PENERAPAN KESEHATAN DAN KESELAMATAN KERJA DENGAN
METODE HIRADC PADA PT X
1
Ahmad Rifal Renaldi, 2Ibnu Sutowo
Prodi Teknik Industri, Universitas Pelita Bangsa
Abstract
This study aims to determine the implementation of occupational health and safety at
PT X with the HIRADC method. The research method is by literature study and interviews.
The results of this study explain that PT X has carried out a lot of work accident control but
still has to conduct K3 training and increase awareness of the importance of implementing
occupational health and safety
Keywords: K3, HIRADC, Hazards, Work Accidents
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan kesehatan dan keselamatan kerja
di PT X dengan metode HIRADC. Metode penelitian adalah dengan studi literatur dan
wawancara. Hasil dari penelitian ini menjelaskan bahwa PT X sudah banyak melakukan
pengendalian kecelakaan kerja tapi masih harus melakukan pelatihan K3 dan meningkatkan
kesadaran akan pentingnya pelaksanaan kesehatan dan keselamatan kerja
Kata kunci : K3, HIRADC, Bahaya, Kecelakaan Kerja
PENDAHULUAN
Masalah kesehatan dan keselamatan kerja di Indonesia masih sering terabaikan. Hal
ini ditunjukkan dengan masih tingginya angka kecelakaan kerja. Hal ini dibuktikan dengan
data dari BPJS ketenagakerjaan yang mencatat terdapat kurang lebih 370.000 kecelakaan
pada tahun 2023 ([Link]
Rendahnya perhatian perusahaan terhadap kesehatan dan keselamatan kerja (K3)
menyebabkan tingginya angka kematian dan kecelakaan kerja. Pelaksaan kesehatan dan
keselamatan kerja yang buruk tidak hanya berdampak negatif pada tenaga kerja perusahaan
tersebut namun juga mempengaruhi penilaian masyarakat dan pengguna jasa perusahaan
tersebut. (Syafrial & Ardiansyah, 2020). Tingginya angka kecelakaan dan rendahnya
perhatian perusahaan ini perlu adanya penanganan serius terhadap kesehatan dan keselamatan
kerja.
Resiko terjadinya kecelakaan kerja dapat dialami oleh semua perusahaan. Namun
tingkat keparahan dan besar kecilnya resiko tersebut bergantung dari penanganan dan
pengendalian resiko tersebut. Oleh karena itu, perusahaan wajib memberikan rasa aman
kepada karyawan sehingga dapat melakukan pekerjaannya dengan baik dan nyaman (Syawal
et al., 2023).
PT X merupakan perusahaan yang bergerak dibidang manufaktur yang bekerja
berdasarkan permintaan pelanggan. PT X merupakan perusahaan yang banyak menggunakan
mesin dan bahan berbahaya, dengan adanya penggunaan mesin dan bahan berbahaya ini tentu
terdapat banyak resiko yang dapat terjadi, PT X perlu melaksanakan K3 yang baik untuk
menghindari kematian dan keselamatan kerja. Terdapat berbagai cara untuk menghindari
kematian dan kecelakaan kerja, salah satu metode yang dapat mengurangi kematian dan
kecelakaan kerja adalah dengan metode HIRADC. Berbagai isu terkait tindakan para pekerja
yang tidak memenuhi aspek keselamatan kerja (unsafe acts) dan kondisi lingkungan yang
tidak aman (unsafe conditions) perlu menjadi perhatian utama untuk menghindari kecelakaan
fatal. Untuk meminimalkan terjadinya potensi resiko kecelakaan kerja maka perusahaan
dituntut untuk mampu mengidentifikasi bahaya, penilaian dan pengendalian resiko atau
HIRADC.
Perusahaan diharapkan dapat memahami konsep dasar HIRADC, mampu menghitung
tingkat resiko suatu bahaya, dan mampu menentukan tindaan perbaikan. Harapan
kedepannya PT X dapat memperhatikan proseedur K3 dengan metode HIRADC dengan baik
dan dapat menghindari kematian dan kecelakaan kerja. Artikel ini memiliki tujuan agar
perusahaan memahami proses identifikasi bahaya, dapat melakukan penilaian terhadap resiko
yang ada, dan mampu menentukan tindakan pengendalian resiko.
Berdasarkan uraian-uraian tersebut, penulis memutuskan untuk membuat karya tulis
ilmiah dengan topik HIRADC yang diuraikan dalam bentuk judul “Penerapan Kesehatan dan
Keselamatan Kerja Dengan Metode HIRADC pada PT X”
KERANGKA TEORI
Pengertian HIRADC
HIRADC yang merupakan singkatan dari Hazard Identification Risk Assessment and
Determining Control adalah metode untuk identifikasi risiko kecelakaan dalam SMK3
(Sistem Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja), Identifikasi yang dimaksud adalah
melakukan identifikasi bahaya apa yang terjadi, dampak yang mungkin terjadi dari bahaya
tersebut, penilaian risiko dan pengendalian control. (Syafrial & Ardiansyah, 2020).
Metode HIRADC membutuhkan piramida yang berfungsi untuk membantu
pengaplikasiannya, yaitu sebagai berikut :
Gambar 1. Piramida Kecelakaan kerja
Sumber : (Syafrial & Ardiansyah, 2020)
Piramida tersebut menjelaskan bahwa untuk mencegah kecelakaan fatal maka perlu
upaya untuk mengurangi kejadian-kejadian Unsafe Act dan Near Miss di tempat kerja
sehingga probabilitas kecelakaan fatal dan kejadian-kejadian menuju kecelakaan fatal dapat
dihindari. Target HIRADC adalah dengan mengurangi kejadian Unsafe Act.
Bahaya
Bahaya adalah setiap benda, bahan, kegiatan, atau kondisi yang dapat menyebabkan
potensi cedera, kerusakan, dan kerugian. Identifikasi bahaya adalah landasan dari program
pencegahan kecelakaan dan pengendalian resiko, tanpa mengenal bahaya pencegahan
kecelakaan dan pengendalian resiko tidak dapat dilakukan (Supriyadi et al., 2015). Jenis
bahaya menurut Isyeu Sriagustini & Teni Supriyani, (2021) adalah sebagai berikut:
1. Bahaya Fisika (Physical) adalah faktor ditempat kerja yang dapat mempengaruhi
aktivitas kerja yang bersifat fisika yaitu berupa bising, radiasi, tekanan suhu, getaran, dan
pencahayaan.
2. Bahaya Kimia (Chemical) adalah faktor ditempat kerja yang dapat mempengaruhi tenaga
kerja yang bersifat kimiawi disebabkan oleh penggunaan bahan kimia dan turunannya,
seperti bahan beracun dan partikel berdebu. Bahaya Kimia dapat menyebabkan masalah
keselamatan dan kesehatan. Contoh bahaya kimia yang mengancam keselamatan adalah
berupa bahan kimia korosif yang dapat menyebabkan kebakaran, explosive yang
meledak, water reactive dapat menyebabkan kebakaran dan gas beracun, dan irritant
yang dapat menyebabkan gatal, perih dan iritasi. Sedangkan nahan kimia yang
mengancam kesehatan yaitu bahan kimia yang bersifat karsinogen dapat menyebabkan
kanker, mutagen menyebabkan perubahan genetik, poison yang mengancam jiwa karena
merusak jaringan tubuh, teratogen menyebabkan cacat pada janin, dan toxic yang
megancam jiwa dengan merusak jaringan dalam jumlah yang lebih banyak dari poison.
3. Bahaya Biologi (Biological) adalah faktor ditempat kerja yang dapat mempengaruhi
tenaga kerja yang bersifat biologi seperti terinfeksi virus, jamur, bakteri, cacing, dan
serangga.
4. Bahaya Mekanis (Mechanical) adalah faktor ditempat kerja yang dapat mempengaruhi
tenaga kerja yang berasal dari mesin atau peralatan berupa benda-benda bergerak, benda
tajam, dan titik jepit pada mesin.
5. Bahaya Psikososial (Psychosocial) faktor ditempat kerja yang mempengaruhi tenaga
kerja karena pola shift, tekanan, dan tindakan intimidasi.
6. Bahaya Lingkungan (Environmental) adalah faktor ditempat kerja yang dapat
mempengaruhi tenaga kerja karena keadaan lingkungan kerja seperti kegelapan, basah
dan tingkat kemiringan.
7. Bahaya Ergonomi (Ergonomical) adalah faktor ditempat kerja yang dapat mempengaruhi
tenaga kerja karena ketidaksesuaian fasilitas kerja yang meliputi cara kerja, posisi kerja,
alat kerja dan beban angkat terhadap tenaga kerja.
Bahaya yang dapat mengancam keselamatan antara lain bahaya mekanik, elektrik, kebakaran
dan ledakan. Sedangkan bahaya yang dapat mengancam kesehatan yaitu bahaya fisik, kimia,
biologi, psikososial, lingkungan, dan ergonomi.
Resiko
Resiko adalah kesempatan atau kemungkinan bertemunya dua atau lebih bahaya yang
mengakibatkan kerugian. Penilaian resiko adalah proses mengkaji apakah resiko yang ada
dapat diterima oleh pekerja atau tidak. Penilaian resiko sebaiknya dilakukan dengan
melibatkan sekelompok pekerja seperti pekerja yang bekerja langsung, pengawas, petugas
pengelola keselamatan, dan orang-orang lain yang terkait karena keahlian atau pekerjaan
terhadap resiko yang akan dikaji(Nuryono & Aini, 2020).
Jenis-jenis resiko menurut Nuryono & Aini, (2020) adalah sebagai berikut :
1. Resiko keselamatan adalah kemungkinan kerugian yang mengancam keselamatan.
Resiko keselamatan adalah resiko dengan probabilitas rendah, tingkat paparan tinggi,
tingkat konsekuensi kecelakaan tinggi, bersifat akut dan menimbulkan efek secara
langsung.
2. Resiko kesehatan adalah kemungkinan kerugian yang mengancam kesehatan. Resiko
kesehatan adalah resiko dengan probabilitas tinggi, tingkat paparan rendah, memiliki
masa laten yang panjang, efek tidak langsung terlihat dan bersifat kronik.
3. Resiko keuangan adalah kemungkinan kerugian yang mengancam keuangan. Resiko ini
adalah resiko yang berjangka panjang dan pendek bergantung pada kerugian properti,
merupakan pertimbangan utama.
4. Resiko kesejahteraan masyarakat adalah kemungkinan kerugian yang mengancam
kesejahteraan masyarakat. Resiko ini berupa persepsi kelompok atau umum tentang
performance organisasi atau produk, nilai properti, estetika, dan penggunaan sumber
daya yang terbatas.
5. Resiko lingkungan dan ekologi adalah kemungkinan kerugian yang mengancam
lingkungan dan ekosistem sekitar perusahaan. Resiko ini melibatkan interaksi yang
beragam antara populasi dan komunitas ekosistem, ada ketidakpastian antara sebab dan
akibat dan fokus pada habitat dan dampak ekosistem.
Terjadinya insiden adalah sebagai berikut
Gambar 2 insiden bahaya
BAHAYA BAHAYA BAHAYA
RESIKO
INSIDEN
ALUR PROSES HIRADC
Identifikasi Hazard
Identifikasi bahaya dilakukan untuk mengetahui potensi kerja yang dapat terjadi pada
suatu aktivitas kerja (Restu & Yuamita, 2023).
Identifikasi Hazard menurut PP No 50 Tahun 2012 Pasal 7 ayat 2 adalah sebagai
berikut:
1. Inspeksi tempat kerja membutuhkan pemahaman proses kerja, prosedur, kebijakan dan
sistem kerja secara keseluruhan. Inspeksi tempat kerja dilakukan dengan cara
mengembangkan rencana tempat kerja, menyiapkan deskripsi tertulis dari tempat kerja,
serta mengembangkan dan menggunakan check list.
2. Penilaian resiko bergantung pada sumber dan standar hazard, kode etik serta informasi
yang ada. Penilaian resiko dapat dilakukan dengan cara pemberian rating resiko
berdasarkan observasi maupun pengukuran.
3. Pengendalian resiko dilakukan setelah melakukan penilaian resiko. Pengendalian resiko
dilakukan dengan memprioritaskan penanganan dan mengendalian resiko berdasarkan
hirarki pengendalian.
Pengidentifikasian bahaya menjadi proses yang bisa dilakukan untuk mengenali
kejadian atau situasi yang berpotensi menyebabkan kecelakaan atau penyakit akibat kerja
yang mungkin timbul ditempat kerja. Langkah awal dalam identifikasi bahaya adalah dengan
melihat area dan alat yang digunakan di tempat kerja (Ihsan, Hamidi, et al., 2020).
Menilai Resiko
Menilai resiko dilakukan untuk menetapkan pengendalian terhadap prioritas kontrol
berdasarkan tingkat resiko kecelakaan atau penyakit akibat kegiatan kerja. Teknik
menganalisa resiko dilakukan untuk mengetahui besarnya resiko yang tercermin dari peluang
serta efek atau dampak yang muncul. (Restu & Yuamita, 2023).
Resiko (R) = P x S x F
P = Probability, yaitu kemungkinan terjadinya / timbulnya cedera, kerusakan dan kerugian
S = Severity, yaitu tingkat keparahan yang terjadi akibat dari dampak
F = Frekuensi, yaitu tingkat keseringan munculnya dampak
Tabel 1 probability
Probability Kemungkinan bahaya yang berdampak
0,1 Almost inconceivable Tidak mungkin terjadi <5%
0,2 Practically imposible Sangat jarang terjadi 6%-20%
0,5 Conceivable but improbable Jarang terjadi 21%-30%
1 Improbable but possible in bonderline cases Kadang-kadang terjadi 31%-50%
3 Unusual Sering terjadi 51%-70%
6 Quiet probable Sangat sering terjadi 71%-90%
10 Expected Pasti terjadi 91%-100%
Tabel 2 frekuensi
Frekuensi Besar frekuensi dari aktivitas
0,5 Very rare (less than once a year) Hampir tidak ada dalam setahun
1 Rare (annual) Tahunan
2 Infrequent (montly) Bulanan
3 Occasional (weekly) Mingguan
6 Regular (daily) Harian
10 Ongoing Terus menerus dalam sehari
Tabel 3 efek
General risk accidents Damage Action by Clean up costs Media
authorities attention
effect effect Effect-direct Effect-legal aspect effect
General Accidents Environmental Action by Damage Media
damage authorities ($) attention
No 1 Minor 1 Injury Tidak ada/ 1 Comment 1 <10000 No press
risk without kerusakan attention
left time kecil
Presen 3 Significan 3 Injury Gangguan 3 Warning 3 10.000- Local
t risk t with time lingkungan 50.000 press
off sementara attention
7 Serious 7 Disability Kerusakan 7 Fine 7 50.001- Regional
/ diarea 250.000 press
permanen lingkungan intenttion
t injury
15 Very 15 1 death Kerusakan 15 Liability 15 250.001- National
serious lingkungan 1.000.0000 press
jnagka attention
panjang
40 Disaster 40 Several Kerusakan 40 Partial 40 >1.000.00 Global
fatalities permanen suspension 0 prees
of attention
activities
Tabel 4 nilai resiko
Degree of risk
Low 1 R > 20 Very limited risk
2 20 < R < 70 Reguires attention
Average 3 70 < R <200 Measures required
High 4 200 < R < 400 Measure required in short term
5 R > 400 Measure required immediately
Tindakan pengendalian
Pengendalian dilakukan secara bertahan dari tingkat tertinggi hingga terendah. Dalam
melakukan pengendalian wajib menggunakan hirarki pengendalian, yaitu dimulai dari
eliminasi, substitusi, rekayasa atau engineered, administrasi, serta alat pelindung diri yang
disesuaikan sesuai dengan jenis pekerjaan, status dan keadaaan perusahaan, ketersediaan
biaya, biaya personil serta faktor lingkungan dan manusia (Ihsan, Safitri, et al., 2020).
Hierarki pengendalian resiko adalah seperti gambar berikut :
Gambar 3 pengendalian resiko
Sumber : (Restu & Yuamita, 2023)
Dalam pengendalian resiko, eliminasi adalah membuang dan menyisihkan bahan atau
bagian dari suatu proses berbahaya yang ada pada industri tersebut. Substitusi adalah
menukar bahan atau peralatan untuk pengendalian proses berbahaya yang ada dalam industri.
Rekayasa engineering adalah pembuatan atau perbaikan dan atau pemasangan alat guna
mengendalikan proses yang berrbahaya untuk pekerja. Pengendalian administratif adalah cara
yang terkait dengan penyelenggaraan kebijakan dan pembinaan dalam pengendalian resiko.
APD/PPE adalah dengan menyiapkan alat perlindungan diri untuk para pekerja (Ihsan,
Safitri, et al., 2020)
METODE
Karya tulis ini menggunakan metode gagasan berpikir atau studi literatur dan
wawancara. Artikel ini merupakan karya tulis non penelitian, sehingga didalamnya mengkaji
tentang gagasan berpikir yang terorganisir dan sistematis. Penulis melakukan penelusuran
pustaka yang tidak hanya untuk langkah awal namun juga memanfaatkan sumber-sumber
data pustaka untuk memperoleh data karya tulis.
Berdasarkan hasil kajian literatur, artikel non penelitian ini membahas terkait
kesehatan dan keselamatan kerja. Karya tulis ini menelaah teori dan konsep, pembahasan
hingga isi dari karya ilmiah ini berdasarkan studi literatur pada jurnal dan artikel ilmiah yang
sudah terbukti keaslian dan kredibilitasnya.
PEMBAHASAN
Pembekalan pelatihan dan alat perlindungan diri
PT X membekali pengetahuan dalam bentuk pelatihan mengenai keselamatan kerja,
pelatihan ini biasanya dilakukan setiap setahun sekali. Pelatihan ini dihadiri oleh leader dan
leader menyampaikan kepada operator. Pelatihan ini dilakukan untuk menumbuhkan
kesadaran akan pentingnya kesehatan dan keselamatan dalam bekerja baik saat menuju lokasi
kerja maupun saat proses kerja.
PT X menyediakan alat perlindungan diri demi meningkatkan kesehatan dan
keselamatan untuk para pekerja di tempat kerja seperti sarung tangan, kacamata, apron, alat
penutup telinga, topi, sepatu safety dan lain sebagainya. APD tersebut digunakan sesuai
dengan jenis pekerjaan yang dilakukan. Semua APD yang disediakan PT X wajib digunakan
oleh pekerja pada kawasan kerja dan jam kerja, bagi pekerja yang tidak mematuhi akan
mendapatkan peringatan.
Sedangkan, diluar kerja PT X mewajibkan pekerja nya untuk melaksanakan safety
riding, bagi pengendara motor yaitu dengan memakai helm, jaket, sarung tangan dan sepatu.
Bagi pengendara mobil dengan selalu menggunakan sabuk pengaman.
Tabel 5 Bahaya
Aktivitas Bahaya konsekuensi Tindakan pengendalian
Berangkat kerja Kecelakaan Tangan patah Melaksanakan safety riding
Mengangkat Tertimpa Kaki terluka Tidak mengangkat barang yang terlalu
barang berat
Penggunaan Tertabrak Badan Waspada terhadap adanya penggunaan
forklift terluka forklif
Pengendalian fasilitas kebakaran dan P3K
Setiap departemen padaa PT X terdapat alarm kebakaran dan alat pemadam kebakaran
ringan guna menghindari kebakaran. PT X juga melakukan pelatihan kebakaran setiap 3
bulan sekali agar tidak ada korban apabila terjadi kebakaran. P3K disediakan disetiap
departemen apabila terdapat masalah keselamatan dan kesehatan ringan serta untuk
memberikan pertolongan pertama bagi tenaga kerja.
Penyediaan rambu-rambu keselamatan
PT X telah membuat rambu-rambu keselamatan pada beberapa titik. Sebagai contoh
adalah rambu awas kepeleset pada kamar mandi, awas tegangan tinggi pada bagian yang
terdapat aliran listrik, rambu mudah terbakar, dan lain-lain. Rambu-rambu tersebut diletakkan
pada tempat sesuai dengan potensi bahayanya.
Pemberian jaminan kesehatan
PT X memberikan jaminan kesehatan berupa kartu BPJS bagi setiap pekerja apabila
ada pekerja yang sakit atau terluka. PT X juga menyediakan UKS yang terdapat perawat bagi
setiap pekerja yang sakit hingga tidak dapat melanjutkan kinerjanya.
PT X memperhatikan setiap keluhan pekerjanya, sebagai contoh bekerja pada cuaca
dengan panas ekstrim, maka PT X memberikan tambahan kipas untuk setiap pekerjanya. PT
X juga rutin melakukan perawatan pada peralatan-peralatan kerjanya sehingga tidak
membahayakan pekerjanya.
KESIMPULAN
Berdasarkan analisis yang dilakukan, terdapat 3 bahaya yang paling mungkin terjadi
pada PT X yaitu kecelakaan berkendara, tertimpa barang dan tertabrak forklift. Dari potensi
bahaya tersebut pengendalian yang dapat dilakukan antara lain dengan pelatihan dan
pengarahan terkait pentingnya kesehatan dan keselamatan kerja. Salah satu metode yang
digunakan dalam pengendalian kecelakaan kerja adalah dengan metode HIRADC
Metode HIRADC adalah metode yang digunakan untuk menghindari atau mengurangi
kecelakaan kerja dengan melakukan identifikasi dan pengendalian resiko. Demi menghindari
kecelakaan kerja, PT X perlu meningkatkan kesadaran akan pentingnya K3 dan pelatihan
HIRADC.
Daftar Pustaka
Ihsan, T., Hamidi, S. A., & Putri, F. A. (2020). Penilaian Risiko dengan Metode HIRADC
Pada Pekerjaan Konstruksi Gedung Kebudayaan Sumatera Barat. Jurnal Civronlit
Unbari, 5(2), 67. [Link]
Ihsan, T., Safitri, A., & Dharossa, D. P. (2020). Analisis Risiko Potensi Bahaya dan
Pengendaliannya Dengan Metode HIRADC pada PT. IGASAR Kota Padang Sumatera
Barat. Jurnal Serambi Engineering, 5(2), 1063–1069.
[Link]
Isyeu Sriagustini, & Teni Supriyani. (2021). Analisis Bahaya Pada Pengrajin Anyaman
Bambu. Faletehan Health Journal, 8(3), 223–230.
Nuryono, A., & Aini, M. N. (2020). Analisis Bahaya dan Resiko Kerja di Industri
Pengolahan Teh dengan Metode HIRA atau IBPR. Journal of Industrial and
Engineering System, 1(1), 65–74. [Link]
Restu, & Yuamita, F. (2023). Analisis Risiko Potensi Kecelakaan Kerja Pada Pekerja
Departemen Persiapan Produksi Menggunakan Metode HIRADC (Hazard Identification,
Risk Assesment And Determining Control). Jurnal Teknologi Dan Manajemen Industri
Terapan, 2(3), 159–167. [Link]
Supriyadi, Ahmad Nalhadi, & Abu Rizaal. (2015). Identifikasi Bahaya dan Penilaian Risiko
K3 Pada Tindakan Perawatan dan Perbaikan Menggunakan Metode HIRARC pada PT.
X. Seminar Nasional Riset Terapan, July, 281–286.
[Link]
Syafrial, H., & Ardiansyah, A. (2020). Prosedur Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (K3)
Pada PT. Satunol Mikrosistem Jakarta. Abiwara : Jurnal Vokasi Administrasi Bisnis,
1(2), 60–70. [Link]
Syawal, S. N., Kusnadi, K., & Sutrisno, S. (2023). Analisis Potensi Bahaya dengan Metode
HIRADC untuk Mencegah Terjadinya Kecelakaan Kerja di Departemen Injection PT.
Indonesia Thai summit plastech. Jurnal Serambi Engineering, 8(1), 4211–4217.
[Link]