0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
17 tayangan9 halaman

Pembelajaran Sosial Emosional di Sekolah

Jurnal PSE

Diunggah oleh

Dwila Hasan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
17 tayangan9 halaman

Pembelajaran Sosial Emosional di Sekolah

Jurnal PSE

Diunggah oleh

Dwila Hasan
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

JURNAL PEMBELAJARAN

MODUL 1
Pembelajaran Sosial Emosional (PSE)

NAMA : Hasan Duila


NUPTK : 1550765665120002
No UKG : 201698592264
NPM : 2590554950298
UNIT KERJA : SMP Negeri 23 Buru

LPTK
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
PPG GURU TERTENTU TAHAP 3
TAHUN 2025
PENDAHULUAN

Transformasi pendidikan di Indonesia saat ini menekankan pentingnya pengembangan


kompetensi peserta didik secara holistik, mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Dalam konteks ini, Pembelajaran Sosial Emosional (Social Emotional Learning/SEL)
menjadi salah satu pendekatan penting yang perlu diintegrasikan ke dalam proses
pembelajaran. SEL tidak hanya mendukung peningkatan hasil belajar akademik, tetapi juga
membekali peserta didik dengan keterampilan hidup seperti kesadaran diri, pengelolaan
emosi, empati, serta kemampuan membangun hubungan sosial yang sehat.

A. Pengertian Pembelajaran Sosial Emosional (PSE)

Pembelajaran Sosial dan Emosional (PSE) adalah sebuah proses di mana kita
memperoleh dan menerapkan pengetahuan, ketrampilan , dan sikap untuk mengembangkan
identitas yang sehat, mengelola emosi, mencapai tujuan pribadi dan kolektif merasakan dan
menunjukan empati terhadap orang lain, membangun dan memelihara hubungan yang
mendukung, serta membuat keputusan yang bertanggung jawab dan penuh rasa kepedulian.
PSE sendiri mencakup lima kompetensi utama : kesadaran diri, kesadaran sosial, berintaksi
sosial, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab.

B. Prinsip-prinsip Pembelajaran Sosial Emosional

Pembelajaran sosial emosional bertujuan untuk membantu peserta didik mengembangkan


keterampilan yang mendukung keberhasilan dalam pembelajaran, hubungan sosial, dan
kehidupan secara umum. CASEL mengidentifikasi lima kompetensi inti yang harus
dikembangkan dalam proses pembelajaran:

1. Kesadaran Diri (Self-Awareness)


Kemampuan untuk mengenali dan memahami emosi, pikiran, nilai, dan kekuatan diri
sendiri serta bagaimana hal-hal tersebut memengaruhi perilaku.

2. Pengelolaan Diri (Self-Management)


Kemampuan untuk mengatur emosi, pikiran, dan perilaku secara efektif dalam situasi
yang berbeda dan untuk mencapai tujuan.

3. Kesadaran Sosial (Social Awareness)


Kemampuan untuk memahami perspektif orang lain, menunjukkan empati, dan
menghargai keragaman serta norma sosial.

4. Keterampilan Berelasi (Relationship Skills)


Kemampuan untuk menjalin dan memelihara hubungan yang sehat dan positif,
bekerja sama, serta menyelesaikan konflik secara konstruktif.

5. Pengambilan Keputusan yang Bertanggung Jawab (Responsible Decision-Making)


Kemampuan untuk membuat pilihan berdasarkan etika, keselamatan, dan norma
sosial, serta mempertimbangkan kesejahteraan diri sendiri dan orang lain.
Prinsip-prinsip ini harus terintegrasi secara holistik dalam kurikulum dan budaya
sekolah, bukan hanya sebagai mata pelajaran terpisah.

C. Peran Guru sebagai Teladan dalam Pembelajaran Sosial Emosional

Pembelajaran Sosial Emosional (PSE) merupakan pendekatan penting dalam dunia


pendidikan yang bertujuan mengembangkan kemampuan siswa dalam mengenali dan
mengelola emosi, membangun hubungan yang sehat, membuat keputusan yang
bertanggung jawab, serta menunjukkan empati terhadap orang lain. Dalam konteks ini,
guru memiliki peran sentral sebagai teladan (role model) yang sangat menentukan
keberhasilan implementasi PSE di lingkungan sekolah.
Berikut beberapa peran utama guru sebagai teladan dalam pembelajaran sosial emosional:

a. Menunjukkan Regulasi Emosi yang Sehat


Guru yang mampu mengelola emosinya dengan baik memberikan contoh nyata bagi
siswa. Misalnya, ketika menghadapi situasi sulit atau konflik di kelas, guru yang tetap
tenang dan tidak bereaksi secara impulsif memperlihatkan cara mengelola stres secara
konstruktif.
b. Menunjukkan Empati dan Kepedulian
Dengan memperhatikan kebutuhan emosional siswa, mendengarkan tanpa
menghakimi, serta menunjukkan empati dalam interaksi sehari-hari, guru
mengajarkan pentingnya memahami perasaan orang lain dan menciptakan lingkungan
belajar yang aman secara emosional.
c. Membangun Hubungan Positif
Guru yang membangun hubungan positif dan penuh rasa hormat dengan siswa serta
rekan sejawat memberikan contoh bagaimana hubungan sosial yang sehat dibentuk.
Sikap saling menghargai, kolaboratif, dan terbuka menciptakan iklim kelas yang
mendukung perkembangan sosial siswa.
d. Menunjukkan Kejujuran dan Integritas
Guru yang konsisten dalam ucapan dan tindakan, menepati janji, dan bersikap adil,
memperlihatkan nilai-nilai integritas yang penting dalam kehidupan sosial. Hal ini
menanamkan nilai moral yang kuat dalam diri siswa.
e. Membimbing Melalui Refleksi
Guru dapat mengajak siswa untuk merenungkan pengalaman emosional mereka,
membicarakan perasaan, serta mengevaluasi pilihan tindakan mereka. Guru yang juga
melakukan refleksi terbuka tentang tindakannya sendiri menunjukkan bahwa belajar
emosional adalah proses sepanjang hayat.
f. Menggunakan Bahasa yang Membangun
Pilihan kata dan nada bicara guru sangat memengaruhi suasana emosional di kelas.
Guru yang menggunakan bahasa positif dan membangun akan menciptakan
lingkungan yang mendukung pertumbuhan emosional siswa.
D. Strategi dalam Penerapan Pembelajaran Sosial Emosional melalui Keteladanan

Penerapan Pembelajaran Sosial Emosional (PSE) secara efektif tidak hanya memerlukan
metode pengajaran, tetapi juga strategi nyata yang mencerminkan nilai-nilai tersebut dalam
tindakan guru sehari-hari :
1. Membangun Hubungan Positif dan Terbuka
Guru secara aktif membangun hubungan yang hangat, terbuka, dan penuh rasa hormat
dengan siswa.
 Menunjukkan kepedulian terhadap kondisi siswa, baik akademik maupun
emosional.
 Menyediakan waktu untuk mendengarkan siswa secara aktif.
 Menghindari sikap menghakimi dan menciptakan rasa aman psikologis di kelas.

2. Menjadi Contoh Sikap Sosial-Emosional yang Baik


Guru secara konsisten menunjukkan nilai-nilai sosial emosional dalam kehidupan
sehari-hari.
 Mengelola emosi dengan tenang dalam situasi menantang.
 Menunjukkan empati dan peduli terhadap kondisi siswa.
 Berani mengakui kesalahan dan meminta maaf jika diperlukan.

3. Integrasi Nilai Sosial Emosional dalam Pembelajaran


Menggabungkan nilai-nilai sosial emosional ke dalam proses belajar mengajar di
setiap mata pelajaran.
 Mengaitkan materi dengan isu sosial atau moral.
 Menggunakan studi kasus, diskusi nilai, dan refleksi dalam pembelajaran.

4. Mengadakan Kegiatan Reflektif dan Diskusi Kelas


Mendorong siswa untuk merenung dan mengevaluasi perilaku serta perasaan mereka.
 Menyediakan sesi refleksi harian atau mingguan.
 Menggunakan pertanyaan terbuka untuk menggali pemahaman dan emosi siswa.

5. Penerapan Rutinitas Positif di Kelas


Membangun rutinitas kelas yang menumbuhkan kebiasaan sosial emosional yang
sehat.
 Menyapa siswa dengan positif setiap hari.
 Membiasakan budaya apresiasi dan saling menghormati.

6. Menggunakan Bahasa Emosional yang Positif


Memilih kata-kata yang membangun, menenangkan, dan menunjukkan rasa hormat
dalam komunikasi.
 Menghindari nada marah, sarkastik, atau merendahkan.
 Menggunakan bahasa yang solutif dan suportif saat menghadapi masalah siswa.

7. Evaluasi dan Umpan Balik Sosial Emosional


Melakukan penilaian berkelanjutan terhadap perkembangan sosial emosional siswa.
 Memberikan umpan balik positif atas perilaku baik siswa.
 Mendorong siswa melakukan refleksi atau penilaian diri secara rutin.
KESIMPULAN
Pelaksanaan pembelajaran sosial emosional (PSE) dalam kegiatan pembelajaran
menunjukkan bahwa pendekatan berbasis keteladanan guru sangat efektif dalam membentuk
karakter siswa, khususnya dalam hal empati, kerja sama, komunikasi, dan pengelolaan emosi.

Melalui strategi-strategi seperti membangun hubungan positif, integrasi nilai sosial


emosional ke dalam materi pelajaran, penggunaan bahasa yang membangun, serta refleksi
bersama, siswa menunjukkan perkembangan yang nyata dalam aspek sosial dan emosional
mereka. Mereka menjadi lebih terbuka, mampu bekerja sama, dan lebih bertanggung jawab
dalam proses pembelajaran.

Penerapan PSE tidak hanya membantu siswa dalam membentuk kecakapan hidup,
tetapi juga menciptakan suasana belajar yang lebih nyaman, inklusif, dan mendukung
pertumbuhan pribadi setiap siswa.

Bagi guru, keterlibatan aktif dan konsistensi dalam menunjukkan keteladanan menjadi
kunci utama dalam keberhasilan implementasi PSE di kelas. Oleh karena itu, pembelajaran
sosial emosional perlu terus diintegrasikan secara berkelanjutan dalam praktik pendidikan
sehari-hari, baik dalam konteks akademik maupun non-akademik.

Refleksi
Sebagai seorang guru, saya menyadari bahwa pembelajaran tidak hanya berfokus
pada pencapaian kompetensi akademik, tetapi juga mencakup pengembangan kecakapan
sosial dan emosional siswa secara menyeluruh. Melalui proses pembelajaran yang saya
laksanakan, saya melihat secara langsung bahwa penerapan nilai-nilai sosial emosional
berdampak positif terhadap sikap, perilaku, dan keterlibatan siswa dalam proses belajar.

Salah satu refleksi penting adalah bahwa keteladanan guru merupakan komponen
utama dalam menanamkan nilai-nilai sosial emosional. Ketika saya menunjukkan empati,
sikap terbuka, dan kemampuan mengelola emosi secara sehat, siswa cenderung meniru
perilaku tersebut dalam interaksi mereka dengan teman maupun dalam menyelesaikan tugas
kelompok.
Saya juga belajar bahwa memberi ruang untuk refleksi siswa—baik melalui
diskusi, atau kegiatan berbagi—sangat membantu dalam mengembangkan kesadaran diri dan
kemampuan mereka mengungkapkan emosi secara positif. Bahkan siswa yang sebelumnya
pasif atau sulit mengontrol emosi mulai menunjukkan perkembangan dalam komunikasi dan
kerja sama.
Namun, saya juga menyadari masih ada tantangan, terutama dalam menjaga
konsistensi dan kesabaran ketika menghadapi siswa dengan latar belakang emosi dan perilaku
yang berbeda-beda. Hal ini menjadi pengingat bagi saya untuk terus belajar, mengembangkan
kepekaan, dan membangun hubungan yang kuat dengan siswa.

Secara keseluruhan, pengalaman ini memperkuat keyakinan saya bahwa pendidikan karakter
dan sosial emosional harus menjadi bagian yang terintegrasi dalam setiap proses
pembelajaran. Saya akan terus mengasah kemampuan diri untuk menjadi guru yang tidak
hanya mengajar, tetapi juga menginspirasi dan membentuk pribadi siswa secara utuh.
MODUL AJAR

Mata Pelajaran : Dasar-Dasar Broadcasting dan Perfilman


Kelas/Semester : X / Ganjil
Alokasi Waktu : 2 JP (2 × 45 menit)
Materi Pokok : Perkembangan Teknologi Broadcasting dan Perfilman

1. Tujuan Pembelajaran

Peserta didik mampu:

1. Menjelaskan secara kronologis perkembangan teknologi dalam dunia broadcasting


dan perfilman.
2. Mengidentifikasi perubahan alat dan teknik produksi media dari masa ke masa.
3. Menganalisis pengaruh kemajuan teknologi terhadap proses produksi dan distribusi
media.
4. Menunjukkan sikap terbuka terhadap inovasi dan mampu bekerja sama dalam diskusi
kelompok.

2. Kompetensi Awal

Peserta didik memiliki pengetahuan dasar mengenai:

 Fungsi media massa.


 Proses produksi sederhana (misalnya video pendek di media sosial).
 Perbedaan alat teknologi masa lalu dan sekarang (umum).

3. Profil Pelajar Pancasila

 Bernalar Kritis: Menelaah pengaruh perkembangan teknologi terhadap produksi


media.
 Kreatif: Menggambarkan perubahan alat dan teknik dalam format visual.
 Gotong Royong: Bekerja sama dalam kelompok menganalisis perkembangan media.
 Mandiri: Mengembangkan rasa ingin tahu terhadap tren teknologi media.

4. Sarpras dan Media Pembelajaran

 Laptop, proyektor, koneksi internet


 Video dokumenter (YouTube: sejarah film, evolusi kamera)
 Gambar alat produksi film dari berbagai era
 Lembar kerja kelompok (LKPD)
 Kartu refleksi sosial emosional
5. Langkah-Langkah Pembelajaran

Model: Discovery Learning + Penerapan Pembelajaran Sosial Emosional (PSE)

A. Kegiatan Pendahuluan (10 Menit)

 Guru membuka pembelajaran dengan menyapa siswa dan menanyakan pendapat


mereka tentang film atau siaran yang mereka tonton baru-baru ini.
 Menayangkan 2 cuplikan film dari era berbeda (misalnya film hitam-putih vs. film
CGI)
 Pertanyaan pemantik:

"Menurut kalian, apa yang berubah dari teknologi pembuatan film/siaran dulu
dan sekarang?"

B. Kegiatan Inti (70 Menit)

Tahapan Aktivitas Guru & Siswa


Guru menyampaikan materi tentang perkembangan teknologi broadcasting
Eksplorasi
dan perfilman dari masa ke masa (tayangan visual disarankan).
Diskusi Siswa dibagi dalam kelompok kecil. Masing-masing kelompok
Kelompok menganalisis satu era teknologi (analog, digital awal, modern/streaming).
Presentasi Setiap kelompok mempresentasikan temuannya, baik dalam bentuk poster
Kelompok atau pemaparan lisan.
Guru memberi pertanyaan reflektif: "Apa yang kamu rasakan ketika harus
Refleksi Sosial
mengikuti perubahan teknologi di sekitarmu?" "Bagaimana kamu bekerja
Emosional
sama dengan teman kelompokmu hari ini?"
Penguatan Guru memberi apresiasi terhadap siswa yang menunjukkan empati, saling
Karakter bantu, atau mendengarkan pendapat temannya.

C. Kegiatan Penutup (10 Menit)

 Guru menyimpulkan perkembangan teknologi dan dampaknya pada proses produksi.


 Menyampaikan keterkaitan materi ini dengan pertemuan berikutnya (misalnya:
mengenal peralatan produksi film modern).
 Memberikan tugas individu:

"Buatlah mind map atau sketsa yang menggambarkan perubahan alat


broadcasting dari masa lalu hingga sekarang."
UMPAN BALIK DARI REKAN SEJAWAT

Ketika saya menerapkan pembelajaran diatas, terdapat beberapa rekan guru yang saya
minta untuk melakukan observasi atau mengamati bagaimana kelas berlangsung
ketika saya mengajar.

Berikut ini adalah umpan balik dari rekan guru ketika saya menerapkan pembelajaran
sosial emosional di kelas :

Bagimana pendapat Anda tentang materi Pembelajaran Sosial Emosional ?

Ibu Juwita [Link]

Pembelajaran Sosial Emosional sangat penting bagi guru dan peserta didik .
Karena seorang guru ketika akan memulai pembelajaran harus dalam kondisi hati
yang tenang dan senang sehingga dapat mentransfer ilmu dengan baik.
Dalam pembelajaran sosial emosional harus dimulai dari guru terlebih dahulu agar
dapat menciptakan suana belajar yang menyenangkan sehingga peserta didik merasa
aman dan nyaman baik dikelas maupun lingkungan sekolah.
DOKUMENTASI

Anda mungkin juga menyukai