LAPORAN PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK)
UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI PECAHAN
DENGAN MENGGUNAKAN METODE PEMBELAJARAN PROJECT BASED
LEARNING (PJBL) SISWA KELAS IV SD MUHAMMADIYAH 1 PEKAJANGAN
TAHUN PELAJARAN 2025/2026
( Penelitian Tindakan Kelas Mata Pelajaran Matematika di Kelas IV SD Muhammadiyah 1
Pekajangan, Kecamatan Kedungwuni, Kab. Pekalongan)
OLEH:
NUR MEGAYANI
858546339
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UPBJJ UNIVERSITAS TERBUKA
SEMARANG
TAHUN 2026
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pembelajaran merupakan suatu kegiatan yang dilakukan dengan tujuan
mengupayakan perubahan pola pikir yang mampu meningkatkan perkembangan multi
ranah berupa afektf, kognitif, dan psikomotorik pada individu. Pembelajaran menjadi
salah satu bagian yang erat kaitannya dengan pendidikan. Hamzah dan Muhlisrarini
(2014) mengungkapkan bahwa kemajuan suatu bangsa ditentukan dari bagaimana
perkembangan pendidikan bagi anak bangsa itu sendiri. Kemajuan dalam satuan waktu
jangka panjang akan dapat memprediksi kualitas bangsa pada sekian puluh tahun ke
depan. Akhir dari hasil pendidikan yang terencana menghasilkan buah di mana
masyarakatnya rata-rata berpendidikan tinggi. Masyarakat suatu negara yang maju akan
melahirkan kemajuan dalam berbagai bidang. Hal ini menunjukan keberadaan
pendidikan yang sangat penting.
Untuk memperoleh pendidikan yang maju, tinggi, dan berkembang perlunya
suatu perencanaan yang berhubungan dengan tujuan nasional pendidikan bagi bangsa
itu. Indonesia dalam Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 tahun 2003 menyatakan
bahwa tujuan pendidikan nasional adalah untuk mencetak generasi bangsa yang
beriman dan bertaqwa, berbudi luhur, cerdas, dan kreatif. Melihat hal tersebut, pada
kenyataannya pendidikan di Indonesia belum mampu merealisasikan suasana belajar
yang demokratis, kreatif, inovatif, dan mandiri. Penyebab utamanya yaitu pengajar atau
guru yang hanya menggunakan model pembelajaran konvensional secara turun temurun
tanpa ada inovasi lebih untuk menciptakan suasana belajar yang kreatif dan inovatif.
Hal ini ditemukan pada banyak situasi pembelajaran matematika.
Kendala yang terjadi di SD Muhammadiyah 1 Pekajangan khususnya kelas IV
salah satunya adalah karena kurangnya metode pembelajaran yang digunakan.
Penggunaan metode pembelajaran yang menarik dapat membangkitkan keinginan dan
hasil belajar siswa dalam mempelajari matematika. Salah satu alternatif untuk
memecahkan masalah yang sudah dipaparkan diatas yaitu dengan melaksanakan
pembelajaran melalui metode pembelajaran Project Based Learning (PJBL) yang
mampu membangun konsep dengan baik. Didalam metode pembelajaran Project
Based Learning dapat membantu siswa aktif dalam memecahkan masalah melalui
proyek, mulai dari perencanaan hingga presentasi akhir.
Materi yang diambil dalam penelitian ini adalah materi pecahan. Materi pecahan
dipilih karena materi ini sangat penting. Pecahan menjadi materi dasar dijenjang yang
lebih atas. Selain itu materi pecahan yang dijelaskan hanya menggunakan model
ceramah kurang efektif, sehingga digunakan metode pembelajaran Project Based
Learning (PJBL) untuk pembelajaran pecahan. Penjelasan dilengkapi dengan
pemecahan masalah melalui proyek dapat menambah pemahaman siswa terhadap
materi pecahan sehingga mempengaruhi hasil belajar matematika siswa.
Pembelajaran matematika menggunakan metode pembelajaran Project Based
Learning (PJBL) diharapkan dapat membuat peserta didik aktif secara individu, kreatif
mencari solusi dari suatu permasalahan yang dihadapi, memiliki sikap metematika dan
kepercayaan diri yang tinggi dalam pembelajaran matematika, karena pembelajaran
menggunakan metode pembelajaran Project Based Learning (PJBL) dapat
meningkatkan hasil belajar dan sikap terhadap matematika siswa.
Dengan penerapan pembelajaran Project Based Learning (PJBL) dapat
memudahkan siswa dalam mempraktikkan langsung sesuai sejauh mana pemahaman
siswa. Tinggi rendahnya minat belajar siswa juga berakibat pada baik buruknya hasil
belajar matematika siswa. Dengan demikian, melalui media gambar yang diterapkan
dapat menghasilkan hasil belajar matematika siswa SD Muhammadiyah 1 Pekajangan
lebih baik.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini
adalah:
1. Apakah hasil belajar matematika siswa yang diajar menggunkan metode Project
Based Learning (PJBL)dapat mencapai Kriteria Ketuntasan Tujuan Pembelajaran
(KKTP)?
2. Bagamaina metode Project Based Learning (PJBL) dapat meningkatkan hasil
belajar siswa?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah tersebut, tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini
yaitu:
1. Untuk mengetahui ketuntasan hasil belajar matematika siswa yang diajar melalui
metode Project Based Learning (PJBL).
2. Untuk mengetahui hasil belajar matematika siswa yang diajar melalui metode
Project Based Learning (PJBL).
D. Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini antara lain:
1. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai kajian dalam menelaah pengetahuan
dan mendukung teori-teori sebelumnya yang berhubungan dengan variabel-
variabel dalam penelitian ini yaitu pembelajaran menggunakan media gambar, dan
hasil belajar matematika.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Guru
Hasil penelitian ini dapat digunakan guru sebagai bahan pertimbangan,
perbaikan, dan penyempurnaan pembelajaran matematika di SD
Muhammadiyah 1 Pekajangan agar tercipta kegiatan pembelajaran
menggunakan media gambar yang efektif, menarik, dan bermakna bagi siswa.
b. Bagi Siswa
Melalui penelitian ini siswa dapat merasakan pembelajaran menggunakan
media gambar yang lebih bermakna.
c. Bagi Sekolah
Hasil penelitian ini dapat membantu meningkatkan mutu sekolah melalui
perbaikan proses pembelajaran pada mata pelajaran matematika.
E. Definisi Istilah
Agar tidak terjadi kesalahan dalam pemahaman judul ini, maka penulis akan
menjelaskan beberapa istilah sebagai berikut:
1. Hasil Belajar
Hasil belajar menurut Mustakim (2020) adalah segala sesuatu yang dicapai oleh
peserta didik dengan penilaian tertentu yang sudah ditetapkan oleh kurikulum
lembaga pendidikan sebelumnya. Hasil belajar meliputi kompetensi atau
kemampuan tertentu yang dicapai oleh siswa setelah mengikuti proses belajar
mengajar, baik dalam ranah kognitif, afektif, maupun psikomotorik
2. Media Gambar
Media gambar menurut Cecep Kusnandi dkk. (2013) adalah media yang
menyampaikan pesan melalui gambar yang menyangkut indera penglihatan.
3. Media Pembelajaran
Media pembelajaran Adalah alat yang digunakan oleh guru untuk
menyampaikan informasi dan pesan pembelajaran kepada siswa. Selama proses
pembelajaran matematika, media diharapkan dapat membantu guru dalam
meningkatkan pemahaman siswa tentang apa yang mereka pelajari. Oleh karena
itu, guru harus selalu memasukkan media kedalam proses pembelajaran agar
siswa dapat mencapai tujuan mereka. Pernyataan tersebut diatas sesuai dengan
pendapat Hamalik (2002:12), yang menyatakan bahwa media pembelajaran
Adalah alat, metode dan Teknik yang digunakan dalam rangka lebih
mengefektifkan komunikasi dan interaksi antara guru dan siswa dalam proses
pendidikan dan pengajaran disekolah.(Hasmawatietal.,2016)
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Tinjaun Pustaka
Penelitian yang dilakukan oleh Irmina Pinem, dkk (2024) berjudul
“Penggunaan Media Gambar Pembelajaran Konkrit Untuk Meningkatkan Aktifitas
Belajar Konsep Pecahan Untuk Siswa Kelas III SD N 060938 Medan Johor”.
Hasilnya menunjukkan bahwa Penerapan media pembelajaran konkrit pada mata
Pelajaran matematika materi pecahan dapat membantu siswa lebih aktif dalam
pembelajaran. Keaktifan siswa memberikan pengalaman belajar yang bermakna dan
konstruktifistik pada siswa. Sehingga siswa lebih mudah dan cepat dalam memahami
konsep pecahan dan operasi pecahan. Kesamaan dalam penelitian ini adalah sama
sama menggunakan media gambar. Adapun yang menjadi perbedaan dalam penelitian
ini adalah kemampuan yang hendak diukur.
Penelitian yang dilakukan Rizka Aprilia Andriani (2021) berjudul “Upaya
Meningkatkan Hasil Belajar Matematika melalui Media Visual sederhana pada Siswa
Kelas IV SD Negeri 158352 Sitardas 2 Kecamatan Badiri Kabupaten Tapanuli
Tengah”. Hasilnya penggunaan media visual sederhana dalam proses pembelajaran
matematika pada materi pecahan senilai dapat dilihat bahwa hasil belajar siswa
mengalami peningkatan setiap setiap siklusnya. Pada siklus I, siswa dinyatakan tuntas
terdiri dari 29 siswa atau 74.4% dari 39 siswa kelas IV-B. Namun, ketuntasan tersebut
belum memenuhi kriteria ketuntasan secara klasikal yaitu harus mencapau 85% atau
lebih. Kemudian pada siklus II, siswa yang tuntas terdiri dari 37 siswa atau 37% siswa
atau 94,9% dan presentase tersebut telah memenuhi kriteris ketuntasan yang
ditetapkan sehingga pelaksanaan siklus berhenti sampai siklus II . Hal tersebut
menunjukkan siswa semakin aktif dan responsif dalam belajar dengan bantuan media
visual. Kesamaan dalam penelitian ini adalah sama sama mengukur kemampuan hasil
belajar siswa. Adapun yang menjadi perbedaan dalam penelitian ini adalah media
pembelajarannya.
B. Landasan Teoritis
1. Pengertian Hasil Belajar
Hasil belajar merupakan perubahan tingkah laku yang mencakup pengetahuan,
keterampilan, dan sikap setelah seseorang mengikuti proses pembelajaran.
2. Materi Pecahan
Pecahan adalah bagian dari keseluruhan yang dibagi menjadi beberapa bagian
sama besar. Pecahan merupakan materi matematika yang membutuhkan
pemahaman konsep secara visual dan konkret.
3. Media Pembelajaran
Dalam Hamzah (2014:95) Kata media berasal dari kata medius yang berartii
tengah, perantara atau pengantar. Media merupakan suatu saluran untuk
komunikasi suatu perantara yang membawa informasi dari pengirim kepada
penerima informasi, informasi itu multimakna dilihat secara terbatas atau luas.
Menurut Boove dalam Sanaky (2011 : 2) media adalah sebuah alat yang
mempunyai fungsi menyampaikan pesan. Selanjutnya National Education
Association (NEA) dalam Sanaky (2011: 3) mengatakan bahwa media adalah
bentuk- bentuk komunikasi baik cetak maupun audio- visual serta peralatannya.
Pembelajaran adalah proses komunikasi antara pembelajar, pengajar, dan bahan
ajar (Sanaky, 2011:3). Dapat dikatakan bahwa bentuk komunikasi tidak akan
berjalan tanpa bantuan sarana untuk menyampaikan pesan. Media pembelajaran
adalah sebuah alat yang berfungsi dan digunakan untuk menyampaikan pesan
pembelajaran. Media pembelajaran memiliki beberapa fungsi, salah satunya
menurut Livie dan Lentz dalam Sanaky (2011:6) menyatakan empat fungsi media
pembelajaran yang khususnya pada media visual, yaitu fungsi atensi, fungsi
afektif, fungsi kognitif, dan fungsi kompensatoris.
Masing- masing fungsi tersebut, dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Fungsi atensi berarti media visual merupakan inti, menarik, dan mengarahkan
perhatian pembelajar unutk berkonsentrasi kepada isi pelajaran yang berkaitan
dengan makna visual yang ditampilkan atau menyertai teks materi
pembalajaran.
b. Fungsi afektif maksudnya, media visual dapat terlihat dari tingkat kenikamatan
pembelajar ketika belajar membaca reks bergambar. Gambar atau lambang
visual akan dapat menggugah emosi dan sikap pembelajaran
c. Fungsi kognitif bermakna media visual mengungkapkan bahwa lambang
visual memperlancar pencapaian tujuan untuk memahami dan mendengar
informasi atau pesan yang terkandung dalam gambar.
d. Fungsi kompensatoris artinya media visual memberikan konteks untuk
memahami teks membantu pembelajar yang lemah dalam membaca untuk
mengorganisasikan informasi dalam teks dan mengingatkannya kembali.
Dengan demikian, media pembelajaran adalah suatu perantara dengan berbagai
macam bentuknya, yang digunakan sebagai sarana komunikasi dalam proses
pembelajaran untuk menyalurkan pesan atau informasi kepada siswa. Media
pembelajaran juga digunakan untuk membantu siswa dalam memahami materi
serta mengingatkan kembali konsep yang telah dipelajari.
4. Media Gambar
a. Pengertian Media Gambar ( Adi Satrio. Kampus Populer Ilmiah, (Bahasa:
Visi7,2005), Cet, I, hlm.367 )
Kata media berasal dari Bahasa Latin, yakni medius yang secara
harfiahnya berarti „tengah‟, „pengantar‟, atau „perantara‟. Dalam bahasa
Arab, media disebut „wasath‟ bentuk jamak dari „wasilah‟ yakni sinonim
dari „al wasth‟ yang artinya „tengah‟. Kata „tengah‟ itu sendiri berada
diantara dua sisi, maka disebut juga sebagai „perantara‟ (wasilah) atau yang
mengantarai kedua sisi tersebut.
Didalam Kamus Ilmiah Populer Adi Satrio, “Media adalah sarana yang
dipergunakan oleh komunikator sebagai saluran untuk menyampaikan suatu
pesan kepada komunikan apabila komunikan jauh tempatnya atau banyak
jumlahnya atau kedua-duanya.
Gambar merupakan media visual yang penting dan mudah didapat.
Dikatakan penting sebab ia dapat menggantikan kata verbal, mengkonkritkan
yang abstrak, dan mengatasi pengamatan manusia. Gambar membuat orang
dapat menangkap ide atau informasi yang terkandung di dalamnya dengan
jelas.
Media gambar atau disebutjuga media visual yaitu media yang melibatkan
indera penglihatan. Menurut Rudi Susilana dan Cepi Riyana
dalam buku Media Pembelajaran Hakikat, Pengembangan, dan
Penilaian, “Media gambar diam adalah media visual yang berupa gambar yang
dihasilkan melalui proses fotgrafi. Jenis media adalah foto”.
b. Jenis Media Gambar
Menurut Yudhi Munadi “Gambar secara garis besar dapat dibagi kepada
tiga jenis, yakni sketsa, lukisan, dan photo”.1
1. Sketsa atau bisa disebut juga sebagai gambar (stick figure), yakni gambar
swderhana atau draf kasar yang melukiskan bagian-bagian pokok suatu
objek tanpa detail.
2. Lukisan merupkan gambar hasil refresentasi simbolis dan artistik
seseorang tentang suatu objek atau situasi.
3. Photo merupakan gambar hasil pemotretan atau photografi yang
menunjukkan bagaimna tampaknya suatu benda. Tidak ubahnya seperti
gambar, photo pun merupakan media visual yang efektif karena dapat
memvisualisasikan objek dengan lebih konkrit, lebih realistis dan lebih
akurat. Walaupun hanya menggunakan
5. Pembelajaran Matematika
Muhlisrarini dan Hamzah (2014 : 154) menyatakan bahwa pembelajaran
matematika adalah peserta didik belajar matematika dan pengajar
mentransformasi pengetahuan matematika serta menfasilitasi kegiatan
pembelajaran. Sedangkan menurut sanjaya (dalam Cahyono 2014:382)
berpendapat pembelejaran merupakan proses interaksi antara guru dengan siswa,
siswa dengan siswa, maupun siswa dengan lingkungan yang dapat merangsang
siswa untuk belajar. Melalui proses interaksi kemampuan siswa akan berkembang
baik mental maupun intelektualnya. Sedangkan menurut Winaputra (dalam
Hamzah dan Muhlisrarini 2016:42) kata pembelajaran mengacu kepada segala
kegiatan yang berpengaruh langsung terhadap proses belajar siswa. Dengan
demikian, pembelajaran adalah serangkaian kegiatan yang dirancang agar
terjadinya proses interaksi yang baik untuk memungkinkan terjadinya proses
belajar pada siswa.
Berdasarkan paparan diatas peneliti dapat menyimpulkan bahwa pembelajaran
matematika merupakan proses interaksi antara siswa dengan guru untuk belajar
matematika dan guru sebagai pendidik memberikan pengetahuan serta
memfasilitasi kegiatan belajar siswa
C. Kerangka Berpikir
1 Yudhi Munadi, Media Pembelajaran Sebuah Pendekatan Baru,(Jakarta: Gaung Persada
Press Jakarta,2008),hlm. 85-86.
Berdasarkan pemaparan di atas, kerangka berpikir dalam penelitian ini
didasarkan pada pemahaman bahwa media gambar dapat berfungsi sebagai alat bantu
yang efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Penggunaan media gambar
diharapkan dapat memberikan referensi visual yang jelas bagi siswa, sehingga mereka
lebih mudah memahami objek yang akan dideskripsikan. Hal ini sesuai dengan
pendapat Bruner (1966) yang menyatakan bahwa penggunaan media visual, seperti
gambar, dapat membantu siswa dalam membangun konsep dengan lebih mudah
melalui pengalaman visual yang konkrit.
Penggunaan media gambar dalam pembelajaran menulis deskripsi juga dapat
membantu siswa dalam mengurangi kesalahan dalam menyusun deskripsi. Menurut
Suhartono (2005), kesalahan dalam menulis deskripsi sering kali disebabkan oleh
kurangnya pemahaman terhadap detail objek yang akan digambarkan. Dengan gambar
sebagai acuan, siswa dapat melihat detail yang perlu dideskripsikan secara langsung,
sehingga membantu mereka menyusun deskripsi yang lebih akurat dan terperinci.
Kerangka berpikir dalam penelitian ini menunjukkan bahwa media gambar
dapat memberikan dampak positif terhadap proses pembelajaran berhitung, terutama
pada siswa kelas IV SD. Melalui media gambar, siswa akan lebih mudah memahami
objek yang akan dideskripsikan, lebih tertarik dalam proses membaca, dan mampu
membaca kata atau kalimat yang lebih baik dan benar. Berdasarkan hal tersebut,
penggunaan media gambar diharapkan dapat menjadi solusi yang efektif dalam
meningkatkan membaca siswa.
BAB III
METODE PENELITIAN
Bab ini berisi penjelasan mengenai subjek, tempat, dan waktu pelaksanaan perbaikan
pembelajaran, serta pihak-pihak yang terlibat. Selain itu, dijelaskan pula langkah-langkah
perbaikan yang dilakukan dan teknik analisis data yang digunakan untuk menilai
keberhasilan perbaikan pembelajaran.
A. Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan
tujuan untuk memperbaiki dan meningkatkan hasil belajar siswa melalui tindakan
yang dilakukan dalam proses pembelajaran.
B. Subjek Penelitian
Subjek penelitian adalah siswa kelas 4 SD Muhammadiyah 1 Pekajangan
Tahun Pelajaran 2025/2026.
C. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan di SD Muhammadiyah 1 Pekajangan pada semester I bulan
Oktober tahun pelajaran 2025 dan perbaikan pembelajaran dilakukan pada bulan
Oktober tahun 2025 dengan jadwal sebagai berikut:
Tabel Waktu Pelaksanaan Penelitian Perbaikan Pembelajaran
Siklu Hari/Tanggal Waktu Mata Pelajaran Kegiatan
s
I 08.00 – 10.00 Matematika Pemberian Materi dan
Tugas
II 08.00 – 10.00 Matematika Pemberian Materi dan
Tugas
D. Variabel Penelitian
Variabel bebas: Penggunaan media gambar dalam pembelajaran materi pecahan.
Variabel terikat: Hasil belajar siswa pada materi pecahan.
E. Prosedur Penelitian
Penelitian dilakukan dalam dua siklus, tiap siklus terdiri atas tahap perencanaan,
pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi.
F. Teknik Pengumpulan Data
Observasi proses pembelajaran
Tes hasil belajar berupa soal latihan pecahan
Wawancara dan angket untuk mengetahui respon siswa terhadap media gambar.
G. Teknik Analisis Data
Data hasil belajar siswa dianalisis secara kuantitatif dengan membandingkan skor
rata-rata hasil tes sebelum dan sesudah tindakan. Data kualitatif dianalisis dari
observasi dan wawancara untuk mendukung hasil kuantitatif.