0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
41 tayangan12 halaman

Program Kerja Alumni Pesantren 2023-2024

Diunggah oleh

isaanshori2003
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
41 tayangan12 halaman

Program Kerja Alumni Pesantren 2023-2024

Diunggah oleh

isaanshori2003
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PROGRAM KERJA PENGURUS BESAR

IKATAN KELUARGA BESAR ALUMNI PESANTREN TERPATU AL-MUJADDID PERIODE 2023 –


2024

1. SEKRETARIS

- Pendataan Surat Masuk -Keluar

- Pembuatan Kalender Kegiatan IKBA

- Pembuatan Email Umum IKBA

- Per-Arsipan Surat Masuk dan Data IKBA

- Notulensi Setiap Kegiatan/ Rapat

- Evaluasi Kegiatan

- KABINET PROGRESIF

2. BENDAHARA

- Merekap setiap pemasukan dan pengeluaran dana

- Pembuatan buku kas

- Pembuatan buku rekening dan ATM atas nama IKBA

- Pengumpulan uang kas setiap per-kegiatan dengan jumlah Rp. 15.000,00 per-kegiatan

- Mengadakan pembuatan baju PDH

3. DIVISI KEMAHASISWAAN

- Mengadakan Kegiatan IKKAM ( IKBA & Kampus )

- Mengadakan Discussion Group

- Mengadakan Kegiatan Sawe Sikulah


4. DIVISI HUMAS

- Penghubung Informasi antara IKBA dan Lembaga

- Bekerjasama dengan Bidang lainnya yang berkaitan dengan HUMAS

- Bertanggung Jawab Atas Tamu

- Siap Menyebar Surat Undangan untuk Lingkup Pesantren dan Luar Pesantren

- Membuat Satu Grup untuk Perwakilan Setiap Angkatan Alumni untuk


Menyampaikan Informasi atau Acara yang berkaitan dengan IKBA

5. DIVISI KEAGAMAAN

- Mengadakan Buka Puasa Bersama

- Mengadakan Kegiatan Bagi Takjil di Bulan Ramadhan

- Mengajak seluruh warga IKBA Takziah

6. DIVISI INFOKOM

- Mengadakan Briefing Bulanan

- Menyampaikan Informasi terkini mengenai Pondok & Alumni

- Mengelola Media Sosial IKBA

- Membuat Tamplate Postingan Instagram

- Memposting Ucapan Hari- Hari Penting

- Membuat Akun Tiktok IKBA

- Membuat Postingan Pengurus Baru IKBA


Secara garis besar program kerja tersebut meliputi pendataan alumni guna memperkuat
jejaring dan kemampuan SDM alumni, digitalisasi informasi dan pesantren ke masyarakat
luas, membangun kemandirian ekonomi alumni, memperkuat pendanaan organisasi melalui
iuran anggota dan kerjasama ekonomi, serta pengadaan sekretariat atau kantor.

IASS (Ikatan Alumni Santri Sidogiri) adalah organisasi resmi alumnus santri Pondok Pesantren
Sidogiri. Lembaga ini didirikan pada tanggal 15 Syaban 1422 H atau 1 November 2001. IASS
dibentuk dengan tujuan untuk mewujudkan cita-cita perjuangan para pendiri Pondok
Pesantren Sidogiri di bidang-bidang yang menjadi perhatian masyarakat luas, dan untuk
mewujudkan semangat kebersamaan di antara para alumni Pondok Pesantren Sidogiri dalam
berkhidmat kepada masyarakat. Selain itu supaya pengabdian Pondok Pesantren Sidogiri
sebagai khadimul ummah tampak lebih nyata dan merata, melalui kiprah para alumni di
tengah masyarakat.

Kegiatan Ikatan Alumni Santri Sidogiri (IASS)

Dakwah dan Sosial

Kegiatan Dakwah dan Sosial membawa misi utama yakni nasyrul ilmi dan kesejahteraan
umat. Dalam bidang dakwah, IASS sejak awal pendiriannya telah mengirim dai ke daerah-
daerah minus agama Islam di Nusantara yang membutuhkan bimbingan keagamaan mulai
dari Aceh, Kalimantan Timur, dan Maluku. Sedangkan dalam bidang sosial, IASS membawa
misi menyejahterakan alumni dan masyarakat dengan mengadakan kegiatan sosial berupa
pengobatan gratis, nikah massal, donor darah, sunat massal, desa binaan dan pengobatan
massal.

Pendidikan dan Pelatihan

Dalam bidang pendidikan, IASS menjadi mediator bagi alumni dan santri yang ingin
melanjutkan pendidikan ke jenjang bangku kuliah. Dalam hal ini, IASS bekerja sama dengan
STAI Salahuddin Pasuruan. Kegiatan perkuliahan dilaksanakan di Kantor IASS Pusat setiap
hari Jumat. Di samping itu, IASS juga membekali alumni dengan beberapa pelatihan meliputi
pelatihan keagamaan, menejemen, keterampilan dan skill, kursus haid, pendidikan shalat,
tajhiz mayit, manasik haji, metode al-Miftah lil Ulum, serta enterpreneurship
(kewirausahaan).

Hukum Positif dan Hukum Islam

Karena banyaknya rumah ibadah seperti masjid dan mushalla serta madrasah yang
memerlukan izin oprasional, maka IASS bertindak sebagai mediator untuk mengusahakan
legalisasi terhadap rumah ibadah dan lembaga pendidikan tersebut. Di samping itu, dalam
bidang ini IASS juga memberikan pelatihan pemahaman hukum Islam kepada alumni dan
masyarakat yang membutuhkan.

Ekonomi dan Bisnis


Untuk memberikan bekal keterampilan berwirausaha, IASS melalui bidang Ekonomi Bisnis
kerap kali memberikan pelatihan enterpreneur kepada alumni atau santri yang hendak
boyong dari pesantren. Bidang Ekonomi dan Bisnis hanya mengatur konsep serta
menejemen pelatihannya kemudian dipasrahkan kepada bidang Pendidikan dan Pelatihan.

Manajemen alumni di Pondok Pesantren Nurul Jadid, yaitu (1) perencanaan yang meliputi
penyiapan santri pra boyong, pendataan alumni, dan perencanaan program; (2)
pengorganisasian; (3) pengembangan alumni; (4) pemberdayaan alumni; (5) evaluasi.
Penyiapan alumni dilakukan melalui kegiatan Orientasi Siswa Kelas Akhir (OSKAR) dengan
melakukan pembinaan mental kesantrian dan mental kewirausahaan. Pendataan alumni
dilaksanakan oleh Biro Pengembangan dan Pengabdian Masyarakat (BP2M) yang meliputi
data diri alumni dan potensi yang dimiliki oleh alumni dengan cara menyediakan presensi
ketika kegiatan alumni, penggunaan sms gateway, dan melakukan kunjungan terhadap
alumni secara personal. Dalam melakukan pendataan BP2M juga dibantu oleh P4NJ wilayah
dan organisasi mahasiswa alumni Nurul Jadid dengan membagikan formulir pendataan
alumni. Pendataan alumni yang dilakukan oleh Pondok Pesantren Nurul Jadid tergolong
rendah, dikarenakan keterbatasan pengetahuan pengurus dan alumni mengenai alumni
lainnya, kesibukan para alumni, dan tidak terlaksananya pembaharuan data alumni. Program
organisasi alumni P4NJ berasal dari harapan dan keinginan pengasuh Pondok Pesantren
Nurul Jadid mengenai kontribusi pemikiran untuk pembangunan pesantren dan kemandirian
alumni dalam masalah ekonomi. Perencanaan di P4NJ tidak berjalan dengan baik, karena
terkendala dengan tidak aktifnya beberapa pengurus P4NJ pusat yang disebabkan tempat
tinggal pengurus P4NJ pusat yang jauh dari Pondok Pesantren Nurul Jadid. Organisasi alumni
P4NJ memiliki jenjang kepengurusan yang terdiri dari pengurus pusat dan pengurus wilayah.
Terdapat 16 pengurus wilayah yang terletak di setiap kabupaten atau wilayah khusus, seperti
Spudi dan Bawean. P4NJ dibantu oleh BP2M dalam melakukan pendataan alumni.
Kepengurusan P4NJ pusat terdiri dari ketua, sekretaris, dan beberapa anggota pengurus
P4NJ pusat lainnya. P4NJ pusat tidak dapat berjalan dengan baik karena kurangnya
komunikasi antar pengurus pusat. Penggantian dan penunjukan pengurus P4NJ dilakukan
oleh pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid secara independen. P4NJ wilayah memiliki
tanggungjawab (garis intruksi) kepada pengasuh dan garis koordinasi dengan P4NJ pusat dan
BP2M. Keaktifan wilayah dalam mengurusi alumni berbeda-beda dikarenakan tidak adanya
Surat Keputusan yang diberikan oleh Pondok Pesantren Nurul Jadid kepada pengurus
wilayah P4NJ. Alumni yang telah keluar dari pesantren akan mendapatkan pembinaan secara
simultan yang dilakukan oleh P4NJ wilayah. Bentuk pembinaan bergantung pada karakter
dan keinginan alumni di daerah. Pengurus pusat melaksanakan SHQJHPEDQJDQ DOXPQL
PHODOXL NHJLDWDQ LVWLJKRVDK GL SHVDQWUHQ VHWLDS 6DEWX :DJH \DQJ GLLVL
GHQJDQ VKDODW LV\D¶ EHUMDPDDh, shalat hajat, sujud syukur, istighosah, dan siraman
rohani dari pengasuh. Hanya ada 2 wilayah yang aktif dalam melakukan pembinaan yaitu
Situbondo dan Bondowoso. Pengembangan alumni di wilayah dilakukan melalui (1) kegiatan
rutinan yang diisi kegiatan istighosah, siraman rohani; (2) kegiatan diklat koperasi; (3) studi
banding ke koperasi Pondok Pesantren Sidogiri. Kehadiran pengasuh pada kegiatan
pengembangan alumni di P4NJ wilayah menjadi daya tarik bagi alumni untuk hadir pada
kegiatan tersebut. Alumni dapat diberdayakan melalui sumbangan pemikiran, finansial,
kontrol, mediasi, dan pemberdayaan kemampuan alumni. Pemberdayaan tersebut dilakukan
sesuai dengan keinginan dan kemampuan alumni. Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid
jarang meminta bantuan secara finansial. Pengasuh lebih sering meminta kontribusi
pemikiran kepada alumni untuk menyelesaikan permasalahan pesantren. Di daerah
Bondowoso penggalangan dana hanya dilakukan kepada alumni yang diketahui dan mudah
diakses. Pemberdayaan dalam bidang ekonomi dilakukan dengan membentuk kegiatan
usaha dengan penghasilan yang dibagi antara pesantren dan alumni, dan penanaman modal
oleh alumni untuk kegiatan usaha pesantren. Kegiatan usaha yang dimiliki pesantren di
antaranya adalah melalui koperasi pesantren, penjualan kalender, dan penjualan Air Minum
Dalam Kemasan (AMDK). Rifqi, Imron, 0XVWLQLQJVLK 0DQDMHPHQ
$OXPQLGL3RQGRN«688 Kegiatan pengawasan dilakukan oleh P4NJ pusat kepada P4NJ
wilayah. Hasil pengawasan tersebut dilaporkan kepada pengasuh untuk kemudian diambil
kebijakan mengenai P4NJ ke depannya. Kegiatan evaluasi di wilayah dilakukan secara
insidental dan non formal bersamaan dengan kegiatan rutinan dengan mengevaluasi
anggaran yang digunakan dalam melaksanakan kegiatan. Perkembangan keuangan dan
usaha NJ water di Bondowoso dilaporkan kepada donatur setiap bulan. Jenis komunikasi
yang dilakukan di Pondok Pesantren Nurul Jadid terbagi menjadi 2, yaitu komunikasi secara
dzohir dan komunikasi secara batin. Pembangunan jaringan komunikasi dipimpin langsung
oleh pengasuh, baik komunikasi secara organisatoris maupun komunikasi secara personal.
Komunikasi secara organisatoris melalui pelaksanaaan rapat koordinasi alumni, pelaksanaan
program kegiatan, melaksanakan kunjungan ke pengurus wilayah dan alumni, pemanfaatan
teknologi komunikasi. Kehadiran pengasuh dalam kegiatan di wilayah memiliki daya tarik
sendiri bagi alumni. Sementara itu, alumni Pondok Pesantren Sidogiri berasal berasal dari
beberapa daerah di Indonesia dan Malaysia. Mayoritas alumni berasal dari Pasuruan dengan
jumlah alumni sebanyak sebanyak 3265 orang. Alumni Pondok Pesantren Sidogiri juga
memiliki berbagai profesi, yaitu guru, pedagang, dosen, nelayan, dan lain sebagainya.
Mayoritas alumni berprofesi sebagai guru dan pedagang. Manajemen alumni di Pondok
Pesantren Sidogiri, yaitu (1) perencanaan yang meliputi pendataan alumni dan perencanaan
program; (2) pengorganisasian; (3) pengembangan alumni; (4) pemberdayaan alumni; (5)
evaluasi. Pendataan alumni melalui proses pendaftaran, pemanfaatan struktur terbawah
IASS, dan penggunaan presensi pada kegiatan IASS. Alumni yang keluar dari pesantren
secara resmi pada tahun 2013 sampai dengan 2016 akan terdata secara otomatis secara
online melalui prosedur boyong di Pondok Pesantren Sidogiri, sedangkan alumni yang keluar
sebelum 2013 atau keluar tidak resmi dapat mendaftar sebagai alumni melalui web [Link]
untuk kemudian diverifikasi oleh pengurus wilayah atau pengurus pusat, dan penerbitan
kartu tanda alumni. Kartu alumni digunakan sebagai tanda pengenal ketika mendaftar kerja
di wirausaha milik alumni atau Sidogiri, serta mendapatkan diskon ketika berbelanja di
koperasi Basmalah. Kendala dalam melakukan pendataan adalah pengurus wilayah yang
kurang mampu mengoperasikan komputer, beberapa alumni tidak bersedia didata, dan
alumni tidak mengetahui website IASS. Program IASS berasal dari amanah mubes IASS yang
dilaksanakan setiap 5 tahun sekali yang berisi mengenai 4 bidang pengabdian IASS sesuai
dengan hasil pembahasan draft mubes IASS. Draft mubes yang akan dibahas berasal dari
koordinator IASS yang tidak dapat diubah, kecuali kalimat atau bahasanya. Perencanaan
secara utuh dilaksanakan ketika rapat kerja yang dilaksanakan setiap tahun yang membahas
mengenai program setiap wilayah. Perencanaan program pengembangan dilakukan sesuai
dengan permintaan dari alumni atau kelompok tertentu. Di tingkat pusat, perencanaan
dilaksanakan setiap hari Rabu dengan membahas program yang akan dilaksanakan 1 minggu
ke depan. Program pengurus pusat yaitu mendukung pengurus wilayah dalam melaksanakan
keorganisasiannya dan menyukseskan program yang menjadi amanah mubes di tingkat
pusat. Organisasi Ikatan Alumni Santri Sidogiri (IASS) adalah organisasi di bawah wakil ketua
umum yang khusus menangani alumni. IASS dibagi atas pengurus pusat, pengurus wilayah,
pengurus kecamatan, dan koordinator desa. Kepengurusan IASS memiliki masa khidmah
selama 5 tahun. Ada 23 pengurus wilayah di setiap kabupaten, yaitu Surabaya, Sidoarjo,
Pasuruan, Malang, Probolinggo, Lumajang, Jember, Situbondo, Bondowoso, Banyuwangi,
Bangkalan, Sampang, Pamekasan, Sumenep, Bali, Kalimantan Barat, Ketapang, Kalimantan
Timur, Kalimantan Tengah, Bawean, dan Malaysia. IASS wilayah dapat terbentuk jika di suatu
wilayah jika terdapat minimal 25 alumni kemudian mengajukan kepada IASS pusat untuk
diresmikan. IASS memiliki 4 fokus khidmah yaitu bidang 1 pada kegiatan dakwah dan sosial,
bidang 2 pada kegiatan pendidikan dan pelatihan, bidang 3 pada kegiatan hukum syariah
dan hukum positif, bidang 4 pada kegiatan ekonomi dan bisnis. Ketua IASS pusat dipilih
melalui kegiatan musyawarah besar (mubes), sedangkan ketua IASS wilayah dipilih melalui
kegiatan musyawarah wilayah (muswil). Hasil pemilihan ketua dimintakan persetujuan
kepada pengasuh dan dilanjutkan dengan pelantikan. Setiap wilayah mendapatkan anggaran
operasional sebesar Rp 10.000.000,00 dan anggaran program dengan pengajuan melalui
proposal sebesar Rp 15.000.000,00. Pemasukan IASS berasal dari SHU BMT UGT, usaha IASS,
dan bantuan yang tidak mengikat. Kelebihan anggaran IASS disumbangkan ke pesantren.
Kegiatan pengembangan alumni di Pondok Pesantren Sidogiri berfokus pada penguatan
akidah yang dikembangkan menjadi 4 bidang, yaitu (1) bidang dakwah dan sosial, (2)
pendidikan dan pelatihan, (3) hukum syariah dan positif, 4) kewirausahaan. Seluruh
pengembangan tersebut membutuhkan data mengenai potensi alumni, sehingga
pengembangan yang diberikan merupakan pengembangan yang sesuai dengan kebutuhan
alumni. Di jajaran pengurus wilayah pengembangan alumni disesuaikan dengan karakter dan
budaya setiap daerah yang sesuai dengan amanah mubes. Seluruh kegiatan pengembangan
alumni tersebut berasal dari usulan dan permintaan wilayah dan kelompok lain, seperti
kelompok penghulu, gugus, dan kelompok lainnya. Kegiatan pembinaan diawali dengan
mendiagnosa kebutuhan pengembangan, apa yang perlu dibina, dilanjutkan dengan
pembinaan, dan diakhiri dengan follow up. Pemberdayaan alumni dilakukan dengan
memperjuangkan perjuangan pesantren dengan kriteria minimal, ajaran pesantren tetap
melekat pada diri alumni. Arah pemberdayaan di Pondok Pesantren Sidogiri adalah khidmah
ke pesantren sama dengan khidmah kepada masyarakat, NKLGPDK OLO PD¶KDG NKLGPDK
OLO XPPDK. Pemberdayaan alumni dikembangkan pada bidang dakwah dan sosial,
pendidikan dan pelatihan, hukum, dan ekonomi dan bisnis. Pengurus wilayah juga
mengupayakan pemberdayaan ekonomi alumni. Jadi jika ada alumni yang menganggur, IASS
mengupayakan agar dia bekerja. IASS pusat bekerjasama dengan lembaga usaha Pondok
Pesantren Sidogiri dan lembaga usaha lainnya yang dikelola oleh alumni untuk 689 Jurnal
Pendidikan, Vol. 1 No. 4, Bln April, Thn 2016, Hal 686²691 memberdayakan alumni dengan
memprioritaskan alumni dalam pengajuan permohonan kerja. Lembaga-lembaga usaha yang
dimiliki diantaranya adalah koperasi pondok pesantren (kopontren) Sidogiri, Lembaga Amil
Zakat (LAZ) Sidogiri, BMT Maslahah, BMT UGT. Persyaratan mendaftar kerja di BMT bagi
alumni lebih dipermudah daripada yang non alumni. Pemberdayaan dalam bentuk
kontribusi ke pesantren juga dilakukan melalui alumni menyumbangkan uang dan
keahliannya untuk mengembangkan pesantren. Kegiatan evaluasi dilaksanakan setiap tahun
bersamaan dengan rencana kerja pengurus dengan jadwal tidak tetap dengan agenda
membahas perubahan program kerja. Secara rutin kegiatan evaluasi dari wilayah ke
pengurus pusat dilakukan setiap 3 bulan sekali. Hal yang dievaluasi adalah mengenai
pelaksanaan dan dampak dari pelaksanaan kegiatan. Pelaksanaan evaluasi di pengurus pusat
dilaksanakan setiap hari Rabu jam 06.00²07.00 yang digunakan untuk menerima laporan dari
setiap kepala bidang dan kesekretariatan. Pelaksanaan kegiatan diawasi oleh setiap wakil
ketua pada masing-masing bidang. Kondisi alumni dikontrol melalui kegiatan pengajian kitab
kuning dengan menggunakan presensi sebagai dasar dalam melihat kondisi alumni untuk
kemudian ditindaklanjuti dengan mengunjungi alumni. Pembangunan jaringan komunikasi
alumni dilakukan secara organisatoris dan personal. Secara organisatoris, pembangunan
jaringan antar pengurus dibangun melalui kegiatan musyawarah besar (mubes), rapat kerja
(raker)/musyawarah kerja (musker), turun ke bawah (turba), dan musyawarah wilayah
(muswil). Pembangunan jaringan komunikasi juga dilakukan dalam bentuk kegiatan. Secara
personal, hubungan alumni dengan pengurus pesantren dilakukan melalui kegiatan-kegiatan
pesantren dan mengunjungi pesantren, misalnya menghadiri pernikahan keluarga majelis
keluargaan, haul masyaikh, dan imtihan. Pembangunan jaringan komunikasi juga dilakukan
dengan menggunakan teknologi semisal website [Link], whatsapp dan lain sebagainya.
Permasalahan pembangunan jaringan komunikasi pada organisasi alumni Pondok Pesantren
Sidogiri adalah permasalahan dengan organisasi Harakah Mahasiswa Alumni Santri Sidogiri
(HMASS). Berdasarkan temuan kasus tunggal, maka dapat ditemukan temuan lintas kasus.
Alumni pondok pesantren berasal dari berbagai daerah dan dipengaruhi oleh letak
pesantren. Alumni pondok pesantren memiliki banyak profesi yang dipengaruhi oleh jenis
pendidikan, visi, dan fasiilitas yang disediakan oleh pesantren. Pembangunan jaringan
komunikasi alumni dipimpin oleh pengasuh dan pengurus pesantren. Komunikasi dilakukan
secara organisatoris dan personal. Keaktifan organisasi alumni di daerah/wilayah membantu
pembangunan jaringan komunikasi. Komunikasi dibangun melalui intruksi dan koordinasi.
Manajemen alumni pondok pesantren terdiri dari penyiapan calon alumni, pendataan,
perencanaan program, pengembangan alumni, pemberdayaan alumni, dan evaluasi.
Penyiapan calon alumni dilaksanakan melalui pembinaan mental kesantrian dan
kewirausahaan alumni. Pendataan dilakukan melalui presensi kegiatan, komunikasi informal,
mengisi instrumen (formulir alumni), dan menggunakan media komunikasi untuk
mendapatkan data diri dan potensi alumni. Kendala yang dihadapi dalam melakukan
pendataan adalah keterbatasan informasi alumni, kesibukan alumni, tidak adanya
pembaharuan data alumni, personalia yang tidak mampu mengelola data, alumni tidak
bersedia didata, informasi terbatas bagi alumni mengenai pendataan. Perencanaan program
dibuat sesuai kebutuhan alumni dengan perencanaan jangka panjang untuk program
general, perencanaan jangka menengah untuk program kegiatan, perencanaan jangka
pendek untuk rencana operasional. Keberadaan organisasi alumni sangat dibutuhkan dalam
mewujudkan manajemen alumni. Organisasi alumni minimal dibentuk kepengurusan pusat
dan kepengurusan wilayah. Pengembangan alumni dilakukan pada bidang keagamaan, sosial
dan dunia kerja. Pengembangan disesuaikan dengan karakter di wilayah dan keinginan
alumni. Dalam melaksanakan pengembangan alumni tahap pengembangan yang dapat
ditempuh yaitu diagnosa kebutuhan, pembinaan alumni, dan follow up. Pemberdayaan
dilakukan pada hal yang berdampak pada pesantren, diri alumni dan masyarakat. Kegiatan
evaluasi dilaksanakan mingguan dengan membahas pelaksanaan program, triwulan dengan
membahas pelaksanaan dan dampak kegiatan, dan tahunan untuk membahas program
kerja. PEMBAHASAN Alumni Pondok Pesantren Nurul Jadid dan Pondok Pesantren Sidogiri
berasal dari berbagai daerah. Hal ini ditunjukkan dengan adanya asrama yang digunakan
untuk santri yang bermukim di pesantren (Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional,
2005). Namun, mayoritas alumni berasal dari daerah terdekat. Alumni Pondok Pesantren
Nurul Jadid mayoritas berasal dari daerah Probolinggo dan Bondowoso, sedangkan alumni
Pondok Pesantren Sidogiri mayoritas berasal dari Pasuruan. M. Arifin (dalam Qomar, 2007:2)
mengatakan pesantren harus diakui masyarakat sekitar. Pengakuan ini dapat ditunjukkan
dengan seberapa besar masyarakat di daerah dekat pesantren menyerahkan pendidikannya
ke pesantren tersebut. Alumni Pondok Pesantren Nurul Jadid dan Pondok Pesantren Sidogiri
memiliki berbagai profesi misalnya guru, dosen, dan lain sebagainya. Beragamnya profesi
alumni tersebut disebabkan visi pesantren yang tidak mengikat santri untuk berprofesi di
bidang tertentu. Menurut Fatah (2005) pesantren memiliki tujuan mendidik santri yang
cakap dalam berbagai sektor pembangunan. Namun, kiai juga memiliki peran sentral dalam
mewarnai corak pendidikan di pesantren (Qomar, 2007) yang berdampak pada profesi yang
akan ditekuni oleh santri. Alumni Pondok Pesantren Sidogiri mayoritas berprofesi sebagai
guru dan pedagang. Hal ini terjadi karena sebelum tahun 2005, Pondok Pesantren Sidogiri
tidak menyediakan pendidikan paket A, B, dan C bagi santrinya, sehingga lulusannya tidak
dapat bekerja pada bidang yang mempersyaratkan ijazah sekolah formal. Secara umum,
proses manajemen alumni terbagi menjadi 4 bagian, yaitu perencanaan, pengorganisasian,
pelaksanaan, dan evaluasi (G.R. Terry dalam Saebani, 2012:173). Manajemen alumni di
Pondok Pesantren Nurul Jadid terdiri atas (1) perencanaan yang mencakup penyiapan calon
alumni, pendataan, dan perencanaan program; (2) pengorganisasian; (3) Rifqi, Imron,
0XVWLQLQJVLK 0DQDMHPHQ $OXPQLGL3RQGRN«690 pelaksanaan yang mencakup
pengembangan alumni dan pemberdayaan alumni; dan 4) evaluasi. Sedangkan manajemen
alumni di Pondok Pesantren Sidogiri terdiri atas (1) perencanaan yang mencakup pendataan
dan perencanaan program; (2) pengorganisasian; (3) pelaksanaan yang mencakup
pengembangan alumni dan pemberdayaan alumni; (4) evaluasi. Kegiatan penyiapan calon
alumni dilakukan dengan melaksanakan pembinaan mental kesantrian dan mental
kewirausahaan. Pembinaan ini dilaksanakan agar alumni siap terjun di masyarakat. Menurut
The National Education Association (dalam Fletcher, 2005:129) pembinaan tersebut dapat
dilakukan melalui kegiatan pendidikan dengan membina kemampuan kognitif, psikomotorik,
dan afektif. Pendataan alumni dilakukan untuk mengumpulkan informasi mengenai data diri
dan profesi alumni. Data tersebut digunakan untuk mengembangkan kegiatan
pengembangan dan pemberdayaan alumni. Nuraida (2008:30) mengatakan informasi yang
dikumpulkan harus sesuai dengan kebutuhan. Pondok Pesantren Nurul Jadid melakukan
pendataan dengan menggunakan formulir, pengisian buku tamu pada kegiatan-kegaitan
alumni, dan melalui sms gateway. Sedangkan Pondok Pesantren Sidogiri melakukan
pendataan dengan melaksanakan pendaftaran via web dan presensi kegiatan. Black, J.A. dan
Champion, D.J. (2001:283) menyatakan metode yang dapat digunakan dalam
mengumpulkan data adalah melalui wawancara, observasi, kuesioner, dan menggunakan
sumber skunder. Pendataan yang dilakukan di Pondok Pesantren Nurul Jadid mengalami
kendala dikarenakan data yang diperoleh di biro kepesantrenan tidak sesuai dengan data di
lapangan dan keterbatasan pengetahuan mengenai alumni yang ada di wilayahnya.
Sedangkan di Pondok Pesantren Sidogiri kendala yang dihadapi adalah alumni yang tertutup
dalam memberikan informasi mengenai potensi yang dimilikinya. Nuraida (2008:31)
menyatakan hambatan yang akan dialami dalam melakukan pendataan, di antaranya (1)
informasi salah, (2) informasi ditutupi, 3) informasi sulit dikumpulkan, (4) informasi sulit
dicari, (5) informasi tidak jelas kebenarannya dan sulit untuk dikonfirmasi, 6) informasi yang
dibutuhkan tidak diketahui, (7) kurang bertanggungjawab dalam mengumpulkan data, dan
(8) dana terbatas. Kegiatan perencanaan program di Pondok Pesantren Nurul Jadid hanya
dilaksanakan untuk jangka pendek saja yang dilaksanakan secara insidental. Sedangkan di
Pondok Pesantren Sidogiri dilaksanakan dengan membuat rencana jangka panjang untuk
program general, rencana jangka menengah untuk program kegiatan, dan rencana jangka
pendek untuk rencana operasional. Dilihat dari segi wewenang dan waktu pencapaiannya,
terdapat 3 jenis perencanaan (Saebani, 2012:181), yaitu (1) long range planning (LRP) , (2)
intermediate planning, dan (3) short range planning (SRP). Organisasi alumni memiliki peren
besar dalam menghubungkan antara alumni dan lembaga pendidikan. Lertputtarak &
Supitchayangkool (2014:171) menyatakan organisasi alumni harus berada di depan untuk
melibatkan alumni dalam mengembangkan lembaga pendidikan. Di Pondok Pesantren Nurul
Jadid, organisasi alumni disebut dengan Pembantu Pengurus Pondok Pesantren Nurul Jadid
(P4NJ); sedangkan di Pondok Pesantren Sidogiri disebut dengan Ikatan Alumni Santri Sidogiri
(IASS). Menurut Sule (2006:162²166), ada 6 pendekatan yang dapat digunakan organisasi
dalam membagi tugas dan wewenang, yaitu (1) pendekatan fungsional, (2) pendekatan
produk, (3) pendekatan pelanggan/sasaran, (4) pendekatan geografis, dan (5) pendekatan
matriks. Pondok Pesantren Nurul Jadid dan Pondok Pesantren Sidogiri membagi tugas
berdasarkan pendekatan geografis dengan membagi organisasi alumni di setiap daerah.
Selain itu pada kepengurusan pusat, organisasi alumni di kedua pesantren membagi tugas
berdasarkan pendekatan fungsional. Di P4NJ pusat, pengurus alumni terdiri dari ketua,
sekretaris, dan anggota; sedangkan IASS pusat, membagi pengurus IASS menjadi ketua,
sekretaris umum dan beberapa wakil, wakil bidang dakwah dan sosial, wakil bidang
pendidikan dan pelatihan, wakil bidang hukum, dan wakil bidang ekonomi dan bisnis.
Menurut Hasibuan (dalam Hidayat, 2012:31²36) dan Suwatno dan Priansa (2011:112²114),
ada dua metode pengembangan sumber daya manusia yang dapat diterapkan dalam
pengembangan alumni, yaitu metode pendidikan dan metode pelatihan. Kegiatan
pengembangan alumni di Pondok Pesantren Nurul Jadid dilakukan melalui istighosah setiap
Sabtu Wage, kegiatan rutinan di pengurus wilayah, diklat koperasi, dan studi banding.
Pondok Pesantren Sidogiri mengembangkan alumninya melalui pengajian kitab rutinan,
pengembalian L¶WLNRG DOXPQL SHODWLKDQ KDLG WDMKL]XO MHQD]DK KDML ]DNDW
sembelihan, mengaji kitab, pelatihan kerja, pembinaan madrasah, mendukung keberlanjutan
pendidikan alumni, konsultasi hukum. Kegiatan pengembangan tersebut disesuaikan dengan
kebutuhan alumni. Pondok Pesantren Sidogiri melaksanakan pengembangan alumni dengan
melaksanakan 3 tahap, yaitu diagnosa kebutuhan, pembinaan, dan follow up. Menurut
Sudayat (2013) ada 4 fungsi pemberdayaan yang dapat digunakan, yaitu fungsi enabling,
facilitating, consulting, dan collaborating. Pondok Pesantren Nurul Jadid melaksanakan
pemberdayaan melalui sumbangan pemikiran, finansial, kontrol, mediasi, dan kemampuan.
Pemberdayaan melalui kegiatan usaha dilakukan melalui koperasi pesantren, penjualan
kalender, dan AMDK. Namun, pemberdayaan melalui penjualan kalender dan koperasi
pesantren menemui kegagalan karena alumni yang diberdayakan tidak tepat. Sementara itu,
Pondok Pesantren Sidogiri memberdayakan alumninya melalui SHQJLULPDQ GD¶L GL
0DQLVPDWD SHQJLULPDQ GD¶L XQWXN PHQJXrus tanah wakaf di Probolinggo,
pendampingan pengelolaan madrasah diniyah milik alumni dan IASS, kemandirian IASS
wilayah dan alumni. Berdasarkan objek pengawasan, kegiatan pengawasan dapat dibagi
menjadi tiga jenis, yaitu pengawasan bersifat top down, pengawasan bersifat bottom up,
dan pengawasan melekat (Saebani, 2012:215). Pengurus organisasi alumni di Pondok
Pesantren Nurul Jadid tidak melakukan evaluasi kegiatan. Evaluasi dilaksanakan jika
berkaitan dengan keuangan organisasi. Sedangkan Pondok Pesantren Sidogiri melakukan
pengawasan melalui pengawasan top down dengan pengawasan terhadap IASS wilayah oleh
IASS pusat, dan pengawasan melekat melalui evaluasi diri yang dilaksanakan oleh IASS pusat.
691 Jurnal Pendidikan, Vol. 1 No. 4, Bln April, Thn 2016, Hal 686²691 Dalam membangun
jaringan komunikasi alumni, P4NJ dan IASS memiliki peran besar sebagai penghubung antara
pesantren dan alumni. Pembangunan jaringan komunikasi dilakukan secara organisatoris
dan personal. Secara organisatoris, Pondok Pesantren Nurul Jadid membangun komunikasi
melalui rapat koordinasi untuk memberi masukan kepada pesantren, kunjungan kegiatan
organisasi alumni wilayah ketika diundang, program kegiatan alumni, memanfaatkan
teknologi informasi. Sementara itu, Pondok Pesantren Sidogiri melakukan komunikasi secara
organisatoris melalui musyawarah besar, musyawarah wilayah, rapat kerja, laporan triwulan,
turun ke bawah, program kegiatan alumni, dan memanfaatkan teknologi informasi. Menurut
Indrafachrudi (1994:34²37) dibutuhkan pelayanan khusus kepada alumni untuk membangun
hubungan salah satunya melalui komunikasi melalui media komunikasi yang intens. Pada
kegiatan alumni di Pondok Pesantren Nurul Jadid, secara rutin Pondok Pesantren Nurul Jadid
mengadakan kegiatan istighosah setiap bulan dan kegiatan rutinan di P4NJ wilayah.
Sedangkan di Pondok Pesantren Sidogiri, kegiatan UXWLQDQ \DQJ GLEXDW DGDODK
SHQJDMLDQ NLWDE )DWKXO 0X¶LQ GDQ ,K\D¶ 8OXPXGGLQ VHWLDS bulan serta kegiatan
rutinan di IASS wilayah setiap bulan. Komunikasi alumni tersebut menurut penelitian Hoyt
(dalam Lertputtarak & Supitchayangkool, 2014:171) setidaknya perlu dilaksanakan minimal 6
bulan sekali. SIMPULAN Alumni pondok pesantren berasal dari berbagai daerah, terutama di
daerah terdekat pesantren. Penyebaran alumni dipengaruhi oleh letak pesantren. Alumni
pondok pesantren memiliki banyak profesi, seperti guru, petani, nelayan, dan lain
sebagainya. Profesi alumni dipengaruhi oleh jenis pendidikan, visi, dan fasilitas yang
disediakan oleh pesantren Manajemen alumni pesantren yaitu penyiapan calon alumni,
pendataan alumni, perencanaan program, pengorganisasian, pengembangan alumni,
pemberdayaan alumni, dan evaluasi. Penyiapan calon alumni dilakukan melalui pembinaan
mental kesantrian dan kewirausahaan alumni. Dalam melakukan pendataan dilakukan
dengan cara membuat presensi kegiatan, komunikasi informal, mengisi instrumen (formulir
alumni), dan menggunakan media komunikasi untuk mendapatkan data diri dan potensi
alumni. Kendala yang dihadapi dalam melakukan pendataan yaitu keterbatasan informasi
alumni, kesibukan alumni, tidak adanya pembaharuan data alumni, personalia yang tidak
mampu mengelola data, alumni tidak bersedia didata, informasi terbatas bagi alumni
mengenai pendataan. Perencanaan program dilakukan dengan membuat rencana jangka
panjang untuk program general, rencana jangka menengah untuk program kegiatan, rencana
jangka pendek untuk rencana operasional. Perencanaan program dibuat sesuai kebutuhan
alumni. Keberadaan organisasi alumni sangat dibutuhkan dalam mewujudkan manajemen
alumni. Organisasi alumni minimal dibentuk kepengurusan pusat dan kepengurusan wilayah.
Pengasuh memiliki peran penting dalam pengembangan organisasi alumni. Aspek
pengembangan yang perlu dikembangkan adalah berkaitan dengan bidang keagamaan,
sosial dan dunia kerja. Pengembangan alumni disesuaikan dengan karakter di wilayah dan
keinginan alumni. Tahap pengembangan alumni yaitu diagnosa kebutuhan, pembinaan
alumni, dan follow up. Arah pemberdayaan alumni meliputi pemberdayaan yang berdampak
pada pesantren, diri alumni, dan masyarakat. Jenis evaluasi yang dapat dilakukan yaitu
evaluasi mingguan membahas pelaksanaan program, triwulan membahas pelaksanaan dan
dampak kegiatan, dan tahunan membahas program kerja. Pembangunan jaringan
komunikasi dipimpin oleh pengasuh dan pengurus pesantren. Jenis komunikasi yang
digunakan yaitu komunikasi organisatoris dan personal. Keaktifan organisasi alumni di
daerah/wilayah membantu pembangunan jaringan komunikasi. Bentuk komunikasi yang
dilakukan adalah intruksi dan koordinasi.

Anda mungkin juga menyukai