0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan14 halaman

Teknik Modulasi ASK dan FSK dalam Praktikum

Dokumen ini membahas modulasi digital, khususnya Amplitude Shift Keying (ASK) dan Frequency Shift Keying (FSK), serta prinsip kerja, demodulasi, dan pengukuran sinyal dalam praktikum. FSK menggunakan perubahan frekuensi untuk merepresentasikan bit biner, sedangkan ASK mengubah amplitudo pembawa, dengan masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan dalam hal ketahanan terhadap noise dan kompleksitas penerima. Praktikum ini bertujuan untuk memahami teknik-teknik ini melalui pengamatan sinyal dan analisis data dari eksperimen yang dilakukan.

Diunggah oleh

azhimfadhli
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan14 halaman

Teknik Modulasi ASK dan FSK dalam Praktikum

Dokumen ini membahas modulasi digital, khususnya Amplitude Shift Keying (ASK) dan Frequency Shift Keying (FSK), serta prinsip kerja, demodulasi, dan pengukuran sinyal dalam praktikum. FSK menggunakan perubahan frekuensi untuk merepresentasikan bit biner, sedangkan ASK mengubah amplitudo pembawa, dengan masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan dalam hal ketahanan terhadap noise dan kompleksitas penerima. Praktikum ini bertujuan untuk memahami teknik-teknik ini melalui pengamatan sinyal dan analisis data dari eksperimen yang dilakukan.

Diunggah oleh

azhimfadhli
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

DASAR TEORI

Modulasi digital adalah cara memindahkan informasi biner ke sinyal pembawa


sehingga dapat dikirimkan melalui saluran radio atau kabel. Dua teknik sederhana dan
sering dipelajari pada praktikum adalah Amplitude Shift Keying (ASK) dan Frequency
Shift Keying (FSK), masing-masing memodifikasi amplitudo atau frekuensi pembawa
untuk merepresentasikan bit 0/1. Praktikum ini bertujuan memahami prinsip kerja,
realisasi alat (modulator/demodulator), serta pengukuran bentuk gelombang pada titik-
titik penting pada kit praktikum. ASK mengkodekan bit dengan mengubah amplitudo
pembawa. Varian yang paling sederhana adalah OOK (On-Off Keying) di mana bit ‘1’
dikirim sebagai sinyal pembawa dan bit ‘0’ sebagai ketiadaan pembawa atau amplitudo
sangat kecil [1]. Model sederhana untuk OOK/ASK: 𝑠(𝑡)=𝐴⋅𝑢(𝑡)⋅cos(2𝜋𝑓𝑐𝑡) di mana
𝑢(𝑡)∈{0,1}adalah sinyal biner (informasi), A adalah amplitudo pembawa, dan 𝑓𝑐
adalah frekuensi pembawa. Penjelasan: ketika 𝑢(𝑡)=1 keluaran adalah pembawa
dengan amplitudo 𝐴; ketika 𝑢(𝑡)=0 keluaran nol (atau amplitudo rendah). Persamaan
umum M-ary ASK mengganti 𝐴dengan set amplitudo berbeda untuk tiap symbol [1].
Prinsip demodulasi ASK/ OOK yang dipakai di praktikum biasanya terdiri dari: band-
pass filter untuk memilih pembawa ke envelope detector (penyearah + filter rendah)
untuk mengekstrak amplitude envelope ke comparator (threshold) untuk mengubah
envelope ke level digital TTL. Threshold dapat berupa level tetap atau adaptif (agar
tahan variasi level). Pada kit EC-796 langkah-langkah pengamatan titik-titik tersebut
diuraikan secara praktis (mis. TPR3, TPR6 sebagai titik setelah filter/detektor).
Kelebihan: sederhana, implementasi penerima (envelope detector) hemat perangkat
keras. Kekurangan: rentan terhadap noise dan variasi amplitudo (kurang kebal fading);
butuh amplifier linier bila menggunakan skema ASK multilevel [1]. FSK
merepresentasikan bit dengan dua (atau lebih) frekuensi pembawa. Untuk biner FSK,
frekuensi 𝑓1 merepresentasikan ‘0’ dan 𝑓2 merepresentasikan ‘1’. Amplitudo tetap,
informasi tertanam pada frekuensi. Bentuk dasar B-FSK: 𝑠(𝑡)={𝐴cos(2𝜋𝑓1𝑡),
jika bit = 0 𝐴cos(2𝜋𝑓2𝑡), jika bit = 1 s(t)={Acos(2πf1t), jika bit = 0 jika bit = 1.
Penjelasan: peralihan frekuensi antara 𝑓1 dan 𝑓2 mengikuti data digital; deviiasi
frekuensi Δ𝑓=∣𝑓2−𝑓1∣ dan durasi simbol 𝑇𝑠 menentukan spektrum dan bandwidth
yang dibutuhkan [1]. Beberapa teknik demodulasi FSK yang relevan: Dual-filter +
envelope detector + comparator (DFD): dua jalur filter disetel masing-masing ke 𝑓1
dan 𝑓2; setiap jalur punya detektor amplop. Dengan membandingkan (differential)
keluaran kedua detektor, bit direkonstruksi. Teknik ini sederhana dan tahan terhadap
variasi amplitudo karena pembandingan diferensial. (Metode ini dipakai pada
praktikum EC-796). PLL / frequency discriminator: sinyal masuk diproses lewat PLL
atau discriminator sehingga variasi frekuensi berubah menjadi variasi tegangan kontrol
VCO, tegangan ini diproses untuk mengekstrak bit. Pendekatan ini umum di receiver
FSK yang lebih presisi [2]. FSK ke ASK conversion (Frequency-to-Amplitude
Converter, FAC): beberapa desain modern mengkonversi perubahan frekuensi menjadi
variasi amplitudo (mis. menggunakan oscillator yang mengalami injection-locking
atau elemen nonlinear), sehingga dapat memakai detektor envelope sederhana untuk
demodulasi FSK dengan perangkat keras lebih sedikit. Teknik ini populer untuk desain
low-power/WuRx karena mengeliminasi LO/I-Q path [3]. Kelebihan: lebih tahan
terhadap variasi amplitudo (bebas dari fading amplitudo) dan memungkinkan
penggunaan amplifier non-linear (efisiensi daya lebih baik).Kekurangan: biasanya
membutuhkan bandwidth lebih besar daripada ASK/PSK pada data rate yang sama;
penerima koheren (PLL) lebih kompleks [1].
TUGAS PENDAHULUAN
1. Apa yang dimaksud dengan modulasi FSK?
Modulasi Frequency Shift Keying (FSK) adalah teknik modulasi digital di mana
informasi biner ditransmisikan dengan mengubah frekuensi pembawa. Untuk B-
FSK (biner) ada dua frekuensi berbeda: satu frekuensi mewakili bit ‘0’ (space) dan
frekuensi lain mewakili bit ‘1’ (mark).
2. Bagaimana prinsip kerja modulasi FSK?
Modulasi Frequency Shift Keying (FSK) adalah teknik modulasi digital di mana
informasi biner ditransmisikan dengan mengubah frekuensi pembawa. Untuk B-
FSK (biner) ada dua frekuensi berbeda: satu frekuensi mewakili bit ‘0’ (space) dan
frekuensi lain mewakili bit ‘1’ (mark). Amplitudo pembawa relatif konstan;
informasi terletak pada perubahan frekuensi. Di implementasi praktis, pemilihan
frekuensi dapat dilakukan dengan: (a) dua osilator dan saklar yang berpindah antar
osilator, atau (b) satu VCO (Voltage Controlled Oscillator) yang dikontrol oleh
sinyal digital sehingga VCO berpindah ke 𝑓1 atau 𝑓2. Parameter penting adalah
deviasi frekuensi Δ𝑓=∣𝑓2−𝑓1∣ dan durasi simbol 𝑇𝑠 karena keduanya menentukan
spektrum sinyal dan kebutuhan bandwidth.
3. Bagaimana demodulasi FSK dilakukan untuk mendapatkan kembali data
digital?
Dual-filter + envelope detectors (DFD, non-coherent) Sinyal masuk dibagi ke dua
jalur band-pass, masing-masing disetel ke 𝑓1 dan 𝑓2. Setiap jalur memiliki detektor
amplop yang mengukur energi pada frekuensi tersebut. Karena pada tiap waktu
hanya satu frekuensi dominan, detektor untuk frekuensi yang sesuai akan memberi
level tinggi; kemudian keluaran kedua detektor dibandingkan (differential
comparator) untuk memutus bit ‘0’ atau ‘1’. Metode ini sederhana dan tahan variasi
amplitudo karena menggunakan perbandingan diferensial. PLL / frequency
discriminator (coherent / quasi-coherent) Sinyal dimasukkan ke PLL atau
discriminator yang mengubah pergeseran frekuensi menjadi variasi tegangan.
Tegangan ini kemudian diproses (filter/limiter + slicer) untuk mendapat kembali
bit. Pendekatan ini lebih presisi tapi lebih kompleks. Pendekatan frekuensi ke
amplitudo (FAC) + envelope detection. Untuk desain ultra-low-power, ada teknik
yang mengonversi perbedaan frekuensi menjadi perbedaan amplitudo (mis.
converter berbasis injection-locking). Setelah konversi, demodulasi bisa dilakukan
dengan envelope detector sederhana, ini menggabungkan kesederhanaan ASK
demodulator dengan robustnes FSK pada sisi transmitter. Pendekatan ini sering
dipakai pada receiver hemat energi/wake-up receiver.
4. Apa yang dimaksud dengan Amplitude Shift Keying (ASK)?
Amplitude Shift Keying (ASK) adalah teknik modulasi digital di mana informasi
biner dimasukkan ke dalam amplitudo pembawa. Varian paling sederhana disebut
On-Off Keying (OOK): bit ‘1’ dikirim sebagai pembawa dengan amplitude 𝐴,
sedangkan bit ‘0’ dikirim sebagai tidak ada pembawa (amplitudo ≈ 0).
DATA PERCOBAAN

Tabel 1. Tabel Hasil Percobaan 1

Langkah / Keterangan Keterangan / Jenis Sinyal Gambar Sinyal

‘Zero’ Frequency

Langkah Awal

‘One’ Frequency

sinyal transmisi (TPE1) dan sinyal yang diterima di


TPR41

Sinyal receiver pada saat sinyal emitter bernilai '0' dan


'1'

Sinyal pada TPR3 (output dari filter 390KHz) dan


TPR4 (output dari filter frekuensi tertinggi FSK)
Sinyal pada TPR6 (hasil sinyal TPR3 yang melewati
filter selubung detector) dan TPR5 (hasil dari TPR4
yang melalui proses yang sama)

Sinyal pada TPR36 (hasil komparasi dari dua sinyal


terfilter pada TPR6 dan TPR5).

Tabel 2. Tabel Hasil Percobaan 2

Keterangan Amplitudo Frekuensi


Sinyal Pembawa ASK 8V 382kHz

Keterangan Gambar Sinyal

Sinyal informasi (TPE1) dan sinyal yang diterima


(TPR41)

Sinyal pembawa (TPE7)


Sinyal output UART emitter (TPE4) dan sinyal
termodulasi ASK (TPE24)

Sinyal termodulasi ASK (TPE24) dan sinyal


termodulasi ASK yang diterima (TPR2)

Sinyal termodulasi ASK yang diterima (TPR2) dan


output filter demodulator (TPR3)

Output filter demodulator (TPR3) dan output envelope


detector (TPR6)

Output UART emitter (TPE4) dan sinyal input UART


receiver (TPR36)
ANALISIS DATA
ada percobaan FSK (Modulation & Dual-Filter Demodulation), saya memulai dengan
menyalakan function generator, emitter, receiver, dan osiloskop lalu memastikan mode
FSK dan pengaturan twin-line serta antialiasing/reconstructor sesuai prosedur.
Pengamatan awal pada titik TPE1 (sinyal informasi) dan TPR41 (sinyal yang diterima)
menunjukkan bentuk gelombang pembawa berubah konsisten sesuai bit, pada kondisi
‘0’ terlihat frekuensi rendah dan pada kondisi ‘1’ frekuensi tinggi. Frekuensi yang
terukur untuk kedua kondisi sesuai dengan frekuensi referensi pada kit (sekitar 390
kHz untuk satu cabang dan frekuensi lebih tinggi untuk cabang lain), dan keluaran
kedua filter (TPR3 dan TPR4) memperlihatkan selektivitas yang jelas antar-band
sehingga masing-masing detektor amplop hanya menonjolkan salah satu frekuensi.
Setelah melalui detektor envelope (TPR6 dan TPR5) perbedaan amplitudo antar-jalur
menjadi jelas, dan komparator diferensial pada TPR36 menghasilkan sinyal digital
yang bersih dan sinkron dengan keluaran UART emitter (TPE4), artinya bit berhasil
dipulihkan tanpa kesalahan. Semua pengamatan ini konsisten dengan tujuan praktikum
untuk memahami bagaimana dual-filter DFD memisahkan frekuensi dan menggunakan
perbandingan diferensial untuk menelusuri kembali data biner. Pada percobaan ASK
(On-Off Keying / Amplitude Shift Keying), saya merangkai alat sesuai tata cara: FG
diset untuk sinyal informasi 1 kHz 2 Vpp sebagai input, EC-796 pada mode ASK, dan
receiver pada mode demodulasi ASK dengan reconstructor filter aktif. Pengamatan
sinyal pembawa di TPE7 menunjukkan pembawa stabil; setelah modulasi (TPE24)
nampak amplitude berubah sesuai bit (ada dan tiada pembawa untuk OOK). Sinyal
yang diterima (TPR2) mempertahankan bentuk amplitude ini, kemudian filter
demodulator (TPR3) mereduksi komponen noise dan envelope detector pada TPR6
mengekstraksi variasi amplitudo menjadi sinyal baseband yang halus. Setelah
comparator/threshold, sinyal TTL pada input UART receiver (TPR36) cocok dengan
data sumber (TPE4) sehingga proses demodulasi ASK menghasilkan bit tanpa error
pada kondisi ideal. Dari sisi analitis saya mencatat: envelope detector bekerja optimal
ketika bandwidth filter dan konstanta waktu baseband dipilih agar mempertahankan
duty-cycle simbol (penting jika menggunakan Manchester coding atau threshold statis),
sehingga pemilihan threshold dan kondisi reconstructor berpengaruh besar pada
kualitas pemulihan bit, sesuai dengan rangkaian demodulator ASK yang dijelaskan di
modul. Secara praktis, pengalaman laboratorium ini menggarisbawahi dua hal penting:
(1) FSK + dual-filter + differential comparator memberikan robustnes terhadap variasi
amplitudo karena perbandingan antar-jalur mengurangi efek penurunan level bersama;
dan (2) ASK + envelope detector sangat sederhana dan efektif di kondisi sinyal bersih,
namun membutuhkan perhatian pada pengaturan filter/envelope/threshold untuk
menghindari kesalahan saat level sinyal berfluktuasi. Untuk konteks aplikasi nyata (mis.
receiver hemat-daya atau wake-up receiver) ada teknik hibrida dan konverter FSK
menjadi ASK yang menggabungkan keuntungan kedua pendekatan, hal ini relevan jika
ingin membandingkan hasil praktikum dengan implementasi low-power di literatur.
TUGAS MODUL
1. Mengapa sinyal termodulasi FSK dapat didemodulasi di ASK?
Sederhananya: perubahan frekuensi pada FSK bisa diubah menjadi perubahan
amplitudo oleh beberapa blok non-linier atau resonan sehingga sebuah detektor
amplitudo (envelope detector) cukup untuk membedakan simbol. Dalam
praktik low-power atau wake-up receiver, ada elemen seperti frequency-to-
amplitude converter (FAC) atau rangkaian yang mengalami injection-locking
sehingga ketika input berada pada 𝑓1 atau 𝑓2 respons rangkaian terhadap sinyal
(gain atau kesesuaian impedansi) berubah, menghasilkan perbedaan level
amplitudo di output baseband. Dengan begitu output dari blok konversi itu
memiliki envelope berbeda untuk masing-masing frekuensi, sehingga sebuah
detektor envelope + comparator (yakni demodulator ASK sederhana) dapat
mengembalikan bit. Konsep ini dijelaskan dalam literatur desain transceiver
low-power dan juga direferensikan pada modul praktikum sebagai salah satu
pendekatan demodulasi sederhana.
2. Berapa frekuensi tengah (fc) dan bandwidth dari filter frekuensi tinggi?
Frekuensi tengah (fc): pada kit praktikum EC-796 modul menyebutkan dua
filter yang dipakai untuk FSK, salah satu di sekitar ≈ 390 kHz (TPR3) dan kanal
frekuensi yang lebih tinggi (TPR4) untuk simbol ‘1’ (nilai numerik konkret
untuk kanal tinggi dicantumkan pada kit/modul sebagai frekuensi mark; Anda
bisa membaca nilai pastinya di lembar pengukuran modul saat praktik).
Bandwidth filter: modul praktikum tidak memberikan angka bandwidth -3 dB
eksak untuk tiap filter. Secara praktis bandwidth filter demodulator dipilih
untuk: (a) melewatkan frekuensi pembawa (fc) dan deviasi frekuensi Δ𝑓, serta
(b) menekan noise di luar jalur. Untuk FSK binari pendekatan kasar yang sering
dipakai adalah memastikan filter lebar minimum ≈ 2Δ𝑓 + R𝑏(di mana R𝑏
adalah bit-rate) atau mengikuti aturan serupa Carson untuk FM/FSK agar
bentuk pulsa tidak terdistorsi. Jika Anda perlu angka pasti untuk laporan, ukur
respons frekuensi filter di lab (baca titik -3 dB pada sweep) atau cek spesifikasi
kit.
3. Apa keuntungan menggunakan modulasi FSK dalam komunikasi digital?
Beberapa keuntungan utama FSK: (1) robust terhadap variasi amplitudo/noise
amplitude karena informasi ada pada frekuensi, sehingga pelemahan amplitudo
tidak langsung merusak bit; (2) boleh memakai amplifier non-linear sehingga
efisiensi daya penguat lebih tinggi; (3) implementasi non-koheren relatif
sederhana (mis. dual-filter + envelope detector) untuk aplikasi bit-rate rendah;
dan (4) dalam beberapa kondisi FSK menunjukkan BER yang baik
dibandingkan ASK di kanal dengan variasi amplitudo. Kekurangannya: FSK
biasanya membutuhkan bandwidth lebih besar untuk deviasi frekuensi tertentu
dibandingkan beberapa skema lain. Pernyataan-pernyataan ini didukung oleh
modul praktikum dan tinjauan performa modulasi digital.
4. Jenis bandwidth filter apa yang digunakan pada demodulator ASK?
Demodulator ASK memakai band-pass filter (BPF) yang disetel pada frekuensi
pembawa 𝑓𝑐 untuk menolak noise/komponen lain, kemudian diikuti oleh
detektor envelope (penyearah + low-pass) dan baseband limiter/comparator.
Dengan kata lain filternya adalah narrow band-pass sekitar 𝑓𝑐
(reconstructor/antialiasing pada kit) agar envelope sinyal pembawa bisa
diekstrak dengan baik sebelum tahap deteksi. Pada modul EC-796 langkah
reconstructor/antialiasing ditetapkan agar output detektor lebih bersih.
5. Bagaimana cara kerja envelope detector pada demodulator ASK dan apa
kaitannya dengan threshold referensi?
Envelope detector bekerja dua tahap: (1) penyearahan/rectification untuk
mengambil nilai puncak tiap siklus pembawa, dan (2) filter rendah (smoothing)
untuk menghilangkan komponen RF sehingga tersisa sinyal baseband
(envelope) yang merepresentasikan amplitudo modulasi. Output envelope ini
adalah sinyal analog yang naik turun sesuai bit; selanjutnya sebuah
comparator/threshold membandingkan level envelope terhadap nilai referensi
(threshold) untuk menghasilkan level logika (1 atau 0). Pemilihan threshold
penting: jika terlalu tinggi, bit '1' bisa terlewat; terlalu rendah, noise bisa dikira
'1'. Di kit EC-796 fungsi comparator/reconstructor membantu menstabilkan
level sebelum pembandingan.
6. Mengapa nilai Vmin pada envelope detector tidak bernilai negatif?
Karena proses deteksi envelope melibatkan penyearahan (diode atau rangkaian
penyearah aktif) dan coupling yang menghasilkan tegangan DC/positif sebagai
representasi amplitude, komponen AC pembawa dibuang oleh kapasitor/low-
pass sehingga output berada pada rentang nol ke positif (atau dikompensasikan
oleh bias sehingga dekat nol). Dengan kata lain envelope adalah besaran
amplitudo (nilai magnitude) sehingga nilainya tidak menjadi negatif; bila ada
offset atau coupling AC, level referensi/base dapat dipindahkan tapi secara
fungsional Vmin envelope tidak bernilai negatif karena tidak ada sinyal negatif
setelah penyearahan dan penyaringan. Modul juga menegaskan bahwa detektor
menghasilkan sinyal envelope (DC/positif) yang kemudian dibandingkan
dengan threshold.
TUGAS ASISTENSI
KESIMPULAN
Praktikum ini menunjukkan cara kerja dan perbedaan nyata antara ASK dan
FSK: ASK mudah diimplementasikan dan didemodulasi dengan envelope
detector, sedangkan FSK lebih tahan terhadap variasi amplitudo karena
informasi ditempatkan pada frekuensi dan dapat dipulihkan dengan dual-filter
atau discriminator. Hasil pengukuran ideal memperlihatkan bahwa pemilihan
filter, reconstructor, dan threshold sangat menentukan kualitas demodulasi;
FSK unggul pada kanal dengan fluktuasi amplitudo, sementara ASK efektif
pada kondisi sinyal bersih. Secara praktis, pengalaman laboratorium
menekankan pentingnya pengaturan instrumen yang konsisten dan pencatatan
titik-titik pengukuran untuk memastikan hasil yang dapat direproduksi.
DAFTAR PUSTAKA
[1] “III. DIGITAL MODULATION SCHEMES.”

[2] Srenik. Mehta and Li. Lin, RFIC 2016 : Proceedings of the 2016 IEEE Radio
Frequency Integrated Circuits Symposium : 22-24 May 2016, San Francisco,
California, USA. IEEE, 2016.

[3] M. Zgaren, A. Moradi, and M. Sawan, Ultra low-power Transceiver with


Novel FSK Modulation technique and Efficient FSK-to-ASK Demodulation.
2015. doi: 10.0/Linux-x86_64.

Anda mungkin juga menyukai