0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan20 halaman

Dampak Kerusakan Jalan Bunga Kamboja

Dokumen ini membahas analisis dampak kerusakan jalan terhadap pengguna jalan di Jalan Bunga Kamboja, Kendari. Kerusakan jalan dapat mengganggu kenyamanan berkendara, meningkatkan risiko kecelakaan, dan menurunkan produktivitas masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat kerusakan dan dampaknya bagi pengguna jalan.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan20 halaman

Dampak Kerusakan Jalan Bunga Kamboja

Dokumen ini membahas analisis dampak kerusakan jalan terhadap pengguna jalan di Jalan Bunga Kamboja, Kendari. Kerusakan jalan dapat mengganggu kenyamanan berkendara, meningkatkan risiko kecelakaan, dan menurunkan produktivitas masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi tingkat kerusakan dan dampaknya bagi pengguna jalan.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

TUGAS AKHIR

ANALISIS DAMPAK KERUSAKAN JALAN TERHADAP PENGGUNA JALAN


DI JALAN BUNGA KAMBOJA, KENDARI

DISUSUN OLEH:
LA ODE MUHAMMAD AKBAR YUSRAN PALAIDO
E1A123061

PROGRAM STUDI S-1 TEKNIK SIPIL


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2025
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kota Kendari adalah salah satu kota sekaligus ibukota di Sulawesi
Tenggara yang sedang berkembang. Pada saat ini Kota Kendari terus
berkembang dalam berbagai bidang seperti bidang ekonomi, industri,
perdagangan, dan pertumbuhan penduduk yang semakin hari semakin
bertambah, sehingga dalam perkembangannya dibutuhkan dukungan dari
infrastruktur yang memadai dan hal tersebut didukung dengan infrastruktur
jalan yang membentang di setiap sudut kota.
Jalan merupakan prasarana transportasi darat yang sangat berperan
penting dalam sektor perhubungan untuk distribusi barang dan jasa, sehingga
desain perkerasan jalan yang baik adalah suatu keharusan. Selain untuk
menghubungkan suatu tempat ke tempat lain, perkerasan jalan yang baik juga
diharapkan dapat memberi rasa aman dan nyaman dalam mengemudi baik
pengemudi mobil, motor dan yang lainnya. Salah satu permasalahan yang
sering dijumpai di jalan adalah kerusakan jalan.
Kerusakan jalan yang diakibatkan oleh kendaraan yang melebihi
kapasitas atau genangan air di badan jalan dapat berupa pelepasan butiran
(ravelling), menyebabkan kinerja jalan menjadi menurun dan umur jalan
menjadi lebih singkat. Aspal yang telah getas ini menyebabkan ikatan
terhadap agregat menjadi lemah dan berkurang, sehingga agregat dapat
terlepas dari ikatan aspal dan menjadi mudah berlubang dan berkurang
kekuatannya serta keawetannya. Kerusakan jalan dapat menimbulkan
ketidaknyamanan bagi pengguna jalan.
Lapisan perkerasan jalan akan mengalami penurunan tingkat pelayanan.
Menurunnya tingkat pelayanan jalan ditandai dengan adanya kerusakan pada
lapisan perkerasan jalan, kerusakan yang terjadi beragam pada setiap
segmen di sepanjang ruas jalan dan apabila dibiarkan untuk jangka waktu
yang lama, maka akan dapat memperburuk kondisi lapisan perkerasan yang
telah rusak, sehingga dapat mempengaruhi keamanan, kenyamanan, dan
kelancaran dalam berlalu lintas.
Pada umumnya, jalan direncanakan memiliki umur rencana pelayanan
tertentu sesuai dengan kebutuhan dan kondisi lalu lintas, misalnya 10 sampai
20 tahun, dengan harapan bahwa jalan masih dapat melayani lalu lintas
dengan tingkat pelayanan pada kondisi yang baik. Untuk mencapai pelayanan
pada kondisi yang baik selama umur rencana tersebut, diperlukan
pemeliharaan jalan, baik pemeliharaan rutin maupun pemeliharaan berkala.
Pemeliharaan rutin adalah penanganan jalan yang hanya diberikan
terhadap lapis permukaan yang sifatnya untuk meningkatkan kualitas
berkendara (Riding Quality), tanpa meningkatkan kekuatan struktural, dan
dilakukan sepanjang tahun.
Pemeliharaan berkala adalah pemeliharaan jalan yang dilakukan pada
waktu–waktu tertentu dan sifatnya meningkatkan kemampuan struktural.
Peningkatan pada jalan dilakukan guna memperbaiki pelayanan jalan yang
berupa peningkatan struktural dan geometriknya agar mencapai standar yang
direncanakan sesuai jenis dan klasifikasi jalan.
Kenyamanan dan keamanan berkendara merupakan aspek krusial
dalam infrastruktur transportasi, terutama di Indonesia yang memiliki tingkat
kecelakaan lalu lintas yang tinggi. Menurut data dari Korlantas Polri, lebih dari
1 juta kecelakaan terjadi pada tahun 2024, dengan korban jiwa sekitar 27
ribu. Kondisi jalan yang baik memiliki pengaruh terhadap keselamatan dan
kenyamanan pengguna jalan. Jalan yang baik dapat meminimalkan risiko
kecelakaan, dan pengemudi serta penumpang dapat merasa lebih tenang saat
berkendara. Sebaliknya, kerusakan jalan seperti lubang dan retakan dapat
menyebabkan ketidaknyamanan dan meningkatkan risiko kecelakaan.
Kerusakan jalan tidak hanya dapat memengaruhi keselamatan
berkendara tetapi juga berdampak pada kenyamanan pengguna jalan.
Penelitian menunjukkan bahwa kondisi jalan yang buruk dapat mengganggu
kelancaran perjalanan, menyebabkan kendaraan melambat. Dalam konteks
ini, penting untuk memahami bahwa kerusakan jalan dapat memperburuk
pengalaman berkendara, membuat perjalanan menjadi lebih lama dan
melelahkan. Hal ini berpotensi menurunkan produktivitas masyarakat yang
bergantung pada transportasi untuk aktivitas sehari-hari.
Oleh karena itu, kerusakan jalan pada Jalan Bunga Kamboja, Kota
Kendari memberikan dampak yang signifikan terhadap pengguna jalan.
Kerusakan jalan seperti lubang dan retakan tidak hanya dapat mengganggu
kenyamanan berkendara tetapi juga meningkatkan risiko kecelakaan serta
mengganggu produktivitas pengguna jalan.

1.2 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah dari tugas akhir ini yaitu:
1. Bagaimana kerusakan jalan pada Jalan Bunga Kamboja, Kota Kendari?
2. Bagaimana dampak dari kerusakan jalan terhadap pengguna jalan di
Jalan Bunga Kamboja, Kota Kendari?

1.3 Tujuan Penelitian


Adapun tujuan dari tugas akhir ini yaitu:
1. Untuk mengetahui kerusakan jalan pada Jalan Bunga Kamboja, Kota
Kendari.
2. Untuk mengetahui dampak dari kerusakan jalan terhadap pengguna
jalan di Jalan Bunga Kamboja, Kota Kendari.

1.4 Batasan Masalah


Agar penulisan tugas akhir ini lebih terfokus dan jelas, maka ruang
lingkup penelitian yang dilakukan penulis mencakup:
1. Penelitian akan di lakukan pada Jalan Bunga Kamboja, Kota Kendari.
2. Responden penelitian ini adalah para pengguna jalan dan masyarakat di
sekitar Jalan Bunga Kamboja, Kota Kendari.
3. Pengguna jalan yang dimaksud adalah kendaraan sepeda motor dan
mobil.
1.5 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang diperoleh dari penelitian ini yaitu:
1. Untuk dijadikan bahan referensi dalam mengetahui tingkat kerusakan
pada jalan.
2. Bagi peneliti sendiri, menambah wawasan dalam mengidentifikasi
kerusakan jalan dan dampaknya terhadap pengguna jalan.

1.6 Sistematika Penulisan


Untuk mencapai tujuan penulisan tugas akhir ini dilakukan beberapa
tahapan yang dianggap perlu. Metode dan prosedur pelaksanaannya secara
garis besar adalah sebagai berikut:
BAB 1 PENDAHALUAN
Bab ini berisikan latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan
penelitian, batasan masalah, manfaat penelitian, sistematika penulisan, dan
penelitian terdahulu.
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
Bab ini terdiri dari tinjauan pustaka atau landasan teori yang digunakan
untuk memberikan penjelasan mengenai studi penelitian ini dan metode yang
digunakan.
BAB 3 METODOLOGI PENULISAN
Bab ini menjelaskan langkah-langkah kerja serta tata cara yang akan
dilakukan dalam mengevaluasi tingkat kerusakan serta meliputi persiapan
pengumpulan data, dan teknik pengumpulan data.
BAB 4 ANALISA DAN PEMBAHASAN
Bab ini berisi tentang penyajian data serta tata cara perhitungan
kerusakan jalan dengan metode yang digunakan.
BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN
Bab ini berisikan kesimpulan logis berdasarkan analisa data, temuan dan
bukti yang disajikan sebelumnya yang menjadi dasar untuk menyusun suatu
saran sebagai usulan.
1.7 Penelitian Terdahulu
Penelitian ini mengacu pada beberapa penelitian yang telah
dilakukannya sebelumnya. Penelitian-penelitian tersebut, antara lain sebagai
berikut:
1.7.1 Analisis Dampak Kerusakan Jalan Terhadap Pengguna Jalan dan
Lingkungan Jalan Belimbing-Anduonohu, Kota Kendari
Penelitian ini dilakukan oleh Siti Nurjanah Ahmad, Muh. Thahir Azikin,
Agustan, Nasrul, dan Anafi Minmahddun dengan tujuan untuk mengidentifikasi
dan mengevaluasi dampak kerusakan jalan, seperti ketidaknyamanan,
peningkatan risiko kecelakaan, dan kerugian ekonomi pada pengguna jalan
dan masyarakat sekitar. Metode pada penelitian ini menggunakan survei
langsung dengan mengukur/mengidentifikasi kerusakan jalan dan metode
menggunakan kuesioner dengan beberapa pertanyaan yang diajukan dalam
kuesioner ini mengacu pada Peraturan Pemerintah No.3 Tahun 2006 dan
Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2004 Tentang Jalan. Hasil dari penelitian
menunjukkan bahwa terdapat beberapa macam kerusakan yang terjadi. Jenis
kerusakannya adalah retak kulit buaya, retak memanjang, retak sambungan,
beda tinggi badan jalan dan bahu jalan, tambalan, dan lubang yang nantinya
sangat berdampak pada ketidaknyamanan dan kurangnya rasa aman bagi
pengendara/pengemudi dan masyarakat sekitar. Berdasarkan analisis
dampak dari kerusakan jalan yang terjadi ditinjau dari tiap aspek kenyamanan
didapatkan faktor yang berpengaruh seperti, kecelakaan kendaraan
merupakan aspek keamanan yang paling berpengaruh bagi pengguna jalan
dan masyarakat, dan efektifitas perjalanan merupakan faktor yang
berpengaruh bagi aspek kenyamanan pengguna jalan dan pencemaran udara
merupakan faktor berpengaruh bagi aspek kenyamanan masyarakat sekitar.
1.7.2 Analisis Dampak Kerusakan Jalan Terhadap Pengguna Jalan dan
Lingkungan di Jalan Raya Gampeng Kediri, Jawa Timur
Penelitian ini dilakukan oleh Ade Yute Prasetyo dengan tujuan untuk
mengidentifikasi penyebab kerusakan perkerasan jalan di Jalan Raya
Gampeng, Kediri yang telah mengalami kerusakan. Penelitian dilakukan
dengan mengamati kondisi perkerasan jalan yang telah rusak dan
memberikan kuesioner serta wawancara langsung untuk mendapatkan
jawaban dari dampak yang paling berpengaruh bagi pengguna jalan dan
masyarakat sekitar akibat kerusakan jalan dan juga guna untuk melakukan
perencanaan overlay penelitian ini menggunakan Metode Analisis Komponen
1987. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, diperoleh jenis
kerusakannya adalah retak kulit buaya, kegemukan (bleeding), retak
memanjang, amblas, retak sambungan, beda tinggi badan jalan dan bahu
jalan, tambalan, dan lubang. Overlay dilakukan untuk mengurangi dampak
yang diakibatkan oleh kerusakan jalan tersebut. Tebal lapis tambahan
(overlay) adalah 7,25 cm dengan masa layanan selama 5 tahun.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Jalan
Jalan merupakan prasarana transportasi darat yang memiliki peranan
sangat penting dalam sektor perhubungan darat, yang mendukung
kesinambungan distribusi barang dan jasa untuk mendorong pertumbuhan
ekonomi di suatu daerah. Dalam Undang–Undang RI Pasal 5 (2004) Tentang
Jalan, Jalan didefinisikan sebagai bagian prasarana transportasi mempunyai
peran penting dalam bidang ekonomi, sosial budaya, lingkungan hidup, politik,
pertahanan dan keamanan, serta dipergunakan untuk sebesar-besar
kemakmuran rakyat. Kondisi jalan yang dilalui oleh volume lalu lintas yang
tinggi dan berulang-ulang dapat menurunkan kualitas dari permukaan jalan
tersebut dari waktu ke waktu. Kerusakan pada jalan akan menimbulkan
banyak kerugian yang dapat dirasakan oleh pengguna secara langsung,
karena akan menghambat laju kendaraan dan kenyamanan pengguna jalan.

2.2 Klasifikasi Jalan


Pada umumnya, klasifikasi jalan dibagi berdasarkan fungsi, administrasi
pemerintahan, dan muatan sumbu.
2.2.1 Klasifikasi Jalan Berdasarkan Fungsi
Adapun klasifikasi jalan berdasarkan fungsinya, yaitu:
1. Jalan Arteri, yaitu jalan umum yang berfungsi melayani angkutan utama
dengan ciri perjalanan jarak jauh, kecepatan rata-rata tinggi, dan jumlah
jalan masuk dibatasi secara berdaya guna.
2. Jalan Kolektor, jalan umum yang berfungsi melayani angkutan
pengumpul atau pembagi dengan ciri perjalanan jarak sedang,
kecepatan rata-rata sedang, dan jumlah jalan masuk dibatas.
3. Jalan Lokal, jalan umum yang berfungsi melayani angkutan setempat
dengan ciri perjalanan jarak dekat, kecepatan rata-rata rendah, dan
jumlah jalan masuk tidak dibatasi.
4. Jalan Lingkungan, jalan umum yang berfungsi melayani angkutan
lingkungan dengan ciri perjalanan jarak dekat, dan kecepatan rata-rata
rendah.

2.2.2 Klasifikasi Jalan Berdasarkan Administrasi Pemerintahan


Adapun klasifikasi jalan berdasarkan administrasi pemerintahan, yaitu:
1. Jalan Nasional, yaitu jalan arteri dan juga jalan kolektor yang
menghubungkan antara dua ibukota provinsi serta jalan tol.
2. Jalan Provinsi, yaitu jalan kolektor yang menghubungkan ibukota
provinsi dengan ibukota kabupaten/kota, atau antara ibukota
kabupaten/kota yang satu dengan ibukota kabupaten/kota lainnya.
3. Jalan Kabupaten, yaitu jalan lokal dalam sistem jaringan jalan primer
yang tidak termasuk jalan yang menghubungkan ibukota kabupaten
dengan ibukota kecamatan, antar ibukota kecamatan, ibukota kabupaten
dengan pusat kegiatan lokal, antar pusat kegiatan lokal, serta jalan
umum dalam sistem jaringan jalan sekunder dalam wilayah kabupaten,
dan jalan strategis kabupaten.
4. Jalan Kota, yaitu jalan raya yang menghubungkan antar pusat pelayanan
dalam kota, menghubungkan pusat pelayanan dengan persil,
menghubungkan antara persil satu dengan persil lainnya, serta
menghubungkan antar pusat permukiman yang berada di dalam kota .
5. Jalan Desa, yaitu jalan umum yang menghubungkan kawasan dan/atau
antara permukiman satu dengan pemukiman lainnya dalam suatu desa

2.2.3 Klasifikasi Jalan Berdasarkan Muatan Sumbu


Adapun klasifikasi jalan berdasarkan muatan sumbu, yaitu:
1. Jalan Kelas I, merupakan jalan arteri yang dapat dilewati kendaraan
angkut berukuran lebar maksimal 2.500 milimeter (2,5 meter), dan
panjang maksimal adalah 18.000 milimeter (18 meter). Sementara di
Indonesia ini untuk muatan sumbu terberat yang diizinkan lebih dari 10
ton.
2. Jalan kelas II, merupakan jalan arteri yang bisa dilewati kendaraan
bermotor dengan ukuran lebar maksimal adalah 2.500 milimeter (2,5
meter), sementara untuk ukuran panjang maksimalnya adalah 18.000
milimeter (18 meter). Untuk muatan sumbu terberat yang diizinkan
adalah 10 ton, dan juga jalan kelas ini biasanya merupakan jalan yang
digunakan untuk angkutan peti kemas.
3. Jalan kelas III A, merupakan jalan raya yang dapat dilalui angkutan
berukuran lebar maksimal 2.500 milimeter (2,5 meter), dan panjang
maksimalnya adalah 18.000 milimeter (18 meter). Sementara muatan
sumbu terberat yang diizinkan adalah 8 ton.
4. Jalan kelas III B, adalah jalan kolektor yang dapat dilalui kendaraan
bermotor termasuk muatan dengan ukuran lebar tidak melebihi 2.500
milimeter, ukuran panjang tidak melebihi 12.000 milimeter, dan muatan
sumbu terberat yang diizinkan 8 ton.
5. Jalan kelas III C, merupakan jalan lokal dan jalan lingkungan yang bisa
dilewati kendaraan bermotor termasuk kendaraan angkut berukuran
lebar maksimal 2.100 milimeter (2,1 meter) dan panjangnya tidak boleh
lebih dari 9.000 milimeter (9 meter). Sementara muatan sumbu
maksimalnya adalah 8 ton.

2.3 Kerusakan Jalan


Kerusakan jalan merupakan suatu permasalahan yang sering terjadi
pada infrastruktur transportasi. Kondisi jalan yang rusak, seperti lubang,
retakan, atau deformasi, tidak hanya akan menurunkan kualitas pelayanan
jalan tetapi juga berdampak pada pengguna jalan dan lingkungan di
sekitarnya. Pengguna jalan akan mengalami ketidaknyamanan, peningkatan
risiko kecelakaan, serta kerugian ekonomi akibat kerusakan jalan. Selain itu,
kerusakan jalan juga dapat menimbulkan dampak lingkungan seperti
peningkatan polusi udara dan suara akibat kendaraan yang melambat dan
sering berhenti. Sebagai salah satu komponen utama dalam mendukung
mobilitas masyarakat dan distribusi logistik, penting untuk memerhatikan
keberlanjutan kualitas jalan dan memahami lebih dalam dampak dari
kerusakan jalan terhadap pengguna jalan dan lingkungan, sehingga dapat
dijadikan dasar untuk pengambilan keputusan terkait pemeliharaan jalan.

2.4 Jenis-Jenis Kerusakan Jalan


Jenis kerusakan pada perkerasan jalan dapat dikelompokkan atas 2
yaitu kerusakan struktural yaitu kerusakan pada struktur jalan, sebagian atau
keseluruhannya, yang menyebabkan perkerasan jalan tidak lagi mampu
mendukung beban lalu lintas, dan kerusakan fungsional, yaitu kerusakan pada
permukaan jalan yang dapat menyebabkan terganggunya fungsi jalan
tersebut. Adapun beberapa kerusakan yang umum terjadi pada jalan, yaitu:
1. Retak kulit buaya (alligator cracking), berupa pola retakan menyerupai
sisik kulit buaya, biasanya disebabkan oleh beban lalu lintas berulang
pada lapisan yang lemah atau struktur jalan yang tidak cukup kuat,
material konstruksi yang tidak sesuai, atau drainase yang buruk.
2. Lubang (Pothole), berupa cekungan yang sering kali diakibatkan oleh
infiltrasi air dan beban lalu lintas, penyebab utamanya drainase yang
buruk, material aspal berkualitas rendah, atau beban kendaraan berat.
3. Retak memanjang dan melintang (longitudinal and transverse cracks),
berasal dari retakan sepanjang atau melintasi arah lalu lintas.
Penyebab utamanya adalah penyusutan aspal, perubahan suhu
ekstrem, atau tanah dasar yang tidak stabil.
4. Gelombang (corrugation) biasanya terjadi di area dengan akselerasi
atau deselerasi tinggi. Penyebab awalnya adalah material permukaan
yang tidak stabil atau teknik pemadatan yang buruk.
5. Amblas (Depression) sering kali terjadi di atas tanah dasar yang lemah,
disebabkan oleh penurunan tanah dasar, drainase buruk, atau beban
berat yang terfokus.
6. Kerusakan pelapukan permukaan (raveling) terjadi karena pengikisan
butiran agregat disebabkan oleh pengikatan antara agregat dan aspal
yang buruk, sering kali akibat cuaca ekstrem atau kualitas aspal rendah
7. Deformasi jalur (Rutting) terjadi karena adanya jalur berlekuk yang terjadi
sepanjang lintasan kendaraan, biasanya akibat beban berlebih yang
umumnya di sebabkan oleh fondasi jalan yang lemah atau aspal yang
tidak tahan deformasi plastis.

2.5 Dampak Kerusakan Jalan


Kerusakan pada perkerasan jalan tentu dapat menimbulkan pengaruh
atau dampak yang mengganggu pengguna jalan dan masyarakat. Oleh
karena itu ketentuan kondisi jalan yang baik atau buruk dapat ditentukan dari
beberapa sifat, keadaan pengguna jalan, dan masyarakat. Dampak kerusakan
jalan bagi pengguna jalan mencakup gangguan aksesibilitas dan peningkatan
biaya transportasi. Kerusakan jalan juga dapat menyebabkan pengguna harus
mencari rute alternatif, yang sering kali tidak efisien, baik secara waktu
maupun biaya.
Dampak terhadap aspek sosial meliputi kualitas lingkungan yang
dirasakan oleh masyarakat dan kualitas interaksi kehidupan bermasyarakat
yang berdampak pada kesejahteraan masyarakat. Dengan adanya kondisi
jalan raya yang baik, tentu akan membantu masyarakat dalam melaksanakan
kegiatan sosialnya, baik antar desa maupun wilayah lainnya sehingga setiap
kegiatan yang menyangkut aktivitas sosial dapat terlaksana dengan baik.
Kerusakan jalan juga dapat berpengaruh terhadap biaya perawatan
kendaraan, karena dengan kondisi jalan yang buruk kendaraan dipaksa
bekerja melebihi dari kemampuan kendaraan.
Dampak kerusakan jalan bagi pengguna jalan sangat signifikan,
terutama dalam meningkatnya risiko kecelakaan lalu lintas. Kerusakan seperti
lubang, retakan, dan permukaan jalan yang tidak rata dapat mengganggu
kestabilan kendaraan, membuat pengemudi kehilangan kendali, dan
meningkatkan kemungkinan terjadinya kecelakaan. Kerusakan jalan dapat
meningkatkan angka kecelakaan karena pengendara yang terperosok lubang
yang ada di jalan atau karena menghindari kerusakan yang terjadi. Dengan
demikian, perbaikan dan pemeliharaan infrastruktur jalan yang rutin sangat
penting untuk mengurangi risiko kecelakaan dan memastikan keselamatan
pengguna jalan.

2.6 Kenyamanan dan Keamanan Pengguna Jalan


Kenyamanan merupakan kondisi perasaan seseorang yang merasa
nyaman berdasarkan persepsi masing-masing individu dan terpenuhnya
kebutuhan dasar manusia yang bersifat individual akibat beberapa faktor
kondisi lingkungan. Kenyamanan dan rasa nyaman adalah penilaian
komprehensif seseorang terhadap lingkungannya. Dengan terjadinya
kerusakan jalan tentu akan mengganggu kenyamanan karena pada dasarnya
kerusakan ini akan mengakibatkan kemacetan, dan jika hujan deras
mengguyur kawasan jalan rusak ini, air akan menggenang dan menutupi jalan
rusak (berlubang), akhirnya pengguna jalan akan menjadi cemas saat
melintas. Kemacetan dan kecemasan inilah yang akan mengganggu
kenyamanan pengguna jalan.
Keamanan dalam konteks kerusakan jalan adalah penilaian mengenai
risiko-risiko yang dihadapi pengguna jalan akibat kondisi jalan yang rusak,
serta tindakan atau strategi untuk meminimalkan risiko tersebut. Tinjauan ini
berfokus pada bagaimana kerusakan jalan memengaruhi keselamatan lalu
lintas, baik bagi pengemudi, penumpang, maupun pejalan kaki serta segala
sesuatu yang berhubungan dengan bahaya yang akan terjadi. Misalnya dalam
berkendara yaitu kecelakaan, kecemasan, kondisi kendaraan, dan lain-lain

2.7 Pemeliharaan Jalan


Menurut Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Tahun 2011 Tentang Tata
Cara Pemeliharaan dan Penilikan Jalan, pemeliharaan jalan adalah kegiatan
penanganan jalan, berupa pencegahan, perawatan dan perbaikan yang
diperlukan untuk mempertahankan kondisi jalan agar tetap berfungsi secara
optimal melayani lalu lintas sehingga umur rencana yang ditetapkan dapat
tercapai.
Berikut adalah klasifikasi pemeliharaan jalan:
1. Pemeliharaan rutin, yaitu pemeliharaan yang dilakukan secara terus
menerus sepanjang tahun dan sifatnya untuk melindungi dari kerusakan.
Perawatan diberikan secara khusus pada lapisan permukaan untuk lebih
mengembangkan kualitas berkendara (Riding Quality) disebut dengan
pemeliharaan rutin. Tanpa memperluas kekuatan konstruksi dan
penyelesaiannya berlangsung sepanjang tahun.
2. Pemeliharaan berkala, yaitu pemeliharaan yang dilakukan hanya pada
waktu-waktu tertentu, seperti pada saat kondisi lapis permukaan sudah
mengalami penurunan. Hal yang dilakukan pada saat pemeliharaan
berkala adalah melakukan pelapisan ulang lapis permukaan agar jalan
tetap pada kondisi optimal.
3. Rehabilitasi, yaitu kegiatan penanganan serta pencegahan agar
kerusakan yang terjadi tidak semakin luas atau menyebar pada
perkerasan lainnya, yang dapat mengakibatkan menurunnya kondisi
perkerasan jalan karena pada bagian-bagian tertentu terjadi kondisi
rusak ringan. Hal-hal yang dilakukan saat rehabilitasi jalan, seperti
pelapisan ulang, perbaikan bahu jalan, perbaikan bangunan pelengkap,
penambalan lubang pada perkerasan, dan penggantian dowel atau tie
bar pada perkerasan kaku.
4. Rekonstruksi, yaitu perbaikan struktur jalan yang merupakan upaya
untuk meningkatkan kapasitas jalan yang berada dalam kondisi rusak
parah. Kondisi jalan akan kembali stabil seperti yang ditunjukkan oleh
umur rencana. Hal-hal yang dilakukan saat rekonstruksi jalan, seperti
perbaikan seluruh struktur jalan, peningkatan kekuatan struktur jalan,
perbaikan bangunan pelengkap, perbaikan ulang saluran drainase,
pekerjaan galian dan timbunan ulang, pekerjaan struktur perkerasan
jalan.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Rancangan Penelitian


Data pada penelitian ini merupakan data kuantitatif, yaitu suatu data yang
dikumpulkan dan diolah untuk mendapatkan berapa besar pengaruh dari
dampak kerusakan.

3.2 Lokasi Penelitian


Lokasi penelitian akan dilaksanakan pada Jalan Bunga Kamboja, Kota
Kendari dengan jarak sekitar 450 m.

Gambar 3.1 Lokasi Jalan Bunga Kamboja, Kota Kendari

3.3 Jangka Waktu Penelitian


Penelitian ini direncanakan akan terlaksana dari bulan Februari 2025
sampai dengan bulan Juni 2025. Berikut ini rencana penelitian yang dapat
dilihat pada

3.4 Metode Analisis


Data dari hasil penelitian kemudian dianalisis dengan metode Statistika
Nilai Rerata (Mean) dan Standar Devisiasi.
3.4.1 Nilai Rerata (Mean)
Mean adalah teknik penjelasan kelompok yang didasarkan atas nila rata-
rata dari kelompok tersebut. Rerata (mean) ini didapat dengan menjumlahkan
data seluruh individu dalam kelompok itu, kemudian dibagi dengan jumlah
individu yang ada pada kelompok tersebut. Rumus umum untuk mencari mean
atau nilai rerata adalah sebagai berikut.
𝛴𝑥𝑖
𝑥̅ =
𝑛
Keterangan :
x̅ = nilai rerata (mean)
∑xi = jumlah data
n = banyaknya data

3.4.2 Standar Deviasi


Standar deviasi adalah nilai statistik yang digunakan untuk menentukan
bagaimana sebaran data dalam sampel, dan seberapa dekat titik data individu
ke mean atau rerata nilai sampel. Sebuah standar deviasi dari kumpulan data
sama dengan nol menunjukkan bahwa semua nilai-nilai dalam himpunan
tersebut adalah sama. Sebuah nilai deviasi yang lebih besar akan memberikan
makna bahwa titik data individu jauh dari nilai rata-rata. Rumus standar deviasi
adalah sebagai berikut.

𝛴(𝑥𝑖 − 𝑥̅ )²
𝑆𝐷 = √
𝑛−1

Keterangan :
SD = standar deviasi
xi = jumlah data
n = banyaknya data
x̅ = nilai rerata (mean)
3.5 Teknik Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data digunakan untuk mengumpulkan informasi
dalam suatu keadaan pada lokasi penelitian. Pada penelitian ini metode yang
digunakan adalah menggunakan kuesioner. Pertanyaan yang diajukan dalam
kuesioner ini mengacu pada Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor
3 Tahun 2006 dan Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2004 Tentang Jalan serta
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Lalu
Lintas dan Angkutan Jalan. Kuesioner ini akan dibagikan kepada pengguna
jalan yang setiap hari melintasi jalan untuk melakukan aktivitasnya sehari–hari
dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana tanggapan para pengguna jalan
terhadap dampak dari kerusakan jalan yang terjadi di Jalan Bunga Kamboja,
Kota Kendari. Setiap pilihan jawaban dari para pengguna jalan, masing-
masing diberikan bobot nilai yang disajikan dalam tabel 3.1.
Tabel 3.1 Bobot Penilaian Jawaban Untuk Pengguna Jalan
Pilihan Skor Jawaban
Sangat berpengaruh 4
Cukup berpengaruh 3
Berpengaruh 2
Kurang berpengaruh 1

3.6 Definisi Operasional


Definisi operasional adalah suatu definisi yang diberikan pada suatu
variabel dengan memberi arti atau membenarkan suatu operasional yang
diperlukan untuk mengukur variabel tersebut. Variabel terdiri dari variabel
independen (X) dan variabel dependen (Y). Berdasarkan masalah yang akan
diteliti, maka variabel-variabel yang diteliti adalah sebagai berikut.
3.6.1 Variabel Independen
Variabel independen adalah variabel bebas yang keberadaannya tidak
dipengaruhi oleh variabel-variabel lain, dan variabel ini merupakan faktor
penyebab yang akan memengaruhi variabel dependen. Variabel independen
pada penelitian ini adalah kerusakan jalan. Kerusakan jalan adalah kondisi di
mana jalan yang seharusnya terstruktur dan fungsional tidak dapat berfungsi
secara optimal dalam melayani lalu lintas.

3.6.2 Variabel Dependen


Variabel dependen adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi
akibat karena adanya variabel independen. Variabel dependen pada penelitian
ini adalah pengguna jalan. Pengguna jalan adalah orang yang menggunakan
ruang lalu lintas jalan berpindah tempat atau memindahkan barang.

3.7 Bagan Alir Penelitian


Prosedur penelitian yang dilakukan dalam studi ini dapat dilihat pada
bagan alir berikut:

START

Studi Literatur

Pemilihan Lokasi
Pengujian

Pengumpulan data

Data:
- Keadaan fisik jalan
- Kuesioner tentang pengaruh kerusakan
jalan terhadap pengguna jalan

Analisis & Pembahasan

Kesimpulan dan saran

Selesai
DAFTAR PUSTAKA

Gumelar, R. A., Susetyaningsih, A., & Zaman, M. B. (2023). Pengaruh


Kerusakan Jalan Terhadap Kenyamanan Pengguna Jalan di Jalan
Raya. Jurnal Konstruksi, 21(2), 265-274.
Hamid, A., & Sodikin, A. (2020). Identifikasi Kerusakan Jalan pada Jalan
Larangan Pamulian Kabupaten Brebes. Infratech Building Journal, 1(01).
Ahmad, S. N., Azikin, M. T., & Minmahddun, A. (2024). Analisis Dampak
Kerusakan Jalan Terhadap Pengguna Jalan Dan Lingkungan Jalan
Belimbing-Anduonohu, Kota Kendari. Media Konstruksi: Jurnal Ilmiah
Teknik Sipil, 9(3), 275-286.
Prasetyo, A. Y. (2017). Analisis dampak kerusakan jalan terhadap pengguna
jalan dan lingkungan di jalan raya gampeng, Kediri jawa timur (Doctoral
dissertation, UAJY).
Kementerian PUPR, “Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan
Rakyat Nomor 13/PRT/M/2011 Tahun 2011 tentang Tata Cara
Pemeliharaan dan Penilikan Jalan”, Pemerintah Indonesia, 1-21, 2011.

Anda mungkin juga menyukai