Qoshosul dan I'jazul Qur'an: Pemahaman Dasar
Qoshosul dan I'jazul Qur'an: Pemahaman Dasar
DAN HADITS
“Qoshosul Qur’an dan Kemukjizatan Qur’an ( Ijazah Qur’an)”
Disusun Oleh:
Arya Aji Darmawan : 24531155
Salwa : 24531167
Zahara Dwita Anggraini : 24531168
i
KATA PENGANTAR
Curup, 4 Oktober2025
Penulis
ii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL..........................................................................i
KATA PENGANTAR........................................................................ii
DAFTAR ISI....................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN.................................................................1
iii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Allah menurunkan Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW sebagai sumber ajaran
Islam dan juga sebagai way of life. Turunnya Alquran merupakan peristiwa besar sebagai
satu-satunya wahyu yang masih ada hingga sekarang ini. Sebagai verbum-dei (kalam Allah),
Alquran mencangkup spiritualitas dan doa Muhammad yang berasal dari substansi eksistensi
ke-Rasullannya melalui firman Allah ke dalam jiwa Rasul yang suci. Al-Qur’an merupakan
kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺsebagai petunjuk bagi seluruh umat
manusia. Di dalamnya terdapat berbagai kandungan ilmu, hukum, kisah, dan pelajaran yang
tidak hanya relevan pada masa lalu, tetapi juga tetap aktual sepanjang zaman. Salah satu
aspek penting dalam memahami keindahan dan keagungan Al-Qur’an adalah Qoshosul
Qur’an (kisah-kisah dalam Al-Qur’an) serta I’jazul Qur’an (kemukjizatan Al-Qur’an).
Qoshosul Qur’an bukan sekadar cerita biasa, melainkan sarana pendidikan dan
pembinaan akhlak bagi manusia. Kisah-kisah para nabi, kaum terdahulu, dan peristiwa
bersejarah dalam Al-Qur’an mengandung hikmah yang mendalam tentang keimanan,
kesabaran, serta akibat dari ketaatan dan kedurhakaan. Melalui kisah tersebut, Allah
mengajarkan nilai moral dan spiritual yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-
hari. Di sisi lain, kemukjizatan Al-Qur’an atau I’jazul Qur’an menjadi bukti nyata bahwa
kitab suci ini bukan ciptaan manusia. Keindahan bahasa, kedalaman makna, keakuratan
ilmiah, serta pengaruhnya yang luar biasa terhadap hati manusia menunjukkan bahwa Al-
Qur’an adalah wahyu yang datang dari Allah SWT. Mukjizat ini menjadi bukti kerasulan
Nabi Muhammad ﷺdan menegaskan keunggulan Al-Qur’an atas segala bentuk karya
manusia.
Oleh karena itu, pembahasan mengenai Qoshosul Qur’an dan I’jazul Qur’an menjadi
penting untuk dikaji, agar kita dapat memahami bagaimana kisah-kisah Al-Qur’an berperan
dalam membentuk keimanan serta bagaimana kemukjizatannya meneguhkan kebenaran
risalah Islam. Melalui kajian ini, diharapkan umat Islam mampu menumbuhkan kecintaan
yang lebih dalam terhadap Al-Qur’an dan menjadikannya sebagai pedoman hidup dalam
setiap aspek kehidupan.
1
B. RUMUSAN MASALAH
Dari latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang dapat diambil yaitu :
1. Apa yang dimaksud dengan Qashash al-Qur’an dan bagaimana macam-macam serta
hikmahnya?
2. Apa yang dimaksud dengan I’jazul Qur’an (kemukjizatan al-Qur’an) dan apa saja
bentuk-bentuknya?
3. Bagaimana faedah Qashash al-Qur’an dan kemukjizatan al-Qur’an dalam kehidupan
umat Islam?
4. Mengapa Qashash dan I’jazul Qur’an penting dipahami sebagai bukti kebenaran
risalah Islam dan pedoman hidup manusia?
C. TUJUAN MASALAH
1. Untuk mengetahui pengertian Qashash al-Qur’an beserta macam-macam dan
hikmahnya.
2. Untuk memahami pengertian I’jazul Qur’an serta bentuk-bentuk kemukjizatannya.
3. Untuk menjelaskan faedah Qashash al-Qur’an dan kemukjizatan al-Qur’an dalam
memperkuat iman dan akhlak umat Islam.
4. Untuk menegaskan pentingnya Qashash dan I’jazul Qur’an sebagai bukti kerasulan
Nabi Muhammad SAW serta pedoman hidup bagi umat manusia.
2
BAB II
PEMBAHASAN
“Dia (Musa) berkata “itulah (tempat) yang kita cari” Lalu keduanya kembali
mengikuti jejak mereka semula.”
Maksudnya, kedua orang itu kembali lagi untuk mengikuti jejak dari mana
keduanya datang. Qashash berarti berita yang berurutan. Dijelaskan dalam Firman
Allah pada QS. Ali-Imran ayat 62:
إن هذا لهو القصص الحق وما من إله إال ال َواَّن الَّلَه َلُهَو اْلَعِزيُز اْلَحِكيُم
Artinya: Sungguh ini adalah kisah yang benar, tidak ada Tuhan selain Allah,
dan sungguh Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana.
Qashash al-Qur'an adalah pemberitaan Qur'an ihwal umat yang telah lalu,
nubuwat (kenabian) yang terdahulu dan peristiwa-peristiwa yang telah terjadi. Quran
banyak mengandung keterangan tentang kejadian pada masa lalu, sejarah bangsa-
bangsa, keadaan negeri-negeri dan peninggalan atau jejak setiap umat. Ia
menceritakan semua keadaan mereka dengan cara yang menarik dan memesona
(mengagumkan).
A. Macam-Macam Qashash Al-Qur’an
Menurut Manna al-Qaththan, kisah Qur’an dibagi kepada tiga yaitu:
1. Kisah Anbiya yakni kisah yang mengandung dakwah mereka kepada
kaumnya, mukjizat-mukjizat yang memperkuat dakwahnya, sikap orang-orang
yang memusuhinya, tahapan-tahapan dakwah dan perkembangannya serta
1
Muchotob Hamzah, Studi Alquran Komprehensif, (Yogyakarta: Gama Media 2003), hlm 201
3
hasil-akibat yang diterima oleh mereka yang percaya dan golongan yang
mendustakan. Seperti kisah Nuh, Ibrahim, Musa, Harun, Isa, Muhammad dan
nabi-nabi serta rasul lainnya.
2. Kisah yang berkaitan dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa lalu
dan orang-orang yang belum pasti kenabiannya. Seperti kisah Thalut dan Jalur,
Habil dan Qabil, dua orang putra Adam, Ashab al-Kahfi, Zulkarnain, Karun,
Ashab al-Sabti, Maryam, Ashab al-Ukhdud, Ashab al-Fil, dan lain-lain.
3. Kisah yang berhubungan dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa
rasulullah. Seperti Perang Badar dan Uhud pada surat Ali Imran, perang
Hunain dan Tabuk pada surat Taubah, perang Ahzab dalam surat al-Ahzab,
hijrah nabi, Isra Mi’raj dan lain-lain.2
4
sebagainya. Kisah-kisah tersebut dari dahulu sudah ada, Sekarang pun
masih ada dan hingga masa yang akan datang pun masih tetap ada..
Bahkan, eksistensi wujud Allah termasuk dalam hal ghaib masa sekarang,
karena la ada namun kita tidak bisa melihatnya di dunia ini.
c. Kisah-kisah hal-hal ghaib pada masa yang akan datang (al-qashash al-
ghuyub al- mustqbilah) yaitu, kisah-kisah yang menceritakan peristiwa
yang akan datang yang belum terjadi pada waktu turunnya al-Qur’an,
kemudian peritiwa tersebut betul betul terjadi. Contohnya seperti
kemenangan bangsa Romawi atas Persia, yang diterangkan ayat 1-4 surat
al-Rum. Di antara karekteristik orang mukmin yang paling menonjol
adalah beriman kepada halghaib. Rasionalitas Islam adalah rasianalitas
ilmiah ghaibiyah.
2. Ditinjau dari segi Materi
a. Kisah-kisah para Nabi. Kisah ini mengandung dakwah mereka pada
kaumnya, mu’jizat-mu’jizat yang memperkuat dakwahnya, kisah sikap
orang-orang yang memusuhinya, tapan-tahapan dakwah dan
perkembangannya serta akibat-akibat yang diperkuat oleh yang
mempercayai dan golongan yang menustakan. Misalnya, kisah Nuh,
Ibrahim, Musa, Harun, Yusuf dan lain-lainnya.
b. Kisah-kisah yang berhubungan dengan peristiwa yang terjadi pada
masa lalu dan orang-orang yang belum pasti kenabiannya. Misalnya
kisah Thalut dan Jalut, penghunigua, Zulkaranain dan lain-lainnya.
c. Kisah-kisah yang berhubungan dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi
pada masa Rasulullah. Seperti perang Badar dan perang Uhud dalam
surat Ali Imran, Perang Hunain dan Tabuk dalam surat al-Taubah,
Isra’. Dan lain-lain.
3. Ditinjau dari Segi Pelaku:
a. Manusia, yaitu kisah yang pelakunya berupa manusia. Contoh: kisah
nabi Sulaiman, Fir’aun, Maryam, dan lain-lain.
b. Malaikat, yaitu kisah yang pelakunya berupa malaikat. Contoh: kisah
malaikat yang terdapat dalam QS. Hud ayat 69-83 yaitu yang
mengisahkan bahwa malaikat datang kepada nabi Ibrahim dan nabi
Luth dengan menjelma sebagai seorang tamu.
c. Jin, kisah yang digambarkan oleh jin.
5
d. Binatang, yaitu kisah yang pelakunya adalah binatang. Contoh: kisah
burung yang terdapat pada zaman nabi Sulaiman yang diabadikan
dalam QS. An-Naml ayat 18-19.
4. Ditinjau dari Segi Panjang Pendeknya
Dilihat dari panjang pendeknya, kisah-kisah Al-Qur’an dibagi menjadi 3
yaitu:
a. Kisah Panjang Contohnya kisah Nabi Yusuf a.s dalam QS. Yusuf yang
hampir seluruh ayatnya mengungkapkan kehidupan Nabi Yusuf, sejak
masa kanak-kanak sampai dewasa dan memiliki kekuasaan.
b. Kisah yang Lebih Pendek dari Bagian yang Pertama (Sedang) Seperti
kisah Maryam dalam QS. Maryam, kisah Ashabul Kahfi dalam QS. Al-
Kahfi, kisah Nabi Adam dalam QS. Al-Baqarah dan QS. Thaha.
c. Kisah Pendek Kisah yang jumlahnya kurang dari sepuluh ayat,
misalnya kisah Nabi Hud a.s, Nabi Luth a.s dalam QS. Al-A'raf.10
5. Ditinjau Dari Jenisnya Dilihat
a. Kisah Sejarah (al-Qishash al-Tarikhiyyah) Berkisar tentang kisah-
kisah sejarah, seperti para nabi dan rasul.
b. Kisah Perumpamaan (al-Qishash al-Tamliziyah) Untuk menerangkan
atau memperjelas suatu pengertian atau keadaan, bahwa peristiwa itu
tidak benar terjadi tetapi hanya sebagai perumpamaan.
c. isah Futurolog Kisah ini bertujuan untuk mewujudkan tujuan-tujuan
ilmiah atau menafsirkan, fenomena yang ada menguraikan masalah
yang sulit diterima akal.11
6
Di ambil antara hikmah yang dapat kita ambil dari kajian kisah-kisah dalam
al-Qur'an seperti yang disebutkan oleh Ahmad Syadali dalam bukunya antara lain
sebagai berikut:
1. Menjelaskan asas-asas dan dasar-dasar dakwah agama Allah dan menjelaskan
pokok pokok syari'at yang diajarkan oleh para Nabi.
2. Meneguhkan Hati Rasulullah SAW dan umatnya dalam mengamalkan agama
Allah (Islam), serta menguatkan kepercayaan para mukmin tentang datangnya
pertolongan Allah dan kehancuran orang-orang yang sesat.
3. Menyibak ringkasan para Ahli Kitab dengan hujjah yang membenarkan
keterangan dan petunjuk yang mereka sembunyikan, dan menentang mereka
tentang isi kitab mereka sendiri sebelum kitab tersebut diubah dan diganti
seperti firman Allah;
َأ
ُكُّل الَّطَعاِم َكاَن ِح اًّل ِلَبِني ِإْس َر اِئيَل ِإاَّل َما َح َّر َم ِإْس َر اِئيَل َعَلى َنْفِسِه ِمْن َقْبِل ْن
)93( ُتَنَّز َل الَّتْوَر اُة ُقْل َفْأُتوا ِبالَّتْوَر اِة َفاْتُلوَها ِإْن ُكْنُتْم َصاِدِقيَن
“Semua makanan itu halal bagi Bani Israil, kecuali makanan yang diharamkan
oleh Israil (Ya'qub) atas dirinya sebelum Taurat diturunkan mengatakan(Muhammad),
“Maka bawalah Taurat lalu bacalah, jika kamu orang-orang yang benar.” (QS. Ali
Imran: 93)3
7
Menurut Manna Khalil al-Qattan dalam Mabahis fi 'Ulumil Quran
Disebutkan, di antara hikmah yang diulang-ulangnya kisah dalam Al-
Qur'an adalah:
1. Menjelaskan ke-balaghah-an Al-Qur'an. Sebab di antara keistimewaan
balaghah adalah mengungkapkan sebuah makna dalam berbagai
macam bentuk yang berbeda. Dan kisah yang berulang itu
dikemukakan di setiap tempat dengan uslub yang berbeda antara satu
dengan yang lainnya. Serta dituangkan dalam pola yang berlainan
pula, sehingga tidak membuat orang merasa bosan karenanya, bahkan
dapat menambah ke dalam jiwanya makna-makna baru yang tidak
didapatkan saat membacanya di tempat lain.
2. Menunjukkan kehebatan mukjizat Al-Qur'an. Sebab mengemukakan
sesuatu makna dalam berbagai bentuk susunan kalimat di mana salah
satu bentuk pun tidak dapat ditandingi oleh sastrawan Arab,
merupakan tantangan dahsyat dan bukti bahwa Al-Qur'an itu datang
dari Allah.
3. Memberikan perhatian besar terhadap kisah tersebut agar pesan-
pesannya lebih mantap dan melekat dalam jiwa. Hal ini karena
pengulangan. merupakan salah satu cara pengukuhan dan indikasi
betapa besarnya perhatian.
4. Perbedaan tujuan yang karena kisah itu diungkapkan. Maka sebagian
dari makna-maknanya diterangkan di satu tempat, karena hanya itulah
yang diperlukan.4
Sedangkan makna-makna lain-nya diajukan di tempat yang
lain, sesuai dengan tuntutan keadaan dan hikmah penggabungan
qashash yang lainnya adalah sebagai berikut:
4
Manna Khalil al-Qattan, Mabahits fi ‘Ulumil Quran, terjemahan H. Anunur Rafiq El-Mazni, Jakarta: Pustaka
Azzam, 1998, hlm. 301-303.
8
Penjelasan tentang urgensi kisah tersebut. Karena pengulangannya
menunjukkan bahwa kisah tersebut penting.
Penegasan kisah tersebut, agar lebih meresap ke dalam hati
manusia.
Melihat kondisi zaman dan keadaan manusia pada saat itu. Oleh
karena itu, kisah-kisah dalam surat Makkiyah biasanya lebih keras
dan lebih ringkas ementara kisah-kisah dalam surat-surat
Madaniyah sebaliknya, lebih lembut dan lebih panjang,
Menunjukkan kebenaran Al Qur’an dan menunjukkan bahwa Al
Qur’an berasal dari sisi Allah Ta’ala, di mana kisah-kisah tersebut
dihadirkan dalam bentuk yang berbeda-beda tanpa terdapat
kontroversi di dalamnya.5
2. Definisi I’jazul Quran
( I’jaz Secara Bahasa Berasal dari kata ) (عجز – يعجزyang artinya menetapkan
kelemahan yang membuat sesuatu atau pihak lain tak berdaya.. Kelemahan menurut
pengertian umum ialah ketidakmampuan mengerjakan sesuatu, lawan dari )
) (قدرةpotensi, power, kemampuan)..6
I’jaz Secara Istilah : Penampakan kebenaran pengklaiman kerasulan nabi Muhammad
SAW dalam ketidakmampuan orang Arab untu menandingi. Mukjizat nabi yang
abadi, yaitu al-Quran.7
Sedangkan yang di maksud dengan Ijaz secara terminology ilmu Al-Qur’an
adalah sebagaimana yang di kemukakan oleh beberpa ahli sebagai berikut.
1. Menurut Manna Khalil Al Qaththan
Ijaz adalah menempakkan kebenaran Nabi saw dalam pengakuaan orang lain
sebagai rosul utusan Allah SWT dan dang an menampakkan kelemahan orang-
orang arab untuk menandinginya atau menghadapi makjizat yang abadi, yaitu
Al-Qur’an dan kelemahan-kelemahan generasi setelah mereka.8
2. Menutur Ali al shabuniy
i’jaz ialah menetapkan kelemahan manusia baik secara kelompok maupun
bersama-sama untuk menandingi hal serupa dengannya. Maka mukjizat adalah
merupakan bukti yang datangnya dari Allah SWT yang diberikan kepada
hamba-Nya untuk memperkuat kebenaran misi kerasullan dan kenabiaanya.
5
Ibid., hlm. 303-305.
6
Usman, humul Qur’an, (Yogyakarta: Teras, 2009), hal 285
7
Ibid.,hal.205
8
Manna Khalil Al Qattan, Study Ilmu-ilmu Al Quran (terjemahan dari Mubahits fi Ulumul Our an), Jakarta:
Pustaka Litera Antar Nusa, 2004), hal. 371
9
Sedangkan mukjizat adalah perkara yang luar biasa yang disertai dengan
tantangan yang tidak mungkin dapat ditangani oleh siapapun dan kapanpun.
3. Menurut Muhammad Bakar Ismail
Hal luar biasa yang di sertai dan di ikuti tantangan yang diberikan oleh Allah
swt kepada Nabi-nabinya sebagai hujjah dan bukti yang kuat atas misi dan
kenbenaran terhadap apa yang di embannya yang bersumber dari Allah SWT.
Mukjizat
Dari definisi diatas dapat dipahami antara l’jaz dan mukjizat itu dapat
dikatakan scarti yakni melonjak. Hanya saja pengertian Ijaz di atas mengesankan
batasan yang lebih sepesifik, yang hanya Al-Qur’an. Sedangkan pengertian mukjizat,
menegaskan batasan yang lebih luas, yakni bukan hanya berupa Al-Qur’an, tetapi juga
perkara-perkara lain yang tidak mampu dijangkau manusia secara keseluruhan.
Demikian dalam konteks ini antara pengertian l’jaz dan mukjizat itu saling
melengkapi, sehingga nampak jelas keistimewaan dari ketetapan-ketetapan Allah
yang khusus diberikan kepada Rasul-rasul pilihan-Nya sebagai salah satu bukti.
Kebenaran misi kerasulan yang dibawahnya.
Kemukjizatan al-Quran antara lain terletak pada segi fashahah dan
balaghahnya, susunan dan gaya bahasanya, serta isinya yang tiada tandingannya. Al-
Quran dibeberapa ayat menentang seluruh manusia dan jin untuk membuat yang
serupa dengan al-Quran, salah satu firman Allah SWT:
ْأ ْأ
ُقْل َلِئِن اْجَتَمَعِت اِإْلْنَس َواْلِجُّن َعلى أْن َي ُتوا ِبمْثِل هَذا اْلُقْر آِن اَل َي ُتوَن ِبِمْثِلِه َوَلْو
Artinya: Katakanlah, “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat
yang serupa al-Qur’an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa
dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain.
(Al-Isra/17:88)
I jazul Qur'an mempunyai beberapa tujuan, yaitu:
1. Untuk membuktikan kerasulan Nabi Muhammad SAW.
2. Untuk membuktikan bahwa kitab suci Al-Qur'an benar-benar merupakan wahyu
darı Allah.
3. Untuk menunjukkan kelemahan mutu sastra dan balagah bahasa manusia.
4. Untuk menunjukkan kelemahan daya upaya dan rekayasa manusia,Sebagaimana
telah dijelaskan, mukjizat-mukjizat yang dibawa oleh para Rasul sangat.
berbeda dengan yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW, yaitu Al-Qur'an. Karna Al-
Qur'an adalah kalam-Nya atau ucapan-Nya sehingga keutamaan, kekekalan atau
keabadiannya selalu dimiliki oleh Al-Qur'an, dan jaminan terhadap Al-Qur'an
langsung mendapat penjagaan darrı Allah SWT.
Allah berfirman:
10
ِإَّن اَن َح ُن َنَّز ْلَن الذكر َوِإَّن اَلُه َلَح اِفُظوَن..
Artinya:
“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami
benar-benar memeliharanya.”
Al-Qur'an merupakan mukjizat yang rasional, sesuai dengan akal sehat dan
abadi. Al-Qur'an telah membuktikan bahwa mukjizatnya bisa mengungguli segala
bentuk kekuatan dari yang memiliki inisiatıl kuat atau keistimewaan mmenggunakan
pikiran dan akal. Dengan mukjizat Al-Qur'an, Nabi Muhammad telah berhasil
merubah karakter bangsa Arab sehingga menjadi bangsa yang beradab dalam waktu
relatif singkat.
Contoh di antara aspek- aspek kemujizatan Al-Qur'an lainnya akan jelas
terlihat apabila Al-Qur'an dikaitkan dengan pribadi Nabi Muhammad dan kondisi
masyarakat waktu itu yang antara Jain ilmu pengetahuan belum berkembang .9
Para ulama mengemukakan ada 3 unsur pokok mukjizat, yaitu:
1. Unsur utama dan pertama mukjizat ialah harus menyalahi tradisi atau adat-
kebiasaan (khariqun lil’adah). Sesuatu (mukjizat) yang tidak menyalahi tradisi,
atau kejadiannya sesuai dengan kebiasaan yang umum atau bahkan lazim berlaku,
tidak dapat dikatakan mukjizat. Itulah sebabnya mengapa banyak hal aneh yang
dikeluarkan oleh ahli-ahli sulap bahkan ahli-ahli sihir tidak dinyatakan sebagai
mukjizat, mengingat pada. Dasarnya tidak menyalahi kebiasaan karena tidak
sungguh-sungguh, dan banyak orang lain yang bisa melakukan hal serupa atau
bahkan lebih dari itu,
2. Unsur pokok kedua dari mukjizat ialah bahwa mukjizat harus dibarengi dengan
perlawanan. Maksudnya, mukjizat harus diuji dengan melalui pertandingan atau
perlawanan sebagaimana layaknya sebuah pertandingan. Untuk membuktikan
bahwa itu mukjizat. Harus ada upaya konkret lebih dulu dari pihak lain (lawan)
untuk menandingi mukjizat itu sendiri. Dan pihak yang menandingi itu harus
sebanding atau sepadan dengan yang ditandingi. Jika pihak yang menandingi atau
melawan tidak sebanding kelasnya, maka itu bukan lagi mukjizat namanya.
Sebab, kekalahan yang diderita pihak lawan yang tidak selevel misalnya, tidak
menunjukkan kehebatan si pemenang, dan tidak pula berarti mengisyaratkan
ketidakmampuan pihak yang kalah (lawan)
3. Mukjizat itu tidak terkalahkan. Unsur ketiga dari suatu mukjizat ialah bahwa
mukjizat itu setelah dilakukan perlawanan terhadapnya, ternayata tidak
terkalahkan untuk selama-lamanya. Jika sesuatu/seseorang memiliki kemampuan
luar biasa, tetapi hanya terjadi seketika atau dalam waktu tertentu, maka itu dapat
dikatakan mukjizat..
Dari ketiga unsur utama mukjizat diatas, dapat dikemukakan bahwa mukjizat
itu bersifat suprarasional, teruji dengan sungguh-sungguh dan sama sekali tidak
pernah terkalahkan atau tertandingi sepanjang zaman. Al-Qur’an menylahi tradisi
semua bacaan/buku yang bereedar di tengah-tengah masyarakat. Hal itu telah
terbuktikan sepanjang zaman yang telah berabad-abad lamanya. Sejak dimasa-masa
9
H. Muhammad Amin Suma, Ulumul Qur’an, Rajawali Pers, 2013, hal. 156-158.
11
awal penurunnnya, Al-Qur’an hingga sekarang nyata-nyata menyalahi tradisi
bacaan/buku-buku lain yang dikenal. Masarakat luas mulai dari buku roman, fiksi
hingga buku-buku ilmiah akademmik dalam bidang apapuun. Contohnya dari sisi
pelestarian, misalnya Al-Qur’an terpelihara secara otensitas atau keasliannya. Tidak
ada satu pun buku yang dilestarikan secara utuh dan menyeluruh melalui hafalan dan
tulisan sekaligus. Demikian pula dari sisi subjek yang melakukan pengkajian
terhadapnya. Tidak ada satu pun buku atau hafalan yang dipelajari oleh sekelompok
orang yang mecerminkan semua orang dari berbagai jenis kelamin. Tigkatan usia, dan
paham keagamaan atau keyakinannya.
12
pada suatu tempat atau masa tertentu. Mukjizat al-Quran dapat dijangkau oleh
setiap orang yang menggunakan akalnya, kapan dan dimanapun berada.10
10
M. Quraish Shihah, Mukjizat Al Qur'an, (Bandung: Mizan, 1997), hal. 35
13
menantang mereka untuk mmenghadirkan kitab yang sama seperti Al-
Qur’[Link] dalam kerangka bahasa adalah diksi (pilihan kata), Al-Qur’an selalu
memilih kata yang tepat sesuai degan kondisi dan keadaan. Berbeda dengan bahasa
yang dipakai orang Arab secara umum, dalam pembicaraan atau karya-karya mereka
banyak ditemukan ketidak sesuaian antara diksi dengan kondisi oranng yang diajak
bicara.11
Dalam kajian yang pernah dilakukan par ulama ada beberapa ciri khas yang
menjadi karakteristik gaya bahasa Al-Qur’an antara lain adalah: pertama, keserasian
Al-Qur’an dalam harakatnya, sakinahnya, mad ya dan gunnahnya serta keterkaitan
antar satu dengan yang lainnya sehingga enak didengar da asik untuk dibaca.
Kedua, bahasa Al-Qur’an mampu dinikmati oleh semua kalangan; dari
kalangan awam hingga kaum inelektual, bagi kaum orang Arah dan orang ajam.
Semua kalangan akan dapat menikmati keindahan dan keluwesan bahasa Al-Qur’an.
Ketiga, bahasa Al-Qur’an mmpu merengkuh dua komponen, sekaligus hati dan akal.
Al-Qur’an ketika dibaca mampu membuat hati tenang da pikiran tentram.
14
nazhm) adalah terletak pada dua aspek. Pertama, konstruksi Al-Qur'an secara
keseluruhan. Dalam aspek ini Al-Qur'an tidak sama dengan bangunan syair, puisi
atau prosa yang banyak berkembang di Arab. Kedua, konstruksi internalnya yang
sangat rapi dan indah, sehingga tidak akan ditemukan perbedaan dalam tingkat
penyusunannya.12
12
Nasaruddin Umar, Kajian Gaya Bahasa Al-Qur’an (Ijaz Bayani), 2010, hlm. 40–60
15
Jawabannya, tidak lain. Itu adalah wahyu dari ALLAH SWT.
16
menjadikan teori-teori ilmiah sebagai topik pembahasan [Link] teori-teori
semacam itu bersifat temporal dan profan,artinya ia akan selalu berubah sesuai
dengan peerkembagan zaman.
Fungsi Al-Qur'an adalah sebagai kitab hidayah yang memberikan petunjuk
bagi semua manusia. Al-Qur'n selalu mengajak untuk berpikir dan tadabbur tentang
alam dan segala isinya ketika Al-Qur'an menjelaskan tentang alam mikrokosmos
rasa dalam jiwa kita bahwa alam mikrokosmos tersebut adalah ciptaan tuhan yang
selalu patuh terhadap iradahnya dan alam dengan segala macam isinya hanyalaah
bersifat sementara,ra akan hancur [Link] bahasa yang dipakai Al-Qur'an ketika
menjelaskan ayat-ayat kauniyah (alam) selalu menaik pendengar dan pembicara. 14
14
Ibid.,hal 20-40
17
9. Aturan-aturan hukumnya dapat dijadikan sebagai landasan dalam beribadah, baik
ibadah secara vertikal ataupun horizontal.
10. Dapat menjaga kehormatan, harta, jiwa, akal, dan keturunan dengan menganut dan
mengindahkan tasyri-Nya.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Al-Qur’an adalah mukjizat terbesar yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi
Muhammad SAW sebagai pedoman hidup bagi seluruh umat manusia. Salah satu
kandungan penting dalam Al-Qur’an adalah Qashash al-Qur’an, yaitu kisah-kisah
tentang para nabi, umat terdahulu, serta berbagai peristiwa bersejarah yang penuh
dengan hikmah. Kisah-kisah tersebut bukan sekadar cerita, tetapi sarana pendidikan,
penguat keimanan, pengokoh dakwah, serta pelajaran moral yang berlaku sepanjang
masa. Selain itu, I’jazul Qur’an (kemukjizatan Al-Qur’an) menjadi bukti nyata bahwa
Al-Qur’an benar-benar wahyu Allah. Kemukjizatan ini tampak pada keindahan
bahasa, kesempurnaan susunan ayat, kebenaran berita-berita ghaib, serta kandungan
ilmu dan hukum yang selalu relevan dengan kehidupan manusia. Tidak ada satu pun
manusia ataupun jin yang mampu menandinginya, dan hingga kini Al-Qur’an tetap
terpelihara dalam keaslian serta kemurniannya.
Dengan demikian, Al-Qur’an bukan hanya kitab bacaan, melainkan pedoman
hidup yang mengarahkan manusia menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. Tugas umat
Islam adalah membaca, memahami, menghayati, serta mengamalkan isi
kandungannya dalam kehidupan sehari-hari agar dapat meraih keberkahan dari Allah
SWT.
18
DAFTAR PUSTAKA
Al Munawar, Said Agil Husin. 2004. Al-Qur'an Membangun Tradisi Kesalehan Hakiki.
Jakarta: Ciputat Press.
Manna Khalil Al-Qattan. 2004. Studi Ilmu-Ilmu Al-Qur’an (Terjemahan dari Mabahits fi
Ulumil Qur’an). Jakarta: Pustaka Litera Antar Nusa.
Syadali, Ahmad, dan Ahmad Rofi’i. 2005. Ulumul Qur’an. Bandung: CV Pustaka Setia.
19