Eksplorasi Sifat dan Reaksi Hidrogen
Eksplorasi Sifat dan Reaksi Hidrogen
Disusun oleh:
Kelompok 2
1. Firstania Desvita Ramadhani (24030930001)
2. Oktavian Tri Utami (24030930004)
3.[2.] Rihhadatul Aisy Rismawati (24030930008)
A. Definisi Hidrogen
Antoine Lavoisier adalah seorang ahli kimia asal Prancis yang dikenal sebagai Bapak
Kimia Modern, Lavoisier berperan penting dalam mengembangkan sistem nomenklatur kimia
modern dan mengidentifikasi hidrogen sebagai unsur (Kartika dkk, 2025). Lavoisier memberi
nama hidrogen pada tahun 1783. Dia mengakui hidrogen sebagai unsur fundamental dan
memberinya nama "hidrogen," berasal dari kata Yunani "hydro" (air) dan "genes" (membentuk),
yang berarti "pembentuk air," karena perannya dalam pembentukan air saat terbakar (Kurniawan
dan Ruhyat, 2024).
Hidrogen (bahasa Latin: hydrogenium) adalah unsur kimia pada tabel periodik yang
memiliki simbol H dan nomor atom 1. Pada suhu dan tekanan standar, hidrogen tidak berwarna,
tidak berbau, bersifat non-logam, bervalensi tunggal, dan merupakan gas diatomik yang sangat
mudah terbakar. Dengan massa atom 1,00794 amu, hidrogen adalah unsur teringan di dunia
(Sitorus, dkk, 2016).
Berdasarkan literatur Sugiyarto, 2004, unsur hidrogen di alam jumlahnya paling besar
kira-kira 92%. Unsur hidrogen terdapat paling banyak dalam senyawa seperti air, minyak,
jaringan tanaman, dan binatang. Sedangkan berdasarkan literatur lain, hidrogen adalah unsur
paling melimpah dengan persentase kira-kira 75% dari total massa unsur alam. Di bumi
sebanyak 70% ditutupi oleh air, yang dibentuk oleh 2 atom hidrogen dan oksigen. Senyawa
hidrogen relatif langka dan jarang dijumpai secara alami di bumi, dan biasanya dihasilkan secara
industri dari berbagai senyawa hidrokarbon seperti metana. Hidrogen juga dapat dihasilkan dari
air melalui proses elektrolisis, tetapi proses ini secara komersial lebih mahal daripada produksi
hidrogen dari gas alam (Sitorus, dkk, 2016). Hidrogen secara alamiah dikenal mempunyai tiga
isotop yaitu normal hidrogen, , deuterium, D atau , dan radioaktif tritium, T atau
(Cotton & Wilkinson, 1972).
B. Sifat Hidrogen
Hidrogen memiliki skala elektronegatifitas pertengahan sehingga mempunyai sifat yang
bervariasi, yaitu bersenyawa dengan unsur (1) sangat elektronegatif, misalnya halogen
membentuk senyawa polar dengan karakter positif pada atom hidrogen, (2) tetapi juga dengan
unsur sangat elektropositif, misalnya alkali membentuk senyawa ionik hidrida dengan karakter
negatif pada atom hidrogen, (3) demikian juga dengan unsur intermediate, misalnya karbon
membentuk senyawa non polar (Sugiyarto, 2004)
Hidrogen (H), adalah zat gas yang tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa, mudah
terbakar, yang merupakan anggota paling sederhana dari keluarga unsur kimia. selain itu,
terdapat sifat fisik dan kimia dari hidrogen (Kurniawan dan Ruhyat, 2024):
Kepadatan: Ini adalah unsur paling ringan, dengan kepadatan yang sangat rendah
dibandingkan dengan unsur lainnya.
Titik Didih dan Titik Beku: Hidrogen memiliki titik didih yang rendah (252,87°C atau -
423,17°F) dan titik beku (-259,2°C atau -434,6°F).
Kelarutan: Ini mudah larut dalam air dan pelarut lainnya.
Isotop: Hidrogen memiliki tiga isotop: protium (yang paling melimpah dan stabil),
deuterium, dan tritium.
Flammability: Hidrogen sangat mudah terbakar dan terbakar di udara atau oksigen
dengan nyala yang tidak berwarna, menghasilkan panas dan uap air. H 2 memiliki rentang
mudah terbakar yang luas di udara, mulai dari 4% hingga 74,5%. Energi yang diperlukan
minimum untuk menyulut sangat rendah, yaitu 0,02 mili joule, yang setidaknya sepuluh
kali lebih rendah daripada hidrokarbon seperti metana atau propana. Energi penyulutan
ini begitu rendah sehingga kadang-kadang dapat terjadi penyulutan-langsung, pada
kecepatan tinggi, ventilasi, atau penurunan tekanan. Temperatur penyulutan-langsung H 2
pada tekanan atmosfer adalah 535°C. H 2 terbakar dengan nyala yang tidak terlihat di
siang hari.
Reaktivitas: Ini dengan mudah bereaksi dengan unsur lain untuk membentuk senyawa.
Misalnya, ia bereaksi dengan oksigen untuk membentuk air (H 2O) dan dengan halogen
untuk membentuk hidrogen halida.
Agen Pereduksi: Hidrogen dapat bertindak sebagai agen pereduksi dalam reaksi kimia
dengan mendonasikan elektron. Misalnya, dalam proses Haber, ia mengurangi nitrogen
untuk membentuk amonia.
Hidrogenasi: Ini terlibat dalam reaksi hidrogenasi, di mana hidrogen ditambahkan ke
senyawa tak jenuh (misalnya, alkena) untuk membentuk senyawa jenuh (misalnya,
alkana).
Sifat Asam-Basa: Ion hidrogen (H+) memainkan peran penting dalam reaksi asam-basa.
Di dalam air, ion hidrogen bergabung dengan molekul air untuk membentuk ion
hidronium (H3O+), membuat larutan menjadi asam.
C. Reaksi Hidrogen
Secara umum unsur hidrogen di alam didapatkan sebagai senyawa, maka H 2 harus
disediakan atau dibuat dari senyawanya. Berdasarkan literatur buku Sugiyarto, (2004) berikut
reaksi pembentukan gas hidrogen:
(1) Elektrolisis air dengan elektrode Pt/C dan katalisator garam Na 2SO4 akan menghasilkan
gas hidrogen oada ruang katode dan oksigen pada ruang anode menurut persamaan reaksi
berikut:
Katode: 2 H2O(l) + 2e- → 2OH-(aq) + H2(g)
Anode: 2OH(aq) → H2O(l) + ½ O2(g) + 2e-
(2) Reaksi logam dengan asam akan menghasilkan garam dan gas hidrogen dengan syarat
logam M harus terletak di sebelah kiri (H) pada deret tegangan Nernst (deret
elektrokimia) dan asamnya bersifat non-oksidator.
Fe(s) + 2HCl(aq) → FeCl2(aq) + H2(g)
(3) Reaksi beberapa logam dengan air adalah:
2K(s) + 2H2O(l) → 2KOH(aq) + H2(g)
2Na(s) + 2H2O(l) → 2NaOH(aq) + H2(g)
Ca(s) + 2H2O(l) → Ca(OH)2(aq) + H2(g)
3Fe(s) + 4H2O(l) → Fe3O4(s) + 4H2(g)
Dari reaksi hidrogen antara unsur lain menghasilkan beberapa interaksi lain, sebagai
berikut:
a. Hidrat - Hidrida
Hidrat merupakan padatan yang tersusun oleh molekul senyawa tertentu dan molekul air.
Sedangkan hidrida merupakan nama turunan senyawa biner hidrogen atau senyawa kimia yang
terbentuk dari hidrogen yang berikatan langsung dengan unsur lain, terutama logam atau
nonlogam. Hidrogen membentuk senyawa biner dengan hampir semua unsur, mempunyai
elektronetifitas hanya sedikit di atas harga rata-rata semua unsur dalam tabel periodik.
b. Hidrida Ionik
Semua hidrida ionik berupa padatan putih dan terbentuk hanya dengan logam sangat
elektropositif, yaitu golongan alkali dan alkali-tanah kecuali Be dan Mg. Kristal ionik ini terdiri
atas kation logam dan anion hidrida, H. Bukti adanya anion hidrida ini dapat dijumpai pada
elektrolisis litium hidrida dalam lelehan litium klorida. Selama proses ini, gelembung gas
hidrogen terjadi pada anode (elektrode positif) menurut persamaan reaksi:
2H(LiCl) H2(g) + 2e
Semua hidrida ionik sangat reaktif, misalnya bereaksi dengan udara lembab menghasilkan
dihidrogen menurut persamaan reaksi:
LiH (s) + H2O(l) → LiOH(aq) + H2(g)
Hidrida ionik dapat dipakai sebagai agen pereduksi. Reaksi dengan silikon tetraklorida pada
pemanasan akan menghasilkan silana (SiH4), suatu gas tak berwarna dan mudah terbakar,
menurut persamaan reaksi:
SiCl4(g) + NaH(s) → SiH(g) + NaCl(s)
c. Hidrida Kovalen
Hidrogen membentuk senyawa kovalen dengan semua non-logam kecuali gas mulia dan
dengan logam elektropositif rendah seperti galium, Ga, dan timah, Sn. Hampir semua hidrida
kovalen sederhana berupa gas pada temperatur kamar. Ada tiga kategori hidrida kovalen yaitu:
(1) hidrida kovalen dengan atom hidrogen hampir bersifat netral,
(2) hidrida kovalen dengan atom hidrogen bersifat positif kuat, dan
(3) hidrida kovalen dengan atom hidrogen bersifat agak negatif khususnya pada senyawa boron-
kekurangan elektron.
d. Hidrida Metalik
Beberapa logam transisi membentuk hidrida kategori ke tiga, yaitu hidrida metalik.
Senyawa ini sering bersifat non-stoikiometrik, misalnya untuk hidrogen-titanium rasio tertinggi
dijumpai dalam senyawa dengan formula TiH19. Sifat senyawa ini sangat kompleks, diduga
tersusun oleh (Ti2+) (H)1,9 (e) 2,1. Adanya elektron bebas inilah yang diduga memberikan sifat
metalik dan tingginya hantaran jenis listrik senyawa yang bersangkutan. Sebagian besar hidrida
ini dapat dipreparasi melalui pemanasan logam dengan hidrogen dibawah tekanan tinggi.
Selanjutnya, terdapat reaksi hidrogenasi yaitu reaksi yang terjadi antara molekul hidrogen
(H2) dengan senyawa kimia lain dimana berfungsi untuk memutus ikatan rangkap yang terdapat
dalam senyawa tersebut. Semakin sedikit jumlah ikatan rangkap, akan semakin meningkatkan
590 kestabilan senyawa (Amalia dkk.,2019).
Reaksi hidrogenasi tidak terlepas dari peran katalis. Reaksi hidrogenasi tidak akan
berlangsung tanpa bantuan katalis. Secara termodinamika, reaksi ini lebih disukai karena reaksi
ini akan membentuk produk yang lebih stabil. Dengan kata lain, energi produk lebih rendah
dibandingkan dengan energy reaktannya. Reaksi pembentukan melalui hidrogenasi bersifat
eksotermik, artinya reaksi ini akan menghasilkan/membebaskan panas. Panas yang dilepaskan
tersebut dikenal dengan Panas hidrogenasi atau energi hidrogenasi (ΔH hidrogenasi). Energi ini
merupakan indikator yang menunjukan tingkat mudah atau tidaknya hidrogenasi terjadi secara
termodinamis. Panas atau energi hidrogenasi beberapa golongan alkena dan alkuna bisa
diperbandingkan dengan menghitung panas hidrogenasi melalui data panas pembentukan, yaitu
panas pembentukan produk (ΔHf produk) dikurangi panas pembentukan reaktan (ΔH f reaktan)
ΔH hidrogenasi = ΔHf produk - ΔHf reaktan
(Sihombing dkk, 2024)
Energi merupakan salah satu komponen yang sangat penting bagi kehidupan manusia,
karena segala aktivitas manusia relatif bergantung pada kesediaan energi yang cukup. Pada saat
ini minyak bumi menjadi penopang mayoritas kebutuhan energi bahan bakar, dikarenakan hasil
pengolahan yang beragam dapat dimanfaatkan bagi kehidupan manusia khususnya di bidang
transportasi. Penggunaan minyak bumi dalam bahan bakar minyak (BBM) merupakan salah satu
bentuk pemanfaatan yang banyak diaplikasikan oleh manusia dalam aktivitas transportasi, salah
satunya yakni penggunaan sepeda motor oleh masyarakat dalam beraktifitas sehari-hari. Di sisi
lain juga konsumsi dan kebutuhan minyak bumi terus meningkat karena semakin banyak jumlah
kendaraan bermotor dan kebutuhan hidup lain seperti kebutuhan dalam dunia industri. Besar
ketergantungan manusia terhadap ketersediaan minyak bumi perlu di kurangi dikarenakan
semakin lama ketersediaan minyak semakin menipis.
Hidrogen sangat dimungkinkan menjadi alternatif bahan bakar masa depan. Proses
produksi hidrogen dapat dilakukan secara biologi maupun secara kimiawi. Secara biologi
(bioteknologi) adalah teknik pendaya gunaan organisme hidup atau bagiannya untuk membuat
atau memodifikasi suatu produk dan meningkatkan/ memperbaiki sifat organisme untuk
penggunaan dan tujuan khusus seperti untuk pangan, farmasi dan energi. Proses secara kimiawi
gas alam seperti metana, propana atau etana direaksikan dengan steam (uap air) pada suhu tinggi
(700-10000C) dengan bantuan katalis, untuk menghasilkan hidrogen, karbon dioksidasi (CO 2)
dan karbon monoksida (CO). Sebuah reaksi samping juga terjadi antara karbon monoksida
dengan steam, yang menghasilkan hidrogen dan karbon dioksida. Gas hidrogen yang dihasilkan
kemudian dimurniakan, dengan memisahkan karbon dioksida dengan penyerapan. Saat ini, steam
reforming banyak digunakan untuk memproduksi gas hidrogen secara komersial di berbagai
sektor industri, diantaranya industri pupuk dan hidrogen peroksida (H 2O2) (Fazlunnazard dkk,
2020).
Berikut penjelasan mengenai proses produksi hidrogen secara biologi maupun kimiawi:
1. Bioteknologi
Bioteknologi adalah bidang ilmu yang memanfaatkan organisme hidup (seperti bakteri,
ragi, atau tanaman) atau bagiannya (misal enzim, DNA) untuk menciptakan produk bernilai
tambah, memodifikasi organisme, atau meningkatkan sifat organisme tersebut. Aplikasinya
meliputi:
Pangan: Rekayasa genetika tanaman untuk meningkatkan ketahanan terhadap hama.
Farmasi: Produksi insulin menggunakan bakteri transgenik.
Energi: Pengembangan mikroba penghasil biohidrogen atau enzim untuk konversi
biomassa menjadi biofuel.
2. Proses secara kimiawi, proses produksi hidrogen dari gas alam umumnya dilakukan melalui
metode reformasi uap (steam reforming), yaitu suatu reaksi kimia antara hidrokarbon ringan
seperti metana, etana, atau propana dengan uap air (steam) pada suhu tinggi, berkisar antara 700
hingga 1000°C. Dalam kondisi ini, dengan bantuan katalis logam seperti nikel, gas alam akan
mengalami reaksi endotermis yang menghasilkan gas hidrogen (H₂), karbon monoksida (CO),
dan sejumlah karbon dioksida (CO₂). Selain reaksi utama tersebut, juga terjadi reaksi samping
yang dikenal sebagai water-gas shift reaction, yaitu reaksi antara karbon monoksida dengan uap
air yang menghasilkan tambahan hidrogen dan karbon dioksida. Proses ini sangat penting dalam
industri karena menjadi salah satu metode paling efisien untuk memproduksi hidrogen dalam
skala besar.
3. Aplikasi Komersial Steam Reforming
Industri Pupuk: Hidrogen sebagai bahan baku produksi amonia (NH₃) untuk pupuk
urea.
Produksi Hidrogen Peroksida (H₂O₂): Hidrogen digunakan dalam sintesis H₂O₂ untuk
disinfektan dan pemutih.
Energi Bersih: Hidrogen sebagai bahan bakar sel untuk kendaraan listrik atau
pembangkit listrik.
Gas hidrogen atau H2 memiliki banyak kegunaan dalam kehidupan sehari-hari. Gas
hidrogen diperlukan dalam proses pembuatan amonia, dimana terjadi reaksi antara hidrogen
dengan nitrogen. Gas hidrogen juga digunakan pada proses pembuatan metanol dalam reaksinya
dengan CO2. Hidrogen juga senyawa yang dibutuhkan untuk salah satu metode pembuatan
sumber energi yaitu Fuel Cell (Fazlunnazar dkk, 2020).
Fuel cell adalah suatu perangkat konversi energi yang bekerja seperti baterai, dimana
keduanya menghasilkan listrik dari proses reaksi elektrokimia. Baik fuel cell maupun baterai
mengubah energi kimia menjadi energi listrik. Selama proses reaksi berlangsung juga
menghasilkan energi lain dalam bentuk kalor. Yang mana hidrogen akan bereaksi dengan oksigen
dengan bantuan katalis untuk menghasilkan muatan listrik. Berikut contoh susunan komponen
fuel cell:
Source: [Link]
Baterai menyediakan listrik dalam kapasitas tertentu dan ketika muatan listrik habis atau
berkurang dapat dilakukan pengisian (re-charging) melalui sumber listrik eksternal untuk
mendorong reaksi elektrokimia dalam arah sebaliknya. Di sisi lain, fuel cell hanya dapat bekerja
jika ada suplai energi kimia dari luar dan dapat bekerja tanpa batas jika suplai energi kimia tidak
diputus. Berikut contoh penerapan sel bahan bakar (fuel cell) dalam transportasi:
Source: dalam buku alves dkk
Hidrogen (H2) dan Oksigen (O2) adalah dua jenis sumber kimia sebagai energi pemasok
pada fuel cell. Hidrogen umumnya disebut sebagai bahan bakar, meskipun tidak ada reaksi
pembakaran yang terjadi ketika tidak ada oksigen. Selama oksidasi, atom hidrogen bereaksi
dengan atom oksigen untuk membentuk air dengan sangat efiesien. Selama proses, elektron
dilepaskan dan mengalir melalui sirkuit eksternal dan menghasilkan arus listrik (Setiyo, 2023).
Gas hidrogen (H2) sebagai alternatif sumber energi dapat menjanjikan dibandingkan
dengan bahan bakar fosil tradisional seperti batubara, minyak bumi, dan gas alam karena
jumlahnya melimpah, sangat efisien, tidak beracun, dan tidak menghasilkan emisi yang
berbahaya saat digunakan sebagai bahan bakar. Dengan adanya produksi gas hidrogen di alam
memiliki berbagai manfaat dari gas hidrogen yang dihasilkan yaitu bisa ditemui manfaat nya
didalam kehidupan sehari-hari maupun dalam bidang ilmu pengetahuan. Salah satu contoh
pemanfaatan gas hidrogen adalah sebagai bahan bakar fosil masa depan, dan sebagai bahan
untuk membantu proses pembuatan beberapa macam pupuk (Sihombing dkk, 2024)
Berdasarkan jurnal berjudul “Studi Pengaruh Konsentrasi Kadar Gas Hidrogen Terhadap
Tegangan dan Resistansi menggunakan Sensor Gas Hidrogen Berbasis Semikonduktor“, oleh
Hasibuan, dkk (2016), penelitian ini berfokus pada pengembangan sensor hidrogen berbasis
Metal Oxide Semiconductor (MOS), yang merupakan teknologi inovatif untuk mendeteksi gas
hidrogen. Sensor MOS ini bekerja dengan merespons keberadaan gas hidrogen melalui
perubahan pita energi pada semikonduktor oksida logam, yang memungkinkan proses transfer
elektron menjadi lebih optimal. Penggunaan sensor ini bertujuan untuk mengembangkan sistem
pendeteksian kebocoran gas hidrogen, yang penting sebagai early warning system dalam
meningkatkan keamanan dan efisiensi penggunaan hidrogen sebagai sumber energi alternatif.
Teknologi ini termasuk dalam pembaharuan hidrogen karena berkontribusi pada keamanan dan
percepatan adopsi hidrogen dalam ekonomi rendah karbon (Hasibuan, dkk, 2016).
Semikonduktor oksida logam (Metal Oxide Semiconductor/MOS) adalah material yang memiliki
sifat konduktif listrik antara konduktor dan isolator, dan terbuat dari oksida logam. Material ini
sangat penting dalam pembuatan berbagai perangkat elektronik, seperti sirkuit terpadu (IC),
transistor (terutama MOSFET), dan sensor
Selanjutnya, berdasarkan jurnal berjudul “Desain Sistem Hidrogen Hijau Dengan Sumber
Listrik dari Pembangkit Listrik Tenaga Surya di Lombok” oleh Parman, dkk (2024), jurnal ini
membahas teknologi produksi hidrogen ramah lingkungan dengan menggunakan Proton
Exchange Membrane (PEM) elektroliser yang diintegrasikan dengan Pembangkit Listrik Tenaga
Surya (PLTS). Teknologi ini sangat cocok untuk mengatasi tantangan intermitensi pasokan listrik
dari sumber energi terbarukan, seperti energi matahari, dengan kemampuan respons dinamis
yang cepat dari elektroliser PEM. Integrasi PLTS dan elektroliser memungkinkan produksi
hidrogen hijau yang netral karbon, karena memanfaatkan langsung energi surya untuk proses
elektrolisis air. Hal ini mengurangi ketergantungan pada energi fosil, memberikan solusi
berkelanjutan dalam produksi hidrogen. Penelitian juga membahas potensi pengintegrasian PLTS
off-grid yang dapat menghasilkan hidrogen secara mandiri tanpa bergantung pada jaringan
listrik, serta penurunan biaya produksi untuk memperluas penerapan hidrogen ramah lingkungan
dalam skala industri.
Dengan menggabungkan PLTS dan turbin angin, penelitian ini juga mengeksplorasi
desain sistem pembangkit yang intermiten untuk produksi hidrogen hijau yang lebih stabil.
Fokusnya adalah pada pengembangan sistem yang efisien dan berbiaya rendah untuk mendukung
transisi menuju ekonomi rendah karbon melalui penggunaan energi terbarukan. Secara
keseluruhan, teknologi ini merupakan bagian dari pembaharuan hidrogen, dengan
memperkenalkan solusi berkelanjutan dan efisien untuk produksi hidrogen ramah lingkungan
yang dapat berkontribusi pada dekarbonisasi sektor industri dan mendukung transisi menuju
perekonomian rendah karbon (Parman, dkk, 2024).
Sistem pembangkit yang intermiten merujuk pada jenis pembangkit listrik yang
menghasilkan energi secara tidak terus-menerus atau tidak stabil. Oleh karena itu, dalam
penerapannya sering dibutuhkan sistem penyimpanan energi atau integrasi dengan pembangkit
lain yang lebih stabil untuk menjamin pasokan listrik yang andal dan berkelanjutan. Sehingga
transisi menuju ekonomi rendah dapat terwujud melalui meninggalkan penggunaan bahan bakar
fosil yang tinggi emisi karbon dan beralih ke sumber energi bersih seperti tenaga surya, angin,
air, biomassa, dan panas bumi. Transisi ini tidak hanya bertujuan menekan laju emisi gas rumah
kaca untuk mengurangi dampak perubahan iklim, tetapi juga mendorong terciptanya ekosistem
ekonomi baru yang lebih berkelanjutan. Konsekuensinya, diperlukan investasi besar pada
teknologi hijau, kebijakan insentif pemerintah, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, dan
infrastruktur pendukung—misalnya jaringan listrik pintar dan sistem penyimpanan energi.
Dengan demikian, penggunaan energi terbarukan menjadi kunci transformasi struktural yang
memungkinkan pertumbuhan ekonomi tetap berjalan seiring dengan pelestarian lingkungan dan
peningkatan kesejahteraan masyarakat. Selain itu, sektor industri juga turut mendukung transisi
tersebut dengan berkontribusi pada dekarbonisasi sektor industri yakni upaya mengurangi atau
menghilangkan emisi karbon dioksida (CO₂) yang dihasilkan dari aktivitas industri, terutama
yang bergantung pada bahan bakar fosil dan proses produksi intensif energi seperti industri baja,
semen, kimia, dan petrokimia. Langkah-langkah dekarbonisasi meliputi peningkatan efisiensi
energi, penerapan teknologi bersih, elektrifikasi proses industri dengan energi terbarukan, serta
pemanfaatan teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon (carbon capture and
storage/CCS).
3. Produksi hidrogen biologis merupakan bidang yang semakin diminati karena potensinya
untuk menghasilkan bahan bakar yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. Bagian ini
menguraikan kemajuan dan wawasan penting dalam bidang ini. Produksi hidrogen
biologis terutama melibatkan dua jalur: biofotolisis air oleh alga dan fotofermentasi oleh
bakteri. Proses ini memanfaatkan kemampuan alami mikroorganisme untuk
menghasilkan hidrogen dari air atau substrat organik, menggunakan sinar matahari atau
energi metabolik. Penelitian terkini difokuskan pada peningkatan efisiensi, skalabilitas,
dan keandalan sistem biologis ini, dengan memanfaatkan rekayasa genetika dan inovasi
bioteknologi. Memanfaatkan rekayasa genetika berarti menggunakan teknologi
manipulasi gen atau DNA untuk mengubah sifat atau fungsi makhluk hidup, seperti
mikroorganisme, tumbuhan, atau hewan, agar memiliki kemampuan baru atau lebih baik
sesuai tujuan tertentu. Dalam konteks produksi energi atau bioteknologi, rekayasa
genetika sering digunakan untuk: meningkatkan efisiensi metabolisme mikroorganisme,
misalnya dengan menyisipkan gen tertentu agar bakteri atau alga dapat menghasilkan
lebih banyak hidrogen, etanol, atau bahan bakar hayati lainnya. Penjelasan mengenai dua
jalur dalam produksi hydrogen biologis sebagai berikut:
Biofotolisis air oleh alga
Biofotolisis adalah proses pemecahan molekul air (H₂O) menjadi hidrogen (H₂) dan
oksigen (O₂) dengan bantuan energi cahaya matahari. Dalam konteks ini, alga hijau
(mikroalga) menggunakan sistem fotosintesisnya untuk menangkap cahaya dan
mengaktifkan enzim hidrogenase yang memungkinkan produksi hidrogen sebagai produk
samping dari fotolisis air. Proses ini menyerupai fotosintesis, namun diarahkan untuk
menghasilkan gas hidrogen sebagai bahan bakar bersih.
Fotofermentasi oleh bakteri
Fotofermentasi dilakukan oleh jenis bakteri fotosintetik, seperti bakteri ungu non-sulfur,
yang memanfaatkan cahaya matahari dan bahan organik (seperti asam organik) untuk
menghasilkan hidrogen. Berbeda dari biofotolisis, proses ini tidak melibatkan pemecahan
langsung air, melainkan transformasi senyawa organik menjadi hidrogen di bawah
kondisi anaerob (tanpa oksigen) dan pencahayaan.
Selanjutnya bagan metode proses produksi hidrogen secara biologis sebagai berikut:
Alves, dkk. (2024). Hydrogen Technologies: Recent Advances, New Perspectives, and
Applications. Brazil: Intech Open. DOI: [Link]
Cotton, F.A., dan Wilkinson, G. (1972). ADVANCED INORGANIC CHEMISTRY. New York:
John Wiley & Sons.
Fazlunnazar, M., Hakim, L., Meriatna, Sulhatun, Aminullah, M. M. (2020). PRODUKSI GAS
HIDROGEN DARI AIR LAUT DENGAN METODE ELEKTROLISIS MENGGUNAKAN
ELETRODA TEMBAGA DAN ALUMUNIUM (Cu DAN AI). Jurnal Teknologi Kimia Unimal.
Hasibuan, A.A., dkk. (2016). Studi Pengaruh Konsentrasi Kadar Gas Hidrogen Terhadap
Tegangan dan Resistansi menggunakan Sensor Gas Hidrogen Berbasis Semikonduktor. Journal
of Aceh Physics Society (JAcPS), 5(1), 17-21.
Kartika, A., E, dkk. (2025). Pengenalan Konsep Kimia Dasar. Pekalongan, Jawa Tengah: PT
Nasya Expanding Management.
Kurniawan dan Ruhyat, N. (2024). Introduksi Rantai Nilai Hidrogen. Bogor: Perkumpulan
Indonesia Fuel Cell and Hydrogen Energy (IFHE).
Parman, dkk. (2024). Desain Sistem Hidrogen Hijau Dengan Sumber Listrik dari Pembangkit
Listrik Tenaga Surya di Lombok. ROTASI, 24(4), 80-90.
Sihombing, E., Siburian, R. I., Pangaribuan, M. N., & Fadhilah, D. A. (2024). MANFAAT GAS
HIDROGEN DAN SENYAWANYA. Jurnal Penelitian Ilmiah Multidisplin.
Sugiyarto, K.H. (2004). Common Text Book Kimia Anorganik I. Yogyakarta: FMIPA UNY.