0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2K tayangan13 halaman

RPP Pembelajaran Deep Learning Digital

Dokumen ini menjelaskan komponen modul ajar dan RPP untuk pembelajaran Deep Learning, yang terdiri dari identifikasi peserta didik, desain pembelajaran, pengalaman belajar, dan asesmen pembelajaran. Setiap bagian mencakup elemen penting seperti capaian pembelajaran, tujuan, praktik pedagogis, dan metode asesmen yang sesuai dengan Kurikulum Merdeka. Selain itu, taksonomi kognitif SOLO juga dibahas sebagai alat untuk mengevaluasi tingkat pemahaman siswa dalam proses pembelajaran.

Diunggah oleh

Khusnul Hadi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2K tayangan13 halaman

RPP Pembelajaran Deep Learning Digital

Dokumen ini menjelaskan komponen modul ajar dan RPP untuk pembelajaran Deep Learning, yang terdiri dari identifikasi peserta didik, desain pembelajaran, pengalaman belajar, dan asesmen pembelajaran. Setiap bagian mencakup elemen penting seperti capaian pembelajaran, tujuan, praktik pedagogis, dan metode asesmen yang sesuai dengan Kurikulum Merdeka. Selain itu, taksonomi kognitif SOLO juga dibahas sebagai alat untuk mengevaluasi tingkat pemahaman siswa dalam proses pembelajaran.

Diunggah oleh

Khusnul Hadi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOC, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Komponen Modul Ajar/RPP Deep Learning

1. IDENTIFIKASI
• Peserta Didik
Mengidentifikasi kesiapan belajar siswa, termasuk: Pengetahuan a
 Pengetahuan awal
 Minat belajar
 Latar belakang peserta didik
 Kebutuhan belajar
 Aspek lainnya yang relevan
• Materi Pelajaran
Menganalisis materi pelajaran meliputi:
 Jenis pengetahuan yang dicapai
 Relevansi dengan kehidupan nyata
 Tingkat kesulitan
 Struktur materi
 Integrasi nilai dan karakter
• Dimensi Profil Lulusan
Menentukan dimensi profil lulusan yang akan ditumbuhkan melalui pembelajaran.

2. DESAIN PEMBELAJARAN
• Capaian Pembelajaran (CP)
Merujuk pada capaian pembelajaran sesuai fase peserta didik.
• Lintas Disiplin Ilmu
Menyebutkan mata pelajaran atau disiplin ilmu lain yang relevan.
• Tujuan Pembelajaran
Merumuskan kompetensi yang ingin dicapai, mencakup:
 Subjek belajar
 Pengetahuan, keterampilan, atau sikap
 Kata kerja operasional yang terukur
 Konteks atau kondisi demonstrasi
 Tingkat pencapaian sebagai indikator keberhasilan
• Topik Pembelajaran
Topik utama yang relevan dengan capaian dan tujuan pembelajaran.
• Praktik Pedagogis
Strategi/metode/model yang digunakan, seperti:
 Pembelajaran berbasis masalah
 Pembelajaran berbasis proyek
 Inkuiri
 Kontekstual, dll.
• Lingkungan Pembelajaran
Menggabungkan ruang fisik, ruang virtual, dan budaya belajar. Contoh:
 Sekolah
 Dukungan guru untuk meningkatkan keaktifan
• Pemanfaatan Digital
Teknologi yang digunakan untuk mendukung pembelajaran. Contoh:
 Perpustakaan digital
 Forum diskusi daring
 Penilaian daring
• Kemitraan Pembelajaran
Kolaborasi dengan berbagai pihak, seperti:
 Guru lain
 Orang tua
 Komunitas
 Dunia usaha/industri
 Institusi atau mitra profesional

3. PENGALAMAN BELAJAR
Langkah-Langkah Pembelajaran
• AWAL:
Menggunakan prinsip: berkesadaran, bermakna, menggembirakan. Kegiatan awal meliputi:
 Orientasi
 Apersepsi
 Motivasi
• INTI:
Siswa aktif dalam:
 Memahami (prinsip: berkesadaran, bermakna, menggembirakan)
 Mengaplikasi (prinsip: berkesadaran, bermakna, menggembirakan)
 Merefleksi (prinsip: berkesadaran, bermakna, menggembirakan)
• PENUTUP:
Kegiatan akhir pembelajaran meliputi:
 Umpan balik
 Menyimpulkan pembelajaran
 Merancang kegiatan selanjutnya

4. ASESMEN PEMBELAJARAN
Asesmen dilakukan secara menyeluruh pada berbagai tahap:
• Asesmen Awal
Untuk mengetahui kesiapan dan pengetahuan awal peserta didik.
• Asesmen Proses
Untuk memantau keterlibatan dan pemahaman selama proses belajar.
• Asesmen Akhir
Untuk menilai capaian pembelajaran dan kompetensi siswa.
• Metode Asesmen
Disesuaikan dengan assessment as learning, for learning, dan of learning. Contoh:
 Tes tertulis/lisan
 Penilaian proyek/produk
 Observasi
 Portofolio
 Peer/Self Assessment
 Penilaian berbasis kelas
Secara garis besar, perencanaan pembelajaran mendalam dibagi ke dalam empat bagian utama, yaitu: 1)
Identifikasi, 2) Desain Pembelajaran, 3) Pengalaman Belajar, dan 4) Asesmen. Di antara bagian-bagian
tersebut, beberapa komponen yang ditandai berikut ini wajib ada, karena mengacu pada Standar Proses
dan mempertimbangkan karakteristik pembelajaran mendalam itu sendiri.

Platform belajar online untuk siswa

Tahap Identifikasi

Pada tahap awal ini, guru diminta untuk mengidentifikasi kesiapan peserta didik. Hal ini penting karena
proses pembelajaran mendalam tidak bisa dilakukan tanpa memahami konteks dan latar belakang siswa.

Guru perlu melihat tingkat kesulitan materi, pengetahuan awal siswa, serta aspek-aspek penting dari
materi yang akan disampaikan. Kajian awal ini akan membantu menentukan fokus pembelajaran dan
memastikan bahwa materi yang dipilih memang relevan dan bermakna.

Guru online

Platform belajar online untuk siswa

Selanjutnya, guru juga menentukan dimensi profil lulusan yang ingin dikembangkan melalui
pembelajaran. Dari delapan dimensi yang ada, guru cukup memilih dimensi-dimensi yang berkaitan
langsung dengan kegiatan pembelajaran yang akan dilaksanakan.

Desain Pembelajaran

Bagian kedua ini berkaitan dengan penyusunan capaian pembelajaran (CP), yang menjadi bagian utama
dalam Kurikulum Merdeka. Jika memungkinkan, guru juga dapat menuliskan topik pembelajaran yang
kontekstual dan relevan. Bagian ini bersifat opsional, namun sangat disarankan karena dapat
meningkatkan relevansi dan keterlibatan siswa dalam pembelajaran.

Software manajemen sekolah

Platform belajar online untuk siswa

Hal menarik lainnya dalam tahap desain adalah lintas disiplin ilmu dimana guru mengaitkan topik ajar
dengan disiplin ilmu lain. Misalnya, dalam pembelajaran Pendidikan mengenai topik keragaman, guru
dapat mengaitkannya dengan aspek Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial. Pendekatan lintas disiplin ini
memperkaya pemahaman siswa dan menunjukkan keterkaitan ilmu pengetahuan dengan kehidupan
nyata.

Tujuan pembelajaran juga harus dituliskan secara jelas. Tujuan ini menjadi inti dari proses pembelajaran
dan akan menjadi acuan dalam proses asesmen. Bila diperlukan, indikator tujuan pembelajaran juga
dapat dimasukkan untuk memperkuat arah penilaian.

Satu hal penting lainnya adalah menentukan kerangka pembelajaran:

 Praktik pedagogis

 Kemitraan pembelajaran
 Lingkungan pembelajaran

 Pemanfaatan teknologi digital

Keempat aspek ini menjadi ciri khas pembelajaran yang sesuai dengan pendekatan pembelajaran dalam
Kurikulum Merdeka.

Buku teks

Kursus pedagogi inovatif

Pengalaman Belajar

Pengalaman belajar dirancang berdasarkan prinsip berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan.


Prinsip utamanya bukan siswa tidak sekadar melakukan aktivitas, tetapi memastikan bahwa siswa
mengalami proses memahami, mengaplikasi, dan merefleksi.

 Memahami: Siswa dibimbing untuk mengerti konsep secara mendalam.

 Mengaplikasi: Siswa diajak menghubungkan konsep dengan situasi nyata atau menyelesaikan
masalah.

 Merefleksi: Siswa diajak melihat kembali proses belajar, makna yang didapat, dan keterkaitan
dengan diri mereka.

Proses ini mendorong pembelajaran aktif dan reflektif, bukan hanya aktivitas rutinitas yang kurang
bermakna.

Asesmen

Bagian akhir dari perencanaan adalah menyusun asesmen. Guru perlu menjelaskan secara jelas bentuk
asesmen yang digunakan di awal, proses, dan akhir pembelajaran. Penulisan bentuk asesmen cukup
dituliskan secara ringkas namun mencakup bagaimana asesmen itu mendukung tujuan pembelajaran
yang telah dirumuskan.

Taksonomi Kognitif SOLO dan Contoh Contohnya

28 Oktober, 2023 muhammad abdul ghofur PENDIDIKAN Leave a comment

Taksonomi Kognitif SOLO, yang merupakan singkatan dari “Structure of Observed Learning Outcomes,”
adalah sebuah kerangka kerja yang digunakan dalam pendidikan untuk mengkategorikan dan
menggambarkan tingkat pemahaman dan pemikiran siswa. Taksonomi SOLO dikembangkan oleh John B.
Biggs dan Kevin F. Collis pada tahun 1982 dan telah menjadi alat yang berguna dalam mengevaluasi
pencapaian belajar dan perencanaan pengajaran. Dalam tulisan ini, kita akan menjelaskan konsep dan
tingkatan Taksonomi Kognitif SOLO dan contoh conyohnya dalam pembelajaran.

Pengenalan ke Taksonomi Kognitif SOLO

Taksonomi Kognitif SOLO adalah sebuah model yang membantu pendidik dan penilai dalam memahami
tingkat pemahaman siswa dan tingkat kompleksitas tugas atau aktivitas belajar. Model ini berfokus pada
cara siswa memproses informasi dan bagaimana mereka berkembang dalam pemahaman konsep. SOLO
berdasarkan pada dua dimensi utama: “jumlah” dan “kualitas” aspek-aspek yang diperhatikan oleh siswa
dalam suatu tugas.

Taksonomi SOLO terdiri dari lima tingkatan berbeda:

1. Prestructural (Prastruktural):

 Pada tingkat ini, siswa belum memahami konsep atau topik yang sedang dipelajari.

 Mereka mungkin tidak memiliki pengetahuan sebelumnya atau memiliki pemahaman yang
sangat terbatas tentang materi.

 Siswa pada tingkat ini mungkin tidak bisa memberikan jawaban yang relevan atau jelas terkait
dengan tugas.

2. Unistructural (Unistruktural):

 Pada tingkat ini, siswa mulai mengumpulkan beberapa informasi yang terkait dengan konsep
atau topik tertentu.

 Mereka memiliki pemahaman yang terbatas dan hanya dapat memberikan informasi yang
terpisah atau terfragmentasi tentang materi.

 Siswa pada tingkat ini mungkin memberikan beberapa fakta atau detail, tetapi tidak dapat
menghubungkannya atau mengintegrasikannya menjadi gambaran yang lebih besar.

3. Multistructural (Multistruktural):

 Tingkat ini mencirikan siswa yang mampu mengumpulkan beberapa informasi yang relevan dan
menggambarkan hubungan antara beberapa aspek konsep.

 Mereka dapat mengenali beberapa aspek yang berbeda tetapi mungkin tidak dapat
mengintegrasikan semuanya dengan baik.

 Siswa pada tingkat ini dapat memberikan lebih banyak informasi daripada yang ada di tingkat
Unistructural, tetapi pemahaman mereka masih bersifat terpisah.

4. Relational (Relasional):

 Siswa di tingkat ini memiliki pemahaman yang lebih mendalam tentang konsep dan dapat
mengidentifikasi hubungan antara berbagai aspek dari konsep atau topik.

 Mereka mampu menghubungkan informasi dan mengintegrasikannya menjadi gambaran yang


lebih komprehensif.

 Siswa pada tingkat ini mampu melakukan analisis yang lebih dalam dan pemikiran kritis tentang
materi.

5. Extended Abstract (Abstrak Ekstensif):

 Ini adalah tingkat tertinggi dalam Taksonomi Kognitif SOLO, yang menggambarkan siswa yang
memiliki pemahaman yang sangat mendalam dan kemampuan untuk menerapkan konsep dalam
konteks yang baru atau berbeda.

 Mereka tidak hanya mampu mengidentifikasi hubungan dan integrasi informasi, tetapi juga
mampu merancang dan membuat konsep baru atau mengaplikasikan konsep dalam situasi yang
belum pernah dilihat sebelumnya.

 Siswa pada tingkat ini memiliki pemahaman yang sangat kuat dan fleksibel tentang materi.

Pentingnya Taksonomi Kognitif SOLO

Taksonomi SOLO memiliki banyak manfaat dalam pendidikan, baik bagi pendidik maupun siswa. Berikut
adalah beberapa alasan mengapa SOLO penting:

1. Mendorong Pemikiran Mendalam:

 SOLO membantu siswa dan pendidik dalam mengenali tingkat pemahaman siswa dan
mengidentifikasi langkah-langkah untuk mencapai pemahaman yang lebih mendalam.

 Model ini mendorong siswa untuk berpikir kritis, menganalisis informasi, dan membuat koneksi
yang lebih mendalam antara berbagai aspek konsep.

2. Penilaian yang Lebih Akurat:


 Taksonomi SOLO membantu pendidik dalam merancang tugas dan asesmen yang sesuai dengan
tingkat pemahaman siswa.

 Ini memungkinkan penilai untuk mendapatkan pemahaman yang lebih akurat tentang sejauh
mana siswa telah memahami materi.

3. Perencanaan Pengajaran yang Efektif:

 SOLO membantu guru dalam merencanakan pengajaran yang sesuai dengan tingkat pemahaman
siswa.

 Ini memungkinkan guru untuk memilih strategi pengajaran yang sesuai dan tugas yang relevan.

4. Pengembangan Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi:

 Model ini membantu siswa dalam mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi, seperti
analisis, sintesis, dan evaluasi.

 Siswa dihadapkan pada tugas yang semakin kompleks seiring dengan peningkatan tingkat SOLO.

5. Pemberdayaan Siswa:

 Taksonomi SOLO memberikan siswa pemahaman tentang tahapan dalam perkembangan


pemahaman konsep.

 Ini membantu siswa dalam mengidentifikasi area di mana mereka perlu meningkatkan
pemahaman mereka dan mengambil langkah-langkah untuk mencapai tingkat pemahaman yang
lebih tinggi.

Contoh Penerapan Taksonomi Kognitif SOLO

Mari lihat contoh penerapan SOLO dalam beberapa mata pelajaran:

1. Matematika:

 Prestructural: Siswa mungkin tidak mengerti konsep dasar tentang pecahan.

 Unistructural: Mereka mungkin dapat mengidentifikasi pecahan dalam bentuk sederhana, tetapi
tidak dapat menggunakannya dalam perhitungan.

 Multistructural: Siswa dapat melakukan perhitungan sederhana dengan pecahan.

 Relational: Mereka dapat memahami hubungan antara pecahan dan bilangan desimal.

 Extended Abstract: Siswa mampu mengaplikasikan konsep pecahan dalam pemecahan masalah
yang kompleks.

2. Sastra:

 Prestructural: Siswa mungkin tidak memahami tema cerita dalam novel.

 Unistructural: Mereka mungkin dapat mengidentifikasi tema, tetapi tidak dapat menjelaskannya
dengan baik.

 Multistructural: Siswa dapat memberikan beberapa contoh dari novel yang mendukung tema.

 Relational: Mereka mampu menghubungkan tema dengan karakter dan plot dalam novel.

 Extended Abstract: Siswa dapat menganalisis peran tema dalam cerita dan menghubungkannya
dengan tema yang lebih luas dalam sastra.

3. Ilmu Pengetahuan:

 Prestructural: Siswa mungkin tidak mengerti konsep dasar tentang fotosintesis.

 Unistructural: Mereka mungkin dapat mengidentifikasi bahwa fotosintesis terkait dengan


tanaman, tetapi tidak dapat menjelaskannya secara mendalam.

 Multistructural: Siswa dapat menjelaskan proses dasar fotosintesis.

 Relational: Mereka mampu menghubungkan fotosintesis dengan perubahan iklim dan


lingkungan.

 Extended Abstract: Siswa mampu merancang eksperimen untuk memahami dampak fotosintesis
dalam lingkungan yang berubah.
Taksonomi Kognitif SOLO adalah alat yang berguna dalam pendidikan untuk menggambarkan tingkat
pemahaman dan pemikiran siswa. Dengan menggunakan model ini, pendidik dapat merencanakan
pembelajaran yang sesuai dengan tingkat pemahaman siswa dan siswa dapat memahami tahapan dalam
perkembangan pemahaman konsep.

SOLO mendorong pemikiran mendalam, penilaian yang akurat, perencanaan pengajaran yang efektif, dan
pengembangan kemampuan berpikir tingkat tinggi. Dengan penerapan SOLO, pendidikan dapat menjadi
lebih bermakna dan siswa dapat mencapai pemahaman yang lebih mendalam tentang konsep dan
materi yang mereka pelajari.

 BERANDA
 PROFIL

 AKADEMIK

 KEMAHASISWAAN

 TRIDHARMA

 KERJA SAMA

 INFORMASI

Taksonomi SOLO: Struktur dan Implementasinya


dalam Pendidikan

TAKSONOMI SOLO: STRUKTUR DAN IMPLEMENTASINYA


DALAM PENDIDIKAN
22 Oktober 2024 - kategori AKADEMIK 35730 Views

berita terkait
 INDUKTIF DAN DEDUKTIF DALAM PENELITIAN
 PERBEDAAN METODE PENELITIAN KUALITATIF
DENGAN KUANTITATIF
 PARADIGMA PENELITIAN: POSITIVISME (POSITIVISM)
 Penelitian Kualitatif: Perbedaan Fenomenologi dengan Studi
Kasus
 Memilih Analisis Data Kualitatif yang Tepat untuk Penelitian
Anda
Dalam dunia pendidikan, tujuan utama pengajaran dan pembelajaran adalah
untuk memastikan peserta didik memahami materi secara mendalam dan
untuk membantu peserta didik untuk mampu menghubungkan konsep-konsep
yang telah mereka pelajari. Salah satu model yang digunakan untuk
mengevaluasi tingkat pemahaman peserta didik adalah Taksonomi SOLO.
Taksonomi SOLO adalah singkatan dari Structure of Observed Learning
Outcomes yang dikembangkan oleh John Biggs dan Kevin Collis pada tahun
1982 sebagai alternatif dari Taksonomi Bloom. Taksonomi SOLO
menekankan perkembangan pemahaman dan proses kognitif.

Pengertian Taksonomi SOLO


Taksonomi SOLO adalah kerangka yang digunakan untuk mengukur tingkat
pemahaman peserta didik melalui beberapa tingkatan hierarkis. Model ini
berupaya menangkap bagaimana pemahaman berkembang dari sederhana ke
kompleks. SOLO tidak hanya mengevaluasi kemampuan kognitif tetapi juga
memfasilitasi pengajaran yang berpusat pada peserta didik.

Tahapan Taksonomi SOLO


1. Pre-structural
Pada tingkat ini, peserta didik memiliki pemahaman yang sangat terbatas atau
tidak terarah tentang konsep yang dipelajari. Mereka mungkin tidak dapat
mengidentifikasi atau menghubungkan informasi dengan baik. Contoh:
peserta didik ditanya tentang topik tertentu, tetapi mereka tidak dapat
memberikan jawaban yang relevan atau hanya menjawab secara acak.

2. Uni-structural
Di tingkat ini, peserta didik dapat memahami satu aspek atau elemen dari
konsep yang dipelajari. Mereka mampu memberikan definisi sederhana atau
menyebutkan satu contoh, tetapi belum dapat menghubungkan informasi
yang berbeda. Contoh: peserta didik dapat mendefinisikan kata sifat sebagai
"kata yang menggambarkan kata sifat atau adjective" tetapi mereka belum
dapat menjelaskan lebih lanjut atau memberikan contoh yang beragam
tentang adjective.

3. Multi-structural
Pada tingkatan ini, peserta didik mulai memahami beberapa elemen dari
konsep yang lebih kompleks. Mereka dapat menyebutkan dan menjelaskan
beberapa bagian atau aspek, tetapi belum dapat menghubungkan elemen-
elemen tersebut untuk membentuk pemahaman yang lebih holistik. Contoh:
peserta didik dapat mencantumkan dan menjelaskan beberapa jenis kata sifat
atau adjective (descriptive adjective, quantitative adjective, demonstrative
adjective) tetapi belum dapat menjelaskan bagaimana kata sifat (adjective)
tersebut digunakan .

4. Relational
Di tingkat ini, peserta didik mampu menghubungkan berbagai elemen yang
telah mereka pelajari untuk membentuk pemahaman yang lebih menyeluruh
dan dapat menjelaskan hubungan antara elemen-elemen tersebut. Mereka
dapat memberikan analisis dan menjelaskan pentingnya hubungan antar
konsep. Contoh: peserta didik dapat menjelaskan bagaimana penggunaan kata
sifat (adjective) dalam kalimat dapat meningkatkan deskripsi dan memberi
detail yang lebih kaya serta memahami perannya dalam konteks yang lebih
luas.

5. Extended Abstract
Pada tingkat tertinggi ini, peserta didik mampu berpikir secara kritis dan
kreatif. Mereka tidak hanya dapat menghubungkan berbagai elemen tetapi
juga dapat menerapkan pengetahuan mereka dalam konteks baru,
menciptakan solusi inovatif, atau merancang aktivitas yang kompleks.
Contoh: peserta didik dapat merancang sebuah proyek atau aktivitas yang
mendorong penggunaan kata sifat secara efektif dalam tulisan, menunjukkan
pemahaman yang mendalam tentang bagaimana kata sifat berfungsi dan
berkontribusi pada komunikasi yang lebih baik.

Penerapan Taksonomi SOLO dalam


Pembelajaran
1. Menyusun Pertanyaan dan Tugas dengan
SOLO
Guru dapat menggunakan SOLO untuk merancang pertanyaan dan tugas
dengan berbagai tingkat kesulitan, sesuai dengan tingkat pemahaman yang
ingin dicapai. Berikut contoh penerapan dalam mata pelajaran Bahasa Inggris
terkait grammar dengan topik adjective:
 Pre-structural: Apa yang Anda ketahui tentang adjective?
 Uni-structural: Apa fungsi adjective dalam sebuah kalimat?
 Multi-structural: Sebutkan dan jelaskan jenis-jenis adjective beserta
fungsinya.
 Relational: Bagaimana adjective dapat meningkatkan kualitas
tulisan?
 Extended Abstract: Rancanglah aktivitas menulis kreatif yang
mendorong peserta didik untuk menggunakan kata sifat secara
efektif.

2. Evaluasi Pembelajaran
Taksonomi SOLO membantu guru untuk menganalisis jawaban peserta
didik dan melihat sejauh mana peserta didik telah mengembangkan
pemahaman. Evaluasi tidak hanya didasarkan pada benar atau salahnya
jawaban tetapi juga pada tingkat kedalaman respons atau jawaban peserta
didik.

3. Membimbing Peserta Didik


Mengembangkan Pemahaman
Taksonomi SOLO juga dapat digunakan dalam kegiatan scaffolding, di mana
guru memberikan dukungan bertahap sesuai dengan perkembangan peserta
didik. Misalnya, peserta didik yang berada di tahap uni-structural dibimbing
untuk mengenali lebih banyak aspek hingga mencapai tahap multi-structural
dan seterusnya.

Contoh Implementasi Taksonomi SOLO


Berikut ini contoh implementasi taksonomi SOLO dalam Pembelajaran.
 Topik dalam contoh ini adalah "Menulis Cerita Pendek".
 Kelompok: Peserta didik dibagi menjadi kelompok kecil (4-5 siswa).

1. Pre-structural
 Aktivitas: Diskusi awal
 Penjelasan: Dalam kelompok, siswa berdiskusi tentang apa yang
mereka ketahui tentang cerita pendek.
 Contoh Pertanyaan: What do you know about short stories?
 Hasil: Peserta didik mungkin memberikan jawaban yang tidak
terarah atau acak, menunjukkan pemahaman yang sangat terbatas.

2. Uni-structural
 Aktivitas: Mengidentifikasi Elemen Cerita
 Penjelasan: Peserta didik diminta untuk mengidentifikasi satu elemen
dari cerita pendek, seperti karakter atau setting.
 Contoh Pertanyaan: What is a character in a short story?
 Hasil: Peserta didik dapat menjelaskan bahwa karakter adalah orang
atau makhluk dalam cerita, tetapi tidak memberikan penjelasan lebih
lanjut.

3. Multi-structural
 Aktivitas: Menyusun Daftar Elemen
 Penjelasan: Setiap kelompok menyusun daftar beberapa elemen
penting dalam cerita pendek, seperti karakter, plot, setting, dan tema.
 Contoh Pertanyaan/Pernyataan: List and describe different elements
of a short story.
 Hasil: Peserta didik dapat menyebutkan dan menjelaskan berbagai
elemen, tetapi belum menghubungkan elemen-elemen tersebut secara
keseluruhan.

4. Relational
 Aktivitas: Analisis Cerita Pendek
 Penjelasan: Peserta didik memilih sebuah cerita pendek dan
menganalisis bagaimana elemen-elemen cerita saling berhubungan
untuk menciptakan makna.
 Contoh Pertanyaan: How do the characters and plot work together to
convey the theme of the story?
 Hasil: Peserta didik dapat menjelaskan hubungan antara karakter,
plot, dan tema, menunjukkan pemahaman yang lebih mendalam.

5. Extended Abstract
 Aktivitas: Menulis Cerita Pendek Secara Kolaboratif
 Penjelasan: Siswa bekerja sama untuk merancang dan menulis cerita
pendek yang mencakup semua elemen yang telah mereka pelajari.
Mereka dapat merancang cerita dengan tema yang mereka pilih,
menggunakan berbagai elemen yang telah dibahas.
 Contoh Pertanyaan: How can you incorporate different elements of a
short story to create an engaging narrative?
 Hasil: Peserta didik menghasilkan cerita pendek yang kreatif dan
terstruktur dengan baik, serta mampu mempresentasikan cerita
mereka kepada kelas, menjelaskan pilihan yang mereka buat dan
bagaimana elemen-elemen tersebut berkontribusi pada keseluruhan
cerita
Antara Kurikulum Nasional Deep Learning dengan Kurikulum Cinta Love Learning

KURIKULUM merupakan salah satu komponen yang penting dalam pendidikan.

Tanpa kurikulum, pendidikan tidak memiliki arah dan tujuan.

Setelah kemerdekaan, kurikulum yang pertama disebut dengan ”Rentjana Peladjaran 1947” dan pada
tahun 2025 saat ini disebut ”Kurikulum Nasional” yang sebelumnya dengan sebutan ”Kurikulum
Merdeka”.

Kurikulum Nasional yang dikembangkan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah ini dengan
pendekatan pembelajaran Deep Learning yang selanjutnya disebut dengan ”Pembelajaran Mendalam”.

Pendekatan ini memiliki 3 (tiga) pilar utama yaitu. Mindful Learning, Meaningful Learning dan Joyful
Learning.

Artinya bahwa para murid dalam mengikuti pembelajaran atau setelah pembelajaran memiliki kesan
yang mendalam.

Pertama, sadar akan pentingnya mempelajari sesuatu.

Kedua, murid merasa bahwa belajar itu ada makna ada manfaatnya, dan.

Ketiga, murid senang dalam belajar.

Selanjutnya, Kementerian Agama pada tahun 2025 berinovasi dengan ”Kurikulum Cinta” yang saat ini
masih piloting di beberapa madrasah plat merah.

Kurikulum cinta adalah kurikulum yang berbasis senang dan sayang.

Menteri Agama Nasaruddin Umar menyatakan bahwa saat ini di masyarakat terjadi dehumanisasi, maka
harus ada prinsip humanity is all one, jadi peran pemberdayaan umat difokuskan pada basis
kemanusiaan dan harmoni kehidupan yang keduanya dieratkan dengan dasar cinta, sehingga di
madrasah digagas kurikulum cinta ini sebagai salah satu solusinya

Seperti halnya deep learning pada kurikulum nasional yaitu hanya sebuah pendekatan pembelajaran,
bukan mengganti komponen-komponen kurikulum.

Pula, love learning dalam kurikulum cinta bukanlah mata pelajaran baru, namun sebuah pendekatan
pembelajaran yang integratif dan sistematif pada mata pelajaran-mata pelajaran yang ada secara ramah,
humanis, nasionalis, dan peduli lingkungan.

Sesungguhnya antara kurikulum nasional dengan kurikulum cinta maupun deep learning dengan love
learning, keduanya memperkaya konsep pendidikan di Indonesia, namun di satu sisi seakan terjadi
perbedaan bahkan persaingan.

Sebagai tindak lanjut dari sosialisasi Permendikdasmen no.13 tahun 2025 yang memperkuat
implementasi Kurikulum Merdeka dan menekankan pada Pembelajaran Mendalam (Deep Learning),
perlu rasanya membekali para dosen dan guru pamong PPG pemahaman yang mendalam terkait isu
tersebut untuk kesiapan mendampingi mahasiswa PPG dalam mengembangkan perangkat pembelajaran
pada batch yang akan datang.

Selain Deep learning, pada workshop ini juga didiskusikan Kurikulum Berbasis Cinta sebagai suatu
pendekatan baru dalam pembelajaran yang diinisiasi oleh Kementerian Agama untuk menciptakan
lingkungan belajar yang mengasah nalar sekaligus menghidupkan nurani. Ibuk Nefri Leni, SE, [Link], [Link],
selaku narasumber dari Balai Diklat Keagamaan Padang mengemukakan bahwa baik Deep
Learning maupun Kurikulum Berbasis Cinta merupakan perbaikan dari kurikulum yang ada demi
menciptakan sekolah yang ramah anak dimana mereka dapat mengembagkan potensi yang mereka
miliki melalui pembelajaran yang berkesadaran, bermakna, dan menyenangkan, sekaligus menambahkan
topik cinta yang disebutnya PANCA Cinta khusus untuk pembelajaran di madrasah.

bahwa nilai-nilai kasih sayang dan pembelajaran yang humanis sebenarnya sudah diterapkan semenjak
lama, namun perlu adanya kejelasan dan ketegasan dalam rancangan pembelajaran yang dibuat oleh
para guru dan kemudian memastikan bahwa rancangan tersebut benar-benar dilaksanakan
MATERI KKG MI
KOTA PROBOLINGGO
BULAN AGUSTUS 2025

Anda mungkin juga menyukai