0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
40 tayangan8 halaman

Hubungan Cita Rasa dan Variasi Menu dengan Sisa Makanan

Penelitian ini mengidentifikasi hubungan antara cita rasa dan variasi menu dengan sisa makanan pada pasien rawat inap di Rumah Sakit Universitas Brawijaya Malang. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan signifikan antara cita rasa (aroma, rasa, tekstur, suhu) dan variasi menu dengan sisa makanan, di mana pasien yang tidak puas cenderung menyisakan lebih banyak makanan. Temuan ini menekankan pentingnya perbaikan dalam cita rasa dan variasi menu untuk meningkatkan kepuasan pasien dan mengurangi sisa makanan.

Diunggah oleh

draft.skripsidea
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
40 tayangan8 halaman

Hubungan Cita Rasa dan Variasi Menu dengan Sisa Makanan

Penelitian ini mengidentifikasi hubungan antara cita rasa dan variasi menu dengan sisa makanan pada pasien rawat inap di Rumah Sakit Universitas Brawijaya Malang. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan signifikan antara cita rasa (aroma, rasa, tekstur, suhu) dan variasi menu dengan sisa makanan, di mana pasien yang tidak puas cenderung menyisakan lebih banyak makanan. Temuan ini menekankan pentingnya perbaikan dalam cita rasa dan variasi menu untuk meningkatkan kepuasan pasien dan mengurangi sisa makanan.

Diunggah oleh

draft.skripsidea
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Jurnal Kesehatan Perintis 11 (2) 2024: 128-135

Contents list available at JKP website

Jurnal Kesehatan Perintis


Journal homepage: [Link]

Cita Rasa Dan Variasi Menu dengan Sisa Makanan Biasa


pada Pasien Rawat Inap

Windi Widyanti*, Yosfi Rahmi

Program Studi Profesi Dietisien, Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Brawijaya,


Malang, Indonesia

Article Information :
Received 3 November 2024 ; Accepted 29 January 2025; Published 30 January 2025

*Corresponding author: windiwidyanti@[Link]

ABSTRAK
Pelayanan makanan di rumah sakit sangat penting untuk memenuhi kebutuhan gizi pasien.
Salah satu indikator untuk menilai kualitas pelayanan gizi adalah sisa makanan. Sisa
makanan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor diantaranya adalah cita rasa dan variasi
menu makanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan antara cita rasa dan
variasi menu dengan sisa makanan biasa pada pasien rawat inap di Rumah Sakit Universitas
Brawijaya Malang. Jenis penelitian ini adalah observasional analitik dengan desain studi
cross-sectional melibatkan data dari 80 responden yang diambil berdasarkan total sampling.
Data yang dikumpulkan meliputi sisa makanan yang diukur menggunakan metode taksiran
visual Comstock dan hasil dari kuesioner mengenai cita rasa dan variasi menu. Hasil analisis
menggunakan uji korelasi chi-square menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan
antara cita rasa—yang terdiri dari aroma, rasa, tekstur, dan suhu—dengan sisa makanan (p
= 0,000). Selain itu, variasi menu juga menunjukkan adanya hubungan signifikan dengan sisa
makanan pasien (p=0,001). Pasien yang menilai aroma, rasa, tekstur dan suhu tidak sesuai
cenderung memiliki sisa makanan banyak. Begitu pula dengan pasien yang menilai
kurangnya variasi menu. Temuan ini menekankan pentingnya perbaikan dalam cita rasa dan
variasi menu untuk mengurangi sisa makanan dan meningkatkan kepuasan pasien. Penelitian
ini diharapkan menjadi referensi bagi pengelola layanan makanan rumah sakit untuk
meningkatkan kualitas pelayanan gizi dalam mendukung proses pemulihan pasien.

Kata kunci : Cita rasa, variasi menu, sisa makanan

ABSTRACT
Hospital food services are essential for addressing the nutritional needs of patients. One of
the primary measures for assessing the quality of nutritional services is food waste. Food
waste can be influenced by various factors, including taste and menu variety. This study aims
to identify the relationship between taste and menu variety with regular food waste among
inpatients at Universitas Brawijaya Hospital, Malang. This observational analytic study utilized
a cross-sectional design, involving data from 80 respondents selected through total sampling.
Data collected included food waste measured using the Comstock visual estimation method

128
© Jurnal Kesehatan Perintis ISSN : 2622-4135. All rights reserved
Jurnal Kesehatan Perintis 11 (2) 2024: 128-135

and responses from a questionnaire on taste and menu variety. The results of the chi-square
correlation test revealed a significant relationship between taste—which includes aroma,
flavor, texture, and temperature—and food waste (p = 0.000). Additionally, menu variety also
showed a significant relationship with food waste (p = 0.001). Patients who rated the aroma,
flavor, texture, and temperature as unsatisfactory tended to leave more food. Similarly,
patients who perceived the menu variety as lacking were more likely to leave food uneaten.
These findings highlight the importance of improving taste and menu variety to reduce food
waste and enhance patient satisfaction. This study is expected to serve as a reference for
hospital food service managers to improve the quality of nutritional services in supporting
patient recovery.

Keywords: food taste, menu variety, food waste

PENDAHULUAN asupan zat gizi dapat mempengaruhi status


Proses layanan gizi dan gizi pasien menjadi kurang optimal,
penyelenggaraan makanan di rumah sakit sehingga dapat menghambat proses
meliputi berbagai aktivitas, mulai dari menu penyembuhan (Tanuwijaya et al., 2018).
yang direncanakan hingga disajikan dengan Menurut Wirasamadi et al. (2015)
tujuan untuk memenuhi kebutuhan gizi persentase sisa makanan pasien di rumah
pasien berdasarkan penyakit, status gizi, sakit berbagai wilayah di Indonesia
dan kondisi metabolisme tubuh. Proses bervariasi antara 17 – 67%. Hasil penelitian
tersebut meliputi berbagai kegiatan, mulai oleh Oktaviani et al. (2023) menyebutkan
dari penyusunan menu, pemesanan bahan bahwa variasi menu makanan dan cita rasa
makanan, pengolahan, hingga makanan berhubungan dengan sisa
pendistribusian menu yang disajikan kepada makanan lunak pada pasien rawat inap di
pasien dengan memanfaatkan sarana dan Rumah Sakit Teluk Kuantan. Perbedaan
metode yang memadai (Manuntun & penelitian tersebut dengan penelitian ini
Siregar, 2015). Pedoman PGRS (Pelayanan adalah metode yang digunakan berupa
Gizi Rumah Sakit) 2013 menyebutkan kuantitatif analitik dengan instrumen
bahwa kualitas pelayanan gizi dapat diukur pengukuran sisa makanan menggunakan
melalui sisa makanan, yang dianggap food weighing. Hasil penelitian tersebut
memenuhi standar pelayanan minimal sejalan dengan penelitian dari Anggraeni et
(SPM) jika tidak melebihi 20%. Daya terima al. (2017) yang menyebutkan ada hubungan
pasien yang merupakan salah satu indikator sisa makanan lunak pagi (p = 0,017 <0,05)
kualitas pelayanan makanan dapat diwakili dan sisa makanan lunak malam (p = 0,009 <
oleh persentase sisa makanan (Oktaviani et 0,05) dengan cita rasa makanan di Rumah
al., 2023). Sakit Pandeglang. Penelitian lainnya
Adanya sisa makan pasien di rumah menunjukkan adanya hubungan antara cita
sakit dipengaruhi oleh faktor eksternal dan rasa makanan dengan sisa makanan lunak
internal. Faktor internal berasal dari sudut (p<0,05) pada pasien rawat inap di Klinik
pandang pasien, seperti perubahan selera Utama Pradipa 2 Kabupaten Kuningan.
makan, perubahan pada indera perasa, Pada penelitian tersebut data primer
kondisi psikologis, kondisi fisik, pola dan diperoleh melalui wawancara kuesioner dan
kebiasaan makan, serta jenis kelamin. penimbangan sisa makanan pasien,
Faktor eksternal mencakup perlakuan kemudian dianalisis dengan uji Rank
petugas, ketidaksesuaian jadwal pemberian Spearman. Pasien yang menilai cita rasa
makan, suasana di rumah sakit, penampilan makanan baik cenderung menyisakan
hidangan (seperti warna, jumlah porsi, sedikit makanan, sementara pasien yang
tampilan dan cara penyajiannya), serta cita menilai cita rasa kurang baik meninggalkan
rasa hidangan yang disajikan (Rimporok et lebih banyak sisa makanan pada waktu
al., 2019). Pasien yang dirawat di rumah pagi, siang, dan sore (Sifa Cahya Kemala,
sakit berisiko kehilangan asupan zat gizi 2024).
saat menyisakan makanan dikarenakan Rumah Sakit Universitas Brawijaya
penurunan nafsu makan. Kekurangan Malang merupakan rumah sakit Perguruan

129
© Jurnal Kesehatan Perintis ISSN : 2622-4135. All rights reserved
Jurnal Kesehatan Perintis 11 (2) 2024: 128-135

Tinggi Negeri di Kota Malang dengan tipe C. makanan dan variasi menu, yang
Kegiatan penyelenggaraan makanan di terdokumentasi secara berkala yaitu pada
Rumah Sakit Universita Brawijaya Malang bulan April 2024 di Rumah Sakit Universitas
dilakukan berdasarkan Peraturan Menteri Malang.
Kesehatan No 78 Tahun 2013 tentang Data sisa makanan yang diperoleh
Pedoman Pelayanan Gizi Rumah Sakit. akan dikategorikan menjadi sisa makanan
Pedoman tersebut digunakan sebagai banyak jika melebihi 20% dan sisa makanan
panduan dalam pelayanan gizi dan sedikit jika kurang dari 20%. Variabel cita
makanan di rumah sakit. Pedoman lain rasa terdiri dari komponen aroma, rasa,
yang digunakan yaitu Undang-Undang tekstur, dan suhu memiliki kategori berbeda
Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan. sesuai dengan jenisnya. Aroma makanan
Tujuannya adalah memastikan pasien dibagi menjadi aroma sedap, kurang sedap
mendapatkan asupan gizi yang sesuai dan tidak sedap. Variabel rasa dikategorikan
dengan kebutuhan medis dan kondisi enak, kurang enak dan tidak enak,
kesehatan mereka (Kementrian Kesehatan sedangkan suhu dan tekstur makanan
RI, 2013). dikategorikan menjadi sesuai, kurang sesuai
Berdasarkan data observasi sisa dan tidak sesuai. Variasi menu makanan
makanan biasa di Rumah Sakit Universitas dikategorikan menjadi dua yaitu bervariasi
Brawijaya Malang pada periode bulan April dan kurang bervariasi. Data dianalisis
tahun 2024 pada data 80 responden menggunakan uji statistik nonparametrik
didapatkan persentase sisa makanan bivariate, yaitu uji chi-square untuk
sebanyak 24 % makanan pokok, 14 % lauk menggambarkan hubungan antara cita rasa
hewani, 18 % lauk nabati, dan 26 % pada dan variasi makanan dengan sisa makanan
sayur. Jika dirata-rata secara keseluruhan di Rumah Sakit Universitas Brawijaya Kota
maka didapatkan persentase sisa makanan Malang.
biasa sebesar 20,5 %. Jumlah ini melebihi
standar pelayanan minimal rumah sakit HASIL DAN PEMBAHASAN
menurut Kepmenkes Nomor Cita rasa makanan dinilai berdasarkan
129/Menkes/SK/II/2008, yaitu sebesar 20%. komponen penyusunnya, yaitu aroma, rasa,
Tingginya sisa makanan tersebut tekstur, dan suhu makanan. Hasil uji chi
disebabkan oleh faktor internal yaitu square pada komponen aroma, rasa,
subjektivitas rasa terhadap makanan. tekstur, suhu makanan dan variasi menu
Penyebab lainnya adalah responden kurang dikaitkan dengan sisa makanan pasien
menyukai cita rasa makanan terkait suhu dapat dilihat pada tabel 1.
penyajian dan variasi menu olahan. Tujuan Tabel 1 menunjukkan seluruh
penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi responden yang mencium aroma makanan
hubungan antara cita rasa dan variasi menu tidak sedap menyisakan makanan banyak
dengan sisa makanan biasa pada pasien yaitu sejumlah 4 orang (100%). Responden
rawat inap di Rumah Sakit Universitas yang mencium aroma makanan kurang
Brawijaya Malang. sedap dengan sisa makanan sedikit adalah
8 orang (53%) dan sisa makanan banyak
METODE PENELITIAN sejumlah 7 orang (46%), sedangkan
Desain penelitian ini menggunakan responden yang menyatakan aroma
pendekatan observasional analitik dengan makanan sedap dan memiliki sisa makanan
rancangan studi cross-sectional, yang sedikit adalah 55 orang (90,1%) dan
bertujuan untuk memahami korelasi antara menyisakan sisa makanan banyak sejumlah
berbagai faktor risiko dan dampaknya 6 orang (10,9%).
melalui pendekatan, observasi, atau Hasil uji statistik menggunakan chi-
pengumpulan data secara bersamaan pada square didapatkan nilai p value 0,000
waktu tertentu (Notoadmodjo, s, 2015). sehingga dapat dikatakan ada hubungan
Penelitian ini menggunakan data sekunder signifikan antara aroma makanan dengan
yang mencakup sisa makanan dan hasil sisa makanan pasien. Hubungan ini relevan
survei kepuasan konsumen dari 80 pasien. dengan penelitian Oktaviani et al. (2023)
Variabel yang dikaji meliputi cita rasa yang menyatakan aroma makanan sedap

130
© Jurnal Kesehatan Perintis ISSN : 2622-4135. All rights reserved
Jurnal Kesehatan Perintis 11 (2) 2024: 128-135

Tabel 1. Hubungan Cita Rasa Dan Variasi Menu Dengan Sisa Makanan
Sisa Makanan P Value
Variabel Total
Sedikit Banyak
f % f %
Aroma
Tidak sedap 0 0 4 100,0 4
Kurang sedap 8 53,0 7 46,0 15 0,000
Sedap 55 90,1 6 10,9 61
Rasa
Tidak enak 0 0 7 100,0 7
Kurang enak 12 60,0 8 40,0 20 0,000
Enak 51 96,0 2 3,8 53
Tekstur
Tidak sesuai 0 0 2 100,0 2
Kurang sesuai 6 40,0 9 60,0 15
Sesuai 57 90,4 6 9,5 63
Suhu 0,000
Tidak sesuai 1 12,5 7 87,5 8
Kurang sesuai 13 81,2 3 18,8 16
Sesuai 49 87,5 7 12,5 56
Variasi Menu
Kurang bervariasi 21 61,8 13 38,2 34
0,001
Bervariasi 42 91,3 4 8,7 46

maupun tidak sedap berpengaruh pada sisa Sedangkan responden yang menilai rasa
makanan. Pasien yang menganggap aroma makanan enak sebanyak 51 orang (96%)
makanan tidak sedap cenderung memiliki sisa makanan sedikit dan 2 orang
meninggalkan banyak sisa makanan. (3,8%) memiliki sisa makanan banyak. Hasil
Aroma makanan merupakan bau dari analisis chi-square dari data tersebut
bahan-bahan makanan, baik secara alami diperoleh nilai p 0,000 yang menandakan
maupun setelah dimasak, yang dapat hubungan bermakna antara rasa makanan
merangsang indera penciuman dan dan sisa makanan pasien.
mempengaruhi persepsi rasa, selera, serta Kualitas rasa makanan merupakan
nafsu makan seseorang (Oktaviani et al., faktor krusial yang mempengaruhi
2023). Suatu sajian yang memiliki aroma keputusan pasien untuk menghabiskan
sedap dapat menggugah dan makanan. Rasa makanan mempengaruhi
mempengaruhi selera makan (Rachmawati apakah makanan tersebut dianggap enak
& Afifah, 2021). Penelitian sebelumnya atau tidak enak. Banyak aspek yang dapat
menunjukkan bahwa ada hubungan berpengaruh pada rasa makanan yaitu
bermakna antara aroma dan sisa makanan bumbu, aroma, kematangan, dan suhu
di Rumah Sakit [Link] dengan hasil makanan yang akan merangsang setiap
signifikansi nilai p-value 0,001. Dari hasil indera untuk merespon hidangan makanan
penelitiannya diketahui bahwa responden yang disajikan. Jika rasa makanan yang
yang menilai aroma makanan dengan dihidangkan memenuhi harapan pasien,
kategori sedap cenderung menyisakan maka sisa makanan akan sedikit, sehingga
makanan dalam jumlah yang lebih sedikit dapat memenuhi kebutuhan zat gizi pasien.
(Ariyanti et al., 2017). Dengan terpenuhinya kebutuhan zat gizi,
Hubungan rasa makanan dengan sisa maka akan mendukung penyembuhan
makanan dapat dilihat pada tabel 1. Tabel 1 yang cepat (Puruhita et al., 2014).
di atas menunjukkan 7 responden (100%) Hasil analisis hubungan rasa dengan
yang menilai rasa makanan tidak enak sisa makanan pada tabel 1 sejalan dengan
memiliki sisa makanan banyak. Dari total 20 penelitian oleh Triyanto (2022) yang
responden yang menilai rasa makanan menemukan bahwa ada hubungan
kurang enak, 12 orang diantaranya memiliki bermakna antara rasa makanan dan sisa
sisa makanan sedikit (60%) dan 8 orang makanan pasien di Rumah Sakit Soewondo
memiliki sisa makanan banyak (40%). Kabupaten Pati dengan nilai signifikansi p-

131
© Jurnal Kesehatan Perintis ISSN : 2622-4135. All rights reserved
Jurnal Kesehatan Perintis 11 (2) 2024: 128-135

value 0,016. Penelitian lainnya oleh Izzah et Hasil uji chi square pada komponen
al. (2022) juga menunjukkan adanya suhu makanan dengan sisa makanan
hubungan rasa makanan dan sisa makanan pasien dapat dilihat pada tabel 1. Tabel 1
di Rumah Sakit Antapura Palu dengan hasil menunjukkan terdapat 8 responden yang
signifikansi p-value 0,024. Pasien dengan menilai suhu makanan tidak sesuai, 1
penilaian rasa makanan enak cenderung diantaranya memiliki sisa makanan sedikit
menyisakan sedikit sisa makanan, (12,5%), sedangkan 7 responden memiliki
sedangkan pasien yang merasa sisa makanan banyak (87,5%). Pada
makanannya tidak enak biasanya responden yang menilai suhu makanan
menyisakan lebih banyak makanan (Rahmi kurang sesuai, 13 orang memiliki sisa
& Kumboyono, 2011). makanan sedikit (81,2%) sedangkan 3
Hasil analisis hubungan tekstur responden memiliki sisa makanan banyak
dengan sisa makanan menunjukkan bahwa (18,8%). Terdapat 56 responden yang
sebanyak 2 responden yang menyatakan menilai suhu makanan sesuai. Sebanyak 49
tekstur makanan tidak sesuai memiliki sisa orang diantaranya memiliki sisa makanan
makanan banyak (100%). Dari total 15 sedikit (87,5%) sedangkan 7 orang (12,5%)
responden yang menyatakan tekstur memiliki sisa makanan banyak.
makanan kurang sesuai, sebanyak 6 orang Penyajian makanan pada suhu yang
(40%) meninggalkan sisa makanan dalam tepat sangat penting untuk menentukan cita
jumlah sedikit, sedangkan 9 orang (60%) rasa dan kualitas hidangan. Dalam
meninggalkan sisa makanan dalam jumlah penyelenggaraan makanan skala besar,
banyak. Pada responden yang menilai perhatian khusus pada suhu saat
tekstur makanan sesuai, 57 orang memiliki pendistribusian makanan, seperti makanan
sisa makanan sedikit (90,4%) dan 6 orang pokok, lauk hewani, dan nabati sangat
memiliki sisa makanan banyak (9,5%). %). diperlukan. Pasien sering kali kehilangan
Dari analisis uji chi-square didapatkan nilai selera makan ketika makanan disajikan
p-value 0,000 yang menandakan adanya dalam keadaan dingin atau tidak hangat.
hubungan signifikan dari tekstur makanan Suhu makanan tidak hanya mencerminkan
dengan sisa makanan. Tekstur makanan keadaan panas atau dingin, tetapi juga
merujuk pada tingkat kekerasan, kepadatan, berperan dalam menghasilkan aroma yang
atau kekentalan makanan. Karakteristik menarik (Ode Atmanegara et al., 2013).
konsistensi mencakup berbagai aspek, Hidangan yang disajikan dalam keadaan
seperti cair, kenyal, dan keras. Variasi hangat dapat menciptakan aroma
tekstur yang dimiliki oleh suatu makanan menggugah selera, menjadikannya lebih
membuatnya lebih menarik dibandingkan menarik untuk dikonsumsi (Widyastuti &
dengan hanya memiliki satu jenis tekstur. Pramono, 2014). Sejalan dengan teori
Makanan yang memiliki tekstur kenyal atau tersebut didapatkan nilai signifikansi p-value
lebih padat cenderung memberikan 0,000 dalam penelitian ini dari hasil uji
rangsangan yang lebih lambat pada sistem korelasi chi-square pada hubungan suhu
penerimaan indera. Selain itu tekstur dan sisa makan di Rumah Sakit Universitas
makanan merupakan elemen penting yang Brawijaya Malang. Hal ini menunjukkan
dapat menentukan kualitasnya, karena bahwa ada hubungan bermakna antara
sensitivitas indera perasa dipengaruhi oleh suhu makanan dan sisa makanan. Suhu
konsistensi makanan tersebut (Samsudi et makanan yang sesuai sangat penting untuk
al., 2023). mengetahui selera pasien terhadap
Hasil analisis tekstur makanan dan hidangan. Hal ini diperkuat oleh pendapat
sisa makanan dalam penelitian ini sesuai uji Kustiyoasih et al. (2017) yang menyatakan
statistik chi-square pada penelitian bahwa indikator cita rasa dapat secara
Oktaviani et al. (2023) yang menunjukkan akurat menilai kualitas produk makanan
nilai p-value 0,000 terkait tekstur makanan karena berbagai faktor yang dapat
lunak dan sisa makanan pada pasien rawat mempengaruhi rasa, seperti temperatur dan
inap di Rumah Sakit Teluk Kuantan. sensitivitas rasa individu. Oleh karena itu,
Penelitian tersebut juga mengungkap suhu makanan memiliki dampak signifikan
adanya hubungan signifikan antara tekstur bagi pengalaman konsumen atau pasien
makanan dengan sisa makanan. (Saskia et al., 2018).

132
© Jurnal Kesehatan Perintis ISSN : 2622-4135. All rights reserved
Jurnal Kesehatan Perintis 11 (2) 2024: 128-135

Hasil analisis hubungan variasi menu agar pasien tidak merasa bosan untuk
dengan sisa makanan dapat dilihat pada mengkonsumsi makanan. Variasi menu
tabel 1. Dari 34 responden yang menilai dalam sebuah menu dapat memberikan
menu kurang bervasiasi, terdapat 21 kesan yang menarik dan membangkitkan
responden (61,8%) memiliki sisa makanan nafsu makan (Oktaviani et al., 2023).
sedikit dan 13 responden (38,2%) dengan
sisa makanan banyak. Sedangkan untuk KESIMPULAN
responden yang menilai menu bervariasi Komponen cita rasa makanan
sejumlah 42 orang memiliki sisa makanan seperti aroma, rasa, tekstur, dan suhu
sedikit (91,3%) dan 4 orang memiliki sisa sangat mempengaruhi daya terima pasien
makanan banyak (8,7%). terhadap makanan yang disajikan. Ada
Variasi menu merujuk pada hubungan antara aroma makanan, tekstur,
pengaturan kelompok bahan makanan yang rasa, suhu dan variasi menu dengan sisa
berbeda dalam setiap hidangan yang makanan pasien. Pasien menilai makanan
disajikan. Penting bagi menu yang disajikan di Rumah Sakit Universitas Brawijaya
kepada pasien untuk memiliki variasi, agar Malang sudah beraroma sedap, memiliki
mereka tidak merasa bosan dalam rasa enak, memiliki tekstur dan suhu yang
mengonsumsi makanan. Dengan adanya sesuai serta menu yang bervariasi, namun
variasi, selera makan pasien dapat rata-rata sisa makanan masih di atas 20%.
terangsang, dan makanan yang beragam Variabel yang paling banyak dinilai tidak
akan meningkatkan gairah untuk makan, sesuai adalah suhu makanan jika
sehingga hidangan yang disajikan lebih dibandingkan dengan variabel lainnya. Hal
mungkin dihabiskan. Sebaliknya, ini menunjukkan bahwa suhu makanan
menyajikan satu jenis makanan berulang memiliki dampak signifikan bagi
kali dalam waktu singkat dapat membuat pengalaman pasien dalam mengonsumsi
pasien merasa jenuh (Wirasamadi et al., makanannya. Semakin baik kualitas cita
2015). Rumah Sakit Universitas Brawijaya rasa dan semakin beragam menu yang
terletak strategis di area pusat perkantoran disediakan, semakin kecil kemungkinan
dan perkuliahan, dikelilingi oleh berbagai pasien meninggalkan sisa makanan. Hasil
pilihan penjual makanan, mulai dari ini menegaskan pentingnya penyediaan
pedagang kaki lima hingga restoran. Lokasi makanan yang berkualitas dari segi cita
ini memudahkan akses bagi pasien untuk terutama suhu makanan dan variasi menu di
memperoleh makanan dari luar rumah sakit. Rumah Sakit Universitas Brawijaya Malang
Menurut penelitian Tanuwijaya et al. (2018) dalam mendukung kepuasan serta asupan
ketersediaan makanan dari luar dapat zat gizi pasien sehingga dapat mendukung
mempengaruhi konsumsi makanan yang proses pemulihan.
disediakan rumah sakit, sehingga
berpotensi membuat pasien menyisakan REFERENSI
makanan yang diberikan. Anggraeni, D., Ronitawati, P., & Hartati, L. S.
Hasil uji korelasi chi-square variasi (2017). Hubungan Cita Rasa Dan Sisa
menu dengan sisa makanan pada tabel 1 Makanan Lunak Pasien Kelas III Di
memiliki nilai p 0,001. Hal tersebut RSUD Berkah Kabupaten
menandakan terdapat hubungan variasi Pandeglang. Nutrire Diaita, 9(1).
menu dengan sisa makanan biasa. Ariyanti, V., Widyaningsih, E. N., & Rauf, R.
Penelitian ini terkait dengan studi oleh (2017). Hubungan antara Karakteristik
Oktaviani et al. (2023) yang menemukan Sensorik Makanan dengan Sisa
bahwa ada korelasi bermakna variasi dalam Makanan Biasa pada Pasien Rawat
menu makanan dan sisa makanan lunak Inap RSUD Dr. Soeratno, Gemolong,
pada pasien di Rumah Sakit Kuantan. Selain Kabupaten Sragen. Jurnal Kesehatan,
itu, penelitian yang dilakukan oleh Zahara 10(1).
(2019) juga menemukan hubungan yang [Link]
bermakna terkait variasi menu dan sisa 5488
makanan di Rumah Sakit Kisaran (p-value Izzah, N., Nurulfuadi, Firasyah, I., Aiman, U.,
0,00 < 0,05). Menu yang disajikan kepada Hijra, Rakhman, A., Mappiratu, K., &
pasien setiap harinya haruslah bervariasi Nadila, D. (2022). Faktor-faktor yang

133
© Jurnal Kesehatan Perintis ISSN : 2622-4135. All rights reserved
Jurnal Kesehatan Perintis 11 (2) 2024: 128-135

Berhubungan Dengan Sisa Makanan Rumah Sakit Tentara Dr. Soepraun


Pasien Rawat Inap DiRSU Anutapura Malang.
Kota Palu. Preventif: Jurnal Kesehatan Rimporok, M., Widyaningrum, K., &
Masyarakat, 13(4). Satrijawati, T. (2019). Faktor-Faktor
[Link] yang Mempengaruhi Sisa Makanan
/preventif.v1 yang Dikonsumsi Oleh Pasien Rawat
Kementrian Kesehatan RI. (2013). Pedoman Inap di Rumah Sakit Permata Bunda
Pgrs Pelayanan Gizi Rumah Sakit. In Malang Tahun 2019. Chmk Health
Kementerian Kesehatan Republik Journal, 3(3).
Indonesia. Samsudi, Indrayani, N., & Elyas Sueratman,
Kustiyoasih, M. P., Adriani, M., & Nindya, T. N. A. (2023). Kepuasan Pasien dalam
S. (2017). Penyelenggaraan Makanan Pelayanan Makanan di Rumah Sakit
dan Kepuasan Konsumen Di Kantin Umum Daerah Buton Utara. Jurnal
Lantai 2 Rumah Sakit Universitas Penelitian Sains Dan Kesehatan
Airlangga Surabaya. Media Gizi Avicenna, 2(2).
Indonesia,11(1). [Link]
[Link] /avicenna.v2i2.49
16 Saskia, R., Primadona, S., & Mahmudiono,
Manuntun, R., & Siregar, R. (2015). T. (2018). Hubungan Tingkat
Manajemen Sistem Penyelenggaraan Kematangan Dan Suhu Dengan Sisa
Makanan Institusi Dasar. Kedokteran Makanan Lauk Nabati Pada Pasien
EGC. Anak Di Ruang Inap Rumkital Dr.
Notoadmodjo, s, 2010. (2015). Notoatmodjo Ramelan Surabaya. Media Gizi
S. Metodologi Penelitian Kesehatan. Indonesia, 13(2).
In Biomass Chem Eng. [Link]
Ode Atmanegara, W., Dachlan, D. M., & 0-107
Yustini. (2013). Gambaran Tingkat Sifa Cahya Kemala. (2024). Hubungan Cita
Kepuasan Siswa Terhadap Mutu Rasa Makanan Dengan Sisa Makanan
Hidangan Pada Penyelenggaraan Lunak Pada Pasien Rawat Inap Di
Makanan Di Sekolah Polisi Negara Klinik Utama Pradipa 2 Kabupaten
(Spn) Batua Polda Sulsel Tahun 2013. Kuningan. Jurnal Ilmu Kesehatan,
Oktaviani, A., Afrinis, N., & Verawati, B. 3(2), 87–96.
(2023). Hubungan Cita Rasa Dan Tanuwijaya, L. K., Sembiring, L. G., Dini, C.
Variasi Menu Makanan Dengan Sisa Y., Arfiani, E. P., & Wani, Y. A. (2018).
Makanan Lunak Pada Pasien Rawat Sisa Makanan Pasien Rawat Inap:
Inap Di Rsud Teluk Kuantan. Jurnal Analisis Kualitatif. Indonesian Journal
Kesehatan Tambusai, 4. of Human Nutrition, 5(1).
Puruhita, N., Hangnyonowati, Ardianto, S., [Link]
Murbawani, E., & Ardiaria, M. (2014). 005.01.6
Gambaran Sisa Makanan dan Mutu Triyanto, A. (2022). Hubungan Antara
Makanan yang Disediakan Instalasi Ketepatan Waktu Penyajian Makanan
Gizi Rumah Sakit Umum Pusat Dr. dan Rasa Makanan dengan Sisa
Kariadi Semarang. Diponegoro Makanan Pasien Umum Rsud RAA
Journal of Nutrition and Health, 2. Soewondo Kabupaten Pati. Jurnal
Rachmawati, A. D., & Afifah, A. N. (2021). Widya Praja, 2(1).
Tingkat Kepuasan Pasien Rawat Inap Widyastuti, N., & Pramono, A. (2014).
terhadap Penyajian dan Pelayanan Manajemen jasa boga: Vol. (Cetakan
Makanan Di Rumah Sakit. Gorontalo 1). Graha Ilmu.
Journal of Nutrition and Dietetic, 1. Wirasamadi, N. L. P., Adhi, K. T., & Weta, I.
[Link] W. (2015). Analisis Sisa Makanan
d/article/view/1690/777 Pasien Rawat Inap di RSUP Sanglah
Rahmi, Y., & Kumboyono. (2011). Faktor- Denpasar Provinsi Bali. Public Health
Faktor yang Berhubungan dengan and Preventive Medicine Archive, 3(1).
Penerimaan Makanan Biasa oleh [Link]
Pasien di Ruang Rawat Inap Kelas 3 1

134
© Jurnal Kesehatan Perintis ISSN : 2622-4135. All rights reserved
Jurnal Kesehatan Perintis 11 (2) 2024: 128-135

Zahara, I. I. (2019). Sisa makanan pasien Umum Daerah [Link] Manan


berdasarkan cita rasa, penampilan Simatupang Kisaran. Undergraduate
dan variasi makanan di Rumah Sakit Theses, Universitas Sumatera Utara

135
© Jurnal Kesehatan Perintis ISSN : 2622-4135. All rights reserved

Anda mungkin juga menyukai