Nama: Tsalsya Nur Sabita
Nim: 20221660068
Algoritma Rjp
Berikut adalah Algoritma Henti Jantung Dewasa (RJP Dewasa) sesuai gambar dari American
Heart Association (AHA) 2020:
Ketika seorang pasien dewasa mengalami henti jantung, tindakan cepat dan terstruktur sangat
penting untuk meningkatkan kemungkinan kelangsungan hidup. Berdasarkan panduan dari
American Heart Association (AHA) tahun 2020, terdapat algoritma yang sistematis untuk
menangani kasus henti jantung dewasa. Algoritma ini memandu penolong untuk melakukan
langkah-langkah penyelamatan dengan benar, dimulai dari inisiasi RJP hingga penanganan
pasca-henti jantung.
Langkah Pertama: Mulai CPR
Ketika ditemukan pasien dewasa dengan kehilangan kesadaran dan tidak ada denyut nadi,
segera mulai CPR (resusitasi jantung paru).
Langkah ini mencakup:
Memberikan oksigen jika tersedia
Memasang monitor atau defibrillator untuk menilai ritme jantung
Tujuan awal ini adalah memastikan bahwa sirkulasi darah tetap terjadi, serta menilai apakah
ritme jantung pasien dapat diberi kejutan listrik (defibrilasi) atau tidak.
Evaluasi Ritme Jantung: Bisa Disyok atau Tidak?
Setelah monitor terpasang, kita harus menentukan apakah ritme jantung pasien tergolong
“shockable” atau “non-shockable”.
Shockable rhythms (ritme yang dapat disyok):
1. Ventricular Fibrillation (VF)
2. Pulseless Ventricular Tachycardia (pVT)
Non-shockable rhythms (ritme yang tidak dapat disyok):
1. Asystole
2. Pulseless Electrical Activity (PEA)
## 🔀 **Cabang Utama – Penentuan Ritme**
Dari sini, algoritma bercabang menjadi dua jalur besar:
### 🔴 Jalur A: Ritme **dapat** diberi syok
*(VF/pVT – Fibrilasi ventrikel / Takikardia ventrikel tanpa nadi)*
### ⚪ Jalur B: Ritme **tidak** dapat diberi syok
*(Asistol atau PEA – Pulseless Electrical Activity)*
---
# 🔴 **Jalur A: Ritme Dapat Diberi Syok (VF/pVT)**
## ✅ **Langkah 2:** Identifikasi ritme VF/pVT → **Beri Syok**
➡ **Langkah 3: Syok pertama**
Setelah defibrilasi diberikan:
## 🔁 **Langkah 4: CPR 2 menit**
* Lanjutkan CPR tanpa menunggu reaksi.
* Segera pasang **akses IV/IO**.
➡ Setelah 2 menit CPR, hentikan sebentar untuk **evaluasi ritme ulang**:
> Apakah ritme **masih bisa disyok**?
---
### ✅ Jika **YA**, masih shockable:
## ⚡ **Langkah 5: Beri Syok Kedua**
Setelah syok kedua:
## 🔁 **Langkah 6: CPR 2 menit**
* Lanjutkan CPR.
* **Berikan epinefrin 1 mg IV/IO tiap 3–5 menit**.
* Pertimbangkan saluran napas lanjut (**ETT/SAD**) dan **kapnografi** untuk
mengevaluasi kualitas CPR (nilai PETCO₂ idealnya >10 mmHg).
➡ Evaluasi ulang ritme setelah 2 menit:
> Jika **masih shockable** → lanjutkan ke langkah berikut.
---
### ✅ Jika **YA**, masih shockable:
Langkah 7: Beri Syok Ketiga
Setelah syok ketiga:
Langkah 8: CPR 2 menit
Beri antiaritmia:
Amiodarone: Dosis awal 300 mg IV bolus, dosis lanjutan 150 mg.
Atau Lidokain: Dosis awal 1–1,5 mg/kg, kemudian 0,5–0,75 mg/kg.
Tangani penyebab yang dapat dipulihkan (lihat 5H & 5T).
Setelah 2 menit, evaluasi kembali ritme:
Jika tidak lagi shockable, lanjutkan ke langkah 10 atau 11.
Jika ROSC: masuk ke perawatan pasca-henti jantung.
Jalur B: Ritme Tidak Dapat Diberi Syok (Asistol / PEA)
Langkah 9: Identifikasi Asistol / PEA
Segera berikan epinefrin 1 mg IV/IO
Lanjutkan ke:
Langkah 10: CPR 2 menit
Lanjutkan CPR
Ulangi epinefrin tiap 3–5 menit
Pertimbangkan saluran napas lanjut** dan **kapnografi**
Evaluasi ritme ulang setelah 2 menit:
Jika masih tidak shockable, lanjutkan ke langkah 11
Langkah 11: CPR 2 menit
Lanjutkan CPR
Fokus pada penanganan penyebab yang dapat dipulihkan
Setelah 2 menit CPR, evaluasi kembali:
Apakah sekarang ritme bisa disyok?
Jika ritme bisa disyok, kembali ke langkah 5 atau 7 (jalur shockable)
Jika tidak, ulangi langkah 10 atau 11
Langkah 12: Evaluasi Hasil Resusitasi
Setelah beberapa siklus CPR dan evaluasi ritme:
Jika terjadi ROSC (Return of Spontaneous Circulation):
Lanjutkan ke perawatan pasca-henti jantung
Pertimbangkan kelayakan resusitasi berkelanjutan jika pasien tidak stabil
Jika tidak ada ROSC:
* Kembali ke langkah 10 atau 11 (CPR lanjutan)
Evaluasi kelayakan untuk menghentikan resusitasi berdasarkan keputusan klinis
Komponen Tambahan
Kualitas CPR
Tekan dada min. 5 cm, kecepatan 100–120 kali/menit
Biarkan dada recoil sempurna
Hindari interupsi CPR
Ganti penyelamat setiap 2 menit
Rasio kompresi\:ventilasi = 30:2 (jika belum intubasi)
Gunakan kapnografi:
PETCO₂ < 10 mmHg = CPR tidak efektif
PETCO₂ tiba-tiba naik = kemungkinan ROSC
Energi Defibrilasi
Bifasik: 120–200 J (atau sesuai produsen)
Monofasik: 360 J
Obat-Obatan (dosis IV/IO)
Epinefrin: 1 mg tiap 3–5 menit
Amiodarone: 300 mg → 150 mg
Lidokain: 1–1,5 mg/kg → 0,5–0,75 mg/kg
Saluran Napas Lanjut
Intubasi endotrakeal atau SAD
Gunakan kapnografi untuk konfirmasi ET tube
Ventilasi 1 kali setiap 6 detik (10x/menit) tanpa henti kompresi
ROSC
Denyut dan tekanan darah Kembali
Peningkatan mendadak nilai PETCO₂
Gelombang tekanan arteri spontan
Penyebab yang Dapat Dipulihkan (5H & 5T)
5H:
1. Hypovolemia
2. Hypoxia
3. Hydrogen ion (Asidosis)
4. Hypo-/Hyperkalemia
5. Hypothermia
5T:
1. Tension pneumothorax
2. Tamponade jantung
3. Toksin
4. Trombosis paru
5. Trombosis koroner
Algoritma ini merupakan alat bantu penting dalam menangani henti jantung dewasa dan
harus dikuasai oleh setiap tenaga medis atau responder darurat. Keberhasilan resusitasi sangat
bergantung pada kecepatan, ketepatan evaluasi ritme, kualitas CPR, dan pemberian obat serta
intervensi yang sesuai. Pelatihan rutin dan pemahaman mendalam akan algoritma ini dapat
meningkatkan angka kelangsungan hidup pasien dengan henti jantung mendadak.