0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan6 halaman

Dasar Perancangan Bangunan Bertingkat

Diunggah oleh

ditayupani2
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan6 halaman

Dasar Perancangan Bangunan Bertingkat

Diunggah oleh

ditayupani2
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Pendahuluan

1. Sejarah Bangunan Bertingkat


2. Prinsip Dasar Fungsi Ruang pada Bangunan Bertingkat
3. Dasar Perancangan Bangunan bertingkat
Perancangan struktur dan konstruksi bangunan bertingkat rendah adalah proses merancang
bangunan yang tidak hanya berhubungan dengan permasalahan struktur saja namun juga
aspek bangunan yang lain yang harus dilakukan secara menyeluruh dan terpadu. Rancangan
bangunan yang berhasil adalah rancangan yang dapat mengoptimalkan perpaduan
kepentingan pada bangunan, sehingga pertimbangan-pertimbangan disain harus dipadukan
dengan seluruh kepentingan bangunan itu. Struktur dalam arsitektur bukanlah pembatas
tetapi fasilitas.
Dasar perancangan struktur bangunan bertingkat melibatkan beberapa langkah penting
untuk memastikan bangunan tersebut aman, kuat, dan fungsional. Berikut adalah beberapa
aspek utama yang perlu diperhatikan:

a. Pemilihan Sistem Struktur: Memilih sistem struktur yang tepat seperti rangka beton
bertulang, rangka baja, atau sistem kombinasi. Sistem ini harus mampu menahan
beban vertikal (beban mati dan beban hidup) serta beban lateral (angin dan
gempa)1.
b. Analisis Beban: Menghitung beban yang akan bekerja pada bangunan, termasuk
beban mati (berat struktur itu sendiri), beban hidup (penghuni dan perabot), serta
beban lingkungan (angin, gempa, salju).
c. Desain Fondasi: Merancang fondasi yang kuat dan stabil untuk menyalurkan beban
dari struktur atas ke tanah. Fondasi harus disesuaikan dengan kondisi tanah dan
beban yang akan ditanggung.
d. Pemilihan Material: Memilih material yang sesuai untuk setiap komponen struktur,
seperti beton bertulang untuk kolom dan balok, baja untuk rangka atap, dan material
lain yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi lingkungan.
e. Perhitungan Struktur: Menggunakan metode analisis struktur seperti metode
elemen hingga (finite element method) untuk memastikan bahwa struktur mampu
menahan beban yang bekerja tanpa mengalami kerusakan atau deformasi yang
berlebihan.
f. Konsiderasi Kode dan Standar: Mematuhi kode dan standar bangunan yang berlaku,
seperti SNI (Standar Nasional Indonesia) untuk memastikan bahwa desain memenuhi
persyaratan keselamatan dan kinerja.
g. Pengujian dan Simulasi: Melakukan pengujian dan simulasi untuk memverifikasi
desain struktur. Ini bisa melibatkan model fisik atau simulasi komputer untuk
menguji respons struktur terhadap beban yang berbeda.
h. Dokumentasi dan Koordinasi: Menyusun dokumentasi lengkap dari desain struktur
dan berkoordinasi dengan tim arsitek, insinyur, dan kontraktor untuk memastikan
bahwa desain dapat diimplementasikan dengan benar.

Komponen Struktur Bangunan


Komponen bangunan adalah elemen-elemen yang membentuk struktur suatu bangunan. Berikut
adalah beberapa komponen utama yang biasanya ditemukan dalam bangunan:

Pondasi
Pondasi merupakan komponen struktur bangunan yang terletak pada bagian paling bawah suatu
bangunan yang fungsinya sebagai penyalur beban-beban yang diterima untuk diteruskan ke dalam
tanah. Pondasi harus dibuat dengan pertimbangan tahan terhadap umur, kuat menahan beban yang
diterima, stabil terhadap pergerakan tanah, dan tahan terhadap unsur-unsur kimia dalam tanah.
Penggunaan pondasi perlu memperhatikan beban bangunan yang akan di bangun, pada rumah
sederhana dapat menggunakan pondasi batu kali namun apabila rumah tersebut bertingkat perlu
diberi pondasi tambahan yaitu footplat. Penggunaan jenis pondasi juga harus mempertimbangkan
kondisi tanah dimana bangunan tersebut akan dibangun jika berada pada kondisi tanah berlumpur
atau lembek bisa menggunakan pondasi sumuran/ strous.

Sloof

Sloof merupakan komponen horizontal yang terletak diatas pondasi, sloof berbentuk balok yang
terbuat dari beton bertulang. Fungsi sloof yaitu untuk meratakan beban dari atas untuk diteruskan
ke pondasi, selain itu sloof berguna sebagai pengikat struktur kolom serta pengunci dinding agara
saat terjadi pergerakan tanah , dinfing tidak roboh. Dimensi sloof pada umumnya disesuaikan dengan
tipe bangunan, untuk bangunan sederhana (1 lantai) dimensi sloof yang digunakan berukuran lebar
15 cm dan tinggi 20 cm, untuk bangunan bertingkat sloof yang digunakan berukuran lebar 15 cm dan
tinggi 30 cm atau lebar 20 cm dan tinggi 30 cm

Kolom

Kolom merupakan komponen struktur vertikal yang terletak di atas sloof yang berfungsi sebagai
pengikat pasangan dinding dan penerus beban dari atas secara vertikal dan meneruskan beban
tersebut ke komponen di bawahnya. Tinggi kolom pada umumnya sama dengan pasangan dinding
yang berkisar antara 3-4 meter. Pada bangunan sederhana kolom dapat dibedakan sesuai dengan
beban yang akan diterima antara lain :

a. kolom utama merupakan kolom yang berfungsi menerima beban seluruh bangunan
secara vertikal seperti plat beton dan balok. Pada bangunan rumah tinggal bertingkat
dimensi yang digunakan berkukuran lebar 20cm dan tinggi 20 cm.

b. kolom praktis merupakan kolom yang berfungsi membantu kolom utama dan
memperkuat struktur dinding. Pada bangunan rumah tinggal sederhana atau tidak
bertingkat umumnya hanya menggunakan satu tipe kolom yaitu kolom praktis yang
berdimensi lebar 15 cm dan tinggi 15 cm.

Ring Balk / Balok Ring

Ring balk merupakan komponen struktur seperti sloof hanya saja penempatannya berada di atas
pasangan dinding. Ring balk berfungsi sama seperti sloof yaitu meratakan beban diatasnya kemudian
meneruskannya ke komponen dibawahnya. Dimensi ring balk yaitu lebar 15 cm dan tinggi 15 cm.

Balok

Balok merupakan komponen struktur bangunan yang berfungsi sebagai dudukan lantai diatasnya,
beban dari lantai atas akan diteruskan secara horizontal. Dimensi balok disesuaikan dengan beban
diatasnya jika bangunan memiliki beban yang sangat berat maka perlu menggunakan hitungan
khusus. Pada bangunan sederhana 2 lantai dimensi balok yang digunakan adalah lebar 15 cm dan
tinggi 20 cm.
Plat Lantai Beton

Plat lantai merupakan lantai kerja pada bangunan bertingkat, plat lantai beton terbuat dari beton
bertulang. Plat lantai dapat difungsikan sebagai lantai kerja dan juga lantai sebagai atap, untuk plat
lantai kerja tebal plat minimal adalah 12 cm sedangkan tebal plat untuk atap minimal 7 cm. Plat
lantai ini bertumpuan pada balok-balok dibawahnya.

Sistim Struktur Bangunan Bertingkat


Contoh Sistem Struktur

Sistem struktur diimplementasikan dalam berbagai bentuk dan desain, disesuaikan dengan
kebutuhan dan karakteristik bangunan. Berikut adalah beberapa contoh sistem struktur yang umum
dijumpai:

1. Sistem rangka baja


Sistem ini menggunakan baja sebagai bahan utama dalam rangka bangunan. Sistem rangka
baja terkenal karena kekuatannya yang tinggi, kemampuannya untuk menjangkau bentang
yang lebar, dan fleksibilitasnya dalam desain. Contohnya adalah gedung bertingkat,
jembatan, dan struktur industri.
2. Sistem beton bertulang
Sistem ini menggunakan beton yang diperkuat dengan baja tulangan. Sistem ini menawarkan
ketahanan yang tinggi terhadap tekanan dan tahan lama. Contohnya adalah bangunan
bertingkat, jembatan, dan struktur sipil lainnya.
3. Sistem struktur kayu
Sistem ini menggunakan kayu sebagai bahan utama. Sistem ini mudah dikerjakan, ringan, dan
ramah lingkungan. Contohnya adalah rumah tinggal, bangunan komersial kecil, dan struktur
sementara.
4. Sistem struktur batu bata
Sistem ini menggunakan batu bata sebagai bahan utama. Sistem ini menawarkan ketahanan
terhadap api dan isolasi yang baik. Contohnya adalah bangunan tradisional, dinding
pembatas, dan struktur dekoratif.
5. Sistem Rangka Ruang (Space Frame)
Struktur tiga dimensi yang terdiri dari elemen-elemen yang saling terhubung membentuk
pola segitiga. Sistem ini sangat kuat dan ringan, cocok untuk bangunan dengan bentang
lebar.
6. Sistem Dinding Geser (Shear Wall)
Menggunakan dinding beton bertulang yang ditempatkan secara vertikal untuk menahan
beban lateral seperti angin dan gempa. Sistem ini sering digunakan pada bangunan tinggi
untuk meningkatkan stabilitas.
7. Sistem Rangka Kaku (Rigid Frame)
Menggunakan balok dan kolom yang terhubung secara kaku untuk menahan beban vertikal
dan lateral. Sistem ini memberikan fleksibilitas dalam desain arsitektural.
8. Sistem Kombinasi
Menggabungkan beberapa sistem struktur untuk memanfaatkan keunggulan masing-masing.
Misalnya, menggunakan sistem rangka baja untuk bagian atas bangunan dan sistem beton
bertulang untuk bagian bawah.
Model dan Fungsi Penyaluran Beban
Jenis Beban pada Struktur Bangunan

Analisis struktural adalah bagian yang sangat penting dari desain bangunan dan infrastruktur lainnya
seperti jembatan dan terowongan. Hal ini karena beban struktural dapat menyebabkan tekanan,
deformasi, dan perpindahan yang dapat mengakibatkan masalah struktural atau bahkan keruntuhan.

Peraturan bangunan seperti yang tertuang dalam SNI mensyaratkan bahwa struktur harus dirancang
dan dibangun untuk dapat menahan semua jenis beban yang mungkin dihadapi selama siklus hidup
bangunan tersebut.

Jenis Beban pada Struktur Bangunan

Ada beberapa jenis beban yang berbeda yang terjadi pada struktur, sifatnya akan bervariasi sesuai
dengan desain, penggunaan, lokasi, dan bahan yang digunakan. Persyaratan desain pada umumnya
ditentukan dalam hal beban maksimum yang harus mampu ditahan oleh suatu struktur. Beban pada
bangunan umumnya diklasifikasikan menjadi beban mati (Dead Load) atau beban hidup (Live Load),
Beban mati mengacu pada berat struktur itu sendiri dan umumnya tetap konstan selama berdirinya
struktur tersebut. Beban hidup, seperti beban lalu lintas manusia, lalu lintas kendaraan yang dapat
bervariasi pada setiap waktunya.

Beban pada bangunan juga dapat dikategorikan sebagai:

Beban terkonsentrasi (atau beban titik): Beban tunggal yang bekerja pada area yang relatif kecil,
seperti beban pada tumpuan kolom.

Beban baris: Beban mengerahkan beban sepanjang garis, seperti berat dinding di atas plat lantai
lantai.

Beban terdistribusi (atau permukaan): Ini memberikan beban pada area permukaan, seperti berat
plat lantai dan bahan struktur atap.

Beban mati (Dead Load)

Beban mati, juga dikenal sebagai muatan permanen atau statis, adalah beban yang dominan terkait
dengan berat struktur itu sendiri, yang tetap diam dan relatif konstan dari waktu ke waktu. Beban
mati dapat mencakup berat elemen struktural, partisi non-struktural yang permanen, perlengkapan
tak bergerak seperti eternit, lemari built-in, dan sebagainya.

Beban mati dapat dihitung dengan menilai berat bahan yang ditentukan dan volumenya seperti yang
terhitung dalam rancangan. Secara teori, sangat mungkin untuk menghitung beban mati dengan
tingkat akurasi yang baik. Meskipun demikian banyak praktisi yang menggunakan hitungan estimasi
untuk mempermudah perhitungan beban.

Beban hidup (Live Load)

Beban hidup, juga dikenal sebagai muatan yang diaplikasikan, biasanya bersifat sementara, dapat
berubah, dan dinamis. Beban ini seperti lalu lintas kendaraan, penghuni, furnitur dan peralatan
lainnya. Intensitas muatan ini dapat bervariasi tergantung pada waktu penggunan.
Misalnya gedung kantor mungkin mengalami peningkatan beban hidup selama jam kerja di siang hari
tetapi beban jauh lebih kecil pada malam hari atau pada akhir pekan. Beban hidup dapat
dikonsentrasikan atau didistribusikan dan mungkin melibatkan benturan, getaran atau percepatan.

Beban lingkungan (Environmental Load)

Beban lingkungan dapat bekerja pada struktur akibat kondisi topografi dan cuaca sekitar yang
berpengaruh langsung pada bangunan. Beban lingkungan lebih sulit dihitung secara akurat karena
harus melalui riset yang panjang, tidak seperti beban mati dan beban hidup yang bisa diukur dengan
lebih mudah.

Beban angin (Wind Load)

Beban angin dapat terjadi oleh pergerakan udara yang berpengaruh terhadap suatu struktur, dan
analisis mengacu pada pemahaman tentang meteorologi dan aerodinamika pada struktur. Beban
angin mungkin bukan masalah besar bagi bangunan kecil, tetapi tetap penting untuk diperhatikan
karena penggunaan bahan yang lebih ringan berpengaruh pada kerentanannya diterbangkan oleh
angin.

Penggunaan bentuk yang mempengaruhi aliran udara, biasanya pada bentuk atap. Jika berat mati
suatu struktur tidak mencukupi untuk menahan beban angin, struktur dan kaitan tambahan mungkin
diperlukan. Penggunaan bangunan dengan struktur atap tenda, kanopi atau atap seng yang ringan
sangat rentan terbang saat angin kencang.

Kecepatan angin desain bangunan biasanya ditentukan dari catatan riset menggunakan teori nilai
ekstrim untuk memprediksi kecepatan angin tidak biasa yang mungkin terjadi di masa depan. Analisis
juga dimungkinkan dengan menggunakan perangkat lunak dinamika fluida komputer.

Beban gempa (Earthquake Load)

Beban horisontal yang signifikan dapat terjadi pada struktur selama gempa bumi. Bangunan di area
aktivitas seismik perlu dianalisis tambahan dan dirancang dengan hati-hati untuk memastikan
struktur tidak roboh jika terjadi gempa bumi.

Beban termal (Thermal Load)

Semua bahan akan mengembang atau berkontraksi dengan perubahan suhu dan ini dapat
mengerahkan beban yang signifikan pada suatu struktur. Ini biasanya terjadi pada struktur atap baja
di siang hari yang panas. Struktur akan memuai menjadi lebih panjang sehingga terlihat melengkung.
Jangan sampai pemuaian ini membuat struktur rusak.

Beban Hujan (Rain Load)

Daerah tropis sering terkena hujan sehingga membuat bangunan diguyur air. Untuk itu perlu
dilakukan analisis terhadap struktur khususnya atap apakah mampu menahan guyuran hujan dan
mengalirkan air dengan jumlah tertentu saat hujan. Talang air yang terlalu kecil dapat menyebabkan
masalah kebocoran saat hujan. Perlu juga diperhatikan bahwa guyuran hujan dapat membusukan
kolom kayu dan rangka atap kayu.

Bentuk dan Material Struktur


Dalam perancangan bangunan bertingkat, bentuk dan material struktur sangat penting untuk
memastikan kekuatan, stabilitas, dan efisiensi bangunan. Berikut adalah beberapa bentuk dan
material yang umum digunakan:
A. Bentuk Struktur
1) Rangka Pemikul Momen (Moment Resisting Frame)
Struktur ini menggunakan balok dan kolom yang terhubung secara kaku
untuk menahan beban vertikal dan lateral. Bentuk ini memberikan fleksibilitas dalam
desain arsitektural.

2) Dinding Geser (Shear Wall)


Dinding beton bertulang yang ditempatkan secara vertikal untuk menahan
beban lateral seperti angin dan gempa. Ini sering digunakan pada bangunan tinggi
untuk meningkatkan stabilitas.

3) Rangka Ruang (Space Frame)


Struktur tiga dimensi yang terdiri dari elemen-elemen yang saling terhubung
membentuk pola segitiga. Sistem ini sangat kuat dan ringan, cocok untuk bangunan
dengan bentang lebar.

4) Struktur Komposit
Menggabungkan bahan-bahan seperti baja dan beton untuk memanfaatkan
keunggulan masing-masing. Misalnya, balok baja dengan pelat beton untuk
meningkatkan kekuatan dan efisiensi.

B. Material Struktur
1) Beton Bertulang
Digunakan untuk kolom, balok, dan pelat lantai. Beton bertulang
menawarkan kekuatan tekan yang tinggi dan tahan lama.
2) Baja
Baja digunakan untuk balok, kolom, dan rangka atap. Baja memiliki kekuatan
tarik yang tinggi dan fleksibilitas dalam desain.
3) Kayu
Kayu digunakan terutama untuk rangka atap dan dinding interior. Kayu
memberikan estetika alami dan insulasi termal yang baik, meskipun kurang tahan
terhadap api dan serangga.
4) Batu Bata dan Blok Beton
Batu bata dan blok beton digunakan untuk dinding. Material ini memberikan
isolasi termal dan akustik yang baik serta tahan lama.
5) Kaca
Digunakan untuk fasad dan dinding partisi. Kaca memungkinkan
pencahayaan alami dan memberikan tampilan modern, meskipun memerlukan
perawatan khusus untuk keamanan dan efisiensi energi.

Anda mungkin juga menyukai