PROPOSAL
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PROJECT BASED LEARNING
UNTUK MENINGKATKAN
KETERAMPILAN MENULIS KARANGAN NARASI
SISWA KELAS IV SD GMIM 3 TOMOHON
OLEH :
NAMA: RIVANA JESICA MARIELA DOODOH
NIM: 19105242
KEMENTERIAN PENDIDIKAN KEBUDAYAAN RISET DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS NEGERI MANADO
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN DAN PSIKOLOGI
PROGRAM STUDI PGSD S1
TAHUN 2025
1
ACE Scanner
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan merupakan hal yang penting dalam perkembangan kehidupan
manusia. Pendidikan itu sendiri memiliki tujuan yang ingin dicapai, yaitu
kedewasaan atau pribadi dewasa susila (Hasbullah, 2005:13). Di Indonesia,
kesadaran akan pentingnya pendidikan telah disadari sejak lama.
Sebagaimana tercantum dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional
No. 20 Tahun 2003 pasal 1 ayat 1, pendidikan adalah usaha sadar dan
terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses belajar agar peserta
didik secara aktif membangun potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta
keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.
Dalam lembaga pendidikan formal (sekolah) terdapat suatu proses
pembelajaran. Menurut Suherman dalam Asep Jihad dan Abdul Haris (28:11),
pembelajaran pada hakikatnya merupakan proses komunikasi antara peserta
didik dengan pendidik dalam rangka perubahan sikap. Suherman juga
menjelaskan bahwa komunikasi didefinisikan sebagai proses dimana para
partisipan/siswa menciptakan dan saling berbagi informasi satu sama lain
guna mencapai pengertian timbal balik. Pendidik mempunyai peran utama
sebagai komunikator, sedangkan peserta didik berperan sebagai komunikan
dan begitu juga sebaliknya. Peserta didik dapat sebagai komunikator dan
pendidik sebagai komunikan.
Bahasa Indonesia merupakan bahasa pengantar dalam suatu
pembelajaran atau berlangsungnya pembelajaran sehingga Bahasa Indonesia
memiliki posisi yang penting pada suatu proses pembelajaran. Bahasa
Indonesia di setiap jenjang pendidikan formal merupakan suatu hal yang
diharuskan karena dipergunakan untuk menyampaikan ilmu pengetahuan.
Pembelajaran bahasa Indonesia di Sekolah Dasar bertujuan untuk
3
meningkatkan kemampuan siswa agar mampu berkomunikasi secara
efektif, baik komunikasi lisan ataupun tulisan.
Kegiatan yang dibutuhkan dalam kegiatan pembelajaran salah satunya
adalah mampu menulis. Kegiatan menulis tidak dapat dipisahkan dengan
kegiatan pembelajaran, sehingga siswa diwajibkan mampu untuk menulis.
Siswa mampu menulis dengan baik karena adanya bantuan dari guru, dan
siswa mampu menulis dengan baik karena adanya hubungan timbal balik yang
baik antara siswa dengan guru. Hubungan yang baik antara guru dengan siswa
mampu membantu kegiatan pembelajaran dapat terlaksana sesuai dengan
rencana.
Menulis merupakan sebuah kegiatan yang dilakukan untuk menuangkan
ide atau gagasan melalui tulisan. Melalui kegiatan menulis orang mampu
menyampaikan ide atau gagasan yang tidak dapat dilakukan dengan kata-
kata. Penyampaian pesan melalui tulisan juga mempermudah seseorang untuk
berkomunikasi akibat adanya kesibukan yang sedang dijalani, sehingga
seseorang tetap mampu berkomunikasi tanpa adanya tatap muka secara
langsung.
Menurut Harris dan Nida (Tarigan, 2008) menyebukan bahwa
“keterampilan berbahasa mempunyai empat komponen, yaitu kemampuan
menyimak (listening skills), kemampuan berbicara (speaking skills),
kemampuan membaca (reading skills), dan kemampuan menulis (writing
skills).” Menurut Mas’ud, dkk (2015: 109 111) mengatakan bahwa penggunaan
bahasa harus diperhatikan bentuk dan strukturnya sehingga menarik, berkesan,
menjadi pusat perhatian, dan menimbulkan keingintahuan pembaca. Bahkan
dalam tulisan lain Mas’ud, dkk (2020) menjelaskan bahwa bahasa digunakan
dalam bentuk membujuk, memengaruhi, mendebat, menyangkal, membela, dan
bereaksi terhadap orang lain untuk mengungkapkan sesuatu secara sadar dan
terkendali.
Salah satu keterampilan yang dipelajari oleh siswa di Sekolah Dasar
adalah keterampilan menulis. Keterampilan menulis adalah salah satu
keterampilan yang harus dikuasai oleh siswa di Sekolah Dasar. Saat siswa bisa
4
menulis mereka belum tentu mempunyai keterampilan menulis.
Keterampilan menulis diartikan sebagai kemampuan mengungkapkan ide atau
gagasan melalui sebuah tulisan. Oleh karena itu menulis menjadi keterampilan
yang sangat penting yang harus dimiliki oleh siswa. Melalui keterampilan
menulis, setiap siswa bisa menghasilkan karya dalam kehidupannya.
Menulis merupakan salah satu keterampilan yang memiliki peran sangat
penting dalam dunia pendidikan. Menulis sangat penting bagi pendidikan
karena menulis merupakan aktivitas komunikasi penyampaian informasi
secara tertulis kepada pihak lain dengan menggunakan tulisan sebagai
medianya (Tarigan, 2008: 4).
Keterampilan menulis merupakan keterampilan berbahasa yang paling
sulit dan kompleks dibandingkan keterampilan menyimak, berbicara, dan
membaca. Oleh karena itu, keterampilan menulis dikuasai siswa setelah
menguasai ketiga keterampilan tersebut. Keterampilan menulis menuntut
penguasaan siswa terhadap unsur kebahasaan dan unsur-unsur diluar
kebahasaan yang akan menjadi isi karangan yang ditulis. Selain itu,
keterampilan menulis juga memerlukan metode tertentu dan latihan yang terus
menerus supaya siswa semakin terampil menulis. Keberhasilan proses
pembelajaran di sekolah banyak ditemukan oleh kemampuan menulis siswa,
salah satunya kemampuan menulis teks.
Keterampilan menulis siswa kelas IV SD GMIM 3 Tomohon tergolong
kurang, sehingga guru perlu mengganti model pembelajaran yang lebih inovatif
agar siswa lebih antusias dalam belajar. Kendala yang dihadapi siswa kelas IV
SD GMIM 3 Tomohon dalam menulis yaitu kurangnya pemahaman siswa
terhadap penulisan peletakan huruf kapital dan tanda baca. Peletakan huruf
kapital dan tanda baca memang masih menjadi persoalan yang harus
diselesaikan di SD GMIM 3 Tomohon kelas IV, sehingga diharapkan tidak
adanya lagi siswa yang merasa kesulitan saat menulis, terutama pada saat
pelajaran Bahasa Indonesia.
Mata pelajaran Bahasa Indonesia memiliki peran penting dalam proses
pembelajaran. Mata pelajaran Bahasa Indonesia merupakan salah satu mata
5
pelajaran pokok yang diajarkan di sekolah. Kegiatan menulis diajarkan
pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, sehingga siswa diharuskan mampu
menulis agar dapat mengikuti kegiatan pembelajaran dengan baik. Materi yang
akan diajarkan pada mata pelajaran bahasa Indonesia yang menggunakan
keterampilan menulis adalah menulis karangan. Menulis karangan dibutuhkan
ketelitian agar tidak salah dalam mengartikan sebuah tulisan dalam bentuk
karangan. Konsep ini dikenal sebagai karangan narasi.
Model pembelajaran Project Based Learning merupakan model
pembelajaran berbasis proyek, pada model tersebut siswa dituntut untuk
menyelesaikan sebuah proyek secara berkelompok. Guru memberikan sebuah
proyek yang harus diselesaikan oleh siswa, dengan demikian siswa akan
terlatih untuk lebih mandiri dalam menyelesaikan tugas yang diberikan oleh
guru. Proyek yang diberikan oleh guru harus sesuai dengan materi yang akan
diajarkan. Mula mula guru akan menjelaskan maksud dan tujuan dari
pembelajaran yang akan disampaikan, setelah siswa mengetahui caranya
kemudian siswa mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru.
Berdasarkan uraian di atas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian
sebagai upaya untuk meningkatkan hasil belajar pembelajaran Bahasa
Indonesia. Mengingat banyaknya masalah serta keterbatasan dari peneliti,
maka peneliti memilih judul “Penerapan model pembelajaran project based
learning untuk meningkatkan keterampilan menulis karangan narasi siswa
kelas IV SD GMIM 3 Tomohon”.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian dalam latar belakang tersebut, maka dapat dirumusan
masalah dalam penelitian ini adalah : " Bagaimana upaya meningkatkan
keterampilan menulis karangan narasi melalui model pembelajaran project
based learning kelas IV SD GMIM 3 Tomohon?"
C. Tujuan Penelitian
6
Adapun tujuan penelitian adalah untuk meningkatkan keterampilan menulis
karangan narasi dengan menerapkan model pembelajaran project based
learning pada siswa kelas IV SD GMIM 3 Tomohon.
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Siswa.
a) Meningkatkan minat dan motivasi siswa dalam kegiatan menulis
karangan
b) Melatih siswa untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan secara
tertulis dengan rangsangan media gambar yang
disediakan.
2. Bagi Guru.
a) Meningkatkan profesionalisme guru dalam wawasan mengajar yang
menarik dan berkualitas.
b) Sebagai bahan masukan untuk memperbaiki kualitas proses
pembelajaran di kelas.
4. Bagi Peneliti.
a) Memberikan pengalaman dan menambah pengetahuan baru yang
akan diterapkan ketika menjadi guru nanti.
b) Dapat mengetahui efektifitas serta berhasil tidaknya pembelajaran
melalui model pembelajaran project based learning dalam
meningkatkan keterampilan menulis peserta didik.
7
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Model Pembelajaran Project Based Learning
8
1. Pengertian Model Pembelajaran
Model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan
prosedur sistematis dalam mengorganisasikan sistem belajar untuk mencapai
tujuan belajar tertentu dan berfungsi sebagai pedoman bagi perancang
pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan dan melaksanakan
aktivitas pembelajaran (Saefuddin & Berdianti 2014:48).
Model pembelajaran adalah suatu rencana atau pola yang bahkan dapat
digunakan untuk membentuk kurikulum (rencana pembelajaran jangka
panjang), merancang bahan-bahan pembelajaran, dan membimbing
pembelajaran di kelas atau lingkungan belajar lain. Berdasarkan beberapa
pendapat para ahli diatas terlihat adanya kesamaan ciri khusus yang
menyelubungi semua pengertian model pembelajaran. Ciri khusus tersebut
adalah adanya pola tau rencana yang sistematis (Joyce & Weil dalam Rusman,
2018:144).
Sedangkan model pembelajaran menurut Ibdullah Malawi & Ani Kadarwati
(2017:26 mendefinisikan 'model pembelajaran' sebagai kerangka konseptual
yang menggambarkan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan
pengalaman belajar bagi para siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran dan
berfungsi sebagai pedoman bagi para perencana pembelajaran dan para
pengajar dalam merencanakan dan melaksanakan aktivitas belajar mengajar.
Dari beberapa pendapat para ahli yang dikemukakan sebelumnya, maka
dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran adalah suatu teknik atau gaya
pembelajaran yang harus digunakan dan dilakukan oleh guru di dalam kelas
untuk mencapai suatu tujuan pembelajaran dan membangkitkan semangat
siswa.
Model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran
yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru.
9
Dengan kata lain, model pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai
dari penerapan suatu pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran. Berkenaan
dengan model pembelajaran, Bruce Joyce dan Marsha Weil (Dedi Supriawan
dan A. Benyamin Surasega, 1990) mengetengahkan 4 (empat) kelompok model
pembelajaran, yaitu: (1) model interaksi sosial; (2) model pengolahan informasi;
(3) model personal-humanistik; dan (4) model modifikasi tingkah laku. Kendati
demikian, seringkali penggunaan istilah model pembelajaran tersebut
diidentikkan dengan strategi pembelajaran.
2. Pengertian Model Pembelajaran Project Based Learning
Project Based Learning adalah model pembelajaran yang memberikan
kesempatan kepada pendidik untuk mengelolah pembelajaran di kelas dengan
melibatkan kerja proyek. Kerja proyek memuat tugas-tugas yang kompleks
berdasarkan permasalahan (problem) sebagai langkah awal dalam
mengumpulkan dan mengintegrasikan pengetahuan baru berdasarkan
pengalamannya dalam beraktivitas secara nyata dan menuntun peserta didik
untuk melakukan kegiatan merancang, memecahkan masalah, membuat
keputusan, melakukan kegiatan investigasi, serta memberikan kesempatan
peserta didik untuk bekerja secara mandiri maupun kelompok. Hasil akhir dari
kerja proyek tersebut adalah suatu produk yang antara lain berupa laporan
tertulis atau lisan, presentasi atau rekomendasi Wahyuni (2019).
Menurut Mayuni, dkk (2019) yang mengungkapkan bahwa pembelajaran
berbasis proyek Project Based Learning merupakan model, strategi, atau
metode pembelajaran yang berpusat pada siswa. Dimana siswa diajak untuk
mengembangkan sendiri kemampuan yang ada dalam diri mereka dengan
menciptakan proyek belajar (kagiatan), sehingga diharapkan dapat
mengembangkan kemampuan kreativitas dan berpikir kritis mereka akan
terbangun dengan menggunakan model ini dimana untuk menyelesaikan
10
sebuah proyek perlulah usaha dan kerja keras serta bekeria secara
kooperatif dengan kelompok.
Menurut Isriani dan Puspitasari (2015:5) pembelajaran berbasis proyek
merupakan model pembelajaran yang memberikan kesempatan pada guru
untuk mengelola pembelajaran di kelas dengan melibatkan kerja proyek.
Pendapat in secara implisit menyatakan bahwa project based learning
merupakan model pembelajaran yang berpusat pada peserta didik (student
centered) yang menetapkan guru sebagai fasilitator.
Menurut Fathurrohman (2016:119) pembelajaran berbasis proyek atau
project based learning adalah model pembelajaran yang menggunakan proyek
atau kegiatan sebagai sarana pembelajaran untuk mencapai kompetensi sikap,
pengetahuan dan keterampilan.
Dari beberapa pernyataan diatas, dapat disimpulkan bahwa model
pembelajaran Project Based Learning adalah model pembelajaran yang
berpusat pada siswa dan berangkat dari suatu latar belakang masalah untuk
mengerjakan suatu proyek atau aktivitas nyata yang akan membuat siswa
mengalami berbagai kendala-kendala kontekstual sehingga harus melakukan
investigasi/inkuiri dan pemecahan masalah untuk dapat menyelesaikan
proyeknya sehingga dapat mencapai kompetensi sikap, pengetahuan serta
keterampilan.
3. Karakteristik Model Pembelajaran Project Based Learning
Pembelajaran berbasis proyek atau project based learning memiliki
karakterisitik sebagai berikut:
a. Siswa membuat keputusan tentang sebuah kerangka kerja.
11
b. Adanya permasalahan atau tantangan yang diajukan kepada siswa.
c. Siswa mendesain proses untuk menentukan solusi atas permasalahan atau
tantangan yang diajukan.
d. Siswa secara kolaboratif bertanggung jawab untuk mengakses dan
mengelola informasi untuk memecahkan permasalahan.
e. Proses evaluasi dijalankan secara kontinu.
f. Siswa secara berkala melakukan refleksi atas aktivitas yang sudah
dijalankan.
g. Produk akhir aktivitas akan dievaluasi secara kuantitatif.
h. Situasi pembelajaran sangat toleran terhadap kesalahan dan perubahan.
4. Tujuan Project Based Learning
Menurut Moursund (Wena, 2013:147) dan Kemdikbud (2014:33)
mengemukakan tujuan Project Based Learning yaitu :
a. Meningkatkan keaktifan siswa dalam memecahkan masalah- masalah yang
kompleks
b. Meningkatkan motivasi belajar siswa
c. Mengasah keterampilan siswa dalam berkomunikasi
d. Mengasah keterampilan siswa dalam mencari dan mendapatkan informasi
e. Melatih sikap kolaborasi siswa
f. Meningkatkan kemampuan berpikir siswa.
12
5. Kelebihan dan Kekurangan Project Based Learning
a. Kelebihan Project Based Learning
Menurut Daryanto dan Rahardjo (2012:162) model pembelajaran project based
learning mempunyai kelebihan sebagai berikut:
1) Meningkatkan motivasi belajar peserta didik untuk belajar, mendorong
kemampuan mereka untuk melakukan pekerjaan penting, dan mereka perlu
untuk dihargai.
2) Meningkatkan kemampuan pemecahan masalah.
3) Membuat peserta didik menjadi lebih aktif dan berhasil memecahkan
problem-problem kompleks
4) Meningkatkan kolaborasi
5) Mendorong peserta didik untuk mengembangkan dan mempraktikkan
keterampilan komunikasi.
6) Meningkatkan keterampilan peserta didik dalam mengelolah sumber.
7) Meningkatkan kreativitas siswa
8) Memberikan pengalaman kepada peserta didik pembelajaran dan praktik
dalam mengorganisasikan proyek, dan membuat alokasi waktu dan
sumber-sumber lain seperti perlengkapan untuk menyelesaikan tugas.
9) Menyediakan pengalaman belajar yang melibatkan peserta didik secara
kompleks dan dirancang untuk berkembang sesuai dengan dunia nyata.
10) Membuat suasana belajar menjadi menyenangkan, sehingga peserta
13
didik maupun pendidik menikmati proses pembelajaran.
b. Kelemahan Project Based Learning
Menurut Widiarso (2016:189) project based learning memiliki kelemahan
sebagai berikut:
1) Pembelajaran berbasis proyek memerlukan banyak waktu yang
harus disediakan untuk menyelesaikan permasalah yang kompleks.
2) Banyak orang tua peserta didik yang merasa dirugikan karena
menambah biaya untuk memasuki sistem baru.
3) Banyak instruktur merasa nyaman dengan kelas tradisional, dimana
instruktur memegang peran utama di kelas. In merupakan tradisi yang sulit.
terutama bagi instruktur yang kurang atau tidak menguasai teknologi.
4) Banyaknya peralatan yang harus disediakan. Oleh karena itu, disarankan
untuk menggunakan team teaching dalam pembelajaran.
5) Peserta didik memiliki kelemahan dalam pencobaan dan pengumpulan
informasi akan mengalami kesulitan.
6) Ada kemungkinan peserta didik yang kurang aktif dalam kerja kelompok.
7) Apabila topic yang diberikan pada masing-masing kelompok berbeda,
dikhawatirkan peserta didik tidak memahami topic secara keseluruhan.
6. Langkah – langkah Project based Learning
Langkah-langkah model pembelajaran project based learning menurut
Widiarsoro (2016:184) dapat diterapkan atau diaplikasikan melalui langkah
14
berikut ini :
a. Penentuan Pertanyaan Mendasar
Pembelajaran dimulai dengan pertanyaan esensial yaitu pertanyaan yang
dapat member penugasan kepada peserta didik dalam melakukan suatu
aktivitas. Topik penugasan sesuai dengan dunia nyata yang relevan untuk
peserta didik. Dan dimulai dengan sebuah investigasi mendalam.
b. Mendesain Perencanaan Provek
Perencanaan dilakukan secara kolaboratif antara guru dan peserta didik.
Dengan demikian peserta didik diharapkan akan merasa "memiliki" atas
proyek tersebut. Perencanaan berisi tentang aturan main, pemilihan
aktivitas yang dapat mendukung dalam menjawab pertanyaan esensial,
dengan cara mengintegrasikan berbagai subjek yang mungkin, serta
mengetahui alat dan bahan yang dapat diakses untuk membantu
penyelesaian proyek.
c. Menyusun Jadwal
Guru dan peserta didik kolaboratif menyusun jadwal aktivitas dalam
menvelesaikan proyek. Aktivitas pada tahap in antara lain :
1) Membuat timeline (alokasi waktu) untuk menyelesaikan proyek,
2) Membuat deadline (batas waktu akhir) penyelesaian proyek,
3) Membawa peserta didik agar merencanakan cara yang baru,
4) Membimbing peserta didik ketika mereka membuat cara yang tidak
berhubungan dengan proyek, dan
5) Meminta peserta didik untuk membuat penjelasan (alasan) tentang
pemilihan.
15
d. Memonitor Peserta Didik dan Kemajuan Proyek
Guru bertanggung jawab untuk melakukan monitor terhadap aktivitas
peserta didik selama menyelesaikan proyek. Monitoring dilakukan dengan
cara memfasilitasi peserta didik pada setiap proses. Dengan kata lain guru
berperan sebagai mentor bagi aktivitas peserta didik. Agar mempermudah
monitoring, dibuat sebuah rubric yang dapat merekam keseluruhan
aktivitas yang penting.
e. Menguji Hasil
Penilaian dilakukan untuk membantu guru dalam mengukur ketercapaian
standar, berperan dalam mengevaluasi kemajuan masing-masing peserta
didik, member umpan balik tentang tingkat pemahaman yang sudah
dicapai peserta didik, membantu guru dalam menyusun strategi
pembelajaran berikutnya.
f. Mengevaluasi Pengalaman
Pada akhir pembelajaran, guru dan peserta didik melakukan refleksi
terhadap aktivitas dan hasil proyek yang sudah dijalankan. Proses refleksi
dilakukan baik secara individu maupun kelompok.
B. Keterampilan Menulis
1. Hakikat Keterampilan Menulis
Menulis diartikan sebagai melahirkan pikiran atau perasaan (seperti
mengarang, membuat surat) dengan tulisan hal tersebut terdapat dalam
Kamus Besar Bahasa Indonesia, (2002:1219). Melalui kegiatan menulis,
seorang dapat menuangkan ide-idenya atau meluapakan isi perasaannya.
Dengan demikian, menulis merupakan suatu car mengekspresikan pikiran
16
atau perasaan dalam bentuk tulisan.
Menurut Suparno, (2010:1.3) menulis dapat didefinisikan sebagai suatu
kegiatan menyampaikan pesan (komunikasi) dengan menggunakan
bahasa tulis sebagai alat atau medianya. Pesan adalah isi atau muatan
yang terkandung dalam suatu tulisan. Tulisan merupakan sebuah symbol
atau lambing bahasa yang dapat dilihat dan disepakati pemakaiannya.
Dengan demikian, dalam komunikasi tulis terdapat empat unsur yang
terlibat: (1) penulis sebagai penyampai pesan, (2) pesan atau isi tulisan, (3)
saluran atau media berupa tulisan, dan (4) pembaca sebagai penerima
pesan.
Sejalan dengan pendapat Suparno, Nurgiyantoro, (2010: 425)
mengemukakan bahwa dilihat dari segi kompetensi berbahasa, menulis
adalah aktivitas aktif produktif, aktivitas menghasilkan bahasa. Dilihat dari
pengertian secara umum, menulis adalah aktivitas mengemukakan
gagasan melalui media bahasa. Aktivitas 14 yang pertama menekankan
unsur bahasa, sedangkan aktivitas yang kedua gagasan.
Murray, (dalam Sale Abbas, 2006:127) menulis adalah proses berfikir yang
berkesinambungan, mulai dari mencoba, dan sampai dengan mengulas
kembali. Menulis sebagai proses berfikir berarti bahwa sebelum atau
setelah menuangkan gagasan dan perasaan secara tertulis diperlukan
keterlibatan proses berfikir. Proses fikir menurut Papas, (dalam Saleh
Abbas, 2006: 127) merupakan aktivitas yang bersifat aktif, kondusif, dan
menuangkan gagasan berdasarkan skema, pengetahuan dan pengalaman
yang dimiliki secara tertulis.
Pendapat Saleh Abbas, (2006: 125) keterampilan menulis adalah
kemampuan mengungkapkan gagasan, pendapat, dan perasaan kepada
pihak lain dengan melalui bahasa tulis.
17
Ahmad Rofi'udin, (2002: 111) mengemukakan menulis adalah suatu proses
menuangkan pikiran, gagasan, pendapat tentang sesuatu, tanggapan
terhadap sesuatu, pernyataan keinginan, atau pengungkapan perasaan
dengan menggunakan bahasa secara tertulis.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa
keterampilan menulis adalah suatu keterampilan yang berhubungan
dengan kegiatan menuangkan gagasan, ide atau pendapat yang akan
disampaikan kepada orang lain (pembaca) melalui media bahasa tulis
supaya tulisan tersebut dapat difahami oleh pembaca.
2. Tujuan Menulis
Ketika menulis, biasanya seseorang memiliki tujuan tertentu. Tujuan itu
berhubungan dengan gagasan tau informasi yang ingin dikomunikasikan
melalui tulisan. Tujuan ini juga berkaitan erat dengan respon atau
tanggapan yang diharapkan muncul dari pembaca setelah membaca
tulisan tersebut. Empat tujuan umum menulis, keempat tujuan itu adalah :
1) Untuk menginformasikan
2) Untuk meyakinkan
3) Untuk mengekspresikan diri
4) Untuk menghibur
Tarigan (1982:82) mengemukakan bahwa tujuan menulis dapat dibedakan
menjadi tujuh kategori yaitu : penulisan, tujuan altrustik, tujuan persuasif,
tujuan penerangan, tujuan pernyataan diri, tujuan kreatif, dan tujuan
pemecahan masalah.
18
3. Manfaat Menulis
1) Memperluas dan meningkatkan pertumbuhan kosa kata
2) Meningkatkan kelancaran tulis menulis dan menyusun kalimat
3) Kegiatan tulis menulis meningkatkan kemampuan untuk
pengaturan dan perorganisasian
4) Mendorong penulis untuk terbiasa mengembangkan suatu gaya
penulisan pribadi dan terbiasa mencari perorganisasian yang
sesuai dengan gagasan sendiri.
4. Jenis-Jenis Menulis
Dalam menulis dikenal bermacam-macam jenis menulis, diantara
sebagai berikut:
Deskripsi adalah suatu bentuk tulisan yang melukiskan sesuatu sesuai
dengan keadaan yang sebenarnya sehinga pembaca dapat mencitrai (melihat,
mendengar, mencium dan merasakan) apa yang dilukiskan itu sesuai dengan
citra penulisnya.
Narasi adalah tulisan yang menyajikan serangkaian peristiwa menurut
urutan kejadiannya, dengan maksud memberi arti pada suatu kejadian
tersebut. Eksposisi adalah tulisan yang bertujuan untuk memberitahu,
mengupas, menguraiakan atau menerangkan sesuatu.
Argumentasi adalah tulisan yang berisi atas paparan alasan dan
pendapat untuk membuat suatu kesimpulan.
19
5. Prinsip Menulis
Dalam rangka mewujudkan pembelajaran menulis yang harmonis, bermutu,
dan bermartabat, harus diketahui terlebih dahulu prinsip-prinsip
pembelajaran menulis. Prinsip-prinsip pembelajaran menulis tersebut
dikemukakan Brown (2001:192) sebagai berikut :
1) Pembelajaran menulis harus merupakan pelaksanaan praktik menulis
yang baik.
2) Pembelajaran menulis harus dilaksanakan dengan menyeimbangi antara
proses dan produk.
3) Pembelajaran menulis harus memperhitungkan latar belakang budaya
literasi siswa.
Pembelajaran menulis harus senantiasa dilaksanakan menggunakan
pendekatan whole language khususnya menggambungkan antara membaca
dan menulis; Pembelajaran menulis harus dilaksanakan dengan menerapkan
kegiatan menulis otentik seoptimal mungkin; Pembelajaran menulis harus
dilaksanakan dalam tiga tahapan yakni tahap pramenulis, tahap menulis,
dan tahap pascamenulis; Gunakan strategi pembelajaran menulis interaktif,
kooperatif dan kolaboratif; Guakan strategi yang tepat untuk mengoreksi
kesalahan siswa dalam menulis, dan Pembelajaran menulis harus dilakukan
dengan terlebih dahulu menjelaskan aturan penulisan. Berdasarkan
beberapa prinsip yang dikemukakan Brown diatas, jelaslah bahwa
pembelajaran menulis harus dilakukan guru dengan sebaik mungkin dan
seoptimal mungkin
C. Karangan Narasi
20
1. Pengertian Karangan Narasi
Kamus Besar Bahasa Indonesia, (2003: 506), karangan adalah menulis dan
menyusun sebuah cerita, buku, [Link], narasi (2003: 774) adalah
pengisahan suatu cerita atau kejadian. Karangan narasi adalah cerita yang
dipaparkan berdasarkan urutan waktu.
Suparno, (2010: 4.31) mengemukakan bahwa narasi atau sering juga disebut
naratif berasal dari kata bahasa Inggris naration (cerita) dan naratif (yang
menceritakan). Karangan yang disebut narasi menyajikan serangkaian
peristiwa. Karangan ini berusaha menyampaikan serangkaian kejadian menurut
urutan 19 terjadinya (kronologis), dengan maksud memberi arti kepada sebuah
atau serentetan kejadian, sehingga pembaca dapat memetik hikmah cerita itu.
Keraf, (2007: 136) mendefinisikan narasi adalah wacana yang sasaran
utamanya adalah tindak-tanduk yang dijalin dan dirangkaikan menjadi sebuah
peristiwa yang terjadi dalam satu kesatuan waktu, atau narasi adalah suatu
bentuk wacana yang berusaha menggambarkan dengan sejelas-jelasnya
kepada pembaca suatu peristiwa yang telah terjadi.
Berdasarkan pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa karangan
narasi adalah karangan yang menyajikan serangkaian kejadian menurut urutan
terjadinya (kronologis) sehingga pembaca mengetahui alur jalannya sebuah
cerita.
2. Jenis-jenis Karangan Narasi
Keraf, (2007: 136-139) mengemukakan ada dua jenis karangan narasi: (1)
narasi ekspositoris tujuannya untuk memberikan informasi kepada para
pembaca, agar pengetahuannya bertambah luas, dan (2) narasi sugestif
tujuannya menyampaikan sebuah makna kepada para pembaca melalui daya
khayal.
21
3. Langkah-langkah Menulis Karangan Narasi
Suparno, (2007: 4.50) mengungkapkan langkah-langkah dalam menulis
narasi adalah sebagai berikut.
a) Menentukan tema dan amanat yang akan disampaikan.
b) Menetapkan sasaran pembaca.
c) Merancang peristiwa-peristiwa utama yang akan ditampilkan
dalam bentuk skema alur.
d) Membagi peristiwa utama itu ke dalam bagian awal,
perkembangan, dan akhir cerita.
e) Merinci peristiwa-peristiwa utama ke dalam detail-detail peristiva
sebagai pendukung cerita.
f) Menyusun tokoh dan perwatakan, latar, dan sudut pandang.
Berdasarkan uraian diatas dalam meyusun karangan narasi
yaitu menentukan tema/amat, menetapkan sasaran pembaca,
merancang peristiwa utama, membagi cerita, merinci cerita
dan menyusun tokoh, perwatakan, latar dan sudut pandang.
4. Teknik Pembelajaran Menulis Karangan Narasi
Ketika akan berangkat dari rumah menuju sekolah, diperjalanan pasti
menemui berbagai peristiwa baik, peristiwa yang menyenangkan, peristiwa
yang menyedihkan, maupun peristiwa yang menyedihkan. Pengalaman-
pengalan semacam itu bisa dijadikan alat sebagai sumber inspirasi sebuah
tulisan yang bersifat naratif.
Dengan berdasarkan pengalaman tersebut, para siswa dipersilahkan
menceritakan kembali peristiwa-peristiwa yang baru saja mereka alami.
22
Dengan menulis unsurunsur di atas, itu berarti para siswa sudah menulis
sebuah karangan narasi Masalah bagus tidaknya tulisan it bergantung pada
kecermatan mereka dalam mengingat peristiwa yang dialami.
5. Penerapan Pengajaran Menulis Karangan
Penerapan suatu karangan menuntut beberapa persyaratan seperti isi
bahasa, dan teknik penyajian. Oleh karena itu satu karangan perlu
direncanakan dengan baik terlebih dahulu. Perencanaan yang dimaksud
adalah kerangka karangan.
Secara teoretis, proses penulisan meliputi tiga tahap utama, yaitu tahap
permulaan (Prapenulisan), penulisan, dan perbaikan. Walaupun yang
dinyatakan secara bertahap, akan tetapi kegiatan-kegiatan in tidak
dikerjakan secara terpisah-pisah.
Selanjutnya langkah demi langkah dalam merencanakan karangan adalah
sebagai berikut.
1) Pemilihan topik. Hal-hal yang perlu dipertimbangkan ialah ada
manfaatnya, cukup menarik dikenal baik, dan bahasanya
cukup memadai.
2) Pembatasan topik. Jadi dibatasi dengan topik.
3) Penentuan judul. Bole dilaksanakan pada akhir kegiatan judul
bolehsama dengan topik.
4) Penentuan tujuan. Hal in disesuaikan dengan ragam karangan.
5) Pengembangan topik. Cara ini anak diharapkan dapat menulis apa saia
yang ada dalam benaknya. Setelah terdapat beberapa kalimat
pegembangan kemudian diuraikan.
23
6) Penulisan. Para siswa memanfaatkan segala pengetahuan yang telah
mereka dapatkan sebelumnya.
7) Perbaikkan. Semua yang telah ditulis diperiksa dan diperiksa kepada
temannya. Pemeriksaan itu menyangkut pilihan kata, ejaan,
dan tanda baca, struktur kata kalimat dan paragraf, struktur
karangan bila perlu sistematis uraian bakat isi karangan dan
keberhasilan dan keindahan tulisan.
24
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Desain Penelitian
Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain
penelitian tindakan kelas (PTK) dari Steve Kemmis dan Mc Tanggart (Zainal
Aqib,2006 : 31) terdiri dari 4 tahap yaitu : 1). Perencanaan, 2).Pelaksanaan /
Tindakan, 3).Observasi / Pengamatan, 4). Refleksi
Alur Penelitian adalah sebagai berikut :
Gambar 3.1 Alur (Kemmis dan Taggart dalam Zainal Aqib, 2006:31)
B. Prosedur Penelitian
Dengan menerapkan langkah-langkah model pembelajaran kooperatif
25
tipe Project Based Learning (PjBL) pada pembelajaran Bahasa Indonesia
siswa kelas IV SD GMIM 3 Tomohon pelaksanaan pembelajaran akan
dilakukan dalam dua siklus, setiap siklus terdiri dari 4 tahap kegiatan yaitu :
1. Tahap Perencanaan
Menyusun rencangan tindakan pembelajaran berupa persiapan mengajar,
seperti : menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran, memilih dan
menetapkan materi yang akan diajarkan, dan menetapkan bentuk tugas
dan evaluasi, mulai dari pertanyaan yang bersifat spesifik sampai yang
bersifat umum.
2. Pelaksanaan
Pada tahap ini, peneliti pelaksanaan tindakan sesuai dengan perencanaan
yang telah ditetapkan dengan mengikuti langkah-langkah pembelajaran
dengan menerapkan model Project Based Learning (PjBL) yaitu :
Langkah 1
Pertanyaan Mendasar.
Guru menyampaikan topik dan mengajukan pertanyaan
bagaimana cara memecahkan masalah.
Langkah 2
Mendesain Perencanaan Produk.
Guru memastikan setiap peserta didik dalam kelompok memilih
dan mengetahui prosedur pembuatan proyek/produk yang akan
dihasilkan.
Langkah 3
Menyusun Jadwal Pembuatan.
Guru dan peserta didik membuat kesepakatan tentang jadwal
pembuatan proyek (tahapan-tahapan dan pengumpulan).
Langkah 4
Memonitoring Keaktifan dan Perkembangan proyek
Guru memantau keaktifan peserta didik selama melaksanakan
proyek, memantau realisasi perkembangan dan membimbing jika
mengalami kesulitan.
Langkah 5
26
Menguji Hasil.
Guru berdiskusi tentang prototipe proyek, memantau
keterlibatan peserta didik, mengukur ketercapaian standard.
Langkah 6
Evaluasi Pengalaman Belajar.
Guru membimbing proses pemaparan proyek, menanggapi hasil,
selanjutnya guru dan peserta didik merefleksi/ kesimpulan
3. Observasi
Pengamatan dilaksanakan pada saat pembelajaran sedang berlangsung,
pengamatan dilaksanakan untuk melihat bagaimana aktivitas belajar
siswa pada saat pembelajaran sedang berlangsung dan bagaimana
aktivitas mengajar guru pada saat pembelajaran berlangsung yang dinilai
oleh kepala sekolah dan guru kelas.
4. Refleksi
Setelah melakukan tindakan dan hasil pengamatan, peneliti merefleksikan
kembali hal-hal yang dilakukan agar pembelajaran bisa berjalan secara
efektif dan efisien pada tahap selanjutnya untuk memberikan hasil yang
lebih baik.
C. Subjek dan Waktu Penelitian
Subjek penelitian tindakan kelas ini yaitu siswa kelas IV SD GMIM 3
Tomohon dengan jumlah keseluruhan 14 orang siswa dan waktu penelitian
pada semester ganjil tahun ajaran 2025/2026.
D. Teknik Pengumpulan Data
Untuk memperoleh data yang di perlukan dalam penelitian dilakukan dalam
beberapa teknik yaitu :
1. Pengamatan atau observasi
Peneliti mengamati atau melihat langsung proses pembelajaran di kelas,
Bagaimana keseriusan dan keaktifan siswa dalam mengikuti
27
pembelajaran dikelas maupun kesiapan guru dalam mengajar.
2. Tes
Tes digunakan untuk menilai kemampuan siswa yang mencangkup
pengetahuan dan keterampilan sebagai hasil kegiatan belajar mengajar.
Teknik pengumpulan data dapat dilakukan dengan cara mengamati
secara langsung (observasi), dengan menggunakan pedoman pada
lembar pengamatan yang telah disiapkan berupa instrument penilaian
dan tes.
E. Teknik Analisis Data
Data yang telah diperoleh kemudian dilakukan analisis untuk
mengetahui sejauh mana penguasaan siswa terhadap materi yang
disajikan, teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan teknik
analisis deskriptif dengan menghitung presentase ketuntasan belajar.
Keterangan :
KB = Ketuntasan belajar
T= Jumlah skor yang diperoleh siswa
Tt= Jumlah skor total
28
DAFTAR PUSTAKA
Anas Sudijono. [Link] Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo
Persada.
Arends, Richard I, Learning To Teach- Belajar Untuk Mengajar. Yogyakarta:
Pustaka.
Depdiknas. 2003. Undang-Undang Tentang Sisdiknas Dan Peraturan
Pelaksanaannya 2002-2004. Jakarta: Tamita Utama.
Hamid S.T. 2003. Kamus Pintar Bahasa Indonesia. Surabaya: Pustaka Dua..
Imas Kurniasih dan Berlin Sani. 2015. Ragam Pengembangan Model
Pembelajaran, Yogyakarta: Kata Pena..
Jumanta Hamdayama. 2014. Model dan Metode Pembelajaran Kreatif dan
[Link]: Ghalia Indonesia,.
Margono. 2004. Metode Penelitian Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta,.
29
Miftahul Huda. 2014. Model-Model Pengajaran dan Pembelajaran. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Nuryani. 2003. Strategi Belajar Mengajar Biologi. Bandung :UPI,.
Nana Sudjana. 2009. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung:
Remaja Rosdakarya,.
Oemar Hamalik. 2008. Kurikulum Dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara,.
Slameto. 2013. Belajar & Faktor-Faktor Yamg Mempengaruhinya. Jakarta:
Rineka Cipta,
Yoki Ariyana. 2018. Buku Pegangan Pembelajaran Berorientasi pada
Ketrampilan Berpikir Tingkat Tinggi. Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga
Kependidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan; Jakarta.
30