B.
Adab berhias
[Link] Adab Berhias
Secara Bahasa: Berasal dari kata tazayyun yang berarti memperindah diri, mempercantik penampilan
dengan pakaian atau hal-hal indah lainnya.
Secara Istilah: Merupakan norma atau aturan sopan santun dalam berhias diri yang didasarkan pada
ajaran agama Islam dan kebiasaan yang baik.
[Link] adab berhias
[Link] yang Lurus: Berhias dengan tujuan ibadah dan rasa syukur atas nikmat Allah, bukan untuk
menarik perhatian lawan jenis yang tidak sah.
[Link] Aurat: Penting untuk menjaga dan menutupi bagian tubuh yang wajib ditutup, baik bagi
pria maupun wanita, sesuai dengan syariat.
[Link] Berlebihan (Bukan Tabarruj): Menghindari penggunaan perhiasan dan riasan yang
berlebihan, seperti menampilkan lekuk tubuh atau make up tebal yang dapat membangkitkan
syahwat lawan jenis.
Menggunakan Bahan yang Halal: Dilarang menggunakan bahan-bahan yang dilarang agama, seperti
yang mengandung unsur najis atau haram, contohnya bahan dari kulit babi atau anjing.
[Link] Menggunakan Simbol Non-Muslim: Sebaiknya menghindari perhiasan atau pakaian yang
mengandung simbol-simbol kepercayaan non-Muslim.
[Link] Menyerupai Lawan Jenis: Berhiaslah dengan cara yang pantas sesuai jenis kelamin, serta tidak
boleh meniru penampilan lawan jenis.
[Link] positif
Nilai positif adab berhias antara lain sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah, menjaga kehormatan
diri dan menjauhi fitnah karena berhias secara syar'i, meningkatkan penampilan yang pantas dan
wajar sesuai syariat, serta menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah dan meneladani keindahan
yang diperbolehkan.
[Link] ada berhias
Membiasakan adab berhias berarti menghias diri dengan cara yang sesuai syariat Islam, yang
meliputi niat yang benar untuk bersyukur, tidak berlebihan atau sombong, menggunakan bahan yang
halal, menutup aurat dengan sempurna, tidak menyerupai lawan jenis, dan menghindari tasyabbuh
(menyerupai non-Muslim) serta berfoya-foya.