0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan21 halaman

Petualangan di Golden Lane Praha

Cerita ini mengikuti Kang Hyuk, seorang siswa SMA Daehan yang berprestasi, saat ia melakukan perjalanan ke Eropa dan mengunjungi Golden Lane di Praha. Di sana, ia terpesona oleh keindahan barang-barang antik dan bertemu dengan seorang kakek yang mirip Gandalf, yang tampaknya mengetahui latar belakangnya. Ketegangan meningkat ketika Hyuk berhadapan dengan anak kaya yang mencoba mendekati gadis yang ia sukai, Seo Yerin.

Diunggah oleh

gopalasunardi66
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan21 halaman

Petualangan di Golden Lane Praha

Cerita ini mengikuti Kang Hyuk, seorang siswa SMA Daehan yang berprestasi, saat ia melakukan perjalanan ke Eropa dan mengunjungi Golden Lane di Praha. Di sana, ia terpesona oleh keindahan barang-barang antik dan bertemu dengan seorang kakek yang mirip Gandalf, yang tampaknya mengetahui latar belakangnya. Ketegangan meningkat ketika Hyuk berhadapan dengan anak kaya yang mencoba mendekati gadis yang ia sukai, Seo Yerin.

Diunggah oleh

gopalasunardi66
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Chapter 1: Meeting Gandalf the Archmage

“Jalan Emas ini awalnya dibangun buat tempat tinggal para penjaga dan gerbang
istana Praha. Tapi pas perdagangan makin maju di abad ke-16, banyak pandai
logam dan alkemis yang pindah ke sini. Makanya, tempat ini akhirnya dikasih
nama ‘Golden Lane’, sama kayak sekarang! Nah, sekarang semua boleh masuk
dan keliling sepuasnya! Waktunya satu jam, ya! Pastikan balik ke sini sebelum
waktunya habis!”

Teriak pemandu itu nyaring ke arah rombongan anak-anak yang udah kelihatan
nggak fokus.

Hehehe… di mana lagi aku bisa ngerasain hal semewah ini? Cowok sejati harus
bisa berenang bareng ikan-ikan gede, dong. Uhahahaha!

Baru dua bulan sejak aku berhasil ngalahin saingan dan masuk ke SMA Daehan,
sekolah paling bergengsi di Korea. aku udah naik pesawat untuk pertama kalinya
seumur hidup.

Padahal ayahku manajer dana yang lumayan tajir, dan ibuku profesor musik. Tapi
dua-duanya pelitnya kebangetan. Tiap tahun mereka bisa jalan-jalan ke luar
negeri sebulan dua bulan penuh, tapi ke anak semata wayangnya? Mereka bisa
kejam banget.

Waktu masa remajaku yang bergejolak, aku pernah nanya kenapa mereka
memperlakukan aku kayak anak pungut. Tapi mereka cuma ketawa, lalu nginjek
rasa marahku gitu aja.

“Laki-laki harus dididik keras biar bisa bertahan hidup,” kata ayahku sok bijak.
Ibuku nambahin dengan nada dingin, “Semua uang yang kamu pakai itu darah dan
keringat ayah dan ibu. Kamu mau jadi anak nggak tahu terima kasih yang buang-
buang darah dan keringat orang tuanya?”

Bukan simulasi bertahan hidup di padang liar, tapi rasanya kayak begitu. Orang
tua tunggalku ini mendidikku sekeras itu.

Sejak saat itu, aku sadar nggak ada satu pun orang di dunia ini yang bisa aku
percaya. Jadi aku cuma belajar, tiap hari sampai mimisan.

Sampai akhirnya aku masuk sekolah impianku: SMA Daehan.

Sekolah ini dipimpin langsung sama presiden grup bisnis terbesar di Korea,
bahkan salah satu yang terbesar di dunia, Daehan Group.

Mulai dari masuk sampai lulus, semua biaya hidup dan uang saku siswa
ditanggung penuh sama grup itu.

Makanya, masuk ke SMA Daehan katanya lebih susah daripada masuk Universitas
Seoul. Tapi aku berhasil.

Dan sebagai bonus, sekarang aku bisa nikmatin perjalanan impian: 10 hari 11
malam keliling Eropa Timur.

“Hyuk, ayo keliling! Hehe.”

Suaranya Joong-hyun, temanku yang mukanya kayak ‘tetangga baik hati’. Dia
narik tanganku pakai tangan gendutnya.

“Okay, okay.” Aku ngakak kecil.


Seirit-iritnya orang tuaku, masa mereka nggak bangga anaknya ikut studi wisata
ke Eropa? Aku bahkan niat beliin mereka suvenir nanti.

Alkemis, ya? Jadi mereka beneran tinggal di sini, nih?

Begitu masuk ke Golden Lane, aku langsung ngeliat deretan bangunan mungil
yang cantik banget, penuh pajangan dan kerajinan tangan di balik kaca.

Mungkin karena leluhur mereka dulunya tukang emas dan alkemis, jadi semua
barang di sini berkilau dan elegan banget, sampai-sampai mataku nggak bisa
berhenti ngelirik.

“Wow, cantik banget!”

“Kayaknya dari emas deh.”

“Hoho, pasti cocok banget kalo aku yang pake!”

Suara-suara cewek di dekatku terdengar jelas waktu aku dan Joong-hyun jalan
santai.

Seo Yerin.

Nama itu langsung muncul di kepalaku.

Wakil perwakilan kelas satu SMA Daehan, gadis yang bisa dibilang dewi sekolah.
Tingginya 167 cm, rambut hitam panjang berkilau, mata besar, kulit putih halus
kayak porselen.

Dia cantik dengan aura lembut yang jarang banget dimiliki siapa pun.

Cewek yang pasti diimpikan semua cowok buat dijadiin pacar.


Hari ini pun dia tetap bersinar, kayak bunga lili mewah yang tumbuh di tengah
rumpun liar.

Rambut hitam panjangnya diikat rapi dengan band biru polos, dan senyumnya…
sumpah, lebih indah dari sinar bulan di malam Mei.

Dia lagi ngeliat jepit rambut di balik kaca bareng teman-temannya, matanya yang
hitam pekat berkilau pas kena cahaya.

“Liat apa, tuh? Hehe.”

Joong-hyun, si bocah ramah yang lebih sering nongkrong sama cewek daripada
cowok, nyeret aku tanpa mikir ke tengah-tengah mereka.

Cewek-cewek itu langsung nengok, dan… tatapan mataku ketemu sama Yerin.

Senyum lembut muncul di bibirnya.

Eh… dia senyum ke aku? Beneran?

Gila, jantungku hampir copot. Aku yang udah biasa hidup keras dan tahan
banting, tiba-tiba ngerasa kayak anak SMP baru jatuh cinta.

Selama ini aku nggak mikirin cewek, fokusku cuma belajar biar bisa masuk sekolah
ini. Tapi ternyata, SMA Daehan nggak cuma penuh anak jenius, tapi juga penuh
gadis cantik.

Zaman udah berubah , yang “anak pintar itu cupu” udah nggak berlaku lagi.

Sekarang, kalau mau punya anak cerdas, orang tua harus punya duit dan
lingkungan terbaik. Dunia ini dingin dan elit banget.
“Wow! Cantik banget!”

Joong-hyun yang udah nyelip di antara cewek-cewek itu sekarang lagi takjub liat
jepit rambut perak berhiaskan permata biru.

“Bagus banget buatannya,” gumamku.

Jepit rambut itu cantik banget, klasik tapi elegan, koleksi ibuku yang segambreng
aja nggak ada yang sebanding. Bentuknya kayak kerang panjang, dan bahkan aku,
cowok, pengen punya satu.

“Wah…”

Tapi aku langsung melongo waktu liat label harganya.

Sepuluh ribu dolar?! Astaga!

Gila, itu bisa buat bayar uang kuliah! Mulutku terbuka lebar, nggak bisa ditutup.

“Itu cantik, ya, Hyuk?”

Hah? Aku sempet mikir aku halu. Tapi ternyata itu suara Seo Yerin, lembut,
bening, kayak bunyi lonceng perak.

“Huh?”

Aku noleh, dan bener aja. Si ‘bunga lili elegan’ itu lagi ngomong ke aku.

Seo Yerin, cewek yang kecantikannya bisa ngalahin idol K-pop mana pun
memanggil namaku sendiri.
“Hmm… ya, lumayan sih,” jawabku datar, entah kenapa.

“Beneran? Padahal aku pikir ini cantik banget…”

Wajahnya sempat redup kayak bunga lili yang layu kena embun dingin.

Ya ampun… kalo kamu yang pake itu, kamu bakal kayak dewi kecantikan beneran.

Cewek secantik dan sepintar dia seharusnya dilindungi negara, sumpah.

Sayangnya… sepuluh ribu dolar, huh. Tch.

Kalau bisa, aku pengen beliin satu buat dia. Tapi yah, singa kecil kayak aku belum
bisa cari duit sendiri.

“Seo Yerin, mau aku beliin satu buat kenang-kenangan?”

Suara kasar yang tiba-tiba muncul di belakangku langsung bikin bulu kuduk
berdiri.

Si sialan mana lagi ini?

Aku nengok dan bener aja.

Datanglah si anak kaya songong bareng dua anak buahnya.

Hwang Sung-taek.

Julukannya: Putra Mahkota.

Anak dari pewaris Grup Ohsung keluarga kaya tujuh turunan yang sombongnya
minta ampun.
Dia berdiri dengan senyum angkuh, matanya yang kayak serigala rakus menatap
tubuh Yerin dari atas sampai bawah.

“Nggak, makasih.”

Yerin langsung menjawab dingin dan pergi, kayak mawar berduri yang nggak mau
disentuh.

“Haha! Kapan aja, ya! Hatiku selalu terbuka buatmu!” teriak Sung-taek ke arah
punggungnya dengan gaya sok keren.

Brengsek. Kesempatan emas buat deketin Yerin malah dirusak bocah ini.

Udara di antara aku dan Yerin barusan mulai “berbeda”. Tapi belum sempat
berkembang, si pengganggu datang seenaknya.

“Udah, Joong-hyun, ayo cabut.”

“Huh? O-oke…”

“Kang Hyuk!”

Suaranya Sung-taek terdengar lagi. Dingin dan sombong.

“Aku kasih saran, ya.”

Aku berbalik pelan. Dengan tinggi 185 cm dan sabuk hitam Taekwondo tingkat
empat, plus Kumdo tingkat tiga, aku nggak punya alasan buat takut sama bocah
170 cm kayak dia.
“Seo Yerin itu milikku. Kalau mau hidup tenang di sekolah ini, tundukkan kepala,
paham?”

Aku cuma nyengir.

Anak ini beneran nggak tahu diri.

Cuma karena punya dua pengikut, dia pikir bisa ngatur siapa aja.

Padahal satu-satunya hal yang kutakuti cuma dua: orang tuaku… dan moto
keluarga kami: “Kebenaran.”

Aku tepuk bahunya pelan.

“Hwang Sung-taek, kamu tahu nggak, kenapa kamu bisa hidup senyaman ini?”

Dia melotot bingung.

“Karena ada pemegang saham yang punya sepuluh persen saham Grup Ohsung.
Tanpa mereka, hidupmu nggak bakal senyaman ini.”

Wajahnya langsung beku.

Aku lanjut, “Kalau kamu terus buang-buang uang seenaknya gini, kakekmu yang
nyiapin semua itu bakal..”

Aku menggoreskan jari di leherku pelan, sambil senyum tipis.

“Jaga sikap, bocah.”


Aku tepuk lagi bahunya, lalu jalan pergi.

“S-stop! Berhenti, dasar sampah!”

Teriaknya di belakang. Tapi aku nggak berhenti. Aku bukan sampah.

Wuussh!

Aku ngerasain serangan datang dari belakang. Firasatku langsung nyala.

Aku muter badan dan tendang!

“Ughyaa!”

Kakiku berhenti tepat di bawah dagu anak buahnya. Bocah itu langsung kaku,
matanya melotot ketakutan.

“Aku cuma kasih peringatan sekali. Kalau ada next time…”

Aku biarin kalimat itu menggantung. Mereka ngerti sendiri maksudnya.

Tch.

Ratusan anak masih berkeliaran di Golden Lane, ketawa, foto-foto, foya-foya.


Joong-hyun entah ke mana , mungkin nyariin hadiah buat ibunya.

‘Aneh… kenapa gang ini sepi banget?’


Aku jalan sendirian, dan tiba-tiba nyadar ada gang kecil di ujung jalan. Nggak ada
siapa-siapa di situ. Orang-orang bahkan kayak nggak bisa ngelihat gang itu sama
sekali.

“Huhu, dasar bodoh. Barang bagus tuh biasanya ada di tempat kayak gini.”

Seburuk apa pun perlakuan orang tuaku, mereka tetap ayah dan ibuku, orang
yang tak tergantikan. Sekarang waktunya aku beli hadiah buat mereka. Besok
kami harus pulang ke Korea, jadi hari ini kesempatan terakhir buat belanja.

“Ya ampun, sekarang tulisan Korea aja bisa kelihatan bahkan di tempat kayak
gini.”

Sebelum masuk ke gang kecil itu, aku sempat melihat huruf-huruf ciptaan Raja
Sejong Agung terpampang besar di depan toko-toko. Mungkin karena banyak
orang Korea yang datang ke sini, jadi setelah tulisan Inggris dan Jepang, ada juga
kalimat berbahasa Korea di depan pintu toko.

Tulisan itu berbunyi:

‘Barang murah. Silakan lihat-lihat. Tapi, dilarang menawar.’

Pipiku memanas. Aku nggak tahu kenapa, tapi rasanya malu banget.

“Penyihir Besar? Archmage?”


Aku mendongak, memandangi gang sepi itu, lalu melihat sebuah toko kecil.
Jendelanya berwarna kebiruan, jadi aku nggak bisa mengintip ke dalam. Tapi di
pintunya tertulis satu kata bahasa Inggris besar-besar, Archmage.

‘Apaan nih? Keturunan alkemis gitu?’

Entah kenapa, rasa penasaranku langsung terpicu.

‘Masuk aja nggak ya?’

Biasanya toko kecil yang jarang dikunjungi orang justru menyimpan barang bagus.
Ya, pasti begitu. Dompetku sih udah enteng banget, bahkan kayaknya lebih
banyak debunya daripada isinya.

Ti-ring!

Bunyi lonceng bening terdengar waktu aku membuka pintu kayu berat itu.

“Woaaah!”

Aku nggak bisa nahan seruan kagumku.


Dari luar kelihatannya toko kecil biasa, tapi begitu masuk… tempat itu penuh
dengan harta karun yang jelas dibuat dengan keahlian luar biasa. Kotak perhiasan
berhiaskan batu mulia, anting, kalung, tusuk rambut, berbagai aksesori, bahkan
keramik yang jelas-jelas tampak antik, semuanya tampak seperti koleksi
bangsawan abad pertengahan.

Aku menelan ludah.

‘Jackpot.’

Di balik meja kasir, ada seorang kakek tua dengan janggut putih panjang
menjuntai sampai perut. Ia mengenakan jubah gading elegan mirip banget sama
Gandalf di film.

‘Kalau ini berhasil, bakal luar biasa banget.’

Aku pernah baca berita online tentang orang-orang yang nemu harta berharga di
toko antik kayak gini. Rasa antusias menyengat tubuhku.

‘Kuku, ini bakal gampang banget!’

Kakek Ceko itu kelihatan ramah. Dia tidur nyenyak sambil bersandar, dengan bola
kristal besar di depannya.

“Ehem! E-hem!”
Pertama-tama, aku membersihkan tenggorokanku, mencoba membangunkannya
dengan sopan. Namanya juga anak timur yang menjunjung tata krama, aku harus
kasih tahu kalau ada pelanggan datang.

‘Hah?’

Tapi meski aku udah bersuara begitu, Gandalf itu sama sekali nggak membuka
mata. Wajahnya malah terlihat sebal, kayak orang terganggu sama gonggongan
anjing, lalu dia balik badan dan terus tidur sambil ngucek telinga.

‘A-apa dia master beneran?’

Katanya, pedagang sejati bisa tahu apakah pembelinya kaya atau miskin cuma
dari baunya. Mungkin dia tahu aku miskin, jadi nggak peduli.

Tapi aku bukan tipe yang gampang menyerah.

Kalau aku bisa dapetin satu aja barang di toko ini, orang tuaku nggak bakal nyebut
aku anak nggak tahu sopan santun lagi.

“H-Hallo!”
Aku mengangkat tangan dan tersenyum ramah ala orang barat. Siapa tahu meski
aku nggak punya duit, sikap ramah bisa ngebantu.

Tiba-tiba, mata si Gandalf terbuka lebar. Dan kata-katanya berikutnya bikin aku
membeku.

“Apa-apaan sapaan ‘hai’ yang nggak sopan itu? Kalau di depan orang tua, kamu
harus tundukkan kepala dulu. Tsk tsk, anak muda zaman sekarang...”

Suara yang masuk ke telingaku itu…

terdengar terlalu familiar.

Bahasa Korea, diucapkan dengan logat sempurna seperti kakek di kampung!

Kalau bukan karena wajah bule dan jubahnya, aku bakal yakin dia orang Korea
asli.

Lalu Gandalf itu melanjutkan kalimat yang bikin aku hampir copot rahang.

“Kau. Kau nggak punya uang, kan?”

Tubuhku langsung kaku.

Di bawah langit Eropa Timur yang asing ini… aku bertemu seorang kakek yang
cuma kelihatan Ceko dari luar.
Bahkan aku, yang biasanya santai, kali ini ngerasa kepala nyaris meledak.

‘Gimana dia tahu aku orang Korea?! Dan gimana logatnya bisa se-natural itu?!’

Rasanya kayak disambar petir.

Eh, nggak. ini bahkan lebih parah dari waktu orang tuaku bilang aku harus “hidup
mandiri di alam liar.”

Aku menatap kakek itu tanpa bisa berkata apa-apa.

Dia menatap balik dengan mata emas berkilat aneh.

“Kukuku. Kau heran gimana aku tahu kau orang Korea, kan? Dan kenapa aku bisa
ngomong bahasa Korea selancar ini, ya?”

‘Apa dia… dukun barat?’

Dia tahu isi kepalaku tanpa aku ngomong. Gila, jangan-jangan dia emang bisa baca
pikiran?! Aku refleks mengangguk, lalu baru sadar apa yang kulakukan.

‘A-apa dia beneran mage? Heh, nggak mungkin lah…’

Tapi seketika aku ingat tulisan di pintu toko itu Archmage.


Tapi ayolah, nggak mungkin kan mage(penyihir) beneran eksis di dunia modern
kayak gini, yang bahkan bisa bikin makam di bulan?

“Itu benar, aku mage,” katanya santai.

“Ah!”

‘Nggak mungkin! Gila ini!’

Orang ini bilang dirinya bisa baca pikiran!

Sial, dia bener-bener percaya dirinya mage, bukan pesulap bohongan.

“Siapa kau?” tanyaku akhirnya, dengan nada waspada.

Kakek itu cuma menggeleng kecil sambil bergumam,

“Tsk, tsk. Anak muda zaman sekarang nggak percaya lagi sama omongan orang
tua. Emang aku kelihatan kayak orang yang bohong di umur segini?”

Aku terdiam. Bahasa Koreanya terlalu alami. Rasanya aneh, kayak aku lagi di
warung kecil di Korea, bukan di toko aneh di Republik Ceko.

‘Wah, fix. Aku kesurupan. Pasti gara-gara udah beberapa hari nggak makan
kimchi.’
Tapi semakin lama aku dengar dia ngomong, makin nggak masuk akal rasanya.
Bulu kudukku berdiri.

Dari tubuh kakek aneh itu, aku bisa ngerasain semacam aura aneh, energi yang
nggak bisa dijelaskan.

Baru saat itu aku sadar, di sekeliling toko ada banyak tulisan dan simbol asing.
Huruf-hurufnya nggak mirip Latin atau Hangeul.

Rune? pikirku ngeri.

Aku perlahan melangkah mundur ke arah pintu.

“Hei, kau mau pergi begitu saja? Kalau nggak punya uang, aku bisa
memberikannya padamu…”

Langkahku berhenti seketika.

‘GRATIS?!’

Kata yang bisa bikin siapa pun berhenti di tempat.

‘Bener juga, mungkin aja dia cuma bule tua yang kebetulan bisa bahasa asing. Bisa
baca bahasa tubuh dikit juga hal wajar. Lagian dia udah tua banget, mungkin
pernah belajar semacam psikologi atau telepati gitu.’
Aku buru-buru menenangkan diriku sendiri.

Kakek itu menatapku dengan mata penuh rasa ingin tahu, dan aku tersenyum
lebar, mencoba kelihatan santai.

“Ha… haha! Bahasa Koreamu lancar banget, Kek.”

Sambil bicara, mataku sibuk mengamati sekeliling. Di antara semua barang mahal
itu, pandanganku berhenti pada satu benda gelang perak yang memantulkan
cahaya lembut.

‘Hari ini aku benar-benar beruntung.’

Nggak cuma sempat ngobrol sama Yerin, sekarang aku juga nemu toko bernama
Archmage.

Satu-satunya masalah cuma si pemiliknya yang punya delusi fantasi, sisanya


aman.

“Aku nggak bohong,” katanya lagi. “Ambil saja satu barang yang paling kau mau.
Aku kasih hadiah untukmu.”

Kata-kata itu terdengar seperti musik di telingaku.

‘Kuhaha! Jackpot!’
Aku nggak nyangka di dunia keras begini, aku masih bisa nemu keberuntungan
macam ini.

“Kalau begitu, walau agak malu, aku akan menuruti permintaan kakek." jawabku
formal.

Sebelum dia berubah pikiran, aku langsung mengambil gelang perak itu, benda
pertama yang menarik perhatianku.

‘Walau ini cuma palsu, lumayan lah buat dijual. Huhu, rezeki banget!’

Gelang itu dipenuhi ukiran pola dan huruf aneh. Kilau warnanya perak-putih,
kayak platina. Di sela-selanya tertanam batu bening yang mirip berlian. Bahkan
kalau palsu, nilainya pasti tetap tinggi.

‘Entah kenapa… aku ngerasa aneh banget tertarik sama gelang ini.’

Padahal ada banyak barang emas lain yang lebih mencolok, tapi mataku cuma
tertuju ke benda itu. Ada getaran halus yang aneh, seolah gelang itu bernafas.

“Kukuku. Ya, aku mengerti. Sudah kuduga.”


Begitu aku mengangkat gelang itu, si Gandalf mengangguk pelan dengan senyum
misterius.

‘Saatnya kabur!’

Aku langsung membungkuk dalam-dalam,

“Terima kasih banyak, Kek!”

Didikan sopan santunku muncul otomatis. Setelah itu, aku langsung berbalik dan
berlari keluar toko.

‘Puhaha! Gila, ini luar biasa!’

Gelang itu terasa pas banget di tanganku. Hanya dengan memegangnya, aku
merasa seperti orang kaya mendadak.

Ker-ch—

Anda mungkin juga menyukai