STRUKTUR BETON I
DISUSUN OLEH :
KELOMPOK
1. LAUSIDIUS LUIZ MITUDUAN (12122201230082)
2. MACHELLE EDWARD MELSASAIL (12122201230070)
3. BILLY SALAKAY (12122201230076)
4. GABRIEL. A. DAHAKLORY (12122201230073)
5. RATRIK KELMASKOSU (12122201230051)
6. CRENDY ELWARIN (12122201230077)
7. GIAN EDGAR KIPUW (12122201230081)
8. ELSON LETELAY (12122201230015)
9. ELISHABETH WATTIMURY (12122201230083)
Kelas B
PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KRISTEN MALUKU INDONESIA
2025
LEMBAR ASISTENSI
Nama kelompok
: Lausidius Luiz Mituduan (12122201230082)
: Machelle Edward Melsasail (12122201230070)
: Billy Salakay (12122201230076)
: Gabriel. A. Dahaklory (12122201230073)
: Patrik. Z. Kelmaskosu (12122201230051)
Judul Tugas : : Crendy Elwarin (12122201230077)
STRUKTUR BETON I : Gian Edgar Kipuw (12122201230081)
Dosen Pengampuh : : Elson Letelay (12122201230015)
V. Johannes, ST. MT : Elisabeth Wattimury (12122201230082)
No Hari/tanggal Catatan Paraf
No Hari/tanggal Catatan Paraf
BAB I
INFORMASI UMUM PERENCANAAN
Data Umum Bangunan
Fungsi gedung : Gedung Perkuliahan Fakultas Teknik
Lokasi : Ambon
(Universitas Kristen Indonesia Maluku).
Tinggi bangunan : 12 meter.
Jumlah lantai : 3 lantai.
Lebar bangunan : 21m
Panjang bangunan : 10 m
Luas bangunan : 210 m2.
Dinding luar : Dinding bata 1 batu.
Atap : Perisai
Pondasi : Foot Plate
Iformasi Teknis
Mutu Beton (fc) : 30 MPa
Mutu Baja (fy) : 280 MPa
Berat Jenis Beton Bertulang : 24 kN/m³
Berat Baja : 78,5 kN/m³
Berat Jenis Spesi : 0,21 kN/m²
Berat jenis Keramik : 0,22 kN/m²
Berat Plafond dan Penggantung : 0,18 kN/m²
Penutup Atap : 0,500 kN/m²
Dinding : 2,000 kN/m²
Selimut Beton : 40,00 mm
Beton Plat : 10,00 mm
Diameter Tulangan Utama : 16 mm
Diameter Tulangan Sengkang : 10 mm
Beban Hidup (qL) : 2,400 kN/m²
Koridor Diatas Lantai Pertama : 3,83 KN/m² (SNI 1727 – 2020)
Ruang Kelas : 1,92 KN/m² (SNI 1727 – 2020)
Peraturan-Peraturan Yang Dipakai
Peraturan Beton Indonesia 1971, selanjutnya disebut PBI 71.
Peraturan Pembebanan Indonesia Untuk Gedung 1983, selanjutnya disebut
PPIUG.
Tata Cara Perhitungan Struktur Beton untuk Bangunan Gedung
SKSNI T-15.1991-03, selanjutnya disebut SKSNI.
Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Bangunan Gedung SNI 03-
1726-2002
PPPURG 1987
SNI 03 -1726 -2019
SNI 2847 - 2013
Pembebanan
Berat sendiri beton Bertulang = 2400 kg/m³
Beban Hidup Atap =100 kg/m³
Beban Hidup Lantai = 250 kg/m³
Beban Gempa : Sesuai Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk
Bangunan Gedung SNI 03-1726-2002
Beban Angin : Sesuai Peraturan Pembebanan Indonesia Untuk Gedung 1983
Data Bahan
Mutu beton : fc = 30 Mpa.
Mutu tulangan baja :- balok, kolom,dan pelat, fy = 280 MPa
PERHITUNGAN
BAB II
PRELIMINARY DESIGN
II.1. PERENCANAAN AWAL BALOK
Tabel II.1. Estimasi Awal Balok
Tinggi balok akan ditentukan berdasarkan SNI 2847:2019 Tabel [Link]. dengan kondisi
perlekatan sederhana, yaitu : hMin =
Lebar balok akan ditentukan berdasarkan SNI 2847:2019 Pasal [Link]. , yaitu :
bmin =
PANJANG HESTIMASI B H
BESTIMA
BALOK L MAKS (mm) SI DIPAKAI DIPAKAI
Mm (mm) (mm) (mm)
L/21 L/16 2/3 x H
Balok Induk
Arah X 9000 428,57 - 300 300 450
Balok Induk
Arah Y 8000 380,95 - 267 300 400
Balok Anak
Arah Y 4000 - 266.67 233 250 350
Keterangan :
L MAKS = Panjang balok maksimum dari tumpuan yang satu ke tumpuan yang lain.
H ESTIMASI = Perkiraan tinggi balok.
B ESTIMASI = Perkiraan lebar balok.
B DIPAKAI = Lebar balok yang dipakai.
H DIPAKAI = Tinggi balok yang dipakai.
Balok Induk arah X dan Y yang direncanakan adalah BI dan BII dengan bentang 9m.
Panjang Blok = 3 𝑚 = 900 𝑐𝑚
hMin = = = 428,57mm dipakai 450 mm
bMin = = 450 = 300 mm dipakai 300 mm
Maka dipakai Dimensi Balok 450 mm x 300 mm
Tabel II.2. Pengecekan Estimasi Awal Balok Berdasarkan SNI-2847 2019 Pasal 18.6.1
B H d Ln min 4d Syarat Yang Harus Dipenuhi
Balok LT 2 - Atp
(mm) (mm) (mm) (mm) (mm) B > 250 mm 0,3h mm Ln > 4d
Balok Induk Arah X 300 450 392 8220 1568 (OK) 135 5,24
Balok Induk Arah Y 300 400 350 7280 1400 (OK) 120 20,8
Balok Anak 250 350 250 3280 1000 (OK) 105 13,1
Maka dimensi Balok yang digunakan =
Balok Induk Arah X 300 x 450 mm
Balok Induk Arah Y 300 x 400 mm
Balok Anak 250 x 350 mm
PERHITUNGAN
Keterangan :
B = Lebar balok yang dipakai.
H = Tinggi balok yang dipakai.
D = Tinggi efektif balok yang dipakai.
Ln min. = Panjang balok bersih terkecil dari tumpuan yang satu ke tumpuan yang lain.
II.2. PERENCANAAN AWAL PLAT
Pelat Dua Arah
Pelat yang akan direncanakan yaitu pelat A dengan ukuran 4 m x 3 m merupakan pelat dua arah
Ln = 300 – ½(45 + 45 ) = 255 Cm
Sn = 400 – ½(40 +45 ) = 362,5 Cm
ß= = 0,7 < 2 sama dengan Pelat 2 Arah
Tebal Minimum untuk pelat 2 arah ditentukan berdasarkan pada SNI 2847:2019 Pasal
[Link]. Tugas akhir ini menggunakan 𝑓𝑦 = 280 𝑀𝑃𝑎 dan pelat A merupakan panel interior
sehingga digunakan tebal minimum pelat, antara lain:
T𝑒𝑏𝑎𝑙 𝑀𝑖𝑛𝑖𝑚𝑢𝑚 (𝑡𝑝𝑚) = 𝐿𝑛/33 = 300/33 = 9,09 mm
menentukan tebal minimum pelat dua arah jika terdapat balok di semua sisi pelat dapat
dihitung dengan berdasarkan SNI 2847:2019 Pasal [Link].
Penampang Balok Sisi Atas
Balok sisi atas merupakan balok interior dan mempunyai penampang, sebagai berikut :
b = 40 𝑐𝑚
ℎ = 60 𝑐𝑚
Sehingga, 𝑏𝑒 yang diperoleh menurut SNI 2847:2019 Pasal [Link], yaitu :
be = b + (2 x h) ≤ b + ( 8 x tpm)
be = 40 + (2 x 60) ≤ 30 + ( 8 x 0,09Cm
be = 30 + (2 x 60) ≤ 40 + ( 0,09) Cm
be = 160 ≤ 112,73 Cm
be = 160cm
𝑏𝑒 𝑡𝑝𝑚 𝑡𝑝𝑚 𝑡𝑝𝑚 𝑏𝑒 𝑡𝑝𝑚
[ ( ) ( ) (𝑏 )( ) ]
𝑏
𝑏𝑒 𝑡𝑝𝑚
(𝑏 )( )
[ ( ) ( ) ( )( )]
( )( )
K = 3,09
Momen inersia balok dan juga pelat dapat diperhitungkan dan ditentukan, sebagai berikut :
Ib = 𝑏
Ib = = 2226144 cm⁴
Jarak balok sejajar yang bersebelahan diketahui, sebagai berikut :
Arah x = 300 cm
Arah y = 400 cm
Ip = (Jarak Balok x + Jarak Balok y) x tpm³
Ip = (300 + 400) x 0,09³ = 21913,3 cm⁴
αAtas = Ib/Ip = = 102
Penampang Balok Sisi Bawah
Balok sisi atas merupakan balok interior dan mempunyai penampang, sebagai berikut :
b = 40 𝑐𝑚
= 60 𝑐𝑚
Sehingga, 𝑏𝑒 yang diperoleh menurut SNI 2847:2019 Pasal [Link], yaitu :
be = b + (2 x h) ≤ b + ( 8 x tpm)
be = 30 + (2 x 60) ≤ 40 + ( 8 x 0,09) Cm
be = 30 + (2 x 60) ≤ 40 + ( 96,97) Cm
be = 160 ≤ 96,97 Cm
be = 160 Cm
𝑏𝑒 𝑡𝑝𝑚 𝑡𝑝𝑚 𝑡𝑝𝑚 𝑏𝑒 𝑡𝑝𝑚
[ ( ) ( ) (𝑏 )( ) ]
𝑏
𝑏𝑒 𝑡𝑝𝑚
(𝑏 )( )
[ ( ) ( ) ( )( ) ]
( )( )
K = 3,09
Momen inersia balok dan juga pelat dapat diperhitungkan dan ditentukan, sebagai berikut :
Ib = 𝑏
Ib = = 2226144cm⁴
Jarak balok sejajar yang bersebelahan diketahui, sebagai berikut :
Arah x = 300 cm
Arah y = 400 cm
Ip = (Jarak Balok x + Jarak Balok y) x tpm³
Ip = (300 + 400) x 9,09 = 21913,3 cm⁴
αAtas = Ib/Ip = = 102
Penampang Balok Sisi Kanan
Balok sisi atas merupakan balok interior dan mempunyai penampang, sebagai berikut :
b = 40 𝑐𝑚
= 60 𝑐𝑚
Sehingga, 𝑏𝑒 yang diperoleh menurut SNI 2847:2019 Pasal [Link], yaitu :
be = b + (2 x h) ≤ b + ( 8 x tpm)
be = 40 + (2 x 45) ≤ 40+ ( 8 x 0,09) Cm
be = 40 + (2 x 45) ≤ 40+ ( 72,73) Cm
be = 160 ≤ 112,73Cm
be = 160 Cm
𝑏𝑒 𝑡𝑝𝑚 𝑡𝑝𝑚 𝑡𝑝𝑚 𝑏𝑒 𝑡𝑝𝑚
[ ( ) ( ) ( )( ) ]
𝑏 𝑏
𝑏𝑒 𝑡𝑝𝑚
(𝑏 )( )
[ ( ) ( ) ( )( ) ]
( )( )
K = 3,09
Ib= k x b x h³
Ib= 3,09 x 40 x 60³ = 2226144 cm⁴
Arah x = 300 cm
Arah y = 400 cm
Ip = (Jarak Balok x + Jarak Balok y) x tpm³
Ip= (300 + 400) x 0,09 = 21913,3 cm⁴
Αkiri/kanan = Ib/Ip = = 0,01
Penampang Balok Sisi Kiri
Balok sisi atas merupakan balok interior dan mempunyai penampang, sebagai berikut :
b = 40 𝑐𝑚
= 60 𝑐𝑚
Sehingga, 𝑏𝑒 yang diperoleh menurut SNI 2847:2019 Pasal [Link], yaitu :
be = b + (2 x h) ≤ b + ( 8 x tpm)
be = 40 + (2 x 60) ≤ 40 + ( 8 x 0,09) Cm
be = 40 + (2 x 60) ≤ 40+ ( 72,73) Cm
be = 160 ≤ 112,73 Cm
be = 160 Cm
𝑏𝑒 𝑡𝑝𝑚 𝑡𝑝𝑚 𝑡𝑝𝑚 𝑏𝑒 𝑡𝑝𝑚
[ ( ) ( ) (𝑏 )( ) ]
𝑏
𝑏𝑒 𝑡𝑝𝑚
(𝑏 )( )
[ ( ) ( ) ( )( ) ]
( )( )
K = 3,09
Ib= k x b x h³
Ib= 3,09 x 40 x 60³ = 2226144 cm⁴
Arah x = 300 cm
Arah y = 400 cm
Ip = (Jarak Balok x + Jarak Balok y) x tpm³
Ip = (300 + 400) x 0,09³ = 21913,3 cm⁴
Αkiri/kanan = Ib/Ip = = 0,01
Menentukan nilai α untuk semua sisi tebal plat minimum dapat diuraikan sebagai berikut
αfm =
αfm =
αfm >2
=8,33 mm
Maka Tebal Plat yang Dipakai 120 mm
II.3. Perencanaan Awal Kolom
Dicoba dimensi kolom = 400 x 400
Beban mati total = 18972 kg/lantai (tributay area )dengan rincian sebagai berikut :
Plat : 4,5 x 4 x 0,12 x 2400 = 5184 kg/m²
Balok induk –X : 4,5 x 0,4 x 0,60 x 2400 = 2592 kg/m²
Balok induk –Y : 4 x 0,4 x 0,60 x 2400 = 2304 kg/m²
Kolom : 0,4 x 0,4 x 4 x 2400 = 1536 kg/m²
Spesi dan keramik : ( 21 + 22 ) x 4,5 x 4 = 5544 kg/m²
Plafon : ( 11+ 7 ) x 4,5 x 4 = 1386 kg/m²
Dinding : 200 x 2 x ( 4,5 + 4 ) = 7200 kg/m²
( Berdasarkan PPIUG table 2.1)
Beban hidup dengan rincian sebagai berikut :
Beban hidup = 250 x 4,5 x 4 = 4500 kg/lantai
( berdasarkan PPIUG Tabel 3.1 )
Jumlah lantai = 3 = beban total = 3 x ( 4500 + 28518 )
= 99054
A gross = beban ultimate/(fc/3) = 99054 / ( 30/3 ) = 9905,4 mm²
Sisi kolom (A gross )⁰`⁵ =
= 99,526 < 400 mm
Jadi kolom dengan dimensi 400 x 400 mm² dapat dipakai (OK)
BAB III
PERENCANAAN KONSTRUKSI PLAT
A. Perencanaan Plat Lantai
1. Denah plat lantai
Plat lantai pada gedung direncanakan menggunakan beton bertulang
dengan sistem 2 arah (x dan y) atau 4 tumpuan sejajar. Plat lantai dianggap
terjepit penuh pada keempat sisinya. Tebal plat direncanakan 120 mm. Denah
plat lantai dapat dilihat pada Gambar di bawah.
Gambar VI.1 Denah plat lantai 1
109
110
Gambar VI.2 Denah plat lantai 2 s/d lantai 6
2. Data-data perencanaan
Data-data yang diperlukan untuk pembebanan plat :
a). Mutu beton (fc’) = 30 MPa
b). Mutu baja (fy) = 240 MPa
c). Tebal plat lantai (120 mm) = 0,12 m
d). Berat jenis beton = 25 kN/m2 (PPPURG 1987)
e). Berat plafond dan penggantung = 0,18 kN/m2 (PPPURG 1987)
f). Berat jenis spesi = 21 kN/m3 (PPPURG 1987)
g). Beban hidup (qL)
- Ruang kelas = 1,92 kN/m2 (SNI 1727:2013)
- Koridor lantai pertama = 4,79 kN/m2 (SNI 1727:2013)
- Koridor diatas lantai pertama = 3,83 kN/m2 (SNI 1727:2013)
111
112
3. Analisis pembebanan plat
Beban pada plat lantai dihitung sebagai berikut :
a). Beban mati
qD plat (120 mm) = 0,12.25 = 3,00 kN/m2
qD plafond dan penggantung = 0,18 kN/m2
qD keramik (1 cm) = 0,01.24 = 0,24 kN/m2
qD spesi (3 cm) = 0,03.21 = 0,63 kN/m2
qD total = 4,05 kN/m2
b). Beban hidup (qL) = 1,92 kN/m2
c). Beban perlu (qU) = 1,[Link] + 1,[Link] = 7,932 kN/m2
4. Perhitungan momen plat lantai
Perhitungan analisa mekanika (momen) plat digunakan metode koefisien
plat agar lebih mudah. Contoh perhitungan dilakukan pada plat tipe A1 di
bawah.
Rasio bentang panjang dan pendek plat lantai tipe A1, l y/lx = 4/4 = 1. Dengan
beban perlu qU = 7,932 kN/m2, maka momen perlu plat lantai :
Momen perlu, M = 0,[Link].lx2
M : Mlx(+) = 0,001.21.7,932.42 = 2,665 kN.m
M : Mly(+) = 0,001.21.7,932.42 = 2,665 kN.m
M : Mtx(-) = 0,001.52.7,932 42 = 6,599 kN.m
M : Mty(-) = 0,001.52.7,932.42 = 6.599 kN.m
Nilai Perhitungan momen pada tipe plat A2, A3, B1, C1, C2, D1 dan D2
dilakukan seperti diatas. Hasil dari hitungan dapat dilihat pada Tabel VI.1.
Tabel VI.1. Momen plat lantai.
M = 0,[Link].l 2
x
Tipe plat Iy/Ix C
(kN.m)
(+)
Clx= 21 Mlx = 4,208
Cly= 21 Ml (+) = 4,208
y
1,0 (-)
Ctx= 52 Mt
x
= 10,420
(-)
Cty= 52 Mty = 10,420
113
(Lanjutan)
M = 0,[Link].l 2
x
Tipe plat Iy/Ix C
(kN.m)
(+)
Clx= 21 Mlx = 3,692
Cly= 21 Ml (+) = 3,692
y
1,0 (-)
Ctx= 52 Mt
x
= 9,142
(-)
Cty= 52 Mty = 9,142
(+)
Clx= 41 Mlx = 1,301
Cly= 12 Ml (+) = 0,381
y
2,00 (-)
Ctx= 83 Mt
x
= 2,633
(-)
Cty= 57 Mty = 1,808
(+)
Clx= 42 Mlx = 0,757
Cly= 8 Ml (+) = 0,144
y
5,00 (-)
Ctx= 83 Mt
x
= 1,497
(-)
Cty= 57 Mty = 1,028
(+)
Clx= 42 Mlx = 0,665
Cly= 8 Ml (+) = 0,127
y
5,00 (-)
Ctx= 83 Mt
x
= 1,313
(-)
Cty= 57 Mty = 0,902
(+)
Clx= 37 Mlx = 2,896
Cly= 16 Ml (+) = 1,252
y
1,60 (-)
Ctx= 79 Mt
x
= 6,184
(-)
Cty= 57 Mty = 4,462
(+)
Clx= 37 Mlx = 2,541
Cly= 16 Ml (+) = 1,099
y
1,60 (-)
Ctx= 79 Mt
x
= 5,425
(-)
Cty= 57 Mty = 3,914
( Sumber : hasil hitungan )
114
5. Penulangan plat lantai
a). Lapangan pada arah x
(+)
M lx = 2,665 kN.m = 2,665.106 Nmm
Data perencanaan :
b = 1000 mm
h = 120 mm
fc’ = 30 MPa
fy = 240 MPa
D = 10 mm
ds = 20 + (10/2) = 25 mm
d = 120 – 25 = 95 mm
115
116
117
118
119