0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan3 halaman

Berani Hadapi Bullying di Sekolah

Diunggah oleh

salmaellyaflm0103
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan3 halaman

Berani Hadapi Bullying di Sekolah

Diunggah oleh

salmaellyaflm0103
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Setiap langkah di koridor ini... rasanya berat.

Entah kenapa, padahal cuma jalan ke kelas.

Tapi di sini... semua mata terasa ngeliatin aku.


Ada yang ketawa pelan, ada yang bisik-bisik.
Dan setiap kali aku dengar tawa di belakang,
aku langsung mikir... “itu buat aku, ya?”

(ia menunduk, mempercepat langkah, tapi berhenti di tengah)


Aku pengen pura-pura nggak peduli,
pengen kelihatan biasa aja.
Tapi hatiku kayak... deg-degan terus,
kayak nunggu sesuatu yang buruk bakal kejadian.

(hening sejenak, menatap papan pengumuman di dinding)


Mereka mungkin nggak sadar,
tapi setiap ejekan itu...
nggak hilang gitu aja.
Dia nempel di kepala,
terdengar lagi setiap kali aku mau mulai hari.

(ia tersenyum kecil, getir tapi tulus)


Tapi... ya sudahlah.
Aku udah di sini.
Kalau aku terus bersembunyi,
mereka nggak akan pernah tahu aku masih kuat.

(narik napas dalam, berdiri tegap)


Hari ini... aku tetap jalan ke kelas.
Biar tangan gemetar, biar suara hati berisik,
aku nggak mau berhenti cuma karena takut.

(berhenti di depan pintu kelas, menatap ke dalam)


Mungkin keberanian itu bukan soal berani melawan.
Tapi soal... berani muncul lagi,
walau tahu bisa disakiti.

(setengah berbisik, menatap cermin)


Setiap pagi, selalu begini.
Seragam... sudah disetrika.
Rambut... harus rapi.
Sepatu... bersih.
Aku harus kelihatan “siap”.

(pasang kacamata, menatap diri sendiri)


Tapi kenapa ya... tiap kali ngelihat diri di cermin,
rasanya nggak benar-benar siap.

(hening sebentar, menatap wajahnya sendiri)


Aku tahu nanti di sekolah...
akan ada yang ketawa waktu aku lewat.
Akan ada yang bisik-bisik,
yang pura-pura nyenggol bahuku,
yang nyebut aku “aneh.”

(tersenyum tipis, menunduk)


Padahal aku cuma... pengen belajar.
Cuma pengen ngerasa kayak anak biasa.

(narik napas pelan, memperbaiki dasi)


Lucu ya...
aku latihan senyum tiap pagi di depan cermin,
biar nggak kelihatan takut.
Tapi mata ini... selalu kelihatan cemas.

(ia menatap lebih dekat ke cermin, suaranya makin lembut)


Kadang aku mikir...
kalau aku ubah gaya rambut, kalau aku diem aja,
kalau aku pura-pura cuek — apa mereka bakal berhenti?

(hening lagi, lalu pelan-pelan tersenyum getir)


Nggak tahu.
Tapi... hari ini aku tetap berangkat.
Karena kalau aku nggak berangkat,
aku bakal kalah sama rasa takutku sendiri.

(ambil tas, menatap cermin terakhir kali)


Kuat ya...
hari ini juga harus kuat.

Anda mungkin juga menyukai