PANDUAN ASUHAN KEPERAWATAN
STEMI (ST Elevation Myocardial Infarction)
1 Pengertian ST Elevation Myocardial Infarction (STEMI) merupakan
kondisi yang terjadi jika aliran darah koroner menurun
secara mendadak akibat dari oklusi trombus pada plak
aterosklerotik yang sudah ada sebelumnya sehingga
mengakibatkan kematian sel miosit (serabut otot) jantung
karena iskemia yang berkepanjangan (Andini & Trihartanto,
2019)
2 Asessmen Data Subjektif:
Keperawatan Keluhan Utama: Nyeri dada retrosternum seperti
tertekan atau tertindih benda berat, nyeri menjalar ke
dagu, leher, tangan, punggung dan epigastrium, den
gan karakteristik (lokasi, radiasi, durasi, intensitas, fa
ktor pencetus, faktor pereda), sesak nafas, mual, mu
ntah, nyeri epigastrium, keringat dingin, sinkope dan
cemas (Mulia et al., 2021).
Riwayat Penyakit Sekarang: nyeri dada yang dirasak
an, masalah kesehatan lainnya yang timbul, riwayat
alergi dan tindakan yang pasien lakukan saat menda
pati kondisi sakit. Karena klien dengan gangguan sist
em kardiovaskuler biasanya mengeluhkan nyeri dad
a, kesulitan bernafas dan merasakan mudah lelah ak
ibat kurangnya perfusi (Pranata & Prabowo, 2017).
Riwayat Penyakit Dahulu: pasien memiliki riwayat pe
nyakit hipertensi, diabetes mellitus, riwayat hipertiroid
dan riwayat penyakit lainnya disertai perawatan yang
sudah pernah dilakukan (Maulidah et al., 2022).
Riwayat Keluarga: apakah ada dalam keluarga riway
at penyakit keluarga seperti hipertensi, DM, tingkat k
olestrol, penyakit jantung dan penyakit lainnya. ( Pra
madiaz et al., 2016)
Pola Aktivitas Sehari-hari: Tingkat aktivitas, toleransi
terhadap aktivitas, pola tidur, nutrisi (asupan lemak, k
olesterol), kebiasaan merokok, konsumsi alkohol.
Psikososial: Tingkat stres, kecemasan, depresi, duku
ngan sosial.
Pengetahuan Pasien dan Keluarga: Tingkat pemaha
man tentang STEMI, pengobatan, dan manajemen d
iri.
Data Objektif:
Pemeriksaan Umum: Keadaan umum (dapat bervar
iasi tergantung kondisi), tingkat kesadaran, tanda-tan
da vital (tekanan darah, nadi, respirasi, suhu), berat
badan, tinggi badan, IMT.
Sistem Kardiovaskular:
o Inspeksi: Tidak ada kelainan spesifik pada
STEMI. Pada STEMI mungkin tampak pucat,
gelisah.
o Palpasi: Denyut apeks jantung (lokasi, kekuat
an), adanya thrill atau heave.
o Auskultasi: Bunyi jantung (S1, S2, murmur, ga
llop), frekuensi dan irama jantung.
Sistem Pernapasan: Frekuensi dan pola napas, bun
yi napas (biasanya normal kecuali ada komplikasi ga
gal jantung).
Kulit: Warna, suhu, kelembaban.
Pemeriksaan Penunjang: Hasil EKG (perubahan se
gmen ST-T, gelombang Q), enzim jantung (troponin,
CK-MB), elektrolit, profil lipid, gula darah, angiografi k
oroner (jika dilakukan).
3 Diagnosa 1. Nyeri Akut berhubungan dengan iskemia miokar
Keperawatan d.
2. Penurunan Curah Jantung berhubungan dengan
perubahan kontraktilitas miokard, perubahan freku
ensi dan irama jantung.
3. Intoleransi Aktivitas berhubungan dengan ketida
kseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksige
n miokard.
4. Ansietas berhubungan dengan ancaman terhada
p status kesehatan, takut akan kematian.
4 Kriteria 1. Nyeri Akut berhubungan dengan iskemia miokard.
evaluasi Nyeri Terkontrol:
Melaporkan nyeri dada berkurang atau hilang.
Menunjukkan ekspresi wajah rileks.
Tanda-tanda vital dalam batas normal selama ti
dak ada nyeri.
2. Penurunan Curah Jantung berhubungan dengan
perubahan kontraktilitas miokard, perubahan frekue
nsi dan irama jantung.
Curah Jantung Meningkat:
Tekanan darah dalam batas normal atau terkont
rol.
Denyut jantung dalam batas normal (60-100 kali
per menit) dengan irama reguler.
Tidak ada tanda-tanda penurunan perfusi (misal
nya, penurunan kesadaran, output urine menuru
n).
3. Intoleransi Aktivitas berhubungan dengan ketidak
seimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen
miokard.
Toleransi Aktivitas Meningkat:
Mampu melakukan aktivitas sehari-hari sesuai k
emampuan tanpa dispnea atau nyeri dada.
Berpartisipasi dalam program latihan yang dianj
urkan (jika ada).
4. Ansietas berhubungan dengan ancaman terhadap
status kesehatan, takut akan kematian.
Tingkat Kecemasan Menurun:
Melaporkan penurunan rasa khawatir.
Menunjukkan perilaku relaks.
Mampu menggunakan mekanisme koping yang
efektif.
5. Intervensi 1. Nyeri Akut berhubungan dengan iskemia miokard.
keperawatan Manajemen Nyeri: Kaji nyeri secara komprehe
nsif (PQRST). Berikan posisi yang nyaman (se
mi-Fowler). Ajarkan teknik relaksasi (napas dala
m). Berikan oksigen sesuai indikasi.
Pemberian Obat Analgesik: Berikan obat antia
ngina (misalnya, nitrogliserin) sesuai program m
edis dan pantau responsnya. Berikan analgesik
lain jika diperlukan dan diresepkan.
Pemantauan Jantung: Monitor EKG, tekanan d
arah, dan nadi selama dan setelah nyeri. Lapork
an perubahan signifikan.
Identifikasi Pencetus Nyeri: Bantu pasien men
gidentifikasi faktor-faktor yang memicu nyeri dad
a.
2. Penurunan Curah Jantung berhubungan dengan
perubahan kontraktilitas miokard, perubahan frekue
nsi dan irama jantung.
Pemantauan Hemodinamik: Pantau tekanan d
arah, nadi, respirasi, dan saturasi oksigen secar
a teratur. Monitor EKG jika ada indikasi. Catat a
danya bunyi jantung tambahan (S3, S4) atau m
urmur.
Manajemen Beban Kerja Jantung: Anjurkan p
asien untuk menghindari aktivitas fisik berlebiha
n. Berikan posisi semi-Fowler atau Fowler untuk
mengurangi beban preload.
Manajemen Obat-obatan: Berikan obat-obatan
sesuai program medis (misalnya, antiplatelet, be
ta-blocker, ACE inhibitor, statin). Pantau efek ter
apeutik dan efek samping obat.
Pembatasan Natrium dan Cairan: Edukasi da
n bantu pasien dalam membatasi asupan natriu
m dan cairan sesuai anjuran (jika ada indikasi g
agal jantung).
3. Intoleransi Aktivitas berhubungan dengan ketidak
seimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen
miokard.
Manajemen Energi: Identifikasi faktor-faktor ya
ng menyebabkan kelelahan. Rencanakan aktivit
as dengan periode istirahat yang adekuat. Bant
u pasien dalam melakukan aktivitas sehari-hari
sesuai kemampuan.
Peningkatan Toleransi Aktivitas: Tingkatkan ti
ngkat aktivitas secara bertahap sesuai toleransi
pasien. Anjurkan latihan ringan yang teratur (jika
tidak ada kontraindikasi dan sesuai anjuran dokt
er). Monitor respons pasien terhadap aktivitas (n
apas, nadi, tekanan darah, tingkat kelelahan).
4. Ansietas berhubungan dengan ancaman terhadap
status kesehatan, takut akan kematian.
Reduksi Ansietas: Ciptakan lingkungan yang
tenang dan mendukung. Dengarkan keluhan
pasien dengan penuh perhatian. Berikan
informasi yang akurat dan jelas tentang kondisi
dan rencana pengobatan. Libatkan keluarga
dalam memberikan dukungan. Ajarkan teknik
relaksasi (misalnya, napas dalam, visualisasi).
6. Informasi dan 1. Berikan informasi tentang STEMI (penyebab, faktor
edukasi risiko, komplikasi)
2. Manajemen pengobatan (nama obat, dosis, efek
samping)
3. Modifikasi faktor risiko (berhenti merokok, diet rendah
lemak dan kolesterol, manajemen stres, aktivitas fisik
teratur)
4. Tanda dan gejala yang perlu dilaporkan
5. Pentingnya kontrol rutin
7 Evaluasi 1. Manajemen Nyeri Dada
2. Toleransi Aktivitas dan Tanda-tanda Penurunan Perfusi
3. Kepatuhan Terhadap Pengobatan dan Perubahan
Gaya Hidup
4. Manajemen Faktor Risiko
5. Status Psikologis dan Kualitas Hidup
8. Penelaahan Komite Keperawatan
kritis
9. Referency Andini, maulida sekar, & Trihartanto, m. ali. (2019).
Penegakan Diagnosis Dan Pengobatan Optimal Kasus
Stemi Anterior Dan Gagal Jantung. Ums. Publikasi, 1297–
1314.
Maulidah, M., Wulandari, S., Tholib, M. A. A., & Octavirani,
D. I. P. (2022). Karakteristik Umum Penderita Sindrom
Koroner Akut. Nursing Information Journal, 2(1), 20–26.
[Link]
Mulia, D. P., Budiarti, A., Utomo, S., Interna, B., &
Ponorogo, H. (2021). Tatalaksana Sindrom Koroner Akut
STEMI Pada Rumah Sakit Rujukan. 763–774.
Pranata, A. E., & Prabowo, E. (2017). Keperawatan Medikal
Bedah Dengan Gangguan Sistem Kardiovaskuler. Nuha
Medika.
Tim Pokja SDKI DPP PPNI, (2016), Standar Diagnosis
Keperawatan Indonesia (SDKI), Edisi 1, Jakarta, Persatuan
Perawat Indonesia Tim Pokja
SIKI DPP PPNI, (2018), Standar Intervensi Keperawatan
Indonesia (SIKI), Edisi 1, Jakarta, Persatuan Perawat
Indonesia Tim Pokja
SLKI DPP PPNI, (2018), Standar Luaran Keperawatan
Indonesia (SLKI), Edisi 1, Jakarta, Persatuan Perawat
Indonesia