0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan13 halaman

Uji Kuat Lentur Beton dengan Fly Ash

Penelitian ini mengeksplorasi penggunaan fly ash sebagai bahan reduksi semen dalam campuran beton dengan kuat tekan rata-rata 25 MPa. Hasil pengujian menunjukkan bahwa penambahan fly ash meningkatkan kuat lentur beton, meskipun terdapat variasi dalam hasil tergantung pada persentase fly ash yang digunakan. Penggunaan fly ash juga mengurangi jumlah semen yang diperlukan dalam campuran beton, sehingga berpotensi mengurangi dampak lingkungan dari limbah batubara.

Diunggah oleh

HAPPY RIZQA AMALIAH
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan13 halaman

Uji Kuat Lentur Beton dengan Fly Ash

Penelitian ini mengeksplorasi penggunaan fly ash sebagai bahan reduksi semen dalam campuran beton dengan kuat tekan rata-rata 25 MPa. Hasil pengujian menunjukkan bahwa penambahan fly ash meningkatkan kuat lentur beton, meskipun terdapat variasi dalam hasil tergantung pada persentase fly ash yang digunakan. Penggunaan fly ash juga mengurangi jumlah semen yang diperlukan dalam campuran beton, sehingga berpotensi mengurangi dampak lingkungan dari limbah batubara.

Diunggah oleh

HAPPY RIZQA AMALIAH
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

TEKNIKA: Jurnal Teknik

VOL. 10 NO. 2 E-ISSN: 2686-5416

UJI KUAT LENTUR BETON MENGGUNAKAN FLY ASH


SEBAGAI BAHAN REDUKSI SEMEN PADA BETON
DENGAN KUAT TEKAN RATA-RATA 25MPa

Arridhatul Karimah*, Sari Farlianti**, Sapta***, Amelia Rajela****, Asmadi*****


*Program Studi Program Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas IBA, Jln. Mayor Ruslan,
Palembang, Sumatera Selatan, Indonesia
**Program Studi Program Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas IBA, Jln. Mayor Ruslan,
Palembang, Sumatera Selatan, Indonesia
***Program Studi Program Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas IBA, Jln. Mayor Ruslan,
Palembang, Sumatera Selatan, Indonesia
****Program Studi Program Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas IBA, Jln. Mayor
Ruslan, Palembang, Sumatera Selatan, Indonesia
*****Program Studi Program Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas IBA, Jln. Mayor
Ruslan, Palembang, Sumatera Selatan, Indonesia
*Email: karimah@[Link]
***Email: sapta303@[Link] (Penulis Korespondensi)

ABSTRAK

Fly Ash dikategorikan sebagai limbah berbahaya dan beracun yang dapat membahayakan lingkungan hidup,
kesehatan, dan kelangsungan hidup manusia dan makhluk lainnya. Fly Ash ini terdapat dalam jumlah yang
cukup besar, sehingga memerlukan pengelolaan agar tidak menimbulkan masalah lingkungan seperti
pencemaran udara, atau perairan dan penurunan kualitas ekosistem. Salah satu alternatif untuk mengurangi
limbah tersebut yaitu digunakan sebagai campuran pada beton sebagaimana dilakukan pada penelitian ini.
penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pengaruh fly ash (abu batubara) sebagai bahan reduksi
semen pada campuran beton. Persentase Fly Ash yang digunakan pada penelitian ini adalah 5%, 15%, dan
25 % dari berat semen yang digunakan pada campuran beton. Penelitian ini dilakukan di laboratorium Balai
Besar Pelaksanaan Jalan Nasional V Palembang, dengan menggunakan benda uji ukuran 15cm x 15cm x
60cm dengan kuat tekan beton rata-rata 25 MPa. Dari hasil uji kuat lentur pada umur 28 hari untuk beton
tanpa fly ash, 5% fly ash, 15% fly ash, dan 25% fly ash didapatkan kuat lentur rata-ratanya secara berurutan
sebesar 5,48MPa, 7,38MPa, 4,57MPa dan 4,93 MPa. Hasil uji kuat lentur tersebut didapatkan peningkatan
koefisien konversi kuat tekan secara berurutan sebesar 0,63, 1,07, 0,42 dan 0,5 terhadap nilai koefisien
konversi berdasarkan SNI 2847:2013 pers. 9-10 sebesar 0,62. Bila dilihat dari komposisi campuran dengan
menggunakan fly ash didapatkan pengurangan pemakaian jumlah semen dalam campuran 1 m3 beton
sebesar 22,55kg (5% fly ash), 67,65 kg (15% fly ash), dan 112,75 kg (25% fly ash).

Kata Kunci: kuat lentur, reduksi semen, fly Ash

1. PENDAHULUAN

Beton merupakan suatu bahan campuran dari beberapa material yang bahan utamanya
terdiri dari campuran semen, agregat halus, agregat kasar, dan air. Beton dapat ditambahkan bahan
tambahan (admixture) sesuai kebutuhan dan tujuan tertentu. Pada umumnya penggunaan bahan
tambahan itu bertujuan untuk mempermudah pekerjaan, memperlambat pengerasan,
mempercepat pengerasan dan mereduksi penggunaan semen.
Pada penelitian ini dilakukan penambahan sejumlah bahan tambahan untuk mengurangi
jumlah semen dengan menggunakan abu terbang (fly ash) sisa pembakaran batubara.
Pada tahun 2019 produksi batu bara sebesar 610 juta ton, berarti limbah yang dihasilkan
sekitar 5% mencapai 8,31 juta ton dengan 1,662 juta ton bottom ash dan 6,648 juta ton fly ash
(BAPPENAS, 2019). Limbah batubara tergolong dalam limbah B3 yang dapat menyebabkan

Fakultas Teknik Universitas IBA


website: [Link]
email: ftuiba@[Link] 107
TEKNIKA: Jurnal Teknik
VOL. 10 NO. 2 E-ISSN: 2686-5416

penyakit silicosis (pembengkakan paru-paru) (BAPEDAL, 1999). Oleh karena itu, diperlukan
solusi pemanfaatan limbah bottom ash dan fly ash memiliki kandungan senyawa kimia
SiO2=58,75%, AI2O3=25,82%, Fe2O3=5,30%, CaO=4,66%. Alkali=1,36%, MgO=3,30% dan
bahan lainnya 0,81%. Dengan tingginya kandungan silika dan oksida tersebut, fly ash memiliki
sifat pozzolan yang dapat dimanfaatkan dalam pembuatan [Link] Ash sebagai bahan
pengganti sebagian semen portland karena ukuran pertikel yang sangat lembut sehingga dapat
sebagai pengisi rongga dan sebagai pengikat antar agregat dan jika bereaksi dengan kalsium
hidroksida akan menghasilkan senyawa semen (Aggarwall, 2010). Pengikat utama dalam beton
adalah semen portland, produksi yang merupakan penyumbang utama dalam emisi gas rumah
kaca yang menyebabkan pemanasan global dan perubahan iklim. Namun daya tahannya kurang,
dan dengan penambahan fly ash dapat meningkatkan daya tahan beton terhadap korosi sulfat dan
meminimakan retak pada beton.
Fly ash dapat digunakan dalam bentuk kering atau basah dan biasanya di simpan dalam
kondisi kering. Kira-kira 30% air dapat ditambahkan pada fly ash. Fly ash dimanfaatkan antara
lain sebagai pengganti semen portland pada beton karena mempunyai sifat possolan. Penggantian
sebagian semen (0%-70%) dapat meningkatkan kekuatan, mengurangi kerapuhan dan lebih tahan
terhadap penetrasi ion klorida.
Fly Ash yang digunakan pada penelitian ini bersumber dari PLTU (Pembangkit listrik
tenaga uap) Paiton 3 di kabupaten Probolonggo Jawa Timur, merupakan limbah sisa pembakaran
batubara.
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui berapa besar pengaruh dari penggunaan fly ash
sebagai bahan tambahan pada campuran beton terhadap kuat lentur dan jumlah pengurangan
pemakaian semen dalam 1 m3 campuran beton.

2. METODE PENELITIAN

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen atau metode
pengujian yang dilakukan dilaboratorium terhadap material dan benda uji. Dalam pengujian ini
akan dilakukan pengujian kuat lentur terhadap benda uji beton yang di buat dengan menggunakan
bahan tambahan abu terbang (fly ash), dengan variasi komposisi campuran berupa fly ash
sebanyak 5%, 15% dan 25% dari berat semen. Kuat tekan rata-rata beton direncanakan sebesar
25 MPa. Benda uji berbentuk balok berukuran 15x15x60 cm, sampel benda uji direndam sampai
umur pengujian 28 hari.

2.1. Lokasi Penelitian


Penelitian ini dilakukan di laboratorium Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional V
Palembang, peta lokasi dengan koordinat lokasi: 2°56'36.3"S 104°43'07.7"E) dapat dilihat pada
Gambar 1.

Lokasi
Penelitian

Gambar 1. Peta Lokasi UPTD Laboratorium Bahan Konstruksi

Fakultas Teknik Universitas IBA


website: [Link]
email: ftuiba@[Link] 108
TEKNIKA: Jurnal Teknik
VOL. 10 NO. 2 E-ISSN: 2686-5416

2.2. Pemeriksaan Material


Pengujian terhadap material dasar pembuat beton bertujuan untuk mengetahui karakteristik
atau sifat-sifat dasar material yang akan digunakan sehingga dapat memudahkan dalam
menentukan proporsi campuran beton.
1) Pemeriksaan Kotoran Organik Agregat Halus
Pengujian ini tujuannya untuk menentukan adanya kandungan bahanorganik dalam agregat
halus yang akan digunakan sebagai bahan campuran beton. Kotoran organik yang
berlebihan pada unsur bahan beton dapat memperngaruhi terhadap kualitas mutu beton.

Gambar 2. Pengujian Kotoran Organik

Dari hasil pengujian kotoran organik pada pasir terlihat pada Gambar 2 sama warnanya
dengan standar yang no. 3.

2) Pemeriksaan Berat isi agregat halus dan kasar


Pengujian berat isi material dilakukan terhadap agregat halus dan agregat kasar
sebagaimana terlihat pada Gambar 3.

a). Pengisian Agregat halus b). Siap untuk diperiksa berat c). Penimbangan agregat
pada bejana isinya halus

d). Pengisian Agregat kasar e). Siap untu diperiksa berat f). Penimbangan agregat
pada bejana isinya kasar

Gambar 3. Pemeriksaan Berat Isi Agregat Halus Dan Agregat Kasar di Laboratorium

Fakultas Teknik Universitas IBA


website: [Link]
email: ftuiba@[Link] 109
TEKNIKA: Jurnal Teknik
VOL. 10 NO. 2 E-ISSN: 2686-5416

3) Pemeriksaan Berat Jenis dan Penyerapan Air Agregat Halus dan Agregat Kasar
Pemeriksaan berat jenis agregat halus sebagaimana terlihat pada Gambar 4 dimaksudkan
untuk menentukan berat jenis (bulk), berat jenis kering-permukaan jenuh (saturated surface
dry = SSD), berat jenis semu (apprent) dan penyerapan dari agregat halus menurut produser
ASTM C-128-68. Nilai ini diperlukan untuk menentukan besarnya komposisi volume
agregat dalam adukan beton.

a). Peralatan b). Persiapan c). Pemeriksaan

Gambar 4. Pemeriksaan Berat Jenis Dan Penyerapan Agregat Halus

Pemeriksaan berat jenis agregat kasar sebagaimana terlihat pada Gambar 5, dimaksudkan
untuk menentukan berat jenis (bulk), berat jenis kering-permukaan jenuh (saturated surface
dry = SSD), berat jenis semu (apprent) dan penyerapan dari agregat kasar menurut produser
ASTM C-127-68. Nilai ini diperlukan untuk menentukan besarnya komposisi volume
agregat dalam adukan beton.

a) Pengeringan b) Penimbangan c) Agregat dalam d) Penimbangan


permukaan saringan kawat dalam air
Gambar 5. Pemeriksaan Berat Jenis Dan Penyerapan Agregat Kasar

a) Pengeringan Agregat b) Penyaringan Agregat c) Penimbangan berat tertahan pada


Halus Halus saringan

d) Pengeringan Agregat e) Penyaringan Agregat f) Peimbangan berat tertahan pada


Kasar Kasar saringan
Gambar 6. Pemeriksaan Analisa Saringan Agregat (Halus Dan Kasar)

Fakultas Teknik Universitas IBA


website: [Link]
email: ftuiba@[Link] 110
TEKNIKA: Jurnal Teknik
VOL. 10 NO. 2 E-ISSN: 2686-5416

4) Pemeriksaan Keausan Agregat Kasar Dengan Mesin Abrassion Los Angeles


Pengujian ini tujuannya untuk menentukan ketahanan agregat kasar terhadap keausan
dengan mempergunakan mesin Abrassion Los Angeles Gambar 7. Keausan tersebut
dinyatakan dengan perbandingan antara berat bahan aus lewat saringan no. 12 terhadap
berat semua dalam persen.

Gambar 7. Pengujian keausan Agregat Kasar Dengan Mesin Abrassion Loas Angeles

2.3. Job Mix Formula (JMF)


Sebelum pembuatan benda uji terlebih dahulu dibuatkan Job Mix Formula (JMF), untuk
mendapatkan komposisi campuran dengan faktor air semen 0,45 didapatkan komposisi
campuran sebagaimana terlihat pada Tabel 1.

Tabel 1
Komposisi campuran bahan beton
Komposisi Campuran Bahan
Komposisi
Kode Benda Uji Batu Split Pasir Semen Fly Ash Air
(PC + Fly Ash)
(kg) (kg) (kg) (kg) (liter)
BN (100% PC) 1046 614 451 - 225
BV I (95% PC+ 15% fly ash) 1046 614 428,45 22,55 225
BV II (85% PC+15% fly ash) 1046 614 383,35 67,65 225
BVIII (75% PC+25% fly ash) 1046 614 338,25 112,75 225
Sumber: Hasil analisa

2.4. Pengujian Slump


Sebelum pembuatan benda uji dilakukan pengujian slump sebagaimana Gambar 8,
pengujian ini dimaksudkan untuk menentukan konsistensi/kekakuan dari campuran beton untuk
menentukan workability atau tidak. Dari hasil pengujian dapat dilihat pada Tabel 2.

a) Persiapan uji slump b) Pengukuran Slump


Gambar 8. Uji slump

Tabel 2
Hasil Uji Slump
BV I BV II BV III
BN Batas
(Fly Ash 5% (Fly Ash 15% (Fly Ash 25%
Uji Slump (100% PC) Slump
+95% PC) +85% PC) +75% PC)
7,5 cm 7,5 cm 9 cm 7,5 cm 6-10 cm

Fakultas Teknik Universitas IBA


website: [Link]
email: ftuiba@[Link] 111
TEKNIKA: Jurnal Teknik
VOL. 10 NO. 2 E-ISSN: 2686-5416

2.5. Pembuatan Benda Uji


Sampel untuk uji kuat tekan menggunakan cetakan berbentuk silinder ukuran diameter
15cm dengan tinggi 30cm berjumlah 3 benda uji per sample, sedangkan untuk uji kuat lentur
menggunakan balok dengan ukuran 15cm x 15cm x 60cm berjumlah 3 Benda uji per sample,
sebagaimana ditunjukan pada Gambar 9.

Gambar 9. Pembuatan Benda Uji Kuat Lentur dan Tekan

2.6. Perawatan Beton


Perawatan dilakukan setelah beton mencapai final setting, artinya beton telah mengeras.
Perawatan ini dilakukan agar proses hidrasi selanjutnya tidak mengalami gangguan.
Perawatan benda uji dalam penelitian ini dilakukan dengan cara merendam dalam air selama
28 hari.

a) Perawatan benda uji balok b) Perawatan benda uji Silinder

Gambar 10. Perawatan Benda Uji direndam dalam air

2.7. Pengujian Kuat Tekan dan Kuat Lentur


Pengujian Kuat Tekan dan Kuat Lentur dilakukan pada umur 28 hari, prosedur pengujian
mengikuti ketentuan SNI 03-2491-2002. Pengujian kuat tekan dan kuat lentur dapat dilihat pada
Gambar 11.

a) Pengukuran Balok b) Penimbangan Balok c) uji Kuat Lentur Balok

d) Benda uji silinder e) Pengujian kuat tekan f) Penekanan benda uji

Gambar 11. Pengujian Kuat Lentur dan Kuat Tekan

Fakultas Teknik Universitas IBA


website: [Link]
email: ftuiba@[Link] 112
TEKNIKA: Jurnal Teknik
VOL. 10 NO. 2 E-ISSN: 2686-5416

Sistem pembebanan pada pengujian tarik lentur, yaitu benda uji dibebani sedemikian rupa
sehingga hanya akan mengalami keruntuhan akibat lentur murni seperti Gambar 12.
a a a

L b

Gambar 12. Sketsa Pengujian Kuat Lentur Beton

Mmaks 𝑃. 𝐿
lt = = …………… pers. 1
W 𝑏. ℎ2

Keterangan:
σtl : Kuat lentur beton (Mpa)
P : Beban maksimum (N)
b : Lebar penampang balok (mm)
h :Tinggi penampang balok (mm)
Kegagalan dalam beton biasanya dapat dimulai dengan retak lentur pada bagian yang
mengalami tarik. Hal ni dikarenakan beton lemah terhadap tarik. Kuat lentur maksimum dialami
oleh serat bawah balok beton dan disebut sebagai Modulus of Rupture, yang besarnya tergantung
dari panjang balok dan jenis pembebanan.
Modulus of Rupture merupakan tegangan tarik lentur beton yang timbul pada pengujian
hancur beton polos tanpa tulangan yang dibebani dititik sepertiga bentang, sebagai pengukur kuat
tarik sesuai dengan teori elastisitas
Modulus of Rupture untuk benda uji yang memiliki keretakan ditengah pada bentang kedua
dapat dihitung dengan rumus:
PL
𝑅= …………… pers. 2
b. d²

Keterangan:
R = Modulus of Rupture
P = beban maksimum total balok
L = bentang balok
b = rata-rata lebar benda uji, in dan mm
d = rata-rata ketinggian benda uji, in atau mm

Bila patahan terjadi pada 1/3 bagian tepi bentang, maka perhitungannya adalah sebagai
berikut:
3Pa
𝑅= …………… pers. 3
b. d²

Keterangan :
R : modulus runtuh, psi atau MPa
P : maksimum beban, lbf atau N

Fakultas Teknik Universitas IBA


website: [Link]
email: ftuiba@[Link] 113
TEKNIKA: Jurnal Teknik
VOL. 10 NO. 2 E-ISSN: 2686-5416

a : jarak rata-rata antara retakan dengan perletakan yang terdekat, in dan


mm
b : rata-rata lebar benda uji, in dan mm
d : rata-rata ketinggian benda uji, in atau mm

Kegagalan akibat lentur merupakan merupakan kegagalan yang sering terjadi pada balok
dengan bentang panjang. Pola keretakan terdapat pada bagian bawah, yang merupakan serat
tarik balok (terutama pada daerah lapangan) yang memiliki arah tegak lurus terhadap garis
netral balok.

1) Prosedur Pengujian
Pengujian dilakukan dengan beberapa tahapan sebagai berikut.
a) Hidupkan mesin uji tekan beton yang telah dipersiapkan, tunggu kira-kira 30 detik
b) Letakkan benda uji pada tumpuan dan atur benda uji sehingga siap untuk pengujian.
c) Atur pembebanannya untuk menghindari terjadi benturan.
d) Atur katup-katup pada kedudukan pembebanan dan kecepatan pembebanan pada
kedudukan yang tepat sehingga jarum skala bergerak secara perlahan-lahan dan
kecepatannya 8kg/cm²-10 kg/cm² tiap menit.
e) Kurangi kecepatan dan pembebanan pada saat-saat menjelang patah yang ditandai
dengan kecepatan gerak jarum pada skala beban agak lambat, sehingga tidak terjadi
kejut.
f) Hentikan pembebanan dan catat beban maksimum yang menyebabkan patahnya benda
uji, pada formulir uji seperti pada contoh lampiran.
g) Ambil benda uji yang telah selesai diuji, yang dapat dilakukan dengan menurunkan plat
perlekan pada uji atau menaikkan alat pembebanannya.
h) Ukur dan catat lebar dan tinggi tampang lintang patah dengan ketelitian 0,25 mm
sedikitnya pada 3 tempat dan ambil harga rata-ratanya.
i) Ukur dan catat jarak antara tampang lintang patah dari tumpuan luar terdekat pada 4
tempat dibagian tarik patah pada arah bentang dan ambil harga rata-ratanya.

2) Prosedur Perhitungan
a) Perhitungan hasil uji dilakukan sebagai berikut. Untuk pengujian dimana patahnya
terjadi didaerah pusat (1/3 jarak perletakan) kuat lentur beton dihitung dengan rumus :
𝑃. 𝑏
𝑖 = …………… pers. 4
𝑏. ℎ²

Gambar 13. Patah pada 1/3 bentang tengah

b) Untuk pengujian dimana patah terjadi di luar pusat ( di luar daerah 1/3 jarak perletakan)
di bagian tarik beton, dan jarak titik pusat sampai titik patah kurang dari 5% dari bentang
titik perletakan maka kuat lentur beton dihitung rumus :

Fakultas Teknik Universitas IBA


website: [Link]
email: ftuiba@[Link] 114
TEKNIKA: Jurnal Teknik
VOL. 10 NO. 2 E-ISSN: 2686-5416

𝑃. 𝑎
𝑖 = …………… pers. 5
𝑏. ℎ²

Gambar 14. Patah di luar 1/3 bentang tengah dan garis patah pada >5% dari bentang

Keterangan:
σl : Kuat lentur benda uji (Mpa)
P : Beban tertinggi yang terbaca pada mesin uji
(pembacaan dalam ton sampai 3 angka dibelakang koma)
L : Jarak (bentang) antara dua garis perletakan (mm)
B : Lebar tampang lintang patah horizontal (mm)
h : Lebar tampang lintang patah arah vertikal (mm)
a : Jarak rata-rata antara tampang lintang patah dan tumpuan luar yang terdekat, diukur
pada 4 tempat pada sudut dari bentang (mm).

Jika pada saat dilakukan pengujian, patah terjadi diluar pusat (di daerah 1/3 jarak perletakan)
dibagian tarik beton, dan jarak pusat sampai titik patah lebih dari 5% dari bentang titik perletakan
maka hasil pengujian tidak digunakan.

a) 1/3 jarak perletakan Patah b) 1/3 jarak perletakan c) Patah 1/3 jarak perletakan

Gambar 15. Lokas Patah Hasil Uji Kuat Lentur

3) Hubungan kuat lentur dan kuat tekan beton karakteristik


Mengacu pada nilai kuat lentur beton (fr) berdasarkan nilai kuat tekannya (fc`), SNI
2847:2013 telah menyatakan hubunganya dengan suatu formula:

𝑓𝑟 = 0,62. . √𝑓𝐶′ …………… pers. 6

Fakultas Teknik Universitas IBA


website: [Link]
email: ftuiba@[Link] 115
TEKNIKA: Jurnal Teknik
VOL. 10 NO. 2 E-ISSN: 2686-5416

3. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1. Hasil Analisa Beton Karakteristik Kuat Tekan


Berdasarkan hasil pengujian kuat tekan terhadap benda uji didapatkan kuat tekan
karakteristik beton umur 28 hari dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3
Uji Beton Karakteristik Kuat Tekan
Hasil Uji Kuat
Kuat Tekan
Komposisi Tekan Rata- Standar
Kode Benda Uji karakteristik,
(PC + Fly Ash) Rata fcr’ Deviasi
f’c (Mpa)
(Mpa)
BN (100% PC) 25,5 3,58 19
BV I (95% PC+ 15% fly ash) 26,27 2,81 21
BV II (85% PC+15% fly ash) 22,55 2,63 18
BVIII (75% PC+25% fly ash) 22,75 2,33 18
Sumber: Hasil Analisa

Pada Tabel 3 terlihat hasil uji kuat tekan beton variasi 5% menghasilkan kuat tekan
karakteristik lebih besar 2 Mpa terhadap beton normal. Sedangkan beton variasi 15% dan 25%
terjadi penurunan sebesar 1 Mpa terhadap beton normal.

3.2. Hasil Uji Kuat Lentur


Pengujian kuat lentur dilakukan pada beton tanpa flay ash dan beton dengan fly ash pada
usia beton 28 hari, hasil uji tersebut dapat dilihat pada Tabel 4, 5, 6 dan 7.

Tabel 4
Hasil Uji Kuat Lentur Beton Normal (BN)
Benda Umur Berat Beban Ukuran Benda Uji Kuat Kuat Lentur
Uji (Hari) (Kg) Maksimum, P (mm) Lentur Rata-Rata
(kN) L b h (MPa) (Mpa)
BN I 28 32,341 28 600 155 150 4,09
BN II 28 32,636 45 600 147,5 150 6,79 5,48
BN III 28 32,636 37 600 150 150 5,58
Sumber: Hasil Analisa

Keterangan:
P : BebanMaksimum (kN)
L : Panjang Benda Uji (mm)
B : Lebar Benda UjiPengukuran (mm)
h : Tinggi Benda UjiPengukuran (mm)

Tabel 5
Hasil Uji Kuat Lentur BetonVariasi Fly Ash 5% (95% PC+5% fly ash)
Beban Ukuran Benda Uji Kuat Kuat Lentur
Benda Umur
Berat (Kg) MaksimumP (mm) Lentur Rata-Rata
Uji (Hari)
(kN) L b h (MPa) (Mpa)
BN I 28 32,758 48 600 150 150 7,24
BN II 28 32,740 49 600 147,5 150 7,52 7,38
BN III 28 32,659 49 600 150 150 7,39
Sumber: Hasil Analisa

Fakultas Teknik Universitas IBA


website: [Link]
email: ftuiba@[Link] 116
TEKNIKA: Jurnal Teknik
VOL. 10 NO. 2 E-ISSN: 2686-5416

Tabel 6
Hasil Uji Kuat LenturBetonVariasi Fly Ash 15% (85% PC+15% fly ash)
Beban Ukuran Benda Uji Kuat Lentur
Benda Umur Kuat Lentur
Berat (Kg) MaksimumP (mm) Rata-Rata
Uji (Hari) (N/mm)
(kN) L b h (Mpa)
BN I 28 32,613 29 600 150 150 4,37
BN II 28 32,092 30 600 150 150 4,52 4,57
BN III 28 32,423 31 600 150 150 4,83
Sumber: Hasil Analisa

Tabel 7
Hasil Uji Kuat Lentur BetonVariasi Fly Ash 25% (75% PC+25% fly ash)
Beban Ukuran Benda Uji Kuat Lentur
Benda Umur KuatLentu
Berat (Kg) MaksimumP (mm) Rata-Rata
Uji (Hari) r (MPa)
(kN) L b h (Mpa)
BN I 28 32,568 33 600 147,5 150 5,06
BN II 28 32,060 28 600 150 150 4,22 4,93
BN III 28 32,142 26 600 147,5 150 5,52
Sumber: Hasil Analisa

Gambar 16. Persentase Kuat Lentur BV I, BV II dan BV III Terhadap BN

Dari gambar grafik 16 didapatkan perbandingan data hasil uji kuat lentur variasi terhadap
kuat lentur beton normal sebagai berikut :
1) BV I terjadi peningkatan sebesar 34.6% terhadap kuat lentur BN,
2) BV II mengalami penurunan sebesar 16,6% terhadap kuat lentur BN,
3) BV III juga terjadi penurunan sebesar 10,04% terhadap kuat lentur BN.

3.3. Korelasi Kuat Lentur Terhadap Hasil Uji KuatTekan


Hasil korelasi kuat lentur ke kuat tekan, hasil uji lentur dan kuat tekan karakteristik, dapat
dilihat pada Tabel 8.

Tabel 8
Tabel Korelasi Kuat Lentur Beton dan Kuat Tekan Beton
Kuat Koefisien Koefisien
Tekan Hasil Uji korelasi Korelasi terhadap
Benda terhadap kuat kuat lentur Beton
Karakteris Kuat Lentur 𝑋̅ Selisih
Uji tekan beton Berdasarkan SNI
tik fc’ fr (Mpa) 𝐹𝑟 𝐹𝑟
(Mpa) ( ) ( = 0,62)
√𝑓𝑐′ √𝑓𝑐′
BN 1 4,09 0,93
BN 2 19 6,79 1,55 1,25 0,62 0,63
BN 3 5,58 1,28

Fakultas Teknik Universitas IBA


website: [Link]
email: ftuiba@[Link] 117
TEKNIKA: Jurnal Teknik
VOL. 10 NO. 2 E-ISSN: 2686-5416

Kuat Koefisien Koefisien


Tekan Hasil Uji korelasi Korelasi terhadap
Benda terhadap kuat kuat lentur Beton
Karakteris Kuat Lentur 𝑋̅ Selisih
Uji tekan beton Berdasarkan SNI
tik fc’ fr (Mpa) 𝐹𝑟 𝐹𝑟
(Mpa) ( ) ( = 0,62)
√𝑓𝑐′ √𝑓𝑐′
BV I 1 7,24 1,66
BV I 2 21 7,52 1,72 1,69 0,62 1,07
BV I 3 7,39 1,69
BV II 1 4,37 1,00
BV II 2 18 4,52 1,03 1,04 0,62 0,42
BV II 3 4,83 1,10
BV III 1 5,06 1,16
BV III2 18 4,22 0,96 1,12 0,62 0,5
BV III 3 5,52 1,26
Sumber: Hasil Analisa

Keterangan:
X : Koefisien korelasi kuat lentur terhadap kuat tekan karakteristik beton
𝑋̅ : Nilai rata-rata X
Fr : Kuat Lentur
Fc’ : Kuat Tekan

Hasil korelasi kuat lentur dengan kuat tekan beton benda uji balok dan silinder pada
Tabel 6, didapat selisihnya sebagai berikut:
1. Korelasi kuat lentur 1,25 > 0,62
2. Korelasi kuat lentur 1,69 > 0,62
3. Korelasi kuat lentur 1,04 > 0,62
4. Korelasi kuat lentur 1,12 > 0,62

4. KESIMPULAN
Dari hasil analisa dan pembahasan dapat di ambil kesimpulan bahwa:
▪ Penggunaan fly ash sebagai pengganti sebagian berat Portland Cement (PC) yang
digunakan pada campuran beton memberikan pengaruh terhadap nilai kuat lentur,
kondisi ini terlihat dari hasil uji kuat lentur beton yang dilakukan di laboratorium
terhadap beton BN (100% PC), beton BV I (95% PC+5% Fly Ash), BV II (85%
PC+15% Fly Ash) dan BV III 25% (75% PC+25% Fly Ash), masing-masing benda uji
mempunyai kuat lentur rata-rata sebesar 5,48MPa, 7,38Mpa, 4,57Mpa dan 4,93Mpa.
▪ Penggunaan fly ash sebagai pengganti sebagian berat semen pada campuran 95%
PC+5% fly ash mengalami peningkatan kuat lentur sebesar 34% dengan mengurangi
penggunaan semen +22,55 kg semen/m3 beton.
▪ Penggunaan fly ash sebagai pengganti sebagian berat semen pada pada beton
campuran 85% PC+15% Fly Ash, kuat lenturnya mengalami penurunan sebesar 16,6%
dengan mngurangi mengurangi penggunaan semen +67,65 kg semen/m3 beton.
▪ Penggunaan fly ash sebagai pengganti sebagian berat semen pada pada campuran 75%
PC+25% Fly Ash, kuat lenturnya mengalami penuruan sebesar 10,04% dengan
mengurangi pemakian seman sebesar +112,75 kg semen/m3 beton.
▪ Koefisien korelasi kuat lentur beton (100%PC) sebesar 1,25 > 0,63 (koefisien kuat
lentur berdasarkan SNI)
▪ Koefisien korelasi kuat lentur beton (95%PC+5%Fly Ash) sebesar 1,69>0,63
(koefisien kuat lentur berdasarkan SNI)
▪ Koefisien korelasi kuat lentur beton (85%PC+15%Fly Ash) sebesar 1,04>0,63
(koefisien kuat lentur berdasarkan SNI)

Fakultas Teknik Universitas IBA


website: [Link]
email: ftuiba@[Link] 118
TEKNIKA: Jurnal Teknik
VOL. 10 NO. 2 E-ISSN: 2686-5416

▪ Koefisien korelasi kuat lentur beton (75%PC+25%Fly Ash) sebesar 1,12>0,63


(koefisien kuat lentur berdasarkan SNI)

DAFTAR PUSTAKA

Nasional, BS. 1990. SNI 03-1968-1990: Metode Pengujian Analisa Saringan Agregat. Jakarta:
BSN.

Nasional, BS. 1990. SNI 03-1996-1990: Metode Pengujian Berat Jenis dan Penyerapan Air
Agregat Kasar. Jakarta: BSN.

Nasional, BS. 1990. SNI 03-1970-1990: Metode Pengujian Berat Jenis dan Penyerapan Air
Agregat Halus. Jakarta: BSN.

Nasional, BS. 1990. SNI 03-1971-1990: Metode Pengujian Kadar Air Agregat. Jakarta: BSN.

Nasional, BS. 1990. SNI 03-1972-1990: Metode Pengujian Slump Beton. Jakarta: BSN.

Nasional, BS. 1991. SNI 03-2417-1991: Metode Pengujian Keausan Agregat dengan Mesin
Abrasi Los Angeles. Jakarta: BSN.

Nasional, BS. 1998. SNI 03-4804-1998: Metode Pengujian Berat Isi Agregat. Jakarta: BSN.

Nasional, BS. 2000. SNI 03-2834-2000: Tata Cara Pembuatan Rencana Campuran Beton
Normal, Jakarta: BSN.

Nasional, BS. 2011. SNI 03-4331-2011: Cara Uji Kuat Lentur Beton Normal dengan Dua Titik
Pembebanan. Jakarta: BSN.

Suhendra, S. 2017. Hubungan Kuat Lentur Dengan Kuat Tekan Beton. Jurnal Civronlit Unbari.
Vol. 2 (1): 38-44.

Suryani, A. 2018. Korelasi Kuat Lentur Beton Dengan Kuat Tekan Beton. Jurnal Saintis. Vol. 18
(2): 43-54.

Fakultas Teknik Universitas IBA


website: [Link]
email: ftuiba@[Link] 119

Anda mungkin juga menyukai