0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
28 tayangan12 halaman

Panduan Lengkap Psychological First Aid

Makalah ini membahas tentang Psychological First Aid (PFA) sebagai tindakan awal untuk memberikan dukungan emosional kepada individu yang mengalami trauma akibat bencana. PFA bertujuan untuk membantu korban membangun ketahanan dan menstabilkan emosi, dengan prinsip dasar memberikan bantuan segera, informasi akurat, dan dukungan non-diskriminatif. Selain itu, makalah ini juga menyoroti tantangan dalam penerapan PFA dan relevansinya dalam perspektif Islam melalui konsep kasih sayang dan tolong-menolong.

Diunggah oleh

Malik Al Karim
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
28 tayangan12 halaman

Panduan Lengkap Psychological First Aid

Makalah ini membahas tentang Psychological First Aid (PFA) sebagai tindakan awal untuk memberikan dukungan emosional kepada individu yang mengalami trauma akibat bencana. PFA bertujuan untuk membantu korban membangun ketahanan dan menstabilkan emosi, dengan prinsip dasar memberikan bantuan segera, informasi akurat, dan dukungan non-diskriminatif. Selain itu, makalah ini juga menyoroti tantangan dalam penerapan PFA dan relevansinya dalam perspektif Islam melalui konsep kasih sayang dan tolong-menolong.

Diunggah oleh

Malik Al Karim
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH PENGEMBANGAN KONSELING KRISIS

PSYCHOLOGICAL FIRST AID (PFA)

Dosen Pengampu:
Moh. Khoerul Anwar, Ph.D.

Disusun Oleh:

1. Rina Delvani 24202022008


2. Dayu Ikrima Ilmi Sabila 24202022013

PROGRAM STUDI MAGISTER BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAM

FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA

2025
A. SEKILAS TENNTANG PFA
1. Pengertian PFA
Word Healt Organization (WHO) pada tahun 2020 menyatakan
bahwa PFA merupakan tindakan yang lebih diutamakan dibanding
intervensi psikologis pada individu yang mengalami situasi bencana
yang krisis atau trama dan harus segera dilakukan. Sedangkan menurut
Allen, PFA adalah suatu tindakan psikologis yang diusung guna
membantu individu mengatasi trauma dan stres akibat bencana. Pada
dasarnya, tujuan utama PFA bukanlah untuk membantu korban
menyelesaikan seluruh masalah psikologisnya yang muncul akibat
bencana, tetapi untuk memberikan dukungan emosional atau empati
yang praktis bagi korban dalam membangun ketahanan dan
menstabilkan emosinya menghadapi keadaan yang sulit.1
Merujuk pada pedoman Kesehatan Mental dan Dukungan
Psikososial dalam pengaturan Gawat Darurat, PFA menggambarkan,
“Penanganan secara manusiawi, supportif dan praktis terhadap sesama
manusia yang mangalami penderitaan (segera setelah terpapar stresor
serius) dan terhadap siapapun yang mungkin membutuhkan dukungan
(United Nations Inter-Agency Standing Committee, 2007).” Berbasis
pada konsensus ahli internasional, PFA sekarang dilihat sebagai suatu
cara dalam pembekalan psikologis dan merupakan respon psikososial
langsung yang direkomendasikan selama keadaan darurat.
PFA berevolusi sebagai kerangka kerja dalam membantu
beberapa kebutuhan mendasar korban yang kesusahan dan krisis. Oleh
karena itu, PFA bukan suatu tindakan klinis atau psikiatri darurat, sebab
kerangka kerja PFA sama seperti apa yang diterbitkan oleh Organisasi
Kesehatan Dunia, yang dirancang untuk dapat diadministrasikan, baik
oleh profesional kesehatan mental, maupun non-profesional (seperti

1
Iyulen Peby Zuanny, dkk., “Kesiapsiagaan Bencana pada Mahasiswa di Organisasi
Kemahasiswaan Melalui Pelatihan Pertolongan Pertama Psikologis (Psychological First Aid)”,
Gadjah Mada Journal of Professional Psychology (GamaJPP), Vol. 10 No. 2 (2024), 134 – 142.

2
konselor awam atau pembantu awam) tentu setelah mereka
mendapatkan orientasi PFA sebelumnya.2
2. Prinsip Dasar PFA
a. Berikan bantuan sesegera mungkin langsung pada orang yang
memerlukan dukungan.
b. Sediakan informasi akurat dan logis tentang situasi yang ada.
c. Bersikap jujur, jangan pernah menjanjikan sesuatu yang tak bisa
kita penuhi.
d. Sediakan dukungan emosional bagi orang yang memerlukan
dukungan.
e. Fokus pada kemampuan yang dimiliki orang yang memerlukan
dukungan untuk pulih.
f. Berikan perhatian yang non diskriminatif untuk semua. Perhatian
yang non diskriminatif adalah perhatian dengan tanpa membeda‐
bedakan latar belakang dari orang yang memerlukan dukungan.3
3. Siapa yang Bisa Melakukan
PFA bisa dilakukan oleh siapapun yang telah mendapat pelatihan atau
sosialisasi termasuk masyarakat umum. Dimana dalam hal ini adalah
orang‐orang di sekitar orang yang memerlukan dukungan.
4. Pada Siapa Diberikan
PFA bisa diberikan kepada orang yang memerlukan dukungan dari
berbagai tahapan perkembangan mulai dari anak, remaja, orang dewasa,
orang lanjut usia ataupun anggota keluarganya. Namun demikian perlu
diperhatikan bahwa mereka yang memberikan bantuan pun rentan
mengalami masalah psikologis ketika menjalankan tugasnya sehingga
mereka membutuhkan dukungan juga.

2
Faradillah Firdaus dkk., “Psychological First Aid pada Penyintas Anak Pasca Gempa di Sulawesi
Barat”, Jurnal Dedikasi, Vol 24 No 1 (2022), 33 – 38.
3
Wahyu Cahyono, Psychological First Aid "Sebuah Kesiapsiagaan dari Kita untuk Kita", (Depok:
Pusat Krisis Fakultas Psikologi UI, 2015)

3
5. Kapan Dilakukan
Salah satu prinsip dasar PFA: “Berikan bantuan sesegera mungkin
langsung pada orang yang memerlukan dukungan”. Oleh karena itu PFA
dapat dilakukan sesegera mungkin dalam hitungan menit, jam atau hari,
bergantung konteks situasi yang dihadapi

B. Kerangka Kerja PFA


PFA memiliki hubungan yang erat dengan pendekatan psikologi
humanistik. Pendekatan humanistik memandang pada dasarnya manusia itu
baik. Oleh karena itu pendekatan ini memfokuskan pada potensi individu
untuk secara aktif memilih dan membuat keputusan tentang hal‐hal yang
berkaitan dengan dirinya sendiri dan lingkungannya. Individu adalah
pembuat keputusan untuk dirinya sendiri. PFA dikembangkan dalam sebuah
kerangka kerja berdasarkan pembelajaran dari upaya penanganan bencana
sebelumnya dan penelitian‐penelitian terkait.
Fungsi kerangka kerja dalam sebuah model adalah agar langkah‐
langkah yang dilakukan tepat sasaran dan efektif. Tanpa adanya kerangka
kerja kita akan cenderung melakukan proses trial and error. Hal ini tentunya
bisa merugikan orang yang ingin kita bantu. Dalam buku ini, PFA diadaptasi
dengan menggunakan kerangka kerja Safety, Function, dan Action (SFA).
Ketiga komponen inilah yang akan difasilitasi oleh penyedia
layanan PFA. Ada 3 target utama dalam kerangka ini:
1. Memenuhi rasa aman orang yang memerlukan dukungan (AMAN)
2. Mendorong keberfungsian optimal orang yang memerlukan dukungan
(FUNGSI)
3. Memfasilitasi tindakan orang yang memerlukan dukungan untuk
pemulihannya (AKSI).
Dalam menjalankan PFA, ketiga target ini dapat dijadikan sebagai
suatu tahapan pemberian dukungan. Meskipun demikian mengacu konteks
situasi dan sosial budaya yang ada, maka kerangka tahapan ini tidak juga
dilihat sesuatu yang kerangka tahapan yang kaku. Hal ini berarti penyedia

4
layanan PFA dapat saja menentukan untuk fokus pada target tertentu
disesuaikan dengan kondisi orang yang akan dibantu. Misalnya dalam
sebuah kejadian bencana salah satu target yang harus kita capai adalah
menfasilitasi rasa aman dengan menyediakan tempat penampungan atau
mempertemukan mereka dengan anggota keluarga yang terpisah. Baru
kemudian kita menfasilitasi keberfungsiannya dan rencana tindak lanjutnya.
Akan tetapi jika ternyata saat kita datang, rasa aman itu sudah dirasakan
terpenuhi oleh mereka, kita tidak perlu melakukannya lagi bisa langsung ke
target berikutnya.
Landasan Psikologis PFA
WHO dan Inter-Agency Standing Committee (IASC) menegaskan
bahwa PFA bukan terapi formal, tetapi dukungan kemanusiaan yang
empatik dan berbasis kebutuhan manusia. Pendekatan PFA meliputi tiga
langkah utama4:
1. Look – mengamati situasi dan kebutuhan dasar individu,
2. Listen – mendengarkan secara aktif dan empatik,
3. Link – menghubungkan individu dengan dukungan sosial dan spiritual

C. Langkah-langkah Pemberian PFA


1. Langkah Persiapan
a. Memahami Situasi
Dalam proses pemberian bantuan, penyedia layanan PFA
harus memiliki pengetahuan awal tentang konteks situasi apa yang
terjadi. Hal ini dapat dilakukan dengan mengumpulkan informasi
dari sumber yang dapat dipercaya mengenai apa yang telah terjadi.
Upaya untuk mengenali konteks yang terjadi dapat dilakukan secara
langsung maupun tidak langsung. Secara langsung, kita dapat
melakukan penilaian cepat mengenai kondisi terkini bertemu
dengan orang yang memerlukan dukungan. Selain itu juga dapat

4
WHO, 2011 Sphere Association, 2018). [Link]

5
mengenali konteks secara tidak langsung dengan mengakses
informasi dari laporan yang ada atau sumber dari pihak lain yang
dapat dipercaya.5
b. Memperkenalkan Diri dan Memulai Kontak
Cara memperkenalkan diri dan memulai kontak awal dengan
orang yang memerlukan dukungan menjadi sesuatu yang penting
untuk proses selanjutnya. Jika kita sebagai penyedia layanan
berhasil menjalin hubungan yang penuh pengertian dan hangat maka
hubungan yang mendukung proses pemulihan akan terbangun.
Selain itu rasa percaya orang yang memerlukan dukungan kepada
penyedia layanan akan meningkat. Adapun hal-hal yang perlu
dilakukan untuk memulai kontak yaitu perkenalkan nama, pekerjaan
dan tugas sebagai penyedia layanan kepada orang yang memerlukan
dukungan. Selanjutnya, minta izin untuk melakukan pembicaraan
dan tanyakan apa yang bisa dilakukan untuk dapat membantu.
Selanjutnya, pastikan untuk menjaga kerahasiaan informasi pribadi
dari orang yang memerlukan dukungan6
2. Langkah Dasar
a. Fasilitasi Rasa Aman
Lakukan segala sesuatu yang bisa membuat orang yang
mengalami situasi sulit atau terkena bencana agar dapat merasa
aman. Caranya pastikan orang yang memerlukan dukungan dengan
membawanya ke tempat yang aman, hal ini akan meningkatakan
kondisi fisik maupun emosionalnya. Adapun tindakan yang bisa
dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Carilah tempat aman dan nyaman yang dapat digunakan
2. Tanyakan kebutuhan dasar orang yang memerlukan dukungan
yang bisa dipenuhi. Sebagai contoh, kita bisa menawarkan air
putih kepada orang yang memerlukan dukungan.

5
Wahyu Cahyono, Psychological First Aid "Sebuah Kesiapsiagaan dari Kita untuk Kita",… 15.
6
Wahyu Cahyono, Psychological First Aid "Sebuah Kesiapsiagaan dari Kita untuk Kita",… 17.

6
3. Tanyakan apakah ada diantara orang yang memerlukan
dukungan yang memerlukan pertolongan medis atau
pengobatan.
4. Identifikasi orang yang memerlukan dukungan yang memiliki
kebutuhan khusus.7
b. Fasilitasi Keberfungsian
Dorong orang untuk berfungsi kembali, dalam artian dia bisa
berpikir dengan relatif lebih jernih memahami situasi yang terjadi
dan apa saja yang dapat dia lakukan untuk mengatasi masalah yang
ada. Cara yang bisa dilakukan untuk memfasilitasi keberfungsian
antara lain:
1. Berikan perhatian melalui kata‐kata dan perbuatan yang tidak
menyakiti atau menyinggung perasaan orang yang ingin kita
bantu
2. Jaga keluarga mereka agar tetap bersama dan berhubungan satu
sama lain.
3. Tanyakan pada mereka adakah pihak lain yang ingin diberitahu
sehubungan dengan bencana yang baru saja terjadi.8
c. Fasilitasi Proses Pemulihan dan Rencana Tindak Lanjut
Setelah bencana terjadi, hal yang ingin kita lakukan Adalah
kembali “Normal”. Kembali normal bukan sekedar berarti kembali
ke kondisi yang sama seperti sebelumnya, tetapi juga kembali dapat
menjalani kehidupan sebagai pribadi yang utuh. Ada beberapa hal
yang bisa dilakukan dalam rangka menfasilitasi proses pemulihan,
antara lain adalah:
1. Mendorong orang yang memerlukan dukungan untuk kembali
pada rutinitasnya.

7
Wahyu Cahyono, Psychological First Aid "Sebuah Kesiapsiagaan dari Kita untuk Kita",… 21.
8
Wahyu Cahyono, Psychological First Aid "Sebuah Kesiapsiagaan dari Kita untuk Kita",… 22.

7
2. Libatkan orang yang memerlukan dukungan secara aktif dalam
tugas‐tugas pemulihan.9

D. Hambatan dalam PFA


1. Keterbatasan akses dan sumber daya
Penelitian yang dilakukan oleh LM Hobfoll dkk pada tahun 2007
menekankan terkait keterbatasan sumber daya dan kurangnya pelatihan
yang memadai. Akibatnya, dapat berdampak secara signifikan terhadap
keberhasilan tindakan PFA yang dilakukan.

2. Tantangan budaya dan konteks sosial


Penelitian yang dilakukan oleh KJ Bryant & CE harvey pada
tahun 2017 menekankan hambatan PFA dari aspek budaya dan
koordinasi yang buruk antar lembaga yang semakin mempersulit
pemberian PFA.
3. Evaluasi efektivitas dan keberlanjutan intervensi
Dalam penelitian RJ Norris dkk. pada tahun 2008
mengungkapkan bahwa penerapan PFA yang efektif memerlukan
penanganan dari tantangan ini melalui pelatihan yang terarah dan
pengelolaan sumber daya yang lebih baik. Adapun, penelitian SJ Jorm
dkk. tahun 2018 menggarisbawahi terkait pentingnya mengadaptasi PFA
ke dalam konteks budaya setempat untuk meningkatkan
efektivitasnya.10
Setelah bencana terjadi dan PFA telah diberikan, untuk lebih
efektifnya, pemberi pertolongan dapat mencatat nama-nama penyintas
yang sekiranya memerlukan intervensi lanjut untuk nanti dirujuk di
layanan lanjutan kesehatan mental ataupun medis. Adapun, tindakan
yang dapat dilakukan yaitu sebagai berikut:

9
Wahyu Cahyono, Psychological First Aid "Sebuah Kesiapsiagaan dari Kita untuk Kita",… 28.
10
Brian Warbung dkk., “Menavigasi Medan: Peluang dan tantangan Penerapan Pendekatan
Psikologis Pertolongan Pertama dalam Tanggap Bencana”, Jurnal Internasional Pendidikan
Humaniora dan Ilmu Sosial (IJHESS), Vol. 4 No. 1 (Agustus 2024), 554 – 560.

8
a. Identifikasi kebutuhan mendesak. Jika penyintas menyebutkan
banyak kebutuhan, maka perlu dilakukan daftar prioritas.
b. Klarifikasi kebutuhan prioritas.
c. Mendiskusikan rencana tindak lanjut.
d. Menfasilitasi rencana tindak lanjut. Adapun, layanan kolaboratif
yang dapat menjadi tujuan tindak lanjut, yaitu layanan medis,
layanan kesehatan mental, layanan sosial, layanan perlindungan
anak dan perempuan, dan layanan bantuan hukum.11

E. PFA dalam Prespektf Islam


1. Konsep Rahmah (Kasih Sayang)
Islam menjadikan kasih sayang sebagai fondasi dalam menolong
sesama: “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan
untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam”. (QS. Al-Anbiyā’: 107)
Kasih sayang dalam Islam menuntun umat untuk hadir bagi
orang yang sedang dalam kesulitan, sebagaimana nilai empati dalam
PFA. Rasulullah ‫ ﷺ‬juga bersabda: “Barang siapa tidak menyayangi,
maka dia tidak akan disayangi.” (HR. Al-Bukhari No.328. dalam Kitab
Al-Tayamum). Menurut Al-Qaradawi (1999), prinsip rahmah ini
menjadi dasar dalam interaksi sosial, termasuk dalam bentuk dukungan
psikologis.12
2. Konsep Ta’awun (Tolong-Menolong)
Al-Qur’an menegaskan pentingnya menolong dalam kebajikan:
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa, dan jangan
tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.” (QS. Al-Mā’idah: 2).
Menolong orang yang sedang menderita psikologis merupakan
bentuk ta‘āwun fī al-birr wa al-taqwā. Dalam konteks konseling Islam,

11
Wahyu Cahyono, Psychological First Aid “Sebuah Kesiapsiagaan dari Kita untuk Kita”, Depok:
Pusat Krisis Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2015. Hal.28.
12
Al-Qaradawi, Y. (1999). Fiqh al-Awlawiyyat: Dirasah Jadidah fi Dhau’ al-Qur’an wa al-Sunnah.
Cairo: Dar al-Syuruq.

9
ini berarti menghadirkan empati, kehadiran penuh (presence), dan
mendampingi klien secara spiritual.13
3. Konsep Sabar dan Keteguhan Spiritual
Dalam menghadapi musibah, Islam mengajarkan sikap sabar dan
tawakkal: “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS.
Al-Baqarah: 153)
Nilai ini paralel dengan prinsip PFA yang mengupayakan
pemulihan ketenangan dan makna. Al-Ghazali menekankan pentingnya
sabar sebagai cara menjaga keseimbangan jiwa dalam menghadapi
ujian.14 (Al-Ghazali, Ihya’ Ulum al-Din, Jilid IV).
4. Teladan Radulullah sebagai Pemberi Dukungan Psikologis
Rasulullah ‫ ﷺ‬kerap menunjukkan empathic listening kepada
sahabat yang berduka. Dalam riwayat Ibnu Majah, beliau menenangkan
wanita yang kehilangan anaknya dengan sabar, tidak langsung
menasihati, melainkan menenangkan hati terlebih dahulu. Hal ini
menunjukkan bahwa pendekatan Nabi bersifat humanistik dan empatik,
sejalan dengan prinsip dasar PFA.15

F. Kesimpulan
Psychological First Aid (PFA) adalah dukungan psikologis awal
bagi individu yang mengalami krisis atau trauma, bertujuan menenangkan,
menstabilkan emosi, dan membantu pemulihan fungsi diri. PFA bersifat
non-klinis, dapat dilakukan oleh siapa pun yang terlatih, dan berlandaskan
prinsip empati, kejujuran, serta non-diskriminasi.

13
Harahap, N. M. (2019). Trauma Healing Bencana Perspsektif Islam dan Barat (Sufi Healing dan
Konseling Traumatik). Al-Irsyad: Jurnal Bimbingn Konseling Islam, 1 (2).
[Link]
14
Al-Ghazali, A. H. (2015). Ihya’ Ulum al-Din. Beirut: Dar al-Fikr.
15
Rahman, N. A., & Al-Zyoud, F. (2021). Prophetic Model of Counseling: Lessons from the Life of
Prophet Muhammad (PBUH). International Journal of Islamic Thought, 20(2), 13–22.
[Link]

10
Kerangka kerja PFA meliputi tiga langkah utama: Safety (rasa
aman), Function (keberfungsian), dan Action (tindakan pemulihan), yang
dijalankan melalui pendekatan Look, Listen, dan Link. Hambatan
pelaksanaan PFA mencakup keterbatasan sumber daya, perbedaan budaya,
dan kurangnya pelatihan. Dalam Islam, PFA sejalan dengan nilai rahmah
(kasih sayang), ta’awun (tolong-menolong), dan sabr (kesabaran),
sebagaimana teladan Rasulullah ‫ ﷺ‬dalam mendukung orang yang berduka.
Dengan demikian, PFA menjadi bentuk bantuan kemanusiaan yang selaras
dengan nilai-nilai spiritual Islam.

11
DAFTAR PUSTAKA

Al-Ghazali, A. H. (2015). Ihya’ Ulum al-Din. Beirut: Dar al-Fikr.

Al-Qaradawi, Y. (1999). Fiqh al-Awlawiyyat: Dirasah Jadidah fi Dhau’ al-Qur’an


wa al-Sunnah. Cairo: Dar al-Syuruq.
Brian Warbung dkk., “Menavigasi Medan: Peluang dan tantangan Penerapan
Pendekatan Psikologis Pertolongan Pertama dalam Tanggap Bencana”,
Jurnal Internasional Pendidikan Humaniora dan Ilmu Sosial (IJHESS), Vol.
4 No. 1 (Agustus 2024), 554 – 560.

Faradillah Firdaus dkk., “Psychological First Aid pada Penyintas Anak Pasca
Gempa di Sulawesi Barat”, Jurnal Dedikasi, Vol 24 No 1 (2022), 33 – 38.

Harahap, N. M. (2019). Trauma Healing Bencana Perspsektif Islam dan Barat (Sufi
Healing dan Konseling Traumatik). Al-Irsyad: Jurnal Bimbingn Konseling
Islam,1(2).
[Link]
Iyulen Peby Zuanny, dkk., “Kesiapsiagaan Bencana pada Mahasiswa di Organisasi
Kemahasiswaan Melalui Pelatihan Pertolongan Pertama Psikologis
(Psychological First Aid)”, Gadjah Mada Journal of Professional
Psychology (GamaJPP), Vol. 10 No. 2 (2024), 134 – 142.

Rahman, N. A., & Al-Zyoud, F. (2021). Prophetic Model of Counseling: Lessons from
the Life of Prophet Muhammad (PBUH). International Journal of Islamic
Thought, 20(2), 13–22. [Link]

Wahyu Cahyono, Psychological First Aid "Sebuah Kesiapsiagaan dari Kita untuk
Kita", (Depok: Pusat Krisis Fakultas Psikologi UI, 2015)

Wahyu Cahyono, Psychological First Aid “Sebuah Kesiapsiagaan dari Kita untuk
Kita”, Depok: Pusat Krisis Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, 2015.
Hal.28.

WHO, 2011 Sphere Association, 2018).


[Link]

12

Anda mungkin juga menyukai