Karakteristik SMPN Satu Atap 1 Mangunreja
Karakteristik SMPN Satu Atap 1 Mangunreja
1
Jarak dari jalan raya ± 2 km, sehingga jauh dari kebisingan dan keramaian
kendaraan, hal inl sangat mendukung terciptanya suasana Kegiatan Belajar
Mengajar (KBM) yang lebih kondusif. Tingkat kesadaran penduduk terhadap
pentingnya pendidikan sudah tinggi dan didukung jumlah usia sekolah yang relatif
besar, sehingga prospek keberlangsungan penyelenggaraan pendidikan di SMP
Negeri Satu Atap 1 Mangunreja cukup menggembirakan.
2
Lingkungan masyarakat di sekitar SMP Negeri Satu Atap 1 Mangunreja
sangat kondusif, baik lingkungan fisik, sosial maupun psikologis. Hal ini mampu
menumbuhkan dan mengembangkan kemampuan pendidik untuk bekerja dengan
baik dan produktif. Sekolah berusaha menciptakan lingkungan fisik yang sebaik
mungkin, misalnya kebersihan ruangan, tata letak, fasilitas dan sebagainya.
Demikian pula, lingkungan sosial-psikologis, seperti hubungan antar pribadi,
kehidupan kelompok, kepemimpinan, pengawasan, promosi, bimbingan,
kesempatan untuk maju, kekeluargaan dan sebagainya.
3
untuk menjalankan tugas pendidikan secara bersama-sama dengan upaya
meningkatkan mutu pendidikan dan pembelajaran yang berkelanjutan di
sekolahnya.
SMPN Satu Atap 1 Mangunreja menyusun program pendayagunaan
pendidik dan tenaga kependidikan. Program pendayagunaan pendidik dan tenaga
kependidikan disusun dengan memperhatikan Standar Pendidik dan Tenaga
Kependidikan dan dikembangkan sesuai dengan kondisi sekolah, termasuk
pembagian tugas, mengatasi bila terjadi kekurangan tenaga, menentukan sistem
penghargaan, dan pengembangan profesi bagi setiap pendidik dan tenaga
kependidikan serta menerapkannya secara profesional, adil, dan terbuka. Untuk
lebih jelasnya mengenai rincian pendidik/pegawai SMPN Satu Atap 1
Mangunreja, disajikan dalam tabel berikut ini:
Tabel 1.1
Perincian Pendidik SMPN Satu Atap 1 Mangunreja
Kabupaten Tasikmalaya
JUMLAH
IJASAH TERTINGGI PENDIDIK TIDAK
PENDIDIK PNS
TETAP
S3 / S2 -
S1 1 10
D3/D2/D1 - -
SLTA - -
JUMLAH 1 10
Dari data di atas terlihat bahwa sebagian besar pendidik mempunyai latar
belakang pendidikan 1 orang strata 1 (S1) PNS, 10 orang (S1) Pendidik tidak
tetap, dan tidak ada pendidik yang lulusan SLTA. Dukungan dari pendidik
terhadap kemajuan sekolah ini sangat tinggi, hal ini terbukti dengan partisipasinya
yang begitu besar. Pada tiap tahunnya selalu ada karya nyata dari pihak sekolah,
sehingga tingkat kepercayaan orang tua siswa terhadap sekolah inipun menjadi
sangat tinggi.
SMPN Satu Atap 1 Mangunreja memiliki tenaga pendidik dan
kependidikan yang sebagian besar masih berusia muda, ditunjang dengan tingkat
pendidikan yang sesuai dengan tugas yang diampu. Tenaga guru/pegawai di
4
sekolah ini berjumlah 14 orang. Untuk lebih jelasnya mengenai rincian
guru/pegawai SMPN Satu Atap 1 Mangunreja, disajikan dalam tabel berikut ini
Tabel 1.2
Perincian Guru/Pegawai SMPN Satu Atap 1 Mangunreja
No Guru/Pegawai Laki-laki Perempuan Jumlah
1 Guru Tetap - 2 2
2 Guru Honorer 5 5 10
3 Pegawai Tetap - - -
4 Pegawai Tidak Tetap - 1 1
5 Penjaga Sekolah 1 - 1
Total 6 8 14
5
berseragam sekolah. Untuk lebih jelasnya mengenai kondisi siswa SMPN Satu
Atap 1 Mangunreja, disajikan dalam tabel berikut ini :
Tabel 1.3
Perincian Siswa SMPN Satu Atap 1 Mangunreja
1. VII 18 17 35
2. VIII 32 15 47
3. IX 24 22 46
Total 74 54 128
6
guru, dan anggota keluarga lainnya serta masyarakat sekitar. Artinya, sekolah,
keluarga, dan masyarakat merupakan “tri sentra pendidikan” yang sangat penting
untuk dapat menjamin pertumbuhan anak secara optimal. Untuk itu, perlu
dibangun kemitraan antara sekolah, keluarga, dan masyarakat.
Program kemitraan ini bertujuan untuk menjalin kerjasama dan
keselarasan program pendidikan di sekolah, keluarga, dan masyarakat sebagai tri
sentra pendidikan dalam membangun ekosistem pendidikan yang kondusif untuk
menumbuh kembangkan karakter dan budaya berprestasi peserta didik. Secara
khusus, tujuan program kemitraan satuan pendidikan dengan keluarga dan
masyarakat untuk:
1. Menguatkan jalinan kemitraan antara sekolah, keluarga, dan masyarakat
dalam mendukung lingkungan belajar yang dapat mengembangkan potensi
anak secara utuh;
2. Meningkatkan keterlibatan orang tua/wali dalam mendukung keberhasilan
pendidikan anak di rumah dan di sekolah; dan
3. Meningkatkan peran serta masyarakat dalam mendukung program pendidikan
di sekolah dan di masyarakat.
Kemitraan dibangun di atas dasar kebutuhan anak sehingga orang tua/wali
dan masyarakat diharapkan dapat berpartisipasi aktif dalam kegiatan yang
berkaitan dengan sekolah. Model kemitraan melibatkan jejaring yang luas dan
melibatkan peserta didik, orang tua, guru, tenaga kependidikan, masyarakat,
kalangan pengusaha, dan organisasi mitra di bidang [Link] itu, pihak
sekolah membangun kapasitas warganya untuk meningkatkan pengetahuan dan
keterampilan dalam bidang pendidikan keluarga serta berbagi pengetahuan
dengan orang tua terkait dengan pola pengasuhan anak. Keluarga atau orang tua
diharapkan membantu dan mendukung anak melalui bimbingan, arahan, motivasi,
dan tindakan mendidik lainnya yang selaras dengan program pendidikan yang
dilaksanakan pihak sekolah, misalnya ketika sekolah mengajarkan agar anak
selalu menjaga kebersihan lingkungan sekolah, di rumah juga diajarkan untuk
menjaga kebersihan lingkungan rumah.
7
Masyarakat sesuai kapasitasnya dapat mendukung program pendidikan
keluarga di sekolah melalui berbagai cara misalnya salah satu tokoh masyarakat
menjadi narasumber dalam kegiatan kelas orang tua/wali, menjadi guru model,
atau menjadi konsultan bagi pihak sekolah. Pemberdayaan, pendayagunaan, dan
kolaborasi tri sentra pendidikan tersebut diharapkan dapat membentuk ekosistem
sekolah yang aman, nyaman, dan menyenangkan, sehingga bisa menjamin tumbuh
kembang fisik, intelektual, sosial, emosional dan spiritual peserta didik.
Kemitraan antara sekolah dengan keluarga dan masyarakat dirancang agar
terbentuk ekosistem pendidikan yang dapat mendorong tumbuhnya karakter dan
budaya prestasi semua warga sekolah. Untuk mewujudkan harapan tersebut, maka
kemitraan dilaksanakan dengan mengacu pada prinsip-prinsip berikut.
1. Kesamaan Hak, Kesejajaran, dan Saling Menghargai.
Kemitraan antara sekolah dengan keluarga dan masyarakat dapat terjalin
secara dinamis dan harmonis apabila semua unsur yang terlibat memiliki
kesamaan hak, kesejajaran, dan saling menghargai sesuai dengan peran dan
fungsinya. Prinsip ini akan mendorong peran aktif dan sukarela dari semua
pihak untuk terlibat mulai dari perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi
program kemitraan.
2. Semangat Gotong-Royong dan Kebersamaan.
Kemitraan dibangun atas dasar semangat gotong royong dan kebersamaan.
Prinsip ini akan terjadi apabila semua pihak merasakan ada kebutuhan dan
kepentingan yang sama terkait dengan pendidikan anak atau peserta didik.
Prinsip ini akan menumbuhkankan keinginan dari semua pihak untuk
berkolaborasi dan bersinergi untuk menciptakan ekosistem pendidikan yang
dapat memberi pengalaman belajar yang kaya kepada peserta didik.
3. Saling Melengkapi dan Memperkuat.
Pihak sekolah tidak mungkin mampu melayani semua kebutuhan belajar
peserta didiknya dengan segala keterbatasan sumberdaya yang dimiliki. Untuk
itu, perlu dijalin kemitraan dengan orang tua dan masyarakat sehingga tercipta
tri sentra pendidikan yang saling melengkapi dan memperkuat sesuai perannya
masing-masing.
8
4. Saling Asah, Saling Asih, dan Saling Asuh.
Prinsip saling asah, saling asih, dan saling asuh diharapkan dapat mewujudkan
terjadinya proses berbagi pengalaman, pengetahuan, keterampilan, dan
nilai/norma antara satu dengan lainnya. Serta terjadi proses saling
membelajarkan antara pihak sekolah, keluarga, dan masyarakat dilandasi oleh
rasa cinta dan kasih sayang dalam rangka menciptakan ekosistem pendidikan
yang baik bagi peserta didik.
Bentuk-bentuk kemitraan sekolah, keluarga, dan masyarakat dapat
dilakukan sebagai berikut:
1. Penguatan Komunikasi Dua Arah
Komunikasi dua arah bertujuan untuk mendapat informasi dan masukan
tentang perkembangan peserta didik, baik dari keluarga kepada sekolah
maupun sebaliknya. Komunikasi sekolah dengan keluarga dan masyarakat
dapat dilakukan dalam beragam bentuk dan media. Misalnya informasi yang
dituliskan rutin melalui buku penghubung, pertemuan rutin wali kelas dengan
orang tua/wali, komunikasi dalam wadah paguyuban orang tua per kelas,
komunikasi melalui media komunikasi seperti melalui WA, dan lain-lain yang
sesuai. Bentuk kegiatan penguatan komunikasi dua arah dilakukan melalui:
a. Pertemuan tatap muka antara pihak sekolah dengan orang tua/wali;
b. Pertemuan yang melibatkan semua orang tua/wali, jika ada informasi yang
perlu diketahui oleh semua orang tua/wali.
c. Pertemuan antara guru/wali kelas atau Kepala Sekolah dengan orang tua
tertentu, jika ada permasalahan khusus menyangkut seorang peserta didik.
d. Surat menyurat dan/atau surat edaran;
2. Pendidikan bagi orang tua
Bentuk kemitraan ini ingin membantu orang tua/wali dalam membangun
kesadaran akan pendidikan anak, termasuk di antaranya adalah dengan
mengembangkan lingkungan belajar di rumah yang kondusif (aman, nyaman
dan menyenangkan). Pendidikan orang tua ini bisa berupa kelas orang tua/wali
yang dilakukan rutin oleh sekolah atau masyarakat (komite sekolah, organisasi
9
mitra dan komponen masyarakat lain). Kelas ini diharapkan dapat membantu
orang tua/wali untuk:
a. memperoleh pemahaman yang benar tentang kondisi anak dan upaya-
upaya yang dapat dilakukan;
b. meningkatkan peran positif dan tanggung jawab sebagai orang tua/wali
dalam mengatasi permasalahan anak; dan
c. meningkatkan kerjasama yang lebih harmonis antara orang tua/ wali dan
sekolah dalam membantu permasalahan anak.
3. Kegiatan Sukarela
Kegiatan ini bertujuan untuk menyalurkan aspirasi masing-masing pihak
dalam mendukung dan membantu kemajuan pendidikan anak.
4. Belajar di Rumah
Sekolah mengkomunikasikan orang tua/wali mengenai materi yang sebaiknya
diperkaya dan diperdalam kembali di rumah.
10
BAB II
VISI, MISI, DAN TUJUAN SMPN SATU ATAP 1 MANGUNREJA
11
4. Tercapainya proses belajar mengajar yang berstandar nasional dan
mewujudkan peserta didik yang inovatif, kreatif, terampil dalam berpikir
kritis, berkebinekaan global sesuai dengan kemajuan teknologi.
5. Terwujudnya budaya lingkungan Asri, kondusif, aman, nyaman, dan
menyenangkan.
6. Peserta didik menjadi pribadi yang percaya diri, mandiri, disiplin, dan
tanggung jawab terhadap tugas dan kewajiban
12
7. Memelihara dan memanfaatkan fasilitas untuk mendukung pembelajaran
berbasis TIK yang mandiri agar peserta didik memiliki wawasan global yang
mumpuni
8. Membudayakan perilaku agamis dalam berbagai aspek kehidupan di
lingkungan sekolah.
13
Tujuan akhir yang diharapkan oleh SMPN Satu Atap 1 Mangunreja dalam
pelaksanaan program-program sekolah untuk mewujudkan misi sekolah
ditetapkan dalam bentuk 3 bagian, yaitu tujuan jangka panjang, tujuan jangka
menengah dan tujuan jangka pendek.
TUJUAN JANGKA TUJUAN JANGKA TUJUAN JANGKA
PANJANG
MENENGAH PENDEK
1. Menghasilkan lulusan 1. Membentuk karakter 1. Melaksanakan
pembelajar sepanjang pembelajar sepanjang pembiasaan sikap
hayat yang beriman, hayat berlandaskan berbasis Profil Peserta
bertakwa, berakhlak profil peserta didik didik Pancasila secara
mulia, mandiri, pancasila terintegrasi pada 100%
bernalar kritis, peduli, mata peserta didikan
berdaya juang tinggi, yang diselenggarakan
cinta tanah air, bangga baik dalam bentuk tatap
pada budaya bangsanya muka atau dalam
dan tenggang rasa bentuk kegiatan proyek.
mengembangkan minat 2. Melaksanakan 100%
serta bakatnya sesuai penilaian sikap berbasis
dengan profil peserta Profil Peserta didik
didik pancasila. Pancasila.
3. Mendorong 100%
peserta didik mencapai
minimal predikat BAIK
pada penilaian sikap
berbasis Profil Peserta
didik Pancasila.
2. Memfasilitasi peserta 1. Memfasilitasi Proses
didik untuk belajar mengajar yang
mengembangkan berpusat pada peserta
keragaman potensi, didik
minat dan bakat serta 2. Menangani 100%
kecerdasan intelektual, peserta didik yang
emosional, spiritual mengalami
dan kinestetik secara permasalahan
optimal sesuai dengan pembelajaran agar dapat
tingkat terselesaikan.
perkembangannya 3. Mengikutsertakan 100%
peserta didik pada
minimal 1
ekstrakurikuler pilihan
sesuai bakat dan
minatnya.
4. Mengikutsertakan 100%
peserta didik pada
minimal 1 program life
skill sesuai bakat dan
minatnya.
14
5. Mengikutsertakan 25%
peserta didik pada
minimal 1
lomba/kompetisi
akademik dan non
akademik per tahun
3. Memfasilitasi peserta 1. Mendorong 100%
didik untuk dapat peserta didik ikut serta
meningkatkan budaya dalam kegiatan- kegiatan
disiplin beribadah serta ibadah
kesadaran hidup sehat 2. Mengikutsertakan 100%
peserta didik pada
minimal 1 program
pengembangan diri
kelompok keagamaan
3. Mendorong 100%
peserta didik ikut serta
menerapkan perilaku
hidup bersih dan sehat
2. Menghasilkan lulusan 4. Membekali peserta 1. Mengintegrasikan
yang terampil dalam didik dengan keahlian project based learning
berpikir kritis, berfikir kreatif dan pada 100% mata peserta
berkreatifitas, berfikir kritis. didikan.
memanfaatkan 2. Memfasilitasi 100%
teknologi digital, dan peserta didik
menghasilkan minimal 1
produk kreatif per tahun
dari project based
learning.
3. Membekali agar 100%
peserta didik mampu
menjawab minimal 70%
soal bertipe HOTS
dengan dengan benar.
5. Membekali peserta 1. Memfasilitasi 75%
didik dalam pembelajaran dengan
penguasaan digital penggunaan media TIK
2. Mendorong 100%
peserta didik mampu
mengoperasikan
minimal 1 peranagkat
digital dengan BAIK
dan BENAR
3. Menghasilkan lulusan 6. Memfasilitasi peserta 1. Mendorong 100%
yang memiliki wawasan didik memiliki peserta didik memiliki
lingkungan dan mampu kepekaan (sensitivitas), kepedulian sosial dengan
menyesuaikan diri kemampuan mengikuti berbagai
dalam kehidupan sosial. mengekspresikan dan kegiatan sosial
mengapresiasi 2. Mendorong 100%
keindahan dan peserta didik memiliki
15
keseimbangan sikap pemaaf dan berani
(harmoni), hidup meminta maaf
bermasyarakat, berguna 3. Mendorong 100%
untuk orang lain keikutsertaan peserta
didik memelihara
kerukunan
D. Strategi Untuk Mencapai Tujuan
Untuk dapat mewujudkan tujuan yang telah ditetapkan SMPN Satu Atap 1
Mangunreja menyusun beberapa rencana strategi pelaksanaan. Adapun strategi-
strategi tersebut adalah :
1) Menyusun tim penjamin mutu dan tim pengembang kurikulum
2) Melakukan analisis konteks terhadap kondisi dan lingkungan sekolah.
3) Menyusun rencana kurikulum operasional sekolah dengan melibatkan unsur
dinas pendidikan setempat, Pengawas Pembina, Tokoh Masyarakat dan
komite sekolah.
4) Melakukan analisis kebutuhan program sekolah (kegiatan intrakurikuler,
ekstrakurikuler, pelatihan, pengadaan sarana prasarana, kegiatan pendukung,
dan lain- lain) untuk mendukung pelaksanaan rencana kurikulum operasional
sekolah yang sudah disusun.
5) Menyusun RKAS (Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah) berdasar
analisis kebutuhan program.
6) Menyusun rencana serta instrumen Evaluasi, Pendampingan dan
Pengembangan dengan melihat berbagai sisi (guru, tenaga kependidikan,
pelajar, orang tua dan komite sekolah).
7) Melaksanakan kurikulum operasional sekolah dengan evaluasi harian, 1
bulanan, 1 semester dan 1 tahun.
8) Melaksanakan program perbaikan berdasar prioritas 1 bulanan, 1 semester dan
1 tahun.
9) Menyusun rencana kurikulum operasional sekolah berdasar hasil evaluasi
dengan melibatkan unsur dinas pendidikan setempat, Pengawas Pembina,
Tokoh Masyarakat dan komite sekolah.
16
BAB III
PENGORGANISASIAN PEMBELAJARAN
A. Pengorganisasian Pembelajaran
Kurikulum operasional di satuan pendidikan SMPN Satu Atap 1
Mangunreja merupakan sebuah bentuk kurikulum operasional untuk
melaksanakan Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum yang telah dibuat oleh
pusat, baik capaian pembelajaran, prinsip pembelajaran dan asesmen serta Profil
Pelajar Pancasila. Kurikulum operasional di satuan Pendidikan ini merupakan
bentuk penyesuaian dari kerangka yang disusun pusat dengan menyelaraskan
potensi daerah, kemampuan sekolah dan latar belakang peserta didik.
17
rutin enam hari efektif setiap minggunya. Hasil analisis mata pelajaran akan
dilanjutkan dengan mengemas pilihan pembelajaran dalam bentuk tematik dan
atau parsial dengan mengintegrasikan Profil Pelajar Pancasila di dalamnya,
kemudian dikemas dalam bentuk yang lebih mengerucut dalam rencana
pelaksanaan pembelajaran yang bersifat reflektif. Dalam menentukan
pembelajaran tematik dan parsial. SMPN Satu Atap 1 Mangunreja
mempertimbangkan prinsip pembelajaran, penentuan materi esensial dan juga
pengolaborasian pembelajaran terpadu dengan mengambil tema-tema yang
kontekstual dengan peserta didik, mudah dipahami dan dieksplorasi, dan up-date
dengan perkembangan informasi.
Pengorganisasian pembelajaran di sekolah tergambar pada kegiatan
kurikulum, yang diharapkan mampu mengembangkan kompetensi sikap,
pengetahuan, dan keterampilan serta dapat diterapkan dalam kehidupan sehari
hari. Peserta didik diharapkan mendapatkan pengalaman bermakna pada konteks
global. Pengalaman belajar diwadahi dalam kegiatan intrakurikuler, proyek Profil
Pelajar Pancasila (P3), dan ekstrakurikuler.
1. Intrakurikuler
a. Mata Pelajaran Umum
Kegiatan tatap muka adalah kegiatan proses interaksi langsung antara
peserta didik dan peserta didik pendidik dengan berbagai metode, model
pembelajaran, pendekatan pembelajaran, dan strategi pembelajaran. yang
dinyatakan dalam satuan jam pembelajaran untuk 1(satu) jam pelajaran tatap
muka berlangsung selama 40 menit. Prinsip pembelajaran reguler:
1) berpusat pada peserta didik,
2) merupakan kegiatan utama,
3) terjadwal,
4) dilaksanakan guru mapel,
5) mencapai tujuan yang telah ditetapkan,
6) dilaksanakan di sekolah, dan
7) dilakukan penilaian.
18
Pengorganisasian muatan pelajaran menggunakan sistem paket
sebagaimana diatur dalam struktur kurikulum setiap satuan pendidikan melakukan
pengaturan alokasi waktu untuk setiap mata pelajaran yang terdapat pada semester
gasal dan genap dalam satu tahun pelajaran. Beban belajar pada sistem paket
terdiri atas pembelajaran regular/tatap muka dan kegiatan proyek pelajar
pancasila.
Alokasi waktu kelas VII.
Asumsi jumlah minggu efektif 36 minggu per tahun
NO MATA Kegiatan regular Proyek pelajar Total per
PELAJARAN (Intrakurikuler) pancasila tahun
per tahun (Minggu) (kookurikuler)
Pertahun
1 Pendidikan Agama 72 (2) 36 108
dan Budi Pekerti
2 PPKn 72 (2) 36 108
3 Bahasa Indonesia 170 (5) 46 216
4 Matematika 144 (4) 36 180
5 IPA 144 (4) 36 180
6 IPS 108 (3) 36 144
7 Bahasa Inggris 108 (3) 36 144
8 PJOK 72 (2) 36 108
9 Informatika 72 (2) 36 108
10 Pilihan: 36 (1) 18 108
a. Seni Musik 36 (1) 18
b. Prakarya
11 Mulok 72 (2) 36 108
Jumlah 1044 360 1404
Catataan:
Untuk struktur kurikulum kelas VIII dan IX tahun pelajaran 2023/2024 masih
mengacu pada kurikulum 2013.
b. Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila
Projek penguatan profil pelajar Pancasila merupakan kegiatan kokurikuler
berbasis projek yang dirancang untuk menguatkan upaya pencapaian kompetensi
dan karakter sesuai dengan profil pelajar Pancasila yang disusun berdasarkan
Standar Kompetensi Lulusan. Pelaksanaan projek penguatan profil pelajar
Pancasila dilakukan secara fleksibel, dari segi muatan, kegiatan, dan waktu
pelaksanaan. Projek penguatan profil pelajar Pancasila dirancang terpisah dari
19
intrakurikuler. Tujuan, muatan, dan kegiatan pembelajaran projek tidak harus
dikaitkan dengan tujuan dan materi pelajaran intrakurikuler. Satuan pendidikan
dapat melibatkan masyarakat dan/atau dunia kerja untuk merancang dan
menyelenggarakan projek penguatan profil pelajar Pancasila.
Pelaksanaan projek penguatan profil pelajar Pancasila dilakukan secara
fleksibel, baik secara muatan maupun secara waktu pelaksanaan. Secara muatan,
projek profil harus mengacu pada capaian profil pelajar Pancasila sesuai dengan
fase peserta didik, dan tidak harus dikaitkan dengan capaian pembelajaran pada
mata pelajaran. Pada jenjang SMP/MTs atau sederajat, projek penguatan profil
pelajar Pancasila mengambil alokasi waktu 20-30% (dua puluh sampai dengan
tiga puluh persen) dari total jam pelajaran selama 1 (satu) tahun. Alokasi waktu
untuk setiap projek penguatan profil pelajar Pancasila tidak harus sama. Satu
projek dapat dilakukan dengan durasi waktu yang lebih panjang daripada projek
yang lain. Secara pengelolaan waktu pelaksanaan, projek dapat dilaksanakan
dengan menjumlah alokasi jam pelajaran projek dari semua mata pelajaran dan
jumlah total waktu pelaksanaan masing-masing projek tidak harus sama.
Pelaksanaan kegiatan proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila di SMP
SMPN Satu Atap 1 Mangunreja dilaksanakan pada akhir semester. Peserta didik
harus menyelesaikan 3 tema di tiap semester dengan alokasi waktu 4 minggu.
Tema yang diambil mengacu pada Profil Pelajar Pancasila dan penentuan
pemilihan tema ditentukan oleh guru pengampu. Hal ini dimaksudkan untuk
mempermudah dalam penilaian. Pelaksanaan proyek tersebut adalah kolaborasi
antara beberapa mata pelajaran namun dengan penilaian yang dan jenis proyek
yang berbeda tiap mata pelajaran.
Alur /tahapan pelaksanaan proyek yang tiap mata pelajaran adalah sebagai
berikut: 1) Penentuan tema proyek Profil Pelajar Pancasila tiap mata pelajaran
dilaksankan pada saat pembelajaran di kelas; 2) Tiap kelas menentukan tema yang
akan dipilih dengan didampingi guru mata pelajaran masing-maisng kelas; 3)
Guru mata pelajaran saling berkoordinasi untuk menetukan kolaborator yang
sesuai; 4) Kelompok mata pelajaran kemudian mendesain proyek yang sesuai
20
dengan tema yang dipilih; 5) Guru mata pelajaran kemudian merancang kisi-kisi,
materi dan penilaian proyek beserta Lembar Kegiatan Peserta Didik (LKPD).
Kegiatan proyek profil pelajar Pancasila dilaksanakan dengan mengacu
pada model pembelajaran berbasis proyek (PJBL). Langkah Kegiatan
pembelajaran berbasis proyek ini antara lain:
1) Mengambil topik yang sesuai denga realitas dengan mentukan pertanyaan
mendasar untuk memulai proyek;
2) Mendesain pelaksaan proyek;
3) Menyusun jadwal proyek;
4) Memonitor peserta didik dan kemajuan proyek;
5) Menguji Hasil;
6) Mengevaluasi pengalaman yang sudah diperoleh oleh peserta didik.
Pelaksanaan kegiatan ini didampingi oleh guru mata pelajaran, pembina
dan wali kelas dengan tetap melibatkan orang tua baik secara langsung maupun
tidak langsung. Pihak sekolah mengadakan pemantauan terkait kegiatan proyek
tersebut.
Pemerintah menetapkan tema-tema utama untuk dirumuskan menjadi
topik oleh satuan pendidikan sesuai dengan konteks wilayah serta karakteristik
peserta didik. Tema-tema utama projek penguatan profil pelajar Pancasila
yang dapat dipilih oleh satuan pendidikan sebagai berikut;
1. Gaya Hidup Berkelanjutan.
Peserta didik memahami dampak aktivitas manusia, baik jangka pendek
maupun panjang, terhadap kelangsungan kehidupan di dunia maupun
lingkungan sekitarnya. Peserta didik juga membangun kesadaran untuk
bersikap dan berperilaku ramah lingkungan, mempelajari potensi krisis
keberlanjutan yang terjadi di lingkungan sekitarnya serta mengembangkan
kesiapan untuk menghadapi dan memitigasinya.
2. Kearifan Lokal.
Peserta didik membangun rasa ingin tahu dan kemampuan inkuiri melalui
eksplorasi budaya dan kearifan lokal masyarakat sekitar atau daerah tersebut,
serta perkembangannya. Peserta didik mempelajari bagaimana dan mengapa
21
masyarakat lokal/ daerah berkembang seperti yang ada, konsep dan nilai-nilai
dibalik kesenian dan tradisi lokal, serta merefleksikan nilai-nilai apa yang
dapat diambil dan diterapkan dalam kehidupan mereka.
3. Bhinneka Tunggal Ika.
Peserta didik mengenal dan mempromosikan budaya perdamaian dan anti
kekerasan, belajar membangun dialog penuh hormat tentang keberagaman
serta nilai-nilai ajaran yang dianutnya. Peserta didik juga mempelajari
perspektif berbagai agama dan kepercayaan, secara kritis dan reflektif
menelaah berbagai stereotip negatif dan dampaknya terhadap terjadinya
konflik dan kekerasan.
4. Bangunlah Jiwa dan Raganya.
Peserta didik membangun kesadaran dan keterampilan memelihara kesehatan
fisik dan mental, baik untuk dirinya maupun orang sekitarnya. Peserta didik
melakukan penelitian dan mendiskusikan masalah-masalah terkait
kesejahteraan diri (wellbeing), perundungan (bullying), serta berupaya
mencari jalan keluarnya. Mereka juga menelaah masalah-masalah yang
berkaitan dengan kesehatan dan kesejahteraan fisik dan mental, termasuk isu
narkoba, pornografi, dan kesehatan reproduksi.
5. Suara Demokrasi.
Peserta didik menggunakan kemampuan berpikir sistem, menjelaskan
keterkaitan antara peran individu terhadap kelangsungan demokrasi Pancasila.
Melalui pembelajaran ini peserta didik merefleksikan makna demokrasi dan
memahami implementasi demokrasi serta tantangannya dalam konteks yang
berbeda, termasuk dalam organisasi sekolah dan/atau dalam dunia kerja.
6. Rekayasa dan Teknologi.
Peserta didik melatih daya pikir kritis, kreatif, inovatif, sekaligus kemampuan
berempati untuk berekayasa membangun produk berteknologi yang
memudahkan kegiatan diri dan sekitarnya. Peserta didik dapat membangun
budaya smart society dengan menyelesaikan persoalan-persoalan di
masyarakat sekitarnya melalui inovasi dan penerapan teknologi,
mensinergikan aspek sosial dan aspek teknologi.
22
7. Kewirausahaan.
Peserta didik mengidentifikasi potensi ekonomi di tingkat lokal dan masalah
yang ada dalam pengembangan potensi tersebut, serta kaitannya dengan aspek
lingkungan, sosial dan kesejahteraan masyarakat. Melalui kegiatan ini,
kreativitas dan budaya kewirausahaan akan ditumbuhkembangkan. Peserta
didik juga membuka wawasan tentang peluang masa depan, peka akan
kebutuhan masyarakat, menjadi problem solver yang terampil, serta siap untuk
menjadi tenaga kerja profesional penuh integritas.
Dalam pelaksanaan proyek penguatan profil pelajar Pancasila, peserta
didik jenjang SMP termasuk di fase D atau usia 13-15 tahun. Berikut contoh-
contoh proyek d jenjang SMP.
1) Tema Gaya Hidup Berkelanjutan: Proyek membuat purwarupa sistem
pengelolaan sampah di satuan pendidikan.
2) Tema Kerifan Lokal: Proyek membuat Mural Akulturasi yang bercerita
tentang proses akulturasi dan dampaknya di masyarakat saat ini.
3) Tema Bhineka Tuggal Ika: Proyek Menciptakan lagu-lagu bertema
keberagaman
4) Tema Rekayasa dan Teknologi: Proyek menciptakan sistem pemanenan air
hujan di lingkungan sekolah untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari.
5) Tema Kewirausahaan: Proyek menciptakan produk yang menjawab kebutuhan
tertentu dalam lingkup terdekat, atau produk yang berciri khas daerah.
6) Tema Suara Demokrasi: Proyek menyusun kepengurusan kelas beserta
lingkup tugas, jangka waktu bertugas, dan tata cara pemilihannya (ketua kelas,
wakil, bendahara). Selain itu menyusun aturan-aturan yang berlaku di kelas
berkaitan dengan kepentingan bersama demi kelancaran proses belajar-
mengajar dan relasi antar-peserta didik.
7) Tema Bangun Jiwa dan Raga: Proyek membuat kegiatan-kegiatan dan
menyusun kesepakatan antar-peserta didik dengan berbasis pada OSIS untuk
mencapai kesejahteraan (wellbeing) jiwa-raga (olah raga, seni, kemanusiaan,
agama, dll).
23
Menyusun jadwal projek penguatan profil pelajar Pancasila pada
kurikulum merdeka memiliki 3 pilihan yaitu:
1. Per Jam
Mengalokasikan 1—2 jam pelajaran di akhir hari, khusus untuk mengerjakan
projek. Bisa digunakan untuk eksplorasi di sekitar satuan pendidikan sebelum
peserta didik pulang.
2. Per Hari
Menentukan satu hari dalam seminggu untuk pelaksanaan projek (misalnya hari
Jumat). Seluruh jam belajar pada hari itu digunakan untuk projek.
3. Per Periode
Mengumpulkan dan memadatkan pelaksanaan tema dalam satu periode waktu
misalnya 2 minggu atau 1 bulan, di mana semua pendidik berkolaborasi.
24
c. Mata Pelajaran Bahasa Daerah
Selain mata pelajaran umum, SMPN Satu Atap 1 Mangunreja pun
mengakomodir Bahasa Daerah sebagai salah satu mata pelajaran wajib. Bahasa
Sunda merupakan bahasa ibu bagi masyarakat Desa Sukaluyu, Kecamatan
Mangunreja Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat. Bahasa daerah juga
menjadi bahasa pengantar pembelajaran di kelas-kelas awal SD/MI. Melalui
pembelajaran bahasa daerah diperkenalkan kearifan lokal sebagai landasan
Etnopedagogis2. Pembelajaran bahasa dan sastra daerah diarahkan untuk
meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi dalam Bahasa
Daerah dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tulis, serta
menumbuhkan apresiasi terhadap budaya dan hasil karya sastra daerah. Desain
pembelajaran mata pelajaran Bahasa Daerah diturunkan dari kompetensi yang
telah disusun oleh tim pengembang kurikulum Bahasa Daerah Provinsi Jawa
Barat. Konten dalam Bahasa Daerah sama halnya dengan Bahasa Indonesia yang
terdiri dari 4 elemen kebahasaan.
d. Pengembangan Diri
1) Identifikasi yang meliputi daya dukung, potensi bakat dan minat peserta didik
dan potensi daerah.
2) Pemetaan
a) Jenis layanan pengembangan diri
b) Petugas yang melayani
c) Peserta didik yang dilayani
3) Pelaksanaan program
a) Pelaksanaan ( Orentasi, pemantapan, pengembangan )
b) Monitoring Pelaksanan
c) Penilaian ( terjadwal, terstruktur, kualitatif )
4) Analisis hasil penilaian (berbasis data, proporsional, realistis, valid, transparan
dan akuntabel)
5) Pelaporan berupa format deskripsi dalam buku laporan pengembangan diri.
Pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta
didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan,
25
bakat, dan minat setiap peserta didik sesuai dengan kondisi sekolah. Kegiatan
pengembangan diri difasilitasi dan atau dibimbing oleh konselor, guru, atau
tenaga kependidikan yang yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan
ekstrakurikuler. Kegiatan pengembangan diri dilakukan melalui kegiatan
pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan
sosial belajar, dan pengembangan karir peserta didik.
Penilaian pengembangan diri dilakukan secara kualitatif. Adapun tahapan
kegiatan pengembangan diri dilakukan dengan cara:
Pilihan pengembangan diri di SMPN Satu Atap 1 Mangunreja adalah sebagai
berikut.
1) Baca Tulis Al-Qur’an
Merupakan program unggulan SMPN Satu Atap 1 Mangunreja yang bertujuan
mengembangkan keterampilan membaca, menulis Al-Qur’an penanaman
Pendidikan keagamaan melalui kegiatan rutin yang dibimbing oleh tenaga
pengajar dari lingkungan sekolah.
2)
Merupakan program unggulan SMPN Satu Atap 1 Mangunreja yang bertujuan
mengembangkan keterampilan seni dalam bidang keagamaan yang dibimbing
oleh tenaga pengajar dari lingkungan sekolah.
3) Bahasa Inggris. Pembelajaran Bahasa Inggris merupakan program unggulan
SMPN Satu Atap 1 Mangunreja yang bertujuan untuk mengembangkan
kemampuan berbahasa Inggris peserta didik melalu berbicara, menulis dan
mendengarkan. Konten materi lebih mengedepankan kepada hal-hal sederhana
yang dapat ditemukan dalan kehidupan sehari-hari seperti perkenalan diri,
keadaan di rumah, kelas, sekolah dan lingkungan sekitar.
4) TIK, Pembelajaran TIK merupakan program unggulan SMPN Satu Atap 1
Mangunreja yang bertujuan mempersiapkan peserta didik dalam
menyongsong abad milenial, revolusi Industri 4.0 yang dilakukan serba
komputerisasi dan serba digital. Materi pembelajaran komputer diawali dari
pengenalan sederhana komputer, tool-tool yang yang ada di komputer.
26
3. Ekstrakurikuler
Kegiatan ekstrakurikuler merupakan kegiatan penunjang di SMPN Satu
Atap 1 Mangunreja sebagai suplemen dalam pendidikan untuk meningkatkan
kecerdasan dan keterampilan peserta didik sesuai dengan bakat dan minat serta
kompetensi lainnya.
d. Jenis-jenis nilai yang ditanamkan dan strategi yang digunakan pada kegiatan
ekstrakurikuler di SMP Negeri Satu Atap 2 Mangunreja adalah sebagai
berikut ini :
Tabel 2.1
Jenis Ekstrakurikuler SMP Negeri Satu Atap 1 Mangunreja
2. Paskibra
3. Seni tari
27
Jenis Ekstrakurikuler Nilai-nilai yang ditanamkan Strategi
keras, Cinta damai, Disiplin, Jujur rutin (antara
lain: bola voli,
Sepak Bola /
Putsal)
Perlombaan
olahraga
5. Perisai Diri
b. Jadwal Kegiatan
Tabel 2.2
Jadwal Kegiatan
Ekstrakurikuler SMP Negeri Satu Atap 1 Mangunreja
JENIS
NO. HARI WAKTU PEMBINA
KEGIATAN
1. Kepramukaan Jum’at 13.30 Edi [Link].
2. Paskibra Rabu 13.30 Aqlila Sekar, [Link].
3. Seni Tari Kamis 14.00 Aqlila Sekar, [Link].
4. Bola Voly Jum’at Edi [Link].
5. Perisai Diri Kamis 14.00- 16.00 Kholik
c. Penilaian
Kegiatan ekstrakurikuler dinilai dan dilaporkan secara berkala kepada kepala
sekolah dan orang tua dalam bentuk kuantitatif dan kualitatif.
4. Aktualisasi Budaya Sekolah
Kegiatan pembiasaan merupakan budaya sekolah yang dilaksanakan setiap
hari sebagai upaya pendidikan pembentukkan karakter peserta didik sebagai
implementasi Profil Pelajar Pancasila. Kegiatan pembiasaan dilaksanakan secara
rutin, baik harian, mingguan, bulanan dan tahunan, dan tehnik pelaksanaannya ada
yang terstruktur dan spontan atau berupa direct dan indirect learning, yang
bertujuan melatih dan membimbing peserta didik bersikap dan berperilaku dengan
28
menanamkan nilai-nilai karakter baik sehingga menjadi habituasi yang
terinternalisasi dalam hati dan jiwa peserta didik.
Jenis Pengembangan Diri (PD) di SMP Negeri Satu Atap 1 Mangunreja
Kabupaten Tasikmalya meliputi :
a. Pengembangan diri untuk pembentukan karakter siswa melalui kegiatan
pembiasaan yang terdiri dari:
1) Pembiasaan Rutin
Pembiasaan disiplin upacara bendera/apel Senin pagi
Pembiasaan menyanyikan lagu wajib Indonesia Raya setiap hari
sebelum jam pertama dimulai
Pembiasaan menyanyikan lagu daerah setiap hari setelah jam
pembelajaran berakhir
Pembiasaan membaca senyap setiap hari sebelum jam pertama dimulai
Pembiasaan Sabtu bersih
Pembiasaan salat dhuha bersama setiap hari jam ke-0
Pembiasaan Pembacaan Asmaul Husna setiap hari selepas Dhuha,
tilawah [Link] Kahfi, Yasin
Pembiasaan kajian kitab kuning (Tijan,Fikih, Tauhid dan Tajwid) oleh
tim AMS
Pembiasaan Dzuhur berjamaah setiap hari
Pembiasaan mengucapkan salam
Pembiasaan berdo’a sebelum dan sesudah belajar
Pembiasaan budaya bersih, sehat dan lingkungan nyaman
Pembiasaan budaya dan minat baca di perpustakaan
2) Pembiasaan Terprogram
Kegiatan Pesantren Ramadhan
Pekan kreativitas olah raga dan seni antar kelas
Tadarus Al-Qur’an setiap hari selepas dhuha
Pembacaan Yassin, AL Kahfi, AL Mulk setiap hari Jum’at selepas
dhuha
Kultum siswa selepas sholat dhuha
29
3) Pembiasaan Spontan
Pembiasaan mengcapkan salam dan memberikan salam
Pembiasaan membuang sampah pada tempatnya
Pembiasaan hidup antri
Pembiasaan kesetiakawanan dan berjiwa sosial
Pembiasaan meminta maaf dan berterima kasih
Pembiaasn kepedulian saling membantu teman, berbagi makanan
4) Pembiasaan Keteladanan
Pembiasaan berpakaian rapih, bersih dan menarik
Pembiasaan berkata atau bertutur kata yang baik dan sopan
Pembiasaan hidup sederhana
Pembiasaan tidak merokok di lingkungan sekolah
Pembiasaan “On Time” dalam segala kegiatan
b. Pengembangan diri untuk pengembangan minat dan bakat siswa terdiri dari:
1) Kegiatan Ekrakurikuler Wajib :
- Pramuka
2) Kegiatan Ekstrakurikuler Pilihan :
- Seni Tari
- Voly ball
- Sepak bola
- Paskibra
- Kaderisasi (OSIS)
- Perisai Diri
Dari sekian kegiatan pengembangan diri yang dikemukakan di atas, salah
satu yang menjadi pilihan wajib peserta didik di SMP Negeri Satu Atap 1
Mangunreja Kabupaten Tasikmalya adalah kegiatan Pramuka, sedangkan
pengembangan diri yang lain dapat dipilih berdasarkan minat dan bakat siswa.
30
Kurikulum di SMPN Satu Atap 1 Mangunreja dikembangkan dengan
memperhatikan empat ranah yaitu sosial-emosional, intelektual, ketrampilan, dan
perilaku dengan kompetensi spiritual sebagai payungnya, yang dilaksanakan
dalam bentuk pembelajaran berbasis tema atau integrated curriculum pada mata
pelajaran PPKn, Bahasa Indonesia, Ilmu Pengetahuan Alam-Sosial, dan Bahasa
Inggris. Sedangkan untuk mata pelajaran Pendidikan Agama dan Budi Pekerti,
Seni, Matematika dan PJOK dilaksanakan dalam bentuk parsial. Pelaksanaan
pembelajaran dilaksanakan dalam waktu 6 hari masuk sekolah.
Muatan kurikulum dalam satuan pendidikan memuat beberapa komponen
antara lain muatan pembelajaran intrakurikuler, proyek pengutan Profil Pelajar
Pancasila dan ekstrakurikuler. Pengaturan waktu belajar intrakurikuler setiap mata
pelajaran di SMPN Satu Atap 1 Mangunreja dari kelas VII akan dikemas secara
regular (parsial) per minggu. Selain itu terdapat pembelajaran berbasis proyek
penguatan Profil Pelajar Pancasila dalam bentuk kegiatan kokurikuler.
Pengaturan beban belajar dan muatan pembelajarannya di SMPN Satu
Atap 1 Mangunreja diatur sebagai berikut:
No Muatan Beban Belajar Pengaturan
Pembelajaran
Intrakurikuler Wajib a. Beban belajar ini memuat semua
1. mata pelajaran yang bersifat
nasional.
b. Materi pembelajaran setiap mata
pelajaran mengacu pada Capaian
Pembelajaran.
Tambahan a. Memuat mata pelajaran Bahasa
Daerah (Bahasa Sunda) yang
sesuai karakterisrik Provinsi Jawa
Barat.
b. Diatur dalam kegiatan reguler.
Proyek Penguatan Wajib a. Muatan pembelajaran mengacu
2. Profil Pelajar pada 6 tema projek Profil Pelajar
Pancasila Pancasila.
b. Diatur dalam kegiatan projek.
3 Ekstrakurikuler Tambahan a. Memiliki muatan yang menjadi
kebutuhan dan karakteristik SMPN
Satu Atap 1 Mangunreja.
b. Diatur dalam kegiatan di luar
kegiatan regular dan proyek PPP
31
Setelah analisis kebutuhan mapel, maka akan disusun analisis operasional
sebagai turunan dari capaian pembelajaran dan alur tujuan pembelajaran yang
telah disediakan pusat. Analisis ini akan diselaraskan dengan muatan lokal dan
potensi daerah juga program sekolah dengan menghitung alokasi waktu yang
tidak membebani peserta didik agar kenyamanan dan kebahagiaan dalam belajat
tetap terjaga utuh. Kurikulum operasional di satuan Pendidikan SMPN Satu Atap
1 Mangunreja mempertimbangkan karakteristik peserta didik yang beragam dan
mengedepankan proses dinamis yang reflektif dalam proses pelaksanaannya
sehingga tujuan akhir profil peserta didik sesuai dengan yang diharapkan pada
visi, misi dan tujuan sekolah.
4. Kriteria Kelulusan
Setiap lulusan satuan pendidikan dasar dan menengah diharapkan memiliki
kompetensi pada tiga dimensi yaitu sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
Dengan semangat teliti, telaten, teladan, tanggon, SMPN Satu Atap 1 Mangunreja
sebagai sekolah pencetak sumber daya manusia unggul, perlu dibuat kreteria
kelulusan. SMPN Satu Atap 1 Mangunreja mempunyai kriteria kelulusan bagi
peseta didik yaitu:
a. Menyelesaikan seluruh program pembelajaran.
b. Lulus Ujian Sekolah: Peserta Ujian Sekolah SMPN Satu Atap 1 Mangunreja
dinyatakan lulus apabila nilai minimum setiap mata pelajaran Ujian Sekolah
adalah 70.
c. Lulus Ujian Praktik: Peserta Ujian Praktek SMPN Satu Atap 1 Mangunreja
dinyatakan lulus, apabila memiliki nilai minimum 70 untuk setiap mata
pelajaran yang diujikan.
d. Nilai kepribadian dan akhlak mulia minimum Baik (B).
e. Kehadiran minimal 90 % dari jumlah hari efektif, kecuali ada surat dispensasi
atau sejenisnya yang bisa dipertanggung jawabkan.
f. Ditetapkan dalam rapat pleno dewan guru dan Kepala Sekolah
6. Kalender Pendidikan
32
Kalender pendidikan adalah pengaturan waktu untuk kegiatan
pembelajaran peserta didik selama satu tahun ajaran yang mencakup permulaan
tahun pelajaran, minggu efektif belajar, waktu pembelajaran efektif dan hari libur.
Pengembangan Kalender Pendidikan SMPN Satu Atap 1 Mangunreja mengacu
pada rambu-rambu sebagai berikut:
a) Permulaan tahun pelajaran adalah waktu dimulainya kegiatan pembelajaran
pada awal tahun pelajaran pada setiap satuan pendidikan, yaitu pada bulan Juli
2023.
b) Hari libur sekolah ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan
Nasional, dan/atau Menteri Agama dalam hal yang terkait dengan hari raya
keagamaan dan Kepala Daerah tingkat kabupaten/kota.
c) Minggu efektif belajar adalah jumlah minggu kegiatan pembelajaran untuk
setiap tahun pelajaran pada setiap satuan pendidikan. Waktu pembelajaran
efektif adalah jumlah jam pembelajaran setiap minggu, meliputi jumlah jam
pembelajaran untuk seluruh mata pelajaran termasuk muatan lokal.
d) Waktu libur adalah waktu yang ditetapkan untuk tidak diadakan kegiatan
pembelajaran terjadwal pada satuan pendidikan yang dimaksud. Waktu libur
dapat berbentuk jeda tengah semester, jeda antar semester, libur akhir tahun
pelajaran, hari libur keagamaan, hari libur umum termasuk hari-hari besar
nasional, dan hari libur khusus.
e) Kalender pendidikan SMPN Satu Atap 1 Mangunreja disusun berdasarkan
kebutuhan dan kegiatan-kegiatan sekolah dipadukan dengan kalender
pendidikan yang disusun Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat serta
memperhatikan peraturan dan kalender kegiatan pemerintah daerah Kabupaten
Tasikmalaya.
f) Kalender pendidikan setiap tahun berubah mengikuti peraturan/kalender
pendidikan dari Dinas Pendidikan Kabupaten Tasikmalaya, maka dari itu
kalender pendidikan disajikan dalam bentuk lampiran, sedangkan di sini hanya
dipaparkan secara umum atau garis besarnya saja.
33
Berikut alokasi waktu minggu efektif belajar, waktu libur dan kegiatan
lainnya beserta kalender pendidikan SMPN Satu Atap 1 Mangunreja tahun
pelajaran 2023/2024
No. Kegiatan Alokasi Waktu Keterangan
1. Minggu efektif belajar Minimal 36 minggu Digunakan untuk
reguler setiap tahun maksimal 40 minggu kegiatan
(Kelas VII) pembelajaran efektif
pada setiap satuan
pendidikan
2. Jeda tengah semester Maksimal 2 minggu Satu minggu setiap
semester
3. Jeda antar semester Maksimal 2 minggu Antara semester I
dan II
4. Libur akhir tahun ajaran Maksimal 3 minggu Digunakan untuk
penyiapan kegiatan
dan administrasi
akhir dan awal tahun
ajaran, serta PPDB
5. Hari libur keagamaan Maksimal 4 minggu Disesuaikan dengan
peraturan pemerintah
6. Hari libur umum/ nasional Maksimal 2 minggu Disesuaikan dengan
peraturan pemerintah
7. Kegiatan Akhir Semester Maksimum 1 minggu Memberi
kesempatan kepada
peserta didik untuk
menampilkan hasil
pengembangan diri
(Ekskul).
34
a. Permulan Tahun Baru
Tabel 2.3
Kegian Permulaan Tahun Pelajaran Baru
No. Tanggal Kegiatan Ket.
1 28 Juni – 7 Juli 2023 Persiapan dan Pelaksanaan PPDB
2 17 Juli 2023 Hari pertama masuk sekolah
3 17 - 18 Juli 2023 MPLS peserta didik baru
4 28 - 29 Juli 2023 Permata
5 25 - 26 Juli 2023 Matrikulasi untuk kelas 7
6 1 Agustus 2023 Proses Pembelajaran kelas 7
35
1. Jumlah Minggu Efektif dalam 1 Tahun
Tabel 2.5
Jumlah Minggu Efektif dalam 1 Tahun untuk Kelas VII
Jumlah Minggu
Semester Minggu Efektif
Minggu Tidak Efektif
1 25 7 18
2 28 14 14
Jumlah 53 21 32
Tabel 2.7
Perhitungan Minggu Tidak Efektif dalam 1 Tahun
36
Kelas VII
Jumlah
No. Jenis Kegiatan
Minggu
Semester I (satu)
1. MPLS dan Permata 1
2. Pelantikan Rambu Rakit dan Porseni 1
3. PTS 1
4. PAS 1
5. Pengolahan Nilai 1
6 Libur Semester 1 2
Jumlah Semester Gasal 7 Minggu
Semester II (dua)
6. Libur Semester 1 1
7. PTS 2 1
8. Try Out 1
9. Libur US/USBN 1
10. UNBK 1
11. Libur Awal Ramadhan 1
12. Libur Idul Fitri 2
13. PAT 2
14 Pengolahan Nilai Semester 2 1
15 Libur Semester 2 3
Jumlah Semester Genap 14 Minggu
Jumlah dalam 1 Tahun 21 Minggu
BAB IV
37
PERENCANAAN PEMBELAJARAN
38
Perencanaan pembelajaran disusun secara rutin untuk memetakan dan
merencanakan proses pembelajaran secara rinci. Rencana pembelajaran
merupakan kompas bagi guru dalam pelaksanaan pembelajaran. Pembelajaran
berpusat pada peserta didik yang tetap mengusung kegiatan pembelajaran yang
menarik, menyenangkan dan memotivasi peserta didik menjadi pembelajar
sepanjang hayat.
Tujuan dari penyusunan Rencana pembelajaran adalah sebagai berikut.
1) Pembelajaran menjadi lebih sistematis.
2) Memudahkan analisis keberhasilan belajar peserta didik.
3) Memudahkan guru dalam penyampaian materi ajar.
4) Mengatur pola pembelajaran.
Perencanaan pembelajaran meliputi: 1. Ruang lingkup satuan pendidikan -
penyusunan alur tujuan pembelajaran atau silabus. Dalam ruang lingkup satuan
pendidikan, perumusan dan penyusunan alur dan tujuan pembelajaran atau silabus
mata pelajaran berfungsi mengarahkan satuan pendidikan dalam merencanakan,
mengimplementasi, dan mengevaluasi pembelajaran secara keseluruhan sehingga
capaian pembelajaran diperoleh secara sistematis, konsisten, dan terukur. 2.
Ruang lingkup kelas - penyusunan modul ajar atau rencana pelaksanaan
pembelajaran. Untuk dokumen rencana pelaksanaan pembelajaran pada ruang
lingkup kelas, satuan pendidikan dapat menggunakan, memodifikasi, atau
mengadaptasi contoh modul ajar yang disediakan Pemerintah, dan cukup
melampirkan beberapa contoh rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP)/modul
ajar atau bentuk rencana kegiatan yang mewakili inti dari rangkaian pembelajaran
pada bagian Lampiran.
Dalam menyusun perencanaan pembelajaran, satuan pendidikan perlu
memperhatikan beberapa hal sebagai berikut:
39
1. Capaian pembelajaran yang menjadi tujuan belajar dari suatu unit
pembelajaran merupakan sekumpulan kompetensi dan lingkup materi
pembelajaran yang sesuai dengan kurikulum Satuan Pendidikan. Capaian
pembelajaran yang menjadi tujuan belajar dari suatu unit pembelajaran,
dirumuskan dengan mempertimbangkan karakteristik Peserta Didik dan
sumber daya Satuan Pendidikan. Selain mempertimbangkan karakteristik
Peserta Didik dan sumber daya Satuan Pendidikan, perumusan capaian
pembelajaran pada pendidikan menengah kejuruan juga mempertimbangkan
kompetensi yang dibutuhkan oleh dunia kerja. Perumusan capaian
pembelajaran yang menjadi tujuan belajar.
2. Capaian pembelajaran diuraikan menjadi tujuan-tujuan pembelajaran yang
bersifat operasional dan konkret. Perumusan tujuan pembelajaran meliputi
kompetensi dan lingkup materi
3. Tujuan-tujuan pembelajaran tersebut kemudian diurutkan menjadi alur tujuan
pembelajaran. Alur tujuan pembelajaran adalah rangkaian tujuan pembelajaran
yang disusun secara logis menurut urutan pembelajaran sejak awal hingga
akhir suatu fase. Alur ini disusun secara linear sebagaimana urutan kegiatan
pembelajaran yang dilakukan dari hari ke hari. Prinsip penyusunan alur tujuan
pembelajaran: esensial, berkesinambungan, kontekstual, dan sederhana.
4. Proses merancang pembelajaran meliputi tujuan pembelajaran yang telah
dibuat sebelumnya, langkah-langkah pembelajaran, dan asesmen pembelajaran
yang disusun dalam bentuk dokumen yang fleksibel, sederhana, dan
kontekstual. Dokumen tersebut digunakan oleh pendidik dalam upaya
mencapai profil pelajar Pancasila dan Capaian Pembelajaran. Dalam proses
40
merancang pembelajaran, pendidik dapat mengembangkan alur tujuan
pembelajaran dan rencana pembelajaran secara mandiri.
Rencana pembelajaran SMPN Satu Atap 1 Mangunreja disusun dalam
bentuk sederhana dengan keterbacaan yang baik yang memuat tiga poin utama
dalam proses pembelajaran, yaitu tujuan pembelajaran, aktivitas atau kegiatan
pembelajaran dan penilaian. Tujuan pembelajaran merupakan penerjemahan
tujuan capaian pembelajaran yang dapat terukur pencapaian dan keberhasilannya.
Kegiatan pembelajaran disusun dalam langkah-langkah aktivitas peserta didik
yang menarik dan menyiratkan model dan strategi pembelajaran yang kontekstual
dan menarik sesuai diferensiasi karakteristik peserta didik serta mampu
mengakomodir minat bakat peserta didik. Dalam kegiatan pembelajaran pun
diintegrasikan penumbuhan dan penguatan Profil Pelajar Pancasila. Selain itu,
dalam kegiatan pembelajaran disusun prediksi respon peserta didik sehingga
menjaga alur pembelajaran yang tetap terkondisikan dengan baik. Untuk penilaian
dilakukan selama proses pembelajaran dan pasca pembelajaran yang dirancang
untuk mengukur ketercapaian tujuan pembelajaran baik dari dimensi sikap,
pengetahuan dan keterampilan. Di akhir bagian RPP, terdapat kolom refleksi
untuk mengulas kekurangan dan kelebihan proses pembelajaran untuk perbaikan
pembelajaran selanjutnya. Hal ini menunjukkan bagaimana dokumen Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran sebagai dokumen yang hidup dan dinamis.
41
3. perbaikan atau pengayaan hasil belajar melalui penugasan dan evaluasi hasil
belajar,
4. memperbaiki proses pembelajaran selanjutnya.
Konsep asesmen otentik yang dilakukan mengukur dimensi sikap,
pengetahuan dan keterampilan. Variasi bentuk asesmen akan lebih
memperlihatkan kemampuan peserta didik. Rubrik asesmen dibuat berdasarkan
tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Materi pengayaan hanya diperuntukkan
peserta didik yang telah melampaui capaian pembelajaran dan bersifat optional.
Sedangkan remedial merupakan kegiatan wajib dilaksanakan sehingga
pembelajaran tetap berkelanjutan.
Asesmen hasil belajar peserta didik pada jenjang pendidikan dasar
didasarkan pada prinsip asesmen. Dimana asesmen dilakukan mempertimbangkan
karakteristik peserta didik pada setiap kelas berdasarkan pada hasil proses
pembelajaran dalam mencapai semua aspek kompetensi yang tertera pada tujuan
pembelajaran sehingga jelas kemampuan yang akan diukur dengan prosedur dan
kriteria yang jelas. Prosedur asesmen, kriteria dan dasar pengambilan keputusan
terhadap hasil asesmen dapat diakses oleh pihak yang berkepentingan. Asesmen di
SMPN Satu Atap 1 Mangunreja bersifat kontinuitas tidak tersekat per kelas,
sehingga hasil asesmen sebelumnya merupakan referensi untuk asesmen
kemudian. Sistem asesmen yang sistematis dan mengacu pada kriteria harus dapat
dipertanggungjawabkan secara teknis, prosedur dan hasil akhirnya.
Lingkup asesmen hasil belajar oleh pendidik mencakup aspek sikap, aspek
pengetahuan, dan aspek keterampilan. Adapun mekanisme asesmen hasil belajar
oleh pendidik meliputi:
1. Rencana strategi asesmen oleh pendidik dilakukan pada saat penyusunan
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).
2. Asesmen Hasil Belajar oleh pendidik dilakukan untuk memantau proses,
kemajuan belajar, dan perbaikan hasil belajar melalui penugasan dan
pengukuran pencapaian satu atau lebih capaian pembelajaran.
42
3. Asesmen aspek sikap dilakukan melalui observasi/pengamatan sebagai sumber
informasi utama dan pelaporannya menjadi tanggung jawab wali kelas atau
guru kelas.
4. Hasil asesmen pencapaian sikap oleh pendidik disampaikan dalam bentuk
deskripsi.
5. Asesmen aspek pengetahuan dilakukan melalui tes tertulis, tes lisan, dan
penugasan sesuai dengan kompetensi yang dinilai disampaikan dalam bentuk
deskripsi.
6. Asesmen keterampilan dilakukan melalui praktik, produk, proyek, portofolio,
dan/atau teknik lain sesuai dengan kompetensi yang dinilai.
7. Hasil asesmen pencapaian pengetahuan dan keterampilan oleh pendidik
disampaikan dalam bentuk angka dan/atau deskripsi.
Hasil asesmen kemudian dilakukan analisis atau evaluasi hasil belajar.
Evaluasi ini bertujuan untuk menentukan ketercapaian pemahaman peserta didik
terhadap tujuan capaian pembelajaran dan penguatan Profil Pelajar Pancasila.
Analisis untuk pengetahuan juga dilakukan untuk menentukan umpan
balik pasca penilaian terhadap peserta didik, yaitu pelaksanaan program remedial
dan pengayaan. Proses evaluasi ini dilakukan baik setelah peserta didik
mengerjakan post tes harian, penilaian harian, penilaian tengah semester dan
penilaian akhir semester serta Asesmen akhir tahun.
Kriteria kenaikan kelas setidak-tidaknya harus memenuhi kriteria, yaitu
pertama, keikutsertaan peserta didik dalam pembelajaran, kedua, ketuntasan mata
pelajaran pada kompetensi pengetahuan dan keterampilan, dan ketiga, penilaian
baik pada kompetensi sikap.
43
BAB V
PENDAMPINGAN, EVALUASI, DAN PENGEMBANGAN
PROFESIONAL
44
dengan mempertimbangkan perubahan yang terjadi baik perubahan kebijakan
maupun update perkembangan terkini dalam proses pembelajaran. Evaluasi
kurikulum dilakukan berdasarkan hasil evaluasi pembelajaran yang dilakukan
secara reflektif, yaitu:
1. Evaluasi Harian, dilakukan secara individual oleh guru setelah pembelajaran
berdasarkan catatan anekdotal selama proses pembelajaran, penilaian dan
refleksi ketercapaian tujuan pembelajaran. Hasil evaluasi ini digunakan untuk
perbaikan rencana pembelajaran atau RPP pada hari berikutnya.
2. Evaluasi Per Unit Belajar, dilakukan secara kelompok (team teaching) setelah
satu unit pembelajaran atau tema selesai. Hasil ini digunakan untuk
merefleksikan proses belajar, ketercapaian tujuan dan melakukan perbaikan
maupun penyesuaian terhadap proses belajar dan perangkat ajar, yaitu alur
tujuan pembelajaran dan modul ajar.
3. Evaluasi Per Semester, dilakukan secara kelompok team teaching) setelah satu
semester selesai. Evaluasi ini dilakukan berdasarkan refleksi pembelajaran dan
hasil asesmen peserta didik yang telah disampaikan pada laporan hasil belajar
peserta didik.
4. Evaluasi Per Tahun, merupakan refleksi ketercapaian profil lulusan, tujuan
sekolah, misi dan visi sekolah.
45
BAB VI
PENUTUP
46