0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
26 tayangan4 halaman

Merayakan 3 Tahun Pela Agape Bersatu

Dokumen ini merayakan tiga tahun Pela Agape yang menyatukan cabang Tiberias dan Gideon, menekankan pentingnya keberagaman dalam kesatuan tubuh Kristus. Pesan inti adalah bahwa perbedaan bukanlah halangan, tetapi anugerah yang memperkaya, dan kita dipanggil untuk bersatu dalam kasih serta bersaksi di tengah dunia. Melalui contoh Pela, kita diajak untuk saling menopang dan menguatkan meskipun berbeda, menciptakan ikatan yang kuat dalam komunitas.

Diunggah oleh

frenda hukom
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
26 tayangan4 halaman

Merayakan 3 Tahun Pela Agape Bersatu

Dokumen ini merayakan tiga tahun Pela Agape yang menyatukan cabang Tiberias dan Gideon, menekankan pentingnya keberagaman dalam kesatuan tubuh Kristus. Pesan inti adalah bahwa perbedaan bukanlah halangan, tetapi anugerah yang memperkaya, dan kita dipanggil untuk bersatu dalam kasih serta bersaksi di tengah dunia. Melalui contoh Pela, kita diajak untuk saling menopang dan menguatkan meskipun berbeda, menciptakan ikatan yang kuat dalam komunitas.

Diunggah oleh

frenda hukom
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Saudara-saudari terkasih dalam Tuhan,Hari ini kita berkumpul dalam sukacita memperingati tiga tahun

Pela Agape yang mengikat dua cabang: Tiberias dan Gideon Pela ini bukan hanya simbol kerja sama, tapi
wujud nyata dari iman dan budaya yang saling melengkapi.

Sesuai tema kita Beragam bersatu dan bersaksi

Hari ini kita merenungkan satu kebenaran besar: bahwa kita ini beragam — berbeda dalam banyak hal,
tapi dipanggil untuk bersatu dalam Kristus, dan hidup untuk bersaksi bagi dunia.

Firman Tuhan dari 1 Korintus 12:12–31 menggambarkan kita sebagai satu tubuh yang memiliki banyak
anggota. Masing-masing berbeda — tapi tidak ada yang lebih penting atau lebih tinggi. Semua saling
bergantung dan saling melengkapi.

🔹 I. BERAGAM: Perbedaan Bukan Halangan, Tapi Anugerah

Ayat 12 berkata:

“Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun
banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus.”

Kita ini berbeda:

* Berbeda cabang (Tiberias & Gideon)

* Berbeda latar belakang keluarga

* Berbeda karakter, hobi, cara berpikir, bahkan cara melayani

Namun, justru keberagaman itulah yang membuat kita kaya secara rohani dan sosial. Tuhan tidak
menciptakan semua orang sama.

Jika semua orang sama — misalnya, semua jadi "mata" atau semua jadi "tangan" — maka tubuh tidak
bisa berfungsi. Perbedaan kita memungkinkan kesatuan yang harmonis, di mana setiap orang punya
peran dan fungsi masing” dan semuanya saling membutuhkan dan saling melengkapi.

Perbedaan bukan berarti ketidakseimbangan, karena semua karunia dan peran berasal dari Roh Kudus
yang sama — artinya, setiap orang punya tempat dan panggilan dalam rencana Allah.

Perbedaan bukan cacat atau kekurangan, tapi bagian dari desain Allah yang sempurna. Justru dalam
keberagaman itu, kita dpaat menemukan tujuan, nilai, dan panggilan kita masing-masing.

Terkadang orng berpikir perbedaan bisa menjadi salah satu sumber konflik

Perbedaan akan menjadi konflik saat kasih dan pengertian digantikan oleh ego, iri, atau sikap
membandingkan.

Perbedaan bukan sumber konflik, tetapi sumber kekuatan ketika dipersatukan dalam kasih.

👉 Dalam budaya Maluku, Pela adalah contoh nyata dari kekayaan perbedaan:

* Dua negeri berbeda bisa jadi saudara


* Mereka bisa saling tolong, tanpa batas agama, bahasa, atau desa

* Pela hidup karena ada rasa hormat, tanggung jawab, dan kasih

Begitu juga dalam tubuh Kristus. Kita tidak perlu menjadi sama, tetapi kita harus berjalan bersama.

🔹 II. BERSATU: Pela & Tubuh Kristus Adalah Wujud Kesatuan Sejati

Tuhanlah yang menyatukan kita dalam tubuh Kristus, Kita tidak memilih berada dalm bagian dari
Tiberias atau Gideon secara sembarangan — Tuhan yang mengatur itu. Dan kalau Tuhan menyatukan,
kita tidak boleh memecahkannya

Sebagai pemuda AMGPM, kita punya tanggung jawab menjaga kesatuan pelayanan, kesatuan hati, dan
kesatuan tujuan.

Begitu juga dengan Pela. Pela itu bukan hanya ikatan budaya — tapi ikatan spiritual dan [Link]
mengajarkan kita bahwa:

* Ketika saudara Pela sedang susah, kita ikut bantu

* Ketika ada duka, kita hadir

* Ketika ada pelayanan, kita bersatu

➡ Maka Pela Agape adalah gambaran tubuh Kristus di tengah” AMGPM tiberias 1 & gideon 1 di
dasarakan dengan hidup penuh kasih, saling menopang, dan tidak terpisah meskipun berbeda.

🔹 III. BERSAKSI: Pemuda yang Hidup Jadi Saksi di Tengah Dunia

Ayat yg ke 27 mengatakan :

Kamu semua adalah tubuh Kristus dan akmi masing” adalah anggotanya

Kita bukan hanya bagian dari tubuh Kristus — kita adalah wajah Kristus yang dilihat orang di [Link]
sebabnya kita dipanggil untuk bersaksi.

Sebagai pemuda, bersaksi bukan hanya tentang berkhotbah. Tapi:

* Bagaimana kita menggunakan media sosial dengan bijak

* Bagaimana kita memperlakukan teman dengan hormat

* Bagaimana kita hadir sebagai damai di tengah konflik

* Bagaimana kita menolak kekerasan, hoaks, pergaulan bebas, dan racun zaman

Di saat dunia terpecah oleh perbedaan, kita hadir membawa kasih dan kesatuan.
🔸 Ilustrasi: Batu dan Simen Pela

Di Maluku, rumah-rumah tua dibangun dari batu yang beragam bentuk dan ukuran. Tapi semua batu itu
disatukan oleh simen.

➡ Batu-batu itu adalah kita — berbeda-beda bentuk dan karakter.➡ Simennya adalah Pela dan kasih
Kristus — yang menyatukan kita.

Kalau tidak ada simen, batu-batu itu cuma tumpukan yang mudah rubuh. Tapi kalau ada simen yang
kuat, rumah itu jadi kokoh dan tahan guncangan.

Begitu juga kita. Kalau Pela Agape dan kasih Tuhan menyatukan kita, maka:

* Kita kuat

* Kita tahan guncangan hidup

* Kita bisa jadi rumah yang nyaman untuk melayani bersama

Saudara-saudari pemuda AMGPM,Kita hidup di tengah zaman yang cepat berubah. Dunia semakin
individualistis. Nilai kebersamaan makin dilupakan. Banyak anak muda lebih suka viral daripada setia,
lebih suka populer daripada melayani.

Tetapi di tengah dunia yang penuh kompetisi dan kesendirian ini, Tuhan memanggil kita sebagai anak-
anak Pela dan anak-anak Kristus, untuk menjadi pemuda yang beda:

➡ pemuda yang saling menopang, bukan saling menjatuhkan➡ pemuda yang saling mengangkat, bukan
saling menyaingi➡ pemuda yang berani bersaksi lewat hidup, bukan hanya lewat kata

Jangan malu jadi pemuda gerega Jangan malu jadi pemuda Pela agape katong musti bersyukur bisa ada
di tengah” kedua cabang yang berkomintmen menjadi satu dalam ikatan pela ini

Sebuah Ikatan yang Tak Terlihat

Lati menatap Markus dari ambang pintu, mencoba menyembunyikan kesedihannya. Markus menutup
bukunya dan tersenyum lembut, mengerti tanpa banyak bicara.

“Bayu, kau sudah makan?” tanya Markus. Bayu menggeleng.

Markus bangkit dan ke dapur kos. Ia mulai memasak dengan sederhana, sepiring nasi hangat, ikan
goreng, dan sayur bening — makanan yang mengingatkan mereka pada kampung halaman.

Saat membawa sepiring itu ke kamar Bayu, Markus berkata, “Ini bukan hanya makanan. Ini tanda bahwa
kau tidak sendiri.”

Bayu menerima makanan itu dengan tangan bergetar, hati yang tersentuh

Satu Tubuh, Beragam Anggota

Bayu membuka Alkitabnya dan membaca 1 Korintus 12:12-31. Ia menunjuk ayat yang berkata bahwa
tubuh mempunyai banyak anggota, namun tetap satu tubuh.
Markus mengangguk. “Aku percaya, kita tidak perlu sama, tapi kita harus saling menguatkan. Itu makna
pelasebenarnya.”

Sepiring Nasi dan Janji Pela

Cerita Bayu dan Markus mengingatkan kita akan kekuatan sebuah sepiring nasi — bukan hanya sebagai
makanan fisik, tapi sebagai simbol kasih, perhatian, dan persaudaraan.

Janji pela bukan hanya tradisi adat, tapi panggilan hidup untuk bersatu dalam kasih, melayani bersama
meski berbeda.

Pesan yang Menggugah

* Perbedaan agama bukan alasan untuk terpisah, tapi peluang untuk menguatkan.

* Pela mengikat kita dalam kasih tanpa syarat.

* Kita adalah satu tubuh dalam Kristus, saling melengkapi dan mengasihi.

* Kasih dimulai dari hal sederhana, seperti sepiring nasi hangat di saat sulit.

* Bersatu dalam keberagaman adalah kesaksian paling kuat bagi dunia yang terpecah.

Penutup: Pela Agape dalam Keberagaman — Merayakan 3 Tahun Persaudaraan Sejati

Saudara-saudara, dari kisah Bayu dan Markus, kita diingatkan bahwa pela bukan sekadar tradisi adat,
melainkan pela agape—kasih yang mengikat hati tanpa memandang perbedaan suku, agama, maupun
latar belakang.

Ketika dua sahabat berbeda iman dapat duduk bersama, berbagi sepiring nasi, bernyanyi lagu pela, dan
berdoa dalam kasih, itulah gambaran nyata kasih Kristus yang mengalahkan segala perbedaan.

Hari ini, di ulang tahun Pela Agape yang ketiga, AMGPM Cabang Tibetias 1 dan Gideon 1 merayakan
bukan hanya waktu, tetapi juga perjalanan hidup bersama dalam kasih yang nyata. Semoga ikatan pela
ini terus menguatkan kita, menjadi saksi hidup bahwa dalam keberagaman, kita dipanggil untuk bersatu
dan bersaksi dengan kasih yang tulus dan tanpa pamrih.

Mari kita terus hidupkan pela agape dalam setiap langkah kita, menjadi tubuh Kristus yang utuh dan
berbuah bagi kemuliaan nama-Nya.

Dengan semangat ini, marilah kita melangkah maju, beraneka warna tapi satu hati, beragam namun
bersatu, bersaksi tentang kasih yang tak terpisahkan.

Anda mungkin juga menyukai