PENERAPAN PEMBELAJARAN
BERBASIS PROBLEM BASED LEARNING (PBL) UNTUK
MENGEMBANGKAN KETERAMPILAN SISWA ABAD 21
PADA MATERI FIQIH
(Studi Kasus MA Salafiyah Karangtengah Kec. Warungpring Kab. Pemalang)
PROPOSAL TESIS
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat
Untuk Memperoleh Gelar Magister Pendidikan ( [Link] )
Pada Jurusan Pendidikan Agama Islam ( PAI )
Oleh :
AMIN
NIM : 18086030016
Oleh :
NURHAFIDZ ALFARUQ
NIM. 2486080084
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
PROGRAM PASCASARJANA PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
(PAI)
SYEKH NURJATI CIREBON
TAHUN 2025
A. Latar Belakang Masalah
Strategi dalam proses belajar mengajar sangatlah penting. Strategi
memiliki bagian penting dengan perspektif bagaimana pendidikan akan
dilakukan dan dijalankan, terutama pada proses belajar mengajar pendidikan
agama yang lebih khusus lagi pada materi fiqih. Upaya menanamkan dan
menerapkan nilai-nilai ajaran agama Islam yang ada pada materi fiqih
kemudian bisa diserap, dikhayati serta diamalkan oleh siswa merupakan bagian
dari strategi pembelajaran pada sebuah pendidikan. Tantangan pembelajaran
agama Islam pada materi fiqih adalah terkait bagaiaman implementasinya,
bukan sekedar mengajarkan siswa tentang agama tetapi juga memotivasi siswa
untuk mempunyai keimanan dan ketaqwaan kuat sebagai pengembangan
kepribadian dan akhlak mulia.1
Pemikiran kritis, efektifitas dalam komunikasi, kerjasama, ketrampilan
digital, pemecahan amsalah dan kemandirian merupakan wujud
pengembangan keterampilan abad 21. Implementasi pembelajaran efektif
diwajibkan menstimulus pengembangan tersebut. Pembelajaran tidak hanya
tentang penguasaan konsep-konsep akademik, tetapi juga tentang penerapan
konsep-konsep tersebut dalam situasi nyata dan pengembangan keterampilan
abad ke-21. Keterlibatan aktif siswa pada pembelajaran yang efektif harus
disertai pertimbangan minat, kebutuhan, dan gaya belajar siswa. Keterlibatan
siswa secara aktif pada proses pembelajaran dan memiliki otonomi dalam
mengatur dan memonitor kemajuan mereka. Dengan mempertimbangkan
1
Soetomo, Dasar-dasar Interaksi Belajar Mengajar, (Surabaya: Usaha Nasioonal, 1993) hlm. 145
kepentingan siswa dan memberi mereka peran aktif dalam pembelajaran,
motivasi dan keterlibatan siswa dapat ditingkatkan.
Fiqih adalah ilmu yang berkaitan dengan penerapan hukum-hukum
Islam dalam kehidupan sehari-hari. Namun, seringkali siswa sulit
menghubungkan konsep-konsep fiqih dengan konteks kehidupan mereka yang
nyata. Dengan menggunakan metode PBL, siswa akan diberikan masalah-
masalah nyata yang relevan dengan kehidupan sehari-hari mereka. Hal ini akan
membantu siswa memahami konsep-konsep fiqih dengan lebih baik dan
melihat kegunaannya dalam situasi konkret.
Mata pelajaran fiqih memiliki peran penting dalam membentuk
pemahaman siswa tentang ajaran-ajaran agama dan norma-norma yang berlaku
dalam kehidupan sehari-hari. Dalam prakteknya dilembaga Islam utamanya di
pondok pesantren telah diajarkan sejak level dasar sampai dengan level paling
tinggi. Lebih-lebih pada pondok pesantren atau lembaga yang memiliki visi
untuk membentuk SDM yang tafaquh fiddin.2
Guru merupakan salah satu faktor keberhasilan. Oleh karena itu maka
seorang guru perlu memiliki pengetahuan dan sarana dalam menjalankan
tugasnya. Keberhasilan pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan
secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta
didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberi ruang yang cukup prakarsa.
2
Abdul Muiz, Peran Pesantren dalam Pembinaan Akhlak di Era Globalisasi. Fenomena,
Vol. 14 No. 2 Oktober 2015
Kreatifitas dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, serta psikologis
peserta didik.3
Tantangan dalam proses pembelajaran fiqih sering muncul, terutama
dalam hal mengembangkan pemahaman yang mendalam. Fiqih merupakan
ilmu pengetahuan dasar yang berkaitan dengan ketentuan, mekanisme, dan
prinsip-prinsip kehidupan. Praktisnya, pembelajaran ini terintegrasi dalam mata
pelajaran pendidikan Agama Islam yang diajarkan di sebuah lembaga
pendidikan.4
Salah satu model pembelajaran yang memungkinkan dikembangkannya
keterampilan berpikir peserta didik (penalaran, komunikasi, dan koneksi)
adalah pembelajaran berbasis masalah (PBM) atau dalam bahasa lain Problem
Based Learning (PBL). “Pembelajaran berbasis masalah (Problem Based
Learning) merupakan salah satu model pembelajaran inovatif yang memberi
kondisi belajar aktif kepada peserta didik dalam kondisi nyata. Karena dalam
proses belajar mengajar tersebut keaktifan siswa sangat ditekankan sedangkan
guru menjadi fasilator yang mengarahkan siswa dalam proses pembelajaran
Model pembelajaran sebagaimana dikemukakan oleh Joyce dan Weil
yang dikutip adalah suatu rencana atau pola yang dapat digunakan untuk
membentuk kurikulum (rencana pembelajaran jangka panjang), merancang
bahan-bahan pembelajaran dan membimbing pembelajaran di kelas atau yang
lain. Maksud dari model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang
3
Redja mudyahardjo, pengantar pendidikan, (Bandung: PT. Rajagrafindo Persada, 1998)
hlm.67
4
Fauzi, A. Internalisasi Nilai-nilai Agama dalam PAI Untuk Menanggulangi Kenakalan
Remaja pada Sekolah Umum (Studi Multi Situs di SMP Negeri dan SMP SwastaKartika IV-8
Malang). Jurnal Al-Wijdan: Journal of Islamic Education [Link]. 2 No. 2 (2017) hlm.97
melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasi pengalaman
belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu, dan berfungsi sebagai
pedoman/acuan bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam
merencanakan aktivitas belajar mengajar.5
Salah satu model yang saat ini sedang menjadi perhatian kalangan
pendidik adalah model Problem Based Learning (PBL) yaitu model
pembelajaran yang di dalamnya melibatkan sasaran didik untuk berusaha
memecahkan masalah dengan beberapa tahap metode ilmiah sehingga siswa
diharapkan mampu untuk mempelajari pengetahuan yang berkaitan dengan
masalah tersebut dan sekaligus siswa diharapkan mampu memiliki
keterampilan dalam memecahkan masalah. PBL akan menjadi sebuah
pendekatan pembelajaran yang berusaha menerapkan masalah yang terjadi
dalam dunia nyata, sebagai sebuah konteks bagi peserta didik untuk berlatih
bagaimana cara berpikir kritis dan mendapatkan keterampilan untuk
memecahkan masalah.6
Model pembelajaran berbasis masalah saat ini dipandang relevan untuk
menghadirkan suasana nyata di dalam pembelajaran, termasuk di lembaga
pendidikan Islam seperti madrasah dan pesantren. Secara kontekstual, model
pembelajaran berbasis masalah yang diselenggarakan di madrasah sangat
terkait dengan kehidupan nyata, yang menyangkut persoalan-persoalan di
masyarakat. Model pembelajaran berbasis masalah ini diharapkan mampu
5
Trianto, Model Pembelajaran Terpadu, Konsep, Strategi dan. Implementasinya dalam
KTSP. Jakarta: Bumi Aksara, 2010) hlm. 15
6
Ibid, hlm. 15
menyiapkan peserta didik atau santri agar mampu menyelesaikan persoalan dan
permasalahan yang muncul di tengah-tengah masyarakat.7
Berdasarkan pada uraian tersebut, Maka seorang guru harus mempunyai
perencanaan, persiapan, pelaksanan dan evaluasi pada setiap proses belajar
mengajar dalam suatu pendidikan, seorang guru harus memiliki karakter yang
teliti dalam mempertimbangkan berbagai aspek dalam pembelajaran termasuk
mengenai pendekatan dan strategi belajar yang diterapkan Oleh sebab itu,
peneliti mengambil judul Tesis “Penerapan Pembelajaran Berbasis Problem
Based Learning (PBL) Untuk Mengembangkan Keterampilan Siswa
Abad 21 Pada Materi Fiqih (Studi Kasus MA Salafiyah Karangtengah)
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana penerapan pembelajaran berbasis Problem Based Learning
(PBL) untuk mengembangkan keterampilan siswa abad 21 pada materi
Fiqih (Studi Kasus MA Salafiyah Karangtengah)?
2. Bagaiaman dampak penerapan pembelajaran berbasis Problem Based
Learning (PBL) untuk mengembangkan keterampilan siswa abad 21 pada
materi Fiqih (Studi Kasus MA Salafiyah Karangtengah)?
3. Bagaiamana factor pendukung dan penghambat dalam penerapan
pembelajaran berbasis Problem Based Learning (PBL) untuk
mengembangkan keterampilan siswa abad 21 pada materi Fiqih (Studi
Kasus MA Salafiyah Karangtengah)?
7
Lukman Hakim, “Implementasi Model Pembelajaran Berbasis Masalah Pada Lembaga
Pendidikan Islam di Madrasah”, Jurnal Pendidkan Agama Islam-Ta’lim Vol. 13, No. 1 (2015)
hlm.40
C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
1. Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah yang ada, maka tujuan yang hendak
dicapai dalam penelitian ini adalah;
a. Untuk mengidentifikasi, mendeskripsikan, dan memahami penerapan
pembelajaran berbasis Problem Based Learning (PBL) untuk
mengembangkan keterampilan siswa abad 21 pada materi Fiqih (Studi
Kasus MA Salafiyah Karangtengah)
b. Untuk mendeskripsikan secara mendalam dampak penerapan
pembelajaran berbasis Problem Based Learning (PBL) untuk
mengembangkan keterampilan siswa abad 21 pada materi Fiqih (Studi
Kasus MA Salafiyah Karangtengah)
c. Untuk menggambarkan factor pendukung dan penghambat dalam
penerapan pembelajaran berbasis Problem Based Learning (PBL) untuk
mengembangkan keterampilan siswa abad 21 pada materi Fiqih (Studi
Kasus MA Salafiyah Karangtengah).
2. Keguanaan Penelitian
Penelitian yang akan dilaksanakan ini diharapkan memberi kegunaan bagi:
a. Bagi Penulis : Dapat mengetahui Peran Guru sebagai pelaksana dari
penerapan pembelajaran berbasis Problem Based Learning (PBL) untuk
mengembangkan keterampilan siswa abad 21 pada materi Fiqih
b. Bagi penyelengara pendidikan khususnya MA Salafiyah Karangtengah
sebagai bahan masukan dalam proses belajar mengajar khususnya
materi fiqih pada penerapan pembelajaran berbasis Problem Based
Learning (PBL) untuk mengembangkan keterampilan siswa abad 21
pada materi Fiqih.
c. Bagi Siswa MA Salafiyah Karangtengah: Dapat memberikan
sumbangan informasi dan pengetahuan terhadap model pembelajaran
yang bisa memberikan semangat dan keluasan dalam memanfaatkan
teknologi yang sedang berkembang sekarang ini.
D. Kerangka Teori
Dalam penelitian ini, peneliti perlu menguraikan berbagai terori-teori
yang relevan dengan masalah yang akan diteliti sebagai pedoman dalam
penelitian.
1. Problem Based Learning (PBL)
Problem Based Learning merupakan satu model pembelajaran yang
dilakukan diawal proses kegiatan belajar mengajar dengan menyajikan suatu
permasalahan nyata yang dikaitkan dengan sebuah materi dalam
pembelajaran. Problem Based Learning merupakan model pembelajaran
yang melibatkan siswa untuk ikut memecahkan masalah nyata melalui
tahapan metode ilmiah sehingga siswa bisa mempelajari pengetahuan yang
terkait dengan masalah tersebut sekaligus mempunyai keterampilan dalam
pemecahan masalahnya.8
Joyce menuturkan bahwa model pembelajaran adalah rencana atau
template yang dipergunakan sebagai pegangan/acuan dalam membuat
8
Agus Suprijono, cooperative learning teori dan aplikasi PAIKEM (Yogyakarta: Pustaka
Pelajar, 2017) hlm.. 2
rencanarencana pembelajaran di kelas sehingga dapat ditentukan perangkat
pembelajarannya yang meliputi berbagai macam buku, komputer, kurikulum
dan lain sebagainya.9
Reza & Astuti mendefiniiskan Model pembelajaran Problem Based
Learning (PBL) bahwa model tersebut menunjukan pada pelaksanaanya
menghadapkan siswa pada suatu masalah untuk penekanan pada
pembelajaran yang kolabotarif dan sebagai salah satu pendekatan
pembelajaran yang inovatif dengan memberikan dan mengkondisikan proses
belajar mengajar yang aktif.10
Definisi PBL menurut Musyadad, dkk, adalah bahawa pembelajaran
yang didasarkan pada proses awal dengan masalah dalam kehidupan nyata
yang kemudian dari masalah tersebut siswa dirangsang untuk mempelajari,
memahami jawaban atas masalah tersebut berdasarkan pada pengetahuan
dan pengalaman yang telah dimiliki sebelumnya (prior knowledge)
sehinngga akkan terbntuk pengtahuan dan pengalaman baru.11
Ball dan Knobloch yang dikutip sutirman menyatakan bahwa
“Evidence suggests problem based learning can help promote critical
thinking skills”. Studies investigating problem-solving, a component of
critical thinking, have found that students exposed to problem based
learning consistently display growth in problem-solving skills. Selain itu,
9
Husniyatus Salamah Zainiyati, Model Dan Strategi Pembelajaran Aktif (Teori Dan
Praktek Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam) (Jakarta: CV. Putra Media Nusantara,
2010) hlm. 5-6
10
Reza Yuafian dan Astuti Suhandi, Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Menggunakan
Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) vol. 3 No. 1 tahun 2020, hlm.. 17-24
11
Musyadad, dkk, Penerapan model pembelajaran problem based learning dalam
meningkatkan hasil belajar siswa pada pelajaran IPA pada konsep perubahan lingkungan fisik dan
pengaruhnya terhadap daratan, jurnal Tahsinia, 2019, hlm..13
“pembelajaran berbasis masalah merupakan model pembelajaran yang
berangkat dari pemahaman siswa tentang suatu masalah, menemukan
alternatif solusi atas masalah, kemudian memilih solusi yang tepat untuk
digunakan dalam memecahkan masalah tersebut.12
PBL atau problem based learning merupakan model pembelajaran
yang berusahan meningkatkan memotivasi rasa ingin tahu siswa. Model
problem based learning juga menjadi wadah bagi siswa untuk dapat
mengembangkan cara berpikir kritis dan keterampilan berpikir yang lebih
tinggi bagi siswa.13
Problem Based Learning jika merujuk pada pendapat Herminarto,
maka dalam pengembangan pembelajaran tujuannya adalah untuk memnuhi
3 ranah pendidikan, yaitu ranah kognitif, Psikomotorik dan ranah afektif,
yaitu:14
a. Ranah Kognitif (Knowledges)
Mendorong siswa untuk secara langsung memecahkan masalah yang
nyata dan autentik dengan menerapkan ilmu dasar yang mereka miliki.
b. Ranah Psikomotorik (Keterampilan/Skills)
Ranah ini bertujuan dan berusaha untuk melatih siswa dalam
memecahkan masalah, berpikir kritis, belajar mandiri dan belajar seumur
hidup.
12
Sutirman, Media dan Model-Model Pembelajaran Inovatif (Yogyakarta: Graha Ilmu,
2013) hlm.. 39
13
Gunantara, dkk, Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning Untuk
Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Matermatika Siswa Kelas V. Jurnal Mimbar
PGSD Universitas Pendididkan Ganesha, 2019. hlm.. 2
14
Herminarto Sofyan, Problem Based Learning Kurikulum 2013 ( Yogyakarta: UNY
Press, 2017) hlm.. 57-58
c. Ranah Afektif (Attitude)
Tujuan dari ranah ini dalam Problem Based Learning adalah berusaha
melatih siswa dalam mengembangkan karakter diri, mengembangkan
hubungan antar manusia dan pengembangan diri pada aspek psikologis.
Tiga ciri utama model pembelajaran Problem Based Learning menurut
Sanjaya adalah:15
1) PBL merupakan rangkaian aktivitas pembelajaran, artinya dalam
implementasi PBL ada sejumlah kegiatan yang harus dilakukan siswa.
PBL tidak mengharapkan siswa hanya sekedar mendengarkan, mencatat,
kemudian menghafal materi pelajaran, akan tetapi melalui PBL siswa
aktif berpikir, komunikasi, mencari dan mengolah data dan ahirnya
menyimpulkan,
2) Aktivitas pembelajaran ditunjukkan untuk menyelesaikan masalah PBL
menetapkan masalah sebagai kata kunci dalam pembelajaran, artinya
tanpa masalah tidak mungkin ada proses pembelajaran,
3) pemecahan masalah dilakukan dengan menggunakanpendekatan berpikir
secara ilmiah.
3. Keterampilan Abad 21
Pendidikan Nasional pada abad 21 memiliki tujuan mewujudkan
cita-cita bangsa dengan mensejahterakan masyarakat bangsa Indonesia dan
berkedudukan terhormat, dan setara dengan bangsa lain dalam dunia
15
Sanjaya, W. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan.(Jakarta:
Kencana, 2010) hlm 50.
global, dengan membentuk sumber daya manusia yang berkualitas,
berkepribadian, mandiri, memiliki kemauan dan kemampuan dalam
mewujudkan cita-cita bangsa.16 Pemerintah Indonesia melalui
Kemendikbud setidaknya mengadaptasi tiga konsep pendidikan agab 21,
yaitu 21 century skills, Scientific approach, dan authentic learning
assessment guna mewujudkan cita-cita tersebut. 17
Keterampilan atau skill adalah sebuah pengetahuan prosedural,
dengan kata lain adalah pengetahuan mengenai suatu urutan mental atau
tindakan fisik yang mendorong ke arah suatu hasil. Keterampilan
merupakan sebuah prosedur yang sederhana sedangkan kemampuan atau
ability adalah prosedur yang kompleks.18
Meteriti Group dan North Central Regional Educational aboratory
berpendapat bahwa keterampilan abad 21 diklasifikasikan dalam empat
cluster atau kategori, seperti:19
1) Literasi Era Digital (digital-age literacy)
2) Pemikiran Inventif (inventive thinking),
3) komunikasi efektif (effective communication), dan
4) produktivitas tinggi (high productivity).
16
Daryanto, Syaiful Karim, Pembelajaran Abad 21 (Yogyakarta: Gavamedia, 2017)
hlm..12
17
Ibid, hlm..12
18
Adun Rusyna. Keterampilan Berpikir. (Yogyakarta: Penerbit Ombak, 2014)hlm. 137.
19
Tantri Mayasari,dkk, “Apakah Model Pembelajaran problem Based Learning dan
Project Based Learningmampu Melatihkan Keterampilan Abad 21?”, jurnal pendidikan fakultas
keguruan (JFPK) (Maret, 2016) hlm. 48
Griffin & Care, mengelompokkan keterampilan abad 21
berdasarkan empat kategori, yaitu:
(1) Cara berpikir: meliputi metakognisi, mengetahui bagaimana cara
membuat keputusan, terlibat dalam berpikir kritis, menjadi inovatif,
dan mengetahui bagaimana cara memecahkan masalah.
(2) Kemampuan berkomunikasi yang baik dan mampu bekerjasama
dalam sebuah tim.
(3) Menggunakan alat yang tepat dan memiliki pengetahuan yang cukup
untuk bekerja, serta memiliki literasi teknologi informasi.
(4) Menjadi warga negara yang baik dengan berpartisipasi dalam
pemerintahan, menunjukkan tanggung jawab sosial.
Trilling & Fadel, berpendapat terkait keterampilan abad 21 yang
mengkategorikan kedalam beberapa elemen. Elemen – elemen
keterampilan abad 21 tersebut yaitu:20
a) Life and carreer skills
Life and Career skill adalah keterampilan individu untuk hidup
dan berkarir, meliputi fleksibilitas dan adaptabilitas, inisiatif dan
mengatur diri sendiri, interaksi sosial dan budaya, produtivitas dan
akuntabilitas, kepemimpinan dan tangggung jawab.
b) Learning and innovation skills
Learning and innovation skills (keterampilan belajar dan
berinovasi) meliputi:
1) Keterampilan berpikir kritis (critical thinking),
20
Ibid
2) Keterampilan komunikasi (Communication Skill),
3) Keterampilan kolaboratif (Collaborative Skill) dan
4) Keterampilan berpikir kreatif (Creative Thinking Skill).
c) Information, media and technologi skills
Information Media and Technologi Skill adalah keterampilan
media dan teknologi, meliputi literasi informasi, literasi media dan
literasi.
E. Kajian Kepustakaan
Tinjauan pustaka ini untuk mendapatkan gambaran tentang hubungan
topik penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya sehingga tidak terjadi
pengulangan yang tidak diperlukan.21 Untuk mengetahui secara luas tema yang
dibahas, peneliti berusaha mengumpulkan karya-karya, baik berupa tesis,
skripsi maupun jurnal. Dalam hal ini ada beberapa karya ilmiah yang
membahas tentang Problem Based Learning yang dianggap terkait dengan
penelitian ini, adalah sebagai berikut:
1. Abdul Mutholib, 2014 (Jurnal) penelitian yang berjudul Implementasi
model pembelajaran Problem Based Learning untuk Meningkatkan
Prestasi Belajar PAI. Hasil penelitian ini adalah
Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas sebanyak dua
putaran. Dari hasil analisis data hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa
penerapan model pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan
prestasi belajar siswa kelas VI. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan nilai
21
Abudin Nata, Metodologi Studi Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2000), hlm.125.
rata-rata tes hasil belajar dalam setiap siklus. Yaitu dari pra siklus (60,4)
siklus I (67,02) dan siklus II (76,82) serta ketuntasan belajar siswa
meningkat mulai dari pra siklus (24,3%) siklus I (40%) dan siklus II
(86,48%).
2. Wicaksanti, 2023 (Jurnal) penelitian ini berjudul “Penerapan Model
Problem Based Learning untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir
Kritis Siswa Kelas IV SD Kanisius Totoga”
Penelitian ini merupakan tindakan kelas, dari penelitian ini didapati
hasil penelitian bahwa diperoleh data pada pra siklus ketuntasan belajar
siswa hanya 14,8% dengan nilai rata-rata 57,4. Kemudian pada
pelaksanaan siklus 1 ketuntasan belajar siswa meningkat menjadi 44,4%
dengan nilai ratarata 71,9. Selanjutnya pada pelaksanaan siklus 2
persentase ketuntasan belajar siswa meningkat menjadi 66,7% dengan nilai
rata-rata 82,9. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penerapan
model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dapat meningkatkan
kemampuan berpikir kritis siswa kelas IV SD Kanisius
[Link]: sama-sama meneliti dan membahas PBL dan berpikir
kritis. Perbedaan: penelitiannya hanya menggunakan teknik analisis data
kuantitatif, sedangkan penelitian saya menggunakan teknik analisis data
kuantitatif dan kualitatif.
3. Sufinatin Aisida1 2017 (Jurnal) judul penelitian “Aplikasi Model
Problem Based Learning Sebagai Motivasi dalam Pembelajaran
Fiqih”
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan
bahwa penerapan model Problem Based Learning mempunyai peranan
yang cukup besar dalam meningkatkan motivasi belajar siswa. Hal ini
disebabkan konsep model pembelajaran, fungsi dan peranannya dalam
proses pendidikan amatlah penting untuk menentukan dan menyampaikan
cara dalam mengajar, mentransfer informasi, pikiran, pengetahuan, dan
pengalaman untuk meningkatkan motivasi belajar siswa dalam memahami
konsep mata pelajaran, khususnya mata pelajaran Fiqih.22
4. Marhamah Saleh, 2013 (Jurnal) “Strategi Pembelajaran Fiqh dengan
Problem Based Learning”.
Hasil kajian menunjukkan bahwa metode Problem Based Learning
cocok untuk diaplikasikan dalam pembelajaran bidang fiqh, dan dapat
dikombinasikan dengan metode konvensional lainnya untuk mencapai
hasil pembelajaran secara maksimal. Disamping itu, Problem Based
Learning cukup efektif dalam memudahkan pemahaman mahasiswa dan
menghubungkan pengetahuan mereka dengan realitas permasalahan yang
ada dalam masyarakat. Problem Based Learning (PBL) atau Pembelajaran
Berbasis Masalah (PBM) adalah metode belajar yang membelajarkan
peserta didik untuk memecahkan masalah dan merefleksikannya dengan
pengalaman mereka, sehingga memungkinkan dikembangkannya
keterampilan berpikir (penalaran, komunikasi dan koneksi) dalam
memecahkan masalah yang bermakna, relevan dan kontekstual. PBL
22
Sufinatin Aisida, Aplikasi Model Problem Based Learning Sebagai Motivasi dalam
Pembelajaran Fiqih, Jurnal An-Nuha Vol. 4, No. 1, Juli 2017 hlm. 207
merupakan salah satu metode dalam model pembelajaran kontekstual
(Contextual Teaching and Learning) yang didasarkan pada teori belajar
konstruktivisme.23
5. Siti Rusmayani, 2017 (Jurnal) judul penelitian “Pengaruh Model
Pembelajaran Problem Based Learning dan Motivasi Terhadap Hasil
Belajar Fiqh Siswa Madrasah Tsanawiyah Negeri Stabat”
Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa tujuan penelitian ini
untuk (1) Mengetahui perbedaan hasil belajar Fiqh siswa yang diajar
dengan menggunakan problem based learning dan menggunakan KTSP.
(2) Mengetahui perbedaan hasil belajar Fiqh siswa yang memiliki motivasi
tinggi dengan siswa yang bermotivasi rendah. (3) Mengetahui interaksi
antara model problem based learning dan motivasi terhadap hasil belajar
siswa dalam mata pelajaran Fiqh. Lokasi penelitian ini dilaksanakan di
sekolah MTsN Negeri Stabat Kabupaten Langkat. Penelitian ini
menggunakan pendekatan kuantitatif dalam bentuk eksperimen. Hasil
penelitian berdasarkan hasil analisis data yang telah dilakukan yaitu
Analisis Varian dan Uji Tuckey maka didapati perbedaan yang signifikan
antara hasil belajar siswa yang diajar dengan pembelajaran Problem Based
Learning dengan model pembelajaran KTSP bahwa kelompok siswa yang
diajar dengan menggunakan model pembelajaran problem based learning
didapat hasil belajar yang lebih tinggi daripada siswa yang diajar
menggunakan pembelajaran KTSP pada materi fiqh di Madarash
23
Marhamah Saleh, Strategi Pembelajaran Fiqh dengan Problem Based Learning, Jurnal
Ilmiah DIDAKTIKA Agustus 2013 VOL. XIV NO. 1 hlm. 190-220
Tsnawiyah Negeri [Link] perbedaan signifikan hasil belajar siswa
yang memiliki motivasi tinggi dengan motivasi rendah. Kelompok siswa
yang memiliki motivasi tinggi memperoleh hasil belajar yang lebih
tinggi daripada siswa yang diajar menggunakan pembelajaran KTSP pada
materi fiqh di Madarash Tsnawiyah Negeri Stabat. Terdapat interaksi
antara model pembelajaran dan motivasi belajar siswa terhadap hasil
belajar pada materi fiqh di Madarasah Tsnawiyah Negeri Stabat.24
Berdasarkan kajian hasil penelitian terdahulu, penelitian pada tesis ini
berbeda dengan apa yang menjadi kajian penelitian yang sudah ada, dari segi
kesimpulan yang diambil oleh peneliti sudah jelas berbeda dan, memiliki
subjek kajian yang berbeda pula. Sedangkan penelitian yang di lakukan
penulis menitik beratkan pada Penerapan Pembelajaran Berbasis Problem
Based Learning (PBL) Untuk Mengembangkan Keterampilan Siswa Abad 21
Pada Materi Fiqih (Studi Kasus MA Salafiyah Karangtengah)
F. Metode Penelitian
1. Rancangan Penelitian
Dalam resit ini terkait Penerapan Pembelajaran Berbasis Problem
Based Learning (PBL) Untuk Mengembangkan Keterampilan Siswa Abad 21
Pada Materi Fiqih (Studi Kasus MA Salafiyah Karangtengah). Pendekatan
penelitian yang akan digunakan adalah pendekatan kualitatif. Lexy J.
Moelong mengutip pendapat Bogdan dan Taylor menjelaskan bahwa
pendekatan kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data
24
Siti Rusmayani, Al- Rasyidin, Salminawati , Pengaruh Model Pembelajaran Problem
Based Learning dan Motivasi Terhadap Hasil Belajar Fiqh Siswa Madrasah Tsanawiyah Negeri
Stabat, EDU RILIGIA: Vol. 1 No. 1 Januari-Maret 2017 hlm. 312
deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku
yang dapat diamati.25 Dalam penelitian kualitatif metode yang biasanya
digunakan adalah metode interview atau wawancara, metode observasi dan
dokumentasi.
Jenis penelitian yang disusun dalam penelitian ini adalah penelitian
lapangan (field research) penelitian yang langsung dilakukan pada tempat
kejadian atau terjadinya gejala yang sedang diteliti dengan tujuan
mempelajari secara intensip terkait unit social tertentu yang meliputi,
individu, kelompok, lembaga atau masyarakat. 26 Langkah-langkah yang akan
ditempuh dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Melakukan pengumpulan data pertama, yaitu MA Salafiyah
Karangtengah. Penelitian ini dilakukan sampai pada tingkat kejenuhan
data,
2. Melakukan pengumpulan data kedua, yaitu MA Salafiyah Karangtengah.
Penelitian ini dilakukan sampai pada tingkat kejenuhan data.
2. Kehadiran Peneliti
Kehadiran peneliti menjadi suatu keharusan. Kehadiran peneliti
bukan hanya dilakukan dalam waktu yang singkat dan cepat, akan tetapi
peneliti ikut dalam perpanjangan latar penelitian. Jika hal itu dilakukan maka
akan membatasi: 1) Membatasi gangguan dari dampak penelitian pada
25
Lexy, J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya,
2018) hlm. 4.
26
Suharsimi Arikunto, Managemen Penelitian, (Jakarta: Rineka Cipta, 1995) hlm. 5.
konteks, 2) Membatasi kekeliruan peneliti, 3) Mengkonpensasikan pengaruh
dari kejadian-kejadian yang tidak biasa atau pengaruh sesaat.27
3. Lokasi Penelitian
Peneliti akan mengambil setting lokasi di MA Salafiyah
Karangtengah Kec. Warungpring Kab. Pemalang. Adapun alasannya adalah
sebagaimana berikut:
a. MA Salafiyah Karangtengah Kec. Warungpring Kab. Pemalang
merupakan sekolah ber-akreditasi A di wilayah Kabupaten Pemalang
yang sangat diminati oleh masyarakat, dan mempunyai fasilitas
penunjang pembelajaran yang yang sangat memadai.
b. MA Salafiyah Karangtengah Kec. Warungpring Kab. Pemalang dalam
proses pembelajaran sudah menerapkan Problem Based Learning (PBL).
4. Sumber Data
Jenis dan sumber data yang digunakan dalam penelitian ini, ialah:
a. Data Primer
data primer merupakan sumber data yang berkenaan langsung 28
diperoleh dari sumber utama, dengan pembahasan masalah Penerapan
Pembelajaran Berbasis Problem Based Learning (PBL) Untuk
Mengembangkan Keterampilan Siswa Abad 21 Pada Materi Fiqih (Studi
Kasus MA Salafiyah Karangtengah). Data primer di dapat dari sumber
informan yaitu individu atau perseorangan seperti hasil pengamatan dan
27
Lexy, J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya,
2018) hlm.327
28
Sanapiah Faisal, Formal-formal Penelitia Sosial, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada,
1995) hlm. 32.
wawancara yang dilakukan oleh peneliti. Sumber data primer dalam
penelitian ini dibagai menjadi tiga bagian yaitu: tempat (plece), pelaku
(actor), dan aktivitas (activities).
1) Komponen Tempat
Merupakan informasi yang dikumpulkan langsung dari sumber
di lapangan yakni peneliti terjun kelapangan MA Salafiyah
Karangtengah Kec. Warungpring Kab. Pemalang. .
2) Komponen Pelaku
Pada komponen pelaku peneliti akan mewawancari secara
mendalam kepada : Kepala sekolah, Wakasek Kurikulum, Guru PAI,
Peserta Didik.
3) Komponen Aktivitas
Pada komponen aktivitas peneliti terjun langsung ke lapangan
yang menjadi obyek penelitian dengan cara observasi lapangan,
mencatat semua kegiatan dan merekam semua kejadian yang dilihat
oleh mata.
b. Data Sekunder
Sumber data sekunder adalah sumber data yang secara tidak
langsung berkaitan dengan penelitian ini tetapi sebagai penunjang data
primer. Data sekunder diperoleh atau dikumpulkan oleh orang yang
melakukan penelitian dari sumber-sumber yang telah ada. Sumber data
sekunder dalam penelitian ini adalah informasi yang telah dikumpulkan
dari orangtua siswa, masyarakat dan telaah yang berupa karya tulis
ilmiah, buku-buku, artikel jurnal, dokumen-dokumen & tulisan-tulisan
yang relevan dengan penelitian ini.
5. Teknik Pengumpulan Data
Penelitian ini menggunkan teknik pengumpulan data berupa
observasi partisipan, wawancara mendalam, studi dokumentasi, dan gabungan
antar ketiganya atau triangulasi data.29
a. Observasi Partisipan (Participan Observation)
Menurut Suharsimi Arikunto bahwa observasi disebut juga dengan
pengamatan menggunakan seluruh panca indra.30Observasi yaitu
melakukan pengamatan secara langsung pada objek penelitian untuk
melihat dari dekat kegiatan yang dilakukan.31 Observasi atau pengamatan
adalah metode pengumpulan data di mana penelitian atau kolaboratornya
mencatat informasi sebagaimana yang mereka saksikan selama
penelitian.32
Penelitian ini menggunakan metode observasi, dimana pengamatan
dan pencatatan segala fenomena yang diselidiki dan diteliti dengan
seksama oelh panca indera..33 Dengan demikian observasi merupakan
pengamatan langsung terhadap fenomena yang dikaji. Metode ini
digunakan untuk mengumpulkan data tentang gambaran umum Penerapan
Pembelajaran Berbasis Problem Based Learning (PBL) Untuk
29
Andi Parstowo, Metodologi Penelitian Kualitatif dalam Persepektif Rancangan
Penelitian, (Yogjakarta:Ar-Ruzz Media, 2012) hlm. 207.
30
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktis, (Jakarta: Bima
Aksara, 1989) hlm.. 80
31
Ridwan, Skala Pengukuran Variable-variable Penelitian, (Bandung; Alfabeta, 2011)
hlm.30.
32
[Link], Metode Penelitian, (Jakarta: PT. Grasindo, 2007) hlm. 116.
33
Sutrisno Hadi, Metodelogi Research III, (Yogyakarta: Andi Offset, 2000) hlm. 36.
Mengembangkan Keterampilan Siswa Abad 21 Pada Materi Fiqih di MA
Salafiyah Karangtengah Kec. Warungpring Kab. Pemalang.
Peneliti melakukan observasi partisipan dengan cara mengamati
bahkan terlibat secara langsung dalam berbagai aktivitas pendidikan guna
mencermati gejala-gejala yang ada dan memiliki informan yang sesuai
dengan data yang dibutuhkan peneliti pada penelitian MA Salafiyah
Karangtengah Kec. Warungpring Kab. Pemalang. .
b. Wawancara Mendalam (Indepeth Interview)
Salah satu teknik pengumpulan data yang menjadi ciri penelitian
kualitatif adalah dengan wawancara yang mendalam.34 Teknik wawancara
digunakan untuk menangkap makna secara mendasar dalam interaksi yang
spesifik. Teknik wawancara yang digunakan adalah wawancara tidak
terstandar (unstandarized interview) yang dilakukan tanpa menyusun suatu
daftar pertanyaan yang ketat.
Metode wawancara mendalam digunakan peneliti untuk
mendapatkan informasi yang mendalam dan dapat dipertanggung
jawabkan kebenarannya yang berupa informasi terkait dalam Penerapan
Pembelajaran Berbasis Problem Based Learning (PBL) Untuk
Mengembangkan Keterampilan Siswa Abad 21 Pada Materi Fiqih di MA
Salafiyah Karangtengah Kec. Warungpring Kab. Pemalang dan informasi
lain terkait permasalahan yang diteleiti.
c. Dokumentasi
34
Madyo Ekosusilo, Hasil Nilai Kualitatif Sekolah Unggulan Berbasis Nilai, (Sukoharjo,
Univet Bantara Press. 2003) hlm. 63.
Dokumentasi merupakan cara dalam pengumpulan informasi yang
didapatkan dari dokumen seperti peninggalan tertulis arsip-arsip yang
memiliki keterkaitan dengan masalah diteliti. 35 Dokumen adalah catatan
tertulis tentang berbagai kegiatan atau peristiwa pada waktu yang lalu.36
d. Studi Dokumen
Menurut Guba dan Lincoln dalam Moleong37 menjelaskan istilah
dokumen dibedakan dengan record. Definisi record adalah setiap
pernyataan tertulis yang disusun oleh seseorang atau lembaga untuk
keperluan pengujian suatu peristiwa atau menyajikan akunting.
Sedang dokumen adalah setiap bahan tertulis ataupun film, lain dari
record, yang tidak dipersiapkan karena adanya permintaan seorang
penyidik. Dalam artian jika seorang peneliti menemukan record, tentu saja
perlu dimanfaatkan.
Creswell menjelaskan bahwa seorang peneliti harus membawa
dokumen-dokumen kualitatif seperti dokumen publik dan dokumen
pribadi38. Dokumen publik berupa makalah atau koran dan dokumen
pribadi seperti jurnal, diari (buku harian), atau surat.
6. Teknik Analisis Data
Teknik Analisis data diawali dengan memahami dan menela’ah semua
data yang sudah terkumpul dari berbagai teknik yang sudah dilakukan oleh
35
Rusdin Pohan, Metodologi Penelitian Pendidikan, (Yogjakarta, Ar-Rijal Institut dan
Lanarka Publisher, 2007) hlm. 75.
36
[Link], Metode Penelitian, (Jakarta: PT. Grasindo, 2007) hlm.123.
37
Lexy, J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT Remaja Rosdakarya,
2018), hlm. 216.
38
John W. Creswell, Research Design (pendekatan metode, kualitatif, kuantitatif, dan
campuran), (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2017), hlm. 256.
peneliti, yaitu teknik observasi, wawancara, dan studi dokumentasi yang
sudah dicatat oleh peneliti selama pengamatan dMA Salafiyah Karangtengah
Kec. Warungpring Kab. Pemalang. .
1) Pengumpulan Data
Peneliti mengumpulkan data untuk menemukan sebuah data yang
sesuai di lapangan, selanjutnya peneliti melakukan pengumpulan data di
lapangan dengan mencatat, mengamati, merekam dan lainnya
sebagainya.
2) Reduksi Data
Reduksi data adalah proses pemilihan, pemusatan perhatian pada
penyederhanaan, pengabstrakan dan transformasi data kasar yang muncul
dari catatan-catatan tertulis di lapangan. 39 Penelitian menelaah kembali
seluruh catatan yang diperoleh di lapangan melalui teknik observasi,
wawancara, dokumen-dokumen.
3) Penyajian Data
Setelah data direduksi, maka selanjutnya adalah mendisplay data
yakni merangkum hal-hal pokok dan kemudian disusun dalam bentuk
deskripsi yang naratif dan sistematis sehingga dapat memudahkan untuk
mencari tema sentral sesuai dengan fokus atau rumusan-unsur dan
mempermudahkan untuk memberikan makna.
4) Validitas Data
39
Madyo Ekosusilo, Hasil Nilai Kualitatif Sekolah Unggulan Berbasis Nilai, (Sukoharjo,
Univet Bantara Press. 2003), hlm.70
Yakni melakukan pencarian makna dari data yang dikumpulkan
secara lebih dan akurat. Kegiatan ini dilakukan dengan cara mencari
pola, bentuk, tema, hubungan, persamaan dan perbedaan, faktor-faktor
yang mempengaruhi dan sebagainya. Hasil kegiatan ini adalah
kesimpulan hasil evaluasi secara utuh, menyeluruh dan akurat.40
5) Penarikan Kesimpulan
Setelah dilakukan validitas data, maka langkah selanjutnya adalah
menarik kesimpulan atau verifikasi. Analisis yang dilakukan selama
pengumpulan data dan sesudah pengumpulan data digunakan untuk
menarik kesimpulan,
7. Pengecekan Keabsahan Data
a. Kreadibilitas
Peneliti sebagai instrument utama dalam penelitian kualitatif
sangat berperan dalam menentukan dan memutuskan data, sumber data,
menyimpulkan data, dan hal-hal penting lain yang memungkinkan dalam
pelaksanaan di lapangan terjadi berprasangka atau bias. Untuk
menghindari hal tersebut maka data yang diperoleh perlu diuji
kredibilitanya. Uji kredibilitas data dimaksud untuk membuktikan data
yang diamati dan dikumpulkan sesuai fakta. Pada uji kredibilitas ini
peneliti menggunakan:
1) Perpanjangan keikutsertaan
40
Miles, Matthew B. Milles dan A. Michael Huberman, Analisis Data Kualitatif,
[Link] Rohendi Rohidi, (Jakarta: UI Press, 1992), hlm. 16-19.
Peneliti dalam penelitian kualitatif adalah instrument itu
sendiri. Keikutsertaan peneliti sangat menentukan dalam
pengumpulan data. Keikutsertan tersebut tidak hanya dilakukan dalam
waktu singkat akan tetapi harus memperpanjang pengamatan dengan
terjun langsung di lapangan.
2) Ketekunan dalam pengamatan
Peneliti harus meningkatkan ketekunan pengamatan secara
teliti dalam mengumpulkan data. Dengan cara membaca dan
memeriksa kembali dengan cermat tentang data yang ditemukan di
lapangan sehingga peneliti mendapatkan data informasi yang valid
demi menunjang penelitian yang diharapkan sesuai dengan tema.
3) Triangulasi
Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang
memanfaatkan sesuatu yang lain.41 Teknik keabsahan data yang
digunakan dalam tesis ini adalah triangulasi yaitu pendekatan multi-
metode yang dilakukan penelitian pada saat mengumpulkan data
menganalisis data.42
a) Triangulasi Sumber
41
Lexi J Moleong, Metode Penelitian Kualitatif Edisi Revisi, (Bandung, PT. Remaja
Rosda Karya. 2018), hlm. 330.
42
Madyo Ekosusilo, Hasil Nilai Kualitatif Sekolah Unggulan Berbasis Nilai, (Sukoharjo,
Univet Bantara Press. 2003),hlm.73.
Adalah metode pengujian kredibilitas data dengan cara
membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu
informasi yang di peroleh melalui waktu dan alat yang berbeda
dalam penelitian kualitatif.43
Peneliti memakai trianggulasi sumber untuk mencari data
dari beberapa sumber, yaitu guru Pendidikan Agama Islam,
Wakasek Kurikulum.
b) Triangulasi Metode
Triangulasi metode dilaksanakan dengan cara memanfaatkan
penggunaan beberapa metode yang berbeda untuk mengecek balik
derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh. Dalam
penelitian kualitatif peneliti menggunakan metode wawancara,
observasi, dan survei. Untuk memperoleh data atau infromasi yang
relevan.
4) Auditing
Dalam penelitian ini teknik auditing digunakan oleh peneliti
untuk memeriksa kembali kebergantungan atau kepastian data yang
didapat peneliti pada saat di lapangan sehingga mendapatkan hasil
yang lebih maksimal dalam mengumpulkan informasi dan data.
b. Dependabilitas
Dependabilitas atau kebergantungan untuk menanggulangi
kesalahan-kesalahan dalam hasil penelitian yang dilakukan peneliti,
seperti dalam konseptualisasi rencana penelitian, pengumpulan data,
43
Ibid.... hlm. 331.
interpretasi temuan, dan pelaporan hasil penelitian. Untuk menanggulangi
hal tersebut diperlukan adanya berbagi pihak yang lebih akuntabel dalam
memeriksa proses penelitian yang dilakukan oleh peneliti, supaya
mendapatkan hasil yang lebih relevan. Untuk itu diperlukan dependent
auditor. Yang menjadi dependent auditor dalam penelitian ini adalah
dosen pembimbing.
c. Konfirmabilitas
Pengujian konfirmabilitas adalah pengecekan kembali data hasil
penelitian secara obyektif.44 Hal ini bergantung pada persetujuan dari
beberapa orang terhadap pandangan, pendapat, dan temuan seseorang.
Jika temuan data yang didapat selama penelitian di sepakati atau disetujui
banyak orang maka dapat dipastikan bahwa penelitian ini dilaksanakan
secara obyektif. Untuk mengetahui hal tersebut dilakukan dengan cara
mengkonfirmasi data-data yang diperoleh dari lapangan dengan para
informan atau para ahli.
G. Sistematika Penulisan
Dalam penulisan penelitian tesis ini, penulis sajikan dalam lima bab,
dengan rincian sebagai berikut :
Bab I berisi antara lain pendahuluan, rumusan masalah, tujuan dan kegunaan
penelitian, kerangka teori, telaah pustaka, Metode penelitian dan
sistematika penulisan
44
Madyo Ekosusilo, Hasil Nilai Kualitatif Sekolah Unggulan Berbasis Nilai, (Sukoharjo,
Univet Bantara Press. 2003). hlm.74.
Bab II. Berisi tentang kajian teori yang meliputi, Model pembelajaran
Problem based learning, keterampilan Abad 21 dan penerapan
pembelajaran berbasis problem based learning (PBL) untuk
mengembangkan keterampilan siswa abad 21 pada materi fiqih
Bab III membahas tentang penerapan pembelajaran berbasis problem based
learning (PBL) untuk mengembangkan keterampilan siswa abad 21
pada materi fiqih dan factor yang terkait penerapan pembelajaran
berbasis problem based learning (PBL) untuk mengembangkan
keterampilan siswa abad 21 pada materi fiqih di MA Salafiyah
Karangtengah
Bab IV Akan dibahas mengenai analisis data penerapan pembelajaran berbasis
problem based learning (PBL) untuk mengembangkan keterampilan
siswa abad 21 pada materi fiqih dan factor yang terkait penerapan
pembelajaran berbasis problem based learning (PBL) untuk
mengembangkan keterampilan siswa abad 21 pada materi fiqih di MA
Salafiyah Karangtengah
Bab V Penutup, berisikan kesimpulan dan saran serta daftar pustaka dan
lampiran-lampiran.
DAFTAR PUSTAKA
Aisida, Sufinatin.2017. Aplikasi Model Problem Based Learning Sebagai
Motivasi dalam Pembelajaran Fiqih, Jurnal An-Nuha Vol. 4, No. 1
Arikunto,Suharsimi.1995. Managemen [Link]: Rineka Cipta.
Creswell, John [Link] Design (pendekatan metode, kualitatif,
kuantitatif, dan campuran).Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Daryanto, Syaiful Karim.2017. Pembelajaran Abad [Link]: Gavamedia.
Ekosusilo, Madyo.2003. Hasil Nilai Kualitatif Sekolah Unggulan Berbasis Nilai.
Sukoharjo, Univet Bantara Press.
Faisal, Sanapiah.1995. Formal-formal Penelitia [Link]: PT. Raja Grafindo
Persada.
Fauzi, A. [Link] Nilai-nilai Agama dalam PAI Untuk Menanggulangi
Kenakalan Remaja pada Sekolah Umum (Studi Multi Situs di SMP
Negeri dan SMP SwastaKartika IV-8 Malang). Jurnal Al-Wijdan: Journal
of Islamic Education [Link]. 2 No. 2
Gulo, W.2007. Metode [Link]: PT. Grasindo.
Gunantara, dkk.2019. Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning
Untuk Meningkatkan Kemampuan Pemecahan Masalah Matermatika
Siswa Kelas V. Jurnal Mimbar PGSD Universitas Pendididkan Ganesha
Hadi, Sutrisno.2000. Metodelogi Research [Link]: Andi Offset.
Hakim, Lukman.2015. “Implementasi Model Pembelajaran Berbasis Masalah
Pada Lembaga Pendidikan Islam di Madrasah”, Jurnal Pendidkan
Agama Islam-Ta’lim Vol. 13, No. 1.
Miles, Matthew B. Milles dan A. Michael Huberman.1992. Analisis Data
Kualitatif, [Link] Rohendi [Link]: UI Press.
Moleong, Lexy, [Link] Penelitian [Link]: PT Remaja
Rosdakarya.
Mudyahardjo, Redja.1998. pengantar pendidikan. Bandung: PT. Rajagrafindo
Persada.
Muiz, Abdul.2015. Peran Pesantren dalam Pembinaan Akhlak di Era Globalisasi.
Fenomena. Vol. 14 No. 2 Oktober
Musyadad, dkk.2013. Penerapan model pembelajaran problem based learning
dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada pelajaran IPA pada konsep
perubahan lingkungan fisik dan pengaruhnya terhadap daratan, jurnal
Tahsinia, 2019, hlm..13
Parstowo, Andi.2012. Metodologi Penelitian Kualitatif dalam Persepektif
Rancangan [Link]:Ar-Ruzz Media.
Pohan, Rusdin.2007. Metodologi Penelitian [Link], Ar-Rijal
Institut dan Lanarka Publisher.
Reza Yuafian dan Astuti Suhandi.2020. Meningkatkan Hasil Belajar Siswa
Menggunakan Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) vol.
3 No. 1
Ridwan.2011. Skala Pengukuran Variable-variable Penelitian. Bandung;
Alfabeta.
Rusmayani, [Link]. 2017. Pengaruh Model Pembelajaran Problem Based
Learning dan Motivasi Terhadap Hasil Belajar Fiqh Siswa Madrasah
Tsanawiyah Negeri Stabat, EDU RILIGIA: Vol. 1 No. 1 Januari-Maret
Rusynam [Link] Berpikir. Yogyakarta: Penerbit Ombak
Saleh, Marhamah.2013. Strategi Pembelajaran Fiqh dengan Problem Based
Learning, Jurnal Ilmiah DIDAKTIKA Agustus 2013 VOL. XIV NO. 1
Sanjaya, W. 2010. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses
[Link]:Kencana.
Soetomo.1993. Dasar-dasar Interaksi Belajar [Link]: Usaha
Nasioonal.
Sofyan, Herminarto.2017. Problem Based Learning Kurikulum 2013. Yogyakarta:
UNY Press.
Suprijono, Agus.2017. cooperative learning teori dan aplikasi
PAIKEM .Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Sutirman, Media dan Model-Model Pembelajaran Inovatif (Yogyakarta: Graha
Ilmu.
Tantri Mayasari,dkk.2016. “Apakah Model Pembelajaran problem Based
Learning dan Project Based Learningmampu Melatihkan Keterampilan
Abad 21?”, jurnal pendidikan fakultas keguruan (JFPK) (Maret, 2016)
Trianto.2010. Model Pembelajaran Terpadu, Konsep, Strategi dan.
Implementasinya dalam KTSP. Jakarta: Bumi Aksara.
Zainiyati, Husniyatus Salamah.2010. Model Dan Strategi Pembelajaran Aktif
(Teori Dan Praktek Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama
[Link]: CV. Putra Media Nusantara.
OUTLINE
Bab I Pendahuluan
1. Latar belakang Masalah
2. rumusan masalah
3. tujuan dan kegunaan penelitian
4. kerangka teori
5. telaah kepustakaan
6. Metode penelitian
7. sistematika penulisan
Bab II. Kajian Teori
1. Model Pembelajaran Poblem Based Learning
a. Pengertian
b. Langkah-langkah penerapan
c. Hambatan dan keunggulan
2. Keterampilan Abad-21
a) Keterampilan Berpikir Kritis (Critical Thinking Skill)
b) Keterampilan Berpikir Kreatif (Creative
c) Keterampilan Komunikasi (Communication Skill)
d) Keterampilan Kolaborasi (CollaborationSkill)
3. Penerapan pembelajaran berbasis problem based learning (PBL)
untuk mengembangkan keterampilan siswa abad 21 pada materi
fiqih
Bab III penerapan pembelajaran berbasis problem based learning (PBL) di
MA Salafiyah Karangtengah
1. Penerapan pembelajaran berbasis problem based learning (PBL)
untuk mengembangkan keterampilan siswa abad 21 pada materi
fiqih
2. Factor yang terkait penerapan pembelajaran berbasis problem
based learning (PBL) untuk mengembangkan keterampilan siswa
abad 21 pada materi fiqih di MA Salafiyah Karangtengah
Bab IV Analisis penerapan pembelajaran berbasis problem based learning
(PBL) untuk mengembangkan keterampilan siswa abad 21 pada
materi fiqih
1. analisis penerapan pembelajaran berbasis problem based learning
(PBL) untuk mengembangkan keterampilan siswa abad 21 pada
materi fiqih
2. Analisis factor yang terkait penerapan pembelajaran berbasis
problem based learning (PBL) untuk mengembangkan
keterampilan siswa abad 21 pada materi fiqih di MA Salafiyah
Karangtengah
Bab V Penutup
1. Kesimpulan
2. Saran
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN.