0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan10 halaman

Strategi Belajar Bahasa Jepang Mahasiswa UNNES

Penelitian ini mengidentifikasi strategi belajar bahasa Jepang yang digunakan oleh mahasiswa Pendidikan Bahasa Jepang UNNES angkatan 2020, 2021, dan 2022 berdasarkan teori Oxford. Hasil menunjukkan bahwa mahasiswa cenderung menggunakan strategi kognitif, kompensasi, afektif, dan sosial, dengan enam substrategi dominan yang meliputi Analyzing and Reasoning, Practicing, dan Encouraging yourself. Rekomendasi untuk pengajar meliputi penerapan ungkapan sederhana, teknik latihan pengulangan, dan pengajaran budaya Jepang untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran.

Diunggah oleh

pri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan10 halaman

Strategi Belajar Bahasa Jepang Mahasiswa UNNES

Penelitian ini mengidentifikasi strategi belajar bahasa Jepang yang digunakan oleh mahasiswa Pendidikan Bahasa Jepang UNNES angkatan 2020, 2021, dan 2022 berdasarkan teori Oxford. Hasil menunjukkan bahwa mahasiswa cenderung menggunakan strategi kognitif, kompensasi, afektif, dan sosial, dengan enam substrategi dominan yang meliputi Analyzing and Reasoning, Practicing, dan Encouraging yourself. Rekomendasi untuk pengajar meliputi penerapan ungkapan sederhana, teknik latihan pengulangan, dan pengajaran budaya Jepang untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran.

Diunggah oleh

pri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

JPBJ, Vol. 9 No.

3, November, 2023
ISSN: 2613-9618

STRATEGI BELAJAR BAHASA JEPANG YANG DIGUNAKAN


MAHASISWA PRODI PBJ UNNES
A. S. Setiawati1, N. P. Septiyaningtyas2
12Bahasa dan Sastra Asing, Universitas Negeri Semarang, Semarang
e-mail: [Link]@[Link], nadiaputri4454@[Link]

Abstrak
Proses belajar bahasa memerlukan suatu strategi yang berguna untuk mengembangkan
kompetensi komunikatif. Strategi belajar yang digunakan pun haruslah sesuai dengan karakteristik tiap
individu agar proses belajar menjadi efektif. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui strategi belajar
bahasa Jepang yang digunakan oleh mahasiswa Pendidikan Bahasa Jepang UNNES angkatan 2020,
2021, dan 2022 ditinjau berdasarkan teori Oxford. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu
metode survei dengan desain deskriptif. Hasil penelitian ini yaitu mahasiswa cenderung menggunakan
strategi kognitif, kompensasi, afektif, dan sosial untuk belajar Bahasa Jepang. Kemudian terdapat 6
substrategi yang dominan digunakan mahasiswa, yaitu Analyzing and Reasoning, Practicing, Guessing,
Taking your emotional temperature, Encouraging your self, dan Empathizing with others. Berdasarkan
hasil analisis dapat direkomendasikan sikap lanjutan bagi pengajar yaitu: (1) menerapkan kebiasaan
pada tingkat dasar untuk menggunakan ungkapan-ungkapan sederhana dalam Bahasa Jepang,
misalnya salam, ungkapan terima kasih, dan meminta maaf. Selain itu juga menerapkan kebiasaan
untuk menggunakan ungkapan-ungkapan instruksi di dalam kelas; (2) menerapkan teknik latihan
pengulangan; (3) membuat metode pembelajaran yang mengembangkan penalaran dan menambah
pemahaman kosakata Bahasa Jepang mahasiswa; (4) memastikan kondisi kesehatan pembelajar
dalam kondisi yang fit sebelum memulai pembelajaran; (5) menerapkan sikap percaya diri dan optimis
kepada diri sendiri ketika belajar bahasa Jepang; dan (6) memberikan materi pembelajaran budaya
Jepang, serta perlu adanya rasa saling menghormati antar pengajar/dosen dengan mahasiswa saat
pembelajaran.

Kata kunci: Bahasa Jepang, Mahasiswa, Strategi belajar, Teori Oxford

Abstract
Learning a language requires a valuable strategy to develop communicative competence.
Learning strategy must be based on each individual's characteristics to make the learning process
effective. This study was conducted to find out the Japanese language learning strategies used by the
class of 2020, 2021, and 2022 Japanese Language Education Study Program of Semarang State
University reviewed based on Oxford theory and the results follow-up. This study used a survey method
with a descriptive design. The results of this study are that students tend to use cognitive, compensatory,
affective, and social strategies to learn Japanese. Then there are six sub-strategies that students
dominantly use: Analyzing and Reasoning, Practicing, Guessing, Taking your emotional temperature,
Encouraging yourself, and Empathizing with others. The follow-up of the six sub-strategies can be
applied by teachers/lecturers and students both during class learning and self-study. Based on the
results of the analysis, further attitudes can be recommended for teachers, namely: (1) implementing
the habit at a basic level of using simple expressions in Japanese, for example, greetings, expressing
thanks, and apologizing. Apart from that, also implement the habit of using instructional words in the
classroom; (2) apply repetition training techniques; (3) create learning methods that develop reasoning
and increase students' understanding of Japanese vocabulary; (4) ensure the learner's health condition
is fit before starting learning; (5) adopt a confident and optimistic attitude towards yourself when learning
Japanese; and (6) providing Japanese cultural learning materials, as well as the need for mutual respect
between teachers/lecturers and students during learning.

Keywords: College student, Japanese language, Learning strategies, Oxford theory

Jurnal Pendidikan Bahasa Jepang | 249


1. Pendahuluan
Setiap manusia terlahir tanpa memiliki ilmu pengetahuan sehingga dituntut untuk melalui
suatu proses pengembangan diri yang dilakukan secara berkelanjutan, tanpa mengenal
tempat dan waktu di setiap jenjang usia yang dilalui agar dapat melanjutkan kehidupannya.
Proses tersebut disebut dengan belajar. Setiawan [2] mengatakan bahwa belajar dapat
diartikan pula sebagai suatu proses aktivitas mental yang dilakukan seseorang untuk
memperoleh suatu perubahan tingkah laku atau sikap yang bersifat positif serta menetap
relatif lama melalui latihan atau pengalaman yang menyangkut aspek kepribadian, baik secara
fisik maupun psikis.
Proses belajar yang mendasar diawali dengan belajar berkomunikasi agar maksud dari
seseorang dapat tersampaikan. Komunikasi membutuhkan suatu alat yang dapat dimengerti
dan digunakan oleh suatu komunitas tempat individu tersebut berada. Alat tersebut dikenal
dengan istilah “bahasa”. M. Zaim [6] mengatakan bahwa dengan bahasa, manusia dapat
menyatakan pikiran, keinginan, perasaan, dan kehendaknya kepada manusia lain.
Dalam proses belajar bahasa, individu akan memulai dengan belajar bahasa ibu dan
bahasa kedua (seperti bahasa daerah dan Bahasa Indonesia), yang mana bahasa tersebut
merupakan bahasa yang lekat dengan kehidupan sehari-hari. Namun, selain bahasa ibu dan
bahasa kedua, bahasa komunitas lain seperti bahasa asing pun perlu dipelajari guna
mendukung kehidupan di zaman modern seperti saat ini.
Mempelajari bidang studi apapun memerlukan suatu cara atau strategi agar tujuan belajar
tercapai, termasuk pula bidang studi bahasa asing. Anitah [10] menyatakan bahwa kata
strategi berasal dari bahasa Latin “strategia”, yang bermakna seni penggunaan rencana untuk
mencapai suatu tujuan. Apabila kata strategi disandingkan dengan kata belajar maka
bermakna suatu perencanaan atau cara yang digunakan individu untuk membuat proses
belajar menjadi lebih mudah, efektif, cepat, dan terarah. Strategi belajar bahasa menurut
Oxford [9] merupakan suatu tindakan yang diambil pemelajar bahasa untuk membuat proses
belajar menjadi lebih mudah, menyenangkan, mandiri, dan efektif. Fatimah dan Kartikasari [3]
menyatakan bahwa strategi belajar mengacu pada perilaku dan proses berpikir yang
digunakan serta mempengaruhi apa yang dipelajari. Strategi berkaitan erat dengan proses
belajar karena strategi merupakan cara individu dalam menyelesaikan dan mencapai tujuan
dari proses belajar yang sedang dilalui.
Banyak teori terdahulu yang mengkaji tentang strategi belajar bahasa, sepeerti teori
O’Malley dan Chamot (1985), Rubin (1987), Stern (1992), dan Oxford (1990-1994). Namun,
Vindayani [6] menyatakan bahwa strategi belajar bahasa menurut Oxford dinilai lebih
komprehensif, dikarenakan paling cermat, praktis, mudah diakses, dan mudah digunakan.
Oxford [9] mengklasifikasikan strategi belajar menjadi 2 kategori atau aspek yaitu strategi
langsung (direct strategy) dan strategi tidak langsung (indirect strategy). Kategori atau aspek
direct strategy (strategi langsung) dibagi menjadi 3 strategi, yaitu Memory strategies, Cognitive
strategies, dan Compensation strategies. Sedangkan kategori atau aspek indirect strategy
(strategi tidak langsung) dibagi menjadi 3 strategi, yaitu Metacognitive strategies, Affective
strategies, dan Social strategies. Lebih detail lagi, Oxford mengklasifikasikan keenam strategi
tersebut menjadi 19 substrategi atau kegiatan. Memory strategies diklasifikasikan menjadi 4
substrategi atau kegiatan, yaitu Creating Mental Linkages, Applying Images and Sounds,
Reviewing Well, dan Employing Action. Cognitive strategies diklasifikasikan menjadi 4
substrategi atau kegiatan, yaitu Practicing, Receiving and Sending, Analyzing and Reasoning,
dan Creating Structure for Input and Output. Compensation strategies diklasifikasikan menjadi
2 substrategi atau kegiatan, yaitu Guessing Intelligently in Listening and Reading, dan
Overcoming Limitations in Speaking and Writing. Kemudian Metacognitive strategies
diklasifikasikan menjadi 3 substrategi atau kegiatan, yaitu Centering Your Learning, Arranging
and Planning Your Learning, dan Evaluating Your Learning. Affective strategies
diklasifikasikan menjadi 3 substrategi atau kegiatan, yaitu Lowering Your Anxiety, Encouraging
Your Self, dan Taking Your Emotional Temperature. Social strategies diklasifikasikan menjadi

Jurnal Pendidikan Bahasa Jepang | 250


3 substrategi atau kegiatan, yaitu Asking Questions, Cooperating with Others, dan
Empathizing with Others.
Afdhol [1] menyatakan bahwa topik strategi belajar bahasa masih menjadi topik yang
hangat dibicarakandalam konteks pembelajaran bahasa asing. Penelitian mengenai strategi
belajar juga telah banyak dilakukan oleh peneliti terdahulu. Hidayat [8] mengkaji strategi
pembelajaran mahasiswa yang sukses dalam pelajaran Bahasa Inggris di Politeknik Raflesia
Rejang Lebong. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa mahasiswa menggunakan beberapa
tipe strategi belajar, dan Compensation strategy merupakan strategi yang paling sering
dipakai. Strategi lainnya juga digunakan, namun mahasiswa hanya melakukan beberapa
kegiatan saja dari strategi belajar tersebut. Fadhilah dan Basri [9] mengkaji strategi belajar
yang digunakan oleh mahasiswa yang telah lulus Japanese Language Proficiency Test (JLPT)
N3 ditinjau berdasarkan teori Oxford. Dari hasil penelitian berkesimpulan strategi kognitif dan
strategi sosial menjadi strategi yang dominan digunakan oleh para mahasiswa PBJ FKIP
Universitas Riau yang telah lulus JLPT N3. Othman et al. [7] mengkaji strategi belajar Bahasa
Inggris yang digunakan oleh mahasiswa universitas teknik Malaysia ketika mempersiapkan
presentasi lisan kelompok ditinjau berdasarkan teori O'Malley dan Chamot (1990). Dari hasil
penelitian berkesimpulan mahasiswa lebih banyak menggunakan strategi metakognitif dan
kognitif dibandingkan strategi sosial dan afektif. Banyaknya penelitian terdahulu yang meneliti
tentang strategi belajar bahasa menggambarkan bahwa strategi belajar bahasa merupakan
hal yang penting dalam proses pembelajaran bahasa. Namun, hal ini belum pernah dilakukan
di Program Studi Pendidikan Bahasa Jepang Universitas Negeri Semarang padahal data
strategi belajar yang dilakukan oleh mahasiswa dapat dijadikan bahan pertimbangan bagi para
pengajar untuk melakukan penyesuaian dan diferensiasi baik strategi atau metode pengajaran
maupun media yang digunakan. Meskipun sangat sulit untuk menjawab kebutuhan setiap
individu pembelajar di Prodi ini, namun pengajar dapat memaksimalkan upaya berkaitan
dengan hal ini agar hasil belajar semakin maksimal.
Pengetahuan tentang berbagai jenis strategi belajar bahasa bermanfaat bagi pemelajar
bahasa karena dengan pengetahuan tersebut pemelajar dapat memilih strategi belajar yang
cocok atau sesuai dengan karakter dan kenyamanan masing-masing yang berpengaruh pada
kesuksesan proses belajar bahasa yang sedang dilalui. Namun masih banyak pemelajar
bahasa yang hanya menggunakan satu atau dua strategi belajar, serta belum mengetahui
tentang macam-macam strategi belajar bahasa, salah satunya mahasiswa Pendidikan Bahasa
Jepang UNNES yang sedang mempelajari Bahasa Jepang di perkuliahan. Peneliti telah
melakukan studi pendahuluan dan didapat hasil bahwa penelitian tentang strategi belajar
Bahasa Jepang mahasiswa di UNNES serta analisis sikap lajutannya belum pernah dilakukan.
Penelitian ini perlu dilakukan mengingat pentingnya memahami faktor-faktor yang
memengaruhi kualitas pembelajaran di tingkat perguruan tinggi. Dalam era dinamis ini,
mahasiswa menghadapi berbagai tantangan, seperti perubahan teknologi, dan tekanan
akademis. Oleh karena itu, penelitian ini relevan untuk mengidentifikasi strategi belajar yang
digunakan oleh mahasiswa sehingga pengajar dapat menentukan strategi mengajar yang
paling efektif dalam mendukung pencapaian akademis mahasiswa. Selain itu, hasil penelitian
ini menyediakan dasar bagi pengembangan metode pembelajaran yang lebih adaptif dan
inovatif.
Pada penelitian ini akan dikaji mengenai strategi apa yang selama ini digunakan oleh
mahasiswa PBJ UNNES dalam belajar Bahasa Jepang ditinjau berdasarkan klasifikasi teori
strategi belajar bahasa oleh Oxford, yang mana teori ini merupakan teori yang paling efektif
karena menyempurnakan teori-teori sebelumnya, serta sikap lanjutan yang dapat diterapkan
atas hasil penelitian, yang nantinya hasil dari penelitian ini dapat bermanfaat bagi mahasiswa
dan pemelajar bahasa pada umumnya sebagai referensi dalam memilih strategi belajar
bahasa, serta bagi dosen/pengajar bahasa dalam menerapkan metode atau model
pembelajaran yang sesuai dengan hasil kecenderungan penggunaan strategi belajar
mahasiswa.

Jurnal Pendidikan Bahasa Jepang | 251


2. Metode
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pendekatan kualitatif dengan
metode survei, dan desain penelitian yang digunakan adalah desain penelitian deskriptif.
Populasi atau responden penelitian yaitu mahasiswa Pendidikan Bahasa Jepang UNNES
angkatan 2020, 2021, dan 2022 yang masih aktif mengikuti perkuliahan. Sampel penelitian
diambil menggunakan teknik sampling Purposive Sampling. Pengumpulan data dari penelitian
ini didapatkan responden sebanyak 73 orang. Teknik pengumpulan data penelitian ini yaitu
menggunakan instrumen angket atau kuesioner yang berisi 25 butir pernyataan yang
diadaptasi dari daftar SILL (Strategy Inventory for Language Learning) teori Oxford dengan
pilihan jawaban yang telah disediakan oleh peneliti menggunakan skala likert dengan
keterangan:

Skor 4 : Selalu Skor 2 : Kadang-kadang


Skor 3 : Sering Skor 1 : Tidak Pernah

Angket tersebut akan dibagikan kepada mahasiswa responden melalui internet, dan
ditujukan untuk mendapatkan data statistik mengenai kecenderungan penggunaan strategi
belajar yang digunakan mahasiswa Pendidikan Bahasa Jepang UNNES dalam mempelajari
Bahasa Jepang ditinjau berdasarkan klasifikasi Oxford. Teknik analisis data pada penelitian
ini menggunakan analisis statistik deskriptif yang digunakan untuk menganalisis atau
mendeskripsikan data yang telah terkumpul. Sedangkan untuk menganalisis angket
digunakan analisis skala likert yang digunakan untuk mengetahui kecenderungan penggunaan
strategi belajar Bahasa Jepang oleh mahasiswa responden. Data angket dihitung dengan
bantuan Microsoft Excel 2010 menggunakan rumus indeks sebagai berikut.

𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑡𝑜𝑡𝑎𝑙


𝑅𝑢𝑚𝑢𝑠 𝐼𝑛𝑑𝑒𝑥 % = 𝑥100 (1)
𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑡𝑒𝑟𝑡𝑖𝑛𝑔𝑔𝑖

Selanjutnya dilakukan analisis data kualitatif menggunakan teori atau model Miles dan
Huberman (1984) dalam 3 tahapan : 1) Reduksi Data (Data Reduction); 2) Penyajian Data
(Data Display); 3) Penarikan Kesimpulan/Verifikasi (Conclusion Drawing/Verifying).

3. Hasil dan Pembahasan

Tabel 1. Data Angket Indikator Strategi Memori


%
Skor Rata-
Substrategi No Contoh Kegiatan %
Total Rata
Indikator
Creating 1 Setiap mempelajari kosakata, tata 149 51,03% 65,2%
Mental bahasa, dan kanji baru, mahasiswa
Linkages mencatatnya dalam bentuk tabel
agar mudah memahami dan
mengingatnya.
2 Ketika belajar mandiri di luar jam 223 76,37%
Applying
perkuliahan mahasiswa
Images and
menggunakan video pembelajaran
Sounds
dari internet (misalnya Youtube)
untuk belajar tata bahasa
(bunpou), kanji, percakapan
(kaiwa), ataupun kosakata baru
Bahasa Jepang.

Jurnal Pendidikan Bahasa Jepang | 252


3 Mahasiswa me-review atau 197 67,47%
Reviewing
mempelajari kembali materi
Well
pembelajaran Bahasa Jepang dari
dosen atau pengajar setelah
pembelajaran di kelas selesai (di
kampus, di rumah, di indekos, atau
di tempat lain).
4 Setiap mempelajari kosakata 192 65,75%
Employing
Bahasa Jepang baru, mahasiswa
Action
mencatatnya dan membuat contoh
kalimat dari kosakata baru
tersebut.

Tabel 2. Data Angket Indikator Strategi Kognitif


%
Skor Rata-
Substrategi No Contoh Kegiatan %
Total Rata
Indikator
Practicing 5 Mahasiswa berlatih mengucapkan 232 79,45% 76,2%
atau menulis kosakata Bahasa
Jepang yang baru mereka pelajari
secara berulang agar mudah
mengingatnya.
Receiving 6 Mahasiswa menggunakan salam 192 72,77%
and dalam Bahasa Jepang (misalnya
Sending ohayou gozaimasu, konnichiwa,dan
konbanwa) setiap menulis pesan
melalui media online seperti
Whatsapp, Facebook, atau yang
lainnya kepada teman ataupun
pengajar.
7 Mahasiswa menggunakan teknik 233
skimming (teknik membaca sekilas)
saat mengerjakan soal ujian dokkai
(membaca), mengerjakan tugas,
atau saat belajar mandiri untuk
menemukan inti dari soal
bacaan/paragraf tersebut.
8 Mahasiswa mengucapkan salam 234 80,14%
Analyzing
dan ungkapan dalam Bahasa
and
Jepang saat berkomunikasi secara
Reasoning
lisan dengan teman atau pengajar
(misalnya ohayou gozaimasu,
konnichiwa, konbanwa, matane,
arigatou gozaimasu, sumimasen,
gomenasai, dll).
Creating 9 Mahasiswa memberi tanda khusus 212 72,60%
seperti bintang, stabilo warna, garis
bawah, atau tanda lain pada
catatan/materi/buku pembelajaran
Bahasa Jepang yang mereka
anggap penting.

Jurnal Pendidikan Bahasa Jepang | 253


Tabel 3. Data Angket Indikator Strategi Kompensasi
%
Skor Rata-
Substrategi No Contoh Kegiatan %
Total Rata
Indikator
Guessing 10 Ketika mahasiswa menjumpai 231 79,11% 76,1%
kosakata Bahasa Jepang yang
asing/baru mereka dengar atau
baca dalam sebuah paragraf atau
audio, mereka mencoba
mengartikan kosakata tersebut
dengan melihat konteks kalimat
atau petunjuk yang ada di
sekitarnya.
Overcoming 11 Ketika mahasiswa lupa kosakata 225 73,12%
atau tata bahasa selama
berkomunikasi secara lisan dalam
Bahasa Jepang, mereka berusaha
menggunakan isyarat gestur atau
gerakan fisik untuk menyampaikan
maksud mereka kepada lawan
bicara.
12 Ketika mahasiswa lupa kosakata 202
dalam Bahasa Jepang untuk ditulis
atau diucapkan, mereka berusaha
memparafrasakan atau
menggunakan kosakata lain yang
memiliki arti yang sama.

Tabel 4. Data Angket Indikator Strategi Metakognitif


%
Skor Rata-
Substrategi No Contoh Kegiatan %
Total Rata
Indikator
Centering 13 Mahasiswa membuat target 150 51,37% 60,0%
your pencapaian belajar Bahasa Jepang
learning mereka setiap minggu.

Arranging 14 Mahasiswa menyisihkan waktu 179 61,30%


and setiap harinya untuk berlatih
planning percakapan (kaiwa),
your mendengarkan (choukai), menulis
learning dan membaca (sakubun dan
dokkai), ataupun latihan soal tata
bahasa (bunpou) dan kanji di luar
jam perkuliahan secara mandiri, di
tengah kesibukan kegiatan lain
mereka.

Jurnal Pendidikan Bahasa Jepang | 254


Evaluating 15 Mahasiswa mengerjakan soal 169 67,47%
your latihan dari materi pembelajaran
learning Bahasa Jepang dan saling
mengoreksinya dengan teman
untuk mengevaluasi pemahaman
materi mereka.
16 Mahasiswa memikirkan tentang 225
kemajuan atau progres
kemampuan Bahasa Jepang
mereka dalam hal berbicara
(kaiwa), membaca dan menulis
(dokkai dan sakubun), dan
mendengarkan (choukai) setelah
pembelajaran dilaksanakan.

Tabel 5. Data Angket Indikator Strategi Afektif


%
Skor
Substrategi No Contoh Kegiatan % Rata-Rata
Total
Indikator
Lowering 17 Mahasiswa mencoba untuk rileks 220 75,34% 77,3%
your anxiety setiap kali mereka merasa takut
menggunakan Bahasa Jepang saat
berkomunikasi atau saat menulis
kalimat.
Encouraging 18 Mahasiswa memotivasi diri mereka 226 77,40%
your self sendiri untuk berbicara Bahasa
Jepang bahkan ketika mereka takut
membuat kesalahan.
Taking your 19 Sebelum belajar, mahasiswa 220 79,11%
emotional memastikan kondisi fisik mereka
temperature sedang dalam kondisi yang fit atau
baik.
20 Mahasiswa bertukar pikiran dengan 242
teman ketika mereka merasa
kesulitan saat belajar Bahasa
Jepang.

Tabel 6. Data Angket Indikator Strategi Sosial


%
Skor Rata-
Substrategi No Contoh Kegiatan %
Total Rata
Indikator
Asking Ketika mahasiswa tidak mengerti 210 67,24% 69,6%
21
questions maksud ucapan dosen, teman,
atau penutur asli dalam Bahasa
Jepang, mahasiswa meminta
orang tersebut untuk
memperlambat atau
mengatakannya sekali lagi.
Mahasiswa meminta penutur 206
22
Bahasa Jepang asli, pengajar, atau
orang yang lebih mahir berbahasa
Jepang untuk mengoreksi mereka

Jurnal Pendidikan Bahasa Jepang | 255


ketika sedang berbicara dalam
Bahasa Jepang.

Mahasiswa bertanya 173


23
menggunakan Bahasa Jepang
tentang hal yang belum mereka
mengerti kepada pengajar, penutur
asli, atau orang yang lebih mahir
berbahasa Jepang.
Cooperating Mahasiswa berdiskusi tentang 191 65,41%
24
with others materi pembelajaran Bahasa
Jepang dengan teman setelah
selesai perkuliahan.
Empathizing Ketika belajar mandiri di luar jam 222 76,03%
25
with others perkuliahan mahasiswa
menggunakan video dari internet
(misalnya Youtube) untuk
mempelajari budaya orang
Jepang.

Tabel 7. Data Angket Persentase Keseluruhan


%
% Rata-
Aspek Indikator %
Indikator Rata
Aspek
Creating Mental Linkages 51,03%
Applying Images and Sounds 76,37%
65,2%
Reviewing Well 67,47%
Employing Action 65,75%
Direct Practicing 79,45%
Strategies Receiving and Sending 72,77%
76,2% 72,5%
(Strategi Analyzing and Reasoning 80,14%
Langsung) Creating Structure for Input and Output 72,60%
Guessing Intelligently in Listening and
Reading 79,11%
76,1%
Overcoming Limitations in Speaking
and Writing 73,12%
Centering Your Learning 51,37%
Arranging and Planning Your Learning 61,30% 60,0%
Indirect Evaluating Your Learning 67,47%
Strategies Lowering Your Anxiety 75,34%
(Strategi Encouraging Your Self 77,40% 77,3% 69,0%
Tidak Taking Your Emotional Temperature 79,11%
Langsung) Asking Questions 67,24%
Cooperating with Others 65,41% 69,6%
Empathizing with Others 76,03%

Dari hasil perhitungan tiap indikator pada aspek Direct Strategy (Strategi Langsung) didapat
hasil persentase rata-rata aspek yaitu 72,5%. Indikator tertinggi yaitu Strategi Kognitif dengan
persentase rata-rata 76,2%, yang kedua yaitu Strategi Kompensasi dengan persentase rata-
rata 76,1%, dan yang paling rendah yaitu Strategi Memori dengan persentase rata-rata 65,2%.

Jurnal Pendidikan Bahasa Jepang | 256


Substrategi yang paling sering digunakan oleh mahasiswa responden yaitu substrategi
Analyzing and Reasoning dengan persentase 80,14%, substrategi Practicing dengan
persentase 79,45%, dan substrategi Guessing Intelligently in Listening and Reading dengan
persentase 79,11%.
Kemudian dari hasil perhitungan tiap indikator pada aspek Indirect Strategy (Strategi Tidak
Langsung) didapat hasil persentase rata-rata aspek yaitu 69,0%. Indikator yang tertinggi yaitu
Strategi Afektif dengan persentase rata-rata 77,3%, yang kedua yaitu Strategi Sosial dengan
persentase rata-rata 69,6%, dan yang paling rendah yaitu Strategi Metakognitif dengan
persentase rata-rata 60,0%. Substrategi yang paling sering digunakan oleh mahasiswa
responden yaitu substrategi Taking your emotional temperature dengan persentase 79,11%,
substrategi Encouraging your self dengan persentase 77,40%, dan substrategi Empathizing
with others dengan persentase 76,03%. Sikap lanjutan atas enam substrategi tersebut yaitu
sebagai berikut.
a. Sikap lanjutan atas kecenderungan penggunaan substrategi Analyzing and Reasoning
yaitu dengan menerapkan kebiasaan pada tingkat dasar untuk menggunakan ungkapan-
ungkapan sederhana dalam Bahasa Jepang, misalnya salam, ungkapan terima kasih, dan
meminta maaf. Selain itu juga menerapkan kebiasaan untuk menggunakan ungkapan-
ungkapan instruksi di dalam kelas.
b. Sikap lanjutan atas kecenderungan penggunaan substrategi Practicing yaitu dengan
membuat metode pembelajaran berupa latihan pengulangan.
c. Sikap lanjutan yang dapat diterapkan atas kecenderungan penggunaan substrategi
Guessing Intelligently in Listening and Reading yaitu dengan membuat metode
pembelajaran yang mengembangkan penalaran dan menambah pemahaman kosakata
Bahasa Jepang mahasiswa.
d. Sikap lanjutan yang dapat diterapkan atas kecenderungan penggunaan substrategi Taking
your emotional temperature yaitu dengan selalu memastikan kondisi kesehatan dalam
kondisi yang fit sebelum memulai pembelajaran.
e. Sikap lanjutan yang dapat diterapkan atas kecenderungan penggunaan substrategi
Encouraging your self yaitu dengan menerapkan sikap percaya diri dan optimis kepada diri
sendiri ketika belajar Bahasa Jepang.
f. Sikap lanjutan yang dapat diterapkan atas kecenderungan penggunaan substrategi
Empathizing with others yaitu dengan memberikan materi pembelajaran budaya Jepang,
serta perlu adanya rasa saling menghormati antar pengajar/dosen dengan mahasiswa saat
pembelajaran.

4. Simpulan dan Saran


Berdasarkan hasil penelitian yang peneliti telah lakukan mengenai strategi belajar Bahasa
Jepang mahasiswa Pendidikan Bahasa Jepang Universitas Negeri Semarang angkatan 2020,
2021, dan 2022 dapat diambil simpulan yaitu:
1. Berdasarkan data angket didapat simpulan bahwa mahasiswa menggunakan beberapa
strategi belajar untuk belajar Bahasa Jepang. Dari beberapa strategi tersebut strategi
yang paling banyak digunakan pada kategori atau aspek strategi langsung (direct
strategy) yaitu strategi kognitif dan strategi kompensasi. Sedangkan strategi memori
jarang digunakan oleh mahasiswa. Pada kategori atau aspek strategi tidak langsung
(indirect strategy) strategi yang paling banyak digunakan yaitu strategi afektif dan strategi
sosial. Sedangkan strategi metakognitif jarang digunakan oleh mahasiswa. Kemudian
mahasiswa cenderung menggunakan enam substrategi yaitu substrategi Analyzing and
Reasoning, substrategi Practicing, substrategi Guessing Intelligently in Listening and
Reading, substrategi Taking your emotional temperature, substrategi Encouraging your
self, dan substrategi Empathizing with others.
2. Berdasarkan data angket kemudian dianalisis sikap lanjutan atas enam substrategi yang
dominan atau cenderung digunakan oleh mahasiswa responden. Hasil analisis yang
didapat yaitu sebagai berikut.

Jurnal Pendidikan Bahasa Jepang | 257


a. Sikap lanjutan atas kecenderungan penggunaan substrategi Analyzing and Reasoning
yaitu dengan menerapkan kebiasaan pada tingkat dasar untuk menggunakan ungkapan-
ungkapan sederhana dalam Bahasa Jepang, baik di kelas maupun di luar kelas.
b. Sikap lanjutan atas kecenderungan penggunaan substrategi Practicing yaitu dengan
membuat metode pembelajaran berupa latihan pengulangan.
c. Sikap lanjutan atas kecenderungan penggunaan substrategi Guessing Intelligently in
Listening and Reading yaitu dengan membuat suatu metode pembelajaran yang
mengembangkan penalaran dan menambah pemahaman kosakata Bahasa Jepang
mahasiswa.
d. Sikap lanjutan atas kecenderungan penggunaan substrategi Taking your emotional
temperature yaitu dengan selalu memastikan kondisi kesehatan dalam kondisi yang fit
sebelum memulai pembelajaran.
e. Sikap lanjutan yang dapat diterapkan atas kecenderungan penggunaan substrategi
Encouraging your self yaitu dengan menerapkan sikap percaya diri dan optimis kepada
diri sendiri ketika belajar Bahasa Jepang.
f. Sikap lanjutan yang dapat diterapkan atas kecenderungan penggunaan substrategi
Empathizing with others yaitu dengan memberikan materi pembelajaran budaya Jepang,
serta perlu adanya rasa saling menghormati antar pengajar/dosen dengan mahasiswa
saat pembelajaran.
Sikap lanjutan atas keenam substrategi tersebut dapat diterapkan oleh pengajar/dosen
ataupun oleh mahasiswa saat pembelajaran di kelas (KBM), di lingkungan kampus,
maupun saat belajar mandiri dengan memanfaatkan berbagai media penunjang dan dapat
disesuaikan dengan rencana capaian pembelajaran yang telah dibuat sebelumnya.
Kemudian dari data penelitian terdapat temuan di lapangan bahwa strategi metakognitif
masih tergolong rendah atau jarang digunakan oleh mahasiswa. Maka dari itu diharapkan
strategi ini dapat diterapkan dan dikembangkan untuk mencapai keberhasilan proses
pembelajaran bahasa, menimbang bahwasanya strategi metakognitif merupakan strategi
yang penting karena mencakup dari perencanaan pembelajaran, pelaksanaan, sampai
dengan evaluasi pembelajaran.

Daftar Pustaka
[1] A. dan D. A. Hidayat, “Penggunaan strategi belajar Bahasa Inggris oleh pelajar berprestasi,” J.
Pendidik. Vokasi Raflesia Vokasi Raflesia, vol. 1 (1), pp. 8–13, 2021.
[2] A. Setiawan, “Belajar dan pembelajaran tujuan belajar dan pembelajaran,” Book, vol. 09, no. 02, pp.
193–210, 2019, [Online]. Available: [Link]
Pembelajaran1-convertedpdf/.
[3] Fatimah and R. D. Kartikasari, “Strategi belajar dan pembelajaran dalam meningkatkan keterampilan
bahasa,” Pena Literasi, vol. 1, no. 2, p. 108, 2018, doi: 10.24853/pl.1.2.108-113.
[4] F. Vindayani, “Strategi belajar Bahasa Arab mahasiswa menurut model Oxford,” Pros. Konf. Nas.
Bhs. Arab V, pp. 50–55, 2019, [Online]. Available: [Link]
[Link]/[Link]/konasbara/article/view/469.
[5] M. R. Afdhol, F. A. Saragih, and V. R. Paskaliana, “Strategi pembelajaran kosakata Bahasa Jepang
oleh siswa SMAN 6 Malang,” Jpbj, vol. 8, no. 2, pp. 122–131, 2022, [Online]. Available:
[Link]
[6] [Link], “Metode penelitian bahasa: pendekatan struktural,” in Metode Penelitian Bahasa, vol. 14,
2018, p. 1.
[7] N. A. Othman, M. N. A. Mohamed, N. F. Ahmad Powzi, and S. Jamari, “A case study of English
Language learning strategies used by engineering students in Malaysia,” Malaysian J. Soc. Sci.
Humanit., vol. 7, no. 1, pp. 261–269, 2022, doi: 10.47405/mjssh.v7i1.1216.
[8] N. Fadhilah and M. S. Basri, “Learning strategies for student of Japanese Language Education Study
Program Ria University who passed JLPT N3,” J. Online Mhs. FKIP UNRI, vol. 8, no. 1990, pp. 1–
10, 2021.
[9[ R. Oxford, Language lerning strategies: what every teacher should know. Boston: Heinle and heinle,
1994.
[10] S. Anitah, “Strategi pembelajaran ekonomi dan koperasi,” Strateg. Pembelajaran, vol. 2, no. 2, p.
120, 2013.

Jurnal Pendidikan Bahasa Jepang | 258

Anda mungkin juga menyukai