Peralihan Tanah Ulayat ke Hak Individu
Peralihan Tanah Ulayat ke Hak Individu
DOI: [Link]
This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License Page 75
Volume 9, Issue 1, April 2025 e-ISSN: 2579-4914 | p-ISSN: 2579-4701
PENDAHULUAN
Tanah memiliki fungsi yang sangat strategis dalam rangka melakukan suatu
pembangunan. Selain berfungsi untuk menjadi sarana pembangunan, tanah juga diartikan
sebagai suatu kehormatan bagi pemilik tanah tersebut. Kehidupan manusia tidak dapat
terlepas dari fungsi tanah tersebut, mulai dari manusia hidup hingga manusia meninggal
dunia pun tetap memanfaatkan tanah. Maka, tidak jarang tanah menjadi objek suatu
persengketaan atas orang-orang yang berkepentingan.
Terdapat masalah yang sukar untuk diselesaikan dalam bidang pertanahan tersebut,
yaitu setiap tanah sebagai benda tetap tidak akan mengalami pertambahan jumlah dimuka
bumi, untuk mengimbangi pertumbuhan dan perkembangan manusia yang semakin
bertambah begitu pesatnya. Maka dari itu, masalah ini yang akan menimbulkan perebutan
penguasaan hak atas tanah oleh manusia, dan menimbulkan persaingan di antara umat
manusia. Dengan demikian pengakuan tentang hak-hak atas tanah menjadi perhatian khusus
pemerintah dalam mengatur hak-hak tersebut secara adil dan bijaksana, khususnya mengenai
hak-hak atas tanah ulayat masyarakat adat, agar terciptanya kesejahteraan sosial.1
Dengan demikian Boedi Harsono memberikan pendapat bahwa tata susunan dan
hierarki hak-hak penguasaan atas tanah dalam hukum adat adalah sebagai berikut:
1. Hak ulayat masyarakat hukum adat, sebagai hak penguasaan yang tertinggi, beraspek
hukum keperdataan dan hukum publik;
2. Hak kepala adat dan para tertua adat, yang bersumber pada hak ulayat dan beraspek
hukum publik semata;
3. Hak-hak atas tanah, sebagai hak-hak individual, yang secara langsung ataupun tidak
langsung bersumber pada hak ulayat dan beraspek hukum keperdataan.2
Boedi Harsono memberikan pengertian mengenai tanah ulayat, yang dimaksud dengan
tanah ulayat adalah: Tanah kepunyaan bersama, yang diyakini sebagai karunia suatu kekuatan
ghaib atau peninggalan nenek moyang kepada kelompok yang merupakan masyarakat hukum
adat, sebagai unsur pendukung utama bagi kehidupan dan penghidupan kelompok tersebut
sepanjang masa.3
Daerah Minangkabau berlaku sistem kekerabatan matrilineal, yang berdasarkan garis
keturunan ibu, maka hak ulayat merupakan harta yang selalu dipertahankan oleh masyarakat
1
Kurnia Warman, 2010, Hukum Agraria Dalam Masyarakat Majemuk: Dinamika Interaksi Hukum Adat dan
Hukum Negara di Sumatera Barat, Huma, Jakarta, hlm. 1-2.
2
Boedi Harsono, 2003, Hukum Agraria Indonesia : Sejarah Pembentukan Undang-Undang Pokok Agraria,
Isi dan Pelaksanaannya, Djambatan, Jakarta, hlm. 183-184.
3
Ibid, hlm. 550.
Page 76
Volume 9, Issue 1, April 2025 e-ISSN: 2579-4914 | p-ISSN: 2579-4701
adat berdasarkan hak-hak ulayat yang telah dihakinya bersama kaum tertentu.4 Perempuan di
Minangkabau menjadi pemilik dari harta kekayaan hak ulayat tersebut, dan lelaki yang
disebut sebagai Mamak Kepala Waris merupakan orang yang berwenang untuk mengelola
hak ulayat tersebut. Di Minangkabau, terdapat 4 jenis tanah ulayat berdasarkan Peraturan
Daerah Provinsi Sumatera Barat Nomor 7 Tahun 2023 tentang Hak Ulayat, yaitu: I. Tanah
Ulayat Nagari, II. Tanah Ulayat Suku, dan III. Tanah Ulayat Kaum. Penguasaan atas tanah
ulayat di atas tidak dapat dipindah tangankan kepada pihak lain atau pihak ketiga, karena
harta kekayaan ulayatnya menjadi satu kesatuan hak ulayat dari suatu masyarakat hukum adat
yang turun temurun dari mamak ke kemenakan.5
Tanah kaum atau ulayat kaum tersebut dapat dialihkan haknya baik kepada pihak lain
maupun kepada anggota kaum itu sendiri menggunakan akta yang dibuat oleh Pejabat
Pembuat Akta Tanah (PPAT). Melalui PPAT tersebut anggota kaum dapat mengalihkan hak
atas tanah ulayat kaum tersebut menjadi hak miliknya secara pribadi dengan cara pembagian
hak bersama, yang diperuntukkan bagi salah satu anggota kaum. Hal semacam itu, menjadi
sebuah polemik mengenai kedudukan tanah ulayat kaum yang semula dimiliki secara
komunal (bersama-sama) menjadi milik pribadi yang dapat dapat diwarisi kepada anak dan
pasangan, bukan lagi kepada kemenakan atau anggota kaumnya, sehingga hal tersebut dapat
menghilangkan eksistensi tanah ulayat kaum itu sendiri, dan pada akhirnya tanah tersebut
yang telah menjadi milik pribadi akan dijual atau dipindah tangankan.
Kepemilikan tanah ulayat kaum yang dikuasai secara turun temurun, dewasa ini demi
kepastian hukum, tidak sedikit tanah ulayat kaum tersebut di terbitkan sertipikatnya, baik
secara sporadik maupun secara sistematis. Setelah sertipikat diterbitkan atas nama Mamak
Kepala Waris dan atau anggota kaum, beberapa diantaranya ada yang dilakukan pembagian
hak atas antara kaum tersebut dengan menggunakan Akta Pembagian Hak Bersama oleh
kaum tersebut ke anggota kaumnya.
Berdasarkan uraian tersebut, timbullah sebuah polemik mengenai kedudukan tanah
ulayat setelah dibagi-bagi kepada anggota kaum. Sehingga, penulis tertarik untuk
melakukan sebuah penelitian mengenai : “Kedudukan Tanah Ulayat Kaum Menjadi Hak
Milik Individu Anggota Kaum Akibat Pembagian Hak Bersama Di Nagari Kasang.”.
Rumusan Masalah yang diangkat yaitu: 1. Bagaimana proses terjadinya peralihan hak ulayat
kaum menjadi hak milik individu di Nagari Kasang. 2. Bagaimana akibat dari pembagian
hak bersama setelah menjadi hak milik individu. Tujuan dari penulisan ini yaitu: a. Untuk
mengetahui proses terjadinya peralihan hak ulayat kaum menjadi hak milik individu di
Nagari Kasang. b. Untuk mengetahui akibat dari pembagian hak bersama setelah menjadi
hak individu.
METODE PENELITIAN
Metode pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebuah metode
pendekatan yang bersifat yuridis empiris. Yang dimaksud dengan penelitian yuridis empiris
adalah penelitian hukum mengenai pemberlakuan atau implementasi ketentuan hukum
normatif sesuai dengan kenyataan atau fakta yang terjadi dalam masyarakat.6 Pendekatan
yuridis empiris ini dimaksudkan untuk melakukan penjelasan atas masalah yang diteliti
dengan hasil penelitian yang diperoleh dalam hubungan dengan aspek hukum dan realita
yang terjadi menyangkut penegakan hukum terhadap Notaris yang melanggar UUJN.
4
Chairil Anwar, 1997, Hukum Adat Minangkabau, Rieneka Cipta, Jakarta, hlm. 1
5
A.A. Navis, 1984, Alam Takambang Jadi Guru: Adat Kebudayaan Minangkabau, Grafiti Press, Jakarta, hlm.
160.
6
Abdulkadir Muhammad, 2006, Hukum dan Penelitian Hukum, Citra Aditya Bakti, Bandung, hlm. 30.
Page 77
Volume 9, Issue 1, April 2025 e-ISSN: 2579-4914 | p-ISSN: 2579-4701
Sifat penelitian yang digunakan adalah deskriptif yaitu menggambarkan keadaan dari
objek yang diteliti dan sejumlah faktor-faktor yang mempengaruhi data-data yang diperoleh
itu dikumpulkan, disusun, dijelaskan, kemudian dianalisis. Jenis data yang digunakan yaitu:
a. Data Primer
Data primer yaitu data yang dibuat oleh peneliti untuk maksud khusus menyelesaikan
permasalahan yang sedang ditanganinya. Data dikumpulkan sendiri oleh peneliti langsung
dari sumber pertama tempat penelitian dilakukan, yaitu di Nagari Kasang, Kabupaten
Padang Pariaman. Metode yang digunakan untuk pengumpulan data ini adalah dengan
cara wawancara secara mendalam (in depth interview) dan pengamatan (observation).
b. Data Sekunder
Data sekunder yaitu data yang dikumpulkan untuk maksud selain menyelesaikan masalah
yang sedang dihadapi. Data ini dapat ditemukan dengan cepat. Dalam penelitian ini yang
menjadi sumber data sekunder adalah buku, artikel, jurnal, serta internet yang berkaitan
dengan penelitian yang dilakukan.
Sumber data terdiri dua bentuk penelitian yang dilakukan yaitu: Librabry Research,
yaitu penelitian kepustakaan yang dilakukan di perpustakaan dan Field Research, yaitu
penelitian yang dilakukan berdasarkan kenyataan dan fakta yang terjadi dilapangan.
7
Hasil wawancara dengan Jasri Datuak Basa, Ketua Kerapatan Adat Nagari Kasang, pada tanggal 03 Juli
2024.
8
Hasil wawancara dengan Jasri Datuak Basa, Ketua Kerapatan Adat Nagari Kasang, pada tanggal 03 Juli
2024.
9
Hasil wawancara dengan Jasri Datuak Basa, Ketua Kerapatan Adat Nagari Kasang, pada tanggal 03 Juli
2024.
Page 78
Volume 9, Issue 1, April 2025 e-ISSN: 2579-4914 | p-ISSN: 2579-4701
adalah mempertahankan keutuhan tanah ulayat itu sendiri, sedangkan yang terjadi malah
sebaliknya, persetujuan KAN hanya dibutuhkan saat pendaftaran tanah pertama kali.
Selanjutnya fungsi KAN seakan-akan dihilangkan demi kepentingan tertentu.10
Sebagai contoh tanah ulayat kaum yang terletak di Korong Duku, tanah ulayat mana
dimiliki dan dikuasai oleh Norman Isamail, selaku Mamak Kepala Waris Kaum Suku Jambak
Korong Duku, Nagari Kasang Tanah ulayat kaum Norman Ismail (MKW) tersebut,
merupakan hasil Garapan kaum Jambak yang diwarisi secara turun temurun sejak awal
manaruko hutan belantara hingga saat ini, diwarisi dari Mamak ke Kemanakan seluas lebih
kurang 88.000 meter persegi bersama 10 orang anggota kaumnya.11 Pada tahun 2022,
penguasaan atas tanah ulayat kaum tersebut dilakukan pembagian hak atas tanah sebanyak 8
bagian kavling tanah untuk mamak kepala waris bersama-sama dengan anggota kaumnya,
yang mana pembagian tersebut disepakati secara lisan dengan rincian kesepakatan
mendapatkan tanah seluas 7.000 M2 (meter persegi) untuk bagian depan dan untuk bagian
belakang mendapatkan bagian tanah seluas 19.000 M2 (meter persegi) dan masih bersisa
sekitar 37.100 M2 (meter persegi).12
Sebelumnya, tanah ulayat Kaum Jambak tersebut dilakukan pendaftaran pertama kali
secara sporadik yang diwakilkan oleh Norman Ismail selaku MKW. Dimana pendaftaran
tanah pertama kali yang dilakukan secara sporadic ke kantor BPN khususnya Kantor BPN
Padang Pariaman harus menyiapkan syarat-syarat sebgai berikut, yaitu:
1. Permohonan;
2. Identitas para anggota kaum (KTP dan KK);
3. Ranji diketahui oleh Wali Nagari, ketua KAN, MKW, dan Penghulu Suku;
4. Surat pernyataan pemasangan tanda batas dan persetujuan pemilik yang berbatasan/
sepadan yang dinyatakan oleh MKW beserta anggota kaum dan pemilik yang berbatasan
sepadan utara, timur, barat, selatan dan diketahui oleh Wali Nagari;
5. Penguasaan fisik bidang tanah yang di tandatangani oleh para anggota kaum, MKW, 2
orang sebagai saksi, dan Diketahui oleh Penghulu Suku, KAN, Wali Nagari;
6. Surat keterangan dari Wali Nagari yang menyatakan tanah tersebut dikuasai oleh kaum
tersebut;
7. Surat pernyataan persetujuan kaum diketahui oleh Mamak Adat, MKW, Wali Nagari,
Ketua KAN;
8. Foto pancang beserta ploting gps;
9. Surat pernyataan pemasangan tanda batas;
10. Surat Pemberitahuan Pajak Terhutang Pajak Bumi dan Bangunan (SPPT PBB).
Proses pendaftaran tanah pertama kali yang dilakukan oleh kaum jambak tersebut
dimana syarat-syarat diatas diajukan oleh Norman Ismail sebagai MKW ke kantor BPN
Kabupaten Padang Pariaman. Pihak Kantor BPN Kabupaten Padang Pariaman melakukan
pemeriksaan dan validasi berkas tersebut, kemudian dikeluarkannya Surat Perintah Setor
(SPS) oleh Kantor BPN, setelah dilakukan pembayar terhadap SPS, Kemudian petugas ukur
melakukan pengukuran ke lapangan atas bidang tanah yang di mohon serta mengambil
koordinat bidang tanah tersebut, setelah itu kasi survey dan pemetaan mengeluarkan peta
bidang tanah tersebut atau disebut juga dengan Nomor Induk Bidang Tanah (NIB), kemudian
Petugas Kantor BPN mengeluarkan pengumuman atas bidang tanah yang dimohon selama
satu bulan, jika tidak ada gugatan terhadap bidang tanah tersebut maka petugas akan
10
Hasil wawancara dengan Jasri Datuak Basa, Ketua Kerapatan Adat Nagari Kasang, pada tanggal 03 Juli
2024.
11
Hasil wawancara dengan Norman Ismail, selaku Mamak Kepala Waris Kaum Suku Jambak Korong Duku
Nagari Kasang, pada tanggal 10 Juli 2024.
12
Hasil wawancara dengan Norman Ismail, selaku Mamak Kepala Waris Kaum Suku Jambak Korong Duku
Nagari Kasang, pada tanggal 10 Juli 2024
Page 79
Volume 9, Issue 1, April 2025 e-ISSN: 2579-4914 | p-ISSN: 2579-4701
13
Hasil wawancara dengan Norman Ismail, selaku Mamak Kepala Waris Kaum Suku Jambak Korong Duku
Nagari Kasang, pada tanggal 10 Juli 2024
14
Hasil wawancara dengan Norman Ismail, selaku Mamak Kepala Waris Kaum Suku Jambak Korong Duku
Nagari Kasang, pada tanggal 10 Juli 2024
Page 80
Volume 9, Issue 1, April 2025 e-ISSN: 2579-4914 | p-ISSN: 2579-4701
pemohon melakukan pembayaran terhadap SPS tersebut selanjutnya petugas ukur akan
melakukan pengukuran terhadap pancang bidang tanah yang sudah di pasang oleh pemohon
sesuai luas yang akan di pecah berdasarkan site plan. Kemudian pihak kantor BPN
melakukan proses penerbitan sertipikat hasil pemecahan bidang tanah tesebut.
Norman Ismail (MKW) menjelaskan, bahwa setelah pemecahan sertipikat tersebut,
maka dilakukanlah peralihan hak untuk diperuntukkan bagi masing-masing anggota kaum,
sesuai pilihan anggota kaum yang telah disepakati secara lisan sebelumnya.15 proses
peralihan hak dilakukan berdasarkan Akta Pembagian Hak Bersama disingkat APHB ke
masing-masing nama anggota kaum melalui Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) untuk
menjadi kepemilikan individu masing-masing anggota kaum.16 Bapak Norman Ismail sebagai
MKW membawa sertipikat-sertipikat tersebut untuk dilakukan pengalihan hak kepada para
anggota kaum dan Pejabat Pembuat Akta Tanah yang di tunjuk untuk melakukan pengurusan
dan membuat Akta Pembagian Hak Bersama serta melakukan proses pengurusan ke kantor
BPN Padang Pariaman yaitu Repi Seprizal, S.H., [Link].
Salah satu syarat dasar untuk bisa dibuatkan APHB oleh Pejabat Pembuat Akta Tanah
adalah harus adanya Ranji/Silsilah Kaum tersebut yang diketahui oleh Wali Nagari Kasang
dan adanya Surat Kesepakatan Kaum atas pembagian hak atas tanah ulayat kaum tersebut
yang ditandatangi oleh Mamak Kepala Waris dan seluruh anggota kaum dan juga diketahui
oleh Wali Nagari Kasang.17
Pemberlakuan APHB ini pada tanah ulayat kaum sama halnya dengan Akta Jual Beli
yang dibuat oleh PPAT, sebelum didaftarkan ke Badan Pertanahan Nasional, khususnya di
Kabupaten Padang Pariaman, PPAT harus menyiapkan data-data para pihak, antara lain:
1. Identitas para pihak (KTP pemegang hak atas sertipikat);
2. Ranji kaum;
3. Surat Kesepakatan Kaum;
4. Surat Pemberitahuan Pajak Terhutang Pajak Bumi dan Bangunan (SPPT PBB);
5. Sertipikat;
Setelah persyaratan tersebut terpenuhi, maka PPAT melakukan pengecekan sertipikat
tersebut ke sistem ceking online, untuk mengecek apakah sertipikat tersebut mengalami
gugatan, dijadikan jaminan suatu utang ataupun untuk penyesuaian luas dan data lainnya
sesuai dengan sertpikat yang tertulis. setelah pengecekan sertipikat dilakukan, maka para
pihak melakukan pengurusan dan pembayaran Bea Peralihan Hak Atas Tanah dan
Bangungan (BPHTB) ke Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Padang Pariaman, dan
masing-masing dari anggota kaum membayarkan Bea Peralihan Hak Atas Tanah dan
Bangungan (BPHTB) tersebut melalui Bank Nagari. Selanjutnya, melakukan pengurusan dan
membayar Pajak Penghasilan atas peralihan hak atas tanah dan bangunan yang selanjutnya
harus dilakukan validasi pajak oleh Pajak Pratama.18
Selanjutnya, syarat yang harus dipenuhi adalah melakukan pengurusan Zona Nilai
Tanah ke Badan Pertanahan Kabupaten Padang Pariaman guna pendaftaran peralihan hak
oleh PPAT. Setelah, seluruh syarat terpenuhi, maka APHB dibuat dan ditandatangani oleh
seluruh anggota kaum, saksi-saksi dan PPAT.19 Setelah lengkap, APHB akan didaftarkan
15
Hasil wawancara dengan Norman Ismail, selaku Mamak Kepala Waris Kaum Suku Jambak Korong Duku
Nagari Kasang, pada tanggal 10 Juli 2024.
16
Hasil wawancara dengan Norman Ismail, selaku Mamak Kepala Waris Kaum Suku Jambak Korong Duku
Nagari Kasang, pada tanggal 10 Juli 2024.
17
Hasil wawancara dengan Repi Seprizal, S.H., [Link], selaku Pejabat Pembuat Akta Tanah di Kabupaten
Padang Pariaman, pada tanggal 05 Juli 2024.
18
Hasil wawancara dengan Repi Seprizal, S.H., [Link], selaku Pejabat Pembuat Akta Tanah di Kabupaten
Padang Pariaman, pada tanggal 05 Juli 2024.
19
Hasil wawancara dengan Repi Seprizal, S.H., [Link], selaku Pejabat Pembuat Akta Tanah di Kabupaten
Padang Pariaman, pada tanggal 05 Juli 2024.
Page 81
Volume 9, Issue 1, April 2025 e-ISSN: 2579-4914 | p-ISSN: 2579-4701
oleh PPAT (jika dikuasakan) ataupun oleh pihak langsung ke BPN Padang Pariaman,
sehingga proses peralihan hak atas tanah ulayat tersebut dapat diproses. Setelah selesainya
proses peralihan hak yang dilakukan oleh Kantor BPN maka sertipikat tersebut terbit atas
nama individu masing-masing anggota kaum.20
Walaupun, APHB merupakan sarana atau alat untuk membagi hak atas tanah ulayat
kepada masing-masing anggota kaum, penulis berpendapat bahwa seharusnya keutuhan dan
kedudukan tanah ulayat dapat diperhatikan. Dengan adanya pembagian hak tersebut, jangan
semerta-merta menghilangkan hak ulayat dan mengubah status tanah ulayat kaum menjadi
tanah milik pribadi. Dalam permasalahan ini, Badan Pertanahan Nasional Kabupaten dan
Kerapatan Adat Nagari, khususnya Nagari Kasang membuat suatu kebijakkan dan adanya
edukasi lebih lanjut, demi menjaga keutuhan tanah ulayat di Nagari Kasang.
Dikaitkan dengan teori kepastian hukum menurut pendapat Sudikno Mertokusumo,
kepastian hukum pada dasarnya pelaksanaaan hukum sesuai dengan bunyinya sehingga
masyarakat dapat memastikan bahwa hukum dilaksanakan. Hukum bertujuan untuk
menjamin keadilan dan memberikan kepastian hukum dalam masyarakat.
Kemudian berangkat dari uraian tersebut dapat juga disimpulkan adanya perbedaan
dalam pengaturan terkait tanah adat yang diatur oleh hukum yang berlaku di tengah-tengah
masyarakat Minangkabau dengan hukum positif Indonesia sehingga membuat menurunnya
eksistensi hak ulayat di Minangkabau di karenakan tidak di terapkannya hukum adat dalam
proses peralihan hak pada tanah ulayat.
20
Hasil wawancara dengan Repi Seprizal, S.H., [Link], selaku Pejabat Pembuat Akta Tanah di Kabupaten
Padang Pariaman, pada tanggal 05 Juli 2024.
21
Hasil wawancara dengan Bapak Opia Rendra, Selaku Kepala Sub Bagian Penata Pertanahan Pertama Kantor
Pertanahan Kabupaten Padang Pariaman, pada tanggal 03 Juli 2024.
22
Hasil wawancara dengan Bapak Opia Rendra, Selaku Kepala Sub Bagian Penata Pertanahan Pertama Kantor
Pertanahan Kabupaten Padang Pariaman, pada tanggal 03 Juli 2024.
Page 82
Volume 9, Issue 1, April 2025 e-ISSN: 2579-4914 | p-ISSN: 2579-4701
hilangnya hak komunal terhadap tanah ulayat kaum tersebut. Apabila terjadinya suatu
peristiwa hukum terhadap anggota kaum tersebut mengakibatkan dilakukannya pewarisan
kepada anak-anak dari anggota kaum yang menerima pembagian hak bersama tersebut
termasuk pewarisan dari anggota kaum yang laki-laki, yang mana seharusnya dalam adat
Minangkabau yang bersifat materilinial mengharuskan pewarisan harus mengikuti garis
keturunan ibu.
Hal inilah, yang menjadi polemik mengenai kedudukan atas tanah ulayat, sehingga
dengan dilakukannya Pembagian Hak Bersama melalui PPAT setempat, status dan hak ulayat
menjadi hilang. Sedangkan, tanah tersebut bukanlah berasal dari harta bersama atau harta
pencarian suami istri. penulis berpendapat apabila tanah ulayat kaum yang telah dibagi
melalui APHB akan dilakukan peralihan hak kepada pihak lain harus tetap meminta
persetujuan kaum. Hal ini dimaksud untuk menjaga keberadaan tanah ulayat di Minangkabau,
dan hal ini seharusnya menjadi perhatian lebih lanjut oleh Kantor Pertanahan yang ada di
Sumatera Barat, khususnya yang ada di Kabupaten Padang Pariaman.
Apabila pemegang hak dari tanah ulayat kaum yang telah di bagi melalui pembagian
hak bersama meninggal dunia pewarisan seharusnya diturunkan kepada garis keturunan
perempuan untuk menjaga tanah ulayat kaum masih berada pada suku kaum tersebut, dan
apabila pemegang hak tidak memiliki garis keturunan perempuan maka pewarisan hak atas
tanah ulayat tersebut seharusnya kembali menjadi tanah ulayat kaum dan tidak diwariskan
kepada garis keturunan laki-laki, hal ini demi menjaga tanah ulayat kaum suatu suku tidak
jatuh ke suku lain.
Dan tanah-tanah ulayat kaum yang di bagikan kepada anggota kaum laki-laki dan saat
terjadinya peristiwa hukum (meninggal dunia) si anggota kaum yang mendapat bagian dari
pembagian hak bersama saat dilakukannya pewarisan harus dikembalikan menjadi hak
komunal kaum itu sendiri agar tidak hilangnya eksistensi dari tanah ulayat kaum dan/ atau
tidak beralihnya kepemilikan tanah ulayat suatu kaum kepada kaum lain. Sehingga eksistensi
tanah ulayat kaum itu tetap terjaga dan dapat terus dimanfaatkan untuk generasi selanjutnya.
Dikaitkan dengan teori living law bahwa hukum yang diberlakukan pada tanah ulayat
kaum yaitu hukum adat Minangkabau, sehingga proses peralihan dan pewarisan dari tanah
ulayat tersebut mengacu pada hukum adat Minangkabau, sehingga dapat mempertahankan
eksistensi tanah ulayat yang ada. Bagi Eugen Ehrlich perkembangan hukum berpusat pada
masyarakat itu sendiri, bukan pada pembentukan hukum oleh negara, putusan hakim, ataupun
pada pengembangan ilmu hukum. Eugen Ehrlich ingin menyampaikan bahwa masyarakat
merupakan sumber utama hukum. Hukum tidak dapat dilepaskan dari masyarakatnya.
Dengan dasar tersebut, Eugen Ehrlich menyatakan bahwa hukum yang hidup the living law
adalah hukum yang mendominasi kehidupan itu sendiri walaupun belum dimasukkan
kedalam proposisi hukum.23
KESIMPULAN
Proses pembagian hak bersama pada tanah ulayat kaum yang terjadi di nagari kasang
yaitu tanah ulayat kaum suku Jambak dimana tanah tersebut telah bersertipikat tercatat atas
nama Mamak Kepala Waris (MKW) dan 10 anggota kaum yang mana tanah tersebut
dilakukan pembagian hak bersama melalui Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) dengan
menggunakan Akta Pembagian Hak Bersama. Proses yang dilakukan pertama kali yaitu
pemecahan dilakukan sesuai kesepakatan yang telah dilakukan oleh para anggota kaum
sehingga mendapatkan bagian kavlingan tanah sesuai dengan kesepakatan, barulah kemudian
dilakukan pembagian hak bersama melalui Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) dengan
syarat adanya ranji kaum, dan surat kesepakatan yang di tandatangani oleh MKW dan seluruh
23
Eugen Ehrlich, Fundamental Principles of The Sociology of Law, Walter L Moll Trans, 1936, hlm. 137.
Page 83
Volume 9, Issue 1, April 2025 e-ISSN: 2579-4914 | p-ISSN: 2579-4701
anggota kaum serta diketahui oleh Wali Nagari Kasang kemudian dibuatkan Akta Pembagian
Hak Bersama oleh PPAT kemudian diberikan ke Kantor BPN Padang Pariaman untuk
dilakukan proses peralihan hak.
Akibat dari Pembagian Hak Bersama setelah menjadi Hak Individu yang dimana hak
tanah ulayat kaum yang sifatnya komunal menjadi hak individu sehingga pihak yang telah
mendapatkan bagian dari tanah ulayat melalui pembagian hak bersama bebas memperalihkan
tanah tersebut tanpa harus meminta persetujuan anggota kaum lain karena tanah tersebut telah
menjadi milik pribadi, dan begitu pula apabila terjadi pewarisan maka pewarisan tersebut
juga turun kepada anak dari pemegang hak sertipikat tersebut walaupun anggota kaum dari
garis laki-laki yang mendapatkan hak atas tanah ulayat kaum tersebut. Namun di teliih dari
hukum adat bagaimanapun ketentuan hukum adat terutama pewarisan tetap berada pada
ketentuan waris adat dimana waris adat tidak boleh keluar suku dalam artian hanya diwarisi
pada anak-anak dari garis Perempuan tidak dibagikan pada garis keturunan anak laki-laki.
DAFTAR PUSTAKA
A. Suriyaman Mustari Pide, 2014, Hukum Adat Dahulu, Kini, dan Akan Datang,
Prenadamedia Group, Jakarta
A Mangunhardjana, 2016, Isme-Isme dalam Etika dari A sampai Z, Kanisius, Yogyakarta
A.A. Navis, 1984, Alam Takambang Jadi Guru: Adat Kebudayaan Minangkabau, Grafiti
Press, Jakarta
Abdulkadir Muhammad, 2006, Hukum dan Penelitian Hukum, Citra Aditya Bakti, Bandung
Achmad Ali, 2008, Menguak Tabir Hukum, Edisi Kedua, Ghalia Indonesia, Bogor
Arief Sidharta, 2009, Refleksi tentang Struktur Ilmu Hukum Cetakan Kedua, Manda Maju,
Bandung
Bambang Sunggono, 1998, Metodologi Penelitian Hukum, Raja Grafindo Persada, Jakarta
Chairil Anwar, 1997, Hukum Adat Minangkabau, Rieneka Cipta, Jakarta
Cholid Narbuko dan Abu Achmadi, 2005, Metodologi Penelitian, PT. Bumi Aksara, Jakarta
Christine, S.T Kansil, dkk, 2009, Kamus Istilah Hukum, Jakarta
Dominikus Rato, 2010, Filsafat Hukum Mencari: Memahami dan Memahami Hukum,
Laksbang Pressindo, Yogyakarta
Endang Suhendar, 2002, Menuju Keadilan Agraria, Yayasan Akatiga, Bandung
G. Kertasapoetra dkk, Hukum Tanah, Jaminan Undang-Undang Pokok Agraria Bagi
Keberhasilan Pendayagunaan Tanah, Bina Aksara, Jakarta
J. Salindeho, 1987, Masalah Tanah dalam Pembangunan, Sinar Grafika, Jakarta
Jules L. Coleman dan Leiter Brian, 2010, A Companion To Philosophy and Legal
Theory, Blackwell Publishing, Oxford
Kurnia Warman, 1999, Konversi Hak Atas Tanah Ganggam Bauntuak Menurut UUPA di
Sumatera Barat, Thesis, Universitas Gadjah Mada, Jogyakarta
Kurnia Warman, 2010, Hukum Agraria Dalam Masyarakat Majemuk: Dinamika Interaksi
Hukum Adat dan Hukum Negara di Sumatera Barat, Huma, Jakarta
Kurnia Warman, Ganggam Bauntuak Menjadi Hak Milik: Penyimpangan Konversi Hak
Tanah di Sumatera Barat, Andalas University Press, Padang
Lilik Rasyidi, 2010, Filsafat Hukum, Sinar Grafika, Jakarta
Maria SW, Soemardjono, 2001, Kebijakan Tanah: Antara Regulasi dan
Implementasi, Kompas, Jakarta
Masri Singarimbun dan Sofian Efendi, 2008, Metode Penelitian Survei, [Link] LP3ES,
Jakarta
Nashriana, 2011, Perlindungan Hukum Pidana bagi Anak di Indonesia, Raja
Grafindo Persada, Jakarta
Otje Salman, 2001, Rekonseptualisasi Hukum Adat Kontemporer, PT Alumni, Bandung
Page 84
Volume 9, Issue 1, April 2025 e-ISSN: 2579-4914 | p-ISSN: 2579-4701
Page 85