Perencanaan dan Operasi Sistem Tenaga
BAB II. DASAR-DASAR ANALISA
SISTEM TENAGA LISTRIK
2.1. Tegangan dan Arus pada Sistem Tiga
Fasa Seimbang
Sistem tenaga listrik umumnya menggunakan
arus bolak balik (AC) tiga fasa dengan frekuensi dijaga
konstan sesuai nominal sistem, misalnya 50 Hz di
Indonesia. Pada kondisi normal, ketiga fasa tersebut
berada dalam kondisi seimbang, artinya ketiganya
memiliki besar arus dan tegangan yang sama, namun
berbeda fasa sebesar 120⁰, seperti ditunjukkan oleh
gelombang tegangan fasa A, B dan C pada Gambar 2.1.
Gambar 2.1. Gelombang tegangan fasa A,B,dan C pada sistem
AC seimbang.
12
Bab 2. Dasar-Dasar Analisa Sistem Tenaga Listrik
Tegangan pada Gambar 2.1 berubah terhadap
waktu dalam fungsi sinusoidal. Untuk nilai-nilai
parameter listrik dalam fungsi waktu biasanya
digunakan simbol dalam huruf kecil. Sehingga tegangan
fasa A, B dan C dapat ditulis (Wadhwa, 2006) :
vA= Vmax sin ωt
vB= Vmax sin (ωt-120⁰)
vc= Vmax sin (ωt+120⁰)
Jika arus yang mengalir tertinggal dengan sudut φ dari
tegangan, maka arus sesaat dapat ditulis
iA= Imax sin (ωt –φ)
iB= Imax sin (ωt-120⁰- φ)
ic= Imax sin (ωt+120⁰- φ)
Vmax dan Imax menunjukkan nilai maksimum fungsi
sinusoidal tegangan dan arus. Arus dan tegangan ini
menganut urutan fasa abc, karena fasa a mendahului fasa
b sebesar 120⁰ dan fasa b mendahului fasa c sebesar 120⁰
(Stevenson, 1990).
Selain nilai sesaat, arus dan tegangan bolak balik,
juga dapat ditampilkan dalam bentuk nilai rms (root
mean square) yang merupakan pembagian nilai
maksimum dengan √2. Nilai rms sering juga disebut nilai
efektif yang merupakan nilai yang terbaca oleh alat ukur
(Lister and Gunawan, 1988).
13
Perencanaan dan Operasi Sistem Tenaga
Dalam analisa di sistem tenaga, arus dan
tegangan bolak balik umumnya ditampilkan dalam
bentuk fasor yaitu bilangan kompleks yang
merepresentasikan fungsi yang berubah terhadap waktu
secara sinusiodal. Fasor menggunakan simbol huruf
besar, seperti ditunjukkan fasor tegangan fasa A, B dan C
dari sebuah sistem yang seimbang sebagai berikut:
VA = 220 ∠0⁰ V
VB = 220 ∠-120⁰ V
Vc = 220 ∠120⁰ V
Tegangan dan arus yang diberikan diatas adalah nilai-
nilai perfasa atau sering juga disebut nilai fasa ke netral,
atau dapat ditulis sebagai:
VAN = 220 ∠0⁰ V
VBN = 220 ∠-120⁰ V
VCN = 220 ∠120⁰ V
Jika digambarkan dalam diagram fasor, maka fasor
tegangan fasa ke netral tersebut ditunjukkan pada
Gambar 2.2.
14
Bab 2. Dasar-Dasar Analisa Sistem Tenaga Listrik
Gambar 2.2. Diagram fasor tegangan netral
Selain nilai fasa ke netral, nilai yang lebih sering
digunakan adalah nilai fasa ke fasa atau antar fasa atau
dalam bahasa Inggris disebut line to line. Misalnya
tegangan nominal transmisi di Indonesia adalah 500 kV,
275 kV, 150 kV merupakan nilai tegangan antar fasa.
Hubungan antara tegangan fasa ke netral dengan
tegangan antar fasa ditunjukkan oleh persamaan (2.1)
untuk tegangan antara fasa A ke fasa B.
(2.1)
Hubungan antara fasor tegangan fasa ke netral
dengan fasor tegangan antar fasa ditunjukkan pada
Gambar 2.3.
15
Perencanaan dan Operasi Sistem Tenaga
Gambar 2.3. Hubungan tegangan fasa-netral dengan
tegangan antar fasa
Berdasarkan Gambar 2.3 dapat dihitung besar VAB yaitu:
| | | | ° √ | | (2.2)
VAB mendahului VAN sebesar 30⁰ sehingga
√ ∠30⁰ (2.3)
Tegangan antar fasa lainnya didapat dengan cara yang
sama. Secara umum dapat dinyatakan bahwa tegangan
antar fasa sama dengan √ tegangan fasa ke netral.
2.2. Daya Tiga Fasa
Daya tiga fasa dapat dihitung dari arus dan
tegangan fasa. Jika tegangan fasa pada terminal beban
adalah V=│V│∠α dan arus yang mengalir adalah
16
Bab 2. Dasar-Dasar Analisa Sistem Tenaga Listrik
I=│I│∠β maka daya satu fasa adalah perkalian antara
fasor tegangan dengan fasor arus konjugate:
Sfasa = VI* = │V│∠α │I│∠-β = │V││I│∠(α-β) (2.3)
Dalam bentuk rektangular, daya satu fasa yaitu
Sfasa = │V││I│cos∠(α-β) + j │V││I│sin∠(α-β) (2.4)
α-β adalah perbedaan sudut fasa antara tegangan dan
arus. Jika α-β = φ, maka persamaan (2.4) menjadi
Sfasa = │V││I│cos∠ φ + j │V││I│sin∠ (2.5)
Bagian real persamaan (2.5) merupakan daya nyata (P)
dan bagian imajiner merupakan daya reaktif (Q),
sehingga (El-Hawary, 2008):
Pfasa = │V││I│cos∠ φ (2.6)
Qfasa = │V││I│sin∠ φ (2.7)
Daya tiga fasa adalah penjumlahan daya setiap
fasa. Pada sistem tiga fasa yang seimbang, daya tiap fasa
akan sama, sehingga daya tiga fasa sama dengan tiga kali
daya satu fasa.
S = 3 Sfasa = 3│V││I│cos∠ φ + j 3│V││I│sin∠ φ (2.8)
Daya reaktif akan positif jika φ positif yaitu arus
tertinggal dari tegangan (lagging), dan daya reaktif akan
negatif jika arus mendahului tegangan (leading).
17
Perencanaan dan Operasi Sistem Tenaga
2.3. Diagram Satu Garis
Sistem tenaga terdiri atas banyak sekali
komponen, sehingga dalam penggambaran sistem tiga
fasa tersebut perlu diserderhanakan untuk memudahkan
penggambaran dan juga memudahkan dalam
memahami gambar sistem tenaga.
Mesin listrik (generator atau
motor)
Transformator dua belitan
atau
Busbar atau Rel
Saluran transmisi
Beban
Pemutus (circuit breaker)
Hubungan delta
Hubungan Y tidak diketanahkan
Hubungan Y diketanahkan
langsung
Gambar 2.4. Simbol komponen pada diagram satu garis
Disamping itu, sistem tenaga dalam kondisi
normal bekerja dalam keadaan setimbang tiap fasanya,
sehingga sistem tiga fasa dapat diwakili oleh gambar
rangkaian satu fasa. Karena itu penggambaran sistem
18
Bab 2. Dasar-Dasar Analisa Sistem Tenaga Listrik
tenaga lazimnya menggunakan diagram satu garis (single
line diagram).
Pada diagram satu garis digunakan lambang-
lambang standar untuk menunjukkan komponen sistem
tenaga. Lambang-lambang tersebut ditunjukkan pada
Gambar 2.4. Contoh sebuah diagram satu garis dari
sebuah sistem tenaga sederhana ditunjukkan pada
Gambar 2.5. Sistem ini terdiri atas sebuah generator, dua
transformator, satu saluran transmisi, dua busbar dan
satu titik beban.
Gambar 2.5. Diagram satu garis sistem tenaga sederhana
Dengan menggunakan data dari diagram satu
garis, analisa-analisa pada sistem tenaga dilakukan. Ada
dua analisa yang paling mendasar pada sistem tenaga,
yaitu analisa aliran daya dan analisa gangguan hubung
singkat. Analisa aliran daya merupakan analisa sistem
dalam kondisi normal. Dari hasil analisa aliran daya
dapat diketahui tegangan diberbagai titik dalam sistem,
arus, daya aktif dan daya reaktif yang mengalir
diberbagai bagian sistem, juga rugi-rugi daya. Hasil
perhitungan gangguan hubung singkat berupa besar
arus gangguan yang mengalir di berbagai bagian sistem,
juga tegangan di berbagai titik pada sistem.
19
Perencanaan dan Operasi Sistem Tenaga
2.4. Model Komponen Sistem Tenaga
Untuk melakukan analisa-analisa di sistem
tenaga, komponen sistem perlu dimodelkan. Pemodelan
untuk analisa aliran daya lebih sederhana dari pada
pemodelan untuk analisa gangguan hubung singkat.
Pemodelan yang akan dibahas pada subbab ini adalah
pemodelan untuk analisa gangguan hubung singkat.
2.4.1. Model Generator Sinkron
Generator sinkron adalah generator yang
umumnya digunakan pada pembangkit-pembangkit
konvensional seperti PLTA, PLTU, PLTG dan PLTN
yang menggunakan turbin sebagai penggerak mula.
Generator sinkron memiliki dua kumparan yaitu
kumparan medan pada rotor dan kumparan armatur
pada stator. Pada kumparan medan diberikan suplai
arus DC untuk menghasilkan medan DC (eksitasi). Daya
AC yang dibangkitkan generator dihasilkan pada
kumparan armatur.
Rangkaian ekivalen generator sinkron
ditunjukkan pada Gambar 2.6. Tegangan terminal
generator yaitu . Tegangan yang diinduksi pada
generator sama dengan tegangan terminal
ditambah jatuh tegangan pada dan seperti
ditunjukkan pada persamaan (2.9).
20
Bab 2. Dasar-Dasar Analisa Sistem Tenaga Listrik
Gambar 2.6. Rangkaian ekivalen generator sinkron
( ) (2.9)
Dimana :
= tegangan terminal generator
= tegangan internal (emf) pada generator
= resistansi stator
= reaktansi sinkron
= arus generator
Nilai resistansi stator sangat kecil dibandingkan
reaktansi sinkron, sehingga sering diabaikan untuk
memudahkan perhitungan jika dilakukan secara manual.
Sehingga persamaan (2.9) berubah menjadi persamaan
(2.10)
(2.10)
Model untuk motor sinkron sama dengan
generator sinkron, kecuali arah arusnya dibalik, karena
21
Perencanaan dan Operasi Sistem Tenaga
motor bukan menghasilkan arus listrik, tapi
mengkonsumsi arus listrik. Akibatnya tanda negatif
harus diberikan pada I di persamaan (2.9) dan (2.10).
2.4.2. Model Transformator
Transformator adalah alat untuk mengubah
(menaikkan atau menurunkan) tegangan. Transformator
terdiri atas dua atau lebih kumparan yang menggandeng
sebuah inti besi untuk membuat jalur fluks. Pada
transformator ideal, dimana diasumsikan tegangan pada
terminal transformator sama dengan tegangan pada
kumparan, maka akan diperoleh persamaan (2.11).
(2.11)
Dimana:
= tegangan pada terminal primer
= tegangan pada terminal sekunder
= tegangan pada kumparan primer
= tegangan yang diinduksikan pada kumparan
sekunder
= jumlah lilitan pada kumparan primer
= jumlah lilitan pada kumparan sekunder.
Hubungan jumlah belitan dengan arus yang mengalir
pada transformator diberikan pada persamaan (2.12)
22
Bab 2. Dasar-Dasar Analisa Sistem Tenaga Listrik
(2.12)
Pada transformator ideal ini, daya pada sisi primer sama
dengan daya pada sisi sekunder, seperti ditunjukkan
pada persamaan (2.13).
∗ ∗
(2.13)
Sehingga pada sisi tegangan tinggi akan diperoleh arus
yang lebih rendah dibanding arus pada sisi tegangan
rendah transformator.
Rangkaian ekivalen transformator ditunjukkan pada
Gambar 2.7. Subskrip 1 menyatakan sisi primer,
sedangkan subskrip 2 menyatakan sisi sekunder. R1 dan
R2 masing-masingnya menyatakan resistansi belitan
primer dan resistansi belitan sekunder. X1 dan X2 adalah
reaktansi induktif belitan primer dan sekunder. V1
adalah tegangan yang diinputkan dan V2 adalah
tegangan pada output trafo. I1 adalah arus yang masuk
disisi primer dan I2 adalah arus yang keluar disisi
sekunder.
Gambar 2.7. Rangkaian ekivalen transformator
23
Perencanaan dan Operasi Sistem Tenaga
Arus yang masuk ke kumparan primer adalah I2’
dan memiliki hubungan dengan I1 seperti ditunjukkan
Gambar 2.7 dan persamaan (2.14).
′
(2.14)
I0 adalah arus eksitasi yang terdiri atas arus magnetisasi
Im dan komponen rugi-rugi inti besi, seperti ditunjukkan
persamaan (2.15). R0 adalah resistansi rugi-rugi inti besi,
X0 adalah reaktansi magnetisasi
0 (2.15)
Namun untuk analisa di sistem tenaga rangkaian
ekivalen trafo mengalami penyederhanaan, dimana
nilai-nilai impedansi yang relatif kecil diabaikan,
sehingga yang tersisa, hanya reaktansi seri belitan primer
ditambah belitan sekunder yang dibawa ke salah satu sisi
(primer atau sekunder). Sehingga diperoleh rangkaian
ekivalen seperti Gambar 2.8 , dimana Xeq = X1 + X2’
Gambar 2.8. Rangkaian ekivalen tranformator yang
diserhanakan
24
Bab 2. Dasar-Dasar Analisa Sistem Tenaga Listrik
2.4.3. Model Saluran Transmisi
Saluran transmisi memiliki tiga parameter
impedansi, yaitu resistansi, induktansi dan kapasitansi.
Ketiga parameter ini tersebar merata di sepanjang
saluran transmisi, sehingga nilainya dalam satuan per
km panjang saluran. Resistansi saluran transmisi
dipengaruhi material konduktor yang digunakan, luas
penampang konduktor dan panjang konduktor.
Induktansi saluran transmisi dipengaruhi arus yang
mengalir pada saluran, sedangkan kapasitansi
dipengaruhi oleh konfigurasi konduktor saluran.
Saluran transmisi dikelompokkan berdasarkan jaraknya
(Grainger and Stevenson Jr, 1994):
• saluran pendek < 80 km
• saluran menengah 80-240 km
• saluran panjang > 240 km
Impedansi saluran transmisi (resistansi, reaktansi
induktif, reaktansi kapasitif) merupakan parameter yang
tersebar merata disepanjang saluran. Namun pada
saluran pendek dan saluran menengah, parameter
tersebur dapat dikumpul (terpusat) untuk memudahkan
perhitungan, tanpa mengurangi tingkat ketelitian hasil
perhitungan. Pada saluran panjang, perhitungan
sebaiknya menggunakan nilai impedansi yang
terdistribusi (konstanta tersebar), walaupun perhitungan
terpusat masih dapat diterima hingga panjang saluran
320 km.
25
Perencanaan dan Operasi Sistem Tenaga
Rangkaian ekivalen saluran transmisi pendek
ditunjukkan pada Gambar 2.9. Pada representasi saluran
pendek, hanya resistansi dan reaktansi induktif saja yang
ada, sementara induktansi kapasitif dapat diabaikan
karena nilainya sangat kecil.
Gambar 2.9. Rangkaian ekivalen saluran transmisi pendek
Pada saluran transmisi pendek:
Arus kirim ( ) sama dengan arus terima ( ) :
(2.16)
Tegangan kirim adalah:
( ) (2.17)
Dimana:
= tegangan kirim
= tegangan terima
Pada saluran menengah, reaktansi kapasitif tidak
lagi diabaikan dan terhubung secara paralel (Saadat,
1999). Ada dua representasi saluran menengah yaitu
26
Bab 2. Dasar-Dasar Analisa Sistem Tenaga Listrik
representasi T dan representasi π, seperti ditunjukkan
pada Gambar 2.10. dimana komponen seri saluran yaitu
R + j XL dan Y adalah komponen shunt saluran, yaitu
1/XC.
(a) Representasi T
(b) Representasi π
Gambar 2.10. Rangkaian ekivalen saluran transmisi
menengah (a) representasi T, (b) representasi π
Persamaan untuk representasi π sebagai berikut, dimana
impedansi seri adalah
(2.18)
Arus yang mengalir pada kapasitansi shunt ujung terima
adalah / , dan arus yang melalui impedansi Z
27
Perencanaan dan Operasi Sistem Tenaga
adalah / , sehingga dapat dihitung tegangan
kirim yaitu:
( / ) (2.19)
Arus kirim dapat dihitung sebagai:
(2.20)
Untuk perhitungan dengan ketelitian tinggi,
model untuk saluran transmisi panjang tidak lagi dengan
parameter terpusat, namun disesuaikan dengan kodisi
realnya yaitu parameter tersebar. Gambar 2.11
menunjukkan rangkaian ekivalen saluran transmisi
panjang dengan parameter tersebar.
Gambar 2.11. Rangkaian ekivalen saluran transmisi panjang
Jika ditinjau bagian yang sangat kecil dari
panjang saluran transmisi pada Gambar 2.1, yaitu dx
maka pada bagian tersebut impedansi seri adalah zdx
28
Bab 2. Dasar-Dasar Analisa Sistem Tenaga Listrik
dan admitansi shunt adalah ydx. Perhitungan tegangan
dan arus pada rangkaian ekivalen saluran transmisi
panjang melibatkan persamaan differensial.
29