0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan16 halaman

Bertahan Hidup di Tengah Serangan Zombie

Dalam episode ini, karakter utama menghadapi situasi genting di tengah serangan zombie yang kacau di pusat kota. Dia berusaha mencari senjata dan perlindungan sambil menyaksikan kekacauan melalui TV, sebelum akhirnya memutuskan untuk keluar dan menghadapi zombie secara langsung. Meskipun ketakutan dan ragu, dia berjuang untuk bertahan hidup dengan menggunakan insting dan pengalaman yang didapat dari berbagai sumber.

Diunggah oleh

gopalasunardi66
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan16 halaman

Bertahan Hidup di Tengah Serangan Zombie

Dalam episode ini, karakter utama menghadapi situasi genting di tengah serangan zombie yang kacau di pusat kota. Dia berusaha mencari senjata dan perlindungan sambil menyaksikan kekacauan melalui TV, sebelum akhirnya memutuskan untuk keluar dan menghadapi zombie secara langsung. Meskipun ketakutan dan ragu, dia berjuang untuk bertahan hidup dengan menggunakan insting dan pengalaman yang didapat dari berbagai sumber.

Diunggah oleh

gopalasunardi66
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

◈ Episode 2 — Hati-hati Pulang Malam-malam

Aku nyalain TV dan mantau situasi sekarang sambil nyari-nyari apa aja yang bisa
dipake jadi senjata.

Video-video yang dilaporin makin sedikit karena orang-orang pada kabur, tapi
adegan-adegannya malah makin gaduh dan kacau.

Apalagi di pusat kota, jangan ditanya.

Melihat puluhan zombie lari tunggang-langgang ke segala arah, ngejar orang, itu
beda banget sama cara berburu binatang yang biasa dilihat di dokumenter.

Singa, serigala, atau paus pembunuh yang berburu berkelompok biasanya fokus
ke satu target.

Soalnya biar kemungkinan gagal dikit.

Tapi zombie bukan kayak gitu.

Mereka nyerang ke mana pun ada mangsa, gigit apa pun yang lewat.
Buat mereka, tujuan berburu bukan untuk makan, tapi biar virusnya nyebar
sebanyak-banyaknya.

Ini bukan berburu lagi. Lebih mirip pembantaian.

Pembawa acara yang udah jelas kehilangan kendali suaranya nunjukin betapa
gentingnya keadaan.

“Saya ulangi, karena ini siaran darurat, mohon maklum kalau ada adegan atau
bahasan yang kejam dan sangat kekerasan. Saat ini… banyak video yang nunjukin
orang terinfeksi. Kerusakan menyebar cepat di area dengan mobilitas tinggi.
Karena rencana respons pemerintah belum final, kami minta warga segera…
prioritaskan evakuasi.”

Gambar-gambar mengerikan itu terus berdatangan, dan yang berikutnya bikin


perut serasa disedot.

“Ini video berikutnya. Sepertinya difilmkan dari gedung sebelah, nampak


helikopter mendarat di rooftop. Pemadam kebakaran lagi bantu evakuasi warga
dengan helikopter. Bagi yang udah ke rooftop, mohon tunggu dengan tenang
seperti ini…”

Sekonyong-konyong, kawanan zombie keluar dari pintu rooftop dan nyerang


petugas penyelamat.
Orang-orang lari, helikopter berusaha lepas landas dengan panik, kehilangan
keseimbangan, lalu jatuh dari gedung.

Pembawa acara sempat terdiam.

Videonya cuma diisi dengungan napas, isak tangis, dan suara orang yang nggak
henti menangis.

Layar bergoyang kencang, kayak si perekamnya juga nangis waktu itu.

‘Abang bilang mereka sensitif sama suara.’

Buat makhluk-makhluk itu, hampir nggak ada stimulus yang lebih memancing
selain suara helikopter.

“Kami mohon maaf atas informasi yang keliru. Evakuasi dengan helikopter
berpotensi menyebabkan kecelakaan tak terduga seperti ini. Kalau bisa, kami
sarankan mengamankan ruang yang dapat menghalangi terinfeksi dan evakuasi
lewat jalur aman.”

Di rumah kutelusuri satu-satu, tapi nggak banyak benda yang bisa dipake buat
senjata.

Ini bukan Amerika, kita nggak nyiapin skenario kiamat zombie.


Barang paling berguna yang kutemukan cuma pisau panjang, dua pisau dapur,
pisau buah, dan batang hanger dari rak yang masih nempel.

Nggak, aku harus ambil pisau dapur.

Ujungnya nggak setajam untuk menusuk dalam-dalam, tapi juga nggak bisa
dipake motong kayak pedang panjang.

‘Makanya para preman bawain sashimi, ada metodenya juga rupanya.’

Dulu aku nggak begitu suka olahraga, tapi sekarang aku nyesel nggak pernah
latihan kendo atau main bisbol.

Kalau aku pernah belajar panahan atau nembak, pasti ngerasa berguna banget
sekarang.

Ku ambildua handuk, kupelintir ke pergelangan dan kutempelin pake lakban, lalu


kupakai legging tipis di luar celana.

Untung waktu itu sempet beli legging musim dingin.

Syal melilit leher, sarung tangan kulit di tangan, dua pasang kaos kaki, dan sepatu
tempur.
Bagian paling krusial, kepala gak ada pelindungnya sama sekali.

Andai aku punya hobi kaya American football atau naik motor, setidaknya helm
ada.

Aku juga nyolong cutter dari toko perkakas, jaga-jaga. Kuhidupkan di tas.

Terus kugunakan vest teknisi yang sering kusembunyikan dari toko—kuyulup


kotaku, isi peralatan—berasa sedikit lebih aman, kayak orang yang ngerti survival.

…eh, kenyataannya nggak sekokoh itu sih.

‘Bukan berarti aku jago-lah, paling enggak pakai dandanan yang agak serius. Ini
malah keliatan minta-minta, bukan pedagang kaki lima, tapi pengemis.’

Handuk yang melilit pergelangan tangan jadi semacam logo keselamatan—ironi


banget.

Akhirnya aku hafal beberapa poin penting dari pengarahan Direktur Institut
Penyakit Menular dan matiin TV.

Nanti aku balik lagi setelah keluar, nggak mau TV itu terus teriak-teriak sampe
mereka nyamperin aku.
Tapi api dalam pikiranku nggak padam.

Aku bakal kembali sebentar lagi.

---

Jantungku berdegup kencang deh waktu denger bunyi kunci pintu yang dibuka.

Pelan-pelan aku tutup pintu dan melangkah keluar, agak kesel juga sama bunyi
gembok yang ngeklik itu.

Begitu lewat pintu komplek, gang tampak sunyi banget.

Biasanya jam segini—lebih dari jam 10—masih ada beberapa orang pulang
lembur, yang lagi ngerokok, atau jalan-jalan malam.

‘Anjing-anjing juga pasti bingung kenapa gak diajak jalan malam ini.’

Barisan vila dilalui, suara utama yang kedengaran cuma dari TV yang masih nyala
di rumah-rumah.
Motor atau mobil gak ada yang lewat. Bus kampung juga nggak hilir mudik.

Suara sirene ambulans yang tadi kedengeran hilang entah ke mana.

Aku terus jalan, ninggalin perasaan kaya ditinggalin sendirian di dunia.

Dari jauh, telingaku nangkep suara langkah cepat.

Apa pun penyebabnya, aku tau itu nggak bagus buatku sekarang, jadi aku
langsung lari ke arah lain.

Aku nggak lari kenceng-kenceng sampai ngos-ngosan, karena mikir stamina harus
dipake buat nanti juga.

Cukup jauh biar aman, jadi aku ngerem pelan setelah lewat tiga vila.

Langkah-langkah tadi nggak kedengeran lagi. Ganti dengan teriakan.

“Aaaaa!! Tolong! Ewww!!!”

Teriakan campur panik itu datang dari ujung gang.


Dingin merayap di punggungku, keringat dingin ngalir di dahi.

Kaki sempat kaku dan males gerak.

Tapi otak nyuruh kabur—kudorong kaki ini buat jalan lagi.

Tanpa sadar aku nambah kecepatan dan ninggalin area itu.

Beberapa blok lagi, biasanya bakal ketemu jalan besar delapan lajur di samping
Stasiun Yangjae.

Harusnya aku ke sana.

Tapi aku lihat makhluk-makhluk berjalan, sempoyongan di driveway.

Jelas—itu zombie.

Pertama kali liat langsung, aura mereka beda banget dari manusia biasa.

Langkah remuk yang sering kita liat di film-film.

Tatapan kosong sambil melirik ke segala arah.


Rasa ngeri khas uncanny valley yang bikin merinding dari jauh.

Aku belok ke gang sebelah, jantung masih gemetar parah, tapi nggak banyak
berubah.

Gang sebelah pasti sama aja.

Udah nggak ada waktu buat nunda-nunda lagi.

Entah kenapa, mereka makin merayap ke arah kompleks vila, jarak antara aku
sama mereka kurang dari 100 meter.

Setelah mikir sekenceng mungkin, aku sampai pada kesimpulan yang nggak masuk
akal: “dua orang mungkin bisa”.

Bunuh akal sehat, tapi kayaknya itu opsi terbaik.

Soalnya aku harus lewat jalan itu juga, dan kondisi jalan lain siapa tahu sama aja.

Jantung berdegup gila—kayak mau aritmia.


Tapi kalau mati juga, mau jantungnya gimana juga udah nggak berguna, jadi mikir
buat ngeladenin aja.

Baru beberapa langkah lebih dekat, mereka mendengar atau ngeliat aku—
langsung lari sambil teriak.

“Oke, ayo dicoba.”

Sejujurnya aku tegang banget, jadi ngulangin baris dialog champion favorit di L ■L
biar semangat.

“Grrrrrrrr!”

“Kueeeee!”

Gak sempet mikir gimana bunyi kayak zombie yang meyakinkan.

Pertama, aku nyodokkan batang hanger yang kupegang dua tangan ke muka
makhluk yang mendekat.

Dia oleng dan jatuh, tapi kayaknya nggak parah amat.

Yang dateng berikutnya kena sapuan horizontal hanger tepat di kepala.


Dia cuma terhuyung sebentar, lalu tetap ngegas serang lagi—kayaknya nggak
kerasa.

‘Kupikir bakal ngaruh, tapi anak-anak ini nggak pada luka sama sekali.’

Manusia biasa aja kalo kena hantaman kayak gitu bakal meringis, pegang bagian
yang kena. Harusnya jatuh, nggak bisa bangkit.

Entah mereka keliatan punya daya tahan dahsyat, atau entah apa—pokoknya
mereka tetep jalan terus walau mukanya udah cekung, telinganya remuk.

Aku langsung tusuk batang hanger ke wajah makhluk yang nyerang dari kiri.

Syukurnya, hanger nyangkut di area mata.

Pfft!

Aku dorong dia ke tembok sekuat tenaga, terus ngerasain bunyi-crack dan
tandukan hanger menusuk ke dalam tengkoraknya.

Nggak sempet mikir “menang nggak ya?” atau “aku kena luka apa nggak?”
Yang jatuh tadi nempel di belakangku.

Refleks, dia gulung ke samping dan ngeluarin palu sledge dari vest alatnya.

“Ayo datang, kau monster jelek.”

Dia pegang bagian palu yang buat narik paku, bukan bagian buat memukul, sambil
ngetrol musuh.

Jelas dia bakal nyerang entah aku provokasi atau nggak.

Aku nyerang masuk ke jangkauan dia yang maju, dan pukul kepala samping—
nembak tepat ke pelipis.

Satu pukulan yang harusnya bikin langsung mati, tapi karena kurang pengalaman
tempur, Jang Do-ri cuma bikin pipi si makhluk remuk.

Belum sempet ngambil pisau karena panik, tiba-tiba tangan kuat nyangkut
lenganku dan narik.

“Nuh…”
Aku nggak mau gampang nyerah, jadi aku pegangan dan dorong balik sekuat
tenaga.

Badan mereka mirip-mirip, tapi ada beda sedikit di kekuatan.

Wajah makhluk yang mendekat itu makin deket.

Walau baru terinfeksi sebentar, wajahnya udah mulai busuk.

Bau busuknya nancep sampai bikin sesak dan mual.

Kalau didorong pake tenaga, balikin tenaga itu juga cara.

Mungkin bakal ada di The Art of War. Atau nggak juga.

Begitu kepikiran, aku lepas pisau dan nurunin posisi badan.

Aku muter, gulung, dan pegang salah satu lengan si makhluk dua tangan.

Crunch!

Balikin lawan dan tarik lengannya ke atas.


Plop—

Sensasi ligamen yang koyak sampai ke ujung jari.

Tapi justru pengalaman dipukulin waktu sekolah bikin aku bisa kaya gini.

Meski belum pernah ikut dojo formal, aku punya ratusan “guru” di YouTube.
Guru-guru… apakah kalian liat ini?

Sebelum dia sempet bangkit, aku ambil kembali besi linggis dan hantam keras
kepalanya.

Kwajik, kwajik, kwajik, kwajik!

Sekali, dua, tiga, empat… pemukulan baru berhenti setelah yakin sumsum otaknya
udah tumpah.

Waktu lagi usahain bersihin darah dari pisau, aku sadar tangan ini gemetar parah.

Walau ini situasi survival—kalau nggak bunuh, aku bakal kegigit—tapi apa benar
harus sejauh ini? Mungkin virusnya bisa disembuhin?
Seumur hidup aku udah sering bunuh serangga pake racun.

Pas kecil di desa, aku juga ngebasmi tikus pake jebakan.

Tapi bunuh hama dan bunuh makhluk hidup ini beda banget rasanya.

Gak mungkin sama konteksnya.

Tapi ya… aku gak tau lagi. Kalo nggak kubunuh, aku yang akan dimakan.

Itu aja.

Kedepannya mungkin aku mesti ngelakuin ini lebih sering. Mungkin harus bunuh
lebih banyak zombie daripada yang udah kulumpuhin sekarang.

Kamu harus terbiasa. Tentu, kalau kamu bisa bertahan sampai kebiasaan itu
muncul.

Kekhawatiranku abis. Dari awal juga bukan hal buat dipikirin panjang.

Aku melangkah ke jalan yang rame suara—


Dan tiba-tiba ngerti persis gimana perasaan seorang koresponden perang yang
jadi saksi bencana.

Anda mungkin juga menyukai