0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
31 tayangan9 halaman

Dasar Hukum dan Subjek Pajak PPh

Dokumen ini menjelaskan tentang Pajak Penghasilan (PPh) berdasarkan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 dan perubahannya, serta ketentuan terbaru dalam UU HPP. PPh dikenakan pada Subjek Pajak yang menerima penghasilan, baik dari dalam maupun luar negeri, dengan pengenaan pajak yang bersifat subjektif. Selain itu, dokumen ini menguraikan objek pajak, subjek pajak, dan penggolongan subjek pajak dalam negeri dan luar negeri.

Diunggah oleh

thesaimut2611
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
31 tayangan9 halaman

Dasar Hukum dan Subjek Pajak PPh

Dokumen ini menjelaskan tentang Pajak Penghasilan (PPh) berdasarkan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 dan perubahannya, serta ketentuan terbaru dalam UU HPP. PPh dikenakan pada Subjek Pajak yang menerima penghasilan, baik dari dalam maupun luar negeri, dengan pengenaan pajak yang bersifat subjektif. Selain itu, dokumen ini menguraikan objek pajak, subjek pajak, dan penggolongan subjek pajak dalam negeri dan luar negeri.

Diunggah oleh

thesaimut2611
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PAJAK PENGHASILAN

A. Dasar Hukum
Dasar hukum pengenaan Pajak Penghasilan (selanjutnya disingkat menjadi PPh)
adalah Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan. Dalam
perkembangannya, udang-undang ini telah mengalami 4 (empat) kali perubahan,
yaitu:
 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1991 tentang Perubahan Atas Undang-
Undang Nomor 7 Tahun 1983 mengenai Pajak Penghasilan;
 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1994 tentang Perubahan Kedua Atas
Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 mengenai Pajak Penghasilan;
 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2000 tentang Perubahan Ketiga Atas
Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 mengenai Pajak Penghasilan;
 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat Atas
Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1983 mengenai Pajak Penghasilan;

Selain itu, ketentuan terbaru tentang PPh telah disempurnakan dan diatur dalam
Undang-undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja (telah dicabut), serta
Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2021 tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan
(UU HPP).
UU Nomor 6 Tahun 2023. UU ini mengatur mengenai penetapan Peraturan
Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2022 tentang Cipta Kerja
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2022 Nomor 238, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 6841) ditetapkan menjadi Undang-Undang dan
melampirkannya sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari Undang-Undang ini.

B. Pengertian Pajak Penghasilan


Undang Undang tentang PPh mengatur tentang pengenaan pajak terhadap Subjek
Pajak berkenaan dengan penghasilan yang diterima atau diperolehnya dalam suatu
tahun pajak.

Subjek Pajak dikenakan PPh apabila menerima atau memperoleh penghasilan.


Subjek Pajak yang menerima atau memperoleh penghasilan dalam Undang Undang
ini disebut Wajib Pajak. Oleh karena itu, PPh merupakan contoh dari pajak subjektif.

Wajib Pajak dikenakan pajak atas penghasilan yang diterima atau diperolehnya
selama satu tahun pajak atau dapat pula dikenakan pajak untuk penghasilan dalam
bagian tahun pajak, apabila kewajiban pajak subjektifnya dimulai atau berakhir dalam
tahun pajak. Penghasilan yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak dapat berasal dari
Indonesia maupun dari luar negeri.

Yang dimaksud dengan tahun pajak dalam Undang Undang ini adalah tahun
takwim, namun Wajib Pajak dapat menggunakan tahun buku yang meliputi jangka
waktu 12 (dua belas) bulan. Tahun takwim atau tahun kalender meliputi jangka waktu
12 (dua belas) bulan yang terhitung mulai tanggal 1 Januari sampai dengan 31
Desember. Tahun buku yang meliputi jangka waktu 12 (dua belas) bulan, sebagai
contoh yang terhitung mulai tanggal 1 Juli 2022 sampai dengan 30 Juni 2023.
Kewajiban Pajak Subjektif
Pajak penghasilan merupakan jenis pajak subjektif, artinya kewajiban pajaknya
melekat pada Subjek Pajak yang bersangkutan sehingga kewajiban pajaknya tidak
dapat dilimpahkan kepada Subjek Pajak lainnya. Oleh karena itu, dalam rangka
memberikan kepastian hukum, penentuan saat mulai dan berakhirnya kewajiban
pajak subjektif menjadi penting.

Saat mulai dan berakhirnya kewajiban pajak subjektif ditentukan sebagai berikut.

1. Orang pribadi yang betempat tinggal di Indonesia atau yang berada di Indonesia
lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12 bulan atau orang pribadi yang dalam
suatu tahun pajak berada di Indonesia dan mempunyai niat untuk bertempat
tinggal di Indonesia.
Kewajiban pajak subjektifnya dimulai pada saat ia dilahirkan di Indonesia
atau dimulai sejak hari pertama orang pribadi tersebut berada di Indonesia
atau berniat untuk bertempat tinggal di Indonesia dan berakhi pada saat
meninggal dunia atau meninggalkan Indonesia untuk selama-lamanya.

2. Warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan menggantikan yang berhak.
Kewajiban pajak subjektifnya dimulai pada saat timbulnya warisan yang
belum terbagi tersebut yaitu pada saat meninggalnya pewaris, sehingga
sejak saat itu pemenuhan kewajiban perpajakannya melekat pada warisan
tersebut dan berakhir pada saat pada saat warisan tersebut selesai dibagi
kepada para ahli warisnya sehingga sejak saat itu pemenuhan kewajiban
perpajakannya beralih kepada para ahli warisnya.

3. Badan yang didirikan atau bertempat kedudukan di Indonesia;


Kewajiban pajak subjektifnya dimulai pada saat badan tersebut didirikan
atau bertempat kedudukan di Indonesia dan berakhir pada saat dibubarkan
atau tidak lagi bertempat kedudukan di Indonesia.

4. Orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia atau orang pribadi pribadi
yang berada di Indonesia tidak lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12 bulan
dan badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia yang
menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui bentuk usaha tetap (BUT) di
Indonesia.
Kewajiban pajak subjektifnya dimulai pada saat orang pribadi atau badan
tersebut menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui BUT di
Indonesia dan berakhir pada saat tidak menjalankan usaha atau melakukan
kegiatan melalui BUT di Indonesia.

5. Orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia atau orang pribadi pribadi
yang berada di Indonesia tidak lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12 bulan
dan badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia yang
dapat menerima atau memperoleh penghasilan dari Indonesia bukan dari
menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui bentuk usaha tetap (BUT) di
Indonesia.
Kewajiban pajak subjektifnya dimulai pada saat orang pribadi atau badan
tersebut menerima atau memperoleh penghasilan dari Indonesia dan
berakhir pada saat tidak lagi menerima atau memperoleh penghasilan dari
Indonesia

C. Subjek Pajak

Subjek Pajak - Pajak Penghasilan meliputi:


1. a. Orang Pribadi, yaitu orang pribadi yang bertempat tinggal atau berada di
Indonesia atau pun di luar Indonesia.
b. Warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan menggantikan yang
berhak.
2. Badan, terdiri dari perseroan terbatas, perseroan komanditer, perseroan
lainnya, badan usaha milik negara dan badan usaha milik daerah dengan
nama dan dalam bentuk apapun, persekutuan, perkumpulan, firma, kongsi,
koperasi, yayasan atau organisasi sejenis, lembaga, dana pensiun, dan bentuk
usaha lainnya.
3. Bentuk Usaha Tetap (BUT) yaitu bentuk usaha yang dipergunakan oleh orang
pribadi yang berada di Indonesia tidak lebih dari 183 hari dalam jangka waktu
12 bulan dan badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di
Indonesia untuk menjalankan usaha atau melakukan kegiatan di Indonesia
yang dapat berupa:
a. Tempat kedudukan dan manajemen;
b. Cabang perusahaan;
c. Kantor perwakilan;
d. Gedung kantor;
e. Pabrik;
f. Bengkel;
g. Pertambangan dan penggalian sumber alam, wilayah kerja pengeboran
yang digunakan untuk eksplorasi pertambangan;
h. Perikanan, peternakan, pertanian, perkebunan atau kehutanan;
i. Proyek konstruksi, instalasi atau proyek perakitan;
j. Pemberian jasa dalam bentuk apapun oleh pegawai atau oleh orang lain
sepanjang dilakukan lebih dari 60 hari dalam jangka waktu 12 bulan;
k. Orang atau badan yang bertindak selaku agen yang kedudukannya tidak
bebas;
l. Agen atau pegawai dari perusahaan asuransi yang tidak didirikan dan tidak
berkedudukan di Indonesia yang menerima premi asuransi atau
menanggung risiko di Indonesia.

Pihak-pihak yang dikecualikan sebagai Subjek Pajak meliputi:


1. Badan perwakilan negara asing;
2. Pejabat-pejabat perwakilan diplomatik dan konsulat atau pejabat-pejabat lain
dari negara asing dan orang-orang yang diperbantukan kepada mereka yang
bekerja pada dan bertempat tinggal bersama-sama mereka, dengan syarat
bukan Warga Negara Indonesia (WNI) dan di Indonesia tidak menerima atau
memperoleh penghasilan lain di luar jabatannya di Indonesia, serta negara
yang bersangkutan memberikan perlakuan timbal balik;
3. Organisasi-organisasi internasional yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan
dengan tidak menjalankan usaha atau melakukan kegiatan lain untuk
memperoleh penghasilan di Indonesia;
4. Pejabat-pejabat perwakilan organisasi internasional yang ditetapkan oleh
Menteri Keuangan dengan syarat bukan Warga Negara Indonesia (WNI) dan
tidak menjalankan usaha atau melakukan kegiatan atau pekerjaan lain untuk
memperoleh penghasilan di Indonesia.
Penggolongan Subjek Pajak
Dalam undang-undang ini dikenal 2 golongan Subjek Pajak, yaitu Subjek Pajak
dalam negeri dan Subjek Pajak luar negeri.

1. Subjek Pajak dalam negeri terdiri atas:


a. Orang pribadi yang bertempat tinggal di Indonesia atau orang pribadi yang
berada di Indonesia lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12 bulan atau
orang pribadi yang dalam suatu tahun pajak berada di Indonesia dan
mempunyai niat untuk bertempat tinggal di Indonesia;
b. Badan yang didirikan atau bertempat kedudukan di Indonesia;
c. Warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan menggantikan yang
berhak.

2. Subjek Pajak luar negeri terdiri atas:


a. Orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia atau orang pribadi
pribadi yang berada di Indonesia tidak lebih dari 183 hari dalam jangka
waktu 12 bulan dan badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat
kedudukan di Indonesia yang menjalankan usaha atau melakukan kegiatan
melalui bentuk usaha tetap (BUT) di Indonesia;
b. Orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia atau orang pribadi
pribadi yang berada di Indonesia tidak lebih dari 183 hari dalam jangka
waktu 12 bulan dan badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat
kedudukan di Indonesia yang dapat menerima atau memperoleh
penghasilan dari Indonesia bukan dari menjalankan usaha atau melakukan
kegiatan melalui bentuk usaha tetap (BUT) di Indonesia.

D. Objek Pajak
Undang-undang ini menganut prinsip pemajakan atas penghasilan dalam pengertian
yang luas, yaitu bahwa pajak dikenakan atas setiap tambahan kemampuan ekonomis
yang dikenakan kepada Wajib Pajak dari manapun asalnya yang dapat dipergunakan
untuk konsumsi atau menambah kekayaan Wajib Pajak tersebut dengan nama dan
dalam bentuk apapun.
Pengertian penghasilan dalam undang-undang ini tidak memperhatikan adanya
penghasilan dari sumber tertentu, tetapi pada adanya tambahan kemampuan
ekonomis. Tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh Wajib
Pajak merupakan ukuran terbaik mengenai kemampuan Wajib Pajak tersebut untuk
ikut bersama-sama memikul biaya yang diperlukan pemerintah untuk kegiatan rutin
dan pembangunan.
Berdasarkan aliran tambahan kemampuan ekonomis kepada Wajib Pajak,
maka penghasilan dapat dikelompokkan menjadi:
1. Penghasilan dari pekerjaan dalam hubungan kerja dan pekerjaan bebas seperti
gaji, honorarium, penghasilan dari praktik dokter, notaris, aktuaris, akuntan,
pengacara, dan sebagainya;
2. Penghasilan dari usaha dan kegiatan;
3. Penghasilan dari modal yang berupa harta gerak ataupun harta tak gerak seperti
bunga, dividen. Royalti, sewa, keuntungan penjualan harta atau hak yang tidak
dipergunakan untuk usaha, dan sebagainya;
4. Penghasilan lain-lain seperti pembebasan utang, hadiah, dan sebagainya.

Dilihat dari penggunaannya, penghasilan dapat dipakai untuk konsumsi dan dapat
pula ditabung untuk menambah kekayaan Wajib Pajak. Oleh karena undang-undang
ini menganut pengertian penghasilan yang luas maka semua jenis penghasilan yang
diterima atau diperoleh dalam satu tahun pajak digabungkan untuk mendapatkan
dasar pengenaan pajak. Dengan demikian, apabila dalam satu tahun pajak suatu
usaha atau kegiatan menderita kerugian, maka kerugian tersebut dikompensasikan
dengan penghasilan lainnya (kompensasi horisontal) kecuali kerugian yang diderita di
luar negeri. Namun demikian, apabila suatu jenis penghasilan dikenakan pajak
dengan tarif yang bersifat final atau dikecualikan dari objek pajak, maka penghasilan
tersebut tidak boleh digabungkan dengan penghasilan lain yang dikenakan tarif
umum.

Secara rinci yang termasuk sebagai penghasilan yang merupakan objek pajak
meliputi:
a. Penggantian atau imbalan berkenaan dengan pekerjaan atau jasa yang
diterima atau diperoleh termasuk gaji, upah, tunjangan, honorarium, komisi,
bonus, gratifikasi, uang pensiun, atau imbalan dalam bentuk lainnya, kecuali
ditentukan lain dalam undang-undang ini;
b. Hadiah dari undian atau pekerjaan atau kegiatan dan penghargaan;
c. Laba usaha;
d. Keuntungan karena penjualan atau karena pengalihan harta, termasuk:
1. Keuntungan karena pengalihan harta kepada perseroan, persekutuan, dan
badan lainnya sebagai pengganti saham atau penyertaan modal;
2. Keuntungan yang diperoleh perseroan, persekutuan dan badan lainnya
karena pengalihan harta kepada pemegang saham, sekutu atau anggota;
3. Keuntungan karena likuidasi, penggabungan, peleburan, pemekaran,
pemecahan atau pengambilalihan usaha;
4. Keuntungan karena pengalihan harta berupa hibah, bantuan atau
sumbangan, kecuali yang diberikan kepada keluarga sedarah dalam garis
keturunan lurus satu derajat dan badan keagamaan atau badan pendidikan
atau badan sosial atau pengusaha kecil termasuk koperasi yang ditetapkan
oleh Menteri Keuangan sepanjang tidak ada hubungan dengan usaha,
pekerjaan, pemilikan atau penguasaan antara pihak-pihak yang
bersangkutan; dan
5. keuntungan karena penjualan atau pengalihan sebagian atau seluruh
hakpenambangan, tanda turut serta dalam pembiayaan, atau permodalan
dalam perusahaan pertambangan;
e. Penerimaan kembali pembayaran pajak yang telah dibebankan sebagai biaya;
f. Bunga termasuk premium, diskonto dan imbalan karena jaminan pengembalian
utang;
g. Dividen, dengan nama dan dalam bentuk apapun, termasuk dividen dari
perusahaan asuransi kepada pemegang polis
h. Royalty atau imbalan atas penggunaan hak;
i. Sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta;
j. Penerimaan atau perolehan pembayaran berkala;
k. Keuntungan karena pembebasan utang, kecuali sampai dengan jumlah tertentu
yang ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah;
l. Keuntungan karena selisih kurs mata uang asing;
m. Selisih lebih karena penilaian kembali aktiva;
n. Premi asuransi;
o. Iuran yang diterima atau diperoleh perkumpulan dari anggotanya yang terdiri
dari Wajib Pajak yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas;
p. Tambahan kekayaan neto yang berasal dari penghasilan yang belum
dikenakan pajak;
q. penghasilan dari usaha berbasis syariah;
r. imbalan bunga sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang yang mengatur
mengenai ketentuan umum dan tata cara perpajakan; dan
s. surplus Bank Indonesia.

Penghasilan yang dikecualikan sebagai objek pajak terdiri atas:

a. 1. bantuan atau sumbangan, termasuk zakat, infak, dan sedekah yang diterima
oleh badan amil zakat atau lembaga amil zakat yang dibentuk atau disahkan
oleh pemerintah dan yang diterima oleh penerima zakat yang berhak atau
sumbangan keagamaan yang sifatnya wajib bagi pemeluk agama yang diakui
di Indonesia, yang diterima oleh lembaga keagamaan yang dibentuk atau
disahkan oleh pemerintah dan yang diterima oleh penerima sumbangan yang
berhak, yang ketentuannya diatur dengan atau berdasarkan Peraturan
Pemerintah; dan
2. harta hibahan yang diterima oleh keluarga sedarah dalam garis keturunan
lurus satu derajat, badan keagamaan, badan pendidikan, badan sosial
termasuk yayasan, koperasi, atau orang pribadi yang menjalankan usaha mikro
dan kecil,
sepanjang tidak ada hubungan dengan usaha, pekerjaan, kepemilikan, atau
penguasaan di antara pihak-pihak yang bersangkutan
b. Warisan;
c. Harta termasuk setoran tunai yang dterima badan sebagai pengganti saham
atau sebagai pengganti penyertaan modal;
d. Penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang
diterima atau diperoleh dalam bentuk natura dan atau kenikmatan meliputi:
1. makanan, bahan makanan, bahan minuman, dan atau minuman bagi
seluruh pegawai;
2. natura dan/atau kenikmatan yang disediakan di daerah tertentu;
3. natura dan/atau kenikmatan yang harus disediakan oleh pemberi kerja
dalam pelaksanaan pekerjaan;
4. natura dan/atau kenikmatan yang bersumber atau dibiayai Anggaran
Pendapatan dan Belanja Negara, Anggaran Pendapatan dan Belanja
Daerah, dan/atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa; atau
5. natura dan/atau kenikmatan dengan jenis dan/atau batasan tertentu;
e. Pembayaran dari perusahaan asuransi karena kecelakaan, sakit, atau karena
meninggalnya orang yang tertanggung, dan pembayaran asuransi beasiswa;
f. dividen atau penghasilan lain dengan ketentuan sebagai berikut
1. dividen yang berasal dari dalam negeri yang diterima atau
diperoleh Wajib Pajak
a) orang pribadi dalam negeri sepanjang dividen tersebut diinvestasikan
di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia dalam jangka waktu
tertentu; dan/atau
b) badan dalam negeri
2. dividen yang berasal dari luar negeri dan penghasilan setelah pajak dari
suatu bentuk usaha tetap di luar negeri yang diterima atau diperoleh
Wajib Pajak badan dalam negeri atau Wajib Pajak orang pribadi dalam
negeri, sepanjang diinvestasikan atau digunakan untuk mendukung
kegiatan usaha lainnya di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia
dalam jangka waktu tertentu, dan memenuhi persyaratan berikut:
a) dividen dan penghasilan setelah pajak yang diinvestasikan tersebut
paling sedikit sebesar 30% (tiga puluh persen) dari laba setelah
pajak; atau
b) dividen yang berasal dari badan usaha di luar negeri yang sahamnya
tidak diperdagangkan di bursa efek diinvestasikan di Indonesia
sebelum Direktur Jenderal Pajak menerbitkan surat ketetapan pajak
atas dividen tersebut sehubungan dengan penerapan Pasal 18 ayat
(2) Undang-Undang ini;

3. dividen yang berasal dari luar negeri sebagaimana dimaksud pada


angka 2 merupakan:
a) dividen yang dibagikan berasal dari badan usaha di luar negeri yang
sahamnya diperdagangkan di bursa efek; atau
b) dividen yang dibagikan berasal dari badan usaha di luar negeri yang
sahamnya tidak diperdagangkan di bursa efek sesuai dengan
proporsi kepemilikan saham;

4. dalam hal dividen sebagaimana dimaksud pada angka 3 huruf b) dan


penghasilan setelah pajak dari suatu bentuk usaha tetap di luar negeri
sebagaimana dimaksud pada angka 2 diinvestasikan di wilayah Negara
Kesatuan Republik Indonesia kurang dari 30% (tiga puluh persen) dari
jumlah laba setelah pajak sebagaimana dimaksud pada angka 2 huruf a)
berlaku ketentuan:
a) atas dividen dan penghasilan setelah pajak yang diinvestasikan
tersebut, dikecualikan dari pengenaan Pajak Penghasilan;
b) atas selisih dari 3oo/o (tiga puluh persen) laba setelah pajak
dikurangi dengan dividen dan/atau penghasilan setelah pajak yang
diinvestasikan sebagaimana dimaksud pada huruf a) dikenai Pajak
Penghasilan; dan
c) dengan dividen dan/atau penghasilan setelah pajak yang
diinvestasikan sebagaimana dimaksud pada huruf a) serta atas
selisih sebagaimana dimaksud pada huruf b), tidak dikenai Pajak
Penghasilan;
5. dalam hal dividen sebagaimana dimaksud pada angka 3 huruf b dan
penghasilan setelah pajak dari suatu bentuk usaha tetap di luar negeri
sebagaimana dimaksud pada angka 2, diinvestasikan di wilayah Negara
Kesatuan Republik Indonesia sebesar lebih dari 30% (tiga puluh persen)
dari jumlah laba setelah pajak sebagaimana dimaksud pada angka 2
huruf a) berlaku ketentuan:
a) atas dividen dan penghasilan setelah pajak yang diinvestasikan
tersebut dikecualikan dari pengenaan Pajak Penghasilan; dan
b) atas sisa laba setelah pajak dikurangi dengan dividen dan/atau
penghasilan setelah pajak yang diinvestasikan sebagaimana
dimaksud pada huruf a), tidak dikenai Pajak Penghasilan;

6. dalam hal dividen yang berasal dari badan usaha di luar negeri yang
sahamnya tidak diperdagangkan di bursa efek diinvestasikan di
Indonesia setelah Direktur Jenderal Pajak menerbitkan surat ketetapan
pajak atas dividen tersebut sehubungan dengan penerapan Pasal 18
ayat (21 Undang-Undang ini, dividen dimaksud tidak dikecualikan dari
pengenaan Pajak Penghasilan sebagaimana dimaksud pada angka 2;

7. pengenaan Pajak Penghasilan atas penghasilan dari luar negeri tidak


melalui bentuk usaha tetap yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak
badan dalam negeri atau Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri
dikecualikan dari pengenaan PajakPenghasilan dalam hal penghasilan
tersebut diinvestasikan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia
dalam jangka waktu tertentu dan memenuhi persyaratan berikut:
a) penghasilan berasal dari usaha aktif di luar negeri; dan
b) bukan penghasilan dari perusahaan yang dimiliki di luar negeri;

8. pajak atas penghasilan yang telah dibayar atau terutang di luar negeri
atas penghasilan sebagaimana dimaksud pada angka 2 dan angka 7,
berlaku ketentuan:
a) tidak dapat diperhitungkan dengan Pajak Penghasilan yang terutang;
b) tidak dapat dibebankan sebagai biaya atau pengurang penghasilan;
dan/atau
c) tidak dapat dimintakan pengembalian kelebihan pembayaran pajak;

9. dalam hal Wajib Pajak tidak menginvestasikan penghasilan dalam


jangka waktu tertentu sebagaimana dimaksud pada angka 2 dan angka
7, berlaku ketentuan:
a) penghasilan dari luar negeri tersebut merupakan penghasilan pada
tahun pajak diperoleh; dan
b) Pajak atas penghasilan yang telah dibayar atau terutang di luar
negeriatas penghasilan tersebut merupakan kredit pajak
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 Undang-Undang ini;

g. Iuran yang diterima atau diperoleh dana pensiun yang pendiriannya telah
disahkan oleh Otoritas Jasa Keuangan, baik yang dibayar oleh pemberi kerja
maupun pegawai;
h. Penghasilan dari modal yang ditanamkan oleh dana pensiun sebagaimana
dimaksud pada huruf g, dalam bidang-bidang tertentu;
i. Bagian laba atau sisa hasil usaha yang diterima atau diperoleh anggota dari
koperasi, perseroan komanditer yang modalnya tidak terbagi atas saham-
saham, pesekutuan, perkumpulan, firma, dan kongsi, termasuk pemegang unit
penyertaan kontrak investasi kolektif;
k. Penghasilan yang diterima atau diperoleh perusahaan modal ventura berupa
bagian laba dari badan pasangan usaha yang didirikan dan menjalankan usaha
atau kegiatan di Indonesia, dengan syarat badan pasangan usaha tersebut
1. merupakan perusahaan mikro, kecilrnenengah, atau yang menjalankan
kegiatan dalam sektor-sektor usaha yang diatur dengan atau berdasarkan
Peraturan Menteri Keuangan; dan
2. sahamnya tidak diperdagangkan di bursa efek di Indonesia;

l. beasiswa yang memenuhi persyaratan tertentu;


m. sisa lebih yang diterima atau diperoleh badan atau lembaga nirlaba yang
bergerak dalam bidang pendidikan dan/atau bidang penelitian dan
pengembangan, yang telah terdaftar pada instansi yang membidanginya, yang
ditanamkan kembali dalam bentuk sarana dan prasarana kegiatan pendidikan
dan/atau penelitian dan pengembangan, dalam jangka waktu paling lama 4
(empat) tahun sejak diperolehnya sisa lebih tersebut,;
n. bantuan atau santunan yang dibayarkan oleh Badan Penyelenggara Jaminan
Sosial kepada Wajib Pajak tertentu,.
o. dana setoran Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) dan/atau BPIH
khusus, dan penghasilan dari pengembangan keuangan haji dalam bidang atau
instrumen keuangan tertentu, diterima Badan Pengelola Keuangan Haji
(BPKH); dan
p. sisa lebih yang diterima/diperoleh badan atau lembaga sosial dan/atau
keagamaan yang terdaftar pada instansi yang membidanginya, yang
ditanamkan kembali dalam bentuk sarana dan prasarana sosial dan
keagamaan dalam jangka waktu paling lama 4 (empat) tahun sejak
diperolehnya sisa lebih tersebut, atau ditempatkan sebagai dana abadi.

Penghasilan di bawah ini dapat dikenai pajak bersifat final:

a. tabungan lainnya, bunga obligasi dan surat utang negara, bunga atau diskonto
surat berharga jangka pendek yang diperdagangkan di pasar uang, dan bunga
simpanan yang dibayarkan oleh koperasi kepada anggota koperasi orang
pribadi; (tarifnya 20%)
b. penghasilan berupa hadiah undian;
c. penghasilan dari transaksi saham dan sekuritas lainnya, transaksi derivatif
yang diperdagangkan di bursa, dan transaksi penjualan saham atau pengalihan
penyertaan modal pada perusahaan pasangannya yang diterima oleh
perusahaan modal ventura;
d. penghasilan dari transaksi pengalihan harta berupa tanah dan/atau bangunan,
usaha jasa konstruksi, usaha real estat, dan persewaan tanah dan/atau
bangunan; dan
e. penghasilan tertentu lainnya, termasuk penghasilan dari usaha yang diterima
atau diperoleh Wajib Pajak yang memiliki peredaran bruto tertentu,

yang diatur dalam atau berdasarkan Peraturan Pemerintah.

Anda mungkin juga menyukai