0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan27 halaman

Hukum dan Adab Hutang Piutang dalam Islam

Dokumen ini membahas tentang hutang piutang, gadai, dan hiwalah dalam konteks hukum Islam, termasuk definisi, dasar hukum, rukun, syarat, dan ketentuan masing-masing. Hutang piutang diatur dengan prinsip tolong-menolong, sedangkan gadai berfungsi sebagai jaminan untuk pelunasan utang. Hiwalah adalah pemindahan hak untuk menuntut pembayaran utang dari satu pihak ke pihak lain, dengan ketentuan dan syarat tertentu.

Diunggah oleh

yusrinajannah10
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan27 halaman

Hukum dan Adab Hutang Piutang dalam Islam

Dokumen ini membahas tentang hutang piutang, gadai, dan hiwalah dalam konteks hukum Islam, termasuk definisi, dasar hukum, rukun, syarat, dan ketentuan masing-masing. Hutang piutang diatur dengan prinsip tolong-menolong, sedangkan gadai berfungsi sebagai jaminan untuk pelunasan utang. Hiwalah adalah pemindahan hak untuk menuntut pembayaran utang dari satu pihak ke pihak lain, dengan ketentuan dan syarat tertentu.

Diunggah oleh

yusrinajannah10
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Hutang piutang, gadai, Hiwalah,

ijarah dan upah

Yusrina Yulida Jannah


PENGERTIAN HUTANG PIUTANG
Hutang piutang atau qard mempunyai istilah lain yang disebut dengan “dain” (‫)دين‬. Istilah “dain” (‫ )دين‬ini
juga sangat terkait dengan istilah “qard” (‫ )قرض‬yang menurut bahasa artinya memutus. Menurut
terminologi Fikih, bahwa akad hutang piutang adalah memberikan sesuatu kepada seseorang dengan
perjanjian bahwa dia akan mengembalikan sesuatu yang diterimanya dalam jumlah yang sama dan
dalam jangka waktu yang disepakati. (2)

DASAR HUKUM HUTANG PIUTANG


Hadis ini menjelaskan bahwa orang yang berpiutang (muqrid) akan diberi pahala yang berlipat
ganda dimana dalam dua kali menghutangi seperti pahala sedekah satu kali. (1)

Hukum hutang piutang


Hukum orang yang berhutang adalah mubah (boleh) sedangkan orang yang memberikan hutang
hukumnya sunnah sebab ia termasuk orang yang menolong sesamanya.
Hukum orang yang berhutang menjadi wajib dan hukum orang yang menghutangi juga wajib, jika
peminjam itu benar-benar dalam keadaan terdesak, misalnya hutang beras bagi orang yang
kelaparan, hutang uang untuk biaya pengobatan dan lain sebagainya.
Hukum memberi hutang bisa menjadi haram, jika terkait dengan hal-hal yang melanggar aturan
syariat. Misalnya memberi hutang untuk membeli minuman keras, berjudi dan sebagainya. (1)
Rukun dan Syarat Hutang Piutang
A. Dua orang yang berakad (pemberi hutang dan orang yang berhutang),
1) Syarat pemberi hutang antara lain ahli tabarru’ (orang yang berbuat kebaikan) yakni
merdeka, baligh, berakal sehat, dan rasyid (pandai serta dapat membedakan yang baik
dan yang buruk).
2) Syarat orang yang berhutang. Orang yang berhutang termasuk kategori orang yang
mempunyai ahliyah al-muamalah (kelayakan melakukan transaksi) yakni merdeka, baligh
dan berakal sehat.
B. Harta yang dihutangkan
1) Harta yang dihutangkan berupa harta yang ada padanannya, seperti uang, barang-
barang yang ditakar, ditimbang atau dihitung.
2) Harta yang dihutangkan diketahui kadar dan sifatnya.
[Link] ijab kabul
Ucapan antara dua pihak yang memberi hutang dan orang yang berhutang. Ucapan ijab
misalnya “Saya menghutangimu atau memberimu hutang” dan ucapan kabul misalnya
“Saya menerima” atau “ saya ridha “ dan sebagainya. (1)
ketentuan Hutang piutang
memnjami orang duit adalah sifat ta’awun (tolong menolong) tetapi Untuk menghindari
perselisihan yang tidak diinginkan, maka kedua belah pihak perlu memperhatikan hal-hal sebagai
berikut:
Hutang piutang sangat dianjurkan untuk ditulis dan dipersaksikan walaupun tidak wajib.
Pemberi hutang tidak boleh mengambil keuntungan atau manfaat dari orang yang berhutang.
Jika hal ini terjadi, maka termasuk kategori riba dan haram hukumnya.
Melunasi hutang dengan cara yang baik dan tidak menyakitkan.
Berhutang dengan niat baik dan akan melunasinya
Tidak berhutang kecuali dalam keadaan darurat atau mendesak. Maksudnya kondisi yang tidak
mungkin lagi baginya mencari jalan selain berhutang
Jika terjadi keterlambatan karena kesulitan keuangan, hendaklah orang yang berhutang
memberitahukan kepada orang yang memberikan hutang, karena hal ini termasuk bagian dari
menunaikan hak orang yang memberikan hutang.
Segera melunasi hutang
Memberikan tenggang waktu kepada orang yang sedang kesulitan dalam melunasi hutangnya
setelah jatuh tempo (1)
tambahan dalam Hutang piutang
1. Penambah yang di syaratkan
Aku memberi hutang kepadamu dengan syarat kamu memberi hak kepadaku untuk memakai
sepatumu atau menggunakan motormu.” atau manfaat lainnya karena yang demikian termasuk
rekayasa dan menjadi riba.
2. penambah yang tidak di syaratkan
memberi tambahan melebihi hutangnya sebagai wujud balas budi ataupun terima kasih hukumnya
BOLEH (1)

Adab hutang piutang


Orang yang berutang harus meluruskan niat dan tujuannya dalam berutang
Tidak berutang kecuali dalam kondisi darurat.
Berniat melunasi utangnya.
Berutang sesuai kebutuhan. (berhutang hanya untuk kebutuhan mendesak saja)
Wajib membayar utang tepat waktu dan tidak menundanya.
Orang yang berutang harus mencari jalan keluar untuk melunasi utangnya.
Mendoakan kebaikan untuk orang yang meminjamkan sesuatu kepada kita dan berterima kasih kepadanya.
Mencatat hutang piutang. (3)
Hikmah hutang piutang
Hikmah yang Berpiutang
1)Menambah rasa syukur kepada Allah Swt. atas karunia-Nya berupa kelapangan rezeki.
2) Memupuk sikap peduli dan empati terhadap orang yang membutuhkan.
3) Menumbuhkan rasa solidaritas terhadap sesama manusia.
4) Mempererat tali silaturahim dan persaudaraan.
5) Menambah pahala karena sebagai ladang untuk ibadah.

Hikmah yang berhutang


1) Menguji kesabaran dan keimanan.
2) Kesulitan hidup menjadi berkurang.
3) Beban hidup menjadi lebih ringan.
4) Dapat membantu terpenuhi kebutuhan hidupnya.
5) Bisa membuka lapangan usaha dengan modal uang hasil berhutang.

Pengertian gadai
Dalam bahasa Arab, gadai adalah ar-Rahn. Rahn secara etimologis berarti Subut (tetap)
dan Dawam (terus menerus). Adapun definisi Rahn secara terminologi adalah menjaga harta
benda sebagai jaminan hutang agar hutang itu dilunasi (dikembalikan) atau dibayarkan
harganya jika tidak dapat mengembalikannya atau jika dia berhalangan untuk melunasinya.
Dasar hukum gadai
A. Al-qur’an
Artinya: “Jika kamu dalam perjalanan (dan bermu’amalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak
memperoleh seorang penulis, Maka hendaklah ada barang tanggungan (borg) yang dipegang (oleh yang
berpiutang), akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, maka hendaklah yang
dipercayai itu menunaikan amanatnya (hutangnya) dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya; dan
janganlah kamu (para saksi) menyembunyikan persaksian. dan barangsiapa yang menyembunyikannya,
Maka Sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya; dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu
kerjakan.” (QS. Al-Baqarah [2]: 283).

B. Hadist
Artinya: Aisyah Ra. berkata: “Rasulullah Saw. pernah membeli makanan dari orang Yahudi dengan
tempo (kredit) dan beliau menggadaikan kepadanya baju besi.” (HR. Al-Bukhari).

rukun dan syarat Gadai


Rukun dan Syarat Gadai Rukun adalah unsur-unsur yang wajib ada dalam setiap transaksi/akad.
Jika ada salah satu unsur tidak ada, maka akad itu menjadi fasad/rusak.
a. Rukun gadai ada empat, yaitu:
1) Dua orang yang melakukan akad gadai (al-aqidan).
2) Barang yang digadaikan/diagunkan (al-marhun).
3) Hutang (al-marhun bih).
4) Shighat ijab dan Kabul.
syarat gadai
Disyaratkan dalam transaksi gadai hal-hal sebagai berikut:
1) Syarat dua pihak yang berakad, yaitu baligh, berakal dan rusyd (memiliki kemampuan mengatur dan
mampu membedakan antara baik dan buruk).
2) Syarat barang gadai (al-Marhun) ada tiga:
a) Barang gadai itu berupa barang berharga yang dapat menutupi hutangnya, baik barang atau nilainya ketika
penggadai tidak mampu melunasinya.
b) Barang gadai tersebut adalah milik orang yang menggadaikan atau yang diziinkan baginya untuk
menjadikannya sebagai jaminan gadai.
c) Barang gadai tersebut harus diketahui ukuran, jenis dan sifatnya, karena gadai adalah transaksi atas harta
sehingga hal ini disyaratkan. (1)

Ketentuan Gadai
Barang yang dapat digadaikan adalah barang yang memiliki nilai ekonomi, agar dapat menjadi jaminan
bagi pemilik uang.
Barang Gadai adalah amanah. Barang gadai bukanlah sesuatu yang harus ada dalam hutang piutang, itu
hanya diadakan dengan kesepakatan kedua belah pihak.
Barang Gadai dipegang pemberi hutang Barang gadai tersebut berada di tangan pemberi hutang selama
masa perjanjian gadai
Pemanfaatan barang gadai
Pihak pemberi hutang tidak dibenarkan untuk memanfaatkan barang gadai. Sebab,
sebelum dan setelah digadaikan, barang gadai adalah milik orang yang berhutang, sehingga
pemanfaatannya menjadi milik pihak yang berhutang sepenuhnya. Adapun pemberi hutang,
maka ia hanya berhak untuk menahan barang tersebut, sebagai jaminan atas uangnya yang
dipinjam sebagai hutang oleh pemilik barang.

Biaya Perawatan barang gadai


Jika barang gadai butuh biaya perawatan misalnya hewan ternak seperti sapi, kerbau,
kambing ataupun kuda maka:
a. Jika barang itu dibiayai oleh pemiliknya maka pemilik uang tetap tidak boleh menggunakan
barang gadai tersebut.
b. Jika dibiayai oleh pemilik uang maka dia boleh menggunakan barang tersebut sesuai
dengan biaya yang telah dia keluarkan dan tidak boleh lebih.
Pelunasan hutang dengan gadai
Apabila pelunasan hutang telah jatuh tempo atau sesuai dengan waktu yang disepakati
kedua belah pihak, maka orang yang berhutang berkewajiban melunasi hutangnya kepada
pemberi hutang. Bila telah lunas, maka barang gadai wajib dikembalikan kepada pemiliknya.
Namun, bila orang yang berhutang tidak mampu melunasi hutangnya, maka pemberi hutang
berhak menjual barang gadai itu untuk menutup hutang tersebut. Apabila ada sisa dari
penjualan dari barang tersebut maka sisa uang tersebut menjadi hak pemilik barang gadai.
Sebaliknya, bila hasil penjualan barang tersebut belum dapat melunasi utangnya, maka orang
yang menggadaikannya tersebut masih menanggung sisa hutangnya.

Hikmah gadai
Hikmah disyariatkan gadai disamping dapat memberikan manfaat atas barang yang
digadaikan juga dapat memberikan keamanan bagi rahin (orang yang menggadaikan) dan
murtahin (penerima gadai), bahwa dananya tidak akan hilang. Karena jika rahin (penggadai)
ingkar janji dalam pembayaran hutang, maka masih ada barang/aset yang dipegang oleh
murtahin.
Pengertian Hiwalah
Hiwalah secara bahasa artinya pindah. Menurut syara’ adalah memindahkan hak dari
tanggungan muhil (orang yang berhutang) kepada muhal alaih (yang menerima hiwalah).
Hiwalah juga bisa diartikan pemindahan atau pengalihan hak untuk menuntut pembayaran
hutang dari satu pihak ke pihak yang lain.

Dasar Hukum Hiwalah


Asal di syariatkan hiwalah, sebagaimna hadist yang diriwayatkan oleh bukhari dan
muslim dari abu hurairah : sesungguhnya rasulullah SAW. bersabda (artinya) :
”Orang yang mampu membayar haram atas melalaikan hutangnya. Apabila salah
seorang diantara kamu memindahkan hutangnya kepada orang lain, hendaklah diterima
pilihan itu, asal yang lain itu mampu membayar”. (HR. Ahmad dan Baihaqi.)

2. Ijma’ Ulama sepakat membolehkan hiwalah.


Hiwalah di bolehkan pada utang yang tidak berbentuk barang/benda karena hiwalah
adalah perpindahan muhil yaitu: orang yang menghawalahkan utang. Oleh sebab itu,
harus pada uang atau kewajiban financial.(4)
Rukun Hiwalah

Rukun hiwalah ada lima, yaitu:


1. Muhil (orang yang berhutang), pihak pertama.
2. Muhal (orang yang berpiutang/ pemberi pinjaman), pihak kedua.
3. Muhal alaih (orang yang menerima hiwalah), pihak ketiga.
4. Muhal bih (hutang).
5. Sighat ijab kabul (ijab dari muhil dan kabul dari muhal).(4)
Syarat Hiwalah
a. Muhil (pihak pertama)
1) Baligh dan berakal.
2) Ridha (tidak dipaksa). Jika muhil dipaksa untuk melakukan hiwalah maka tidak sah.

b. Muhal (pihak kedua)


1) Baligh dan berakal.
2) Ada persetujuan dari muhal terhadap muhil yang melakukan hiwalah.

c. Muhal alaih (Pihak ketiga)


1) Baligh dan berakal.
2) Ada persetujuan (ridha) dari muhal alaih.

d. Hutang yang dialihkan


1) Sesuatu yang dialihkan itu adalah sesutu yang sudah dalam bentuk hutang piutang
yang pasti.
2) Hutang muhil kepada muhal maupun muhal alaih sama dalam jumlah dan kualitasnya
(hiwalah al-Muqayyadah). Mazhab Syafi’i juga menambahkan bahwa kedua hutang itu
harus sama pada waktu jatuh temponya, jika tidak sama maka tidak sah akad hiwalah.
(4)
Konsekuensi hiwalah

Konsekuensi Hiwalah
a. Kewajiban muhil kepada muhal untuk membayar hutang dengan sendirinya menjadi
terlepas (bebas).
b. Adanya hak muhal untuk menuntut pembayaran hutang kepada muhal alaih. (1)
Jenis hiwalah

A. Ditinjau dari segi objek akad, hiwalah dibagi menjadi dua jenis yaitu:
1) Hiwalah al-Haq yaitu apabila yang dipindahkan itu hak menuntut hutang (pemindahan
hak).
2) Hiwalah ad-Dain, yaitu apabila yang dipindahkan itu kewajiban untuk membayar hutang
(pemindahan hutang/kewajiban)

B. Ditinjau dari segi akad, hiwalah dibagi menjadi dua jenis:


1) Hiwalah al-Muqayyada (pemindahan bersyarat):
yaitu pengalihan sebagai ganti pembayaran hutang muhil (pihak pertama) kepada muhal
(pihak kedua). Contohnya A berpiutang kepada B Rp. 5.000,00 sedangkan B berpiutang
kepada C Rp. 5.000,00. B mengalihkan haknya untuk menuntut piutangnya yang berada pada
C kepada A sebagai ganti pembayaran hutang B kepada A. Dengan demikian hiwalah al-
muqayyadah pada satu sisi merupakan hiwalah al-haq karena mengalihkan hak menuntut
piutangnya dari C ke A (pemindahan hak). Sedangkan di sisi lain, hal ini merupakan hiwalah
ad-dain karena B mengalihkan kepada A menjadikan kewajiban C kepada A (pemindahan
hutang).
2) Hiwalah al-Muthlaqah (pemindahan mutlak):
yaitu pengalihan hutang yang tidak ditegaskan sebagai ganti rugi terhadap pembayaran
hutang muhil (pihak pertama) kepada muhal (pihak kedua). Contohnya A berhutang kepada
B sebesar 5 juta. Kemudian A mengalihkan hutangnya kepada C sehingga si C mempunyai
kewajiban membayar hutang A kepada B tanpa menyebutkan bahwa pemindahan itu sebagai
ganti rugi dari pembayaran C kepada A. Dengan demikian maka hiwalah al-muthlaqah hanya
mengadung hiwalah ad dain saja karena yang dipindahkan hanya hutang A kepada B
menjadi hutang C kepada B. (1)

Masa berakhirnya Hiwalah


Masa Berakhirnya Hiwalah Akad hiwalah dianggap berakhir jika:
a. Salah satu pihak membatalkan akad sebelum akad itu berlaku tetap. b. Muhal melunasi
hutang yang dialihkan kepada muhal alaih.
c. Jika muhal meninggal dunia, maka muhal alaih wajib membayarkan hutangnya.
d. Muhal membebaskan muhal alaih dari kewajiban hutang yang dialihkan. (1)
Hikmah Hiwalah

[Link] atas harta orang yang memberi hutang kepada orang lain di mana orang yang
berhutang tidak mampu membayar hutangnya, bukan berarti harta orang yang
berpiutang hilang begitu saja, namun bisa kembali lagi melalui perantara orang ketiga
(muhal alaih) yang akan menangggung dan membayarkan hutang itu.

2. Membantu kebutuhan orang lain, dimana muhil (orang yang berhutang) akan terbantu
oleh pihak ketiga (muhal alaih). Kemudian muhal (orang yang berpiutang) terbantu oleh
pihak ketiga yang menaggung pelunasan hutang tersebut.(1)
Pengertian Ijarah

Ijarah secara sederhana diartikan dengan ‘‘transaksi manfaat atau jasa dengan imbalan
tertentu’’. Bila yang menjadi objek transaksi adalah manfaat atau jasa dari suatu benda
disebut ijarat ala al-manafi’ atau sewa-menyewa, seperti sewa rumah untuk ditempati.
Bila yang menjadi objek transaksi adalah manfaat atau jasa dari tenaga seseorang,
disebut ijarat ala al-mal atau upah-mengupah seperti upah menjahit pakaian. Ijarah baik
dalam bentuk sewa menyewa maupun dalam bentuk upah merupakan muamalah yang
telah disyariatkan dalam islam. Hukum asalnya adalah mubah atau boleh bila dilakukan
dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Islam. (1)
Macam-Macam Ijarah

1. Ijarat ala al-manafi’ Yaitu ijarah yang objek akadnya adalah manfaat, seperti
menyewakan rumah untuk ditempati, mobil untuk dikendarai, baju untuk dipakai, dan
sebagainya.
2. Ijarat ala al-mal Yaitu ijarah yang objek akadnya jasa atau pekerjaan, seperti
membangun gedung atau menjahit pakaian. Oleh karena itu, pembahasannya terkait
pekerjaan karyawan. Ijarah menurut ulama Fikih hukumnya boleh (mubah) apabila jenis
pekerjaan itu jelas, seperti buruh bangunan, tukang jahit, buruh pabrik atau tukang sepatu.
Ijarah ada yang bersifat pribadi, seperti menggaji seorang untuk menjadi pembantu rumah
tangga dan yang ada pula yang bersifat serikat, yaitu perusahaan yang menggaji
karyawan yang bekerja di sana. Kedua bentuk ijarah dalam pekerjaan ini menurut ulama
Fikih hukumnya boleh. (1)
Dasar Hukum Ijarah Ala Al-manafi
Dasar hukum ijarat ala al-manafi’
A. Al-Quran
Artinya: " Tempatkanlah mereka (para isteri) di mana kamu bertempat tinggal menurut
kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati)
mereka. Dan jika mereka (isteri-isteri yang sudah ditalaq) itu sedang hamil, maka
berikanlah kepada mereka nafkahnya hingga mereka bersalin, kemudian jika mereka
menyusukan (anak-anak)mu untukmu maka berikanlah kepada mereka upahnya, dan
musyawarahkanlah di antara kamu (segala sesuatu) dengan baik dan jika kamu menemui
kesulitan maka perempuan lain boleh menyusukan (anak itu) untuknya.” (QS. At-Talaq [65]:
6).
B. Hadist
Artinya:”Sesungguhnya baginda Nabi Saw. melarang muzara’ah dan memerintahkan
muajjarah (akad sewa). Beliau bersabda, ‘Tidak apa-apa melakukan muajjarah.” (HR
Muslim). (1)
Rukun dan Syarat Ijarah Ala Al-manafi
1) Orang yang menyewakan (mu’jir) dan orang yang menyewa (musta’jir). Keduanya harus sudah baligh dan
berakal sehat dan mempunyai hak tasharruf (membelanjakan harta).
2) Barang yang disewakan (ain musta’jarah), syaratnya:
a. Manfaat harus mutaqawwamah (bernilai secara syariat), diketahui barangnya dan mampu diserahkan.
b. Manfaat dapat dirasakan oleh pihak penyewa
c. Barang yang disewakan milik orang yang menyewakan.
3)Nilai sewa (ujrah). Nilai sewa adalah sesuatu yang wajib diberikan oleh penyewa atas kompensasi dari
manfaat yang diperoleh di mana harga dan keadaanya jelas.
4) Ijab dan kabul (sighat). (1)

Masa Berlaku Ijarah Ala Al-manafi

Masa berlaku ijarat ala al-manafi’ Ijarah bisa berakhir atau batal karena beberapa hal sebagi berikut:
1) Rusaknya barang yang disewakan.
2) Barang yang disewakan tidak dapat dimanfaatkan, misalnya rumah yang disewakan roboh atau
kendaraan yang disewakan rusak.
Ijarat Ala-Mal
Dasar Hukum Ijarat Ala al-Mal Pemberian upah hukumnya mubah, tetapi bila hal itu menyangkut hak seseorang
sebagai mata pencaharian maka hukumnya wajib. Sebagaimana firman Allah Swt.:

Rukun dan Syarat ijarat Ala-Mal

1) Pemberi upah (mu’jir) dan pekerja (musta’jir), syaratnya:


a) Berakal sehat dan mumayyiz, namun tidak disyaratkan baligh. Maka tidak dibenarkan mempekerjakan orang
gila, anak-anak yang belum mumayiz.
b) Cakap dalam bertindak.
c) Ada kerelaan dari keduanya untuk melakukan akad ijarah. (1)
2) Pekerjaan yang akan dijadikan objek kerja harus memiliki manfaat yang jelas
3) Upah atau imbalan Yaitu uang dan sebagainya yang di bayarkan sebagai balas jasa atau pengganti
tenaga yang sudah dikeluarkan untuk mengerjakan sesuatu.
4) Shighat (ijab kabul) Shighat adalah ucapan yang dilontarkan oleh pihak majikan dan karyawan. (1)

Tata Cara membayar Upah


Tata cara membayar upah Secara umum, pemberian upah dilakukan ketika pekerjaan itu selesai. Sama
halnya dengan jual beli yang pembayarannya pada waktu itu juga. Terkait dengan upah, pembayarannya bisa
diberikan sebelum musta’jir (karyawan) bekerja atau setelah pekerjaan itu selesai. Hal itu tergantung
kesepakatan dari kedua belah pihak. Kesepakatan kerjasama ini bisa dituangkan dalam perjanjian kontrak
kerja yang ditandatangani oleh kedua belah pihak. Namun demikian, memberikan upah lebih dahulu adalah
lebih baik, dalam rangka membanguan asas kepercayaan antara mu’jir dan musta’jir. Apalagi jika musta’jir
sangat memerlukan uang untuk kebutuhan biaya makan keluarga dan dirinya sehari-hari (1)
Hikmah Membayar Upah

1) Membina ketentraman dan kebahagiaan: Dengan adanya ijarah akan mampu membina kerja sama
antara mu’jir dan mus’tajir sehingga dapat menciptakan kedamaian dihati mereka.
2) Memenuhi nafkah keluarga.: Salah satu kewajiban seorang muslim adalah memberikan nafkah
kepada keluarganya, yang meliputi istri, anak-anak dan tanggung jawab lainnya.
3) Memenuhi hajat hidup masyarakat. : Dengan adanya transaksi ijarah khususnya yang terkait dengan
jasa, maka akan mampu memenuhi hajat hidup masyarakat
4) Menolak kemungkaran. : Diantara hikmah ijarah adalah dapat menolak kemungkaran yang
kemungkinan besar akan dilakukan oleh orang yang tidak memiliki pekerjaan (menganggur). (1)
Daftar Pustaka

Ubaidillah, [Link]., [Link]. (2020). Fikih IX. Cetakan ke-1. Jakarta: Kementerian Agama Republik
Indonesia, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, Direktorat KSKK Madrasah. (1)

Nor rahman, Pengertian hutang piutang, Rukun dan Syarat : Universitas wira Buana (2)

Dede andriyana, (2020) Konsep uttang dlam syariat islam,Jurnal Alfatih vol,.2, no. 2, hal .59
(3)
Nor ridho rahmad, (2017)Implementasi Hiwalah Dalam Hukum Islam, (iaian Metro: prodi
perbankan syariah ) hal 4&7 (4)
Terima Kasih

Anda mungkin juga menyukai