0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
24 tayangan12 halaman

Asuhan Keperawatan Pasien Asma IGD

Dokumen ini adalah laporan pendahuluan dan asuhan keperawatan untuk pasien dengan asma di Puskesmas Desa Wajak. Asma didefinisikan sebagai penyakit inflamasi kronis saluran napas dengan gejala seperti sesak napas dan mengi, yang dipicu oleh faktor genetik dan lingkungan. Penatalaksanaan mencakup pendekatan non-farmakologi dan farmakologi untuk mengontrol gejala dan meningkatkan kualitas hidup pasien.

Diunggah oleh

Ajeng Cahyati
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
24 tayangan12 halaman

Asuhan Keperawatan Pasien Asma IGD

Dokumen ini adalah laporan pendahuluan dan asuhan keperawatan untuk pasien dengan asma di Puskesmas Desa Wajak. Asma didefinisikan sebagai penyakit inflamasi kronis saluran napas dengan gejala seperti sesak napas dan mengi, yang dipicu oleh faktor genetik dan lingkungan. Penatalaksanaan mencakup pendekatan non-farmakologi dan farmakologi untuk mengontrol gejala dan meningkatkan kualitas hidup pasien.

Diunggah oleh

Ajeng Cahyati
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN

PASIEN DENGAN KASUS ASMA DI RUANG IGD


PUSKESMAS DESA WAJAK

Disusun Oleh:

AJENG CAHYATI

24128009

PROGRAM STUDI S1 ILMU KEPERAWATAN

ITSK RS DR. SOEPRAOEN KESDAM V/BRAWIJAYA MALANG

TAHUN 2025/2026
LEMBAR PENGESAHAN

Laporan Pendahuluan Dengan Asma

Di Puskesmas Desa Wajak

telah dikonsultasikan dan disetujui pada tanggal……………….

Mengetahui,

Pembimbing Akademik Pembimbing Klinik

(.......................................) (.......................................)
I. KONSEP DASAR ASMA
A. Definisi
Asma adalah penyakit inflamasi kronis saluran napas yang ditandai dengan
hiperresponsivitas bronkus, obstruksi saluran napas yang reversibel (sebagian atau
seluruhnya), dan gejala pernapasan berulang seperti mengi, sesak napas, dada terasa berat,
dan batuk, terutama pada malam hari atau dini hari. Inflamasi ini menyebabkan
penyempitan saluran napas akibat bronkokonstriksi, edema mukosa, dan produksi mukus
berlebihan.
Asma merupakan suatu keadaan kondisi paru-paru kronis yang ditandai dengan
kesulitan bernafas, dan menimbulkan gejala sesak nafas, dada terasaberat, dan batuk
terutama pada malam menjelang dini hari. Dimana saluran pernafasan mengalami
penyempitan karenahiperaktivitas terhadap rangsangan tertentu, yang menyebabkan
penyempitan atau peradangan yang bersifat sementara.
B. Etiologi
Asma disebabkan oleh interaksi kompleks antara faktor genetik dan lingkungan.
1. Faktor Genetik/Predisposisi: Riwayat keluarga dengan asma atau atopi
(kecenderungan untuk mengembangkan reaksi alergi) meningkatkan risiko.
2. Faktor Lingkungan/Pencetus:
 Alergen: Tungau debu rumah, serbuk sari, bulu hewan, kecoa, jamur.
 Iritan: Asap rokok (aktif/pasif), polusi udara, bau menyengat, debu.
 Infeksi Saluran Napas: Terutama virus (misalnya, influenza, RSV).
 Perubahan Cuaca: Udara dingin dan kering, perubahan kelembaban.
 Aktivitas Fisik: Asma yang diinduksi oleh olahraga.
 Obat-obatan: Aspirin, NSAID, beta-blocker.
 Stres Emosional: Kecemasan, panik, tawa berlebihan.
 Makanan dan Aditif: Sulfit pada makanan olahan, beberapa jenis kacang, susu
(jarang).
 Refluks Gastroesofageal (GERD).
C. Patofisiologi
Asma melibatkan respons imunologik kompleks yang menyebabkan inflamasi saluran
napas. Paparan terhadap pencetus pada individu yang rentan memicu respons sel mast,
eosinofil, limfosit T helper tipe 2 (Th2), dan sel lain.
1. Fase Cepat (Early Asthmatic Response): Terjadi dalam menit setelah paparan alergen.
Sel mast melepaskan mediator inflamasi seperti histamin, leukotrien, dan
prostaglandin. Ini menyebabkan:
 Bronkokonstriksi: Otot polos bronkus mengerut, menyebabkan penyempitan
saluran napas.
 Peningkatan Produksi Mukus: Kelenjar mukus menghasilkan lendir
berlebihan.
 Edema Mukosa: Pembengkakan lapisan dalam saluran napas.
2. Fase Lambat (Late Asthmatic Response): Terjadi 4-12 jam setelah paparan. Ini
melibatkan influks sel-sel inflamasi (eosinofil, neutrofil, limfosit) ke saluran napas
yang melepaskan mediator lebih lanjut. Hal ini memperburuk bronkospasme, edema,
dan produksi mukus, serta menyebabkan hiperresponsivitas bronkus yang persisten.
3. Remodelling Airway: Pada asma kronis dan tidak terkontrol, terjadi perubahan
struktural ireversibel pada saluran napas, seperti penebalan dinding bronkus,
hipertrofi otot polos, dan angiogenesis, yang dapat menyebabkan obstruksi saluran
napas yang menetap.
D. Pathway
E. Manifestasi Klinis
Gejala asma bervariasi intensitasnya dan dapat muncul secara tiba-tiba atau bertahap:
1. Mengi (Wheezing): Suara napas bernada tinggi yang dihasilkan dari udara yang
melewati saluran napas yang menyempit, terutama saat ekspirasi.
2. Sesak Napas (Dyspnea): Perasaan sulit bernapas, seringkali menyebabkan takipnea.
3. Batuk: Terutama batuk kering, berulang, atau memburuk pada malam hari/dini hari,
atau saat beraktivitas.
4. Dada Terasa Berat/Nyeri Dada: Sensasi tekanan atau berat di dada.
5. Gejala Lain: Peningkatan frekuensi napas, penggunaan otot bantu pernapasan,
sianosis (pada kasus berat), gelisah, kesulitan berbicara.
F. Klasifikasi Asma
Klasifikasi asma didasarkan pada tingkat keparahan gejala dan fungsi paru sebelum
pengobatan, atau tingkat kontrol setelah pengobatan.
Klasifikasi Tingkat Keparahan (Sebelum Pengobatan):
 Kategori | Gejala Siang Hari | Gejala Malam | Penggunaan Agonis Beta-2 Kerja
Singkat | Gangguan Aktivitas | Fungsi Paru (APE/VEP1)
 Intermiten | < 2x/minggu | < 2x/bulan | < 2x/minggu | Minimal | > 80% prediksi
 Persisten Ringan | > 2x/minggu tapi < 1x/hari | > 2x/bulan | > 2x/minggu | Ringan | >
80% prediksi
 Persisten Sedang | Setiap hari | > 1x/minggu | Setiap hari | Sedang | 60-80% prediksi |
| Persisten Berat | Sepanjang hari | Seringkali setiap malam | Beberapa kali sehari |
Berat | < 60% prediksi
Keterangan: APE = Arus Puncak Ekspirasi, VEP1 = Volume Ekspirasi Paksa dalam 1 detik.
G. Komplikasi
1. Status Asmatikus: Serangan asma berat yang tidak responsif terhadap terapi standar,
mengancam jiwa.
2. Gagal Napas Akut: Akibat obstruksi jalan napas yang berat.
3. Pneumotoraks/Pneumomediastinum: Komplikasi jarang akibat tekanan intrathoraks
yang tinggi saat batuk atau bernapas keras.
4. Atelektasis: Kolaps sebagian atau seluruh paru.
5. Atelektasis: Kolaps sebagian atau seluruh paru.
6. Kecemasan dan Depresi: Akibat penyakit kronis dan keterbatasan aktivitas.
7. Bronkiektasis: Kerusakan permanen pada saluran napas (jarang sebagai komplikasi
langsung asma).

H. Pemeriksaan Penunjang
1. Spirometri: Mengukur fungsi paru (VEP1, FVC, rasio VEP1/FVC). Penurunan
VEP1/FVC dan respons terhadap bronkodilator (peningkatan VEP1 > 12% dan 200
ml) mengonfirmasi diagnosis.
2. Arus Puncak Ekspirasi (APE): Diukur dengan peak flow meter, berguna untuk
monitoring harian.
3. Tes Provokasi Bronkus: Dengan metakolin atau histamin untuk menunjukkan
hiperresponsivitas (jika spirometri normal tapi gejala sugestif asma).
4. Uji Alergi: Skin prick test atau RAST (Radioallergosorbent Test) untuk
mengidentifikasi alergen pencetus.
5. Rontgen Dada: Biasanya normal, tetapi dapat menunjukkan komplikasi (misalnya,
pneumotoraks, pneumonia) atau menyingkirkan diagnosis lain.
6. Analisis Gas Darah (AGD): Pada serangan asma berat untuk menilai status oksigenasi
dan ventilasi.
7. Darah Lengkap: Eosinofilia mungkin ditemukan pada asma alergi.
I. Penatalaksanaan Medis
Tujuan penatalaksanaan adalah mengontrol gejala, mencegah eksaserbasi,
mempertahankan fungsi paru optimal, dan meningkatkan kualitas hidup.
1. Penatalaksanaan Non-Farmakologi:
 Edukasi pasien dan keluarga tentang asma dan rencana aksi asma.
 Identifikasi dan hindari faktor pencetus.
 Berhenti merokok.
 Manajemen stres.
 Olahraga teratur (dengan pemanasan yang cukup).
2. Penatalaksanaan Farmakologi:
 Obat Pengontrol (Controller): Digunakan setiap hari jangka panjang untuk
mencegah gejala.
 Kortikosteroid Inhalasi (ICS): Anti-inflamasi primer (contoh:
Budesonide, Fluticasone).
 Agonis Beta-2 Kerja Lama (LABA): Dikombinasikan dengan ICS
(contoh: Salmeterol, Formoterol).
 Antagonis Reseptor Leukotrien (LTRA): (contoh: Montelukast).
 Kortikosteroid Oral: Untuk asma berat atau eksaserbasi akut.
 Obat Pelega (Reliever): Digunakan saat gejala muncul atau sebelum paparan
pencetus untuk meredakan bronkospasme.
 Agonis Beta-2 Kerja Singkat (SABA): Obat pilihan pertama untuk
serangan akut (contoh: Salbutamol/Albuterol, Terbutaline).
 Antikolinergik: (contoh: Ipratropium bromide), sering
dikombinasikan dengan SABA pada serangan berat.

II. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN


A. Pengkajian Keperawatan
1. Identitas Pasien: Nama, usia, jenis kelamin, alamat, pekerjaan, pendidikan, agama,
status perkawinan, tanggal masuk RS, diagnosis medis.
2. Riwayat Kesehatan Sekarang:
 Keluhan Utama: Sesak napas, batuk, mengi, nyeri dada.
 Onset: Kapan mulai sesak? Bagaimana progresinya?
 Faktor Pencetus: Apa yang memicu serangan? (alergen, infeksi, aktivitas,
emosi, dll.).
 Karakteristik Sesak: Kapan memburuk (malam hari, dini hari)? Seberapa berat
(skala sesak)?
 Upaya yang Sudah Dilakukan: Obat yang diminum, posisi yang meringankan.
3. Riwayat Kesehatan Dahulu:
 Riwayat asma sebelumnya (diagnosis kapan, frekuensi serangan, riwayat
intubasi).
 Riwayat alergi (obat, makanan, lingkungan).
 Riwayat penyakit penyerta (GERD, rinitis alergi, PPOK, jantung).
 Riwayat penggunaan obat-obatan jangka panjang.
4. Riwayat Kesehatan Keluarga: Adakah anggota keluarga dengan asma atau penyakit
alergi lainnya.
5. Pengkajian Pola Fungsional Gordon:
 Pola Persepsi Kesehatan - Manajemen Kesehatan: Pengetahuan pasien tentang
asma, kepatuhan pengobatan, kebiasaan merokok.
 Pola Nutrisi - Metabolik: Nafsu makan, intake cairan, status gizi.
 Pola Eliminasi: Tidak ada kaitan langsung, tetapi perlu dikaji.
 Pola Aktivitas - Latihan: Keterbatasan aktivitas karena sesak, kemampuan
ADL.
 Inspeksi: Penggunaan otot bantu napas (sternokleidomastoid, interkostal,
diafragma), retraksi dinding dada, pernapasan cuping hidung, posisi tripot,
sianosis, kesadaran.
 Palpasi: Fremitus taktil.
 Perkusi: Hipersonor pada paru akibat udara terperangkap (hiperinflasi).
 Auskultasi: Mengi (wheezing) ekspirasi/inspirasi, penurunan suara napas,
ronkhi.
 Pola Tidur - Istirahat: Gangguan tidur akibat batuk atau sesak malam hari.
 Pola Kognitif - Perseptual: Tingkat kesadaran, orientasi, nyeri dada (jika ada).
 Pola Persepsi Diri - Konsep Diri: Kecemasan, ketakutan, perubahan citra diri.
 Pola Peran - Hubungan: Dampak penyakit terhadap peran dan hubungan
sosial.
 Pola Seksualitas - Reproduksi: Tidak ada kaitan langsung, tetapi perlu dikaji.
 Pola Koping - Toleransi Stres: Cara pasien mengatasi stres terkait penyakit.
 Pola Nilai - Kepercayaan: Pandangan pasien terhadap penyakit dan
pengobatan.
6. Pemeriksaan Fisik (Fokus pada Sistem Pernapasan):
 Status Umum: Kesadaran, TTV (TD, Nadi, Suhu, RR), SPO2. Takikardia,
takipnea.
 Sistem Pernapasan:
 Sistem Kardiovaskuler: Takikardia.
 Sistem Integumen: Sianosis (bibir, kuku), turgor kulit.
7. Data Penunjang: Hasil spirometri, AGD, rontgen dada, hasil alergi.
B. Diagnosa Keperawatan (SDKI)
1. Pola Napas Tidak Efektif berhubungan dengan hambatan upaya napas (misalnya,
bronkospasme, sekresi jalan napas berlebihan, hiperinflasi paru).
2. Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif berhubungan dengan spasme jalan napas,
hipersekresi jalan napas, atau disfungsi silia.
3. Gangguan Pertukaran Gas berhubungan dengan ketidakseimbangan ventilasi-
perfusi (misalnya, bronkospasme, penumpukan sekret).
4. Intoleransi Aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan
kebutuhan oksigen, kelemahan umum.
5. Defisit Pengetahuan berhubungan dengan kurang terpapar informasi, kurang minat
belajar tentang penyakit dan penatalaksanaannya.
6. Ansietas berhubungan dengan krisis situasional, perubahan status kesehatan, ancaman
kematian.
C. Rencana Asuhan Keperawatan (SLKI - SIKI)
1. Pola Napas Tidak Efektif *
Tujuan (SLKI): Setelah dilakukan tindakan keperawatan, pola napas membaik dengan
kriteria hasil: Peningkatan frekuensi napas normal (16-20x/menit). Penurunan
penggunaan otot bantu napas. Tidak ada retraksi dinding dada. Tidak ada pernapasan
cuping hidung. SPO2 dalam batas normal (>95%). Tidak ada suara napas tambahan
(mengi).
Intervensi (SIKI): Pemantauan Pernapasan: Monitor frekuensi, irama, kedalaman
napas, dan upaya napas. Monitor penggunaan otot bantu napas. Monitor suara napas
tambahan (mengi). Monitor saturasi oksigen. Manajemen Jalan Napas: Posisikan semi-
Fowler atau Fowler. Ajarkan teknik napas dalam dan batuk efektif. Lakukan fisioterapi
dada jika diperlukan. Lakukan penghisapan lendir jika ada indikasi. Pemberian
Bronkodilator: Kolaborasi dalam pemberian bronkodilator sesuai instruksi dokter
(nebulizer/inhaler). Terapi Oksigen: Kolaborasi pemberian oksigen sesuai indikasi.
Edukasi: Anjurkan istirahat cukup. Anjurkan menghindari pencetus.
2. Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Tujuan (SLKI): Setelah dilakukan tindakan keperawatan, bersihan jalan napas efektif
dengan kriteria hasil: Tidak ada suara napas tambahan (mengi, ronkhi). Frekuensi napas
normal. Tidak ada batuk berlebihan atau kesulitan batuk. Jalan napas paten.
Intervensi (SIKI): Latihan Batuk Efektif: Ajarkan teknik batuk efektif. Manajemen
Jalan Napas: Atur posisi semi-Fowler/Fowler. Anjurkan intake cairan yang cukup (jika
tidak ada kontraindikasi) untuk mengencerkan sekret. Lakukan penghisapan lendir jika
diperlukan. Pemberian Obat: Kolaborasi dalam pemberian mukolitik atau bronkodilator.
3. Gangguan Pertukaran Gas
Tujuan (SLKI): Setelah dilakukan tindakan keperawatan, pertukaran gas membaik
dengan kriteria hasil:pH arteri, PaCO2, PaO2 dalam batas normal. SPO2 dalam batas
normal (>95%). Tidak ada sianosis. Tidak ada dispnea. Tidak ada kebingungan atau
agitasi.
Intervensi (SIKI): Pemantauan Respirasi: Monitor status pernapasan dan oksigenasi
secara teratur. Terapi Oksigen: Berikan oksigen sesuai instruksi dokter. Manajemen
Asam Basa: Monitor hasil AGD. Posisikan: Semi-Fowler/Fowler. Kolaborasi:
Pemberian bronkodilator atau kortikosteroid.
D. Implementasi Keperawatan
Melaksanakan intervensi keperawatan sesuai rencana yang telah ditetapkan.
Dokumentasikan semua tindakan yang dilakukan dan respons pasien.
E. Evaluasi Keperawatan
Mengevaluasi keberhasilan tindakan keperawatan berdasarkan kriteria hasil yang
telah ditetapkan pada SLKI. Dokumentasikan hasilnya dalam SOAP (Subjektif, Objektif,
Analisis, Planning):
 S (Subjektif): Keluhan pasien setelah intervensi.
 O (Objektif): Data hasil pemeriksaan fisik dan penunjang setelah intervensi.
 A (Analisis): Bandingkan data subjektif dan objektif dengan kriteria hasil. Apakah
masalah teratasi, teratasi sebagian, atau belum teratasi?
 P (Planning): Rencana tindak lanjut (lanjutkan intervensi, modifikasi, atau hentikan).
DAFTAR PUSTAKA

Tim Pokja SDKI DPP PPNI. (2018). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI):
Definisi dan Indikator Diagnostik. Edisi 1 Cetakan III. Jakarta: PPNI.
Tim Pokja SLKI DPP PPNI. (2018). Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI):
Definisi dan Kriteria Hasil Keperawatan. Edisi 1 Cetakan III. Jakarta: PPNI.
Tim Pokja SIKI DPP PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI):
Definisi dan Tindakan Keperawatan. Edisi 1 Cetakan III. Jakarta: PPNI.
Global Initiative for Asthma (GINA). (2025). Global Strategy for Asthma Management and
Prevention. (Sesuai tahun terkini, GINA rutin memperbarui panduan mereka).
Muttaqin, A. (2008). Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Pernapasan.
Jakarta: Salemba Medika.

Anda mungkin juga menyukai