0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan44 halaman

Pajak Penghasilan: Subjek dan Objeknya

Modul ini membahas Pajak Penghasilan (PPh) berdasarkan Undang-Undang No. 36 Tahun 2008, termasuk subjek dan objek pajak, serta kewajiban pajak bagi wajib pajak dalam negeri dan luar negeri. Mahasiswa diharapkan dapat memahami berbagai aspek pajak penghasilan, seperti penghitungan penghasilan kena pajak dan biaya yang tidak boleh dikurangkan. Selain itu, modul ini juga menjelaskan perbedaan antara wajib pajak dalam negeri dan luar negeri serta kewajiban pajak subjektif yang melekat pada masing-masing subjek pajak.

Diunggah oleh

juhekam
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan44 halaman

Pajak Penghasilan: Subjek dan Objeknya

Modul ini membahas Pajak Penghasilan (PPh) berdasarkan Undang-Undang No. 36 Tahun 2008, termasuk subjek dan objek pajak, serta kewajiban pajak bagi wajib pajak dalam negeri dan luar negeri. Mahasiswa diharapkan dapat memahami berbagai aspek pajak penghasilan, seperti penghitungan penghasilan kena pajak dan biaya yang tidak boleh dikurangkan. Selain itu, modul ini juga menjelaskan perbedaan antara wajib pajak dalam negeri dan luar negeri serta kewajiban pajak subjektif yang melekat pada masing-masing subjek pajak.

Diunggah oleh

juhekam
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

MODUL 3

Pajak Penghasilan (Umum)


Prof. Dr. Abdul Halim, M.B.A., Ak.
Amin Dara, S.E. , [Link]., Ak.
=--
-§--. PENDAHULUAN

r/J, erdasarkan pasal 1 Undang-Undang No. 36 Tahun 2008, pajak


'f) penghasilan adalah pajak yang dikenakan terhadap subjek pajak atas
penghasilan yang diterima atau diperolehnya dalam tahun pajak. Begitu
luasnya pembahasan pajak penghas ilan sehingga pada modul 3 ini dibahas
terlebih dahulu pajak penghasilan umum sebagai pengantar untuk
1nemudahkan 1nahasiswa dalam memahami materi-1nateri pajak penghasilan
selanjutnya yang lebih fokus dan rinci
Setelah memelajari modul ini, mahasiswa diharapkan dapat:
1. 1nenjelaskan Subjek Pajak PPb
2. 1nenjelaskan bukan Subjek PPh
3. 1nenjelaskan Objek Pajak Penghasilan
4. 1nenjelaskan Objek Pajak yang dikenakan PPh Bersifat Final
5. menjelaskan penghasilan yang tidak termasuk Objek Pajak
6. menjelaskan Bentuk Usaha Tetap
7. 1nenghitung penghasilan kena pajak
8. menghitung Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP)
9. menghitung biaya yang tidak boleh dikurangkan
10. menghitung penilaian aset
11. menghitung penyusutan dan amortisasi
12. menghitung tarif pajak PPh
13. menghitung penghasilan kena pajak dan PPh yang terutang
3.2 P ERPAJAKAN e

KEGIATAN BELAJAR 1

Subjek Pajak dan Objek Pajak

A. SUBJEK PAJAK

Berdasarkan Pasal 2 Undang-Undang No 36 Tahun 2008 subjek pajak


meliputi:

1. Orang pribadi
Orang pribadi sebagai subjek pajak dapat bertempat tinggal atau berada
di Indonesia ataupun di luar Indonesia

2. Warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan menggantikan yang


berhak
Warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan merupakan subjek
pajak pengganti, menggantikan mereka yang berhak yaitu ahli waris.
Penunjukan warisan yang belum terbagi sebagai subjek pajak pengganti
dimaksudkan agar pengenaan pajak atas penghasilan yang berasal dari
warisan tersebut tetap dapat dilaksanakan

3. Badan
Badan adalah sekumpulan orang dan/atau modal yang merupakan
kesatuan baik yang melakukan usaha maupun yang tidak melakukan usaha
yang meliputi perseroan terbatas, perseroan komanditer, perseroan lainnya,
Badan Usaha Milik Negara atau Daerah dengan nama dan dalam bentuk apa
pun, firma kongsi, koperasi, dana pensiun, persekutuan, perkumpulan,
yayasan, organisasi massa, organisasi sosial politik, atau organisasi lainnya,
le1nbaga, dan bentuk badan lainnya termasuk kontrak investasi kolektif dan
Bentuk Usaha Tetap.
Badan Usaha Milik Negara dan Badan Usaha Milik Daerah merupakan
subjek pajak tanpa memperhatikan nama dan bentuknya sehingga setiap unit
tertentu dari badan pemerintah, rnisalnya lembaga, badan, dan sebagainya
yang dirni liki oleh Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah yang
menjalankan usaha atau 1nelakukan kegiatan untuk memperoleh penghasilan
merupakan subjek pajak.
• EKSl4206/MDDUL 3 3.3

4. Bentuk Usaha Tetap


Adalah bentuk usaha yang dipergunakan oleh orang pribadi yang tidak
bertempat tinggal di Indonesia, orang pribadi yang berada di Indonesia tidak
lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12 bulan, dan badan yang tidak
didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia untuk menjalankan
usaha atau melakukan kegiatan di Indonesia, yang dapat berupa:
a. Te1npat kedudukan 1nanajemen
b. Cabang perusahaan
c. Kantor perwakilan
d. Gedung kantor
e. Pabrik
f. Bengkel
g. Gudang
h. Ruang untuk promosi dan penjualan
.
1. Pertambangan dan penggalian sumber alam
.
J. Wilayah kerja pertambangan minyak dan gas bumi
k. Perikanan, petemakan, pertanian, perkebunan, atau kehutanan
I. Proyek konstruksi, instalasi, atau proyek perakitan
1n. Pemberian jasa dalam bentuk apa pun oleh pegawai atau orang lain,
sepanjang dilakukan lebih dari 60 hari dalamjangka waktu 12 bulan
n. Orang atau badan yang bertindak selaku agen yang kedudukannya tidak
bebas
o. Agen atau pegawai dari perusahaan asuransi yang tidak didirikan dan
tidak bertempat kedudukan di Indonesia yang menerima premi asuransi
atau menanggung risiko di Indonesia; dan
p. Komputer, agen elektronik, atau peralatan otomatis yang dimiliki,
disewa, atau digunakan oleh penyelenggara transaksi elektronik untuk
menjalankan kegiatan usaha melalui internet.

1. Subjek Pajak Dalam Negeri dan Subjek Pajak Luar Negeri


Berdasarkan Pasal 2 ayat 2 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008,
subjek pajak dapat dibedakan menjadi subjek pajak dalam negeri dan subjek
pajak luar negeri.
a. Subjek pajak dalam negeri adalah:
1) Orang pribadi yang bertempat tinggal di Indonesia, orang
pribadi yang berada di Indonesia lebih dari 183 hari dalam jangka
waktu 12 bulan, atau orang pribadi yang dalam suatu tahun paj ak
3.4 PERPAJAKAN e

berada di Indonesia dan mempunyai niat untuk bertempat tinggal di


Indonesia.
2) Badan yang didirikan atau bertempat kedudukan di Indonesia,
meliputi Perseroan Terbatas, Perseroan Komanditer, perseroan
lainnya, Badan Usaha Milik Negara atau Daerah dengan nama dan
dalam bentuk apa pun, firma, kongsi, koperasi, dana pensiun,
persekutuan, perkumpulan, yayasan, organisasi 1nassa, organisasi
sosial politik atau organisasi yang sejenis, lembaga, dan bentuk
badan lainnya termasuk reksadana. kecuali unit tertentu dari badan
pemerintah yang memenuhi kriteria:
a) Pembentukannya berdasarkan ketentuan peraturan perundang-
undangan
b) Pembiayaannya bersumber dari APBN atau APBD
c) Penerimaannya dimasukkan dalam anggaran Pemerintah Pusat
atau Pemerintah Daerah; dan
d) Pembukuannya diperiksa oleh aparat pengawasan fungsional
negara
3) Warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan menggantikan
yang berhak.

b. Subjek pajak luar negeri adalah:


1) Orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia, orang
pribadi yang berada di Indonesia tidak lebih dari 183 hari dalam
jangka waktu 12 bulan, dan badan yang tidak didirikan dan tidak
bertempat kedudukan di Indonesia, yang menjalankan usaha atau
melakukan kegiatan melalui Bentuk Usaha Tetap di Indonesia; dan
2) Orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia, orang
pribadi yang berada di Indonesia tidak lebih dari 183 hari dalam
jangka waktu 12 bulan, dan badan yang tidak didirikan dan tidak
bertempat kedudukan di Indonesia, yang dapat menerima atau
1nemperoleh penghasilan dari Indonesia tidak dari menjalankan
usaha atau melakukan kegiatan melalui Bentuk Usaha Tetap di
Indonesia.
• EKSl4206/MDDUL 3 3.5

2. Perbedaan Wajib Pajak Dalam Negeri dan Wajib Pajak Luar


Negeri
Subjek pajak Orang Pribadi dalam negeri menjadi Wajib Pajak apabila
telah menerima atau memperoleh penghasilan yang besamya 1nelebihi
Penghasilan Tidak Kena Pajak. Subjek pajak Badan dalam negeri menjadi
Wajib Pajak sejak saat didirikan, atau bertempat kedudukan di Indonesia.
Subjek pajak luar negeri baik Orang Pribadi maupun Badan sekaligus
menjadi Wajib Pajak karena menerima dan/atau 1nemperoleh penghasilan
yang bersumber dari Indonesia atau menerima dan/atau memperoleh
penghasilan yang bersumber dari Indonesia melalui Bentuk Usaha Tetap di
Indonesia. Dengan perkataan lain, Waj ib Pajak adalah Orang Pribadi atau
Badan yang telah memenuhi kewajiban subjektif dan objektif. Sehubungan
dengan pemilikan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), Wajib Pajak Orang
Pribadi yang menerima penghasilan di bawah Penghasilan Tidak Kena Pajak
(PTKP) tidak wajib mendaftarkan diri untuk memperoleh NPWP.

Perbedaan yang penting antara Wajib Pajak dalam negeri dan Wajib
Pajak luar negeri terletak dalam pemenuhan kewajiban pajaknya, antara lain:
a. Wajib Pajak dalam negeri dikenai pajak atas penghasilan baik yang
diterima atau diperoleh dari Indonesia maupun dari luar Indonesia,
sedangkan Wajib Pajak luar negeri dikenai pajak hanya atas penghasilan
yang berasal dari sumber penghasilan di Indonesia
b. Wajib Pajak dalam negeri dikenai pajak berdasarkan penghasilan neto
dengan tarif umum, sedangkan Wajib Pajak luar negeri dikenai pajak
berdasarkan penghasilan bruto dengan tarif pajak sepadan; dan
c. Wajib Pajak dalam negeri wajib 1nenyampaikan Surat Pemberitahuan
Tahunan Pajak Penghasilan sebagai sarana untuk menetapkan pajak yang
terutang dalam suatu tahun pajak, sedangkan Wajib Pajak luar negeri
tidak wajib menyampaikan Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak
Penghasilan karena kewajiban pajaknya dipenuhi melalui pemotongan
pajak yang bersifat final.
d. Bagi Wajib Pajak luar negeri yang menjalankan usaha atau melakukan
kegiatan melalui Bentuk U saha T etap di Indonesia, pemenuhan
kewajiban perpajakannya dipersamakan dengan pemenuhan kewajiban
perpajakan Wajib Pajak Badan dalam negeri sebagaimana diatur dalam
Undang-Undang Pajak Penghasilan dan Undang-Undang yang mengatur
mengenai ketentuan umum dan tata cara perpajakan.
3.6 PERPAJAKAN e

3. Kewajiban Pajak Subjektif


Pajak Penghasilan merupakan jenis pajak subjektif yang kewajiban
pajaknya melekat pada subjek pajak yang bersangkutan, artinya kewajiban
pajak tersebut tidak dapat dilimpahkan kepada pihak lain atau subjek pajak
lainnya. Oleh karena itu dalam rangka memberikan kepastian hukum,
penentuan saat mulai dan berakhirnya kewajiban pajak subjektif menjadi
penting. Saat mulai dan berakhirnya kewajiban pajak subjektif ditentukan
sebagai berikut.
a. Kewajiban pajak dalam negeri Orang Pribadi
Kewajiban pajak subjektif Orang Pribadi yang bertempat tinggal di
Indonesia dimulai pada saat ia lahir di Indonesia. U ntuk Orang Pribadi
yang berada di Indonesia lebih dari 183 hari dala1n jangka waktu 12
bulan, kewajiban pajak subjektifnya dimulai sejak hari pertama ia berada
di Indonesia. Kewajiban pajak subjektif Orang Pribadi berakhir pada saat
ia meninggal dunia atau meninggalkan Indonesia untuk selama-lamanya.
b. Kewajiban pajak dala1n negeri Badan
Kewajiban pajak subjektif badan dimulai pada saat badan tersebut
didirikan atau bertempat kedudukan di Indonesia dan berakhir pada saat
dibubarkan atau tidak lagi bertempat kedudukan di Indonesia
c. Kewajiban pajak luar negeri melalui Bentuk Usaha Tetap
Bagi Orang Pribadi yang tidak bertempat tinggal dan berada di Indonesia
tidak lebih dari 183 hari, dan badan yang tidak didirikan dan tidak
bertempat kedudukan di Indonesia, yang menjalankan usaha atau
melakukan kegiatan di Indonesia melalui suatu Bentuk Usaha Tetap,
kewajiban pajak subjektifnya dimulai pada saat Bentuk Usaha Tetap
tersebut berada di Indonesia dan berakhir pada saat Bentuk Usaha Tetap
tersebut tidak lagi berada di Indonesia.
d. Kewajiban pajak luar negeri tidak melalui Bentuk Usaha Tetap
Bagi Orang Pribadi yang tidak bertempat tinggal atau berada di
Indonesia tidak lebih dari 183 hari dan Badan yang tidak didirikan dan
tidak bertempat kedudukan di Indonesia dan tidak menjalankan usaha
atau melakukan kegiatan melalui Bentuk Usaha Tetap di Indonesia.
Kewajiban pajak subjektif Orang Pribadi atau Badan tersebut dimulai
pada saat Orang Pribadi atau Badan menerima atau memperoleh
penghasilan dari sumber-sumber di Indonesia dan berakhir pada saat
Orang Pribadi atau Badan tersebut tidak lagi menerima atau memperoleh
penghasilan tersebut.
• EKSl4206/MDDUL 3 3. 7

e. Kewajiban pajak subjektif warisan yang belum terbagi


Kewajiban pajak subjektif warisan yang belum terbagi dimulai pada saat
timbulnya warisan yang belum terbagi tersebut, yaitu pada saat
meninggalnya pewaris. Sejak saat itu pe1nenuhan kewajiban
perpajakannya melekat pada warisan tersebut. Kewajiban pajak subjektif
warisan berakhir pada saat warisan tersebut dibagi kepada para ahli
waris. Sejak saat itu pemenuhan kewajiban perpajakannya beralih
kepada para ahli waris.

4. Tidak Termasuk Subjek Pajak


Yang tidak termasuk subjek pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2
Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 adalah:
a. Kantor perwakilan negara asing
b. Pejabat-pejabat perwakilan diplomatik dan konsulat atau pejabat-pejabat
lain dari negara asing dan orang-orang yang diperbantukan kepada
mereka yang bekerja pada dan bertempat tinggal bersan1a-sama mereka
dengan syarat bukan warga negara Indonesia dan di Indonesia tidak
menerima atau memperoleb penghasilan di luar jabatan atau
pekerjaam1ya tersebut serta negara bersangkutan memberikan perlakuan
ti1nbal balik
c. Organisasi-organisasi internasional dengan syarat Indonesia menjadi
anggota organisasi tersebut dan tidak menjalankan usaha atau kegiatan
lain untuk memperoleh penghasilan dari Indonesia selain memberikan
pinjaman kepada pemerintah yang dananya berasal dari iuran para
anggota
d. Pejabat-pejabat perwakilan organisasi internasional sebagaimana
dimaksud pada butir 3, dengan syarat bukan warga negara Indonesia dan
tidak menjalankan usaha, kegiatan, atau pekerjaan lain untuk
memperoleh penghasilan dari Indonesia.

Organisasi internasional yang tidak termasuk subjek pajak


ditetapkan lebih lanjut dengan Keputusan Menteri keuangan Nomor
2 l 5/PMK/.03/2008 sebagaimana telah diubah terakhir dengan Peraturan
Menteri Keuangan Nomor 156/PMK.010/2015
3.8 PERPAJAKAN e

B. OBJEK PAJAK PENGHASILAN

Objek pajak adalah penghasilan, yaitu setiap tambahan kemampuan


ekonomis yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak, baik yang
berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia, yang dapat dipakai untuk
konsumsi atau untuk menambah kekayaan Wajib Pajak yang
bersangkutan, dengan nama dan dalam bentuk apa pun, termasuk:
1. Penggantian atau imbalan berkenaan dengan pekerjaan atau jasa yang
diterima atau diperoleh termasuk gaji, upah, tunjangan, honorariu1n,
komisi, bonus, gratifikasi, uang pensiun, atau imbalan dalam bentuk
lainnya
2. Hadiah dari undian atau pekerjaan atau kegiatan, dan penghargaan
Dalam pengertian hadiah termasuk hadiah dari undian, pekerjaan, dan
kegiatan seperti hadiah undian tabungan, hadiah dari pertandingan
olahraga dan lain sebagainya, sedangkan penghargaan adalah imbalan
yang diberikan sehubungan dengan kegiatan tertentu, misalnya imbalan
yang diterima sehubungan dengan penemuan benda-benda purbakala
3. Laba usaha
4. Keuntungan karena penjualan atau karena pengalihan barta termasuk:
a. Keuntungan karena pengalihan harta kepada perseroan, persekutuan,
dan badan lainnya sebagai pengganti saham atau penyertaan modal
b. Keuntungan karena pengalihan harta kepada pemegang saham,
sekutu, atau anggota yang diperoleh perseroan, persekutuan, dan
badan lainnya
c. Keuntungan karena likuidasi, penggabungan, peleburan, pemekaran,
pemecahan, pengambilalihan usaha, atau reorganisasi dengan nama
dan dalam bentuk apa pun. Apabila suatu badan dilikuidasi,
keuntungan dari penjualan harta, yaitu selisih antara barga jual
berdasarkan harga pasar dan nilai sisa buku harta tersebut,
merupakan objek pajak. Demikian juga selisih lebih antara harga
pasar dan nilai sisa buku dalam hal terjadi penggabungan,
peleburan, pemekaran, pemecahan, dan pengambilalihan usaha
1nerupakan penghasilan.
d. Keuntungan karena pengaliban harta berupa hibah, bantuan, atau
sumbangan, kecuaH yang diberikan kepada keluarga sedarah dalam
garis keturunan lurus satu derajat dan badan keagamaan, badan
pendidikan, badan sosial termasuk yayasan, koperasi, atau orang
• EKSl4206/ MDDUL 3 3.9

pribadi yang menjalankan usaha mikro dan kecil, yang ketentuannya


diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri Keuangan, sepanjang
tidak ada hubungan dengan usaha, pekerjaan, kepemilikan, atau
penguasaan di antara pihak-pihak yang bersangkutan; dan
e. Keuntungan karena penjualan atau pengalihan sebagian atau seluruh
hak penambangan, tanda turut serta dalam pembiayaan, atau
per1nodalan dalam perusahaan pertambangan
5. Penerimaan kembali pembayaran pajak yang telah dibebankan sebagai
biaya dan pembayaran tambahan pengembalian pajak
6. Bunga termasuk premium, diskonto, dan imbalan karena jaminan
pengembalian utang. Premium terjadi apabila surat obligasi dijual di atas
nilai nominalnya sedangkan diskonto terjadi apabila surat obligasi dibeli
di bawah nilai norninalnya. Premium tersebut merupakan penghasilan
bagi yang menerbitkan obligasi dan diskonto merupakan penghasilan
bagi yang me1nbeli obligasi
7. Dividen, dengan na1na dan dalam bentuk apa pun, termasuk dividen dari
perusahaan asuransi kepada pemegang polis, dan pembagian sisa hasil
usaha koperasi. Termasuk dalam pengertian dividen adalah:
a. Pe1nbagian laba baik secara langsung ataupun tidak langsung,
dengan nama dan dalam bentuk apa pun
b. Pembayaran kembali karena likuidasi yang melebihi jumlah modal
yang disetor
c. Pemberian saham bonus yang dilakukan tanpa penyetoran ter1nasuk
saham bonus yang berasal dari kapita1isasi agio saham
d. Pembagian laba dalam bentuk saham
e. Pencatatan tambahan modal yang dilakukan tanpa penyetoran
f. Jumlah yang melebihi jumlah setoran sahamnya yang diterima atau
diperoleh pemegang saham karena pembelian kembali saham-saham
oleh perseroan yang bersangkutan
g. Pembayaran kembali seluruhnya atau sebagian dari modal yang
disetorkan, jika dalam tahun-tahun yang lampau diperoleh
keuntungan, kecuali jika pembayaran kembali itu adalah akibat dari
pengecilan modal dasar (statuter) yang dilakukan secara sah
h. Pembayaran sehubungan dengan tanda-tanda laba, termasuk yang
diterima sebagai penebusan tanda-tanda laba tersebut
1. Bagian laba sehubungan dengan pemilikan obligasi
J. Bagian laba yang diterima oleh pemegang polis
3.10 PERPAJAKAN e

k. Pembagian berupa sisa hasil usaha kepada anggota koperasi


1. Pengeluaran perusahaan untuk keperluan pribadi pe1negang saham
yang dibebankan sebagai biaya perusahaan
8. Royalti atau imbalan atas penggunaan hak. Royalti adalah suatu jumlah
yang dibayarkan atau terutang dengan cara atau perhitungan apa pun,
baik dilakukan secara berkala maupun tidak, sebagai imbalan atas:
a. Penggunaan atau hak menggunakan hak cipta di bidang
kesusastraan, kesenian atau karya ilmiah, paten, desain atau model,
rencana, formula atau proses rahasia, merek dagang, atau bentuk hak
kekayaan intelektuaVindustrial atau hak serupa lainnya
b. Penggunaan atau hak 1nenggunakan peralatan/perlengkapan
industrial, komersial, atau ilmiah
c. Pemberian pengetahuan atau informasi di bidang ilmiah, teknikal,
industrial, atau komersial
d. Pemberian bantuan ta1nbahan atau pelengkap sehubungan dengan
penggunaan atau hak menggunakan hak-hak tersebut pada huruf a di
atas, penggunaan atau hak menggunakan peralatan/perlengkapan
tersebut pada buruf b di atas, atau pemberian pengetahuan atau
infor1nasi tersebut pada huruf c di atas, berupa:
1) Penerimaan atau hak menerima reka1nan gambar atau rekaman
suara atau keduanya, yang disalurkan kepada masyarakat
mela]ui satelit, kabel, serat optik, atau teknologi yang serupa
2) Penggunaan atau hak menggunakan reka1nan gambar atau
rekaman suara atau keduanya, untuk siaran televisi atau radio
yang disiarkan/dipancarkan melalui satelit, kabel, serat optik,
atau teknologi yang serupa
3) Penggunaan atau hak menggunakan sebagian atau seluruh
spektrum radio komunikasi
e. Penggunaan atau hak menggunakan film ga1nbar hidup (motion
picture films) , film atau pita video untuk siaran televisi, atau pita
suara untuk siaran radio; dan
f. Pelepasan seluruhnya atau sebagian hak yang berkenaan dengan
penggunaan atau pemberian hak kekayaan intelektual/industrial atau
hak-hak lainnya sebagaimana tersebut di atas.
9. Sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta. Dalam
pengertian sewa termasuk imbalan yang diterima atau diperoleh dengan
nama dan dalam bentuk apa pun sehubungan dengan penggunaan harta
• EKSl4206/MDDUL 3 3. 11

gerak atau harta tidak gerak, misalnya sewa mobil, sewa kantor, sewa
rumah, dan sewa gudang
10. Penerimaan atau perolehan pembayaran berkala. Penerimaan berupa
pembayaran berkala, misalnya alimentasi atau tunjangan seumur hidup
yang dibayar secara berulang-ulang dalam waktu tertentu
11 . Keuntungan karena pembebasan utang, kecuali sampai dengan jumlah
tertentu yang ditetapkan dengan Peraturan Pe1nerintah. Pembebasan
utang oleh pihak yang berpiutang dianggap sebagai penghasilan bagi
pihak yang semula berutang, sedangkan bagi pihak yang berpiutang
dapat dibebankan sebagai biaya. Namun, dengan Peraturan Pemerintah
dapat ditetapkan bahwa pembebasan utang debitor kecil misalnya Kredit
Usaha Keluarga Prasejahtera (Kukesra), Kredit Usaha Tani (KUT),
Kredit Usaha Rakyat (KUR), kredit untuk perumahan sangat sederhana,
serta kredit kecil lainnya sampai dengan jumlah tertentu dikecualikan
sebagai objek pajak
12. Keuntungan selisih kurs 1nata uang asing. Keuntungan yang diperoleh
karena fluktuasi kurs mata uang asing diakui berdasarkan sistem
pembukuan yang dianut dan dilakukan secara taat asas sesuai dengan
Standar Akuntansi Keuangan yang berlaku di Indonesia
13. Selisih lebih karena penilaian kembali aktiva. Selisih lebih karena
penilaian kembali aktiva sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19
Undang-Undang PPh merupakan penghasilan. Menteri Keuangan
berwenang menetapkan peraturan tentang penilaian kembali aktiva dan
faktor penyesuaian apabila terjadi ketidaksesuaian antara unsur-unsur
biaya dengan penghasilan karena perke1nbangan harga. Atas selisih
penilaian kembali aktiva diterapkan tarif pajak tersendiri dengan
Peraturan Menteri Keuangan sepanjang tidak melebihi tarif pajak
tertinggi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (1) Undang-
Undang PPh.
14. Premi asuransi termasuk premi reasuransi
15. Juran yang diterima atau diperoleh perkumpulan dari anggotanya yang
terdiri dari Wajib Pajak yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas
16. Ta1nbahan kekayaan neto yang berasal dari penghasilan yang belu1n
dikenakan pajak. Tambahan kekayaan neto pada hakikatnya merupakan
akumulasi penghasilan baik yang telah dikenakan pajak dan yang bukan
Objek Pajak serta yang belum dikenakan pajak. Apabila diketahui
adanya tambahan kekayaan neto yang melebihi akumulasi penghasilan
3.12 PERPAJAKAN e

yang telah dikenakan Pajak dan yang bukan Objek Pajak, maka
tambahan kekayaan neto tersebut merupakan penghasilan.
17. Penghasilan dari usaha berbasis syariah. Kegiatan usaha berbasis syariah
memiliki landasan filosofi yang berbeda dengan kegiatan usaha yang
bersifat konvensional. Namun, penghasilan yang diterima atau diperoleh
dari kegiatan usaha berbasis syariah tersebut tetap merupakan objek
pajak menurut Undang-Undang PPh.
18. Imbalan bunga sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor
16 Tahun 2009 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan
19. Surplus Bank Indonesia.

1. Objek Pajak yang dikenakan PPh Bersifat Final


Pajak penghasilan bersifat final adalah pajak penghasilan yang tidak
dapat dikreditkan (dikurangkan) dari total pajak penghasilan terutang pada
akhir tahun pajak. Berdasarkan Pasal 4 ayat (2) UU PPh, Penghasilan yang
dapat dikenai pajak bersifat final, yaitu:
a. Penghasilan berupa bunga deposito dan tabungan lainnya, bunga
obligasi dan surat utang negara, dan bunga simpanan yang dibayarkan
oleh koperasi kepada anggota koperasi Orang Pribadi. Obligasi tersebut
ter1nasuk surat utang berjangka waktu lebih dari 12 bulan, seperti
Medium Term Note, Floating Rate Note yang berjangka waktu lebih dari
12 bulan. Surat Utang Negara meliputi Obligasi Negara dan Surat
Perbendaharaan Negara
b. Penghasilan berupa hadiah undian
c. Penghasilan dari transaksi saham dan sekuritas lainnya, transaksi
derivatif yang diperdagangkan di bursa, dan transaksi penjualan saham
atau pengalihan penyertaan modal pada perusahaan pasangannya yang
diterima oleh perusahaan modal ventura
d. Penghasilan dari transaksi pengalihan harta berupa tanah dan/atau
bangunan, usaha j asa konstruksi, usaha real estat, dan persewaan tanah
dan/atau bangunan; dan
e. Penghasilan tertentu lainnya, pengenaan pajaknya diatur dengan
Peraturan Pemerintah.
• EKSl4206/MDDUL 3 3.13

2. Dikecualikan dari Objek Pajak


Berdasarkan Pasal 4 ayat (3) UU PPh terdapat penghasilan yang tidak
termasuk penghasilan yang dikenakan Pajak Penghasilan atau yang
dikecualikan dari objek pajak adalah:
1. a. Bantuan atau sumbangan, termasuk zakat yang diterima oleh badan
amil zakat atau le1nbaga amil zakat yang dibentuk atau disahkan
oleh pemerintah dan yang diterima oleh peneri1na zakat yang berhak
atau sumbangan keagamaan yang sifatnya wajib bagi pemeluk
agama yang diakui di Indonesia, yang diterima oleh lembaga
keagamaan yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah dan yang
diterima oleh penerima sumbangan yang berhak, yang ketentuannya
diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Pemerintah; dan
b. Harta hibahan yang diterima oleh keluarga sedarah dalam garis
keturunan lurus satu derajat, badan keagamaan, badan pendidikan,
badan sosial termasuk yayasan, koperasi, atau orang pribadi yang
menj alankan usaha 1nikro dan kecil, yang ketentuannya diatur
dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan, sepanjang
tidak ada hubungan dengan usaha, pekerjaan, kepemilikan, atau
penguasaan di antara pihak-pihak yang bersangkutan
2. Warisan
3. Harta termasuk setoran tunai yang diterima oleh badan sebagai pengganti
saham atau sebagai pengganti penyertaan modal
4. Penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang
diteriina atau diperoleh dalam bentuk natura dan/atau kenikmatan dari
Wajib Pajak atau Pemerintah, kecuali yang diberikan oleh bukan
Wajib Pajak, Wajib Pajak yang dikenakan pajak secara final atau Wajib
Pajak yang 1nenggunakan nor1na penghitungan khusus (deemed
profit) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 UU PPh.
5. Pembayaran dari perusahaan asuransi kepada orang pribadi sehubungan
dengan asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan, asuransi jiwa, asuransi
dwiguna, dan asuransi beasiswa
6. Dividen atau bagian laba yang diterima atau diperoleh perseroan terbatas
sebagai Wajib Pajak dalam negeri, koperasi, Badan Usaha Milik
Negara, atau Badan Usaha Milik Daerah, dari penyertaan 1nodal pada
badan usaha yang didirikan dan bertempat kedudukan di Indonesia
dengan syarat:
3.14 PERPAJAKAN e

a.
Dividen berasal dari cadangan laba yang ditahan; dan
Bagi perseroan terbatas, Badan Usaha Milik Negara dan Badan
b.
Usaha Milik Daerah yang menerima dividen, kepemilikan saham
pada badan yang memberikan dividen paling rendah 25%
dari jumlah modal yang disetor
Yang dimaksud dengan BUMN dan BUMD antara lain, adalah
perusahaan perseroan (Persero), bank pemerintah, dan bank
pembangunan daerah. Perlu ditegaskan bahwa dalam hal penerima
dividen atau bagian laba adalah Wajib Pajak selain badan-badan tersebut
di atas, seperti orang pribadi baik dalam negeri maupun luar negeri,
firma, perseroan komanditer, yayasan dan organisasi sejenis dan
sebagainya, penghasilan berupa dividen atau bagian laba tersebut tetap
merupakan objek pajak
7. Juran yang diterima atau diperoleh dana pensiun yang pendiriannya telah
disahkan Menteri Keuangan, baik yang dibayar oleh pemberi kerja
.
maupun pegawa1
8. Penghasilan dari modal yang ditanamkan oleh dana pensiun dalam
bidang-bidang tertentu yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri
Keuangan sebagaimana tersebut dala1n angka 7 di atas, pengecualian
sebagai Objek Pajak berdasarkan ketentuan ini hanya berlaku bagi dana
pensiun yang pendiriannya telah mendapat pengesahan dari Menteri
Keuangan. Yang dikecualikan dari Objek Pajak dalam hal ini adalah
penghasilan dari modal yang ditanamkan di bidang-bidang tertentu
berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan. Penana1nan modal oleh dana
pensiun dimaksudkan untuk pengembangan dan merupakan dana untuk
pembayaran kembali kepada peserta pensiun di kemudian hari, sehingga
penanaman modal tersebut perlu diarahkan pada bidang-bidang yang
tidak bersifat spekulatif atau yang berisiko tinggi. Oleh karena itu
penentuan bidang-bidang tertentu diinaksud ditetapkan dengan
Keputusan Menteri Keuangan
9. Bagi an laba yang diterima atau diperoleh anggota dari perseroan
komanditer yang modalnya tidak terbagi atas saham-saham, persekutuan,
perkumpulan, fir1na, dan kongsi, ter1nasuk pemegang unit penyertaan
kontrak investasi kolektif
10. Penghasilan yang diterima atau diperoleh perusahaan modal ventura
berupa bagian laba dari badan pasangan usaha yang didirikan dan
• EKSl4206/MDDUL 3 3.15

menjalankan usaha atau kegiatan di Indonesia, dengan syarat badan


pasangan usaha tersebut:
a. Merupakan perusahaan mikro, kecil, menengah, atau yang
menjalankan kegiatan dalam sektor-sektor usaha yang diatur dengan
atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan; dan
b. Saha1nnya tidak diperdagangkan di bursa efek di Indonesia
11. Beasiswa yang memenuhi persyaratan tertentu yang ketentuannya diatur
lebih lanjut dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan yaitu:
a. Diterima atau diperoleh Warga Negara Indonesia dari Wajib Pajak
pemberi beasiswa dalam rangka mengikuti pendidikan
formal/nonformal yang terstruktur baik di dalam negeri maupun luar
negen
b. T idak mempunyai hubungan istimewa dengan pemilik, komisaris,
direksi atau pengurus dari wajib pajak pemberi beasiswa
c. Komponen beasiswa terdiri dari biaya pendidikan yang dibayarkan
ke sekolah, biaya ujian, biaya penelitian yang berkaitan dengan
bidang studi yang diambil, biaya untuk pembelian buku, dan/atau
biaya hidup yang wajar sesuai dengan daerah lokasi tempat belajar
12. Sisa lebih yang diterima atau diperoleh badan atau lembaga nirlaba yang
bergerak dalam bidang pendidikan dan/atau bidang penelitian dan
pengembangan, yang telah terdaftar pada instansi yang membidanginya,
yang ditanamkan kembali dalam bentuk sarana dan prasarana kegiatan
pendidikan dan/atau penelitian dan pengembangan, dalam jangka waktu
paling lama empat tahun sejak diperolehnya sisa lebih tersebut, yang
ketentuannya diatur lebih lanjut dengan atau berdasarkan Peraturan
Menteri Keuangan
13. Bantuan atau santunan yang dibayarkan oleh Badan Penyelenggara
Jaminan Sosial kepada Wajib Pajak tertentu, yang ketentuannya diatur
lebih lanjut dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan.

3. Objek Pajak Bentuk Usaha Tetap


Yang menjadi Objek Pajak Bentuk Usaha Tetap adalah:
a. Penghasilan dari usaha atau kegiatan Bentuk Usaha Tetap tersebut
dan dari harta yang dimiliki atau dikuasai
b. Penghasilan kantor pusat dari usaha atau kegiatan, penjualan barang,
atau pemberian jasa di Indonesia yang sejenis dengan yang
3.16 PERPAJAKAN e

dijalankan atau yang dilakukan oleh Bentuk Usaha Tetap di


Indonesia
c. Penghasilan sebagaimana tersebut dalam Pasal 26 UU PPh yang
diterima atau diperoleh kantor pusat, sepanjang terdapat hubungan
efektif antara Bentuk Usaha Tetap dengan harta atau kegiatan yang
1nemberikan penghasilan dimaksud.

4. Penentuan Besarnya Laba Bentuk Usaha Tetap


Dalam menentukan besarnya laba suatu Bentuk Usaha Tetap terdapat
beberapa biaya atau pembayaran yang menjadi perhatian, yaitu:
a. Biaya administrasi kantor pusat yang diperbolehkan untuk dibebankan
adalah biaya yang berkaitan dengan usaha atau kegiatan Bentuk Usaha
Tetap, yang besarnya ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pajak
b. Pembayaran kepada kantor pusat yang tidak dapat dibebankan sebagai
biaya adalah:
I) Royal ti atau imbalan lainnya sehubungan dengan penggunaan harta,
paten, atau hak-hak lainnya
2) Imbalan sehubungan dengan jasa manajemen dan jasa lainnya
3) Bunga, kecuali bunga yang berkenaan dengan usaha perbankan
c. Pembayaran sebagaimana tersebut pada angka 2 yang diterima atau
diperoleh dari kantor pusat tidak dianggap sebagai Objek Pajak, kecuali
bunga yang berkenaan dengan usaha perbankan.

~,
- -~
---=-----
L AT IH AN

Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas,


kerjakanlah latihan berikut!

1) Sebutkan dan jelaskan Subjek Pajak yang dikecualikan sebagai Subjek


Pajak Penghasilan?
2) Jelaskan secara singkat Obj ek Pajak menurut UU No. 36 tahun 2008
tentang pajak penghasilan?
3) Jelaskan apa yang dimaksud dengan pajak penghasilan yang bersifat
fmal?
• EKSl4206/MDDUL 3 3.17

Petunjuk Jawaban Latihan

1) Yang tidak termasuk subjek pajak dalam Pasal 2 Undang-Undang


Nomor 36 Tahun 2008 adalah:
a) Kantor perwakilan negara asing
b) Pejabat-pejabat perwakilan diplomatik dan konsulat atau pejabat-
pejabat lain dari negara asing dan orang-orang yang diperbantukan
kepada mereka yang bekerja pada dan bertempat tinggal bersama--
sama mereka dengan syarat bukan warga negara Indonesia dan
di Indonesia tidak menerima atau memperoleh penghasilan di luar
jabatan atau pekerjaannya tersebut serta negara bersangkutan
memberikan perlakuan timbal balik
c) Organisasi-organisasi intemasional dengan syarat Indonesia menjadi
anggota organisasi tersebut dan tidak menjalankan usaha atau
kegiatan lain untuk memperoleh penghasilan dari Indonesia selain
memberikan pinjaman kepada pemerintah yang dananya berasal dari
iuran para anggota
d) Pejabat-pejabat perwakilan organisasi intemasional sebagain1ana
di1naksud pada butir 3, dengan syarat bukan warga negara Indonesia
dan tidak menjalankan usaha, kegiatan, atau pekerjaan lain untuk
memperoleh penghasilan dari Indonesia
2) Objek pajak adalah penghasilan, yaitu setiap tambaban kemampuan
ekonomis yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak, baik yang
berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia, yang dapat
dipakai untuk konsumsi atau untuk menambab kekayaan Wajib Pajak
yang bersangkutan., dengan nama dan dalam bentuk apa pun
3) Pajak penghasilan bersifat final adalah pajak penghasilan yang tidak
dapat dikreditkan (dikurangkan) dari total pajak penghasilan terutang
pada akhir tahun pajak.

-a RANG KUMAN_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ __

Pajak penghasilan adalah pajak yang dikenakan terhadap subjek


pajak atas penghasilan yang diterima atau diperolehnya dalam tahun
pajak.
Subjek Pajak Penghasilan meliputi orang pribadi, warisan yang
belum terbagi sebagai satu [Link] menggantikan yang berhak, badan
dan Bentuk Usaha Tetap.
3.18 PERP AJAKAN e

Objek pajak adalah penghasilan, yaitu setiap tambahan kemampuan


ekonomis yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak, baik yang
berasal dari Indonesia maupun dari luar Indonesia, yang dapat
dipakai untuk konsumsi atau untuk menambah kekayaan Wajib Pajak
yang bersangkutan, dengan nama dan dalam bentuk apa pun

~ I TES FDR MAT IF 1_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ __

Pilihlah satu jawaban yang paling tepat!

1) Yang tidak termasuk Subjek Pajak menurut Undang-Undang No 36


Tahun 2008 adalah . ...
A. Orang pribadi
B . Warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan 1nenggantikan
yang berhak
C. Badan
D. WHO

2) Yang tidak termasuk Objek Pajak PPh adalah .....


A. Hadiah dari undian atau pekerjaan atau kegiatan, dan penghargaan
B. Harta termasuk setoran tunai yang diterima oleh badan sebagai
pengganti saham atau sebagai pengganti penyertaan modal
C. Laba usaha
D . Penghasilan dari usaha berbasis syariah

3) Badan yang tidak didirikan dan tidak berte1npat kedudukan di Indonesia


untuk menjalankan usaha atau melakukan kegiatan di Indonesia, yang
dapat berupa kantor perwakilan tennasuk . ...
A. Bentuk Usaha Tetap
B. Organisasi Nirlaba
C. Bentuk Usaha Tidak Tetap
D. WWF

4) Pajak penghasilan yang tidak dapat dikreditkan (dikurangkan) dari total


pajak penghasilan terutang pada akhir tahun pajak adalah .. ...
A. Pajak Penghasilan Bersifat Tidak Final
B. Pajak Penghasilan Bersifat Final
C. Pajak Penghasilan Pasal 21 Tidak Final
D. Pajak Penghasilan Pasal 23
• EKSl4206/MDDUL 3 3.19

5) Pajak penghasilan bersifat final adalab pajak penghasilan yang tidak


dapat dikreditkan (dikurangkan) dari ....
A. total pajak penghasilan terutang pada akhir tahun pajak
B. kemampuan ekonomis yang diperoleh Wajib Pajak
C. Bentuk Usaha Tetap di Indonesia
D. Penghasilan yang diterima atau diperoleh perusahaan modal ventura

Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 1 yang


terdapat di bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar.
Kemudian, gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan
Anda terhadap materi Kegiatan Belajar 1.

Jumlah Jawaban yang Benar


Tingkat penguasaan = - - - - - - - - - - x 100%
Jumlah Soal

Arti tingkat penguasaan: 90 - 100% = baik sekali


80 - 89% - baik
70 - 79% - cukup
< 70% - kurang

Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat


meneruskan dengan Kegiatan Belajar Selanjutnya. Bagus! Jika masih di
bawah 80%, Anda hams mengulangi materi Kegiatan Belajar 1, terutama
bagian yang belum dikuasai.
3.20 P ERPAJAKAN e

KEGIATAN BELAJAR 2

Penghitungan Penghasilan Kena Pajak


dan Tarif Pajak

A. PENGHITUNGAN PENGHASILAN KENA PAJAK

Besamya Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib Pajak dalam negeri dan
Bentuk Usaha Tetap, ditentukan berdasarkan penghasilan bruto dikurangi
biaya untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan, termasuk:

1. Biaya yang secara langsung atau tidak langsung berkaitan dengan


kegiatan usaha, antara lain:
a. Biaya pembelian bahan
b. Biaya berkenaan dengan pekerjaan atau jasa termasuk upah, gaji,
honorarium, bonus, gratifikasi, dan tunjangan yang diberikan dalam
bentuk uang
c. Bunga, sewa, dan royalti
d. Biaya perjalanan
e. Biaya pengolahan limbah
f. Premi asuransi
g. Biaya promosi dan penjualan yang diatur dengan atau berdasarkan
Peraturan Menteri Keuangan
h. Biaya administrasi; dan
1. Pajak kecuali Pajak Penghasilan
Pajak-pajak yang menjadi beban perusahaan dalam rangka usahanya
selain Pajak Penghasilan, misalnya Pajak Bumi dan Bangunan
(PBB), Bea Meterai (BM), Pajak Hotel, dan Pajak Restoran, dapat
dibebankan sebagai biaya

Untuk dapat dibebankan sebagai biaya, pengeluaran-pengeluaran


tersebut harus mempunyai hubungan langsung maupun tidak langsung
dengan kegiatan usaha atau kegiatan untuk mendapatkan, menagih, dan
memelihara penghasilan yang merupakan objek pajak.
• EKSl4206/MDDUL 3 3.21

Dengan demikian, pengeluaran-pengeluaran untuk .mendapatkan,


menagih, dan memelihara penghasilan yang bukan merupakan objek
pajak tidak boleh dibebankan sebagai biaya.

Contoh:
Dana Pensiun A yang pendiriannya telah mendapat pengesahan dari
Menteri Keuangan memperoleh penghasilan bruto yang terdiri dari:

Penghasilan yang bukan merupakan objek pajak Rp 100.000.000


Penghasilan bruto lainnya Rp 300.000.000 (+)
Jumlah penghasilan bruto Rp 400.000.000

Apabila seluruh biaya adalah sebesar Rp200.000.000, biaya yang boleh


dikurangkan untuk 1nendapatkan, menagih dan memelihara penghasilan
adalah sebesar 3/4 x Rp200.000.000 = Rp150.000.000.

Demikian pula bunga atas pinj aman yang dipergunakan untuk membeli
saham tidak dapat dibebankan sebagai biaya sepanjang dividen yang
diterimanya tidak 1nerupakan objek pajak. Bunga pinjaman yang tidak
boleh dibiayakan tersebut dapat dikapitalisasi sebagai penambah harga
perolehan saham.

Pengeluaran-pengeluaran yang tidak ada hubungannya dengan upaya


untuk mendapatkan, 1nenagih, dan memelihara penghasilan, misalnya
pengeluaran-pengeluaran untuk keperluan pribadi pemegang saham,
pembayaran bunga atas pinjaman yang dipergunakan untuk keperluan
pribadi peminjam serta pembayaran premi asuransi untuk kepentingan
pribadi, tidak boleh dibebankan sebagai biaya.

2. Penyusutan atas pengeluaran untuk memperoleh harta berwujud dan


amortisasi atas pengeluaran untuk memperoleh hak dan atas biaya lain
yang mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun.
Pengeluaran-pengeluaran untuk memperoleh harta berwujud dan harta
tak berwujud serta pengeluaran lain yang mempunyai masa manfaat
lebih dari satu tahun, pembebanannya dilakukan melalui penyusutan atau
amortisasi. Pengeluaran yang menurut sifatnya merupakan pe1nbayaran
3.22 PERPAJAKAN e

di muka, misalnya sewa untuk beberapa tahun yang dibayar sekaligus,


pembebanannya dapat dilakukan melalui alokasi.

3. Iuran kepada dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh


Menteri Keuangan.

4. Kerugian karena penjualan atau pengalihan harta yang dimiliki dan


digunakan dalam perusahaan atau yang dimiliki untuk mendapatkan,
menagih, dan memelihara penghasilan.

5. Kerugian selisih kurs mata uang asing

6. Biaya penelitian dan pengembangan perusahaan yang dilakukan di


Indonesia.

7. Biaya beasiswa, 1nagang, dan pelatihan

8. Piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih dengan syarat:


a. Telah dibebankan sebagai biaya dalam laporan laba rugi komersial
b. Wajib Pajak harus menyerahkan daftar piutang yang tidak dapat
ditagih kepada Direktorat Jenderal Pajak; dan
c. Telah diserahkan perkara penagibannya kepada Pengadilan Negeri
atau instansi pemerintah yang 1nenangani piutang negara; atau
adanya perjanjian tertulis mengenai penghapusan piutang/
pembebasan utang antara kreditor dan debitor yang bersangkutan;
atau telah dipublikasikan dalam penerbitan umum atau khusus; atau
adanya pengakuan dari debitor bahwa utangnya telah dihapuskan
untuk j umlah utang tertentu
d. Syarat sebagaimana dimaksud pada huruf c di atas tidak berlaku
untuk penghapusan piutang tak tertagih debitor kecil

9. Sumbangan dalam rangka penanggulangan bencana nasional yang


ketentuannya diatur dengan Peraturan Pemerintah

10. Sumbangan dalam rangka penelitian dan pengembangan yang dilakukan


di Indonesia yang ketentuannya diatur dengan Peraturan P emerintah
• EKSl4206/MDDUL 3 3.23

11. Biaya pembangunan infrastruktur sosial yang ketentuannya diatur


dengan Peraturan Pemerintah

12. Sumbangan fasilitas pendidikan yang ketentuannya diatur dengan


Peraturan Pemerintah; dan

13. Sumbangan dala1n rangka pembinaan olahraga yang ketentuannya diatur


dengan Peraturan Pemerintah.

Apabila penghasilan bruto setelah pengurangan didapat kerugian,


kerugian tersebut dikompensasikan dengan penghasilan mulai tahun pajak
berikutnya berturut-turut sampai dengan lima tahun.
Jika pengeluaran-pengeluaran yang diperkenankan setelah dikurangkan
dari penghasilan bruto didapat kerugian, kerugian tersebut dikompensasikan
dengan penghasilan neto atau laba fiskal selama lima tahun berturut-turut
dimulai sejak tahun berikutnya sesudah tahun didapatnya kerugian tersebut.

1. Penghasilan Tidak Kena Pajak


Dalam menghitung Penghasilan Kena Pajak Wajib Pajak Orang Pribadi
dalam negeri, kepadanya diberikan pengurangan berupa Penghasilan Tidak
Kena Pajak (PTKP) berdasarkan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 7 UU PPh dan Peraturan Menteri keuangan Nomor
101/PMK.010/2016. Penghas ilan Tidak Kena Pajak per tahun diberikan
paling sedikit sebesar:

Keteran2an PTKP
untuk diri Wajib Pajak Orang Pribadi 54.000.000
tambahan untuk Wajib Pajak yang kawin 4.500.000
ta1nbahan untuk seorang isteri yang penghasilannya 54.000.000
digabung dengan penghasilan sua1ni
tambahan untuk setiap anggota keluarga sedarah dan 4.500.000
keluarga semenda dalam garis keturunan lurus serta anak
angkat, yang menjadi tanggungan sepenuhnya, paling
banyak tiga orang untuk setiap keluarga

Untuk menghitung besamya Penghasilan Kena Pajak dari Wajib Pajak


Orang Pribadi dalam negeri, penghasilan netonya dikurangi dengan jumlab
3.24 PERPAJAKAN e

Penghasilan Tidak Kena Pajak. Di samping untuk dirinya, kepada Wajib


Pajak yang sudah kawin diberikan tambahan Penghasilan Tidak Kena Pajak.
Wajib Pajak yang mempunyai anggota keluarga sedarah dan semenda
dalam garis keturunan lurus yang menjadi tanggungan sepenuhnya, misalnya
orang tua, mertua, anak kandung, atau anak angkat diberikan tambahan
Penghasilan Tidak Kena Pajak untuk paling banyak tiga orang. Yang
dimaksud dengan anggota keluarga yang 1nenjadi tanggungan sepenuhnya
adalah anggota keluarga yang tidak mempunyai penghasilan dan seluruh
biaya hidupnya ditanggung oleh Wajib Pajak.

Seluruh penghasilan atau kerugian bagi wanita yang telah kawin pada
awal tahun pajak atau pada awal bagian tahun pajak, begitu pula kerugiannya
yang berasal dari tahun-tahun sebelurnnya yang belum dikompensasikan
dianggap sebagai penghasilan atau kerugian suaminya, kecuali penghasilan
tersebut semata-mata diterima atau diperoleh dari satu pemberi kerja yang
telah dipotong pajak berdasarkan ketentuan Pasal 21 UU PPh dan pekerjaan
tersebut tidak ada hubungannya dengan usaha atau pekerjaan bebas suami
atau anggota keluarga lainnya. Penghasilan suarni-isteri dikenai pajak secara
terpisah apabila:
a. Suami-isteri telah hidup berpisah berdasarkan putusan haki1n
b. Dikehendaki secara tertulis oleh suami-isteri berdasarkan perjanjian
pemisahan harta dan penghasilan; atau
c. Dikehendaki oleh isteri yang memilih untuk menjalankan hak dan
kewajiban perpajakannya sendiri

Sistem pengenaan pajak berdasarkan Undang-Undang Pajak Penghasilan


menempatkan keluarga sebagai satu kesatuan ekonomis, artinya penghasilan
atau kerugian dari seluruh anggota keluarga digabungkan sebagai satu
kesatuan yang dikenai pajak dan pe1nenuhan kewajiban pajaknya dilakukan
oleh kepala keluarga.
Penghasilan atau kerugian bagi wanita yang telah kawin pada awal tahun
pajak atau pada awal bagian tahun pajak dianggap sebagai penghasilan atau
kerugian suaminya dan dikenai Pajak sebagai satu kesatuan. Penggabungan
tersebut tidak dilakukan dalam hal penghasilan isteri diperoleh dari pekerjaan
sebagai pegawai yang telah dipotong pajak oleh pemberi kerja, dengan
ketentuan bahwa:
• EKSl4206/MDDUL 3 3.25

a. Penghasilan isteri tersebut semata-mata diperoleh dari satu pemberi


kerja, dan
b. Penghasilan isteri tersebut berasal dari pekerjaan yang tidak ada
hubungannya dengan usaha atau pekerjaan bebas suami atau anggota
keluarga lainnya.

Dalam hal suami-isteri telah hidup berpisah berdasarkan keputusan


hakim, penghitungan Penghasilan Kena Pajak dan pengenaan pajaknya
dilakukan sendiri-sendiri. Apabila suami-isteri mengadakan perjanjian
pemisahan harta dan penghasilan secara tertulis atau j ika isteri menghendaki
untuk menjalankan hak dan kewajiban perpajakannya sendiri, penghitungan
pajaknya dilakukan berdasarkan penjumlahan penghasilan neto suami-isteri
dan masing-masing memikul beban pajak sebanding dengan besarnya
penghasilan neto.
Penghasilan anak yang belum dewasa dari mana pun sumber
penghasilannya dan apa pun sifat pekerj aannya digabung dengan penghasilan
orang tuanya dalam tahun pajak yang sama. Yang dimaksud dengan anak
yang belum dewasa adalah anak yang belum berumur 18 tahun dan belum
pernah menikah. Apabila seorang anak belum dewasa, yang orang tuanya
telah berpisah, menerima atau memperoleh penghasilan, pengenaan pajaknya
digabungkan dengan penghasilan ayah atau ibunya berdasarkan keadaan
sebenamya.

2. Biaya yang tidak boleh dikurangkan


Pengeluaran-pengeluaran yang dilakukan Wajib Pajak dapat dibedakan
antara pengeluaran yang boleh dan yang tidak boleh dibebankan sebagai
biaya. Pada prinsipnya biaya yang boleh dikurangkan dari penghasilan bruto
adalah biaya yang mempunyai hubungan langsung dan tidak langsung
dengan usaha atau kegiatan untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara
penghasilan yang merupakan objek pajak yang pembebanannya dapat
dilakukan dala1n tahun penge]uaran atau selama masa manfaat dari
pengeluaran tersebut. Pengeluaran yang tidak boleh dikurangkan dari
penghasilan bruto meliputi pengeluaran yang sifatnya pemakaian penghasilan
atau yang jumlahnya melebihi kewajaran. Untuk menentukan besarnya
Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib Pajak dalam negeri dan Bentuk Usaha
Tetap tidak boleh dikurangkan:
3.26 PERPAJAKAN e

a. Pembagian laba dengan nama dan dalam bentuk apa pun seperti dividen,
termasuk dividen yang dibayarkan oleh perusahaan asuransi kepada
pemegang polis, dan pembagian sisa basil usaha koperasi. Pembagian
laba tersebut merupakan bagian dari penghasilan badan tersebut yang
akan dikenai pajak berdasarkan Undang-Undang Pajak Penghasilan.
b. Biaya yang dibebankan atau dikeluarkan untuk kepentingan pribadi
pemegang saham, sekutu, atau anggota
c. Pembentukan atau pemupukan dana cadangan, kecuali:
1) Cadangan piutang tak tertagih untuk usaha bank dan badan usaha
lain yang menyalurkan kredit, sewa guna usaha dengan hak opsi,
perusahaan pembiayaan konsumen, dan perusahaan anjak piutang
2) Cadangan untuk usaha asuransi termasuk cadangan bantuan sosial
yang dibentuk oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial
3) Cadangan penjaminan untuk Lembaga Penjamin Simpanan
4) Cadangan biaya reklamasi untuk usaha pertambangan
5) Cadangan biaya penana1nan ke1nbali untuk usaha kehutanan; dan
6) Cadangan biaya penutupan dan pemeliharaan tempat pembuangan
Iimbah industri untuk usaha pengolahan limbab industri, yang
ketentuan dan syarat-syaratnya diatur dengan atau berdasarkan
Peraturan Menteri Keuangan
d. Premi asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan, asuransi jiwa, asuransi
dwiguna, dan asuransi beasiswa, yang dibayar oleh Wajib Pajak Orang
Pribadi, kecuali jika dibayar oleh pemberi kerja dan premi tersebut
dihitung sebagai penghasilan bagi Wajib Pajak yang bersangkutan
Apabila premi asuransi tersebut dibayar atau ditanggung oleh pemberi
kerja, maka bagi pemberi kerja pembayaran tersebut boleh dibebankan
sebagai biaya dan bagi pegawai yang bersangkutan merupakan
penghasilan yang merupakan Objek Pajak
e. Penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang
diberikan dalam bentuk natura dan kenikmatan, kecuali penyediaan
makanan dan minuman bagi se1uruh pegawai serta penggantian atau
imbalan dalam bentuk natura dan kenikmatan di daerah tertentu dan
yang berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan yang diatur dengan atau
berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan.
Sebagaimana telah diuraikan dalam penjelasan Pasal 4 ayat (3) huruf d
UU PPh, penggantian atau imbalan dalam bentuk natura dan kenikmatan
dianggap bukan merupakan objek pajak. Selaras dengan hal tersebut,
• EKSl4206/MDDUL 3 3.27

dalam ketentuan ini penggantian atau i1nbalan dimaksud dianggap bukan


merupakan pengeluaran yang dapat dibebankan sebagai biaya bagi
pemberi kerja. Namun, dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri
Keuangan, pemberian natura dan kenikmatan berikut ini dapat
dikurangkan dari penghasilan bruto pemberi kerja dan bukan merupakan
penghasilan pegawai yang menerimanya:
1) Penggantian atau imbalan dala1n bentuk natura a tau kenikmatan
yang diberikan berkenaan dengan pelaksanaan pekerjaan di daerah
tersebut dalam rangka menunjang kebijakan pe1nerintah untuk
mendorong pembangunan di daerah terpencil
2) Pemberian natura dan kenikmatan yang merupakan keharusan dalam
pelaksanaan pekerjaan sebagai sarana keselamatan kerja atau karena
sifat pekerjaan tersebut mengharuskannya, seperti pakaian dan
peralatan untuk keselamatan kerja, pakaian seragam petugas
keamanan (satpam), antar jemput karyawan, serta penginapan untuk
awak kapal dan yang sejenisnya; dan
3) Pemberian atau penyediaan makanan dan/atau minuman bagi
seluruh pegawai yang berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan
f. Jumlah yang melebihi kewajaran yang dibayarkan kepada pe1negang
saham atau kepada pihak yang mempunyai hubungan istimewa sebagai
imbalan sehubungan dengan pekerjaan yang dilakukan
g. Harta yang dihibahkan, bantuan atau sumbangan, dan warisan
sebagaimana di1naksud dalam Pasal 4 ayat (3) huruf a dan huruf b UU
PPh, kecuali sumbangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat ( 1)
huruf i sampai dengan huruf 1n UU PPh serta zakat yang diterima oleh
badan amil zakat atau lembaga amil zakat yang dibentuk atau disahkan
oleh pemerintah atau sumbangan keaga1naan yang sifatnya wajib bagi
pemeluk agama yang diakui di Indonesia, yang diterima oleh lembaga
keagamaan yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah, yang
ketentuannya diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Pemerintah
h. Pajak Penghasilan
Pajak Penghasilan dalam ketentuan ini adalah Pajak Penghasilan yang
terutang oleh Wajib Pajak yang bersangkutan.
i. Biaya yang dibebankan atau dikeluarkan untuk kepentingan pribadi
Wajib Pajak atau orang yang menjadi tanggungannya
J. Gaji yang dibayarkan kepada anggota persekutuan, firma, atau perseroan
komanditer yang modalnya tidak terbagi atas saham
3.28 PERPAJ AKAN e

k. Sanksi administrasi berupa bunga, denda, dan kenaikan serta sanksi


pidana berupa denda yang berkenaan dengan pelaksanaan perundang-
undangan di bidang perpajakan.

3. Penilaian Aset dalam Hal Jual Bell


Harga perolehan atau harga penjualan dalam hal terjadi jual beli aset
yang tidak dipengaruhi hubungan istimewa adalah ju1nlah yang
sesungguhnya dikeluarkan atau diterima, sedangkan apabila terdapat
hubungan istimewa adalah jumlah yang seharusnya dikeluarkan atau
diterima. Termasuk dala1n harga perolehan adalah harga beli dan biaya yang
dikeluarkan dalam rangka memperoleh aset tersebut, seperti bea masuk,
biaya pengangkutan dan biaya pemasangan.

4. Penilaian Aset dalam Hal Pertukaran Aset Nonmoneter


Nilai perolehan atau nilai penjualan dala1n hal terjadi tukar-menukar aset
adalah jumlah yang seharusnya dikeluarkan atau diteri1na berdasarkan harga
pasar.

Contoh:
PTA PTB
Keterangan
AsetX AsetY
Nilai sisa buku 10.000.000 12.000.000
Harga pasar 20.000.000 20.000.000

Antara PT Adan PT B terjadi pertukaran aset. Walaupun tidak terdapat


realisasi pembayaran antara pihak-pihak yang bersangkutan, namun karena
harga pasar aset yang dipertukarkan adalah Rp20.000.000 maka j umlah
tersebut merupakan nilai perolehan yang seharusnya dikeluarkan atau nilai
penjualan yang seharusnya diterima. Selisih antara harga pasar dengan nilai
sisa buku aset yang dipertukarkan merupakan keuntungan yang dikenakan
pajak. PT A memperoleh keuntungan sebesar Rpl0.000.000 (Rp20.000.000 -
Rpl0.000.000) dan PT B memperoleh keuntungan sebesar Rp8.000.000
(Rp20.000.000 - Rpl 2.000.000).
• EKSl4206/MDDUL 3 3.29

5. Pengalihan Aset dalam Rangka Likuidasi, Penggabungan,


Peleburan, Pemekaran, Pemecahan, atau Pengambilalihan Usaha
Nilai perolehan atau pengalihan aset yang dialihkan dalam rangka
likuidasi, penggabungan, peleburan, pemekaran, pemecahan, atau
pengambilalihan usaha adalah jumlah yang seharusnya dikeluarkan atau
diterima berdasarkan harga pasar, kecuali ditetapkan lain oleh Menteri
Keuangan. Selisih antara harga pasar dengan nilai sisa buku aset yang
dialihkan 1nerupakan penghasilan yang dikenakan pajak.

6. Pengalihan Aset dalam Hal Hibah, Bantuan dan Sumbangan


a. Dalam hal terjadi penyerahan aset karena hibah, bantuan,
sumbangan yang memenuhi syarat dalam Pasal 4 ayat (3) huruf a
UU PPh atau warisan, maka nilai perolehan bagi pihak yang
menerima aset adalah nilai sisa buku aset dari pihak yang
melakukan penyerahan. Apabila Wajib Pajak tidak
menyelenggarakan pe1nbukuan sehingga nilai sisa buku tidak
diketahui, maka nilai perolehan atas aset ditetapkan oleh Direktur
Jenderal Pajak.
b. Dalam hal terjadi penyerahan aset karena hibah, bantuan,
sumbangan yang tidak me1nenuhi syarat sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 4 ayat (3) huruf a UU PPh, maka nilai perolehan bagi
pihak yang menerima aset adalah harga pasar.

7. Pengalihan Aset Sebagai Pengganti Saham


Apabila terjadi pengalihan aset oleh badan, maka dasar penilaian aset
bagi badan yang menerima pengalihan sama dengan nilai pasar dari aset
tersebut. Penyertaan Wajib Pajak dalam permodalan suatu badan dapat
dipenuhi dengan setoran tunai atau pengalihan aset. Ketentuan ini mengatur
tentang penilaian aset yang diserahkan sebagai pengganti saham atau
penyertaan modal dimaksud, yaitu dinilai berdasarkan nilai pasar dari aset
yang dialihkan tersebut.

8. Penilaian Persediaan
Pada umumnya terdapat tiga golongan persediaan barang, yaitu barang
jadi atau barang dagangan, barang dalam proses produksi, bahan baku dan
bahan pembantu. Penilaian persediaan barang hanya boleh menggunakan
harga perolehan. Penilaian pe1nakaian persediaan untuk penghitungan harga
3.30 PERPAJAKAN e

pokok hanya boleh dilakukan dengan 1nenggunakan Metode rata-rata dan


Metode Masuk Pertama Ke luar Pertama (MPKP). Sekali Wajib Pajak
memilih salah satu metode penilaian pemakaian persediaan untuk
penghitungan harga pokok tersebut, maka untuk tahun-tahun selanjutnya
harus digunakan metode yang sama.

9. Penyusutan
Pengeluaran untuk memperoleh harta berwujud yang mempunyai masa
manfaat lebih dari 1 satu tahun harus dibebankan sebagai biaya untuk
mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan dengan cara
mengalokasikan pengeluaran tersebut selama masa manfaat harta berwujud
melalui penyusutan. Pengeluaran-pengeluaran untuk me1nperoleh tanah hak
milik, termasuk tanah berstatus hak guna bangunan, hak guna usaha, dan hak
pakai yang pertama kali tidak boleh disusutkan, kecuali apabila tanah
tersebut dipergunakan dalam perusahaan atau di1niliki untuk memperoleh
penghasilan dengan syarat nilai tanah tersebut berkurang karena
penggunaannya untuk memperoleh penghasilan, misalnya tanah
dipergunakan untuk perusahaan genteng, perusahaan keramik, atau
perusahaan batu bata.

10. Saat Dimulainya Penyusutan


Penyusutan dimulai pada bulan dilakukannya pengeluaran atau pada
bulan selesainya pengerjaan suatu aset sehingga penyusutan pada tahun
pertama dihitung secara pro-rata. Dengan persetujuan Direktur Jenderal
Pajak, Wajib Pajak diperkenankan melakukan penyusutan mulai pada bulan
aset tersebut digunakan untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara
penghasilan atau pada bulan aset yang bersangkutan mulai menghasilkan.

Contoh 1:
Pengeluaran untuk pembangunan sebuah gedung sebesar
Rp [Link]. Pembangunan dimulai pada bulan Oktober 2012 dan
selesai untuk digunakan pada bulan Maret 2013. Penyusutan atas harga
perolehan bangunan gedung tersebut dimulai pada bulan Maret tahun pajak
2013.
• EKSl4206/ MDDUL 3 3.31

Contoh 2:
Sebuah mesin yang dibeli dan ditempatkan p ada bulan Juli 2012 dengan
harga perolehan sebesar Rpl00.000.000. Masa manfaat dari mesin tersebut
adalah empat tahun. Kalau tarif penyusutan misalnya ditetapkan 50%, maka
penghitungan p enyusutannya adalah:

Tahon Tarif Penyusutan Nilai sisa Buku


Harga perolehan I 00.000.000
2009 ½ x50% 25.000.000 75.000.000
2010 50% 37 .500.000 37.500.000
2011 50% 18.750.000 18.750.000
2012 50% 9.375.000 9.375.000
2013 Disusutkan 9.375.000 0
Sekaligu s

Berdasarkan persetujuan Direktur Jenderal Pajak, saat n1ulainya


penyusutan dapat dilakukan pada bulan aset tersebut digunakan untuk
mendapatkan, 1nenagih, dan 1nemelihara penghasilan atau pada bulan aset
tersebut mulai menghasilkan. Saat mulai menghasilkan dalam ketentuan ini
dikaitkan dengan saat mulai berproduksi dan tidak dikaitkan dengan saat
diterima atau diperolehnya penghasilan.

Contoh 3:
PT X yang bergerak di bidang p erkebunan membeli traktor pada tahun
20 12 . Perkebunan tersebut 1nulai menghasilkan (panen) pada tahun 20 13.
Dengan persetujuan Direktur Jenderal Pajak, penyusutan traktor tersebut
dapat dilakukan mulai tahun 2013.

11. Metode Penyusutan


M etode p enyusutan yang dibolehkan berdasarkan ketentuan 1m
dilakukan:
a. M etode Garis Lurus/ straight-line method
Dalam bagian-bagian yang sama b esar selama masa manfaat yang
ditetapkan bagi harta tersebut (metode garis lurus); atau
3.32 P ERPAJAKAN e

b. Metode Saldo Menurun/ declining balance method


Dalam bagian-bagian yang menurun dengan cara menerapkan tarif
penyusutan atas nilai sisa buku.

Untuk menghitung penyusutan, masa manfaat dan tarif penyusutan harta


berwujud ditetapkan sebagai berikut.

Kelompok Aset Masa Tarif Penyusutan


Berwujud Manfaat Garis Lurus Saldo Menurun
I. Bukan Bangunan:
Kelompok I 4 tahun 25% 50%
Kelompok II 8 tahun 12,5% 25%
Kelo1npok III 16 tahun 6,25% 12,5°/o
KelompokIV 20 tahun 5% 10%
II. Bangunan:
Permanen 20 tahun 5% -
T idak Permanen 10 tahun 10% -

Contoh penggunaan metode garis lurus


Sebuah gedung yang harga perolehannya Rpl.000.000.000 dan masa
1nanfaatnya 20 tahun, penyusutannya setiap tahun adalah sebesar
Rp50.000.000 (Rpl.000.000.000 + 20).

Contoh penggunaan metode saldo menurun


Sebuah mesin yang dibeli dan ditempatkan pada bulan Januari 2009
dengan harga perolehan sebesar Rpl50.000.000. Masa manfaat dari mesin
tersebut adalah empat tahun. Kalau tarif penyusutan misalnya ditetapkan
50%, penghitungan penyusutannya adalah sebagai berikut.

Tahon Tarif Penyusutan Nilai sisa Buku


H arga perolehan 150.000.000
2009 50% 75.000.000 75.000.000
2010 50% 37 .500.000 37.500.000
201 1 50% 18.750.000 18.750.000
2012 Disusutkan 18.750.000 0
Sekaligus
• EKSl4206/ MDDUL 3 3.33

12. Amortisasi
Alnortisasi atas pengeluaran untuk memperoleh harta tak berwujud dan
pengeluaran lainnya termasuk biaya perpanjangan hak guna bangunan, hak
guna usaha, hak pakai, dan muhibah (goodwill) yang mempunyai masa
manfaat lebih dari satu tahun yang dipergunakan untuk mendapatkan,
menagih, dan 1ne1nelihara penghasilan dilakukan dalarn bagian-bagian yang
sama besar atau dalam bagian-bagian yang menurun selama masa manfaat,
yang dihitung dengan cara menerapkan tarif amortisasi atas pengeluaran
tersebut atau atas nilai sisa buku dan pada akhir masa manfaat diamortisasi
sekaligus dengan syarat dilakukan secara taat asas. Amortisasi dimulai pada
bulan dilakukannya pengeluaran, kecuali untuk bidang usaha tertentu yang
diatur lebih lanjut dengan Peraturan Menteri Keuangan.
Untuk menghitung amortisasi, masa manfaat dan tarif amortisasi
ditetapkan sebagai berikut.

Kelompok Aset Masa Tarif Penyusutan


Takberwuj ud Manfaat Garis Lurus Saldo Menurun
Kelompok 1 4 tahun 25% 50%
Kelo1npok 2 8 tahun 12,5% 25%
Kelompok 3 16 tahun 6,25% 12,5%
Kelompok4 20 tahun 5% 10%

B. TARIF PAJAK

Berdasarkan Pasal 17 ayat (1) Undang-Undang Pajak Penghasilan,


besarnya tarif pajak penghasilan yang diterapkan atas penghasilan kena pajak
bagi Wajib Pajak dibagi menjadi dua, yakni Wajib Pajak Orang Pribadi
dalam negeri dan Wajib Pajak dalam negeri Badan dan Bentuk Usaha Tetap.

1. Tarif Pajak untuk W aj ib Pajak Orang Pribadi dalam negeri

Lapisan Pen2hasilan Kena Pa_jak Tarif Pa_jak


sampai dengan Rp50.000.000 5%
di atas Rp50.000.000 s.d. Rp250.000.000 15%
di atas Rp250.000.000 s.d. Rp500.000.000 25%
di atas Rp500.000.000 30%
3.34 P ERPAJAKAN e

Contoh:
Penghitungan pajak yang terutang untuk Wajib Pajak Orang Pribadi:

Jumlah Penghasilan Kena Pajak Rp 600. 000. 000


Pajak Penghasilan yang terutang:
5% x Rp50.000.000 Rp 2.500.000
15% x Rp200.000.000 Rp 30.000.000
25% x Rp250.000.000 Rp 62.500.000
30% x Rpl00.000.000 R2 30.000.000 (+)
Rp 125.000.000

Besamya pajak yang terutang bagi Wajib Pajak Orang Pribadi dalam
negeri yang terutang pajak dalam bagian tahun pajak, dihitung sebanyak
jumlah hari dalam bagian tahun pajak tersebut dibagi 360 dikalikan
dengan pajak yang terutang untuk satu tahun pajak. Tiap bulan yang
penuh dihitung 30 hari.

Contoh:
Penghasilan Kena Pajak setahun Rp 584. 160.000
Pajak Penghasilan setahun:
5% x Rp 50.000.000 Rp 2.500.000
15% x Rp 200.000.000 Rp 30.000.000
25% x Rp250.000.000 Rp 62.500.000
30%x Rp 84.160.000 R2 25.248.000 (+)
Rp 120.248.000

Pajak Penghasilan yang terutang dalam bagian tahun Pajak (3 bulan):


((3 x 30) + 360) x Rp 120.248.000 = Rp 30.062.000
2. Tarif Pajak untuk Wajib Pajak Badan dalam negeri dan Bentuk Usaha
Tetap adalah sebesar 28%. Tarif tersebut menjadi 25% yang mulai
berlaku sejak tahun pajak 2010
Contoh: Penghitungan pajak yang terutang untuk Wajib Pajak Badan
dala1n negeri dan Bentuk Usaha Tetap

Jumlah Penghasilan Kena Pajak Rp [Link]


Pajak Penghasilan yang terutang:
25% x Rp l .250.000.000 Rp 3 12.500.000
• EKSl4206/ MDDUL 3 3.35

3. Penurunan tarif sebesar 5% lebih rendab dari tarifnormal apabila:


a. Wajib pajak 1nerupakan Wajib Pajak dala1n negeri berbentuk
perseroan terbuka dengan kepemilikan saham publiknya 40% atau
lebih dari keseluruhan saham yang disetor, dan saham tersebut
dimiliki paling sedikit 300 pihak
b. Masing-masing pihak pemilik saham hanya boleh memiliki kurang
dari 5% dari keseluruhan saham yang disetor
c. Kondisi pada huruf a dan b tersebut harus terpenuhi paling singkat
enam bulan (183 hari kalender) dalam jangka waktu satu tahun
pajak.

Contoh:
PT Perkasa merupakan perseroan terbuka yang memenuhi kriteria
sebagai Wajib Pajak yang rnendapatkan penurunan tarif sesuai Peraturan
Pemerintah. Penghitungan Pajak Penghasilan yang terutang dari PT
Perkasa adalah:

JumJah Penghasilan Kena Pajak Rp [Link]


Pajak Penghasilan yang terutang:
20% x Rp [Link] Rp 250.000.000

4. Fasilitas berupa pengurangan tarif sebesar 50% dari 25% yang dikenakan
atas Penghasilan Kena Pajak dari bagian peredaran bruto sarnpai dengan
Rp4.800.000.000 dapat dinikmati oleh Wajib Pajak Badan dalam negeri
dengan peredaran bruto sampai dengan Rp50.000.000.000.

Contoh:
Peredaran bruto PT Mandiri dalam Tahun Pajak 2012 sebesar
Rp30.000.000.000 dengan Penghasilan Kena Pajak sebesar
Rp3.000.000.000.

Penghitungan Pajak Penghasilan yang terutang PT Mandiri adalah:


Jumlah Penghasilan Kena Pajak dari bagian peredaran bruto yang
memperoleh fasilitas:
(Rp4.800.000.000 Rp30.000.000.000) x Rp3.000.000.000 -
Rp480.000.000
3.36 PERPAJ AKAN e

Jumlah Penghasilan Kena Pajak dari bagian peredaran bruto yang tidak
n1emperoleh fasilitas:
Rp3.000.000.000 - Rp480.000.000 = Rp [Link]
Pajak Penghasilan yang terutang:
(50% x 25%) x Rp480.000.000 Rp 60.000.000
25% x Rp2.520.000.000 Rp 630.000.000 (+)
Ju1nlah Pajak Penghasilan yang terutang Rp 690.000.000

Penghasilan Kena Pajak dan PPh yang Terutang


Penghasilan Kena Pajak sebagai dasar penerapan tarif bagi Wajib Pajak
dalam negeri dalam suatu tahun pajak dihitung dengan cara mengurangkan
dari penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) dengan
pengurangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (I) dan ayat (2),
Pasal 7 ayat (1), serta Pasal 9 ayat (1) huruf c, huruf d, huruf e, dan huruf g
UU PPh. Rincian pasal-pasal ini sebagai berikut.
a. Pasal 4 ayat (2) penghasilan yang termasuk objek pajak
b. Pasal 6 ayat (1) biaya untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara
penghasilan
c. Pasal 6 ayat (2) kompensasi kerugian
d. Pasal 7 ayat (1) Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP)
e. Pasal 9 ayat 1 biaya yang tidak diperkenankan sebagai objek pajak: huruf
c pembentukan dan pemupukan dana cadangan, huruf d premi asuransi
kesehatan, asuransi kecelakaan, asuransi jiwa, asuransi dwiguna, dan
asuransi beasiswa, yang dibayar oleh Wajib Pajak Orang Pribadi, kecuali
jika dibayar oleh pemberi kerja dan premi tersebut dihitung sebagai
penghasilan bagi Wajib Pajak yang bersangkutan, huruf e penggantian
atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang diberikan
dalam bentuk natura dan kenikmatan, kecuali penyediaan makanan dan
minuman bagi seluruh pegawai serta penggantian atau imbalan dalam
bentuk natura dan kenikmatan di daerah tertentu dan yang berkaitan
dengan pelaksanaan pekerjaan, huruf g harta yang dihibahkan, bantuan
atau sumbangan, dan warisan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat
(3) huruf a dan huruf b, kecuali su1nbangan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 6 ayat ( 1) huruf i sampai dengan huruf 1n serta zakat yang
diterima oleh badan amil zakat atau lembaga amil zakat yang dibentuk
atau disahkan oleh pemerintah atau sumbangan keagamaan yang sifatnya
wajib bagi pe1neluk agama yang diakui di Indonesia, yang diterima oleh
• EKSl4206/MDDUL 3 3.37

lembaga keagamaan yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah, yang


ketentuannya diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Pemerintah.

~,
- _,..,,.
---=--=-
LATIHAN

Untuk memperdalam pemahaman Anda mengenai materi di atas,


kerj akanlah latihan berikut !

l) Sebutkan dan j elaskan metode penyusutan yang diperkenankan dalam


UU Pajak Penghasilan?
2) Sebutkan biaya yang tidak dapat dikurangkan dalam menentukan
besarnya Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib Pajak dalam negeri dan
Bentuk Usaha Tetap?
3) Lengkapi tabel penghitungan PTKP setahun dalam beberapa status
Wajib Pajak, berikut ini.

Tambahan
Tambahan Total
Keterangan WP WP yang
Tanggungan PTKP
Kawin
Laki-laki (Kl-) 54.000.000 4.500.000 0 58.500.000
Laki-laki (Kl 1)
Laki-laki (K/2)
Laki-laki (K/3)

Petunjuk Jawaban Latihan

1) Metode penyusutan yang diperkenankan dalam UU Pajak Penghasilan


adalah:
a) Metode Garis Lurus
Dalam bagian-bagian yang sama besar selama masa manfaat yang
ditetapkan bagi harta tersebut
b) Metode Saldo M enurun
Dalam bagian-bagian yang menurun dengan cara menerapkan tarif
penyusutan atas nilai sisa buku
2) Biaya yang tidak boleh dikurangkan dalam menentukan besarnya
Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib Pajak dalam negeri dan Bentuk
Usaha Tetap adalah:
3.38 PERPAJAKAN e

a)
Pembagian laba dengan nama dan dalam bentuk apa pun seperti
dividen, termasuk dividen yang dibayarkan oleh perusahaan asuransi
kepada pemegang polis, dan pembagian sisa hasil usaha koperasi.
b) Biaya yang dibebankan atau dikeluarkan untuk kepentingan pribadi
pemegang saham, sekutu, atau anggota
c) Pembentukan atau pemupukan dana cadangan:
d) Premi asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan, asurans1 JIWa,
asuransi dwiguna, dan asuransi beasiswa, yang dibayar oleh Wajib
Pajak Orang Pribadi, kecuali jika dibayar oleh pemberi kerja dan
premi terse but dihitung sebagai penghasilan bagi Waj ib Pajak yang
bersangkutan
e) Penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa
yang diberikan oleh wajib pajak dalam bentuk natura dan
kenikmatan.
f) Jumlah yang melebihi kewajaran yang dibayarkan kepada pemegang
saha1n atau kepada pihak yang mempunyai hubungan istimewa
sebagai imbalan sehubungan dengan pekerjaan yang dilakukan
g) Harta yang dihibahkan, bantuan atau sumbangan, dan warisan
sebagai1nana dimaksud dala1n Pasal 4 ayat (3) huruf a dan huruf b
UU PPh serta zakat yang diterima oleh badan amil zakat atau
lembaga amil zakat yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah
h) Pajak Penghasilan yang terutang oleh Wajib Pajak yang
bersangkutan
i) Biaya yang dibebankan atau dikeluarkan untuk kepentingan pribadi
Wajib Pajak atau orang yang menjadi tanggungannya
j) Gaji yang dibayarkan kepada anggota persekutuan, firma, atau
perseroan komanditer yang 1nodalnya tidak terbagi atas saham
k) Sanksi administrasi berupa bunga, denda, dan kenaikan serta sanksi
pidana berupa denda yang berkenaan dengan pelaksanaan
perundang-undangan di bidang perpajakan.
• EKSl4206/MDDUL 3 3.39

3) PTKP setahun dalam beberapa status

Tambahan
Tambahan Total
Keterangan WP WP yang
Tanggungan PTKP
Kawin
Laki-laki (Kl- 54.000.000 4.500.000 0 58.500.000
)
Laki-laki 54.000.000 4.500.000 4.500.000 63.000.000
(Kil)
Laki-laki 54.000.000 4.500.000 9.000.000 67 .500.000
(K/2)
Laki-laki 54.000.000 4.500.000 13.500.000 72.000.000
(K/3)

=~ RANG KUMAN_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ __

1) Besamya Penghasilan Kena Pajak bagi Wajib Pajak dalam negeri


dan Bentuk Usaha Tetap, ditentukan berdasarkan penghasilan bruto
dikurangi biaya untuk mendapatkan, menagih, dan me1nelihara
penghasilan. Dalam menghitung Penghasilan Kena Pajak Wajib
Pajak Orang Pribadi dalam negeri, kepadanya diberikan
pengurangan berupa Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP)
berdasarkan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 UU
PPh.

2) Penilaian Aset
Keterangan Dasar Penilaian
Penilaian Aset dalam Hal Jual Beli Harga perolehan atau harga
penjualan
Penilaian Aset dalam Hal Harga pasar
Pertukaran Aset N onmoneter
Pengalihan Aset dalam Rangka Harga pasar
Likuidasi, Penggabungan,
Peleburan, Pemekaran,
Pemecahan, atau Pengambilalihan
Usaha
3.40 P ERPAJAKAN e

Keterangan Dasar Penilaian


Pengalihan Aset dalam Hal Hibah, Nilai sisa buku aset dari
Bantuan dan Su1nbangan pihak yang melakukan
memenuhi syarat Pasal 4 ayat (3) penyerahan
hurufa UU PPh
Pengalihan Aset dalam Hal Hibah, Harga Pasar
Bantuan dan Sumbangan tidak
memenuhi syarat Pasal 4 ayat (3)
huruf a UU PPh
Pengalihan Aset Sebagai Pengganti Nilai pasar aset yang
Saham diserahkan

3) Penilaian persediaan barang hanya boleh menggunakan harga


perolehan. Penilaian pemakaian persediaan untuk penghitungan
harga pokok hanya boleh dilakukan dengan 1nenggunakan Metode
rata-rata dan Metode Masuk Pertama Keluar Pertama (MPKP).
Sekali Wajib Pajak memilih salah satu metode penilaian pemakaian
persediaan untuk penghitungan harga pokok tersebut, maka untuk
tahun-tahun selanjutnya barus digunakan metode yang sama.

~ TES F □ RM AT IF 2_ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ _ __

Pilihlah satu jawaban yang paling tepat!

1) Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) untuk diri Waj ib Pajak Orang
Pribadi sebesar .....
A. Rp54.000.000
B. Rp53.000.000
C. Rp52.000.000
D. Rp5 1.000.000

2) Arif Rahman sudah menikah memiliki tanggungan satu anak. Berapakab


total PTKP ...
A. Rp54.000.000
B. Rp58.500.000
C. Rp63.000.000
D. Rp67.500.000
• EKS l 4206/MD DUL 3 3.41

3) Metode penyusutan aset tetap berwujud yang dibolehkan berdasarkan


ketentuan perpajakan adalah .....
A. Metode garis lurus dan Metode angka tahunan
B. Metode saldo menurun dan Metode angka tahunan
C. Metode garis lurus dan Metode saldo menurun
D. Metode unit produksi dan Metode angka tahunan

4) Penilaian pemakaian persediaan untuk penghitungan harga pokok hanya


boleh dilakukan dengan menggunakan metode ....
A. FIFO dan LIFO
B. Metode rata-rata dan FIFO
C. Metode rata-rata dan LIFO
D. Metode rata-rata, LIFO dan FIFO

5. Apabila wajib pajak merupakan Wajib Pajak dalam negeri berbentuk


perseroan terbuka dengan kepemilikan saham publiknya 40% atau lebih
dari keseluruhan saham yang disetor, dan saham tersebut dimiliki paling
sedikit 300 pihak, rnaka terjadi ....
A. Penurunan tarif sebesar 15% lebih rendah dari tarif normal
B. Penurunan tarif sebesar 10% lebih rendah dari tarif normal
C. Penurunan tarif sebesar 5% lebih rendah dari tarif normal
D. Penurunan tarif sebesar 2% lebih rendah dari tarif normal

Cocokkanlah jawaban Anda dengan Kunci Jawaban Tes Formatif 2 yang


terdapat di bagian akhir modul ini. Hitunglah jawaban yang benar.
Kemudian, gunakan rumus berikut untuk mengetahui tingkat penguasaan
Anda terhadap materi Kegiatan Belajar 2.

Jumlah Jawaban yang Benar


Tingkat penguasaan = - - - - - - - - - - - x 100%
Jumlah Soal

Arti tingkat penguasaan: 90 - 100% - baik sekali


80 - 89% baik
70 - 79% cukup
< 70% - kurang
3.42 PERPAJ AKAN e

Apabila mencapai tingkat penguasaan 80% atau lebih, Anda dapat


meneruskan dengan Modul Selanjutnya. Bagus! Jika masih di bawah 80%,
Anda hams mengulangi materi Kegiatan Belajar 2, terutama bagian yang
belum dikuasai.
• EKS l 4206/ MD DUL 3 3.43

Kunci Jawaban Tes Formatif

Tes Formatif 1 Tes Formatif 2

1) D 1) A
2) B 2) C
3) A 3) C
4) B 4) B
5) A 5) C
3.44 PERPAJ AKAN e

Daftar Pustaka

Dara, Amin. 2013 . Pemotongan dan Pemungutan Pajak Penghasilan: Contoh


dan Kasus. Penerbit lndie

Halim, Abdul, Icuk Rangga Bawono dan Amin Dara. 2016. Perpajakan:
Konsep, Aplikasi, Contoh dan Studi Kasus. Edisi 2. Penerbit Salemba
Empat. Jakarta

Kementerian Keuangan. 2015 . Peraturan Menteri Keuangan Nomor


156/PMK.010/20 15 tentang Perubahan Keempat atas Peraturan Menteri
Keuangan Nomor 215/PMK.03/2008 tentang Penetapan Organisasi-
Organisasi Internasional dan Pejabat-Pejabat Perwakilan Organisasi
Internasional dan Pejabat-Pejabat Perwakilan Organisasi Internasional
yang Tidak Termasuk Subjek Pajak Penghasilan

_ _ _ _ _ _ _ _. 2016. Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia


Nomor 101/PMK.010/2016tentangPenyesuaian Besamya Penghasilan
Tidak Kena Pajak

Republi k Indonesia. 2008. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang


Perubahan Keempat atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang
Pajak Penghasilan

_ _ _ _ _ _ _. 2009. Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009 tentang


Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan

www. [Link]

[Link]

Anda mungkin juga menyukai