LAPORAN PENDAHULUAN
RISIKO BUNUH DIRI
Laporan ini disusun untuk memenuhi tugas
Praktek Klinik Keperawatan Jiwa
Dosen Pengampu : Firman Hidayat, [Link]., [Link]. [Link].J
DISUSUN OLEH :
SRI REJEKI WIDIYAWATI
24042014
PROGRAM PROFESI NERS
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS BHAMADA SLAWI
2025
A. Masalah Utama
Bunuh diri adalah sebuah tindakan sengaja yang menyebabkan
kematian diri sendiri. Bunuh diri seringkali dilakukan akibat adanya
rasa keputusasaan yang disebabkan oleh gangguan jiwa misalnya depresi,
gangguan bipolar, schizophrenia, ketergantungan alkohol/alkoholisme
atau penyalahgunaan obat.
Data Badan Keschatan Dunia (WHO) pada tahun 2003
mengungkapkan bahwa 1 juta orang bunuh diri dalam setiap tahunnya atau
setiap 15-34 tahun, selain karena faktor kecelakaan. Pada laki-laki tiga kali
lebih sering melakukan bunuh diri daripada wanita, karena laki-laki lebih
sering menggunakan alat yang lebih efektif untuk bunuh diri, antara lain
dengan pistol, menggantung diri, atau lompat dari gedung yang
tinggi, sedangkan wanita lebih sering menggunakan zat psikoaktif overdosis
atau racun, namun sekarang mereka lebih sering menggunakan pistol.
Selain itu wanita lebih sering memilih cara menyelamatkan dirinya sendiri
atau diselamatkan orang lain.
Di dunia lebih dari 1000 tindakan bunuh diri terjadi tiap hari. Di
Inggris ada lebih dari 3000 kematian bunuh diri tiap tahun. Di Amerika
Serikat dilaporkan 25.000 tindukan bunuh diri setiap tahun dan merupakan
penyebab kematian kesebelas. Rasio kejadian bunuh diri antara pria dan
wanita adalah tiga berbanding satu. Pada usia remaja, bunuh diri
merupakan penyebab kematian kedua. (Susanto, 2010).
B. Proses Terjadinya Masalah
1. Pengertian Resiko Bunuh diri
Resiko bunuh diri adalah rentan terhadap menyakiti diri sendiri dan
cedera yang mengancam jiwa (NANDA-1,2018). Tindakan mengakhiri
hidupnya berupa isyarat, ancaman, dan percobaan bunuh diri (Stuart,
Keliat, Pasaribu, 2016).
Perilaku destruktif diri yaitu setiap aktivitas yang tidak dicegah
dapat mengarah pada kematian. Perilaku desttruktif diri langsung
mencakup aktivitas bunuh diri. Niatnya adalah kematian, dan individu
menyadari hal ini sebagai hasil yang tidak diinginkan. Perilaku destruktif
diri tak langsung termasuk tiap aktivitas kesejahteraan fisik individu dan
dapat mengarahkepada kematian. Orang tersebut tidak menyadari
tentang potensi terjadi pada kematian akibat perilakunya dan biasanya
menyangkal apabila dikonfrontasi (Stuart & Sundeen, 2009).
2. Jenis Bunuh Diri
Ada macam-macam pembagian bunuh diri dan percobaan bunuh diri.
Pembagian menurut Emile Durkheim dalam Maramis (2009) yaitu :
a. Bunuh diri egoistic
Individu tidak mampu berinteraksi dengan masyarakat. Hal ini
disebabkan oleh kondisi kebudayaan atau karena masyarakat yang
menjadikan individu seolah-olah tidak berkepribadian.
Masyarakat daerah pedesaan mempunyai integrasi sosial yang lebih
baik dari pada wilayah perkotaan sehingga percobaan bunuh diri
juga lebih sedikit.
b. Bunuh diri altuistic
Individu cenderung bunuh diri karena identifikasi yang terlalu kuat
pada suatu kelompok, individu merasa bahwa kelompok tersebut
sangat mengharapkannya. Contohnya, seorang kapten yang
menolak untuk menginggalkan kapalnya yang tenggelam.
c. Bunuh diri anomik
Hal ini terjadi apabila terdapat gangguan keseimbangan
integrasi antara individu dengan masyarakat, sehingga individu
tersebut meninggalkan norma-norma kelakuan yang biasa.
Individu kehilangan pegangan dan tujuan, masyarakat dan
kelompoknya tidak dapat memberikan kepuasan kepadanya karena
tidak ada pengaturan dan pengawasan terhadap kebutuhannya.
Contoh sescorang yang mengalami perubahan ekonomi yang drastis
lebih banyak melakukan percobaan bunuh diri.
3. Tanda dan Gejala Resiko Bunuh Diri
a. Data Subjektif:
1) Mengungkapkan keinginaan untuk mati.
2) Mengungkapkan rasa bersalah.
3) Pengangguran (tidak bekerja, kehilangan pekerjaan, atau
mengalami kegagalan karir).
4) Konflik interpersonal.
5) Latar belakang keluarga.
6) Orientasi seksual.
7) Sumber-sumber sosial.
8) Menjadi korban perilaku kekerasan saat kecil.
b. Data Objektif:
1) Impulsif.
2) Menunjukan perilaku yang mencurigakan.
3) Memiliki riwayat perilaku bunuh diri.
4) Verbal terselubung (berbicara tentang kematian, menanyakan
tentang dosis obat kematian).
5) Status emosional (harapan, penolakan, cemas meningkat,
panic, marah dan mengasingkan diri).
6) Kesehatan mental (secara klinis, klien terlihat sebagai orang
yang depresi, psikologis dan menyalahgunakan alkohol).
7) Kesehatan fisik (penyakit kronis atau terminal).
8) Status perkawinan.
4. Penyebab Resiko Bunuh diri
a. Faktor Predisposisi
Lima faktor predisposisi yang menunjang pada pemahaman perilaku
destruktif-diri sepanjang siklus kehidupan adalah sebagai berikut:
1) Diagnosis Psikiatrik
Lebih dari 90% orang dewasa yang berhenti hidupnya dengan
cara bunuh diri yang riwayat gangguan jiwa. Tiga gangguan
jiwa yang dapat membuat individu berisiko untuk melakukan
tindakan bunuh diri adalah gangguan afektif, neraka zat, dan
skizofrenia.
2) Sifat Kepribadian
Tiga kepribadian yang erat kaitannya dengan risiko bunuh diri
adalah antipati, impulsif, dan depresi.
3) Lingkungan Psikososial
Faktor predisposisi perilaku diri, di antaranya adalah
kehilangan dukungan sosial, kejadian-kejadian negatif
dalam hidup, penyakit krinis, perpisahan, atau bahkan
perceraian. Kekuatan dukungan sosial sangat penting dalam
intervensi intervensi yang terapeutik, dengan terlebih dahulu
tahu dulu penyebab masalah, respons seseorang dalam
menghadapi masalah tersebut, dan lain-lain.
4) Riwayat Keluarga
Riwayat keluarga yang pernah melakukan bunuh
diri
merupakan faktor penting yang dapat menyebabkan seseorang
melakukan tindakan bunuh diri.
5) Faktor Biokimia
Data menunjukkan bahwa pada klien dengan risiko bunuh diri
terjadi peningkatan zat-zat kimia yang terdapat di dalam otak
sepeti serotinin, adrenalin, dan dopamin. Peningkatan zat
tersebut dapat dilihat melalui ekaman gelombang otak Electro
Encephalo Graph (EEG).
b. Faktor presipitasi
Dapat berupa stress psikososial seperti : perceraian, kehilangan
pekerjaan, hidup sendiri, tidak bekerja, penyakit kronik atau
bahkan stres multipel yang melibatkan banyak stresor dalam
kehidupan individu.
5. Akibat dari Resiko Bunuh Diri
Akibat perilaku bunuh diri adalah cedera atau kematian. Jika
perilaku bunuh diri mengakibatkan kematian maka tindakan yang
dilakukan adalah perawatan jenazah. Cedera yang disebabkan oleh
perilaku bunuh diri sangat dipengauhi oleh cara seseorang
melakukan percobaan bunuh diri, j ika perilaku bunuh diri
dilakukan dengan menggantung maka cedera yang terjadi adalah
berupa jejas di leher. Jika minum racun maka akan terjadi pencederaan
di lambung dan saluran pencernaan. Untuk itu intervensi yang
dilakukan juga sangat tergantung dengan cedera yang terjadi.
C. Pohon Masalah Resiko Bunuh Diri
Resiko mencederai diri sendiri,
Akibat orang lain, lingkungan, atau menyebabkan
kematian
Care Resiko bunuh diri
problem
Etiologi/
Harga diri rendah
Penyebab
D. Diagnosa Keperawatan dan Data Yang Perlu Dikaji
No Dx Deskripsi Data subjektif Data objektif
Keperawatan
1 Resiko - Rentan - Klien mengatakan - Klien
mencederai melakukan marah dan jengkel mengamuk,
Diri sendiri, perilaku yang - Kepada orang lain, merusak dan
orang lain, dan - Menunjukkan ingin membunuh, - Melempar
lingkungan. bahwa ia - Ingin membakar barang- barang,
dapat atau au mengacak- melakukan
- Membahayak acak - Tindakan
an diri sendiri, lingkungannya. kekerasan pada
orang lain, - Menyatakan ingin orang-orang di
dan bunuh diri/ingin sekitarnya
lingkungan. mati saja, tak ada
gunanya hidup.
2 Resiko bunuh - Rentan - Menyatakan ingin - Ada isyarat
diri terhadap bunuh diri/ingin bunuh diri,
menyakiti diri mati saja, tak ada pernah mencoba
sendiri dan gunanya hidup. bunuh diri.
dan cedera
yang
- Mengancam
jiwa.
3 Harga diri - Evaluasi - Klien mengatakan - Menolak Umpan
rendah diri/perasaan harus bergantung balik positif
- Negatif pada pendapat tentang diri
tentang diri orang lain sendiri.
sendiri atau - Klien mengatakan - Pasif.
- Kemampuan enggan mencoba - Perilaku
diri yang hal baru bimbang.
sifatnya - Klien mengatakan - Tidak ada kontak
berlangsung mengalami mata, pandangan
lama atau kegagalan hidup menunduk,
situasional. yang berulang ekspresi terlihat
- Klien mengatakan sedih.
merasa tidak - Perilaku tidak
mampu, malu, aserftif
merendahkan
dirinya,
menyalahkan
dirinya dengan
masalah yang
terjadi padanya
E. Diagnosa Keperawatan utama
Resiko Bunuh diri
F. Fokus Intervensi atau Rencana Tindakan
No Dx Keperawatan Penjabaran
1 Resiko bunuh diri Tujuan Umum: Klien tidak melakukan percobaan bunuh diri
Tujuan Khusus: Pasien yang dapat menjalin hubungan
saling percaya.
Intervensi:
• Perkenalkan diri dengan klien
• Bicara dengan tegas, jelas, dan jujur.
• Tanggapi pembicaraan klien dengan sabar dan tidak
menyangkal.
• Bersifat hangat dan bersahabat.
• Temani klien meningkat saat keinginan mencederai diri
diri. selanjutnya.
Rasional: Hubungan saling percaya merupakan dasar untuk
interaksi
SP 1 Tujuan Khusus: Klien dapat terlindung dari perilaku bunuh
diri
Intervensi :
• Jauhkan klien dari benda yang dapat membahayakan
(pisau, silet, gunting, tali, kaca, dan lain).
• Tempatkan klien di ruangan yang tenang dan selalu terlihat
oleh perawat.
• Awasi klien secara ketat setiap saat.
Rasional: Klien terhindar dari percobaan
percobaan bunuh diri dalam bentuk apapun.
SP 2 Tujuan Khusus: Klien dapat mengekspresikan
perasaannya
Intervensi:
• Dengarkan keluhan yang dirasakan.
• Bersikap empati untuk meningkatkan ungkapan
keraguan, ketakutan dan keputusasaan
• Beri mengungkapkan untuk mengungkapkan dan
bagaimana harapannya.
• Beri waktu dan kesempatan untuk menceritakan arti
penderitaan, kematian, dan lain-lain.
• Beri dukungan pada tindakan atau ucapan klien yang
menunjukkan keinginan untuk hidup.
Rasional: Klien akan berusaha karena didengarkan dan
didukung, dan mengurangi potensi untuk melakukan bunuh
diri
SP 3 Tujuan Khusus: Klien dapat meningkatkan harga diri
Intervensi:
• Bantu untuk memahami klien dapat mengatasi bahwa
keputusasaannya.
• Kaji dan kerahkan sumber-sumber internal individu.
• Bantu Identifikasi sumber harapan (misal: hubungan antar
sesama, keyakinan, hal-hal untuk akar harapan).
Rasional: Memulihkan harga diri klien merupakan upaya
untuk mencegah klien berpikir bunuh diri lagi.
SP 4 Tujuan Khusus: Klien dapat menggunakan koping yang
adaptif
Intervensi:
• Ajarkan untuk mengidentifikasi pengalaman yang
menyenangkan setiap hari (misal: berjalan-jalan, membaca
buku favorit, menulis surat dll.)
• Membantu untuk membantu hal-hal yang ia cintai dan
yang ia sayang, dan pentingnya terhadap kehidupan orang
lain, mengesampingkan tentang kegagalan dalam
kesehatan.
• Beri dorongan untuk berbagi keprihatinan pada orang lain
yang mempunyai suatumasalah dan atau penyakit yang
sama dan telah memiliki pengalaman positif dalam
mengatasi masalah tersebut dengan cara mengatasi
masalah yang efektif.
Rasional: Meningkatkan kemampuan klien agar bisa menjadi
adaptif ketika mengalami keputusasaan
I. PROSES KEPERAWATAN
STRATEGI PELAKSANAAN RESIKO BUNUH DIRI SP 1 PASIEN
DS :
1. Klien mengatakan ada yang menyuruh bunuh diri
2. Klien mengatakan lebih baik mati saja
3. Klien mengatakan sudah bosan hidup
DO :
1. Ekspresi murung
2. Tak bergairah
3. Ada bekas percobaan bunuh diri
Diagnosa keperawatan
Resiko bunuh diri
Tujuan
1. Klien tidak dapat melakukan percobaan bunuh diri
Tindakan Keperawatan
1. Mengidentifikasi beratnya masalah risiko bunuh diri
2. Mengidentifikasi benda-benda yang dapat membahayakan pasien
3. ;atih cara mengendalikan diri dari dorongan bunuh diri
4. Masukan pada jadwal latihan berfikir positif
A. Orientasi
1. Salam Terapeutik
“Assalamualaikum perkenalkan nama saya X, saya senang dipanggil X.
Saya mahasiswa praktek dari Universitas Bhamada Slawi. Nama
Bapak/Ibu siapa? Senang dipanggil apa Pak/Bu?”
2. Validasi
“Bagaimana perasaan dan kabar Bapak hari ini? Bagaimana tidur Bapak
semalam?”
3. Kontrak
“Bagaimana Pak kalau hari ini kita berbincang-bincang tentang benda-
benda apa saja yang dapat membahayakan diri Bapak, serta bagaimana cara
mengendalikan dorongan bunuh diri? Tujuannya agar bapak tahu
benda-benda apa saja yang dapat membahayakan diri bapak, serta bapak
dapat mengetahui cara mengendalikan dorongan bunuh diri. Dimana kita
akan bicara? Bagaimana kalau di taman Pak? Berapa lama kita akan
berbincang-bincang? Bagaimana kalau waktu berbimcang-bincang kita
selama 15 menit? Apakah Bapak setuju?”
B. Fase kerja
“Bapak, apakah Bapak tahu benda-benda yang dapat membahayakan diri
bapak? coba sebutkan apa saja benda-benda tersebut. Bagus sekali Bapak,
Bapak tahu benda-benda yang dapat membahayakan diri Bapak. Apakah
salah satu benda tersebut ada dikamar Bapak? Kalau ada benda tersebut
jangan Bapak dekati atau pegang ya Pak. Apa bapak sering mendengar
bisikan yang mendorong Bapak untuk melakukan bunuh diri? Apa yang
Bapak lakukan ketika suara-suara itu datang? Bapak, bagaimana kalau
saya ajarkan cara-cara lain untuk mengusir suara-suara itu, apakah Bapak
mau? Pak, kalau suara-suara itu ada, bapak tutup kedua telinga rapat-rapat
seperti ini Pak, dan katakan dengan keras JAUHI SAYA, PERGI
KAMU !!! KAMU PALSU. Coba Bapak lakukan seperti yang saya
ajarkan tadi. Iya Pak seperti itu, bagus sekali”
C. Fase terminasi
1. Evaluasi subjektif dan objektif
“Bagaimana perasaan Bapak setelah Bapak mengetahui benda-benda yang
dapat membahayakan diri Bapak, dan mengetahui cara mengusir suara-
suara yang menyuruh Bapak melakukan bunuh diri? Coba Bapak ulangi
lagi apa yang saya ajarkan tadi. Iya begitu pak, bagus”
2. RTL
“Bapak, selama kita tidak bertemu, bila Bapak melihat benda-benda yang
dapat membahayakan Bapak, segera jauhi, dan jika Bapak mendengar
suarasuara itu kembali, segera Bapak usir dengan cara yang sudah kita
pelajari tadi ya Pak”
3. Kontrak yang akan datang
“Baiklah sekarang Bapak saya tinggal dulu, kapan kita bisa bertemu lagi
Pak? Bagaimana kalau besok? Baiklah besok kita akan membahas tentang
cara berfikir positif tentang diri sendiri dan menghargai diri sebagai
individu yang berharga. Tempatnya mau dimana Pak? Bagaimana kalau di
taman Pak? Jam berapa Pak ? Bagaimana kalau jam 09.00 ? Apakah
Bapak setuju ? Baiklah Pak selamat beristirahat”
STRATEGI PELAKSANAAN RESIKO BUNUH DIRI SP 2 PASIEN
DS :
1. Klien mengatakan ada yang menyuruh bunuh diri
2. Klien mengatakan lebih baik mati saja
3. Klien mengatakan sudah bosan hidup
DO :
1. Ekspresi murung
2. Tak bergairah
Diagnosa keperawatan
Resiko bunuh diri
Tujuan Khusus
1. Klien dapat berfikir positif terhadap dirinya sendiri
Tindakan Keperawatan
1. Evaluasi kegiatan berfikir positif tentang diri,keluaraga dan lingkungan
2. Latih cara mengendalikan diri dari dorongan bunuh [Link] daftar aspek
positif keluarga dan lingkungan
3. Masukan pada jadwal latihan berfikir positif tentang diri, keluarga dan
lingkungan
A. Orientasi
1. Salam terapetik
“Assalamualaikum, selamat pagi Bapak, Masih ingat dengan saya? Benar,
saya perawat Dimas”
2. Validasi
“Bagaimana perasaan Bapak hari ini? Bagaimana dengan tidur Bapak
semalam?”
3. Kontrak
“Bapak masih ingat dengan kontrak kita kemarin? Iya, kita akan
berbincangbincang tentang cara berfikir positif tentang diri sendiri dan
mengahargai diri sebagai individu yang berharga. Tujuannya agar Bapak
lebih berfikir positif terhadap diri Bapak sendiri, dan Bapak lebih
menghargai diri sendiri. Bagaimana kalau kita berbincang-
bincang di taman sesuai dengan kontrak kita kemarin? Apa bapak mau?
Berapa lama kita akan berbicara? Bagaimana kalau 15 menit sesuai
kontrak kita kemarin juga yang telah di tentukan? Apakah Bapak setuju?”
B. Fase Kerja
“Apa yang Bapak tidak sukai dari anggota tubuh Bapak? Bisa Bapak jelaskan
alasan Bapak tidak suka dengan bagian anggota tubuh tersebut? Jadi kalau
Bapak merasa anggota tubuh tersebut tidak Bapak sukai, cobalah dari
sekarang Bapak mulai mencoba menyukainya, contoh : Bapak bisa menulis
dengan teknik yang berbeda, lihat Pak seperti saya. Coba Bapak lakukan
seperti saya tadi, ya begitu Pak”.bagus”
C. Fase Terminasi
1. Evaluasi subjektif dan objektif
“Bagaimana perasaan Bapak setelah apa yang kita bicarakan tadi? Saya
senang jika Bapak mulai sekarang mencoba menyukai anggota tubuh
Bapak yang Bapak anggap tidak suka. Nah sekarang Coba bapak
lakukan kembali apa yang sudah kita bicarakan tadi, dan tekhnik cara
menulis. Iya bagus Pak, Bapak luar biasa”
2. RTL
“Bapak, selama kita tidak bertemu, Bapak bisa melakukan teknik menulis
yang seperti saya ajarkan tadi”
3. Kontrak yang akan datang
“kapan kita bisa bertemu lagi Pak? Bagaimana kalau besok? Baiklah besok
kita akan membahas tentang cara melakukan hal yang baik ketika sedang
mengalami masalah. mau dimana kita berbicara Pak? Bagaimana kalau di
taman lagi Pak? Mau jam berapa Pak ? Bagaimana kalau jam 10.00? Baik
besok kita bertemu lagi di taman jam 10.00 ya Pak? Apakah Bapak setuju?
Baiklah Pak selamat beristirahat. Wassalamualaikum”
STRATEGI PELAKSANAAN RESIKO BUNUH DIRI SP 3 PASIEN
DS :
1. Klien mengatakan ada yang menyuruh bunuh diri
2. Klien mengatakan lebih baik mati saja
3. Klien mengatakan sudah bosan hidup
DO :
1. Ekspresi murung
2. Tak bergairah
3. Ada bekas percobaan bunuh diri Diagnosa keperawatan : Resiko bunuh diri
Tujuan Khusus
1. Mengidentifikasi pola koping pasien
Tindakan Keperawatan
1. Evaluasi kegiatan berfikir positif tentang diri
2. Diskusikan harapan dan masa depan
3. Latih cara mencapai harapan dan masa depan
4. Latih cara mencapai harapan dan masa depan secra bertahap
5. Masukkan pada jadwal latihan berfikir positif tentang diri
A. Orientasi
1. Salam terapetik
“Assalamualaikum, selamat pagi Bapak, Masih ingat dengan saya? Benar, saya
perawat Dimas”
2. Validasi
“Bagaimana perasaan Bapak hari ini? Bagaimana dengan tidur Bapak
semalam?”
3. Kontrak
“Bapak masih ingat dengan kontrak kita kemarin? kita akan berbincangbincang
tentang bagaimana cara Bapak melakukan hal yang baik ketika sedang
mengalami masalah. Tujannya supaya Bapak dapat melakukan hal yang
positif ketika Bapak sedang mengalami masalah. Bagaimana kalau kita
berbincang-bincang ditaman sesuai dengan kontrak kita kemarin? Apa Bapak
mau? Berapa lama kita akan berbicara? Bagaimana kalau 15 menit sesuai
kontrak kita kemarin? Apakah Bapak setuju?”
B. Fase Kerja
“Bapak, ketika Bapak sedang mangalami masalah, apa yang Bapak lakukan?
Apalagi Pak? Bagus sekali Bapak ini. Jadi kalau Bapak sedang mengalami
masalah seperti itu, Bapak bisa melakukan hal-hal yang membuat Bapak
sibuk, tapi sibuk dengan hal-hal yang positif, seperti apa yang bapak katakan
tadi, misalnya : main bola, menyapu halaman dan shalat. Sekarang coba
Bapak sebutkan lagi kegiatan-kegiatannya! Iya bagus Pak”
C. Fase terminasi
1. Evaluasi Subjektif dan objektif
“Bagaimana perasaan Bapak setelah apa yang kita bicarakan tadi? Saya senang
jika Bapak melakukan kegiatan-kegiatan yang tadi kita bicarakan. Sekarang
coba Bapak sebutkan kembali apa yang sudah kita bicarakan tadi! Pintar
sekali bapak ini”.
2. RTL
“Bapak, selama kita tidak bertemu, Bapak bisa melakukan kegiatan-
kegiatan tadi, seperti main bola, menyapu, dan shalat. Kemudian Bapak
masukan kedalam jadwal kegiatan harian Bapak ya”
[Link] yang akan datang
“Baiklah sekarang Bapak saya tinggal dulu, kapan kita bisa bertemu lagi Pak?
Bagaimana kalau besok? Baiklah besok kita akan membahas tentang
membuat rencana untuk masa depan. Dimana kita akan berbicara Pak?
Bagaimana kalau di taman lagi Pak? Mau jam berapa Pak? Bagaimana
kalau jam 10 lagi? Baik besok kita bertemu lagi jam 10 di taman ya Pak.
Apakah bapak setuju? Baiklah pak selamat beristirahat.
Wassalamualaikum”
STRATEGI PELAKSANAAN RESIKO BUNUH DIRI SP 4 PASIEN
DS :
1. Klien mengatakan ada yang menyuruh bunuh diri
2. Klien mengatakan lebih baik mati saja
3. Klien mengatakan sudah bosan hidup
DO :
1. Ekspresi murung
2. Tak bergairah
3. Ada bekas percobaan bunuh diri
Diagnosa keperawatan :
Resiko bunuh diri
Tujuan Khusus
1. Klien dapat mencapai masa dpan yang realistis
Tindakan Keperawatan
1. Evaluasi kegiatan berfikir positi tentang diri
2. Latih tahap kedua kegiatan mencapai masa depan
3. Masukkan pada jadwal latihan berfikir positif tentang diri
A. Orientasi
1. Salam terapetik
“Assalamualaikum, selamat pagi Bapak, Masih ingat dengan saya? Benar,
saya perawat Dimas”
2. Validasi
“Bagaimana perasaan Bapak hari ini? Bagaimana dengan tidur Bapak
semalam?”
3. Kontrak
“Bapak masih ingat dengan kontrak kita kemarin? Kita akan
berbincangbincang tentang bagaimana cara Bapak melakukan hal yang
baik ketika sedang mengalami masalah. Tujuannya supaya Bapak dapat
merencanakan masa depan yang jauh lebih baik dari sebelumnya dan
Bapak dapat mencapai masa depan yang nyata. Bagaimana kalau kita
berbincang-bincang ditaman sesuai dengan kontrak kita kemarin? Apa Bapak
mau? Berapa lama kita akan berbicara?Bagaimana kalau 15 menit sesuai
kontrak kita kemarin juga yang telah di tentukan? Mau dimana kita berbicara?
Bagaimana kalau di taman seperti kontrak kita kemarin? Apakah bapak
setuju?”
B. Fase Kerja
“Bapak, apa keinginan Bapak dari dulu sampai sekarang? Apalagi Pak?
Apakah masih ada? Sampai saat ini sudah ada keinginan Bapak yang sudah
tercapai?
Wah hebat”.. yang belum tercapai apa Pak? Harapan Bapak sangat bagus sekali,
Bapak bisa berusaha semampu Bapak dengan cara yang sabar, lebih giat, ikhtiar
dan berdoa. Kegagalan bukan akhir dari sebuah harapan Pak, namun cobaan yang
nantinya akan membawa Bapak ke arah yang bapak harapkan selama ini. Jadi,
selalu berusaha menjadi yang terbaik ya Pak, kejar cita-cita Bapak sampai dapat
dan ingat, kejar harapan itu sesuai kemampuan Bapak”.
C. Fase terminasi
1. Evaluasi Subjektif dan Objektif
“Bagaimana perasaan Bapak setelah apa yang kita bicarakan tadi? Saya
senang jika Bapak melakukan apa yang sudah tadi kita bicarakan. Coba Bapak
sebutkan kembali apa yang seharusnya kita lakukan ketika kita
menginginkan sesuatu! Pintar sekali Bapak ini”
2. RTL
“Bapak, selama kita tidak bertemu, Bapak bisa melakukan hal seperti tadi
untuk mencapai keinginan Bapak yang nyata, Bapak mesti lebih sabar, lebih
giat, ikhtiar dan berdoa. Jangan sampai menyerah ya Pak. Sukses untuk Bapak”
G. Daftar Pustaka
Hendra. 2010. Buku Ajar Psikiatri. Jakarta: Badan Penerbit FKUI
Keliat, Budi Anna. 2011. Keperawatan Kesehatan Jiwa
Komunitas: CMHN (Basic Course). Jakarta: EGC
Keliat, Budi Anna. 2009. Model Praktik Keperawatan Profesional
Jiwa. Jakarta: EGC.
Maramis, W.F. 2012. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Jakarta: EGC.
NANDA.2011. Diagnosis Keperawatan: Definisi dan Klasifikasi
[Link] 10. Jakarta: EGC
Puroa, J. M, dkk. 2008. Asuhan Keperawatan pada
Klien dengan Masalah Psikososial dan Gangguan Jiwa.
Medan: USU Press.
Stuart dan Sundeen. 2005. Buku Saku Keperawatan Jiwa Edisi 3.
Jakarta: EGC.
Syafitri, Endang Nurul dkk. 2016. Buku Panduan Praktikum
Keperawatan Jiwa I Yogyakarta: Nuha Medika.
Townsend, C.M. 2011. Diagnosa Keperawatan Psikiatri Edisi 3.
Jakarta: EGC Utama,