0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan19 halaman

Metode Tahsin dalam Pembelajaran Al-Qur'an

Dokumen ini membahas metode Tahsin dalam pembelajaran membaca Al-Qur'an, yang bertujuan untuk memperbaiki dan meningkatkan bacaan sesuai kaidah tajwid. Metode ini menekankan pentingnya interaksi antara guru dan siswa melalui praktik langsung untuk mencapai pemahaman yang benar. Selain itu, dokumen ini juga menjelaskan tujuan, unsur-unsur, dan pentingnya peran guru dalam proses pembelajaran Al-Qur'an.

Diunggah oleh

rindiputriyani06
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan19 halaman

Metode Tahsin dalam Pembelajaran Al-Qur'an

Dokumen ini membahas metode Tahsin dalam pembelajaran membaca Al-Qur'an, yang bertujuan untuk memperbaiki dan meningkatkan bacaan sesuai kaidah tajwid. Metode ini menekankan pentingnya interaksi antara guru dan siswa melalui praktik langsung untuk mencapai pemahaman yang benar. Selain itu, dokumen ini juga menjelaskan tujuan, unsur-unsur, dan pentingnya peran guru dalam proses pembelajaran Al-Qur'an.

Diunggah oleh

rindiputriyani06
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

KAJIAN TEORI

A. Kajian teori
1. Metode Tahsin
a. Pengertian Metode Tahsin

Secara bahasa metode tahsin terdiri dari dua suku kata, metode
dan tahsin. Metode sendiri berasal dari bahasa Yunani “Metodos”
yang terdiri dari “metha” berarti melalui atau melewati dan “hodos”
yang berarti jalan atau cara. Metode diartikan sebagai suatu jalan yang
dilalui untuk mencapai tujuan ( Acim : 2022 ).
Menurut Surakhmad metode adalah cara yang memberikan
jaminan tertinggi akan tercapainya tujuan itu dengan sebaik-baiknya.
Sebuah metode harus mempunyai target/ jaminan tertinggi akan
tercapainya tujuan (Efendi : 2016 ).
Menurut Armai Arif metode diartikan sebagai suatu jalan yang
dilalui untuk mencapai tujuan. Menurut Soejono metode adalah cara
menyajikan bahan [Link] lain tentang metode, dari
Surakhmad menuliskan bahwa metode adalah cara yang memberikan
jaminan tertinggi akan tercapainya tujuan itu dengan sebaikbaiknya,
sebuah metode harus mempunyai target/ jaminan tertinggi akan
terapainya suatau tujuan ( Acim : 2022 ).
Menurut Gagne & Briggs,1979 pembelajaran adalah “aset of
events which affect learnersin sach a way that learning is facilitated.
Menurutnya pembelajaran adalah suatu rangkaian kegiatan yang
memberikan pengaruh pada peserta didik atau pelajar sehingga ada
perubahan perilaku yang disebut hasil belajar terfasilitasi.(Magdalena,
2021:8). Menurut Rosdiana ( 2013 ) pembelajaran adalah proses
interaksi lingkungan belajar meliputi guru dan siswa yang saling
bertukar informasi. (Hidayat, 2015:29)

8
9

Knirk & Gustafson menyatakan bahwapembelajaran adalah


setiap kegiatan yang dirancang oleh guru untuk membantu seseorang
mempelajari suatu kemampuan atau nilai yangbaru dalam suatu proses
yang sistematis melalui tahap rancangan, pelaksanaan, dan evaluasi
dalam konteks kegiaran belajar mengajar.(Saifuddin, 2014:3).
Kemudian menurut undang-undang Republik Indonesia Nomor Tahun
2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bahwa pembeajaran adalah
proses interaksi antara peserta didik dengan guru dan sumber belajar
yang berlangsung dalam suatu lingkungan belajar (Hanafy, 2014:74).
Sementara itu, Istilah tahsin berasal dari kata hassana-
yuhassinu-tahsiinan yang artinya memperbaiki, mempercantik,
membaguskan, atau menjadikan lebih baik daripada sebelumnya
(Rasyd,2015:12). Istilah tahsin sering dikaitkan dengan aktivitas
membaca Al-Qur’an. (Suwarno,2016:1).tahsin adalah memperbaiki,
meningkatkan, dan memperkaya.(Almuttaqi,2022:6) Berdasarkan
uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran tahsin adalah
suatu interaksi yang dilakukan oleh guru dan siswa dalam suatu
lingkungan belajar untuk mempelajariAl- Qur’an dengan tujuan untuk
mendapatkan pengetahuan, penguasaan, dan keterampilan dalam
membaca Al-Qur’an sehingga siswa mampu membaca Al-Qur’an
dengan baik dan benar sesuai kaidah ilmu tajwid.
Sedangkan metode menurut Usman adalah cara untuk mencapai
tujuan, cara yang digunakan oleh guru untuk menyampaikan materi
pelajaran kepada peserta didiknya.7 Berdasarkan pendapat di atas
dapat disimpulkan bahwa metode adalah cara yang digunakan guru
untuk menyampaikan materi pelajaran ke siswa agar tujuan
pembelajaran dapat tercapai dengan sebaik-baiknya. Tahsin berasal
dari kata hasana- yuhasinu- tahsinan artinya memperbaiki,
membaguskan, menghiasi, mempercantik, membuat lebih baik dari
semula.
10

Tahsin sering digunakan sebagai sinonim dari kata tajwid


merupakan mashdar dari fi’il madhi jawwada yang berarti
membaguskan, menyempurnakan, memantapkan. Tajwid menurut
bahasa adalah al ityaanu bil jayyidi yang berarti memberikan dengan
baik
Sedangkan menurut istilah adalah “Mengeluarkan setiap huruf
dari tempat keluarnya dengan memberi hak dan mustahaknya”. Yang
dimaksud dengan hak huruf adalah sifat asli yang selalu bersama
dengan huruf tersebut, seperti Al Jahr, Isti’la’, istifal dan lain
sebagainya. Sedangkan yang dimaksud dengan mustahaq adalah sifat
yang nampak sewaktu-waktu, seperti tafkhim, tarqiq, ikhfa‟’dan lain
sebagainya ( Acim : 2022 ).
Tahsin selalu identik dengan tilawah. Tilawah sendiri berasal
dari kata talaa- yatluu- tilaawatan artinya bacaan, dan tilawatul qur’an
artinya bacaan Al-Qur’an. Sementara tilawah secara istilah adalah
membaca Al-Qur’an dengan bacaan yang menjelaskan huruf-hurufnya
dan berhati-hati dalam melaksanakan bacaannya, agar lebih mudah
memahami makna yang terkandung di dalamnya. Tilawah secara
istilah: Membaca Al-Qur’an dengan bacaan yang menjelaskan huruf-
hurufnya dan berhati-hati dalam melaksanakan bacaannya, agar lebih
mudah memahami makna yang terkandung di [Link] Al-
Qur’an adalah salah satu sarana untuk mendekatkan diri, dan
beribadah kepada Allah SWT.
Jadi dapat disimpulkan bahwa metode tahsin tilawah adalah
upaya memperbaiki dan membaguskan bacaan Al-Qur’an dengan
meletakkan kaidah-kaidah cara membaca yang baik dan benar
diantaranya makharijul huruf, sifat-sifat huruf, tajwid dan bacaan
dengan tartil. Tak banyak orang yang tertarik pada ilmu tajwid.
Selaras dengan sedikitnya orang yang ingin bisa membaca Al-Qur’an
dengan benar; sesuai kaidah tajwid, tepat makhraj dan sifat hurufnya,
serta sebagaimana Al-Qur’an diturunkan. Banyak yang menganggap,
11

sekedar bisa membaca Al-Qur’an sudah cukup. Sehingga, banyak


orang yang lancar membaca Al-Qur’an, namun banyak kesalahannya
dari sisi tajwid. Membaca Al-Qur’an taka akan bisa memenuhi kaidah
tajwid jika tidak dilakukan langsung dihadapan seorang guru atau
syaikh. Sebab, sangat banyak kaidah dalam bacaan Al-Qur’an yang
memang harus diluruskan cara membacanya melalui talaqqi (bertemu
langsung) dan musyafahah (pembetulan letak bibir saat membaca).
Ilmu tajwid adalah ilmu praktik. Ia tak sekedar teori. Mungkin
banyak orang yang menguasai teori tajwid, tetapi jika ia tak membaca
Al-Qur’an secara talaqqi dan musyafahah berhadapan langsung
dengan guruatau syaikh yang sanadnya bersambung sampai kepada
Rasulullah SAW,sesungguhnya itu tak banyak berarti. Laksana ilmu
bela diri dan bahasa (arab atau inggris misalnya), jika hanya
mempelajari dari buku tanpa pernah praktik danbelajar langsung dari
orang yang menguasainya, niscaya hasilnya tak akan maksimal
Assingkily, M. S. (2019)
Dinamakan metode Tahsin berarti suatu jalan atau cara yang
dilakukan untuk memperbagus, memperbaiki, memantapkan bacaan
Al- Qur’an agar sesuai haq dan mustahaqnya. Metode Tahsin adalah
salah satu cara untuk tilawah Al-Qur’an yang menitikberatkan pada
makhroj (tempat keluarnya huruf), sifat-sifat huruf dan ilmu tajwid.
Metode ini melalui talaqqi (bertemu langsung) dan musyafahah
(pembetulan bibir saat membaca) berhadapan langsung dengan guru
atau syaikh yang sanadnya bersambung sampai kepada Rasulullah
SAW.
Metode tahsin ini ditulis dan dibukukan oleh Dra. Sarotun.
Beliau lahir di Kabupaten Semarang pada 17 Februari 1967 yang
bertempat tinggal di Jl. Tabing III No.3 Rt.02/V Beji, Ungaran
Kabupaten Semarang. Ketika waktu remaja beliau sangat gigih dalam
belajar Al-Qur’an, haus akan ilmu Al-Qur’an, sehingga beliau banyak
mengikuti pelatihan bacaan Qur’an dengan tujuan mentahsinkan
12

bacaannya. Kemudian beliau mengikuti program tahsin Qur’an pada


lembaga Tahfidz Adz-Dzikra Semarang. Ketekunan beliau dalam
mentahsinkan bacaan Al-Qur’an, beliau langsung menyetorkan
bacaannya kepada H. Ahmad Muzammil MF. Al Hafidz, yang
merupakan koordinator dan pengajar tahsin tahfidz di LTQ Al
Hikmah, Mampang Jakarta Selatan, LTQ Markas Al-Qur’an Kalisari
Jakarta Timur, FHQ Nurul Hikmah, Ciputat Tangerang, dan beliau
adalah juara MHQ tingkat nasional dan Internasional di Makkah. Dari
pengalaman penulis (Sarotun) dalam mengikuti program tahsin
Qur’an pada lembaga Tahfidz Adz-Dzikra Semarang, dan selanjutnya
ikut mengembangkannya.
Dalam prakteknya penulis banyak menemukan kendala ketika
berhadapan dengan peserta yang kemampuan bacaannya masih
terbata-bata, dan penulis (Sarotun) menggunakan pedoman Dauroh
Al-Qur’an, ustadz Abdul Aziz Abdur Ra’uf, LC. Al-Hafidz dimana
beliau juga mengambil rujukan dari matan Al-Jazari. Dan sanad beliau
urutan 29 dari Rasulullah SAW, Ketika peneliti melakukan
wawancara kepada penulis, Bu Sarotun mengatakan bahwa:
“ Metode tahsin pertama kali digunakan di Indonesia tepatnya
ma’had Al-Hikmah Jakarta oleh Abdur Rauf sekitar tahun 80 an,
Dauroh Qur’an dari imam-imam Timur Tengah. Membaca Al-Qur‟an
itu butuh sanad dan beliau urutan 29 dari Rasul, dari salah satu
kekhawatiran beliau berinisiatif untuk membuat buku kemudian
mengajarkan kepada masyarakat agar bacaan Al- Qur’an masyarakat
Indonesia lebih bagus. Dahulu sering ada Wami lembaga lsm Timur
Tengah yang sering mengadakan Dauroh Qur’an, waktu di tes
kebanyakan tidak lulus terutama huruf isti’la’ seperti shod dan kho’.
Baca Al-Qur’an satu huruf berpahala, ketika membaca makhrojnya
benar. Karena satu huruf itu mempengaruhi artinya dalam Al-Qur’an.
Kemudian Tahsin mulai berkembang di Indonesia mulai dari tempat
ke tempat. Atas dasar keprihatinan yang dalam serta keinginan untuk
13

bisa berbuat yang terbaik dengan memberikan konstribusi bagi


da’wah dan pengembangan Al-Qur’an, maka Sarotun menghadirkan
metode Tahsin Al-Qur’an dalam bentuk buku. Metode ini ditulis dari
pengalaman penulis dalam mengikuti program Tahsin Al-Qur’an
pada Lembaga tahfidz Adz-Dzikra Semarang, dan selanjutnya ikut
mengembangkannya”.
Dinamakan metode Tahsin berarti suatu jalan atau cara yang
dilakukan untuk memperbagus, memperbaiki, memantapkan bacaan
Al- Qur’an agar sesuai haq dan mustahaqnya. Metode Tahsin adalah
salah satu cara untuk tilawah Al-Qur’an yang menitikberatkan pada
makhroj (tempat keluarnya huruf), sifat-sifat huruf dan ilmu tajwid.
Metode ini melalui talaqqi (bertemu langsung) dan musyafahah
(pembetulan bibir saat membaca) berhadapan langsung dengan guru
atau syaikh yang sanadnya bersambung sampai kepada Rasulullah
SAW.
Guru memiliki peran yang penting dalam keberhasilan proses
pembelajaran. Guru dalam proses pembelajaran harus berupaya
semaksimal mungkin supaya pembelajaran dapat berjalan efektif dan
efisien. Upaya yang dilakukan yakni dengan cara menggunakan
metode dan media pembelajaran yang tepat sehingga pembelajaran
bisa berjalan dengan optimal dan memudahkan peserta didik untuk
memahami materi yang diberikan. Selain itu, pemberian bimbingan
khusus juga salah satu hal penting yang harus dilakukan guru untuk
siswa yang mengalami kesulitan belajar.
Dalam pembelajaran Tahsin, guru harus berupaya semaksimal
mungkin dalam memberikan pelajaran tahsin kepada para peserta
didik, salah satu nya dengan cara memilih metode dan media
pembelajaran yang tepat, menarik, dan inovatif sehingga memudahkan
peserta didik untuk belajar dan menerima materi tahsin yang di
ajarkan oleh guru sehingga kemampuan membaca Al-Qur’an siswa
bisa meningkat. Selain itu Guru tahsin juga harus memahami
14

perbedaan siswa, pada siswa yang mengalami kesulitan dalam


belajarAl-Qur’an, guru harus memberikan perhatian yang lebih, jika
perlu memberikan bimbingan khusus.
b. Tujuan Metode Tahsin
Dalam pengajaran membaca Al-Quran, Metode Tahsin memiliki
tujuan agar pengajaran dapat efektif sesuai dengan kebutuhan ibadah
sebagaimana yang diinginkan oleh Allah SWT dan rasul-Nya. Tujuan
tahsin adalah sebagai berikut:26
1. Menjaga dan memelihara harkat, kesucian, dan kesucian Alquran
melalui cara membacanya yang benar, sesuai kaidah tajwid sesuai
bacaan Nabi Muhammad SAW.
2. Sebarkan ilmu membaca Al-Quran dengan benar. Untuk memenuhi
tujuan di atas secara nyata, metode tahsin berupaya mengajarkan
bacaan Al-Quran dengan benar sebagaimana dicontohkan oleh
sunnah Rasulullah SAW.
3. Ingatlah guru-guru Al-Quran maka dalam mengajarkan Al-Quran
harus hati-hati jangan sampai asal-asalan. Membaca Al-Qur'an
memiliki kaidah-kaidah tertentu agar ketika membacanya tidak
terjadi kesalahpahaman makna yang akan menimbulkan dosa bagi
para pembacanya, karena itu para guru Al-Qur'an akan berhati-hati
dalam membaca Al-Qur'an. (Assingkily, M. S. (2019)
Berdasarkan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa tujuan
pembelajaran membaca Al-Qur'an dengan metode Tahsin adalah mutu
pembelajaran atau pengajaran Al-Qur'an dengan menyebarkan ilmu
membaca Al-Qur'an dengan benar dan sesuai kaidah ilmu tajwid. seperti
yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW

c. Unsur-unsur dalam metode Tahsin Al-Qur’an


1. Tempat keluar surat
Dalam alokasi ruang publikasi, metode tahsin ulama Qira'at
dituangkan ke dalam makalah agar lebih cepat dipahami oleh siswa
Madrasah Ibtidaiyah. memperlancar lidah mengucapkan abjad
15

dengan baik dan benar, di seluruh dunia terdapat abjad makhrojul.


Kelima area tersebut adalah:
a. Rongga mulut Rongga mulut dan tenggorokan terbuka, huruf
yang keluar dari rongga mulut adalah huruf gila. ( ‫)ا –ي –و‬
b. tenggorokan Huruf yang keluar dari tenggorokan terbagi
menjadi tiga yaitu tenggorokan akar, tenggorokan tengah dan
tenggorokan ujung, contoh makhraj dapat dilihat di bawah ini:
1. Keluar dari tenggorokan bagian bawah ( ‫ء‬dan ‫) ه‬
2. Keluar dari tenggorokan tengah ( ‫ح‬dan ‫)ع‬
3. Keluar dari tenggorokan atas ( ‫خ‬dan ‫)غ‬
c. Lidah
Format yang meluncur dari lidah adalah sebagai berikut:
1. ‫ ق‬keluar dari pangkal lidah di bagian belakang atau dekat
tenggorokan dengan membawanya ke langit-langit mulut.
2. pangkal lidah agak ke depan, seperti makhraj ‫ ق‬tetapi
pangkal lidah lebih rendah.
3. ‫ ي‬-‫ ج‬-‫ش‬antara lidah dan langit-langit, bacalah dari
tengah lidah menghadap langit-langit.
4. Sisi lidah bertemu dengan gigi graham.
5. ‫ ل‬lidah di belakang dhad atau keluar dengan
menggerakkan setiap lidah untuk memenuhi langit-langit.
6. ‫ ن‬dari lidah setelah makhraj ‫ل‬
7. ‫ ر‬ujung lidah halus ‫ ن‬atau menonjol keluar dari lidah,
hampir sama dengan memasukkan bagian belakang lidah.
8. ‫ ت‬-‫ د‬-‫ ط‬ujung lidah bertemu dengan gusi atas atau
meninggalkan lidah yang bertemu dengan gigi atas.
9. ‫ ص‬-‫ س‬-‫ ز‬pada lidah gigi atas dan bawah (lebih dekat ke
bawah) sebagai gigi bawah.
10. Ujung lidah sedikit menjulur hingga bertemu ujung
gigi.
16

d. Dua bibir Huruf-huruf yang keluar dari kedua bibir tersebut


dijelaskan sebagai berikut:
1. ‫ ف‬dari bibir dalam hingga bertemu dengan ujung gigi seri
atas. B
2. ‫ م‬-‫ ب‬keluar dari kedua bibir yang dirapatkan seperti biasa,
meski tanpa masuk ke bibir.
3. Nad dengan bibir mengerucut.
e. Rongga hidung Nada yang keluar dari hidung disebut ghunnah atau
gema. Gunnah sendiri ada di tujuh tempat, yaitu di idghom bi
ghunnah, iqlab, ikhfa', ikhfa' syafawi. Idhom mitslain , huruf ‫ن‬atau
‫م‬tasyid baik saat berwudhu (lanjutan) atau waqaf (kiri) maupun di
akhir lafazh irkam maana (Selamat pagi teman-teman) (Assingkily,
M. S. (2019)
2. Makhrojul Khuruf

Makhraj ditinjau dari morfologi, berasal dari fi‟il madhi:


khoroja yang artinya keluar. Lalu dijadikan ber-wazan maf’ul yang
bersighat isim makan, maka menjadi makhrojun Bentuk jamaknya
adalah makhoorijun Karena itu, makharijul huruf (makhorijul
huruuf) yang diindonesiakan menjadi makhraj huruf, artinya:
tempat-tempat keluarnya huruf. Sejalan dengan pendapatnya
shulhan hasan dalam bukunya mutiara tajwid, makhroj adalah letak
jalan keluarnya suara suatu huruf.

Secara bahasa, makhraj adalah; maudhi’ul huruuf (tempat


keluar), sedangkan menurut istilah, makhraj adalah: “Suatu nama
tempat, yang pada tempat tersebut huruf dibentuk atau
diucapkan”.Menurut muchotob, makhraj ialah tempat keluarnya
huruf dari organ-organ alat bicara. Makhraj itu berbeda-beda antara
satu huruf dengan yang lain. Sementara menurut Acep Lim
Abdurrohim, makhraj secara istilah adalah suatu nama tempat yang
padanya huruf dibentuk (atau diucapkan).
17

3. Sifat-sifat huruf

Tujuan mempelajari sifat-sifat huruf adalah agar huruf yang


keluar dari mulut kita semakin sesuai dengan keaslian huruf- huruf
Al Qur’an itu sendiri. Huruf yang sudah tepat makhrajnya belum
dapat dipastikan kebenarannya sampai sesuai dengan sifat aslinya.
Ketika seseorang mensukunkan huruf pada suatu lafadz, boleh jadi
lidahnya sudah tepat pada posisinya, namun belum dikatakan benar
hingga ia mengucapkannya sesuai dengan sifatnya.
Contoh pengucapan lafadz masjid baru sesuai dengan
sifatnya apabila huruf Dal sudah diqalqalahkan. Sifat-sifat huruf
dalam Al-Qur’an terbagi menjadi dua, yaitu: Sifat yang memiliki
lawan kata, sifat yang tidak memiliki lawan kata Azis, N. (2017).
Dari uraian sifat-sifat di atas, dapat terlihat bahwa setiap
huruf hijaiyyah memiliki sifat huruf yang tidak kurang dari 5 sifat,
dan tidak lebih dari 7 sifat.
4. Tajwid

Tajwid berasal dari jawwada- yujawwidu-tajwiidan. Tajwid


merupakan bentuk masdar, dari fi’il madhi “jawwada” yang berarti
membaguskan, menyempurnakan , memantapkan. Tajwid menurut
bahasa adalah Al ityaanu biljayyidi yang berarti memberikan
dengan baik.
Pengertian tajwid adalah memperbaiki bacaan Qur’an
terhadap lafadz serta mengeluarkan hurufnya memberikan hak
huruf sesuai dengan sifatnya. Al-Qur’an merupakan firman Allah
yang agung, yang dijadikan pedoman hidup oleh seluruh kaum
Muslimin. Membacanya bernilai ibadah dan mengamalkannya
merupakan kewajiban yang diperintahkan dalam agama. Seorang
muslim harus mampu membaca ayat-ayat Al-Qur’an dengan baik
sesuai dengan yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.
18

Sementara menurut istilah, muchotob berpendapat ilmu


tajwid adalah ilmu yang dapat memperjelas bacaan Al-Qur’an,
dalam pengertian mengucapkan huruf-hurufnya, tertib dan
memberikan hak huruf itu. Disamping itu mengembalikan huruf
dari tempat asalnya dan tempat keluarnya huruf-huruf itu. (Acim :
2022)
Sementara imam zarkasyi berpendapat bahwa ilmu tajwid
adalah pengetahuan tentang kaidah serta cara-cara membaca Al-
Qur’an dengan sebaik- baiknya. Pengertian lain, ilmu tajwid adalah
ilmu yang berguna untuk mengetahui bagaimana cara
memenuhkan/ memberikan hak huruf dan mustahaqnya. Baik yang
berkaitandengan sifat, mad dan sebagainya seperti tarqiq dan
tafkhim dan selain keduanya (Azis, N. 2017).
Hukum mempelajari ilmu tajwid sebagai disiplin ilmu adalah
fardhu kifayah atau merupakan kewajiban kolektif. Ini artinya,
mempelajari ilmu tajwid secara mendalam tidak diharuskan bagi
setiap orang, tetapi cukup diwakili beberapa orang saja. Namun,
jika dalam satu kaum tidak ada seorang pun yang mempelajari ilmu
tajwid, berdosalah kaum itu. Adapun hukum membaca Al-Qur’an
dengan memakai aturan-aturan tajwid adalah fardu ‘ain atau
merupakan kewajiban pribadi.
Membaca Al-Qur’an sebagai sebuah ibadah haruslah
dilaksanakan sesuai ketentuan. Ketentuan itulah yang terangkum
dalam ilmu tajwid. Dengan demikian memakai ilmu tajwid dalam
membaca Al- Qur‟an hukumnya wajib bagi setiap orang, tidak bisa
diwakili oleh orang lain. Apabila seseorang membaca Al- Qur‟an
dengan tidak memakai tajwid, hukumnya berdosa.
Berdasarkan pengertian diatas, ruang lingkup ilmu tajwid
adalah :
1) Haqqul Harf yaitu segala sesuatu yang wajib ada (‘azimah)
pada setiap huruf. Hak huruf meliputi (shifatul hurf) dan
19

tempat-tempat keluarnya huruf (makharijul hurf). Apabila


haq huruf ditiadakan, maka semua suara yang dikeluarkan
tidak mungkin mengandung makna karena bunyinya menjadi
tidak jelas.
2) Mustahaqqul harf yaitu hukum-hukum baru (‘aridiah) yang
timbul oleh sebab-sebab tertentu setelah haq-haq huruf
melekat pada setiap huruf. Hukum-hukum ini berguna untuk
menjaga haq-haq huruf tersebut, makna-makna yang
terkandung di dalamnya serta makna-makna yang
dikehendaki oleh setiap rangkaian huruf (lafadz).
Mustahaqqul huruf meliputi hokum -hukum seperti idzhar,
ikhfa’, iqlab, idghom, qolqolah, tafhim, tarqiq, mad, waqof,
dan lain-lain
1) Izhar
Idzhar artinya jelas, artinya jika ada surat Nun meninggal
atau Tanwin bertemu surat Idzhar harus dibaca dengan
[Link] Adalah ‫خ‬- ‫ح‬- ‫ع‬- ‫غ‬- ‫ه‬- ‫ء‬
2) Idgham dan Gunnah
Idgham artinya masuk, bi Ghunnah artinya
bersenandung. Cara membaca Idgham bi Ghunnah
adalah dengan membubuhkan bunyi Nun mati atau
Tanwin pada huruf Idgham bi Ghunnah yang ada di
depannya sehingga menjadi satu kata, seperti sebuah
huruf. Pada saat idgham, suara harus diucapkan dengan
huruf Idgham bi Ghunnah yang berada di depan
biarawati atau Tanwin yang sudah meninggal, kemudian
dibunyikan kurang lebih dua ketukan. Hurufnya Adalah
‫م – ن – ي‬- ‫و‬
3) Idgham adalah Ghunnah
Bila ghunnah berarti tidak berdengung. Jika Nun
meninggal atau Tanwin bertemu dengan huruf Ghunnah
20

(Lam, Ro) maka bacalah dengan memasukkan


keseluruhan tanpa dengung. Saat membaca suara harus
di tasydid sambil menahan sesaat. Hurufnya Adalah - ‫ر‬
‫ل‬
4) Ikhfa Ikhfa artinya tersembunyi/misterius, artinya bunyi
tersembunyi dari huruf Nun meninggal atau Tanwin
bertemu dengan huruf Ikhfa. Semua bacaan dengan Ikhfa
adalah dua suku kata. Hurup nya adalah – ‫ط –د –س –ق‬
‫ظ –ض –ت –ف –ز‬. -‫)– ش –ج – ك –ث –ذ –ص‬
5) Qalqalah
Qalqalah dibaca dari memantul karena ditandai dengan
sukun atau karena diwakafkan. Abjad Qolqolah juga
mudah diingat pada kalimat “Baju di thoqo”. Hurufnya
adalah ‫ب‬- ‫ج‬- ‫د‬- ‫ط‬- ‫ق‬
6) Iqlab
Iqlab bila Nun meninggal atau Tanwin mengikuti huruf "
‫" ب‬maka dibaca " ‫" م‬dengan dengung. Semua bacaan
yang berisi Iqlab dibaca dengan dua suara. Surat-surat itu
adalah: b
7) Gila
Gila berarti memperpanjang bunyi huruf. Dalam
pelajaran tajwid, ada dua huruf Mad, yaitu Mad
Ashli/tabi'i dan Mad far'i. Ashli yang artinya penguasa
dan Far'i yang artinya cabang (Azis, N. 2017).
d. Kelebihan dan kekurangan Metode Tahsin Al-Qur'an
1. Kelebihhan metode Tahsin
Dalam menggunakan model di dalam kelas terdapat
kelebihan dan kekurangan. Adapun kelebihan dan kekurangan
penggunaan metode tahsin dalam meningkatkan kemampuan
membaca Al-Qur’an dapat dijelaskan sebagai berikut :
Kelebihan metode tahsin dapat dijelaskan sebagai berikut:
21

1. Lebih lengkap jika dibandingkan dengan yang lain, karena


dijelaskan secara lengkap dengan macoj dan fitur teks.
2. Ini memiliki tiga jilid yang lebih mudah dan lebih cepat
untuk membaca Alquran dengan benar.
3. Penelitian ini berkaitan dengan guru sehingga mudah untuk
membuktikannya.
4. Pada setiap jilit atur dengan baik dan berurutan agar lebih
mudah untuk level selanjutnya.
5. Guru tahsin harus memiliki sertifikat atau harus belajar
dengan guru tahsin juga
6. Penulisannya menggunakan Rosm Usmani sehingga akan
lebih mudah menemukan Al-Quran dari Arap jika memiliki
tulisan yang sama (Mujahidin. 2021)
2. Kekurangan Metode Tahsin

Kelemahan metode tahsin dapat dijelaskan sebagai berikut:


1. Metode tahsin masih asing di telinga masyarakat, karena
merupakan metode baru.
2. Tidak mudah untuk meningkatkan halaman berikutnya, jadi
Anda harus membayar peralatan dengan cepat.
3. Esai harus diedit untuk Rosm Usmani yang masih belum banyak
dikenal oleh mahasiswa.
4. Sulit untuk belajar tanpa guru. (Acim : 2022 )
e. Langkah-langkah Peneraan Metode Tahsin Al-Qur'an

Dalam pembelajaran Al Quran dengan metode tahsin dapat


digunakan beberapa langkah sebagai berikut:

a. Pribadi / Sorogan
Privat adalah memberikan informasi sebagaimana dapat
diajarkan, jadi privat adalah belajar mengajar yang dilakukan satu
per satu.
22

b. Klasik-Individu.
Kelas lebih luas daripada sorogan atau privat, karena klasikal
adalah belajar besar (bersama-sama) dalam suatu kelompok atau
kelas.
c. Kelas Mendengarkan Membaca (KBS).
Strategi pengajarannya menggunakan classroom reading
and listening, yaitu pengajaran dengan ide-ide di dalam kelas
yang kemudian dilanjutkan dengan self-teaching; tetapi
didengarkan oleh guru dan siswa lainnya; Pelajaran yang dimulai
dari titik terendah berlanjut ke siswa tingkat lanjut. Jadi kalau ada
siswa yang membaca yang lain menyimak; jadi jika salah dalam
membaca teman dan guru langsung menyalahkan nya.
Merujuk pada gagasan yang dikemukakan dengan ketiga
gagasan di atas, para ulama membaca Alquran menggunakan
metode ketiga, yaitu metode membaca dan menyimak klasikal
(KBS). Dengan menggunakan metode membaca klasikal, langkah
penelitian yang pertama peneliti menggunakan metode kelas
kemudian menitikberatkan pada metode privat atau personal.

B. Al-Qur’an
1. Pengertian Al-Qur’an
Secara etimologi (bahasa) Al-Qur’an berarti bacaan karena makna
tersebut diambil dari kata ‫ قراءة‬atau ‫ ن قرا‬, yaitu bentuk mashdar dari kata
‫قرأ‬. Sedangkan secara terminologi Al-Qur’an sudah banyak diberikan
pengertian oleh para mufassir. Ali Ash-Shobuni menyatakan bahwa
AlQur’an adalah firman Allah yang mu’jiz, diturunkan kepada Nabi
Muhammad melalui malaikat Jibril yang ditulis dalam mushaf, diriwayatkan
secara mutawatir, menjadi ibadah bagi yang membacanya, diawali dari surah
23

Al-Fatihah dan diakhiri dengan surah An Nas. Sementara Al-Farmawi


mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah cahaya yang diturunkan Allah melalui
Malaikat Jibril Al-Amin kepada hati Nabi Saw. sebagai undang-undang
yang adil, syari’at yang abadi, pelita yang terang, dan petunjuk bagi kita
Oleh karena itu Alquran harus dibaca dengan benar sesuai sesuai
dengan makhraj dan sifat-sifat hurufnya, juga dipahami, diamalkan dalam
kehidupan sehari-hari dengan tujuan apa yang dialami masyarakat untuk
menghidupkan Alquran baik secara teks, lisan ataupun budaya.
Menurut M. Quraish Shihab, Alquran secara harfiyah berarti bacaan
yang sempurna. Ia merupakan suatu nama pilihan Allah yang tepat, karena
tiada suatu bacaanpun sejak manusia mengenal tulis baca lima ribu tahun
yang lalu yang dapat menandingi Alquran, bacaan sempurna lagi mulia.
Dan juga Alquran mempunyai arti menumpulkan dan menghimpun
qira’ah berarti menghimpun huruf-huruf dan katakata satu dengan yang lain
dalam suatu ucapan yang tersusun rapih. Quran pada mulanya seperti
qira’ah, yaitu mashdar dari kata qara’a, qira’atan, qur’an.
Alquran menurut istilah adalah firman Allah SWT. Yang disampaikan
oleh Malaikat Jibril dengan redaksi langsung dari Allah SWT. Kepada Nabi
Muhammad SAW, dan yang diterima oleh umat Islam dari generasi ke
generasi tanpa ada perubahan.
Menurut Andi Rosa, Al-quran nmerupakan qodim pada makna-makna
yang bersifat doktrin dan makna universalnya saja,juga tetap menilai qodim
pada lafalnya. Dengan demikian Alquran dinyatakan bahwasannya bersifat
kalam nafsi berada di Baitul Izzah (al-sama’ al-duniya), dan itu semuanya
bermuatan makna muhkamat yang menjadi rujukan atau tempat kembalinya
ayat-ayat mutasyabihat, sedangkan Alquran diturunkan ke bumi dan
diterima oleh Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi terakhir, merupakan
kalam lafdzi yang bermuatan kalam nafsi, karena tidak mengandung ayat
mutasyabihat, tetapi juga ayat atau makna-maknanya bersifat muhkamat.
Berdasarkan definisi diatas, maka setidaknya ada lima faktor
penting yang menjadi faktor karakteristik Al-quran,yaitu:
24

a. Al-quran adalah firman atau kalam Allah SWT, bukan perkataan


Malaikat Jibril (dia hanya penyampai wahyu dari Allah), bukan
sabda Nabi Muhammad SAW. (beliauhan yang penerima wahyu
Alquran dari Allah), dan bukan perkataan manusia biasa, mereka
hanya berkewajiban [Link]-quran hanya diberikan
kepada Nabi Muhammad SAW. Tidak diberikan kepada Nabi-nabi
sebelumnya. Kitab suci yang diberikan kepada para nabi sebelumnya
bukan bernama Alquran tapi memiliki nama lain; Zabur adalah nama
kitab yang diberikan kepada Nab iDaud,Taurat diberikankepada
Nabi Musa, dan Injil adalah kitab yang diberikan kepada NabiIsa as.
b. Al-quran adalah mukjizat, maka dalam sepanjang sejarah
umatmanusia sejak awal turunnya sampai sekarang dan mendatang
tidak seorang pun yang mampu menandingi Al-quran, baik secara
individual maupun kolektif, sekalipun mereka ahli sastra bahasa dan
sependek-pendeknya surat atau ayat.
c. Diriwayatkan secara mutawatir artinya Alquran diterima dan
diriwayatkan oleh banyak orang yang secara logika mereka mustahil
untuk berdusta, periwayatan itu dilakukan dari masa ke masa secara
berturut-turut sampai kepada kita.
d. Membaca Al-quran dicatat sebagai amal ibadah. Diantara sekian
banyak bacaan, hanya membaca Alquran saja yang dianggap ibadah,
sekalipun membaca tidak tahu maknanya, apalagi jika mengetahui
makna ayat atau surat yang dibaca dan mampu mengamalkannya.
Adapun bacaam-bacaan lain tidak dinilai ibadah kecuali disertai niat
yang baik seperti mencari Ilmu. Jadi, pahala yang diperoleh
pembaca selain A-lquran adalah pahala mencari Ilmu, bukan
substansi bacaan sebagaimana dalam Alquran.

C. Studi Relevan
Dalam penelitian ini, penulis mengambil rujukan dari hasil penelitian
sebelumnya. Hasil-hasil penelitian terdahulu memuat hasil yang ada kaitannya
25

dengan penelitian yang penulis lakukan. Di antara penelitian yang ada


kaitannya dengan penelitian yang penulis lakukan adalah:
1. Penelitian Ahmad Abidin, (2019), berjudul “Implementasi Metode Tahsin
Dalam Meningkatkan Kemampuan Membaca Al-Qur’an studi Kasus Di
MTS Islam Terpadu Nurul Islam Tengaran Kabupaten semarang Tahun
Pelajaran”. Hasil dari penelitian tersebut dapat diketahui
a. Kemampuan dalam membaca al-Qur’an mengalami peningkatan dan
perkembangan selama menggunakan metode Talaqqi. Model
pembelajaran Talaqqi yaitu dengan caraklasikal (satu kelas membaca
bersama-sama sesuai printah guru), klasikal baca simak (siswa
membaca berbeda-beda dari setiap halamannya sesuai petunjuk guru),
klasikal baca simak murni (satu siswa praktik siswa lain mendengarkan
dan yang lain menyimak yang dibaca) dan klasikal individual (siswa
satu persatu membaca dan siswa lainnya menyimak). Dalam proses
pembelajaran, metode Talaqqi diajarkan melalui 7 tahapan.
b. faktor pendukungnya yaitu guru pengajar al-Qur’an yang sudah
mendapatkan sertifikasi guru sangat besar pengaruhnya terhadap
keberhasilan peserta didiknya. Rasio guru dan siswa seimbang dan
sarana prasarana pembelajaran memadai.
c. faktor penghambat yaitu kemampuan siswa berbeda-beda kurangnya
tenaga pengajar dan rasio guru dengan siswa tidak seimbang.
Persamaan dengan peneliti yaitu sama-sama membahas Metode
Talaqqi Dalam Pembelajaran Al-Qur’an dan Perbedaan dengan peneliti
yaitu implementasi Metode Tahsin Dalam Pembelajaran Al-Qur’an untuk
Meningkatkan Kemampuan Membaca Al-Qur’an sedangkan dalam
penelitian saya jadikan acuan untuk Meningkatkan kemampuan hafalan Al-
Qur’an.
2. Skripsi Anisatun Imamah, (2019), yang berjudul “Penggunaan Metode
Yadain dalam Menghafal Al-Qur’an di Pondok Pesantren Miftahul Huda
Siwatu Bumiroso Kecamatan Watumalang Kabupaten Wonosobo”.
Penelitian tersebut membahas tentang metode Yadain yang merupakan
26

metode dengan menghafal dan mengetahui bunyi ayat Al-Qur’an, terjemah,


nama surat, nomor surat, nomor ayat, nomor halaman, letak kanan kiri,
indeks tematik, dan letak juz dengan menggunakan visualisasi imajinasi dua
tangan. Metode ini memang begitu detail. Persamaannya dengan penelitian
yang peneliti lakukan adalah sama-sama meneliti tentang implementasi
suatu metode dalam pembelajaran Tahfidzul Qur’an. Perbedaannya peneliti
menggunakan metode Talaqqi bukan menggunakan metode Yadain.
3. Penelitian Lusi Kurnia Wijayanti, (2020), berjudul “Penerapan Metode
Tahsin Dalam Pembelajaran Al-Qur’an Untuk Meningkatkan Kemampuan
Membaca Al-Qur’an di Lembaga Majlis Qur’an (MQ) Madiun”. Hasil yang
diperoleh adalah kemampuan membaca Al-Qur’an siswa dewasa selama
menggunakan Metode Talaqqi mengalami peningkatan yang baik.
Persamaan dengan peneliti yaitu sama-sama membahas Penerapan
Metode Talaqqi dalam Pembelajaran Al-Qur’an dan Perbedaan dengan
peneliti yaitu untuk Meningkatkan Kemampuan Membaca Al-Qur’an
sedangkan dalam penelitian saya jadikan acuan untuk Meningkatkan
kemampuan hafalan Al-Qur’an.

Anda mungkin juga menyukai