E-Modul PBL Kimia Kelas X Validasi Tinggi
E-Modul PBL Kimia Kelas X Validasi Tinggi
Riwayat artikel: Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh: (1) E-modul berbasis PBL yang telah memenuhi
kriteria kelayakan isi, kelayakan bahasa, kelayakan penyajian, dan kelayakan kegrafikan
Diterima 19 Januari 2022
menurut Badan Standar Nasional Pendidikan; (2) Respon mahasiswa terhadap aspek
Direvisi 05 Mar 2022
tampilan, materi dan manfaat e-modul berbasis PBL pada materi ikatan kimia. Jenis
Diterima 09 April 2022
penelitian yang digunakan adalah Penelitian dan Pengembangan (R&D) yang telah
dimodifikasi sesuai kebutuhan. Penelitian ini dilakukan dalam beberapa tahap, yaitu
Kata kunci: analisis silabus sesuai kurikulum yang berlaku, analisis modul oleh peneliti, perancangan
dan pengembangan modul, validasi e-modul oleh dosen dan guru, dan kemudian evaluasi
Modul Elektronik,
e-modul yang dikembangkan oleh mahasiswa. Hasil rata-rata validasi oleh dosen sebesar
Pembelajaran Berbasis Masalah, 3,53 yang berarti valid dan tidak perlu direvisi dan
Instrumen BSNP,
Ikatan Kimia,
Bahan validasi.
Rata-rata validasi guru adalah 3,86 yang berarti valid dan tidak perlu direvisi. Persentase
rata-rata kepuasan siswa terhadap e-modul berbasis PBL yang telah dikembangkan
adalah 77,87%. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa e-modul berbasis Problem
Based Learning (PBL) pada materi ikatan kimia untuk kelas X SMA valid dan tidak perlu
direvisi. Berdasarkan respons siswa yang tinggi, hal ini menunjukkan bahwa siswa merasa
tertarik dengan e-modul tersebut.
Penulis Terkait:
Indra Wahyu Tampubolon
Departemen Kimia
Universitas Negeri Medan, Jl.
Willem Iskandar, Pasar V Medan Estate, Deli Serdang, Indonesia
Email: tampubolonindra15@[Link]
1. PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan sarana untuk menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas. Menurut Paulo Freire, seorang tokoh
pendidikan asal Brasil, pendidikan bertujuan untuk memerdekakan dan menumbuhkan kesadaran kritis setiap orang. Pendidikan
memiliki peran yang sangat penting dalam kemajuan suatu bangsa. Berbagai upaya telah dilakukan setiap negara untuk
meningkatkan mutu pendidikan. Berdasarkan Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional,
pendidikan bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Salah satu upaya Indonesia untuk meningkatkan mutu pendidikan
adalah penerapan Kurikulum 2013. Dalam Kurikulum 2013, proses pembelajaran menuntut siswa untuk lebih aktif, kritis, dan
lebih responsif terhadap kondisi sosial sehari-hari (Komara, 2010).
Pembelajaran dalam proses seperti guru, siswa, dan lingkungan dapat memengaruhi pencapaian tujuan pembelajaran.
Tujuan pendidikan akan tercapai jika kualitas pendidikannya baik.
70
ÿ ISSN 2086-7026 (Cetak), 2808-7372 (Daring)
tercapai, dan salah satu cara untuk meningkatkan mutu pendidikan adalah dengan meningkatkan mutu pembelajaran di sekolah
(Zainul, 2019).
Kurikulum 2013 merupakan kurikulum yang memfokuskan peserta didik pada 3 capaian kompetensi yaitu, sikap,
pengetahuan, dan keterampilan (afektif, kognitif, dan psikomotor). Capaian capaian pembelajaran dari kompetensi kognitif, afektif,
dan psikomotor menggambarkan kualitas yang seimbang antara capaian hard skills dan soft skills (Kusuma, 2013). Sistem
kurikulum 2013 menggunakan sistem pendekatan pembelajaran saintifik dengan empat model pembelajaran yaitu discovery,
inquiri, problem based learning (PBL) dan project based learning (PJBL). Pendekatan dan model pembelajaran pada kurikulum
2013 menginginkan peserta didik mampu belajar mandiri dan proses pembelajaran tidak lagi teacher center melainkan student
center. Oleh karena itu, peserta didik diharapkan berperan aktif selama proses pembelajaran (Sariono, 2013).
PBL merupakan suatu strategi pembelajaran di mana siswa mengerjakan permasalahan autentik dengan tujuan untuk
mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan berpikir tingkat tinggi, mengembangkan kemandirian dan percaya diri. PBL
berfokus pada tantangan yang membuat siswa berpikir. Penelitian yang dilakukan oleh Trihatmo dkk. (2012) menunjukkan bahwa
penerapan model PBL efektif dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Kimia merupakan cabang ilmu fisika yang mempelajari
tentang sifat, struktur, teori, dan perubahan. Kimia merupakan salah satu mata pelajaran di SMA yang dianggap sulit oleh sebagian
siswa, hal ini dikarenakan mata pelajaran kimia termasuk mata pelajaran yang abstrak, menghafal dan menghitung hal-hal yang
menggunakan rumus-rumus tertentu sehingga sulit untuk dipahami oleh siswa. Sebagian besar siswa merasa kesulitan dalam
memahami struktur dalam pembelajaran. Selama pembelajaran kimia salah satu yang salah adalah pada teori ikatan kimia.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh ananda, dkk (2016), Bond chemistry merupakan salah satu materi yang sulit
dipahami siswa. Pernyataan ini diperkuat dengan hasil wawancara dengan guru kimia kelas X. Kesulitan belajar siswa dapat dilihat
dari rendahnya nilai ulangan harian siswa. Dari 4 kelas, siswa yang belum mencapai KKM (80) mendapatkan persentase sekitar
55,7% sedangkan siswa yang tuntas 44,3%. Pembelajaran kimia di sekolah dapat dikaitkan dengan lingkungan sekitar agar siswa
terbiasa dalam memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu model pembelajaran yang menghubungkan
pembelajaran kimia dengan kehidupan sehari-hari dan dapat melatih keterampilan berpikir kreatif siswa adalah model PBL
(Budiariawan, 2019).
Keberhasilan suatu pembelajaran ditentukan oleh dua komponen penting, yaitu model dan media yang digunakan. Kedua
komponen ini saling terkait dan tidak dapat dipisahkan. Pemilihan dan penggunaan model tertentu memiliki konsekuensi untuk
menentukan media yang tepat. Salah satu model yang dianggap sebagai strategi yang tepat dalam menciptakan pembelajaran
kimia yang lebih menarik adalah PBL. Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Abdurrozak (2016), model PBL terbukti
dapat meningkatkan hasil belajar siswa, meliputi: siswa mengalami peningkatan kemampuan berpikir kreatif, terdapat peningkatan
hasil belajar siswa, keterampilan berpikir siswa lebih baik dengan menggunakan model PBL dibandingkan dengan model
konvensional (Abdurrozak, 2016).
Modul merupakan salah satu bahan ajar yang dapat dikembangkan dengan menggunakan model PBL. Modul merupakan
bahan ajar yang dirancang secara sistematis, menarik, dan mengacu pada tujuan pembelajaran yang jelas dan terukur sehingga
siswa dapat belajar secara mandiri. Modul pembelajaran tersebut mencakup isi materi, metode, dan evaluasi yang dapat digunakan
oleh siswa untuk mencapai kompetensi yang diharapkan. Penggunaan modul ini berhasil dan terbukti mampu menciptakan proses
pembelajaran yang menarik dan efektif serta mampu meningkatkan tingkat pemahaman siswa. Hal ini didukung oleh hasil penelitian
pengembangan modul yang dilakukan oleh Febriana, dkk., (2014) yang mengemukakan bahwa modul kimia berbasis PBL efektif
untuk meningkatkan prestasi belajar aspek kognitif siswa. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Dhamas Mega (2013)
mengemukakan bahwa rata-rata hasil belajar siswa lebih tinggi setelah pembelajaran menggunakan bahan ajar berbasis masalah
daripada sebelum pembelajaran menggunakan bahan ajar berbasis masalah (Effendi, 2018).
Teknologi merupakan salah satu aspek penting yang dapat dimanfaatkan untuk menciptakan bahan ajar yang menarik bagi
siswa. Berdasarkan analisis Buku Guru dan Buku Siswa yang telah dilakukan, kompetensi keterampilan abad ke-21 yang penting
untuk dikuasai peserta didik belum sepenuhnya terwujud. Buku Siswa dalam bentuk cetak juga memiliki keterbatasan dalam
penyajian materi.
71
Jurnal Makintek ÿ
ISSN 2086-7026 (Cetak), 2808-7372 (Daring)
Keterbatasan media cetak membuka peluang bagi integrasi inovasi bahan ajar dengan teknologi informasi
untuk mendukung pencapaian keterampilan abad ke-21.
Bahan ajar yang dikembangkan harus dapat digunakan secara mandiri dan mudah diakses oleh peserta didik. E-
Modul dapat menjadi salah satu bentuk bahan ajar yang dikembangkan karena modul memiliki lima karakteristik
utama yang menjadi keunggulannya, yaitu bersifat self-instructional, self-contained, stand-alone, adaptif, dan
mudah digunakan (Febyarni, 2019).
Media berbasis teknologi dapat membantu siswa beradaptasi dengan perkembangan terkini di bidang TI.
Siswa yang terbiasa menggunakan media berbasis TI secara tidak langsung juga mengembangkan kemampuannya
di bidang tersebut dan dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusianya. Peraturan Pemerintah No. 17
Tahun 2010 pasal 48 dan 59 mengisyaratkan pengembangan sistem informasi pendidikan berbasis teknologi dan
informasi. Salah satu media pembelajaran berbasis teknologi yang dapat digunakan sebagai penunjang yang ada
adalah modul yang dikemas dalam bentuk e-learning (Masykuri, 2017).
Modul elektronik (e-modul) adalah bahan ajar berupa modul terpajang dalam format elektronik yang
diharapkan dapat meningkatkan minat dan motivasi belajar siswa. Penggunaan e-modul bertujuan sebagai
pengganti buku atau modul cetak tanpa mengurangi esensinya sebagai sumber informasi atau sumber belajar
(Nadia, 2019).
Penggunaan bahan ajar dalam bentuk e-modul dapat digunakan sebagai pengganti buku atau modul cetak
(hardcopy) tanpa mengurangi fungsinya sebagai sumber informasi. Penggunaan e-modul juga dapat digunakan di
luar kelas maupun di dalam kelas (Handayani, 2020).
Kemajuan teknologi pembelajaran multimedia memungkinkan siswa belajar kimia dalam bentuk modul
elektronik. Materi ajar dalam bentuk modul elektronik memiliki sejumlah keunggulan, antara lain memudahkan
siswa mendapatkan informasi dengan menggunakan perangkat elektronik yang dimiliki, baik berupa komputer PC,
laptop, iPad, maupun ponsel, di mana pun dan kapan pun, sehingga memungkinkan siswa menguasai materi
pelajaran secara menyeluruh (Nurhayati, 2021).
Pemilihan modul elektronik ini bukan tanpa alasan karena menurut data pengguna ponsel pintar di Indonesia
pada tahun 2016 mencapai 65,2 juta. Berdasarkan pengamatan peneliti, hampir 100% siswa memiliki ponsel pintar
sehingga peneliti menilai pembuatan modul elektronik sudah tepat (Databoks, 2016).
Berdasarkan latar belakang di atas, para peneliti termotivasi untuk mengembangkan bahan ajar yang lebih
inovatif berbasis PBL untuk SMA/MA pada materi Ikatan Kimia. Oleh karena itu, penelitian ini berjudul
"Pengembangan Modul Pembelajaran Berbasis Masalah (PBL) E pada Materi Ikatan Kimia Kelas X SMA".
2. METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode penelitian dan pengembangan (R&D). Desain penelitian ini menggunakan
model 4D. Model 4D digunakan untuk mengembangkan perangkat pembelajaran. Model 4D ini dikembangkan oleh S.
Thiagarajan, Dorothy S. Semmel, dan Melvyn I. Semmel pada tahun 1974. Sesuai namanya, model 4D terdiri dari
4 yaitu Define, Design, Develop, dan Disseminate.
Subjek penelitian ini adalah 3 dosen Jurusan Kimia Universitas Negeri Medan dan 3 guru Kimia SMA Negeri
1 Sumbul. Objek penelitian ini adalah bahan ajar berbasis masalah yang akan dikembangkan pada materi ikatan
kimia SMA kelas X dan akan direspon oleh 20 siswa kelas X SMA Negeri 1 Sumbul. Instrumen yang digunakan
dalam penelitian ini berupa angket BSNP dan angket respon siswa terhadap bahan ajar _ yang dikembangkan.
Analisis data untuk validasi berdasarkan BSNP dapat dilihat pada tabel berikut:
Analisis respon siswa, hasil persentase respon angket dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Indra Wahyu Tampubolon, Pengembangan E-Modul Berbasis Problem Based Learning (PBL) pada Materi
Asosiasi Kimia SMA Kelas X
Machine Translated by Google
72
ÿ ISSN 2086-7026 (Cetak), 2808-7372 (Daring)
45 20 - 35 Sangat Rendah
Berdasarkan data di atas, dapat diketahui bahwa hasil analisis keempat modul memberikan hasil yang berbeda-beda, baik
dari segi cakupan materi maupun dengan instrumen BSNP. Dimana masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan baik dari
segi kelayakan isi, kelayakan bahasa, kelayakan penyajian, maupun kelayakan kegrafikan. Setelah menganalisis modul, langkah
selanjutnya adalah membuat perancangan dan draft modul. Perancangan ini didasarkan pada hasil analisis silabus kurikulum 2013
dan hasil analisis modul yang telah dilakukan, sehingga komponen materi yang akan diusulkan sesuai dengan standar. Pada
tahap perancangan, modul dikembangkan dari hasil analisis keempat modul yang ada.
Kemudian hasil analisis modul tersebut dijadikan acuan. Setelah desain modul selesai dibuat, langkah selanjutnya adalah
melakukan validasi modul menggunakan instrumen BSNP yang dimodifikasi, meliputi aspek kelayakan isi, kelayakan bahasa,
kelayakan penyajian, dan kelayakan grafis.
73
Jurnal Makintek ISSN 2086-7026 (Cetak), 2808-7372 (Daring) ÿ
Modul yang telah disusun telah divalidasi berdasarkan instrumen BSNP yang terdiri dari beberapa komponen seperti
kelayakan isi, kelayakan bahasa, kelayakan penyajian, dan kelayakan grafis. Hasil rata-rata analisis bahan ajar yang telah
dikembangkan adalah 3,53, yang berarti bahan ajar tersebut valid dan tidak perlu direvisi. Dengan penjabaran rata-rata hasil
validasi, kelayakan isi adalah 3,52, kelayakan bahasa adalah 3,53, kelayakan penyajian adalah 3,46, dan kelayakan grafis adalah
3,61.
Nilai rata-rata hasil validasi yang dilakukan oleh guru kimia SMA Negeri 1 Sumbul adalah 3.767. Dengan rincian nilai
rata-rata kelayakan isi sebesar 3.763, kelayakan bahasa 4, kelayakan penyajian 3.85, dan kelayakan grafis 3.83. Berdasarkan
kriteria validitas analisis nilai rata-rata bahan ajar yang digunakan, modul ini valid dan tidak perlu direvisi. Dalam penelitian ini, 20
siswa SMA Negeri 1 Sumbul digunakan sebagai responden dalam penilaian modul berbasis masalah pada materi ikatan kimia.
Sebelumnya, modul berbasis masalah dibagikan langsung kepada siswa, kemudian siswa diminta untuk membaca, memahami
modul dari aspek tampilan, materi dan manfaat.
Tabel 6. Persentase Kepuasan dan Tingkat Respon Siswa terhadap Materi Ajar
Nomor Persentase Evaluasi Respon Siswa
1 Aspek Penampilan 75,90%
2 Teori Aspek 78,50%
3 Aspek Manfaat 79,20%
Rata-rata 77,87%
Berdasarkan hasil angket respon mahasiswa terhadap E-modul berbasis Problem Based Learning (PBL) pada materi Ikatan
Kimia diperoleh rata-rata persentase sebesar 77,87%. Dengan deskripsi rata-rata persentase aspek tampilan sebesar 75,90%,
aspek materi sebesar 75,90%.
Indra Wahyu Tampubolon, Pengembangan E-Modul Berbasis Problem Based Learning (PBL) pada Materi
Asosiasi Kimia SMA Kelas X
Machine Translated by Google
74
ÿ ISSN 2086-7026 (Cetak), 2808-7372 (Daring)
78,50%, dan aspek manfaat sebesar 79,20%. Berdasarkan kriteria tingkat respons mahasiswa terhadap E-modul, mahasiswa
memberikan respons tinggi yang menunjukkan minat untuk menggunakan E-modul berbasis PBL dalam mempelajari materi
Ikatan Kimia.
rata-rata…
persentase rata-rata
80,00%
75,00%
70,00%
aspek tampilan bahan aspek manfaat
aspek
Setelah dilakukan validasi kepada validator ahli, diperoleh bahwa e-modul dinyatakan valid dan tidak perlu direvisi. Selain
itu, berdasarkan tanggapan dari seluruh siswa, menunjukkan minat terhadap e-modul.
Modul ini dapat dijadikan sebagai bahan ajar dalam pembelajaran kimia serta referensi bacaan bagi mahasiswa.
4. KESIMPULAN
Berdasarkan penelitian yang dilakukan maka
_ diperoleh bahan ajar berupa e-modul PBL berbasis Bond pada materi Kimia kelas X
SMA sudah memenuhi kelayakan BSNP dan layak digunakan sesuai dengan tingkat minat siswa tinggi terhadap bahan ajar
tersebut.
REFERENSI
Abdurrozak. (2016). Pengaruh Model pembelajaran berbasis masalah terhadap kemampuan berpikir kreatif siswa.
Jurnal pena Ilmiah,1(1), 871-880.
Ardiansyah, R. (2017), Pengembangan Bahan ajar Genetik. Jurnal Pendidikan,2(7), 927-933.
Azhar. (2011). Media Pembelajaran. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Budiariawan. (2019). Hubungan Motivasi Belajar Siswa dengan Hasil Belajar Pada mata Pelajaran Kimia.
Jurnal Pendidikan Kimia Indonesia, 3(2),103-111.
kotak data. (2016). penggunaan Smartphone tertinggi di Indonesia.
Efendi. (2018). Pemanfaatan Teknologi dalam Proses Pembelajaran Menuju Pembelajaran abad 21. Jurnal Univ
PGRI, 1(3), 52-67.
Febyarni. (2019). Pengembangan E-modul IPA Berbasis Problem Based Learning Untuk Meningkatkan
Literasi sains Siswa. Jurnal Teknologi Pendidikan,7(2), 91-103.
Handayani. (2020).Pengembangan E-Modul Kimia Berbasis Kemampuan Berpikir Kreatif Dengan Menggunakan
Kvisoft Flipbook Maker. Jurnal Pendidikan dan Ilmu Kimia,4(1),51-58.
Komara, E. (2014). Belajar dan Pembelajaran Interaktif. Bandung: Penerbit CV Pustaka Setia.
Nadia. (2019).Pengembangan Modul elektronik Kimia berbasis Kontekstual sebagai Media Pengayaan Pada
Materi Kimia Unsur. Jurnal Riset Pendidikan Kimia,9(2), 103-111.
Nurhayati.(2021).Pengembangan E-Modul Kimia Berbasis Stem Dengan Pendekatan Etnosains. Kimia
Praktik Pendidikan, 4 (2),102-108.
Prastowo. (2011). Memahami Metode-metode Penelitian. Yogyakarta: Ar-Rush Media.
Prastowo, A. (2014). Pengembangan bahan Ajar tematik. Jakarta: Grup Kencana Prenadamedia.
Sariono. (2013). Kurikulum 2013 : Kurikulum Emas. E-jurnal Dinas Pendidikan Kota Surabaya,1(3), 1-9.
Zainul, R. (2019). Pengembangan e-modul asam basa berbasis Discovery Learning untuk kelas XI SMA/MA.
Jurnal Edukimia, 1(1),21-2