0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan7 halaman

Kode Etik Guru: Pilar Pendidikan Nilai

Dokumen ini membahas pentingnya filosofi pendidikan dan kode etik guru dalam membentuk karakter dan nilai peserta didik. Kode etik guru berfungsi sebagai pedoman moral yang mengatur perilaku profesional guru, yang diperlukan untuk menjaga integritas dan kepercayaan masyarakat terhadap pendidikan. Aksi nyata dilakukan untuk meningkatkan kesadaran dan implementasi kode etik di sekolah, dengan tujuan menciptakan lingkungan pendidikan yang etis dan bermartabat.

Diunggah oleh

Dwila Hasan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan7 halaman

Kode Etik Guru: Pilar Pendidikan Nilai

Dokumen ini membahas pentingnya filosofi pendidikan dan kode etik guru dalam membentuk karakter dan nilai peserta didik. Kode etik guru berfungsi sebagai pedoman moral yang mengatur perilaku profesional guru, yang diperlukan untuk menjaga integritas dan kepercayaan masyarakat terhadap pendidikan. Aksi nyata dilakukan untuk meningkatkan kesadaran dan implementasi kode etik di sekolah, dengan tujuan menciptakan lingkungan pendidikan yang etis dan bermartabat.

Diunggah oleh

Dwila Hasan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

JURNAL PEMBELAJARANKU

FILOSOFI PENDIDIKAN DAN PENDIDIKAN NILAI


“KODE ETIK GURU”

NAMA : HASAN DUILA


NUPTK : 1550765665120002
[Link] : 201698592264
NPM : 2590554950298
UNIT KERJA : SMP Negeri 23 Buru

LPTK
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
PPG GURU TERTENTU TAHAP 3
TAHUN 2025
PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan upaya sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar
dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya.
Dalam konteks ini, guru bukan hanya penyampai ilmu, melainkan aktor utama dalam
pembentukan karakter dan nilai. Filosofi pendidikan menempatkan guru sebagai figur sentral
dalam membangun peradaban melalui proses edukasi yang bermakna. Pendidikan nilai
memperkuat fungsi ini dengan menekankan pentingnya internalisasi etika, moral, dan
budaya.
Namun, pada praktiknya, tidak semua guru menunjukkan perilaku yang sesuai dengan
harapan moral dan profesional. Muncul pertanyaan kritis: Perlukah perilaku guru sebagai
pendidik diatur secara formal melalui kode etik? Untuk menjawab hal ini, perlu ditelaah
hubungan antara filosofi pendidikan, pendidikan nilai, dan eksistensi kode etik dalam profesi
guru.

Filosofi Pendidikan dan Posisi Guru

Filosofi pendidikan mengkaji hakikat, tujuan, dan metode pendidikan. Dalam


berbagai pendekatan filsafat seperti idealisme, realisme, pragmatisme, hingga
eksistensialisme, guru selalu dipandang sebagai tokoh penting dalam pembentukan manusia
seutuhnya. Plato, misalnya, menekankan bahwa pendidik harus menjadi contoh
kebijaksanaan. John Dewey menyebut guru sebagai fasilitator pengalaman belajar yang
membentuk karakter demokratis.
Secara filosofis, guru harus menjadi pribadi yang tidak hanya cerdas secara
intelektual, tetapi juga matang secara moral dan spiritual. Dengan kata lain, keberhasilan
pendidikan tidak hanya diukur dari hasil kognitif siswa, melainkan dari seberapa besar nilai-
nilai kehidupan dapat diinternalisasi.

Pendidikan Nilai dalam Konteks Profesi Guru

Pendidikan nilai bertujuan menanamkan nilai-nilai universal seperti kejujuran,


tanggung jawab, empati, dan keadilan. Guru menjadi agen utama dalam proses ini. Seperti
dijelaskan oleh Thomas Lickona (1991), pendidikan nilai mencakup aspek knowing
(mengetahui nilai), feeling (merasakan nilai), dan acting (bertindak sesuai nilai).
Namun, pendidikan nilai tidak akan efektif bila guru sendiri tidak menjadi
representasi nilai yang diajarkan. Oleh karena itu, pendidikan nilai dalam lingkup profesi
guru tidak hanya berkaitan dengan apa yang diajarkan, tetapi juga bagaimana guru bersikap,
berbicara, dan bertindak.
Kode Etik Guru: Pengatur Perilaku Profesi

Kode etik guru merupakan seperangkat prinsip moral yang dijadikan pedoman bagi
guru dalam menjalankan tugas profesionalnya. Di Indonesia, kode etik guru dikeluarkan oleh
organisasi profesi seperti PGRI, yang mencakup tanggung jawab terhadap peserta didik,
sesama pendidik, orang tua, masyarakat, dan negara.

Isi dari kode etik ini meliputi antara lain:

1. Menjunjung tinggi martabat guru sebagai profesi mulia.


2. Menjaga sikap profesional dalam interaksi dengan peserta didik.
3. Tidak melakukan kekerasan fisik, verbal, atau diskriminatif.
4. Memberikan keteladanan dalam kehidupan sehari-hari.

Apakah Perilaku Guru Perlu Diatur?

Jawabannya: Ya, sangat perlu.


Berikut beberapa alasan filosofis dan praktis:

1. Pendidikan adalah proses pembentukan manusia, bukan sekadar transmisi


pengetahuan. Maka, perilaku guru sebagai panutan moral menjadi sangat penting.
2. Guru adalah figur publik dan agen perubahan sosial. Tindak-tanduk guru
mencerminkan nilai-nilai yang akan diteladani oleh peserta didik.
3. Profesionalisme menuntut standar etika. Tanpa pedoman, profesi guru rawan
disalahgunakan atau disalahpahami.
4. Kode etik menjaga integritas dan kepercayaan masyarakat terhadap institusi
pendidikan.
5. Pengaturan perilaku menciptakan akuntabilitas, sehingga guru tidak hanya
bekerja berdasarkan niat baik, tetapi juga standar yang disepakati secara profesional.

Filosofi pendidikan dan pendidikan nilai tidak dapat dipisahkan dari pengembangan profesi
guru. Guru bukan hanya pelaku pembelajaran, melainkan pembentuk nilai dan moral peserta
didik. Oleh karena itu, keberadaan kode etik guru sebagai pengatur perilaku adalah mutlak
diperlukan. Ia tidak hanya menjadi batasan formal, tetapi juga pengingat filosofis akan
tanggung jawab guru sebagai pendidik manusia seutuhnya.

Membangun pendidikan yang bermutu dan berkarakter hanya mungkin tercapai jika guru-
gurunya memiliki integritas, moralitas, dan profesionalisme tinggi—yang semuanya
tercermin dalam penerapan kode etik secara konsisten.
AKSI NYATA

“MENUMBUHKAN KESADARAN DAN IMPLEMENTASI KODE ETIK GURU DI


SEKOLAH”

A. Judul Aksi Nyata

“Sosialisasi Menumbuhkan Kesadaran dan Implementasi Kode Etik di Sekolah untuk


Meningkatkan Profesionalisme serta Keteladanan”

B. Deskripsi Kegiatan

Saya melaksanakan kegiatan sosialisasi internal tentang penerapan kode etik guru
kepada rekan-rekan sejawat di sekolah. Kegiatan ini berupa diskusi kelompok, studi
kasus, dan refleksi bersama mengenai bagaimana perilaku guru mempengaruhi karakter
dan psikologis peserta didik. Dalam sesi tersebut, kami membahas kode etik apa saja
yang harus dipahami guru dan bagaimana penerapannya dalam kehidupan sehari-hari di
lingkungan sekolah.

C. Langkah-langkah Aksi Nyata

1. Mengumpulkan referensi materi kode etik guru dari sumber yang dipercaya
2. Menyusun materi, contoh-contoh, implementasi, dan pelanggaran kode etik dalam
pembelajaran
3. Melaksanakan presentasi kepada rekan sejawat di sekolah
4. Membuat refleksi tertulis dari setiap guru tentang komimen menerapkan kode etik
di sekolah untuk menciptakan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademis,
tetapi juga unggul dalam karakter dan etika.

D. Hasil yang Ingin Dicapai

[Link] menjadi sadar penerapan kode etik akan berpengaruh positif bagi peserta didik
[Link] kolaboratif antar guru dalam menjaga prosionalisme .
[Link] kesepakatan nilai-nilai,tanggung jawab,kedisiplinan,dan empati yang ingin
dijaga bersama oleh seluruh pendidik di sekolah.

E. Relevansi dengan Pembelajaran Mendalam

1. Berkesadaran : guru sadar harus dapat menerapkan kode etik dengan benar.
2. Bermakna : kode etik guru akan diterapkan langsung dalam pembelajaran.
3. Menggembirakan; kode etik didukung dan diterapkan oleh semua pendidik di
sekolah.
DOKUMENTASI

Sosialisasi penerapan kode etik guru untuk meningkatkan profesionalisme serta


Keteladanan Bersama rekan-rekan guru.
UMPAN BALIK DARI REKAN SEJAWAT

“Saya menyadari guru bukan hanya pengajar, tetapi juga


teladan bagi peserta didik dalam aspek moral, etika, dan sosial.
Tanpa kode etik, tidak aturan yang jelas, bagaimana guru dapat
merefleksikan diri dan menilai tindakan mereka secara etis
dalam setiap situasi yang dihadapi di lingkungan sekolah.”

( Mahra Tomari [Link])

“Dengan memahami kode etik profesi guru, dapat saya jadikan


pedoman cara berperilaku yang menjaga martabat,
profesionalisme. Kemudian kode etik guru tersebut akan saya
coba terapkan dalam pembelajaran di kelas..”

(Hawa Tabona [Link].)

“Saya akan berkomitmen menerapkan kode etik secara benar


di sekolah, sehingga tercipta lingkungan pendidikan yang
aman, etis, dan bermartabat.”

( Mokhlis Amin Umanailo [Link])


REFLEKSI

Pelaksanaan aksi nyata ini membuka kesadaran saya bahwa peran guru tidak cukup
hanya sebatas mengajar, tetapi juga harus menjadi figur teladan yang menjunjung tinggi
etika. Saat saya mengadakan sosialisasi dan refleksi bersama rekan-rekan sejawat terkait kode
etik guru, masih melihat ada beberapa yang belum benar-benar memahami pentingnya nilai-
nilai moral yang terkandung dalam kode etik tersebut. Dikarenakan ada yang belum
memahami apa saja kode etik guru, sehingga mereka belum tahu bagaimana etika profesional
itu diwujudkan dalam tindakan nyata. Padahal, perilaku guru di dalam dan di luar kelas
memberikan dampak jangka panjang terhadap pembentukan karakter peserta didik.

Aksi nyata ini juga memperkuat keyakinan saya bahwa kode etik bukanlah sekadar
dokumen formal yang dibacakan dalam pelatihan, melainkan fondasi penting dalam menjaga
marwah profesi guru. Dengan adanya pengaturan perilaku yang jelas, guru bisa merasa lebih
terlindungi, dihargai, dan memiliki arah yang jelas dalam bertindak, terutama saat
menghadapi situasi dilematis.

Saya akan terus membuka diri terhadap perkembangan pemikiran dan pendekatan
baru dalam pendidikan, serta memperkuat kolaborasi dengan rekan sejawat dalam
mengembangkan budaya sekolah yang berlandaskan nilai. Dalam menjalani peran sebagai
pendidik, akan menjaga profesionalisme dan menjunjung tinggi kode etik guru, agar
keberadaan saya di lingkungan pendidikan menjadi inspirasi yang berdampak positif, bukan
hanya bagi siswa, tetapi juga bagi komunitas pendidikan secara luas. Dengan demikian, saya
berharap dapat berkontribusi dalam menciptakan generasi muda yang tidak hanya cerdas
secara akademis, tetapi juga unggul dalam karakter dan etika.

Anda mungkin juga menyukai