RABIES
No. Dokumen :
042/SOP/[Link]/III/2023
No. Revisi : 00
SOP
31 Maret
Tanggal Terbit :
2023
Halaman : 1/4
UPTD Puskesmas
Pupuan II dr. Ni Kade Pariasih
Kabupaten NIP.197903142006042008
Tabanan
1. Pengertian Infeksi virus rabies yang menjalar ke otak melalui saraf perifer.
Sebagai acuan bagi petugas untuk mendiagnosis dan menangani
2. Tujuan
rabies.
Keputusan Kepala UPTD Puskesmas Pupuan II Nomor
3. Kebijakan :019/SK/[Link]/III/2023 tentang Panduan Praktik Klinis
Kegawatdaruratan
4. Referensi Panduan Praktik Klinis Kegawatdaruratan
1) Alat pemeriksaan fisik
5. Alat dan 2) Cairan antiseptik (alkohol)
bahan 3) Kasa steril
4) Vaksin Anti Rabies/Serum Anti Rabies
6. Langkah- 1) Petugas melakukan anamnesis:
langkah
a. Tanyakan gejala yang sesuai dengan 4 stadium rabies, yaitu
stadium prodromal (demam, lemas, mual, nyeri
tenggorokan), stadium sensoris (nyeri, panas, kesemutan di
tempat luka, cemas, reaksi berlebihan terhadap
rangsangan), stadium eksitasi (takut air, air liur menetes),
stadium paralisis (lumpuh otot).
b. Tanyakan riwayat tergigit, tercakar, kontak dengan anjing,
kucing, atau binatang lainnya. Jika ada riwayat, tanyakan
apakah binatangnya bisa diobservasi setelah mengigit.
2) Petugas melakukan pemeriksaan fisik:
a. Inspeksi: Pada pemeriksaan dapat ditemukan gatal dan
parestesia pada luka bekas gigitan yang sudah sembuh
(50%).
b. Jika sudah terjadi disfungsi batang otak maka terdapat:
hiperventilasi, hipoksia, hipersalivasi, kejang, disfungsi saraf
otonom, sindroma abnormalitas ADH, paralitik/paralisis
flaksid.
c. Ensefalitis rabies: agitasi, kesadaran fluktuatif, demam
tinggi yang persisten, nyeri pada faring terkadang seperti
rasa tercekik (inspiratoris spasme), hipersalivasi, kejang,
hidrofobia dan aerofobiaik
3) Petugas menegakkan diagnosis berdasarkan riwayat gigitan,
dan hewan yang mengigit mati dalam 1 minggu.
4) Petugas melakukan penatalaksanaan:
a. Isolasi pasien segera dilaksanakan setelah diagnosis
ditegakkan untuk menghindari rangsangan-rangsangan
yang bisa menimbulkan spasme otot ataupun untuk
mencegah penularan.
b. Fase awal: Luka gigitan harus segera dicuci dengan air
sabun (detergen) 5-10 menit kemudian dibilas dengan air
bersih, dilakukan debridement dan diberikan desinfektan
seperti alkohol 40-70%. Jika terkena selaput lendir seperti
mata, hidung atau mulut, maka cucilah kawasan tersebut
dengan air lebih lama; pencegahan dilakukan dengan
pembersihan luka dan vaksinasi.
c. Fase lanjut: tidak ada terapi untuk penderita rabies yang
sudah menunjukkan gejala rabies. Penanganan hanya
berupa tindakan suportif berupa penanganan gagal jantung
dan gagal nafas.
d. Pemberian Serum Anti Rabies (SAR) bila serum heterolog
(berasal dari serum kuda) Dosis 40 IU/kgBB disuntikkan
infiltrasi pada luka sebanyak-banyaknya, sisanya
disuntikkan secara IM. Skin test perlu dilakukan terlebih
dahulu. Bila serum homolog (berasal dari serum manusia)
dengan dosis 20 IU/ kgBB, dengan cara yang sama.
e. Pemberian serum dapat dikombinasikan dengan Vaksin Anti
Rabies (VAR) pada hari pertama kunjungan.
f. Pemberian Vaksin Anti Rabies (VAR) dalam waktu 10 hari
infeksi yang dikenal sebagai post-exposure prophylaxis atau
“PEP”VAR secara IM pada otot deltoid atau anterolateral
paha dengan dosis 0,5 ml pada hari 0, 7, 21 (regimen
Zagreb/rekomendasi Depkes RI).
g. Pada orang yang sudah mendapat vaksin rabies dalam
waktu 5 tahun terakhir, bila digigit binatang tersangka
rabies, vaksin cukup diberikan 2 dosis pada hari 0 dan 3,
namun bila gigitan berat vaksin diberikan lengkap.
h. Pada luka gigitan yang parah, gigitan di daerah leher ke
atas, pada jari tangan dan genitalia diberikan SAR 20
IU/kgBB dosis tunggal. Cara pemberian SAR adalah
setengah dosis infiltrasi pada sekitar luka dan setengah
dosis IM pada tempat yang berlainan dengan suntikan SAR,
diberikan pada hari yang sama dengan dosis pertama SAR.
7. Diagram Alir
8. Hal-hal yang 1) Diagnosis Banding:
perlu
tetanus, ensefalitis, intoksikasi obat-obat, japanese
diperhatikan
encephalitis, herpes simplex, ensefalitis post-vaksinasi.
2) Komplikasi
a. Gangguan hipotalamus: diabetes insipidus, disfungsi
otonomik yang menyebabkan hipertensi, hipotensi,
hipo/hipertermia, aritmia dan henti jantung.
b. Kejang dapat lokal atau generalisata, sering bersamaan
dengan aritmia dan dyspneu.
3) Kriteria Rujukan
a. Apabila VAR/SAR tidak tersedia
b. Penderita rabies yang sudah menunjukkan gejala rabies.
c. Dirujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan sekunder yang
memiliki dokter spesialis neurolog.
4) Prognosis pada umumnya buruk, karena kematian dapat
mencapai 100% apabila virus rabies mencapai sistem saraf
pusat. Jika dilakukan pencucian luka, pemberian VAR dan SAR,
maka angka survival mencapai 100%.
9. Unit Terkait Ruang Tindakan dan Gawat Darurat
10. Dokumen
Terkait -
No. Halaman Yang dirubah Perubahan Diberlakukan
11. Rekam tanggal
Historis