0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan15 halaman

Dewa Perang dan Gerbang Kematian

Di Seoul, setelah pertempuran besar melawan monster dari gerbang kelas-S, sebuah area dikenal sebagai 'Land of Death' menjadi tempat yang rusak dan tercemar. Tim Alpha dari Guild Red Dragon memasuki gerbang kelas-A dan menemukan banyak mayat monster, termasuk Cyclops, yang tampaknya dibunuh oleh kekuatan manusia yang tidak biasa. Sementara itu, seorang pria bernama Kang So, yang dikenal sebagai Dewa Perang, terbangun di dunia yang hancur dan berencana menuju markas Asosiasi Awakener.

Diunggah oleh

gopalasunardi66
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan15 halaman

Dewa Perang dan Gerbang Kematian

Di Seoul, setelah pertempuran besar melawan monster dari gerbang kelas-S, sebuah area dikenal sebagai 'Land of Death' menjadi tempat yang rusak dan tercemar. Tim Alpha dari Guild Red Dragon memasuki gerbang kelas-A dan menemukan banyak mayat monster, termasuk Cyclops, yang tampaknya dibunuh oleh kekuatan manusia yang tidak biasa. Sementara itu, seorang pria bernama Kang So, yang dikenal sebagai Dewa Perang, terbangun di dunia yang hancur dan berencana menuju markas Asosiasi Awakener.

Diunggah oleh

gopalasunardi66
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Chapter 1 – Outsider (1)

Tahun 20XX.

Ibukota Korea Selatan, Seoul.

Di pinggiran kota, ada sebidang tanah luas yang dulunya merupakan kawasan
tempat tinggal padat penduduk.

Sekarang, yang tersisa hanyalah reruntuhan menyedihkan.

Sepuluh tahun lalu, di tempat itu terbuka sebuah Gate(gerbang) kelas-S.

Gate itu memuntahkan monster-monster mengerikan, dan pertempuran besar


pun pecah.

Pertempuran itu kemudian dikenal sebagai “Great Clash (Bentrok Besar)”.

Hasil akhirnya: manusia menang.

Tapi itu bukan kemenangan yang manis, melainkan kemenangan yang ditulis
dengan darah dan luka.

Ribuan orang tewas, baik warga biasa maupun awakener (manusia yang
terbangun kekuatan khusus).
Tanah tempat pertempuran itu terjadi menjadi rusak dan tercemar oleh sesuatu
yang tak diketahui asalnya.

Sebuah tanah mati di mana bahkan sehelai rumput pun tak bisa tumbuh.

Tempat yang bahkan gelandangan dan penjahat pun enggan datangi.

Dulu tempat itu punya nama lain,

tapi kini semua orang menyebutnya “Land of Death(Tanah Kematian).”

Tak ada cara untuk mengembalikannya seperti semula.

Satu-satunya yang bisa dilakukan adalah mengawasi gate-gate baru yang muncul
di sana dan membersihkannya.

Dan sialnya, hampir semua gate yang muncul di Land of Death itu adalah kelas-B
atau kelas-A, tingkat bahaya tinggi.

“Tim Alpha! Kami akan masuk ke Gate A-0128109!”

— Semoga berhasil.

Suara komunikasi dari petugas Asosiasi Awakener terdengar di belakang.


Begitu mereka menjejakkan kaki ke dalam gate, tubuh para Hunter(pemburu) itu
langsung menegang,

antara tegang dan bersemangat, seperti biasa setiap kali misi dimulai.

Namun, pemimpin Tim Alpha yang sudah berpengalaman hanya mengangkat


tangan, memberi aba-aba tenang.

“Masuk!”

Dan seluruh tim pun menjawab lantang,

“Masuk!”

Tim Alpha, tim elit dari Guild Red Dragon, salah satu dari tiga guild terbesar di
Korea Selatan.

Kecuali beberapa porter dan pengamat dari Asosiasi Awakener, seluruh dua belas
anggota inti mereka adalah awakener kelas-A dan kelas-B.

Gate yang mereka masuki kali ini adalah tipe gua kelas-A, muncul dari Land of
Death.

Mulut guanya begitu besar, bahkan pesawat penumpang pun muat kalau
dimasukkan ke dalamnya.

Udara di dalamnya terasa berat, berwarna merah gelap, hampir seperti kabut
darah. membuat semua anggota tim semakin waspada.
“E-eh… Kapten.”

Pemimpin tim menoleh. “Kenapa?”

“Udah sepuluh menit sejak kita masuk.”

“Lalu?”

“Aku belum lihat satu pun monster.”

Pemimpin tim menghela napas panjang. “Kamu tidur waktu di akademi hunter
dulu, hah?”

“Hah?”

“Ini gate kelas-A, bego. Monster di level ini punya sedikit kecerdasan. Nggak
kepikiran apa mereka lagi ngumpul di ujung gate, nunggu waktu buat nyerang
bareng-bareng?”

Semua orang langsung diam.

Kasus seperti itu pernah terjadi lima tahun lalu, dan para hunter yang ceroboh
waktu itu nyaris mati semua.
Wajah si anggota langsung merah padam.

“Siap-siap aja. Nanti pas kita balik, aku pribadi yang ngajar kamu teori dasar
monster.”

“Ugh! A-aku mending latihan fisik aja, Kapten!”

“Makanya, tanker kayak kamu sering dibilang otot doang tanpa otak! Diam dan
ikut aja teori kelas!”

“……”

Mereka terus melangkah.

Sepuluh menit lagi berlalu… tetap tak ada tanda-tanda monster.

Ekspresi semua anggota mulai muram.

“Monster brengsek… jangan-jangan mereka beneran mikir sekarang?”

“Gila, berapa gelombang yang bakal mereka luncurkan kali ini?”

“Padahal ini armor baru ku, beli kemarin! Kalau sampai lecet, aku pasti nangis!”
Tak lama setelah itu, saat mereka akan menyeberangi gundukan batu besar di
tengah gua,

siluet besar muncul di atas bukit.

“Wah… Itu Cyclops!?”

Semua langsung menelan ludah.

Pemimpin tim mengangkat tangan, memberi sinyal siap tempur!

Para hunter jarak dekat langsung mencabut senjata.

Hunter magic(sihir) mulai menyiapkan mantra.

Hunter pendukung melonggarkan tubuh mereka agar siap kapan saja.

Suara raungan menggema

roaaaar!

Cyclops itu melompat menuruni bukit dan berlari ke arah mereka…

Tapi

“……Itu nggak gerak, ya?”


Suasana mendadak aneh.

Cyclops, makhluk raksasa bermata satu, seharusnya punya insting tajam.

Normalnya, dia akan menyerang bahkan sebelum mereka muncul di medan


pandang.

Namun sekarang… dia cuma duduk bersandar di dinding gua,

menatap kosong ke arah depan.

Hunter muda di belakang bersuara,

“Kapten! Aku nggak mendeteksi tanda-tanda kehidupan dari Cyclops itu!”

“Apa?”

“Yang kudeteksi cuma beberapa tanda kehidupan yang lemah dari monster-
monster kecil.”

“Itu nggak mungkin! Ini masih gate kelas-A, kan? Kamu yakin?”

“Aku yakin seratus persen!”

“Baik. Kamu ikut aku. Yang lain tunggu di sini!”


Pemimpin tim dan si hunter muda maju perlahan ke atas bukit…

lalu begitu melihat pemandangan di bawah, keduanya terdiam.

Tempat Cyclops itu duduk adalah ruang bos.

Dan di bawahnya

ratusan, bahkan ribuan mayat monster berserakan seperti tumpukan kain kotor.

Cyclops itu sendiri begitu besar sampai tubuh monster di bawahnya bahkan tak
terlihat.

Semua monster itu , termasuk si Cyclops mati dengan ekspresi kosong,

seolah mereka bahkan nggak sadar kapan ajal menjemput.

Pemimpin tim bergumam lirih,

“…Gila.”

***

Penerjemah: Idran

***

Tak lama kemudian, markas besar langsung memerintahkan penyelidikan


menyeluruh.
“Selama dua puluh tahun aku jadi hunter, ini pertama kalinya aku lihat hal kayak
gini.”

“Mungkin monster-monster itu saling bunuh?”

“Omong kosong. Kalau itu, mayatnya nggak bakal seutuh ini.”

“Kalau gitu siapa yang ngebunuh mereka semua? Gate ini bahkan baru muncul
kemarin.”

Salah satu anggota yang sedang memeriksa mayat monster tiba-tiba berteriak,

“Kapten! Semua monster di sini cuma punya satu luka!”

“Yang ini juga!”

Semuanya punya kesamaan, satu luka dalam.

“Luka ini… dibuat oleh tinju manusia?”

Pemimpin tim mengerutkan alis. Salah satu anggota menjawab dengan suara
ragu, tapi yakin.

“Menurut hasil analisis, iya, Kapten.”


“Sulit dipercaya.”

“Tapi hasil forensik menunjukkan itu benar…”

“Serius? Manusia bisa ngebunuh Cyclops kelas-A cuma dengan satu pukulan?
Setahuku, nggak ada orang di dunia ini yang bisa begitu.”

Seorang hunter dari Asosiasi Awakener yang baru saja menutup komunikatornya
menimpali,

“Kami baru dapat balasan dari Lee Shin, awakener kelas-S.”

“Apa katanya?”

“Katanya, jangan bercanda. Dia juga nggak bisa ngelakuin itu.”

“……”

“Menurut dia, satu-satunya orang yang bisa melakukan itu cuma… Zero-class
awakener.”

Ruangan itu langsung sunyi. Tak ada yang berani bicara.


***

Penerjemah: Idran

***

Sementara itu, di kejauhan dari lokasi gate A-0128109…

Seorang pria muda berjalan santai di atas tanah kering yang retak.

“Di mana sih ini sebenarnya?”

Matahari terik menyengat.

Debu berputar-putar di atas tanah tandus.

Sisa-sisa reruntuhan berserakan di mana-mana, nyaris tak bisa dikenali.

“Kenapa cuma ada tulang belulang manusia doang…”

Tempat itu benar-benar terasa seperti neraka, meski entah kenapa, bukan neraka
yang dia kenal.

Dia masih muda, belum waktunya mati.

Dan tentu saja, tidak ada makhluk yang cukup kuat untuk membunuhnya diam-
diam.
Nama pria itu adalah Kang So.

Orang yang dulu dikenal sebagai Dewa Perang, Raja Neraka.

Begitu dia membuka matanya setelah mencapai pencerahan,

rumahnya sudah lenyap, dan dia berada di dalam gua aneh.

Dan yang lebih parah, dia telanjang bulat.

Mengira ada sesuatu di dalam gua itu, dia melangkah masuk…

dan menemukan banyak makhluk aneh.

Raksasa bermata satu, serigala yang berjalan dengan dua kaki,

dan entah apa lagi.

Begitu mereka melihat Kang So, mereka langsung menyerang.

Dia sudah lama berhenti membunuh manusia sembarangan,

tapi itu bukan berarti dia akan membiarkan makhluk yang mencoba
membunuhnya hidup begitu saja.

Lagi pula, mereka bukan manusia. Mereka monster.


Kenapa sih makhluk-makhluk lemah yang bisa mati sekali tinju malah pada nekat
gini?

Setelah menumbangkan semuanya, Kang So keluar dari gua…

dan pemandangan di depannya bikin dia melongo.

Yang tersisa hanyalah reruntuhan.

Dunia yang porak-poranda.

Dia buru-buru mengambil potongan kain dari bangunan yang hampir rubuh untuk
menutupi tubuhnya,

lalu menatap sekeliling.

Ada bekas kehidupan manusia, tapi tak ada satu pun yang masih hidup.

Tanah kering, udara berat, tak ada sehelai rumput pun.

Seolah-olah raksasa besar telah menghancurkan segalanya.

Dan Kang So tahu penyebabnya.

Terinfeksi sihir.

Sekte Sky Demon.


Energi ini sama persis seperti yang pernah dia rasakan

saat para gila dari sekte itu memakai sihir terlarang.

Kalau ini dunia lamanya,

dengan seni bela diri tingkat tinggi miliknya, dia bisa memurnikan energi itu.

Tapi di tempat asing ini, dia tak bisa gegabah.

Kang So mendongak.

Di kejauhan berdiri menara perak tinggi , sekitar 70 lantai.

Menara Perak, markas besar Asosiasi Awakener.

Dia bisa merasakan banyak energi manusia berkumpul di sana.

Itu satu-satunya petunjuk yang masuk akal.

“Yah… kayaknya cuma ke sana satu-satunya jalan.”

Baaang—!

Begitu Kang So menendang tanah, udara di sekitarnya meledak oleh tekanan.

Tubuhnya lenyap dalam sekejap mata.

Hari itu…
adalah sehari sebelum Tim Alpha dari Guild Red Dragon masuk ke gate A-
0128109.

Anda mungkin juga menyukai