0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan5 halaman

Terapi Nebulizer untuk PPOK: Efektivitas dan Hasil

Dokumen ini membahas penerapan terapi nebulizer untuk mengatasi pola nafas tidak efektif pada pasien Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK). Melalui tinjauan literatur, penelitian menunjukkan bahwa terapi nebulizer efektif dalam meningkatkan saturasi oksigen dan menurunkan frekuensi pernapasan pasien PPOK. Hasil penelitian menunjukkan nilai p < 0,05, mengindikasikan signifikansi terapi nebulizer dalam perbaikan pola napas pasien.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan5 halaman

Terapi Nebulizer untuk PPOK: Efektivitas dan Hasil

Dokumen ini membahas penerapan terapi nebulizer untuk mengatasi pola nafas tidak efektif pada pasien Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK). Melalui tinjauan literatur, penelitian menunjukkan bahwa terapi nebulizer efektif dalam meningkatkan saturasi oksigen dan menurunkan frekuensi pernapasan pasien PPOK. Hasil penelitian menunjukkan nilai p < 0,05, mengindikasikan signifikansi terapi nebulizer dalam perbaikan pola napas pasien.
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Vol 5, No. 2 Agustus 2023 Hal.

19 – 23

PENERAPAN TERAPI NEBULIZER UNTUK MENGATASI POLA


NAFAS TIDAK EFEKTIF PADA PASIEN PENYAKIT
PARU OBSTRUKTIF KRONIK (PPOK)

Rahmawati Dian Nurani1, Ida Yatun Khomsah2


1,2
Akademi Keperawatan Bunda Delima
Email : [Link]@[Link]

Abstract

Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) is a persistent limitation of airflow so that it can block the
airways that are progressive. This blockage can be caused by emphysema and chronic bronchitis. One of the
symptoms that appear in COPD is an ineffective breathing pattern. Ineffective breathing pattern is inspiration
and/or expiration that does not provide adequate ventilation in the form of oxygen saturation and respiration.
Administration of a nebulizer is a medical device that has a direct effect on the lungs where inhaled drugs are
broken down into smaller particles by means of aerosols or humidification, so as to provide relaxation from
bronchial spasms, dilute secretions and moisten the respiratory tract. The purpose of this study was to describe
the application of nebulizer therapy to overcome ineffective breathing patterns in COPD patients based on a
literature review. The type of research used was a literature review study design using pre- and quasy-
experimental research with the keywords Nebulizer, Ineffective Breathing Pattern, COPD. The results of the five
journals show that after nebulizer therapy to treat ineffective breathing patterns in COPD patients, there is a
decrease in respiratory rate or SpO2 in COPD patients.

Keywords: Nebulizer, Ineffective Breathing Pattern, COPD.

Abstrak

Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) merupakan suatu keterbatasan aliran udara yang persisten sehingga
dapat menyumbat saluran pernapasan yang bersifat progresif. Penyumbatan tersebut dapat disebabkan oleh
emfisema dan bronkitis kronis. Gejala yang muncul pada penyakit PPOK salah satunya seperti pola napas tidak
efektif. Pola nafas tidak efektif adalah inspirasi dan atau ekspirasi yang tidak memberikan ventilasi adekuat
berupa saturasi oksigen dan respirasi. Pemberian nebulizer merupakan suatu alat pengobatan yang berefek
secara langsung pada paru-paru dimana obat-obatan yang dihirup akan dipecahkan menjadi partikel yang lebih
kecil melalui cara aerosol atau humidifikasi, sehingga dapat memberikan rileksasi dari spasme bronchial,
mengencerkan secret dan melembabkan saluran [Link] penelitian ini untuk menggambarkan
penerapan terapi nebulizer untuk mengatasi pola nafas tidak efektif pada pasien PPOK berdasarkan literature
review. Jenis penelitian yang digunakan yaitu desain studi literature review dengan menggunakan penelitian pra
dan quasy eksperiment dengan kata kunci Nebulizer, Pola Nafas Tidak Efektif, PPOK. Hasil kelima jurnal
menunjukkan bahwa setelah dilakukannya terapi nebulizer untuk mengatasi pola nafas tidak efektif pada pasien
PPOK terdapat penurunan respiratory rate atau SpO2 pada pasien PPOK.

Kata Kunci : Nebulizer, Pola Nafas Tidak Efektif, PPOK.

19
Vol 5, No. 2 Agustus 2023 Hal. 19 – 23

PENDAHULUAN Pada bulan Januari sampai Februari tahun


2019 jumlah pasien PPOK diruangan
Penyakit Paru Obstruksi Kronik tersebut menjadi 6% (Dinkes Lampung,
(PPOK) atau Chronic Obstructive 2019).
Pulmonary Disease (COPD) merupakan
suatu keterbatasan aliran udara yang Manifestasi klinis PPOK antara lain
persisten sehingga dapat menyumbat sesak nafas, ekspirasi yang memanjang,
saluran pernapasan yang bersifat progresif. mengi atau wheezing, suara nafas
Penyumbatan tersebut dapat disebabkan melemah, penggunaan otot bantu
oleh emfisema dan bronkitis kronis pernafasan (Manurung, 2018). Penurunan
(Irianto, 2014). Saluran pernapasan dan aktivitas pada kehidupan sehari-hari akibat
parenkim paru dapat terjadi respon sesak nafas yang dialami pasien PPOK
inflamasi kronik berlebihan apabila akan mengakibatkan makin memperburuk
terpapar gas atau partikel berbahaya kondisi tubuhnya (Khotimah, 2013). Hal
(PDPI, 2016). ini dapat terjadi masalah keperawatan
seperti gangguan pertukaran gas, pola
World Health Organization (WHO) nafas tidak efektif dan bersihan jalan nafas
(2015), menyatakan penyebab utama tidak efektif.
keempat morbiditas kronis dan kemarik di
Amerika Serikat yaitu Penyakit Paru Masalah keperawatan utama pada
Obstruktif Kronik (PPOK) merupakan pasien PPOK adalah pola nafas tidak
penyebab utama keempat morbiditas efektif. Pola nafas tidak efektif adalah
kronis dan kematian di Amerika Serikat inspirasi dan atau ekspirasi yang tidak
dan diproyeksikan akan menjadi peringkat memberikan ventilasi adekuat. Perawatan
kelima pada tahun 2020. Jumlah penduduk pasien PPOK dapat diberikan terapi antara
dunia sebanyak 65 juta diperkirakan lain fisioterapi dada, nebulizer, batuk
menderita Penyakit Paru Obstruksi Kronik efektif, dan deep breathing (Fitriananda et
(PPOK) sedang sampai berat, dimana lebih al, 2017). Terapi nebulizer dengan
dari 3 juta orang meninggal karena menggunakan oksigen sebagai uap, masih
Penyakit Paru Obstruktif (PPOK), dan efektif terhadap perubahan suara nafas
menyumbang 6% dari seluruh penyebab tachypne menjadi eupnea, dapat
kematian (Dipiro et al 2015). Prevalensi meningkatkan SPO2 dalam darah dan
Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) penurunan RR, serta perubahan pola nafas
di negara-negara Asia Tenggara dari rhonchi/wheezing menjadi vaskuler
diperkirakan 6,3% dengan prevalensi (Agus et al, 2018).
tertinggi di Vietnam (6,7%) dan China
(6,5%) (Oemiatri, 2013). Terapi nebulizer dikatakan bisa
mengatasi pola nafas tidak efektif jika
Menurut Riskesdas (2013) sesak pada pasien berkurang, sesak
meyebutkan bahwa prevalensi Penyakit berkurang, dahak lebih encer,
Paru Obstruktif Kronik (PPOK) sebesar bronkopasme berkurang atau menghilang
3,7 persen per mil, dengan prevalensi lebih dan hiperaktivitas bronkus menurun serta
tinggi pada laki-laki yaitu sebesar 4,2% infeksi teratasi dengan obat-obat aerosol
(Kemenkes RI, 2013). Provinsi Lampung atau inhalasi (Wahyuni, 2014). Terapi
tahun 2018 pada bulan November sampai medis yang digunakan dalam kondisi
bulan Desember jumlah pasien PPOK di pasien Penyakit Paru Obstruktif Kronik
Ruang Melati RSUD Dr. H. Abdul (PPOK) et causa asma bronkial adalah
Moeloek Provinsi Lampung berkisar 3,4%. menggunakan [Link]

20
Vol 5, No. 2 Agustus 2023 Hal. 19 – 23

merupakan obat yang berisi albuterol purposive sampling sebanyak 29


(salbutamol) dan ipratropium bromide. responden. Hasil saturasi oksigen sebelum
Combivent bekerja dengan cara dilakukan terapi nebulizer adalah 93 dan
melebarkan saluran pernafasan bawah sesudah dilakukan terapi nebulizer adalah
(bronkus) (Yosmar, 2015). 97 dengan selisih nilai pre test dan post
test sebesar 4 dengan nilai p value 0,001.
Hasil penelitian yang dilakukan
oleh Ayu (2015) didapatkan bahwa ada Berdasarkan artikel kedua hasil
pengaruh pemberian terapi inhalasi dengan penelitian yang dilakukan oleh (Purnomo,
nebulizer terhadap peningkatan saturasi Abidin & Ardianto, 2017) pasien dengan
oksigen pada klien dengan serangan asma PPOK et causa asma bronkial di RSUD
digambarkan dengan adanya perbedaan KRMT Wongsonegoro pada bulan Mei
yang signifikan pada nilai saturasi oksigen 2017, intervensi yang digunakan yaitu
sebelum dan sesudah diberikan terapi kelompok intervensi terapi nebulizer.
inhalasi dengan nebulizer. Berdasarkan Pengambilan sampel pada penelitian ini
fenomena, data statistik. sebanyak 8 responden. Hasil penelitian
untuk nilai sig. respiratory rate sebelum
Berdasarkan hasil dari mereview dilakukan terapi adalah 0,634 dan sesudah
jurnal online didapatkan hasil bahwa dilakukan terapi adalah 0,139 dengan
setelah dilakukan terapi nebulizer terjadi selisih nilai pre test dan post test sebesar
peningkatan SaO2 dan RR pada pasien 0,495.
PPOK. Tujuan penelitian ini untuk
menggambarkan penerapan terapi Berdasarkan artikel ketiga hasil
nebulizer untuk mengatasi pola nafas tidak penelitian yang dilakukan oleh (Wahyuni,
efektif pada pasien PPOK berdasarkan 2014) pasien dengan COPD di ruang
literature review. Pajajaran RSUD Prof dr. Soekandar
Mojosari, intervensi yang digunakan yaitu
Metode Penelitian kelompok intervensi terapi nebulizer.
Pengambilan sample pada penelitian ini
Desain penelitian yang digunakan menggunakan teknik purposive sampling
adalah study literature review pada pasien sebanyak 20 responden. Hasil penelitian
PPOK dengan intervensi terapi nebulizer sebelum dilakukan terapi nebulizer dan
menggunakan study design quasy batuk efetif pada 20 responden didapatkan
eksperiment. Data diambil dengan pernafasan seluruh reponden menurun
pencarian jurnal secara online maupun sebanyak 100% dan sesudah dilakukan
offline dari tahun 2017-2020, dengan kata terapi nebulizer dan batuk efektif
kunci PPOK, terapi nebulizer dan pola didapatkan pernafasan pada 15 responden
nafas tidak efektif. meningkat menjadi 75% dan pada 5
responden menurun menjadi 25% dengan
Hasil dan Pembahasan
nilai p value 0,00.
Berdasarkan artikel pertama hasil
penelitian yang dilakukan oleh Berdasarkan artikel keempat hasil
(Nurmayanti, Waluyo, Jumaiyah & penelitian yang dilakukan oleh
Azzam, 2019) pasien dengan PPOK yang (Pourdowlat et al, 2019) sample sebanyak
dirawat di RS Islam Cempaka Putih dari 40 responden yang terdiri dari 20
bulan April-Juni 2019, intervensi yang kelompok kasus dan 20 kelompok kontrol.
digunakan yaitu kelompok intervensi Hasil penelitian sebelum dilakukan terapi
terapi nebulizer. Pengambilan sampel pada nebulizer menggunakan verapamil rata-
penelitian ini menggunakan teknik rata saturasi O2 sebesar 87,2% dan

21
Vol 5, No. 2 Agustus 2023 Hal. 19 – 23

sesudah dilakukan terapi nebulizer dengan PPOK di Balai Besar


menggunakan verapamil rata-rata saturasi Kesehatan Paru Masyarakat
O2 sebesar 95,75% dan didapatkan selisih Surakarta (Doctoral dissertation,
nilai pre test dan post test sebesar 8,55%. Universitas Muhammadiyah
Surakarta).
Berdasarkan artikel kelima hasil Irimia, dan Olga Dreeben.(2017).
penelitian yang dilakukan oleh Sondakh, Fisioterapi Praktik Klinis Edisi
Onibala & Nurmansyah (2020) Pada [Link]. Jakarta. Khotimah, Siti.
pasien yang mengalami gangguan (2013). Latihan Endurance
pernafasan di RSU GMIM Pancaran Kasih Meningkatkan Kualitas Hidup
Manado. Dalam penelitian ini kelompok Lebih Baik Dari Pada Latihan
intervensi yang digunakan yaitu kelompok Pernafasan Pada Pasien PPOK.
intervensi terapi nebulizer. Pengambilan Sport And Fitness Journal. 1(1), 20-
sampel pada penelitian ini menggunakan 32.
purposive sample sebanyak 16 responden. Oemiyati, R. (2013). Kajian Epidemiologis
Hasil penelitian respiratory rate sebelum Penyakit Paru Obstruktif Kronik
dilakukan terapi nebulizer adalah 26,50. (PPOK). Jakarta: Kemenkes RI.
Sesudah dilakukan terapi nebulizer adalah Khotimah, Siti. (2013). Latihan Endurance
18,00. dengan nilai p value 0,000. Meningkatkan Kualitas Hidup
Lebih Baik Dari Pada Latihan
Berdasarkan hasi penelitian dari Pernafasan Pada Pasien PPOK.
literature review ini didapatkan hasil Sport And Fitness Journal. 1 (1),
bahwa terapi nebulizer efektif dapat 20-32.
meningkatkan SaO2 dan RR pada pasien Nurmayanti, N., Waluyo, A., Jumaiyah,
PPOK. Hal ini dikarenakan pemberian W., & Azzam, R. (2019). Pengaruh
nebulizer pada pasien asma merupakan Fisioterapi Dada, Batuk Efektif dan
suatu alat pengobatan yang berefek secara Nebulizer terhadap Peningkatan
langsung pada paru-paru dimana obat- Saturasi Oksigen dalam Darah pada
obatan yang dihirup akan dipecahkan Pasien PPOK. Jurnal Keperawatan
menjadi partikel yang lebih kecil melalui Silampari, 3(1), 362-371.
cara aerosol atau humidifikasi, sehingga Perhimpunan Dokter Paru Indonesia
dapat memberikan rileksasi dari spasme (PDPI).(2015). Diagnosis dan
bronchial, mengencerkan secret dan Penatalaksaan Asma. Penerbit
melembabkan saluran pernapasan (Ikawati, Universitas Indonesia.
2011 ; Muttaqin, 2014). Pourdowlat, G., Kashani, R. A., Ghorbani,
F., Baniasadi, S., Jamaati, H., &
Farzanegan, B. (2019). Effect of
Kesimpulan Nebulized Verapamil on
Oxygenation in Chronic
Penerapan terapi nebulizer untuk
Obstructive Pulmonary Disease
mengatasi pola napas tidak efektif pada
(COPD) Patients Admitted to the
pasien PPOK dinyatakan efektif dengan
Intensive Care
nilai uji statistik p value < 0,05.
Unit. Tanaffos, 18(4), 329
Referensi Purnomo, D., Abidin, Z., & Ardianto, R.
(2017). Pengaruh Nebulizer,
Fitriananda, E., Waspada, E., & Fis, S. Infrared Dan Terapi Latihan Pada
(2017). Pengaruh Chest Penyakit Paru Obstruktif Kronik
Physiotherapy terhadap Penurunan (Ppok) Et Causa Asma
Frekuensi Batuk pada Balita

22
Vol 5, No. 2 Agustus 2023 Hal. 19 – 23

Bronkial. Jurnal Fisioterapi Dan


Rehabilitasi, 1(2), 60-69.
Sondakh, S. A., Onibala, F., &
Nurmansyah, M. (2020). Pengaruh
Pemberian Nebulisasi Terhadap
Frekuensi Pernafasan Pada Pasien
Gangguan Saluran
Pernafasan. Jurnal
Keperawatan, 8(1), 75-82.
Wahyuni L. (2014). Pengaruh Pemberian
Nebulizer Dan Batuk Efektif
terhadap Status Pernapasan
Pasien COPD. Diakses pada 24
April 2018. Available from : URL :
[Link]
WHO (2013). World COPD Day In Your
Country.
[Link]
[Link]?country_id=55&s
ubmit=Go

23

Anda mungkin juga menyukai