Aktivitas Belajar 3
Panitia Sembilan dan Mukadimah Dasar Negara
Seusai sidang pertama BPUPK, sejumlah anggota BPUPK mengadakan pertemuan untuk membicarakan
langkah berikutnya, yang kemudian terbentuk dua panitia kecil. Panitia kesatu beranggotakan delapan
orang bertugas untuk mengumpulkan berbagai usulan para anggota untuk kemudian dibahas pada
sidang berikutnya. Sementara itu panitia kedua beranggotakan sembilan orang bertugas menyusun
Pembukaan Hukum Dasar.
Panitia Delapan
Soekarno (ketua)
Ki Bagus Hadikusumo
KH. Wachid Hasjim
Moh. Yamin
Sutardjo
Maramis
Oto Iskandar Dinata
Moh. Hatta
Panitia Sembilan
Soekarno (ketua)
Moh. Hatta
Moh. Yamin
Achmad Subardjo
Maramis
KH. Wachid Hasjim
KH. Abdul Kahar Moezakkir
Abi Kusno Tjokrosoejoso
H. Agus Salim
(Dari kepanitiaan di atas, terdapat 5 orang yang merangkap dalam dua kepanitiaan sekaligus, yaitu
Soekarno, Moh. Yamin, KH. Wachid Hasjim, Moh. Hatta, dan Maramis. Panitia delapan berhasil
membuat sembilan pokok pikiran yang diusulkan para anggota BPUPK, yaitu:)
a. Usulan yang meminta Indonesia merdeka selekas-lekasnya.
b. Usulan yang meminta mengenai dasar negara.
c. Usulan yang meminta mengenai soal unifikasi atau federasi.
d. Usulan yang meminta mengenai bentuk negara dan kepala negara.
e. Usulan yang meminta mengenai warga negara.
f. Usulan yang meminta mengenai daerah.
g. Usulan yang meminta mengenai agama dan negara.
h. Usulan yang meminta mengenai pembelaan.
i. Usulan yang meminta mengenai keuangan.
Panitia Sembilan bersidang pada 22 Juni 1945. Dalam sidang tersebut, Panitia Sembilan berhasil
merumuskan kesepakatan bersama mengenai dasar negara yang disebut dengan nama Piagam Jakarta
atau Jakarta Charter.
Isi Piagam Jakarta tersebut adalah sebagai berikut:
Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 (Piagam Jakarta):
“Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu, maka penjajahan di
atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan.
Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia
dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan Negara
Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur.
Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya
berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.
Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap
bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, dan untuk memajukan kesejahteraan umum,
mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan
kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan
Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar Negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu
susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasarkan kepada:
Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya, menurut dasar
kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, dan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat
kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial
bagi seluruh rakyat Indonesia.”
Kompromi Piagam Jakarta
Setelah Jepang menyerah pada Sekutu (15 Agustus 1945), Indonesia semakin dekat dengan
kemerdekaannya. Pada 17 Agustus 1945 Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dibacakan oleh Ir.
Soekarno dan Drs. Mohammad Hatta.
Keesokan harinya, tanggal 18 Agustus 1945, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI)
mengadakan sidang untuk mengesahkan UUD 1945. Namun sebelum pengesahan, terjadi perdebatan
mengenai sila pertama dalam Piagam Jakarta, yaitu:
“Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.”
Perwakilan dari Indonesia bagian Timur (yang banyak beragama Kristen dan Katolik) menyatakan
keberatan karena dianggap diskriminatif dan tidak menyatukan seluruh bangsa.
Untuk menjaga persatuan dan keutuhan bangsa, para pendiri negara akhirnya mencapai kompromi
bersejarah:
Tujuh kata “… dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” dihapus.
Diganti menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa.”
Dengan perubahan itu, sila pertama berbunyi:
“Ketuhanan Yang Maha Esa.”
Sejak saat itu, rumusan dasar negara dalam Piagam Jakarta diubah menjadi Pancasila yang kita kenal
sekarang dan disahkan pada 18 Agustus 1945 sebagai dasar negara Republik Indonesia.