DEEP LEARNING
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Telaah dan Pengembangan
Kurikulum PAI
Dosen Pengampu: Dr. Mirawati, [Link]
Disusun oleh kelompok 12:
Safira Laila Wulandari
Siti Khoriah Fitriani
Qonita Az-zahra
Nur Aini
KELAS 4C
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAAN
UIN SULTAN SYARIF KASIM RIAU
2025 M / 1446 H
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatu
Segala puji bagi Allah subhanahu wa ta’ala yang senantiasa melimpahkan
rahmat, taufiq dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini
dengan judul "Deep Learning". Doa dan keberkahan selalu kami sampaikan
kepada Nabi Muhammad SAW, utusan yang membawa ajaran Al-Quran yang suci.
sebagai petunjuk bagi seluruh umat manusia.
Pada kesempatan ini, kami menyampaikan penghargaan yang besar kepada
Ibu Dr. Mirawati, [Link] Sebagai pembimbing kami dalam mata kuliah Telaah dan
Pengembangan Kurikulum PAI. Kami juga ingin mengucapkan terima kasih
kepada semua yang telah memberikan dukungan dan bantuan dalam proses
penyusunan makalah ini.
Kami menyadari bahwa dalam proses penyusunan makalah ini, masih ada
banyak kekurangan yang perlu kami perbaiki. Karenanya, kami sangat
mengharapkan kritik dan saran yang konstruktif untuk membantu perbaikan di
masa depan. Semoga makalah kami dapat memberikan manfaat serta menjadi
sumbangan kecil dalam peningkatan pemahaman kita terhadap pengembangan ilmu
pengetahuan dan khususnya dalam pengembangan ilmu pendidikan agama Islam.
Pekanbaru, Mei 2025
Kelompok 12
i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR .................................................................................... i
DAFTAR ISI ................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................... 1
A. Latar Belakang ................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah .............................................................................. 2
C. Tujuan Penulisan ................................................................................ 2
BAB II PEMBAHASAN ................................................................................ 3
A. Pengertian Kurikulum Deep Learning ............................................... 3
B. Tiga Pilar Kurikulum Deep Learning ................................................ 4
C. Hubungan Dengan Konsep Deep Learning Dalam AI ...................... 6
D. Tantangan Kurikulum Deep Learning di Indonesia........................... 7
BAB III PENUTUP ........................................................................................ 9
A. Kesimpulan ........................................................................................ 9
B. Saran .................................................................................................. 9
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 10
ii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pada November 2024. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah
(Mendikdasmen) Abdul Mu'ti menyampaikan ide untuk menggantikan
Kurikulum Merdeka Belajar dengan pendekatan baru yang disebut Deep
Learning. Dalam pernyataannya, beliau menekankan bahwa Deep Learning
bertujuan memberikan pengalaman belajar yang lebih bermakna,
menyenangkan, dan mendalam bagi siswa. Konsep ini berfokus pada tiga elemen
utama: Mindfull Learning, Meaningfull Learning, dan Joyfull Learning, yang
masing-masing mengarah pada keterlibatan siswa, pengembangan pemahaman
mendalam, serta kepuasan dalam proses pembelajaran. Deep Learning bukanlah
sebuah kurikulum baru, melainkan sebuah pendekatan yang bisa diterapkan
dalam berbagai sistem pendidikan. Pendekatan ini berfokus pada membangun
pemahaman yang lebih komprehensif, di mana siswa tidak hanya menghafal
informasi, tetapi juga mampu menganalisis dan mengaplikasikannya dalam
kehidupan nyata. Hal ini sejalan dengan pandangan bahwa pembelajaran yang
efektif seharusnya menekankan pemikiran kritis dan kemampuan untuk
menyelesaikan masalah.1
Pentingnya keterlibatan aktif siswa dalam proses pembelajaran juga
menjadi fokus utama dalam pendekatan ini. Di dalamnya, siswa didorong untuk
berpikir lebih dalam mengenai materi yang dipelajari dan mengaitkannya
dengan pengalaman pribadi atau situasi sehari-hari. Hal ini sejalan dengan teori
konstruktivisme yang dikembangkan oleh Piaget dan Vygotsky, yang
menekankan bahwa pengetahuan dibangun melalui interaksi sosial dan
pengalaman langsung.2 Deep Learning juga mendorong kolaborasi di antara
siswa, yang memperkaya proses belajar melalui diskusi dan pemecahan masalah
1
Suwandi and Sulastri, “Inovasi Pendidikan dengan Menggunakan Model Kurikulum Deep
Learning di Indonesia”. Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan dan Publik. Vol. 1, No. 2 (Desember,
2024), h. 67
2
Habsy, B. A., Christian, J. S., & Unaisah, U. "Memahami Teori Pembelajaran Kognitif
dan Konstruktivisme serta Penerapannya." TSAQOFAH, Vol. 4, No. 2 (2024 h. 308
1
bersama. Namun, meskipun konsep Deep Learning menawarkan potensi besar
dalam meningkatkan kualitas pendidikan, tantangan terbesar adalah
penerapannya dalam sistem pendidikan Indonesia yang sangat beragam.
Keberhasilan implementasi pendekatan baru dalam pendidikan sangat
bergantung pada konteks lokal, serta kesiapan pengajar dan sistem pendukung
yang ada. Oleh karena itu, diperlukan adaptasi yang cermat terhadap
karakteristik siswa dan lingkungan belajar yang berbeda-beda di berbagai daerah
di Indonesia
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian kurikulum deep learning?
2. Apa saja tiga pilar kurikulum deep learning
3. Bagaimana hubungan dengan konsep deep learning dalam AI?
4. Apa saja tantangan kurikulum deep learning di Indonesia?
C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui pengertian kurikulum deep learning
2. Untuk mengetahui tiga pilar kurikulum deep learning
3. Untuk mengetahui hubungan dengan konsep deep learning dalam AI
4. Untuk mengetahui tantangan kurikulum deep learning di Indonesia
2
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Kurikulum Deep Learning
Kurikulum deep learning adalah pendekatan pembelajaran yang menekankan
pemahaman mendalam melalui pemikiran kritis, keterlibatan aktif, dan koneksi
nyata dengan kehidupan. Fokusnya bukan hanya pada “apa yang dipelajari”,
tetapi juga “bagaimana” dan “mengapa” siswa belajar.
Model deep learning berfokus pada pengembangan pemahaman yang lebih
dalam terhadap materi pelajaran melalui pengalaman belajar yang menyeluruh,
di mana siswa menjadi lebih terlibat secara emosional dan kognitif dalam proses
belajar mereka. Pendekatan ini berusaha untuk mengubah paradigma
pembelajaran tradisional yang sering kali berfokus pada pada penghafalan dan
pengulangan informasi menjadi pembelajaran yang lebih konstruktif dan
reflektif.3
Kurikulum ini mengintegrasikan prinsip-prinsip dari dunia kecerdasan
buatan khususnya deep learning dalam teknologi ke dalam strategi pembelajaran
manusia. Dalam Al, deep learning merujuk pada proses belajar menggunakan
neural network bertingkat (multi-layered) yang meniru cara kerja otak dalam
mengenali pola, memahami konteks, dan mengambil keputusan secara otomatis.
Maka, secara filosofis, Kurikulum Deep Learning mendorong agar siswa
belajar seperti mesin Al yang canggih, yakni dengan:
• Menganalisis data/materi secara mendalam
• Mengaitkan antar konsep
• Menyesuaikan pembelajaran dengan konteks pribadi dan sosial
• Mengambil keputusan berdasarkan pemahaman, bukan hafalan
Di Indonesia, penerapan model deep learning sejalan dengan prinsip-prinsip
yang ada pada kurikulum merdeka yang mengedepankan kebebasan belajar dan
penekanan pada pembelajaran berbasis proyek. Kurikulum ini memberi ruang
3
Suwandi and Sulastri, “Inovasi Pendidikan dengan Menggunakan Model Kurikulum Deep
Learning di Indonesia”. Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan dan Publik. Vol. 1, No. 2 (Desember,
2024), h. 67
3
bagi siswa untuk mengeksplorasi topik-topik pembelajaran secara lebih
mendalam dan kontekstual, sesuai dengan minat dan potensi mereka. Oleh
karena itu, pendekatan deep learning yang lebih menekankan pada pengalaman
belajar yang bermakna dan penuh kesadaran menjadi sangat relevan untuk
diterapkan dalam konteks Pendidikan di Indonesia.4
B. Tiga Pilar Kurikulum Deep Learning
1. Mindfull Learning (Pembelajaran Sadar)
Pendekatan ini menuntut siswa untuk lebih sadar akan proses belajar mereka
sendiri. Menurut Goleman, pembelajaran yang melibatkan aspek emosional
dan kesadaran diri dapat meningkatkan keterlibatan siswa. Di Indonesia,
pendekatan ini bisa membantu mengatasi masalah kurangnya motivasi di
kalangan siswa, terutama di sekolah-sekolah yang memiliki sumber daya
terbatas. Namun, tantangan terbesar adalah kesiapan guru untuk
melaksanakan pendekatan ini dalam kelas mereka, yang memerlukan
pelatihan berkelanjutan.5
Contoh Praktik:
• Guru mengajak siswa melakukan diskusi terbuka mengenai isu-isu aktual
yang berkaitan dengan nilai-nilai Islam, seperti krisis moral remaja,
penggunaan media sosial secara berlebihan, atau tanggung jawab menjaga
lingkungan dalam perspektif ajaran Islam.
• Saat membahas materi akhlak atau fiqih, guru bisa mengaitkannya dengan
fenomena gaya hidup konsumtif atau pentingnya menjaga keseimbangan
alam menurut Islam.
Manfaat:
• Meningkatkan konsentrasi dan kesadaran diri siswa terhadap realitas
sosial.
• Menumbuhkan sikap kritis dan solutif berdasarkan nilai-nilai agama.
4
A. Wathon, “Kesesuaian Kurikulum Merdeka dengan Kurikulum Deep Learning”. Jurnal
Manajemen dan Pendidikan Dasar Vol. 4, No. 6 (Desember 2024), h. 281
5
Nasmik, Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) pada Satuan Pendidikan, (Tanjung
Selor: Balai Penjaminan Mutu Pendidikan Kalimantan Utara, 2025), h. 5
4
2. Meaningfull Learning (Pembelajaran Bermakna)
Meaningfull Learning menekankan relevansi pengetahuan dengan kehidupan
nyata siswa. Hal ini sejalan dengan teori konstruktivisme yang dikemukakan
oleh Piaget, yang menyatakan bahwa pembelajaran yang relevan dan
kontekstual lebih mudah dipahami dan diterima oleh siswa. Di Indonesia,
kurikulum yang terlalu teoretis dan tidak berhubungan langsung dengan
kehidupan sehari-hari siswa dapat menjadi hambatan dalam penerapan
elemen ini. Namun, pendekatan yang menghubungkan materi dengan konteks
lokal atau pengalaman siswa bisa memperkaya pengalaman belajar mereka.6
Contoh Praktik:
• Materi seperti zakat dan sedekah dikaitkan dengan kondisi sosial di sekitar,
seperti kegiatan bakti sosial atau program bantuan kemanusiaan.
• Saat membahas sejarah Islam, siswa diminta membandingkan
kepemimpinan Rasulullah SAW dengan kepemimpinan tokoh masa kini
dari sudut pandang akhlak dan keadilan.
Manfaat:
• Siswa memahami relevansi ajaran Islam dengan kehidupan nyata.
• Meningkatkan kemampuan berpikir analitis dan aplikatif dalam menilai
persoalan sosial.7
3. Joyfull Learning (Pembelajaran Menyenangkan)
Pembelajaran yang menyenangkan atau Joyfull Learning dapat mengurangi
stres dan kecemasan siswa, meningkatkan pengalaman emosional mereka
terhadap pembelajaran. Hal ini sejalan dengan penelitian Suprihatin yang
mengungkapkan bahwa pengalaman belajar yang menyenangkan dapat
meningkatkan motivasi intrinsik siswa. Meskipun di Indonesia banyak siswa
yang menghadapi tekanan besar dalam ujian dan akademik, menciptakan
6
Hidayat Edi Santoso. Integrasi Teknologi Deep Learning dalam Pembelajaran Pendidikan
Agama Islam (PAI) di Era Digital. “Jurnal Manajemen Pendidikan dan Ilmu Sosial” Vol. 6 No. 2
(Febuari 2025), h. 148
7
Ibid
5
suasana yang menyenangkan di kelas dapat meningkatkan rasa percaya diri
mereka. Namun, ini memerlukan perubahan mendalam dalam cara
pengajaran dan evaluasi di sekolah-sekolah.8
Contoh Praktik:
• Guru mengadakan permainan kuis interaktif untuk memahami makna dan
kandungan surat-surat pendek dalam Al-Qur’an secara menyenangkan.
• Dalam pembelajaran sejarah kebudayaan Islam, siswa membuat skenario
pendek tentang kehidupan tokoh-tokoh Islam, lalu memerankannya di
kelas agar pembelajaran lebih aktif dan ekspresif.
Manfaat:
• Mengurangi stres belajar
• Meningkatkan partisipasi dan keterlibatan siswa
C. Hubungan Dengan Konsep Deep Learning dalam AI
Konsep Kurikulum Deep Learning dalam pendidikan mengambil inspirasi dari
metode pembelajaran yang digunakan dalam kecerdasan buatan, khususnya
dalam bidang Artificial Intelligence (AI). Dalam AI, deep learning merupakan
cabang dari machine learning yang menggunakan jaringan saraf tiruan (artificial
neural networks) untuk memproses informasi. Sistem ini mampu menyerap data
dalam jumlah besar, mengenali pola-pola kompleks, dan memperbaiki kesalahan
melalui proses pembelajaran berulang yang berbasis pada umpan balik (feedback
loop).9 Proses ini sangat mirip dengan bagaimana manusia belajar yaitu melalui
pengalaman, latihan terus-menerus, refleksi diri, serta masukan dari guru
maupun lingkungan sosial.
Dengan menganalogikan cara kerja jaringan saraf tiruan tersebut,
Kurikulum Deep Learning dalam konteks pendidikan bertujuan menciptakan
siswa sebagai pembelajar aktif yang mampu berpikir kritis, mandiri, dan adaptif
terhadap perubahan zaman. Mereka tidak hanya menghafal fakta, tetapi juga
8
M. Khakim Ashari, “Deep Learning Model for Predicting the Risk of Learning Loss in
Primary School Students: Systematic Literature Review,” BASICO: Jurnal Pendidikan Guru
Sekolah Dasar, Vol. 1, No. 1 (2024): h. 15
9
Mulyadi Wijaya, “Kurikulum Deep Learning di Indonesia; Sebuah Harapan Baru,” Jurnal
Ilmiah Pendidikan Scholastic, Vol. 9, No. 1 (April 2025): hlm. 10–15.
6
mengembangkan kemampuan untuk memahami makna, menyelesaikan
masalah, serta belajar dari kesalahan secara berkelanjutan. Oleh karena itu,
kurikulum ini berupaya menumbuhkan karakter pembelajar manusia yang
otonom, reflektif, dan mampu berkembang layaknya sistem deep learning pada
mesin yang terus beradaptasi dan meningkat seiring waktu.
D. Tantangan Kurikulum Deep Learning di Indonesia
Penerapan deep learning di Indonesia menghadapi sejumlah tantangan yang
perlu diatasi agar dapat diterapkan secara efektif. Salah satu tantangan utama
adalah keberagaman sistem Pendidikan di Indonesia yang mencakup berbagai
tipe sekolah, mulai dari sekolah negeri, swasta, hingga sekolah berbasis agama.
Menurut Hattie, keberagaman ini mempengaruhi cara setiap sekolah dalam
mengadaptasi pendekatan baru dalam pembelajaran. Oleh karena itu, penerapan
deep learning harus mempertimbangkan konteks lokal yang ada di setiap daerah.
Selain itu, keterbatasan pelatihan guru menjadi kendala penting dalam
penerapan pendekatan ini. Pelatihan guru yang berkelanjutan sangat penting
untuk memastikan bahwa mereka mampu menerapkan pendekatan yang lebih
progresif dan berbasis pada pemahaman mendalam. Oleh karena itu, untuk
mengimplementasikan Deep Learning, perlu ada pelatihan intensif bagi para
guru agar mereka siap menghadapi tantangan ini. Walaupun penerapan Deep
Learning di Indonesia belum dilakukan secara luas, namun melalui kajian
pustaka dapat dilihat potensi yang dimilikinya untuk meningkatkan kualitas
pembelajaran.10
Selain keberagaman sistem pendidikan dan keterbatasan pelatihan guru,
tantangan lain yang signifikan adalah ketersediaan infrastruktur dan teknologi
yang belum merata di seluruh wilayah Indonesia. Banyak sekolah, terutama yang
berada di daerah 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal), masih menghadapi
kendala dalam hal akses internet, perangkat digital, dan sumber daya pendukung
lainnya yang sangat dibutuhkan dalam penerapan pembelajaran berbasis Deep
Learning. Ketimpangan akses teknologi ini menyebabkan kesenjangan dalam
10
Suwandi and Sulastri, Op. Cit, h.67
7
kualitas pendidikan dan kesulitan dalam mengimplementasikan pendekatan
pembelajaran mendalam secara merata. Untuk itu, perlu ada kebijakan dan
investasi yang serius dari pemerintah maupun pihak swasta guna memastikan
bahwa seluruh siswa, tanpa memandang lokasi geografisnya, memiliki
kesempatan yang setara untuk mendapatkan pembelajaran yang berkualitas
berbasis teknologi.
Dengan pendekatan yang lebih berbasis pada kesadaran diri, makna, dan
kegembiraan dalam belajar, diharapkan siswa dapat merasakan manfaat lebih
dari proses pendidikan mereka. Namun, untuk mewujudkan hal ini, tantangan
seperti kesiapan pendidik, kurikulum, dan fasilitas pendidikan harus diatasi
terlebih dahulu.
8
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Deep Learning merupakan pendekatan inovatif dalam dunia pendidikan yang
meniru prinsip kecerdasan buatan untuk menciptakan proses pembelajaran yang
lebih bermakna, menyenangkan, dan mendalam. Pendekatan ini menekankan
tiga pilar utama, yaitu Mindfull Learning, Meaningfull Learning, dan Joyfull
Learning, yang bertujuan meningkatkan keterlibatan emosional dan kognitif
siswa serta mengembangkan kemampuan analitis dan aplikatif mereka. Di
Indonesia, penerapan Deep Learning sejalan dengan prinsip kurikulum merdeka
yang menfokuskan pada kebebasan dan keberagaman eksplorasi topik, sehingga
siswa dapat belajar sesuai minat dan potensi mereka. Implementasi pendekatan
ini diharapkan dapat membantu mengatasi tantangan dalam proses belajar
mengajar, meningkatkan motivasi dan kepercayaan diri siswa, serta menciptakan
suasana belajar yang lebih
B. Saran
Kami sepenuhnya menyadari bahwa tulisan dalam makalah ini belum mencapai
tingkat kesempurnaan karena hanya menyentuh sedikit tentang "Deep Learning"
disebabkan oleh keterbatasan sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.
Karenanya, kami mengharapkan saran, kritik, atau masukan untuk perbaikan
di masa yang akan datang. Kami berkomitmen untuk meningkatkan kualitas
makalah kami dengan mencari referensi yang lebih luas dan dapat
dipertanggungjawabkan.
9
DAFTAR PUSTAKA
Ashari, M. Khakim. "Deep Learning Model for Predicting the Risk of Learning
Loss in Primary School Students: Systematic Literature Review." BASICO:
Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar, vol. 1, no. 1, 2024.
Habsy, B. A., Christian, J. S., and Unaisah, U. "Memahami Teori Pembelajaran
Kognitif dan Konstruktivisme serta Penerapannya." TSAQOFAH, vol. 4, no.
2, 2024.
Nasmik. Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) pada Satuan Pendidikan. Balai
Penjaminan Mutu Pendidikan Kalimantan Utara, 2025.
Santoso, Hidayat Edi. "Integrasi Teknologi Deep Learning dalam Pembelajaran
Pendidikan Agama Islam (PAI) di Era Digital." Jurnal Manajemen
Pendidikan dan Ilmu Sosial, vol. 6, no. 2, Feb. 2025.
Suwandi, and Sulastri. "Inovasi Pendidikan dengan Menggunakan Model
Kurikulum Deep Learning di Indonesia." Jurnal Pendidikan
Kewarganegaraan dan Publik, vol. 1, no. 2, Des. 2024.
Wathon, A. "Kesesuaian Kurikulum Merdeka dengan Kurikulum Deep Learning."
Jurnal Manajemen dan Pendidikan Dasar, vol. 4, no. 6, Des. 2024.
Wijaya, Mulyadi. "Kurikulum Deep Learning di Indonesia; Sebuah Harapan Baru."
Jurnal Ilmiah Pendidikan Scholastic, vol. 9, no. 1, Apr. 2025.
10