0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan12 halaman

Insiden Gate A-0128109 dan Kehidupan Restoran

Insiden Gate A-0128109 mengguncang dunia, memicu perubahan dalam cara pemerintah dan Asosiasi Awakener mengelola informasi. Di tengah kekacauan, Yoo Soon-tae, seorang koki muda, menjalani kehidupan sehari-hari di restorannya sambil merenungkan perubahan besar yang terjadi sejak munculnya monster dan Awakener. Sementara itu, Kang So, seorang pria dari dunia lain, berjuang untuk memahami kehidupan modern dan mencari jalan pulang ke tempat asalnya.

Diunggah oleh

gopalasunardi66
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan12 halaman

Insiden Gate A-0128109 dan Kehidupan Restoran

Insiden Gate A-0128109 mengguncang dunia, memicu perubahan dalam cara pemerintah dan Asosiasi Awakener mengelola informasi. Di tengah kekacauan, Yoo Soon-tae, seorang koki muda, menjalani kehidupan sehari-hari di restorannya sambil merenungkan perubahan besar yang terjadi sejak munculnya monster dan Awakener. Sementara itu, Kang So, seorang pria dari dunia lain, berjuang untuk memahami kehidupan modern dan mencari jalan pulang ke tempat asalnya.

Diunggah oleh

gopalasunardi66
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Chapter 2 – Outsider (2)

Insiden Gate A-0128109 langsung bikin seluruh dunia geger.

Dulu, pemerintah dan Asosiasi Awakener masih suka mengontrol media soal
berita gate, tapi dampaknya ternyata parah banget.

Apalagi sepuluh tahun lalu, waktu terjadi Pertempuran Besar di Land Of Dead,
gara-gara sensor media, banyak warga sipil nggak sempat diselamatkan.

Sejak rezim baru naik, pemerintah mulai ubah strategi: mereka biarin wartawan
liput langsung kejadian di gate biar publik nggak gelap mata.

Dan kali ini, semua media berebutan ngangkat tajuk besar:

[Apa yang Sebenarnya Terjadi di Gate A-0128109!?]

[S-Rank Awakener Lee Shin: “Itu mustahil kecuali pelakunya Awakener Kelas-
Zero.”]

[AS dan Tiongkok: “Awakener Kelas-Zero kami tidak terlibat.”]

[Apakah Korea Selatan Kini Punya Awakener Kelas-Zero?]

[Asosiasi Awakener: “Belum ada konferensi pers terjadwal.”]


Dunia jadi ramai luar biasa.

Tapi di tengah hiruk pikuk itu, seorang koki muda berusia 35 tahun, Yoo Soon-tae,
tetap asik ngaduk wajan besi, menggoreng jjajangmyeon.

Di sebuah rumah dua lantai agak jauh dari pusat Seoul, berdirilah restoran Cina
sederhana bernama Restoran Yangchun, tempat Yoo Soon-tae dan istrinya
bekerja.

Meski waktu udah hampir jam dua siang, ujung jam makan siang. restoran itu
masih rame banget.

“Jjajangmyeon satu!”

“Siap!”

“Tambahin lobak acar ya, ahjussi!”

“Langsung datang!”

Istrinya, Im So-young, perempuan bertubuh agak besar tapi gesit, sibuk wara-wiri
antar makanan dan lobak acar ke meja pelanggan.

Begitu pelanggan mulai berkurang dan dapur udah nggak sepanas tadi, Soon-tae
keluar sebentar, ngambil segelas air dingin dan langsung teguk sampai habis.

“Ahhh… segar banget! Air dingin emang paling mantap!”

Istrinya nyengir, “Kamu juga udah kerja keras hari ini.”

“Kamu malah lebih keras lagi.”


Mereka saling senyum, mata saling menatap penuh sayang — pasangan muda
yang udah lima tahun jalanin restoran bareng.

Ding.

Bel pintu berbunyi, seorang cowok muda masuk.

“Selamat datang!” seru Im So-young.

“Oh! Udah lama nggak kelihatan!” tambah Soon-tae.

Cowok itu menghela napas berat begitu duduk.

“Aduh, lagi sibuk banget akhir-akhir ini.”

“Aku dengar, gate muncul lagi di Land Of Death ya?” tanya Soon-tae.

“Jangan bahas deh!” si cowok mengeluh. “Asosiasi lagi kacau banget gara-gara
itu. Dua malam lembur tanpa tidur, rasanya pengen pingsan…”

“Oh, kasihan banget!”

“Yang untung cuma Guild Red Dragon! Kadang aku pengen nemuin siapa pun
yang bikin sistem gate kayak gini, terus aku jambak kerahnya daan...ah sial!”

Namanya Baek Eun-ho, seorang Awakener peringkat B sekaligus staf Asosiasi


Awakener.
“Ah, kasih aku jjajangmyeon porsi besar ya!”

“Oke, tunggu sebentar!”

Soon-tae balik lagi ke dapur, ambil wajan, panasin api, dan mulai goreng saus
hitam kental khas jjajangmyeon.

Sambil ngaduk, pikirannya melayang.

Dunia memang udah jauh berubah sejak dia kecil.

Waktu umur sepuluh tahun, dia lihat sendiri monster jatuh dari langit. Saat itu,
dia cuma bisa berpikir:

“Ah, jadi ini kiamat ya…”

Tapi ternyata bukan akhir dunia, cuma awal dari dunia baru yang gila.

Gate-gate muncul di mana-mana, monster bermunculan, dan manusia terpilih


yang disebut Awakener mulai bangkit buat melawan.

Lahan-lahan yang dulunya dipenuhi monster perlahan direbut kembali.

Asosiasi Awakener, guild Hunter, dan warga biasa semua ikut berjuang.

Sekarang, monster masih ada di dalam laut atau gunung, tapi sebagian besar
wilayah udah pulih.

Dunia bahkan menyebutnya Keajaiban Kedua Sungai Han.


Dan meskipun masih banyak negara belum bisa bersih dari monster, Korea melaju
cepat banget.

Bahkan alat dapur di restoran ini semua bertenaga batu mana yang nggak butuh
gas atau listrik lagi.

Namun satu hal masih misteri: asal-usul gate itu sendiri.

Clang!

“Jjajangmyeon jadi!”

“Terima kasih!”

Soon-tae nyodorin semangkuk besar jjajangmyeon ke Baek Eun-ho, yang langsung


sumringah.

Dia aduk cepat, terus makan dengan semangat.

Slurp!

“Ahhhh—!”

Baek Eun-ho menutup mata, wajahnya puas banget.

“Seperti biasa, rasanya luar biasa!”

“Haha, senang kamu suka masakanku.”


“Setiap kali harus masuk ke gate buat investigasi, aku kangen banget sama
jjajangmyeon ini. Sayang aja, nggak bisa pesan antar di dalam gate!”

“Hahaha!”

“Bercanda kok, bercanda.”

Setelah makan sampai habis dan nerima panggilan kerja, Eun-ho pamit, restoran
pun sepi lagi.

Ding!

Tiba-tiba pintu terbuka keras, dan seorang pemuda dengan helm motor masuk
dengan langkah kasar.

Dia adalah Koo Sang-ok, kurir pengantar makanan restoran itu.

“Kerja bagus hari ini,” kata Soon-tae.

Tapi sebelum dia lanjut, Koo Sang-ok sudah melempar tas pengantaran ke lantai.

Thud!

Dia copot helm dan ngomong ketus,

“Aku berhenti hari ini.”

Keduanya bengong.

“Hah? Maksudnya apa? Tiba-tiba banget?”

“Ada apa? Ada masalah?”

“Aku capek,” jawabnya datar.


“Capek gimana? Masa langsung resign gitu aja? Tahan dulu seminggu kek, atau
tiga hari deh?”

“Gak mau.”

Nada suaranya yang seenaknya bikin darah pasangan itu mendidih.

Sebenarnya, mereka emang udah lama gak suka sama cowok ini. malas,
seenaknya, dan nggak sopan.

Tapi susah cari kurir di zaman sekarang.

Kalau nggak ada layanan antar, penghasilan bisa turun setengah.

“Yaudah, minimal bantu tiga hari lagi, ya?”

“Hmm… kalau gajinya dinaikkan, aku pikir-pikir lagi deh.”

Barulah ketahuan maunya, minta naik gaji.

Wajah Soon-tae dan istrinya langsung berubah.

Sebenarnya gaji Koo Sang-ok udah tinggi banget.

Kerja antar makanan sekarang berisiko, karena gate bisa muncul tiba-tiba di jalan.

Tapi tetep aja, gajinya dua kali lipat dari pengantar biasa.

Masih aja kurang puas.


“Baiklah.”

Wajah Koo Sang-ok langsung sumringah. “Nah gitu dong! Kalau dinaikkan sekitar
tiga ratus ribu won...”

“Apa-apaan? Kan kamu yang bilang mau berhenti?”

“Hah?”

“Kamu udah kerja keras. Gajimu sampai hari ini nanti aku transfer.”

Wajah Koo Sang-ok langsung kaku.

“Jadi kalian nyuruh aku keluar beneran?!”

“Betul,” jawab So-young tegas. “Terima kasih udah kerja selama ini.”

“Uh… ya…”

“Lain kali mampir aja jadi pelanggan.”

Cowok itu mendengus sinis.

“Kalian pikir gampang nyari kurir kayak aku?”

Soon-tae nyipitkan mata. “Urus aja hidupmu sendiri.”

“Hmph! Nanti juga kalian nyesel!”

“Ya silakan. Sekarang tolong keluar, aku mau siapin menu malam.”

Bang!

Dia nendang tas pengantaran dan keluar dengan muka merah padam.
*

“Udah pergi?”

“Iya, udah.”

Mereka berdua saling menatap, separuh lega, separuh pusing.

“Haaah… terus besok siapa yang antar pesanan?”

“Mau gimana lagi, bilang aja pengantaran ditunda dulu sampai dapat orang baru.”

Soon-tae ambil kertas dan nulis pengumuman kecil:

Mencari pegawai paruh waktu

Bisa antar pesanan

Disediakan tempat tinggal

Gaji bisa dinegosiasi

Dia tempel di depan restoran dan berdoa lirih.

“Tuhan, semoga kali ini dapat kurir yang beneran bagus…”

*
Sementara itu, di sisi lain kota , tepat di dekat Menara Perak, markas besar
Asosiasi Awakener, seorang pria berjalan pelan di atas tanah kering. Kang So.

“Tempat apa ini sebenarnya…” gumamnya sambil melirik mobil-mobil yang


meluncur cepat.

“Wah, kereta tanpa kuda? Bisa jalan sendiri gitu?”

Matanya beralih ke gedung tinggi yang menjulang.

“Wow… papan tulisnya bisa berubah gambar? Ini sihir tingkat tinggi apa gimana?”

Dia terus mengamati orang-orang sekitar.

Bahasanya aneh, tapi entah kenapa, dia bisa ngerti semuanya, berkat mantra
aneh yang dulu dia pelajari dari seorang pengelana asing.

Katanya waktu itu, “Kalau mau menyebarkan ajaran, hambatan paling besar
adalah bahasa. Jadi, kuterjemahkan semua bahasa jadi satu yang bisa kau
pahami.”

Kang So dulu nganggep itu nggak berguna, tapi sekarang dia bersyukur banget.

Cuma ya, ada efek sampingnya juga.

“‘Gold… anti-aging lifting power’? Itu apaan coba?”

Dia lihat dua wanita ngobrol sambil nunjuk iklan kosmetik berwarna emas
mengilap.

Tulisan di bawahnya berbunyi:


‘Kembalikan masa muda kulitmu, Gold Anti-Aging Power Lifting Cream’.

“Ah, semacam krim kecantikan ya… namanya ribet banget,” gumamnya sambil
garuk kepala.

Semakin lama dia jalan, semakin pusing.

Suara klakson, mesin, teriakan orang, semuanya menumpuk jadi satu.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Kang So pengen nutup kuping.

“Ini sih udah kayak penyiksaan. Tapi… orang-orang sini hebat juga, bisa hidup di
kebisingan kayak gini.”

Dua hari berlalu.

Dari hasil pengamatannya, Kang So mulai ngerti dunia ini sedikit demi sedikit.

Tempat ini… hidupnya butuh uang. Semua butuh uang: makan, pakaian, tempat
tinggal.

Tapi dia juga kagum , dunia ini bersih banget dan serba praktis.

Dan waktu lihat mereka masih pakai aksara Cina di papan-papan tulisan, dia
merasa agak tenang.

“Untung bukan dunia yang sepenuhnya asing.”


Tapi tetap saja…

Dia belum tahu gimana cara balik ke Dataran Tengah, tempat asalnya.

“Kalau dia tahu aku hilang, pasti bakal khawatir…” gumamnya pelan.

Di tengah keramaian orang-orang yang sibuk dengan hidupnya,

Kang So hanya bisa berdiri sendiri, seorang orang luar di dunia yang bukan
miliknya.

Anda mungkin juga menyukai