerasan tajam
merupakan kekerasan yang diakibatkan oleh benda – benda yang memiliki sifat benda tajam.
Benda tajam seperti pisau, pemecah es, kapak, pemotong dan bayonet menyebabkan luka
yang dapat dikenali oleh pemeriksa. Salah satu ciri dari luka akibat benda tajam yakni pada
lukanya tidak didapatkan adanya jembatan jaringan luka (wound tissue bridge) (MARISSHA,
2022).

Kualifikasi luka berdasarkan Undang-Undang.


Visum et Repertum berisi penjelasan luka, mulai dari tempat perlukaan, karakteristik luka
yang didapatkan korban, penyebab luka seberapa besar luka tersebut berdampak pada korban.
Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana kualifikasi luka umumnya hanya dibagi tiga yaitu:
a. Luka golongan C atau luka derajat pertama
Korban tindak pidana hanya memerlukan pemeriksaan atas kondisinya dan dari hasil
pemeriksaan kedokteran forensik tidak memerlukan perawatan lebih lanjut di rumah sakit.
Kesimpulan atas luka derajat pertama di dalam VR, dalam konteks hukum pidana
berhubungan dengan tindak pidana penganiayaan ringan sebagaimana ditentukan di dalam
pasal 352 KUHP (luka yang tidak berakibat penyakit atau halangan untuk menjalankan
pekerjaan jabatan atau pencaharian).
b. Luka golongan B atau luka derajat kedua,
Golongan luka yang memerlukan perawatan terhadap korban tindak pidana untuk
sementara waktu. Kesimpulan yang diberikan atas luka derajat kedua adalah luka yang
menyebabkan terhalangnya melakukan jabatan/pekerjaan/ aktivitas untuk sementara
waktu. Kesimpulan dalam VR dihubungkan dengan pasal 351 ayat (1) KUHP.
c. Luka golongan A atau luka derajat ketiga
Golongan luka yang mengakibatkan luka berat sehingga terhalang dalam menjalankan
jabatan/pekerjaan/aktivitas. Hal ini berhubungan dengan pasal 90 KUHP tentang luka berat.
Kualifikasi luka derajat ketiga dari hasil pemeriksaan kedokteran forensik, dikualifikasi

Laporan Kasus: Penganiayaan Akibat Benda Tajam … | 312


Ramadhan et al. 10.55681/armada.v2i5.1302

sebagai penganiayaan berat yang diatur di dalam Pasal 351 ayat (2) dan/atau Pasal 354 ayat
(1) (Ansar, 2020).

Penentuan berat atau ringannya luka di dalam kasus penganiayaan dihubungkan dengan
pekerjaan/jabatan seseorang— kondisi luka seseorang dengan pekerjaan, jabatan, atau profesi
tertentu, akan berpengaruh dan berkorelasi pula pada penentuan derajat atau kualifikasi luka
(Ansar, 2020).

KESIMPULAN
Berdasarkan deskripsi luka pada pemeriksaan forensik, didapatkan kedua luka pada
punggung kanan merupakan luka trauma tajam yang disertai luka iris pada siku bagian kanan,
serta luka yang didapatkan pada punggung kiri merupakan sebuah luka tusuk. Luka pada
punggung kanan memiliki bentuk celah yang menganga, dengan tepi luka rata, dasar luka sulit
dinilai, salah satu sudut luka tajam dan satu sudut luka tumpul, tidak didapatkan adanya
jembatan jaringan, sekitar luka bersih tidak ada memar, serta tidak disertai pendarahan aktif dan
kelainan pada daerah sekitar luka. Luka pada punggung kiri didapatkan luka tusuk dan tampak
tertancap pisau disertai perdarahan, daerah sekitar tidak ada kelainan. Padasiku kanan
didapatkan luka terbuka dengan pinggiran luka rata, tampak darah mengering sekitar luka, serta
tidak disertai pendarahan aktif dan kelainan pada daerah sekitar luka. Luka tusuk dan luka sayat
yang didapatkan korban ini dapat menjadi indikasi bahwa korban tersebut mengalami tindak
pidana penganiyaan.
Dalam proses penegakan kasus tindak pidana penganiyaan selain penentuan karakteristik
luka yang dialami maka perlu juga dilakukan pengkualifikasian luka berat atau ringannya luka
tersebut mengganggu aktivitas seseorang. Aktivitas yang dimaksud disini ialah aktivitas pekerjaan
yang dilakukan seseorang sehari-hari. Kualifikasi tersebut diatur dalam beberapa pasal dalm
Kitab Undang-undang Hukum Pidana dimana pada pasal-pasal tersebut luka akan
dikualifikasikan atau dibagi atas tiga tingkatan yakni: luka derajat pertama atau luka ringan yang
diatur dalam pasal 352 KUHP (luka yang tidak berakibat penyakit atau halangan untuk
menjalankan pekerjaan jabatan atau pencaharian). luka derajat kedua atau luka sedang adalah
luka yang menyebabkan terhalangnya melakukan jabatan/pekerjaan/ aktivitas untuk sementara
waktu. Kesimpulan dalam VR dihubungkan dengan pasal 351 ayat (1) KUHP. Luka derajat ketiga
atau luka derajat berat dari hasil pemeriksaan kedokteran forensik, golongan luka yang
mengakibatkan luka berat sehingga terhalang dalam menjalankan jabatan/pekerjaan/aktivitas.
Hal ini berhubungan dengan pasal 90 KUHP tentang luka berat.

DAFTAR PUSTAKA
Ansar, N., & Pengantar, I. (2020). Penggunaan Alat Bukti Forensik dalam Pembuktian Tindak
Pidana Penganiayaan.
Hardani, P., Kristanto, E., & Mallo, N. T. (2024). Gambaran Kasus Forensik Klinik di RSUP Prof.
Dr. RD Kandou Manado Tahun 2022. Medical Scope Journal, 6(1), 80-85.
Marissha, E. D. (2022). Gambaran Jenis Trauma Penyebab Kematian Di Bagian Forensik Rumah
Sakit Bhayangkara Medan 2021. Jurnal Kedokteran STM (Sains dan Teknologi Medik), 5(2),
164-173.
MARISSHA, E. D. (2022). INSIDENSI TINGKAT KEMATIAN AKIBAT TRAUMA BENDA TAJAM
DAN BENDA TUMPUL YANG DIPERIKSA DI BAGIAN FORENSIK RUMAH SAKIT
BHAYANGKARA MEDAN VeR 2021 (Doctoral dissertation, Fakultas Kedokteran, Universitas
Islam Sumatera Utara).
Petrus, A. (2021). Aspek Medikolegal Korban Luka Akibat Trauma Tumpul.
Putri, A. R., Mauluddin, M., Mathius, D., & Assegaf, S. Z. (2023). LAPORAN KASUS: LUKA
TUSUK AKIBAT ANAK PANAH. PREPOTIF: JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT,
7(3), 17025-17032.
Surya, T., & Priyanto, M. H. (2019). Peran Kedokteran Forensik Dalam Pengungkapan Kasus
Pembunuhan Satu Keluarga Di Banda Aceh. Jurnal Kedokteran Syiah Kuala, 19(1), 45–50.
Laporan Kasus: Penganiayaan Akibat Benda Tajam … | 313

Anda mungkin juga menyukai