0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
24 tayangan28 halaman

Latihan Sihir dan Kisah Bumdalf

Dalam Chapter 2, tokoh utama terbangun di atas lingkaran sihir yang aneh dan mendengarkan cerita kakek bernama Aidal, yang mengklaim dirinya sebagai mage legendaris. Aidal menceritakan sejarah magic, perang antara manusia dan Dark Mage, serta ambisinya untuk mencapai Circle Kesembilan. Cerita Aidal yang penuh imajinasi dan humor membuat tokoh utama terpesona meskipun merasa skeptis terhadap kebenaran kisahnya.

Diunggah oleh

gopalasunardi66
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
24 tayangan28 halaman

Latihan Sihir dan Kisah Bumdalf

Dalam Chapter 2, tokoh utama terbangun di atas lingkaran sihir yang aneh dan mendengarkan cerita kakek bernama Aidal, yang mengklaim dirinya sebagai mage legendaris. Aidal menceritakan sejarah magic, perang antara manusia dan Dark Mage, serta ambisinya untuk mencapai Circle Kesembilan. Cerita Aidal yang penuh imajinasi dan humor membuat tokoh utama terpesona meskipun merasa skeptis terhadap kebenaran kisahnya.

Diunggah oleh

gopalasunardi66
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Chapter 2: Latihan Sihir Neraka

“Aaaaarghhh!”

Seluruh tubuhku terasa kesemutan, kayak digigit semut di mana-mana. Rasa geli
sekaligus nyetrum itu bikin aku pengin nangis.

“Sebagai komponen penting dari unsur langit, bumi, api, angin, dan air, mana
adalah kekuatan yang menggerakkan dunia. Selama ribuan tahun, manusia
berusaha untuk menguasai kekuatan itu. Dengan bakat tak terbatas yang
diberikan oleh Great God Adeine, manusia telah berjuang menemukan cara untuk
menggunakan kekuatan alam itu.”

Bzzzzt... bzzzzzzzzzt.

Aku membuka mata dan menatap tajam si kakek gila yang sok-sokan mau jadi
Gandalf ini, ya, si Bumdalf.

Bangunin orang yang lagi tidur aja udah kurang ajar, eh sekarang dia malah naro
aku di atas Magic Circle(lingkaran sihir) aneh yang ngeluarin percikan listrik,
sambil ceramah panjang kayak dosen yang kesepian.

Serius deh, dari semua orang aneh yang pernah aku temuin, nggak ada yang segila
ini.

Itu sih bukan magic, tapi obat tidur yang dia campur di gelang sialan itu!

Aku masih nggak bisa percaya.

Gimana bisa ada “magic” di dunia yang udah segini modernnya?

Kalau emang ada mage beneran, pasti udah viral di YouTube sejak lama.
“Dasar dari magic adalah komunikasi dengan alam. Buah kerja keras manusia
kuno yang berusaha memanfaatkan kekuatan alam itulah yang melahirkan magic.
Maka terciptalah bahasa magic, Runic. Ada yang bilang magic itu hadiah dari
seekor naga yang bosan di dunia fana. Ada juga yang bilang itu benih kejahatan
dari iblis. Tapi semua itu cuma omong kosong dari orang bodoh yang kalah. Akar
sejati dari magic adalah manusia! Karena Great God Adeine hanya memilih
manusia.”

Aku hampir gila karena rasa kesetrum yang bikin badan kejang-kejang, tapi si
Bumdalf ini terus ngoceh soal teori magic yang jelas-jelas cuma omong kosong.

Jangan-jangan dia kena penyakit sapi gila?

Cuma itu penjelasan paling masuk akal. Soalnya gimana bisa dia ngarang novel
fantasi sepanjang ini sambil pura-pura serius kalau nggak ada yang salah di
otaknya?

“Tapi masa kejayaan magic itu nggak bertahan lama. Karena haus kekuatan, para
Dark Mage membuka dimensi lain dan memanggil monster dari dunia iblis. Maka
dimulailah perang panjang antara manusia dan para Dark Mage, sebuah perang
suci antara dewa dan iblis.”

Nada suaranya berubah. seolah dia beneran pernah ngalamin semua itu.

Saking terbawa suasana, aku jadi ikut dengerin juga meski tubuhku masih kayak
disetrum PLN.
“Dan kemudian... naga itu muncul. Seekor naga dari dimensi lain dipanggil atas
izin Great God untuk menyelamatkan umat manusia yang nyaris punah. Begitulah
Perang Ilahi Pertama berakhir. Tapi sejak itu, manusia yang dulu jadi penguasa
dunia harus menanggung penghinaan dari naga dan ras lain, dan masuk ke zaman
es magic yang panjang.”

Si kakek Bumdalf menggertakkan giginya, matanya merah, suaranya bergetar


penuh emosi.

Tsk tsk... gila beneran nih orang.

Kayaknya dia bener-bener bikin novel fantasi di kepalanya sendiri. Mana mungkin
semua itu beneran kejadian di bumi ini?

Ya kali manusia berani perang sama iblis, kecuali di mitologi Yunani atau film
Marvel.

“Itulah kenapa aku memilih jadi mage. Aku bersumpah akan mengusir semua
makhluk yang merebut tanah yang seharusnya jadi milik manusia. iblis, ras lain,
bahkan naga. semuanya harus kembali ke asalnya! Dengan tanganku sendiri!”

Nama asli kakek Ceko yang mulutnya nggak berhenti ngoceh ini ternyata Aidal.

Rasa takutku perlahan hilang, berganti jadi rasa kasihan.

Kasihan juga, di dunia sekeras ini, jadi gila sepenuhnya mungkin malah lebih
tenang.
Kalau cuma setengah gila, orang bakal bilang kau aneh. Tapi kalau udah gila total
kayak dia, malah nggak ada yang berani nyentuh. Rumah sakit jiwa pun pasti ogah
nerima dia gratisan.

“Hehehe... Aku berlatih magic tanpa henti sampai akhirnya mencapai Circle
Kedelapan, tingkatan yang belum pernah dicapai siapa pun dalam sejarah
manusia. Dan itu pas aku berumur sembilan puluh sembilan tahun!”

Tch, lumayan juga nih ceritanya.

Kalau mau bikin novel, memang harus diselipin kebohongan yang terasa masuk
akal.

Bahkan di tengah rasa nyetrum, aku masih bisa menikmati ceritanya. Rasanya
kayak nemu novel keren setelah sekian lama.

Ngeliat kakek Bumdalf yang paling tuaan tujuh puluh tapi ngaku jadi penyihir
legendaris di umur sembilan puluh sembilan... aku cuma bisa kagum sama
imajinasinya.

Tapi anehnya, dia bukan tipe orang gila yang ngamuk atau belepotan kotoran.
Lebih kayak... Don Quixote yang masih bermimpi di usia senja.

Sekarang tinggal tunggu dia ngomong soal “perjalanan lintas dimensi” aja, pasti
keluar bentar lagi, pikirku sambil nahan ketawa.

“Tapi sayangnya, di situ batasnya. Bahkan di Zaman magic yang hilang sekalipun,
Circle Kesembilan adalah ranah para dewa, bukan manusia. Seberapa pun aku
berusaha, aku nggak bisa menembusnya. Sial... bangsat...”
Dia sampai mengumpat frustasi, “Sial” dan “bangsat” keluar dari mulutnya kayak
slang anak muda.

“Padahal aku pengen banget mencapai Circle Kesembilan itu dan ubah manaku!
Kayak naga, aku pengen bisa berubah jadi cowok ganteng lewat magic polymorph
dan nikmatin semua wanita di dunia ini! Arghhh!!”

Tiba-tiba dia teriak lagi, bikin aku hampir kejang.

“Menikmati semua wanita di dunia...” aku nyengir. Dasar kakek mesum...

Tubuhku masih kesetrum, tapi Bumdalf Aidal sama sekali nggak peduli. Dia lanjut
aja cerita kayak lagi di talkshow.

“Ehem! Tapi ya, hidupku tetap lumayan menyenangkan. Lama-lama aku jadi
penguasa Magic Tower, dan semua kerajaan berebut buat nyogok aku. Harta,
dana riset. semuanya ngalir tiap tahun! Aku udah lewat umur seratus, tapi bisa
pakai Magic Crcle Kedelapan buat awetin muka, jadi bisa deketin gadis muda lagi!
Kalau aja aku nggak ketemu bajingan itu... urgh!”

Ceritanya makin seru. Aku tahu ini cuma halu, tapi tetap aja menarik.

Saking asiknya, aku sampai lupa rasa nyetrum di tubuhku.


“Itu hari yang berangin banget. Aku baru aja nulis surat sopan buat semua
kerajaan supaya ngirimin putri-putri mereka jadi calon istriku. Tapi tiba-tiba,
bajingan itu muncul! Sialan satu itu benar-benar menyebalkan!”

Beneran bikin penasaran. Siapa yang dia maksud?

Cerita ini makin terasa kayak kisah epik. Rasanya kalau aku balik ke Korea, aku
bisa langsung debut jadi penulis pake kisahnya dia.

“Itu benar-benar mengejutkan. Seorang bocah belum genap empat puluh tahun
menantangku duel magic! Aku! Archmage Circle Kedelapan, Aidal sendiri!”

Matanya berkilat, beneran kayak ngeluarin petir waktu bilang itu.

Hmm... naga? Atau iblis? aku menebak-nebak dalam hati.

“Awalnya aku kira dia cuma mage pemula, jadi aku bersikap dermawan. Biasanya,
kalau ada bocah songong datang nantang, langsung aku bakar hidup-hidup. Tapi
waktu itu aku lagi senang, jadi aku tahan diri.”

Oke, mungkin dia bukan archmage, tapi mage senior yang bikin dunia gemetar,
pikirku.

Soalnya kalau bener dia sekuat itu, wajar aja kerajaan berebut kasih upeti, kan?
“Tapi bajingan itu cuma nyengir. Kyaa, aku bener-bener tolol. Harusnya aku sadar
kalau aku lagi dijebak.”

Kalau aja aku bisa duduk santai sambil makan ayam goreng dan minum cola, ini
bakal jadi tontonan sempurna.

“Awalnya aku coba bunuh dia pelan-pelan pakai magic Petir Circle Ketiga. Tapi
bajingan itu ngelindungin diri pakai Air Shield, seolah dia udah tahu sebelumnya!
Aku pikir, ‘wah, lumayan nih anak’. Buat umurnya, level 4 udah jenius.”

Untuk kakek umur segitu, kosa katanya keren juga. Nggak heran kalau ceritanya
ngalir banget.

“Jadi aku makin penasaran. Kali ini aku keluarin jurus serius, Burn Flare, Magic
Circle Kelima! Cukup kuat buat hancurin dinding kastil. Tapi... bajingan busuk itu
malah nangkis pakai Fire Ball! Masa iya magic Circle Kelima dari Mage Circle
Kedelapan bisa ditahan pakai magic circle Kedua?!”

Bumdalf ngelotot ke aku seolah nanya pendapat. Aku cuma bisa geleng-geleng.

Dari semua novel fantasi yang pernah aku baca, itu jelas nggak masuk akal.

“Aku harusnya berhenti waktu itu. Tapi ya, waktu itu umurku baru seratus, masih
muda, masih panas kepala.”

Aku bengong.
Dia ngomong umur seratus kayak umur dua puluh aja.

“Amarahku meledak. Jadi aku keluarin magic circle Ketujuh yang tiap hari
kuhafalin selama bertahun-tahun! Biasanya, mage Ketujuh udah puncak kekuatan
di dunia waktu itu! Tapi bajingan itu? Dia malah kipas-kipas tangan kayak
kegerahan di tengah badai es magicku! Aaargh, gila, aku pengin ngebunuh dia
sekarang juga!”

Kepalaku langsung nyimak penuh. Aku bisa kebayang jelas—seorang pria santai
kipas-kipas tangan di tengah badai magic dahsyat.

Cerita ini... gokil banget.

Dan aku makin tenggelam dalam halusinasi si Bumdalf.

Ini pasti naga. Seratus persen naga.

Aku menebak lagi sambil menahan senyum. Ceritanya memang terlalu seru buat
dilewatkan.

"Kasar banget. Untuk bocah baru lahir, yang mungkin umurnya udah empat
puluhan. bisa menahan magic tingkat Circle ke-7… Kyaaa, aku nggak nyangka
kalau bajingan itu punya kemampuan lain, bukan magic.”

“Apaan tuh? Maksudnya gimana?”


“Kau juga sempat mikir itu naga, kan? Haaah, aku juga sempat mikir begitu, kalau
itu mungkin naga yang lagi iseng cari mainan. Tapi ternyata bukan. Kalau pun itu
naga yang lagi iseng, sebagai mage tingkat 8, aku pasti bisa ngerasain auranya.”

Bukan naga? Terus apa dong? Aku mengutuk imajinasiku yang payah sambil
bengong ngeliatin janggut putih Bumdalf.

“Pilihan terakhir cuma satu, pakai magic tingkat 8. Sebenarnya nggak banyak
mantra serangan di level itu. Tapi tiap satunya punya kekuatan gede banget, bisa
ngeruntuhin benteng ukuran lumayan. Hah, nggak nyangka aku bisa nyelesain
mantra segila itu.”

Kakek satu ini emang jago banget muji diri sendiri. Dan sekali lagi, aku yakin nggak
ada obat buat orang ini.

Serius deh, lanjutannya gimana sih?! Sekalipun aku mati, aku pengen banget tahu
kelanjutannya.

“Itu waktu kejadian aneh itu mulai.”

Seolah bisa ngerasain rasa penasaranku yang membara, Bumdalf buka lagi bibir
keriputnya.

“Itu saat si 'orc brengsek' sialan itu ngelontarin tawaran setan.”

Bumdalf yang mulutnya kotor itu ngomong kayak remaja Korea kalau lagi kesel.
Aku langsung penasaran sama tawaran si orc tolol itu.

“Dia bilang, kalau aku nyelesain magic circlenya yang belum lengkap, dia bakal
ngaku kalah. Sebenarnya, bukan mau sombong ya, tapi aku tuh nggak cuma jago
ngerapal mantra. Aku juga ahli dalam gambar dan teori magic circle, bahkan
termasuk alkimia.”

Kakek Bumdalf ini tiap buka mulut, isinya cuma pujian buat dirinya sendiri.

“Ya jelas kau setuju, kan?” Aku udah mulai kebal sama aura tajam di sekitar
tubuhku, jadi langsung nanya aja.

“Ya, tentu saja. Waktu itu aku udah tahu semua jenis magic circle yang ada.
Bahkan kalau aku cuma tahu prinsipnya, aku bisa ngulik sisanya pake otak dikit.
Nggak ada magic circle di dunia ini yang nggak bisa dipecahkan sama Archmage
hebat kayak aku. Kuhahahaha!”

Sekarang udah jelas banget orang kayak gini emang layak dikibulin. Aku nebak sih,
Bumdalf ini mungkin kejebak skema si orc karena takut nggak bisa ngapa-ngapain
kalau duel langsung.

“Ah! Tapi Magic circle di gua aneh yang ditunjukin si bajingan itu… aku belum
pernah liat seumur hidupku. Ternyata itu circle dari Era magic yang Hilang! Dasar
brengsek!”

Era magic? Maksudnya masa sebelum Perang Dewa?

“Tapi karena udah janji, aku nggak bisa kabur. Aku kejebak dan harus nyelesain
circle itu. Tapi ya… circle itu malah bikin semangat penelitianku bangkit lagi
setelah sekian lama. Rasanya kayak nemu tantangan baru yang bikin darah
penelitianku mendidih!”
Ya wajar aja. Buat mage yang udah mentok di level tertinggi, nemu teori magic
baru pasti lebih menarik daripada urusan duniawi.

“Selama bertahun-tahun aku riset circle itu sampai hampir mampus. Ukurannya
beberapa meter, ada puluhan huruf rune tingkat tinggi yang diukir di sana. Aku
terjemahin satu-satu, nyambungin rumus, dan ngerjain ujung-ujungnya sampai
rapi. Dan dengan kecepatan yang bocah-bocah itu nggak bakal kebayang!”

Bocah-bocah? Jadi bukan cuma satu orang? Penasaranku makin besar.

“Sampai suatu hari, aku akhirnya nyelesain circle itu. Puhahahaha! Aku berhasil
nganalisis dan nyelesain circle dari Era great magic, sesuatu yang bahkan naga
legendaris pun nggak bakal bisa nyelesain!”

Gila… tekadnya luar biasa!

Aku cuma bisa melongo, kagum sama daya imajinasi Bumdalf Aidal yang luar
biasa. Ceritanya begitu hidup sampai aku hampir percaya kalau dia beneran
ngalamin semua itu. Kalau aku nanti gila, semoga segilanya kayak dia aja deh.

“Dan saat itu… para bajingan itu muncul! Euuurgh! Dasar brengsek! Mereka
ngerayu Archmage hebat kayak aku buat nurutin ambisi mereka! Di situ aku sadar
yang ngajak duel aku ternyata Yasmahal, Master Tower secret Golden Magic! Dan
semua mage istana dari tiap kerajaan juga terlibat! Itu semua konspirasi para
mage rendahan buat melenyapkan aku, Archmage besar Aidal! Keuaaaaahhh!”

Kakek ini ketawa, terus nangis, terus ketawa lagi. Mode emosinya kayak saklar
lampu. Bahkan matanya sampai berkaca-kaca.
Wah~ aktingnya jago banget.

Dia bener-bener total. Kalau ada casting film fantasi, dia pasti lolos.

“Kuhaha! Tapi aku nggak nurutin kemauan mereka. Kalau mereka tahu circle
magic itu udah selesai, semua rahasia dari Era magic bakal jatuh ke tangan para
bajingan itu. Hmph! Mereka tertawa, ngetawain aku yang katanya buang waktu
bertahun-tahun di jebakan mereka. Tapi aku juga ketawa balik. Mereka nggak
tahu kalau circle itu sebenernya adalah lingkaran teleportasi antar dimensi!
Huhuhu!”

“Ah!”

Begitu dengar kata teleportasi antar dimensi, aku nggak sengaja teriak.

Jangan-jangan… dia beneran mage?! Awalnya aku pikir dia cuma halu, tapi
firasatku mulai teriak kenceng: ini nggak beres.

“Dan di depan mata mereka, aku aktifin circle itu. Aku nahan napas, ngegertak
gigi… Keuhaha! Dasar idiot. Mereka nggak bakal bisa ngerti cara kerjanya walau
seumur hidup. Setelah aku, Archmage Aidal, sempurna menguasainya, aku ubah
circlenya supaya cuma bisa diaktifin dengan caraku. Kuhahahaha!”

Aidal ketawa ngakak sampai pegang perut. Tapi entah kenapa, sekarang dia malah
kelihatan menyedihkan.

Bodoh. Jadi intinya… dia kabur pakai magic itu, kan?


Sepertinya sampai sekarang dia belum nemu jalan pulang. Kalau semua ini
beneran kejadian, tentu aja.

Tapi… emang ada dunia kayak gitu?

Rasa penasaranku makin besar. Kalau cerita Bumdalf Aidal bener, aku juga pengin
ke sana. Dunia lain, tempat dia jadi mage hebat… mungkin semua orang Korea
yang lagi hidup sengsara juga bakal pengin kabur ke sana.

“Lalu, kau pilihan ku.”

Eh?

Suara datar Aidal langsung nyabut aku dari lamunan. Mata tuanya kini berkilat
warna emas.

“A-Apa maksudmu?”

“Huhuhu. Kau yang bakal pergi gantiin aku. Kau yang bakal ngebalaskan
dendamku.”

“Ke mana?!”

“Ke mana lagi? Masa kau kira aku ngarang dari tadi? Ke Benua Kallian, tempat aku
pernah hidup!”

Tiba-tiba kakek edan itu marah dan nyalahin aku yang nggak salah apa-apa.

“Kenapa harus aku?! Kalau ada yang harus pergi, harusnya kau, Bumd,eh,
Archmage Aidal! Hidup itu cuma bisa tenang kalau kita beresin masalah kita
sendiri!”
Aku pengin banget kabur dari kakek gila ini. Firasatku jelek banget kalau dia
beneran mage, bisa-bisa aku beneran dikirimin ke dunia lain.

“Ah, malas. Aku mau hidup santai aja sekarang. Aku udah hampir dua ratus tahun,
sendi udah kaku, nafsu makan juga hilang. Mau nyuruh kakek tua sepertiku ke
mana lagi, hah?”

“M-Master?”

“Ya, benar. Aku mastermu. Kau udah terima tawaranku dan bahkan udah nerima
hadiah.”

“Kapan?! Kapan aku nerima hadiah… ah! Jangan bilang…”

Tiba-tiba aku ngerasa sesuatu dingin melingkar di pergelangan tanganku. Sebuah


gelang perak entah dari mana muncul dan melilit erat di tangan kiriku.

“Kau dan aku udah ngelewatin ritual pewarisan mana. Sekarang kau udah nggak
beda sama klonku, Aidal. Kuhahahaha!”

Kakek gila itu ketawa ngakak.

Ayah… Ibu…!

Entah kenapa, aku keinget wajah kedua orang tuaku yang jarang senyum. Dan
anehnya, kali ini aku bener-bener pengin lihat mereka.

“Kalau udah istirahat, ayo kita mulai lagi.”

“M-Mulai apa?!”

Aidal benar-benar nggak bisa ditebak.


“Apa lagi kalau bukan? Ini magic Injeksi Mana orisinal hasil kembanganku. Ayo,
bersiaplah. Kali ini aku bakal ngaktifinnya beneran.”

“Tunggu! Tunggu dulu!” Aku panik ngeliat dia ngangkat tongkat sambil senyum
licik. “Ini udah dites aman, kan?!”

Magic circle di lantai itu berpendar dengan warna aneh, kelihatan banget kayak
buatan ngawur.

“Entahlah. Sebagian kristal magicnya buatan Cina, jadi nggak ada jaminan. Kalau
gitu, mari kita mulai! Power up!”

ZIIIIIIIIIINNNGGG!!

“AAAAAAAAHHH!!!”

Belum sempat aku kaget karena kristalnya buatan Cina, energi besar langsung
nyerbu ke tubuhku. Hal terakhir yang aku liat cuma wajah jahat Bumdalf…
sebelum semuanya gelap, dan aku cuma bisa berdoa semoga ini cuma mimpi.

***

Penerjemah: Idran

***

“Fire Bolt!”

Aku konsentrasi dan ngerapal mantra magic tingkat 1 ke arah seekor kelinci.

Ba-ba-bam!
Tapi jelas aja, kelinci mana yang mau diam kena magic cupu gini? Kaget karena
tanah di depan kakinya meledak, si kelinci langsung kabur secepat kilat.

“Berhenti! Hei! Minimal tinggalin satu kaki aja! Kelinci kecil! Kelinci nakal!”

Senjataku cuma belati sumbing dan beberapa mantra serangan level rendah.

Aku kejar si kelinci kayak orang bego di padang rumput, pantatnya yang bulat
bergoyang-goyang kayak dikejar orang mesum.

BERHENTI! KUBILANG BERHENTI! WAAHH!

Kalau nggak bisa nangkep, aku bakal kelaparan dua hari berturut-turut. Bahkan
Lineage, game paling kejam pun, nggak nyiksa pemain baru segini parahnya.

“Haa… haa… haa…”

Tapi si kelinci tetap cuek, lari makin jauh.

Flop.

Aku akhirnya nyerah, rebahan di hamparan bunga liar yang tebal, napas ngos-
ngosan.

“Anjir… aku bisa gila beneran.”

Rasanya kepala ku mau meledak karena kenyataan yang absurd banget ini.
Setelah ketemu mage gila waktu karyawisata sekolah ke Eropa Timur, aku cuma
bisa nahan sakit sambil ngerengek kangen masakan ibu, sup kimchi-nya yang
pedes gurih, bahkan meskipun dia selalu ngitung harga bahan-bahannya dan
nambahin ke daftar utangku.
Hah… jadi gitu ya. Semua ini udah direncanain.

Sekarang aky ada di padang rumput entah di mana, katanya sih di Islandia, Eropa.
Udah sebulan lewat sejak aku sadar dari mati suri akibat magic circle “Suntikan
Mana” bikinan Aidal pakai kristal magic buatan Cina pula. Waktu aku bangun,
badan remuk total, dan sadar cuma sendirian di tengah alam liar.

Jadi mage itu beneran ada… dan dia bahkan mage yang datang dari dunia lain
lewat teleportasi dimensi?

Sumpah, semua ini gak masuk akal. Terutama fakta kalau si Bumdalf itu
Archmage. Gila, aku aja masih susah percaya.

Dia bahkan pasang magic circle ilusi di Golden Lane cuma buat ‘mancing’ turis-
turis yang peka sama mana.

Waktu aku masih terbaring di magic circle itu, dia cerita macem-macem soal
kehidupannya setelah teleportasi ke planet asing. Katanya, waktu itu peradaban
berbasis sains lagi berkembang pesat, dunia lagi di puncak Revolusi Industri.

Di dunia kayak gitu, dia pakai magic buat adaptasi dan ngumpulin harta dengan
gampang. Katanya dulu bumi belum sekotor sekarang, mana juga masih
melimpah, jadi dia bisa ngelakuin apa aja pakai magic.
Dia pernah jualan obat ajaib, terus masuk universitas jadi profesor karena otaknya
encer, pernah kerja bareng Rockefeller buat nyari minyak pakai deteksi mana,
bahkan pernah makan bareng Einstein dan ngasih ide soal “teori korelasi mana”
katanya itu yang nginspirasi Einstein bikin teori relativitas umum. Gila kan?

aku gak bisa buktiin kebenarannya, tapi mau gak mau aku percaya. Soalnya,
ternyata si orang gila yang ngaku jadi guruku ini emang punya kekayaan segunung
— katanya lebih banyak dari Bill Gates yang disimpen di berbagai tempat.

Gak jauh dari tempat latihan ku, ada magic tower bawah tanah setinggi puluhan
lantai. Di dalamnya, harta dan benda langka berserakan kayak sampah.

Dasar Bumdalf serakah!

Baru mikir aja udah bikin darah ku naik. Nih orang hidup seratus tahun lebih cuma
buat ngumpulin harta, tapi sekarang, di mataku, dia cuma mage gila tanpa hati
nurani.

aku masih bisa maafin dia soal magic circle yang dia buat buat ku. Dari
pengetahuan fantasy abal-abal ku, aku tahu kalau belajar magic emang mulai dari
“merasakan mana” dan “ngumpulin mana”. Tapi latihan spesial yang dia suruh
aku jalanin setelah itu… anjir, kayak game survival. aku dikasih cuma sebilah pisau
dan satu mantra level 1 yang baru aja aku pelajari.

Perut ku keroncongan.
Laper. Sial.

Awan yang lewat di langit mulai kelihatan kayak menu di depan sekolah , odeng,
kimbap, tempura segala macam.

(Catatan penerjemah: Odeng itu semacam fishcake yang direbus di kaldu.


Biasanya dijual di warung tenda di Korea, murah tapi enak banget.)

Kalau begini terus, aku bisa mati kelaparan.

Sekarang, misi hidup ku cuma satu: bertahan hidup di bawah pengawasan si


Bumdalf sinting yang entah masih waras atau enggak.

Ah, iya! Itu dia! Gila, kenapa baru kepikiran sekarang!

Di tengah rasa lapar yang hampir bikin ku hilang akal, tiba-tiba aku inget satu
mantra.

“Si kelinci kecil, awas aja lo sekarang.”

Daerah padang ini emang banyak kelinci. aku mulai cari-cari sambil nginget
mantra yang muncul di kepala. Tangan ku gemetaran, tapi aku mulai menggambar
rune di udara.

“Oh! Kelinci!”
Gak jauh dari situ, aku liat seekor kelinci putih lagi asik makan rumput. Begitu dia
nengok ke arah ku, mantra ku selesai.

Ba-ba-bam!

“Wah! Dapet juga!”

Fwoooosh!

Heh! Gak nyangka dia udah bisa sampai tahap itu.

Kang Hyuk, murid pertama yang berhasil Aidal jebak setelah sekian tahun.

Sambil nyembunyiin diri pakai magic tembus pandang, Aidal ngelihat murid
barunya dari jauh. Di wilayah liar ini banyak predator ganas, termasuk beruang
hitam. Kalau dia biarin bocah itu sendirian, bisa-bisa mati sebelum belajar apa
pun.

aku udah curiga dia bakal berbakat, tapi ternyata cepet banget adaptasinya sama
magic.

Di Benua Kallian, mage level 1 itu udah kayak ikan di laut , banyak banget. Asal
punya sedikit afinitas mana aja, orang udah bisa belajar magic dasar. Tapi Kang
Hyuk beda. Meskipun dia baru bisa ngerasain mana lewat magic circle suntikan
itu, gak banyak orang yang bisa belajar magic level 1 secepat dia. Bahkan Aidal
sendiri si jenius legendaris butuh tiga bulan buat bisa bener-bener pakai mana.

Tapi bocah Korea ini? Baru sebulan udah bisa napas pakai mana, bahkan bikin dan
nembak Fire Ball tanpa diajarin.

“Kuhahaha! aku emang jenius!”

Kang Hyuk tertawa puas, kelinci panggangnya masih ngebul di depan mata.

Aidal cuma nyengir kecil. Ada rasa hangat yang pelan-pelan tumbuh di hatinya
kagum sekaligus senang, ngeliat murid yang gak nyerah meski dipaksa ikut
pelatihan neraka.

Dasar bocah, lo pikir lo jenius? Tunggu aja. Mulai besok, aku bakal bikin lo nyesel
ngomong gitu. Kuku…

Aidal sendiri dulu belajar magic dengan cara yang sama: bertarung dan berjuang
dari bawah sampai akhirnya dijuluki “Aidal, Malaikat Maut Bermata Emas.”

Dia tahu satu hal pasti dalam dunia magic, yang paling penting itu bukan teori,
tapi keputusasaan. Mana itu makhluk liar, cuma mau nurut sama yang berjuang
mati-matian buat ngendaliin dia.

Semakin lo cinta sama mana, semakin dia bakal menari buat mu.

***
“Seperti yang kau tahu, magic circle itu udah menyatu sama medan mana di
tubuhmu.”

aku tahu, dasar mage gila!

aku duduk bersila, nyimak kata-kata si Master Bumdalf sambil neken perasaan
jengkel.

“Teknik pernapasan mana itu ada juga di Benua Kallian. Para ksatria punya teknik
napas khusus buat mereka, mage punya sendiri, dan summoner juga begitu.
Teknik itu diwarisin turun-temurun di masing-masing bidang. Aku sendiri waktu di
Kallian gak bisa nemuin kenapa tiap teknik itu beda. Tapi waktu aku datang ke
Bumi dan ketemu seseorang, semuanya jadi jelas.”

Sejak aku yakin dia memang mage beneran, aku gak berani lagi ngeremehin kata-
katanya. Lagipula, selama dia gak niat ngebebasin ku, satu-satunya cara buat
bertahan adalah belajar sebaik mungkin.

Dan karena aku tipe yang gak suka nyerah sebelum tuntas, aku mutusin buat
hadapin aja pelajaran antar-dimensi ini.

“Waktu aku keliling Asia Tenggara, Cina lagi kacau banget. Kekaisaran baru
runtuh, Jepang lagi nyerbu, dan negara porak-poranda antara Partai Komunis dan
Guomindang. Saat itu aku nyamar jadi pekerja Inggris dan ketemu seseorang di
Zhangjiajie, seorang biksu pertapa yang hampir mati kelaparan sambil mengutuk
dunia yang bobrok.”
Pantes dia bisa ngomong semua bahasa.

“Teknik pernapasan mana yang kamu pelajari bulan ini berasal dari meditasi chi
dalam, yang diajarkan oleh biksu itu. Aku reinterpretasi teknik itu jadi versi magic.
Saat aku belajar dari dia, aku akhirnya paham kenapa mage harus latihan mana
sekeras itu, kenapa ksatria cuma bisa pakai Aura Blade meski punya banyak mana,
dan kenapa summoner bisa buka dimensi dan nyerahin spirit padahal mananya
lemah.”

Pelajaran magic ini rasanya jauh lebih berat dari kelas mana pun di dunia. aku
fokus banget, gak mau ada satu kata pun yang kelewat.

“Perbedaannya terletak di danjeon.”

Kata si Bumdalf tenang, suaranya lembut tapi dalam.

“Biksu itu bilang, semua energi alam atau mana itu gak berbentuk tapi tetap ada.
Ia ada, tapi gak bisa dibilang ‘ada’. Itulah hakikat sejati dari energi alam. Manusia
mengambil energi itu, menyimpannya di danjeon, dan memulai proses
pengumpulan chi atau yang kamu sebut akumulasi mana.”

(Catatan penerjemah: Danjeon atau dantian adalah pusat energi dalam tubuh.
Ada tiga: bawah, tengah, dan atas.)

Saat denger penjelasan tenangnya, entah kenapa… di dada ku kayak ada nyala
kecil yang mulai tumbuh.
Apa aku juga udah jadi mage sekarang?

Padahal sebulan yang lalu aku cuma murid biasa yang gak ngerti apa-apa. Tapi
sekarang… aku lagi latihan magic mistik yang bahkan belum pernah ada di dunia
sebelumnya.

“Para ksatria, karena hasrat mereka terhadap kekuatan fisik, cenderung mudah
terjerumus. Tapi mereka mengumpulkan mana di danjeon bagian bawah, dan itu
menciptakan medan mana yang besar. Lewat generasi demi generasi, mereka
menemukan cara untuk mengendalikan mana, itulah teknik pernapasan mana
khas ksatria.

Sedangkan para mage yang tidak menginginkan kekuatan tubuh, tapi ingin
menguasai kekuatan alam di bawah hukum tertentu, mengumpulkan mana bukan
di danjeon bawah, melainkan di danjeon tengah, di sekitar jantung tempat yang
bisa menyimpan energi paling murni.

Dan para summoner, yang lebih mengutamakan komunikasi dengan spirit


ketimbang kekuatan mana, mengumpulkan energinya di danjeon atas, di dekat
mahkota kepala, supaya bisa merasakan energi alam paling murni.

Nah, di situlah perbedaan mendasar antara ksatria, mage, dan summoner.”

Hmm… jadi sedalam itu teorinya.

Makin aku belajar, makin aku sadar: magic tuh kayak nggak ada ujungnya. Tapi
anehnya, rasanya seru banget sampai dada ku panas sendiri.
“Jadi, dalam meditasi chi dalam yang anda pelajari dari biksu itu… ada istilah
‘multi-chi channeling’, gak?”

“Ha? Kok kau tahu?”

Hah? Tunggu, jadi ‘multi-chi channeling’ kayak di novel wuxia itu beneran ada?!

Aku bukan penggemar berat fantasi atau wuxia sih, tapi kadang aku baca buat
santai pas otak udah capek belajar. Rebahan di kasur, ngemil, sambil baca kisah
dunia imajinasi, itu salah satu kebahagiaan kecil yang cuma bisa dimengerti sama
orang yang pernah ngalamin. Tapi sekarang, semua hal yang dulu aku kira cuma
khayalan... bener-bener jadi kenyataan.

“Aku gak tahu gimana kamu bisa tahu, tapi di kitab yang dikasih sama biksu itu,
tertulisnya ‘Teknik Mistis Multi-Chi Channeling’. Teknik pengendalian mana luar
biasa yang bahkan gak ada di Benua Kallian.”

Anjir, nih Bumdalf gak ada batasnya apa ya?

Tiap hari dia bikin aku kaget. Tapi setelah ngelihat gaya hidup santainya, aku
malah makin kagum.

Di aula utama menara bawah tanahnya, ada puluhan TV raksasa. Beneran, TV


plasma canggih ukuran 50 inci lebih, nempel di setiap dinding. Semua TV itu nyala,
nayangin siaran dari berbagai negara dengan bahasa masing-masing. Si Bumdalf
duduk santai, kadang ketawa, kadang nangis nonton acara itu semua. Sebagai
orang yang gak jago bahasa, aku cuma bisa melongo.

“Di tempat inilah, di tower magic ini, berkumpul mana paling murni di dunia.
Kamu juga tahu, setelah ratusan tahun industrialisasi, mana di Bumi udah
tercemar parah. Dibanding waktu aku pertama kali datang, setidaknya separuh
dari mana di dunia ini udah hilang atau rusak.

Karena kualitas dan jumlah mana di Bumi sejak awal udah lebih rendah dari
Benua Kallian, pencemaran itu berpengaruh besar pada orang yang berlatih
magic. Tapi, karena kamu ketemu guru yang bagus, kamu gak perlu khawatir.
Cukup percaya dan ikuti aku.”

Nah tuh. Kalimat klasik khas laki-laki yang lagi ngegombal biar cewek nurut.

Sambil mengelus janggut putihnya, si Master Bumdalf ngomong dengan ekspresi


bangga kayak anak TK abis dapet bintang emas.

Aku harus nangis atau ketawa nih? Yaelah…

“Sekali master, tetap master! Dengan sepenuh hati, aku akan menyimpan kasih
sayang Master di lubuk hati paling dalam!”

aku sampai menekankan kata “menyimpan”, biar dia puas.

Siapa sangka aku bakal jadi mage. Harusnya sekarang aku masih hidup santai di
sekolah, ngelirik-lirikan sama Seo Yerin yang baru aja mulai aku ajak ngobrol. Tapi
Bumdalf dateng dan ngerusak semua masa indah itu.
Awalnya aku cuma pengen ngelaporin dia ke polisi dengan tuduhan penculikan,
tapi setelah sebulan lebih, entah kenapa… aku malah jadi lumayan sayang sama
orang tua nyebelin ini.

Bumdalf punya aura kayak kakek desa yang seumur hidupnya cuma di rumah dan
sesekali ngurus kebun. Kadang, di wajahnya muncul ekspresi rindu yang sulit
dijelasin.

Dan di matanya yang berwarna emas, aku sering ngelihat sesuatu. semacam
kerinduan dalam yang gak bisa dijelasin pakai kata-kata.

“Kalau kamu benar-benar merasa begitu, aku gak bisa diam sebagai gurumu. Hari
ini aku udah buka area berburu baru khusus buatmu. Kamu harusnya senang,
huhuhu…”

Ah tentu saja. Tatapan rindu itu ternyata… bukan hal bagus.

Senyumannya berubah jadi tawa licik, bahunya bergetar menahan kesenangan


aneh yang gak sesuai dengan umur. aku cuma bisa nyalahin diri sendiri karena
sempat salah paham dan ngira dia mage baik.

Ini semua gara-gara ajaran keluarga ku!

Iya, sumpah. Disiplin keluarga ku yang gak ada hubungannya sama moto rumah
“Kejujuran” itu, jelas jadi penyebab utama kenapa jiwa polos kayak aku bisa
terlahir ke dunia ini dan ketipu mage gila kayak dia.

Anda mungkin juga menyukai