Teori Dependency muncul pada tahun 1950-1970, sebagai respons terhadap teori yang
dianggap gagal dalam menjelaskan mengapa negara dunia ke-3 tetap terbelakang meskipun
mengikuti sistem ekonomi barat. Menurut Ghosh teori ini berakar kuat pada tradisi Marxis,
namun berkembang menjadi neo-Marxis atau teori radikal karena berfokus pada
hubungan eksploitatif antarnegara, bukan antar kelas sosial. “Kemiskinan dan kekayaan
diciptakan secara bersamaan oleh sistem kapitalisme dunia.” – B.N. Ghosh. Secara definisi,
hal ini diakibatkan oleh bentuk hubungan internasional yang tidak setara diantara dua
kelompok negara. Teori ini menekankan bahwa perkembangan dan keterbelakangan
bukan dua hal yang terpisah, melainkan dua sisi dari proses kapitalisme global (rantai
hierarkis di mana surplus ekonomi (nilai lebih) mengalir dari bawah ke atas — dari
periphery menuju semi-periphery lalu ke core). Dimana guna menjelaskan hal tersebut,
Ghosh mengambil dasar pemikiran dari Immanuel Wallerstein tentang Modern
World-System (MWS). Ghosh menjelaskan bahwa struktur dunia kapitalis bersifat hierarkis
dan dibagi menjadi tiga lapisan utama yang saling terkait, yakni:
1. Negara Core (Inti)
Negara-negara core menurut Ghosh merupakan sistem pusat kapitalis dunia. Dimana
menurut Ghosh (dengan mengambil pemikiran Wallerstein) ciri-ciri negara core
adalah:
● Memiliki negara yang kuat dan mampu mengkoordinasikan sistem
ekonomi-sosial-industri.
● Mendominasi perdagangan internasional, mengekspor barang industri dan
teknologi dengan harga tinggi.
● Upah buruh tinggi, serikat pekerja kuat, dan pasar ekspor bersifat monopolis.
● Melakukan transfer surplus dari pinggiran ke pusat melalui perdagangan
tidak setara seperti proteksionisme.
● Dengan dukungan aparatur negara, core menyerap surplus ekonomi
periphery dan memperlemah negara-negara di pinggiran.
2. Negara Semi (Periphery)
Negara Semi-periphery atau semi-feri menempati posisi menengah. Dimana negara
ini merupakan negara menengah yang juga mengalami eksploitasi dari negara core,
namun mereka juga bersifat eksploitatif terhadap negara Feri (pinggir). Menurut
Ghosh sendiri, kelompok negara ini memiliki ciri sebagai berikut:
● Bertindak sebagai “buffer zone” antara core dan periphery.
● Berperan ganda: sekaligus eksploitatif terhadap periphery dan tereksploitasi
oleh core.
● Digunakan oleh sistem kapitalis dunia untuk mencegah solidaritas politik
periphery, menjaga stabilitas sistem global.
● Biasanya merupakan negara industri baru atau berkembang pesat (mis. Brasil,
Meksiko, Turki, Indonesia pada konteks tertentu).
Menurut Ghosh, negara Periphery bersifat vital bagi negara core, terutama guna
menjalankan strategi divide and rule kapitalisme dunia.
3. Negara Periphery (feri)
Negara pada kelompok ini merupakan negara yang cenderung lemah (negara dunia
ke-3). Kelompok ini memiliki ciri sebagai berikut:
● Memiliki serikat pekerja lemah, upah rendah, dan struktur ekonomi
agraris.
● Ekspor utama berupa komoditas primer dengan harga murah, sementara
impor barang manufaktur mahal.
Bergantung pada core dalam aspek teknologi, modal, pasar, dan kebijakan
ekonomi.
● Surplus ekonomi mereka disedot ke pusat, mengakibatkan development of
underdevelopment (perkembangan keterbelakangan)
Menurut Ghosh sendiri terdapat 10 dimensi ketergantungan, yakni:
● Akademik – Kurikulum dan ilmu pengetahuan negara berkembang
bergantung pada sistem Barat.
● Kultural – Nilai sosial dan gaya hidup meniru Barat.
● Finansial – Ketergantungan pada investasi dan pinjaman asing.
● Pasar – Ketergantungan pada permintaan dan harga pasar negara
maju.
● Sumber Daya Manusia – Brain drain, kehilangan tenaga ahli ke
negara maju.
● Konsumerisme – Ketergantungan terhadap produk dan budaya
konsumsi Barat.
● Biologis (Bio-dependency) – Ketergantungan medis dan farmasi pada
Barat.
Lingkungan – Negara maju menjadi penentu isu lingkungan global.
● Militer – Ketergantungan pada perlengkapan dan bantuan keamanan
Barat.
● Kebijakan (Policy dependency) – Pengaruh lembaga internasional
terhadap kebijakan nasional (IMF, Bank Dunia, WTO).
Selain itu Ghosh juga menyoroti mekanisme dan pengambilan surplus dari negara
Feri → Negara Core. Dimana dalam metode langsung biasanya negara core melakukan
Penjarahan sumber daya alam, Repatriasi keuntungan dan royalti, dall. Kemudian secara
tidak langsung: Pertukaran tidak setara (unequal exchange), Harga ekspor rendah, harga
impor tinggi, dll.