0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan22 halaman

Qoshosul dan I'jazul Qur'an: Pemahaman Dasar

Makalah ini membahas tentang Qoshosul Qur'an dan kemukjizatan Qur'an sebagai bagian dari pendidikan agama Islam. Fokus utama adalah memahami kisah-kisah dalam Al-Qur'an yang mengandung hikmah serta kemukjizatan yang menunjukkan kebenaran wahyu Allah. Penulis berharap makalah ini dapat memberikan wawasan dan pemahaman yang lebih dalam tentang Al-Qur'an sebagai pedoman hidup umat Islam.

Diunggah oleh

irvanrahmanto67
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan22 halaman

Qoshosul dan I'jazul Qur'an: Pemahaman Dasar

Makalah ini membahas tentang Qoshosul Qur'an dan kemukjizatan Qur'an sebagai bagian dari pendidikan agama Islam. Fokus utama adalah memahami kisah-kisah dalam Al-Qur'an yang mengandung hikmah serta kemukjizatan yang menunjukkan kebenaran wahyu Allah. Penulis berharap makalah ini dapat memberikan wawasan dan pemahaman yang lebih dalam tentang Al-Qur'an sebagai pedoman hidup umat Islam.

Diunggah oleh

irvanrahmanto67
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

MAKALAH DASAR-DASAR PENDIDIKAN AL-QUR’AN

DAN HADITS
“Qoshosul Qur’an dan Kemukjizatan Qur’an ( Ijazah Qur’an)”

Dosen: Cikdin, [Link].i


KELOMPOK 3
PAI 3A

Disusun Oleh:
Arya Aji Darmawan : 24531155
Salwa : 24531167
Zahara Dwita Anggraini : 24531168

PRODI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM


FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI CURUP
TAHUN AJARAN 2025/2026

i
KATA PENGANTAR

Alhamdulillahirabbil ‘alamin, segala puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat


Allah SWT atas limpahan rahmat, taufik, dan hidayah-Nya sehingga makalah ini yang
berjudul “Qoshosul Qur’an dan Kemukjizatan Qur’an (I’jazul Qur’an)” dapat diselesaikan
dengan baik. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi
Muhammad SAW, keluarga, sahabat, serta umatnya yang istiqamah mengikuti ajaran beliau
hingga akhir zaman.
Penyusunan makalah ini bertujuan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah
Dasar-Dasar Pendidikan Al-Qur’an dan Hadits. Adapun isi pembahasan dalam makalah ini
berfokus pada pemahaman mengenai Qashash al-Qur’an yang berisi kisah-kisah penuh
hikmah, serta kemukjizatan Al-Qur’an (I’jazul Qur’an) yang menjadi bukti nyata
kebenaran wahyu Allah SWT. Melalui kajian ini diharapkan pembaca dapat lebih
memahami kedudukan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup yang abadi.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, baik dari segi
penyusunan maupun isi, karena keterbatasan pengetahuan dan pengalaman. Oleh karena itu,
kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan demi perbaikan di masa yang
akan datang. Akhirnya, penulis berharap semoga makalah ini dapat memberikan manfaat,
khususnya bagi penulis sendiri, dan umumnya bagi para pembaca sebagai tambahan
pengetahuan dan wawasan tentang keagungan Al-Qur’an.

Curup, 4 Oktober2025

Penulis

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL..........................................................................i

KATA PENGANTAR........................................................................ii

DAFTAR ISI....................................................................................iii

BAB I PENDAHULUAN.................................................................1

A. Latar Belakang Masalah..........................................................1


B. Rumusan Masalah...................................................................2
C. Tujuan Masalah.......................................................................2
BAB II PEMBAHASAN..................................................................3
1. Definisi Qashashsil Qur’an.....................................................3
A. Maca-macam Qashash Qur’an.....................................4
B. Faedah Qashash Qur’an................................................6
C. Hikma penulisan Qashash Dalam Al-Qur’an...............7
2. Definisi I’jazul Qur’an ...........................................................9
A. Macam-macam Kemukjizatan....................................12
B. Segi-Segikemukkjizatan Al-Qur’an ………………...12
C. Faedah Kemukjizatan Al-Qur’an................................16
BAB III PENUTUP.........................................................................18
A. Kesimpulan...........................................................................18
DAFTAR PUSTAKA......................................................................19

iii
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Allah menurunkan Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW sebagai sumber ajaran
Islam dan juga sebagai way of life. Turunnya Alquran merupakan peristiwa besar sebagai
satu-satunya wahyu yang masih ada hingga sekarang ini. Sebagai verbum-dei (kalam Allah),
Alquran mencangkup spiritualitas dan doa Muhammad yang berasal dari substansi eksistensi
ke-Rasullannya melalui firman Allah ke dalam jiwa Rasul yang suci. Al-Qur’an merupakan
kalamullah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ‫ ﷺ‬sebagai petunjuk bagi seluruh umat
manusia. Di dalamnya terdapat berbagai kandungan ilmu, hukum, kisah, dan pelajaran yang
tidak hanya relevan pada masa lalu, tetapi juga tetap aktual sepanjang zaman. Salah satu
aspek penting dalam memahami keindahan dan keagungan Al-Qur’an adalah Qoshosul
Qur’an (kisah-kisah dalam Al-Qur’an) serta I’jazul Qur’an (kemukjizatan Al-Qur’an).
Qoshosul Qur’an bukan sekadar cerita biasa, melainkan sarana pendidikan dan
pembinaan akhlak bagi manusia. Kisah-kisah para nabi, kaum terdahulu, dan peristiwa
bersejarah dalam Al-Qur’an mengandung hikmah yang mendalam tentang keimanan,
kesabaran, serta akibat dari ketaatan dan kedurhakaan. Melalui kisah tersebut, Allah
mengajarkan nilai moral dan spiritual yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan sehari-
hari. Di sisi lain, kemukjizatan Al-Qur’an atau I’jazul Qur’an menjadi bukti nyata bahwa
kitab suci ini bukan ciptaan manusia. Keindahan bahasa, kedalaman makna, keakuratan
ilmiah, serta pengaruhnya yang luar biasa terhadap hati manusia menunjukkan bahwa Al-
Qur’an adalah wahyu yang datang dari Allah SWT. Mukjizat ini menjadi bukti kerasulan
Nabi Muhammad ‫ ﷺ‬dan menegaskan keunggulan Al-Qur’an atas segala bentuk karya
manusia.
Oleh karena itu, pembahasan mengenai Qoshosul Qur’an dan I’jazul Qur’an menjadi
penting untuk dikaji, agar kita dapat memahami bagaimana kisah-kisah Al-Qur’an berperan
dalam membentuk keimanan serta bagaimana kemukjizatannya meneguhkan kebenaran
risalah Islam. Melalui kajian ini, diharapkan umat Islam mampu menumbuhkan kecintaan
yang lebih dalam terhadap Al-Qur’an dan menjadikannya sebagai pedoman hidup dalam
setiap aspek kehidupan.

1
B. RUMUSAN MASALAH
Dari latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang dapat diambil yaitu :
1. Apa yang dimaksud dengan Qashash al-Qur’an dan bagaimana macam-macam serta
hikmahnya?
2. Apa yang dimaksud dengan I’jazul Qur’an (kemukjizatan al-Qur’an) dan apa saja
bentuk-bentuknya?
3. Bagaimana faedah Qashash al-Qur’an dan kemukjizatan al-Qur’an dalam kehidupan
umat Islam?
4. Mengapa Qashash dan I’jazul Qur’an penting dipahami sebagai bukti kebenaran
risalah Islam dan pedoman hidup manusia?
C. TUJUAN MASALAH
1. Untuk mengetahui pengertian Qashash al-Qur’an beserta macam-macam dan
hikmahnya.
2. Untuk memahami pengertian I’jazul Qur’an serta bentuk-bentuk kemukjizatannya.
3. Untuk menjelaskan faedah Qashash al-Qur’an dan kemukjizatan al-Qur’an dalam
memperkuat iman dan akhlak umat Islam.
4. Untuk menegaskan pentingnya Qashash dan I’jazul Qur’an sebagai bukti kerasulan
Nabi Muhammad SAW serta pedoman hidup bagi umat manusia.

2
BAB II
PEMBAHASAN

[Link] Qasashil Qur’an


Qashashil Qur’an adalah ilmu yang membahas kisah-kisah yaitu jejak-jejak
sejarah umat dan Nabi terdahulu serta peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di dalam
al-Qur’an dan yang akan terjadi.1 Kata al-qashash adalah bentuk masdar seperti
firman Allah SWT pada QS. Surat Al-Kahfi ayat 64:
‫َأ‬
‫َقاَل ذِلَك َما ُكَّنا َتْبَع َفاْر َتَّنا َعَلى َثاِرِهَما َقَصْصُه‬

“Dia (Musa) berkata “itulah (tempat) yang kita cari” Lalu keduanya kembali
mengikuti jejak mereka semula.”
Maksudnya, kedua orang itu kembali lagi untuk mengikuti jejak dari mana
keduanya datang. Qashash berarti berita yang berurutan. Dijelaskan dalam Firman
Allah pada QS. Ali-Imran ayat 62:

‫إن هذا لهو القصص الحق وما من إله إال ال َواَّن الَّلَه َلُهَو اْلَعِزيُز اْلَحِكيُم‬

Artinya: Sungguh ini adalah kisah yang benar, tidak ada Tuhan selain Allah,
dan sungguh Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana.
Qashash al-Qur'an adalah pemberitaan Qur'an ihwal umat yang telah lalu,
nubuwat (kenabian) yang terdahulu dan peristiwa-peristiwa yang telah terjadi. Quran
banyak mengandung keterangan tentang kejadian pada masa lalu, sejarah bangsa-
bangsa, keadaan negeri-negeri dan peninggalan atau jejak setiap umat. Ia
menceritakan semua keadaan mereka dengan cara yang menarik dan memesona
(mengagumkan).
A. Macam-Macam Qashash Al-Qur’an
Menurut Manna al-Qaththan, kisah Qur’an dibagi kepada tiga yaitu:
1. Kisah Anbiya yakni kisah yang mengandung dakwah mereka kepada
kaumnya, mukjizat-mukjizat yang memperkuat dakwahnya, sikap orang-orang
yang memusuhinya, tahapan-tahapan dakwah dan perkembangannya serta
1
Muchotob Hamzah, Studi Alquran Komprehensif, (Yogyakarta: Gama Media 2003), hlm 201

3
hasil-akibat yang diterima oleh mereka yang percaya dan golongan yang
mendustakan. Seperti kisah Nuh, Ibrahim, Musa, Harun, Isa, Muhammad dan
nabi-nabi serta rasul lainnya.
2. Kisah yang berkaitan dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa lalu
dan orang-orang yang belum pasti kenabiannya. Seperti kisah Thalut dan Jalur,
Habil dan Qabil, dua orang putra Adam, Ashab al-Kahfi, Zulkarnain, Karun,
Ashab al-Sabti, Maryam, Ashab al-Ukhdud, Ashab al-Fil, dan lain-lain.
3. Kisah yang berhubungan dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa
rasulullah. Seperti Perang Badar dan Uhud pada surat Ali Imran, perang
Hunain dan Tabuk pada surat Taubah, perang Ahzab dalam surat al-Ahzab,
hijrah nabi, Isra Mi’raj dan lain-lain.2

Kisah-kisah di dalam al-Qur’an itu bermacam-macam, ada yang


menceritakan para Nabi dan umat-umat terdahulu, serta ada pula yang mengisahkan
berbagai macam peristiwa dan keadaan, baik dari masa lampau, masa kini, ataupun
masa yang akan datang. Ini merupakan kebenaran kisah-kisah yang mana manusia
tidak tahu pada masa Rasulullah kecuali sebagian saja yang mereka katahui. Atau
mereka tahu kisah-kisah tersebut akan tetapi banyak memperselisihkannya.
1. Ditinjau dari segi waktu
Dalam hal ini, maka qashash al- Qur’an itu terbagi menjadi tiga macam:
a. Kisah-kisah hal-hal ghaib pada masa lalu (al-qashah al-Ghuyub al-
madhiyah). Yaitu kisah-kisah yang menceritakan kejadian-kejadian yang
sudah tidak bisa ditangkap pancaindra yang terjadi pada masa lampau.
Contohnya seperti kisah-kisah pada Nabi Nuh, Nabi Musa, dan kisah
Maryam. Kisah-kisah ini merupakan hal gahib masa lampau,karena telah
usai dan menjadi kisah-kisah klasik. Begitu juga kita tidak mengalaminya,
mendengarnya dan menyaksikannya.
b. Kisah-kisah hal-hal ghaib pada masa kini (al-qashah al-ghuyub al-
hadhirah). Yaitu,kisah-kisah yang menerangkan hal ghaib pada masa
Sekarang, meski sudah Sejak dahulu dan masih akan tetap ada sampai
masa yang akan datang. Contohnya sepertikisah yang menerangkan
tentang para Malaikat, Jin, Setan, siksaan Neraka, kenikmatan Surga dan
2
Manna al-Qaththan, Mabahits fi Ulum Al-Quran (Terjemahan), Jakarta: Pustaka Azzam, 1998, hlm. 45-47.

4
sebagainya. Kisah-kisah tersebut dari dahulu sudah ada, Sekarang pun
masih ada dan hingga masa yang akan datang pun masih tetap ada..
Bahkan, eksistensi wujud Allah termasuk dalam hal ghaib masa sekarang,
karena la ada namun kita tidak bisa melihatnya di dunia ini.
c. Kisah-kisah hal-hal ghaib pada masa yang akan datang (al-qashash al-
ghuyub al- mustqbilah) yaitu, kisah-kisah yang menceritakan peristiwa
yang akan datang yang belum terjadi pada waktu turunnya al-Qur’an,
kemudian peritiwa tersebut betul betul terjadi. Contohnya seperti
kemenangan bangsa Romawi atas Persia, yang diterangkan ayat 1-4 surat
al-Rum. Di antara karekteristik orang mukmin yang paling menonjol
adalah beriman kepada halghaib. Rasionalitas Islam adalah rasianalitas
ilmiah ghaibiyah.
2. Ditinjau dari segi Materi
a. Kisah-kisah para Nabi. Kisah ini mengandung dakwah mereka pada
kaumnya, mu’jizat-mu’jizat yang memperkuat dakwahnya, kisah sikap
orang-orang yang memusuhinya, tapan-tahapan dakwah dan
perkembangannya serta akibat-akibat yang diperkuat oleh yang
mempercayai dan golongan yang menustakan. Misalnya, kisah Nuh,
Ibrahim, Musa, Harun, Yusuf dan lain-lainnya.
b. Kisah-kisah yang berhubungan dengan peristiwa yang terjadi pada
masa lalu dan orang-orang yang belum pasti kenabiannya. Misalnya
kisah Thalut dan Jalut, penghunigua, Zulkaranain dan lain-lainnya.
c. Kisah-kisah yang berhubungan dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi
pada masa Rasulullah. Seperti perang Badar dan perang Uhud dalam
surat Ali Imran, Perang Hunain dan Tabuk dalam surat al-Taubah,
Isra’. Dan lain-lain.
3. Ditinjau dari Segi Pelaku:
a. Manusia, yaitu kisah yang pelakunya berupa manusia. Contoh: kisah
nabi Sulaiman, Fir’aun, Maryam, dan lain-lain.
b. Malaikat, yaitu kisah yang pelakunya berupa malaikat. Contoh: kisah
malaikat yang terdapat dalam QS. Hud ayat 69-83 yaitu yang
mengisahkan bahwa malaikat datang kepada nabi Ibrahim dan nabi
Luth dengan menjelma sebagai seorang tamu.
c. Jin, kisah yang digambarkan oleh jin.

5
d. Binatang, yaitu kisah yang pelakunya adalah binatang. Contoh: kisah
burung yang terdapat pada zaman nabi Sulaiman yang diabadikan
dalam QS. An-Naml ayat 18-19.
4. Ditinjau dari Segi Panjang Pendeknya
Dilihat dari panjang pendeknya, kisah-kisah Al-Qur’an dibagi menjadi 3
yaitu:
a. Kisah Panjang Contohnya kisah Nabi Yusuf a.s dalam QS. Yusuf yang
hampir seluruh ayatnya mengungkapkan kehidupan Nabi Yusuf, sejak
masa kanak-kanak sampai dewasa dan memiliki kekuasaan.
b. Kisah yang Lebih Pendek dari Bagian yang Pertama (Sedang) Seperti
kisah Maryam dalam QS. Maryam, kisah Ashabul Kahfi dalam QS. Al-
Kahfi, kisah Nabi Adam dalam QS. Al-Baqarah dan QS. Thaha.
c. Kisah Pendek Kisah yang jumlahnya kurang dari sepuluh ayat,
misalnya kisah Nabi Hud a.s, Nabi Luth a.s dalam QS. Al-A'raf.10
5. Ditinjau Dari Jenisnya Dilihat
a. Kisah Sejarah (al-Qishash al-Tarikhiyyah) Berkisar tentang kisah-
kisah sejarah, seperti para nabi dan rasul.
b. Kisah Perumpamaan (al-Qishash al-Tamliziyah) Untuk menerangkan
atau memperjelas suatu pengertian atau keadaan, bahwa peristiwa itu
tidak benar terjadi tetapi hanya sebagai perumpamaan.
c. isah Futurolog Kisah ini bertujuan untuk mewujudkan tujuan-tujuan
ilmiah atau menafsirkan, fenomena yang ada menguraikan masalah
yang sulit diterima akal.11

B. Faedah Qashash Al-Qur’an


Allah menetapkan bahwa dalam kisah orang-orang terdahulu terdapat hikmah
dan pelajaran yang bagi orang-orang yang berakal, serta yang mampu merenungkani
kisah-kisah itu, menemukan hikmah dan nasehat yang ada di dalamnya, serta
menggali pelajaran dan petunjuk hidup dari kisah-kisah tersebut. Allah juga
memerintahkan kita untuk ber-tadabbur terhadapnya, memerintahkan untuk
meneladani kisah orang-orang yang sholeh dan mushlih, serta mengambil metode
mereka dalam berdakwah dalam posisi kita sebagai makhluq dan kholifah di muka
bumi ini

6
Di ambil antara hikmah yang dapat kita ambil dari kajian kisah-kisah dalam
al-Qur'an seperti yang disebutkan oleh Ahmad Syadali dalam bukunya antara lain
sebagai berikut:
1. Menjelaskan asas-asas dan dasar-dasar dakwah agama Allah dan menjelaskan
pokok pokok syari'at yang diajarkan oleh para Nabi.
2. Meneguhkan Hati Rasulullah SAW dan umatnya dalam mengamalkan agama
Allah (Islam), serta menguatkan kepercayaan para mukmin tentang datangnya
pertolongan Allah dan kehancuran orang-orang yang sesat.
3. Menyibak ringkasan para Ahli Kitab dengan hujjah yang membenarkan
keterangan dan petunjuk yang mereka sembunyikan, dan menentang mereka
tentang isi kitab mereka sendiri sebelum kitab tersebut diubah dan diganti
seperti firman Allah;

‫َأ‬
‫ُكُّل الَّطَعاِم َكاَن ِح اًّل ِلَبِني ِإْس َر اِئيَل ِإاَّل َما َح َّر َم ِإْس َر اِئيَل َعَلى َنْفِسِه ِمْن َقْبِل ْن‬
)93( ‫ُتَنَّز َل الَّتْوَر اُة ُقْل َفْأُتوا ِبالَّتْوَر اِة َفاْتُلوَها ِإْن ُكْنُتْم َصاِدِقيَن‬

“Semua makanan itu halal bagi Bani Israil, kecuali makanan yang diharamkan
oleh Israil (Ya'qub) atas dirinya sebelum Taurat diturunkan mengatakan(Muhammad),
“Maka bawalah Taurat lalu bacalah, jika kamu orang-orang yang benar.” (QS. Ali
Imran: 93)3

1. Lebih meresapkan pendengaran dan memantapkan keyakinan dalam jiwa para


pendengarnya, karena kisah-kisah itu merupakan salah satu dari bentuk
peradaban.
2. Untuk mempublikasikan mukjizat al-Qur'an dan kebenaran Rasul di dalam
dakwah dan pemberitaannya mengenai umat-umat yang dahulu ataupun
keterangan-keterangan beliau

C. Hikmah Penulisan Qashash dalam Al-Qur’an


3
Depag [Link] qur’an Al kamil. (Jakarta,CV Darus Sunnah 2002) Hal. 63

7
Menurut Manna Khalil al-Qattan dalam Mabahis fi 'Ulumil Quran
Disebutkan, di antara hikmah yang diulang-ulangnya kisah dalam Al-
Qur'an adalah:
1. Menjelaskan ke-balaghah-an Al-Qur'an. Sebab di antara keistimewaan
balaghah adalah mengungkapkan sebuah makna dalam berbagai
macam bentuk yang berbeda. Dan kisah yang berulang itu
dikemukakan di setiap tempat dengan uslub yang berbeda antara satu
dengan yang lainnya. Serta dituangkan dalam pola yang berlainan
pula, sehingga tidak membuat orang merasa bosan karenanya, bahkan
dapat menambah ke dalam jiwanya makna-makna baru yang tidak
didapatkan saat membacanya di tempat lain.
2. Menunjukkan kehebatan mukjizat Al-Qur'an. Sebab mengemukakan
sesuatu makna dalam berbagai bentuk susunan kalimat di mana salah
satu bentuk pun tidak dapat ditandingi oleh sastrawan Arab,
merupakan tantangan dahsyat dan bukti bahwa Al-Qur'an itu datang
dari Allah.
3. Memberikan perhatian besar terhadap kisah tersebut agar pesan-
pesannya lebih mantap dan melekat dalam jiwa. Hal ini karena
pengulangan. merupakan salah satu cara pengukuhan dan indikasi
betapa besarnya perhatian.
4. Perbedaan tujuan yang karena kisah itu diungkapkan. Maka sebagian
dari makna-maknanya diterangkan di satu tempat, karena hanya itulah
yang diperlukan.4
Sedangkan makna-makna lain-nya diajukan di tempat yang
lain, sesuai dengan tuntutan keadaan dan hikmah penggabungan
qashash yang lainnya adalah sebagai berikut:

4
Manna Khalil al-Qattan, Mabahits fi ‘Ulumil Quran, terjemahan H. Anunur Rafiq El-Mazni, Jakarta: Pustaka
Azzam, 1998, hlm. 301-303.

8
 Penjelasan tentang urgensi kisah tersebut. Karena pengulangannya
menunjukkan bahwa kisah tersebut penting.
 Penegasan kisah tersebut, agar lebih meresap ke dalam hati
manusia.
 Melihat kondisi zaman dan keadaan manusia pada saat itu. Oleh
karena itu, kisah-kisah dalam surat Makkiyah biasanya lebih keras
dan lebih ringkas ementara kisah-kisah dalam surat-surat
Madaniyah sebaliknya, lebih lembut dan lebih panjang,
 Menunjukkan kebenaran Al Qur’an dan menunjukkan bahwa Al
Qur’an berasal dari sisi Allah Ta’ala, di mana kisah-kisah tersebut
dihadirkan dalam bentuk yang berbeda-beda tanpa terdapat
kontroversi di dalamnya.5
2. Definisi I’jazul Quran
 ( I’jaz Secara Bahasa Berasal dari kata ) ‫ (عجز – يعجز‬yang artinya menetapkan
kelemahan yang membuat sesuatu atau pihak lain tak berdaya.. Kelemahan menurut
pengertian umum ialah ketidakmampuan mengerjakan sesuatu, lawan dari )
‫) (قدرة‬potensi, power, kemampuan)..6
 I’jaz Secara Istilah : Penampakan kebenaran pengklaiman kerasulan nabi Muhammad
SAW dalam ketidakmampuan orang Arab untu menandingi. Mukjizat nabi yang
abadi, yaitu al-Quran.7
Sedangkan yang di maksud dengan Ijaz secara terminology ilmu Al-Qur’an
adalah sebagaimana yang di kemukakan oleh beberpa ahli sebagai berikut.
1. Menurut Manna Khalil Al Qaththan
Ijaz adalah menempakkan kebenaran Nabi saw dalam pengakuaan orang lain
sebagai rosul utusan Allah SWT dan dang an menampakkan kelemahan orang-
orang arab untuk menandinginya atau menghadapi makjizat yang abadi, yaitu
Al-Qur’an dan kelemahan-kelemahan generasi setelah mereka.8
2. Menutur Ali al shabuniy
i’jaz ialah menetapkan kelemahan manusia baik secara kelompok maupun
bersama-sama untuk menandingi hal serupa dengannya. Maka mukjizat adalah
merupakan bukti yang datangnya dari Allah SWT yang diberikan kepada
hamba-Nya untuk memperkuat kebenaran misi kerasullan dan kenabiaanya.

5
Ibid., hlm. 303-305.
6
Usman, humul Qur’an, (Yogyakarta: Teras, 2009), hal 285
7
Ibid.,hal.205
8
Manna Khalil Al Qattan, Study Ilmu-ilmu Al Quran (terjemahan dari Mubahits fi Ulumul Our an), Jakarta:
Pustaka Litera Antar Nusa, 2004), hal. 371

9
Sedangkan mukjizat adalah perkara yang luar biasa yang disertai dengan
tantangan yang tidak mungkin dapat ditangani oleh siapapun dan kapanpun.
3. Menurut Muhammad Bakar Ismail
Hal luar biasa yang di sertai dan di ikuti tantangan yang diberikan oleh Allah
swt kepada Nabi-nabinya sebagai hujjah dan bukti yang kuat atas misi dan
kenbenaran terhadap apa yang di embannya yang bersumber dari Allah SWT.
Mukjizat

Dari definisi diatas dapat dipahami antara l’jaz dan mukjizat itu dapat
dikatakan scarti yakni melonjak. Hanya saja pengertian Ijaz di atas mengesankan
batasan yang lebih sepesifik, yang hanya Al-Qur’an. Sedangkan pengertian mukjizat,
menegaskan batasan yang lebih luas, yakni bukan hanya berupa Al-Qur’an, tetapi juga
perkara-perkara lain yang tidak mampu dijangkau manusia secara keseluruhan.
Demikian dalam konteks ini antara pengertian l’jaz dan mukjizat itu saling
melengkapi, sehingga nampak jelas keistimewaan dari ketetapan-ketetapan Allah
yang khusus diberikan kepada Rasul-rasul pilihan-Nya sebagai salah satu bukti.
Kebenaran misi kerasulan yang dibawahnya.
Kemukjizatan al-Quran antara lain terletak pada segi fashahah dan
balaghahnya, susunan dan gaya bahasanya, serta isinya yang tiada tandingannya. Al-
Quran dibeberapa ayat menentang seluruh manusia dan jin untuk membuat yang
serupa dengan al-Quran, salah satu firman Allah SWT:

‫ْأ‬ ‫ْأ‬
‫ُقْل َلِئِن اْجَتَمَعِت اِإْلْنَس َواْلِجُّن َعلى أْن َي ُتوا ِبمْثِل هَذا اْلُقْر آِن اَل َي ُتوَن ِبِمْثِلِه َوَلْو‬

‫كان َبْعُضُهْم ِلَبْعٍض ظهيرا‬

Artinya: Katakanlah, “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat
yang serupa al-Qur’an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa
dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain.
(Al-Isra/17:88)
I jazul Qur'an mempunyai beberapa tujuan, yaitu:
1. Untuk membuktikan kerasulan Nabi Muhammad SAW.
2. Untuk membuktikan bahwa kitab suci Al-Qur'an benar-benar merupakan wahyu
darı Allah.
3. Untuk menunjukkan kelemahan mutu sastra dan balagah bahasa manusia.
4. Untuk menunjukkan kelemahan daya upaya dan rekayasa manusia,Sebagaimana
telah dijelaskan, mukjizat-mukjizat yang dibawa oleh para Rasul sangat.

berbeda dengan yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW, yaitu Al-Qur'an. Karna Al-
Qur'an adalah kalam-Nya atau ucapan-Nya sehingga keutamaan, kekekalan atau
keabadiannya selalu dimiliki oleh Al-Qur'an, dan jaminan terhadap Al-Qur'an
langsung mendapat penjagaan darrı Allah SWT.
Allah berfirman:

10
‫ ِإَّن اَن َح ُن َنَّز ْلَن الذكر َوِإَّن اَلُه َلَح اِفُظوَن‬..

Artinya:
“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami
benar-benar memeliharanya.”
Al-Qur'an merupakan mukjizat yang rasional, sesuai dengan akal sehat dan
abadi. Al-Qur'an telah membuktikan bahwa mukjizatnya bisa mengungguli segala
bentuk kekuatan dari yang memiliki inisiatıl kuat atau keistimewaan mmenggunakan
pikiran dan akal. Dengan mukjizat Al-Qur'an, Nabi Muhammad telah berhasil
merubah karakter bangsa Arab sehingga menjadi bangsa yang beradab dalam waktu
relatif singkat.
Contoh di antara aspek- aspek kemujizatan Al-Qur'an lainnya akan jelas
terlihat apabila Al-Qur'an dikaitkan dengan pribadi Nabi Muhammad dan kondisi
masyarakat waktu itu yang antara Jain ilmu pengetahuan belum berkembang .9
Para ulama mengemukakan ada 3 unsur pokok mukjizat, yaitu:
1. Unsur utama dan pertama mukjizat ialah harus menyalahi tradisi atau adat-
kebiasaan (khariqun lil’adah). Sesuatu (mukjizat) yang tidak menyalahi tradisi,
atau kejadiannya sesuai dengan kebiasaan yang umum atau bahkan lazim berlaku,
tidak dapat dikatakan mukjizat. Itulah sebabnya mengapa banyak hal aneh yang
dikeluarkan oleh ahli-ahli sulap bahkan ahli-ahli sihir tidak dinyatakan sebagai
mukjizat, mengingat pada. Dasarnya tidak menyalahi kebiasaan karena tidak
sungguh-sungguh, dan banyak orang lain yang bisa melakukan hal serupa atau
bahkan lebih dari itu,
2. Unsur pokok kedua dari mukjizat ialah bahwa mukjizat harus dibarengi dengan
perlawanan. Maksudnya, mukjizat harus diuji dengan melalui pertandingan atau
perlawanan sebagaimana layaknya sebuah pertandingan. Untuk membuktikan
bahwa itu mukjizat. Harus ada upaya konkret lebih dulu dari pihak lain (lawan)
untuk menandingi mukjizat itu sendiri. Dan pihak yang menandingi itu harus
sebanding atau sepadan dengan yang ditandingi. Jika pihak yang menandingi atau
melawan tidak sebanding kelasnya, maka itu bukan lagi mukjizat namanya.
Sebab, kekalahan yang diderita pihak lawan yang tidak selevel misalnya, tidak
menunjukkan kehebatan si pemenang, dan tidak pula berarti mengisyaratkan
ketidakmampuan pihak yang kalah (lawan)
3. Mukjizat itu tidak terkalahkan. Unsur ketiga dari suatu mukjizat ialah bahwa
mukjizat itu setelah dilakukan perlawanan terhadapnya, ternayata tidak
terkalahkan untuk selama-lamanya. Jika sesuatu/seseorang memiliki kemampuan
luar biasa, tetapi hanya terjadi seketika atau dalam waktu tertentu, maka itu dapat
dikatakan mukjizat..
Dari ketiga unsur utama mukjizat diatas, dapat dikemukakan bahwa mukjizat
itu bersifat suprarasional, teruji dengan sungguh-sungguh dan sama sekali tidak
pernah terkalahkan atau tertandingi sepanjang zaman. Al-Qur’an menylahi tradisi
semua bacaan/buku yang bereedar di tengah-tengah masyarakat. Hal itu telah
terbuktikan sepanjang zaman yang telah berabad-abad lamanya. Sejak dimasa-masa
9
H. Muhammad Amin Suma, Ulumul Qur’an, Rajawali Pers, 2013, hal. 156-158.

11
awal penurunnnya, Al-Qur’an hingga sekarang nyata-nyata menyalahi tradisi
bacaan/buku-buku lain yang dikenal. Masarakat luas mulai dari buku roman, fiksi
hingga buku-buku ilmiah akademmik dalam bidang apapuun. Contohnya dari sisi
pelestarian, misalnya Al-Qur’an terpelihara secara otensitas atau keasliannya. Tidak
ada satu pun buku yang dilestarikan secara utuh dan menyeluruh melalui hafalan dan
tulisan sekaligus. Demikian pula dari sisi subjek yang melakukan pengkajian
terhadapnya. Tidak ada satu pun buku atau hafalan yang dipelajari oleh sekelompok
orang yang mecerminkan semua orang dari berbagai jenis kelamin. Tigkatan usia, dan
paham keagamaan atau keyakinannya.

A. Macam -Macam Mukjizat


Mukjizat dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu,
1. Mukjizat “hissi” (material dan indrawi)
Adalah yang dapat dilihat oleh mata, didengar oleh telinga, dicium oleh
hidung, diraba oleh tangan, dirasa oleh lidah, tegasnya dapat dicapai oleh panca
indra. Mukjizat ini sengaja ditunjukan atau diperlihatkan kepada manusia biasa, H.
Ahmad Syadali, I’jaz al-Qur’an, (1997), hal. [Link] mereka yang tidak biasa
menggunakan kecerdasan pikirannya, yang tidak cakap melihat mata hatinya dan
yang rendah budi dan persannya. Mukjizat nabi-nabi terdahulu semuanya
tergolong dalam jenis mukjizat yang pertama ini. Mukjizat mereka bersifat
material dan indrawi, dalam artian mukjizat tersebut dapat disaksikan atau
dijangkau langsung oleh indrawi oleh masyarakat ditempat seorang nabi
menyampaikan risalahnya, misalnya perahu nabi Nuh yang dibuat atas petunjuk
Allah sehingga mampu bertahan dalam situasi ombak dan gelombang yang begitu
dahsyat, tidak terbakarnya nabi Ibrahim dalam kobaran api: tongkat nabi Musa
yang berubah menjadi ular: penyembuhan yang dilakukan nabi Isa atas izin Allah
dan lain-lain. Semuanya bersifat material indrawi, terbatas pada lokasi tempat nahi
tersebut berada dan berakhir dengan wafatnya masing-masing nabi.
4. Mukjzat “ma’nawi” (rasional)
Lalah mukjizat yang tidak mungkin dapat dicapai dengan kekuatan panca
indra, tetapi harus dicapai dengan kekuatan “agli” atau dengan kecerdasan.
Pikiran. Karena orang tidak akan mungkin mengenal mukjizat ini. Melainkan
orang yang berpikir sehat, bermata hati, berbudi luhur dan yang suka
mempergunakan kecerdasan pikirannya dengan jernih serta jujur. Sebagai contoh
mukjizat nabi Muhammad SAW, sifatnya bukan material indrawi, tetapi aqliyah
(dapat dipahami oleh akal). Karena sifatnya yang demikian, maka ia tidak terbatas

12
pada suatu tempat atau masa tertentu. Mukjizat al-Quran dapat dijangkau oleh
setiap orang yang menggunakan akalnya, kapan dan dimanapun berada.10

B. Segi-Segi kemukjizatan Al-Qur’an


Al-Qur'an ibarat sebuah intan yang cahayanya memancar ke segala penjuru
arah. Jika dilihat dari sisi bahasanya, maka ia akan berada diatas standar bahasa yang
ada. Jika dilirik dari segi cerita-ceritanya, ia akan berbeda dengan buku-buku cerita
pada umumnya. Jika ditilik dari segmen isi dan kandungannya, maka tanpa
diragukan. Al-Qur'an mencakup semua disiplin ilmu yang ada, dan begitu
seterusnya.
Para ulama dengan berbagai macam background dan latar belakang
keilmuwannya. telah berusaha dengan sekuat tenaga untuk menguak kemukjizatan
Al-Qur'an. Namun, hal penting yang perlu dicatat adalah background atau latar
belakang keilmuan seseorang memiliki peran yang sangat signifikan dalam
menentukan hasil kajian [Link] ulama bahasa misalnya,dalam kesimpulan
akhirnya akan mengatakan bahwa segi kemukjizatan Al-Qur'an terletak pada sisi
[Link] dengan seorang sejarawan yang berkesimpulan bahwa
kemukjizatan Al-Qur'an terletak pada sisi cerita-ceritanya dan begitu seterusnya.
Terlepas dari itu semun, yang jelas Al-Qur'an sebagai sebuah kitab hidayah
yang pernah lapuk dan tak akan pernah usang untuk dikaji dan di gali. Semakin
intens mengkaji Al-Qur'an maka semakin banyak ditemukan sisi-sisi
[Link] beberapa segi kemukjizatan yang sudah berhasil dikuak
adalah sebagai berikut:
1. Gaya Bahasanya (Ijaz bayani)
Gaya bahsa Al-Qur’an berbeda dengan gaya bahasa yang biasa dipakai
bangsa Arab pada umumnya. Bahasa-bahasa Arab pada umumnya berubah sesuai
dengan perkembangan zaman, sementara bahasa al-Qur’an tidak mengalami hal
serupa. Sudah 14 abad lamanya, tapı tak ada satu kalimat bahkan huruf yang
berubah.
Keunggulan bahasa Al-Qur’an membuat bangsa Arab kala itu tak berdaya
menghadapinya, tak ada satu pun yang mampu [Link] mereka
terkenal dengan sebutan ahli sastra dan bahasa lebih dari itu, dengan jelas Al-Qur’an

10
M. Quraish Shihah, Mukjizat Al Qur'an, (Bandung: Mizan, 1997), hal. 35

13
menantang mereka untuk mmenghadirkan kitab yang sama seperti Al-
Qur’[Link] dalam kerangka bahasa adalah diksi (pilihan kata), Al-Qur’an selalu
memilih kata yang tepat sesuai degan kondisi dan keadaan. Berbeda dengan bahasa
yang dipakai orang Arab secara umum, dalam pembicaraan atau karya-karya mereka
banyak ditemukan ketidak sesuaian antara diksi dengan kondisi oranng yang diajak
bicara.11
Dalam kajian yang pernah dilakukan par ulama ada beberapa ciri khas yang
menjadi karakteristik gaya bahasa Al-Qur’an antara lain adalah: pertama, keserasian
Al-Qur’an dalam harakatnya, sakinahnya, mad ya dan gunnahnya serta keterkaitan
antar satu dengan yang lainnya sehingga enak didengar da asik untuk dibaca.
Kedua, bahasa Al-Qur’an mampu dinikmati oleh semua kalangan; dari
kalangan awam hingga kaum inelektual, bagi kaum orang Arah dan orang ajam.
Semua kalangan akan dapat menikmati keindahan dan keluwesan bahasa Al-Qur’an.
Ketiga, bahasa Al-Qur’an mmpu merengkuh dua komponen, sekaligus hati dan akal.
Al-Qur’an ketika dibaca mampu membuat hati tenang da pikiran tentram.

Keempat, Al-Qur’an mampu berbicara denngan bahsa dan gaya yang


bervariatif, dari takallum ke mukhatab dan ghaib, dari mukhaab ke takallum dan.
Ghaib, dari ghaib ke takallum dan mukhatab. Kelima, Al-Qur’an juga mampu
mengekspreksikan sebuah pembicraan dengan bahasa yang sanagt singkat, padat
daan sarat makna.

2. Model Penyusunannya (Ta 'lif wa an-Nazhm)


Sebagaimana maklum bahwa Al-Qur'an tidak diturunkan dalam satu waktu,
tapi ia diturunkan secara berangsur-angsur selama sekitar dua puluh tiga tahun,
sesuai dengan kebutuhan dan kondisi masyarakat Arab ketika itu. Al-Qur'an tersusun
begitu rapi dan indah. Disana ada keterkaitan antara satu surat dengan surat yang
lainnya, ada ketersambungan antara ayat dengan ayat lainnya, ada keterpautan antara
kalimat dengan kalimat lainnya, ada kecocokan antara kata dengan kata. Dengan
susunan seperti ini, Al-Qur'an merupakan satu kesatuan yang utuh. Keindahan
susunannya menegaskan bahwa ia adalah bagian dari segi kemukjizatan Al-Qur'an
yang tak terbantahkan.
Letak kemukjizatan Al-Qur'an dilihat dari sisi susunannyalat-ta 'lif wa an-
11
Said Agil Husin Al Munawar, Al-Qur’an Membangun Tradisi Kesalehan Hakiki,(Jakarta: Ciputat Press, 2004),
hal. 33.

14
nazhm) adalah terletak pada dua aspek. Pertama, konstruksi Al-Qur'an secara
keseluruhan. Dalam aspek ini Al-Qur'an tidak sama dengan bangunan syair, puisi
atau prosa yang banyak berkembang di Arab. Kedua, konstruksi internalnya yang
sangat rapi dan indah, sehingga tidak akan ditemukan perbedaan dalam tingkat
penyusunannya.12

3. Ilmu Pengetahuan ('Ulûmhu wa Ma'arifuhu)


Diantara fungsi pokokdturukannya Al-Qur'an adalah untuk memberikan
hidayah kepada umat mnusia. Oleh karena itu, tak heran jika Al-Qur'an memuat
tentag berbagai macam aspek ilmu da pengetahuan. Pengetahuan yang ada di
dalamnya telah sampai pada puncak kesempuraan, sehingga tak ada yang ia
perintahkan kecuaili berdampak pada kebaikan dan kemashlatan, dan tak ada yang di
larang kecuali ia membawa bencana dan bencana.
Al-Qur'an hadir dengan berbagai macam ilmu dan pengetahuan antara lain:
ilmu akidah, ibadah, muamalah, peraturan-undangan, akhlak, pendidikan, politik.
ekonomi, sosial, qashas, dan sebagainya. Dalam bidang akidah misalnya, Al-Qur'an
denag tegas menyatakan tentang keesaan Allah SWT. Dia tersesucikan dari sifat-
sifatnya. kelemahan. Al-Qur'an secara eksplisit juga menjelaskan tentang
kemustahilan Allah mempunyai anak. Dia adalah Dzat yang sempurna dari
paripurna, tak ada satu pun yang mampu menandinginya. Keterangan ini dapat
dilihat misalnnya dalam. Al-Qur’an juga berbicara tentang kebatilan akidah ahli
kitab.
Bahkan mencounter keyakinan mereka dengan argumentası dan dalıl yang
logis dan analitik. Sebut saja misalnya,ketika Al-Qur’an berbicara tentanng
keyakinan orang-orang yahudi dalam syrat An-Nisa:155-158 atau ketka berbicara
kepada orang-orang nasrani dalam surat yang sama ayat: 171-172.
Dari penjelasan diatas, dapat diambil sebuah kesimpulanbahwa hal ini
merupakan salah satu sisi kemukjizatan al-Qur’an. Karena sebagaimana maklum
baha Muhammad SAW adalah seorang nabi yag ummi, tidak bisa membaca dan
menulis, in juga tidaak dibesarkan dalam lingkungan intelektual tidak pula hidup
dalam negara yang beradaban. Jika demikian, pertanyaan adalah,bagaimana mungkin
Muhammad SAW dapat mendatangkan berbagai macam ilmu dan pengetahuan
sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur’an secara lengkap dan komprenshif?

12
Nasaruddin Umar, Kajian Gaya Bahasa Al-Qur’an (Ijaz Bayani), 2010, hlm. 40–60

15
Jawabannya, tidak lain. Itu adalah wahyu dari ALLAH SWT.

4. Memenuh Semua Kebutuhan Manusia


Al-Qur’an adalah kitab tasyrı’dan hidayah bagı umat manusia, maka menjadi
sebuah keniscayaan jika didalamnya terdapat dasar-dasar syiari,at dan hukum bagi
kemaslahatan mereka. Sebuah syariat yang bersumber dari Allah SWT. Sebuah
syariat yang shalih likulli makan wa zaman karena syariat tersebut bersumber
langsng dari tuhan yang maha mengetahui dan bijaksana maka tak heran jika
kekuatan dan nilai aktualitasnya berada diatas syari,at atau hukum buatan manusia.
Segala aspek kebutuhan manusia telah tercover dalam Al-Qur’an, tak ada satu
permasalahan pun yang tak terselesaikan dengan Al-Qur’an.
 Dalam aspek ibadah. Al-Qur’an telah emberikan petunju kepada manusia
untuk menjalankan konsep keseimbagan melalui kuasa dan shalat konsep
kesetaraan melalui [Link] kebersamaaan melalui haji.
 Dalam aspek sosial Al-Qur’an mengajak untuk hidup bersatu,saling bahu
membahu dan gotong royong menghapus panatisme yang berlebihan dan
menghilangkan perbedaan.
 Dalam aspek politik, Al-Qur’a telah meletakan dasar keadilan dan persamaan
derajat antar sesama. Bukti bahwa Al-Qur’an adalah kitab suci yang mampu
menjaidi solusi bagi umat manusia dari generasi ke generasi tanpa mengenal
basi atau ketinggalan zaman. (Nasaruddin Umar.2010)

5. Kisah-Kisahnya (ikhbaruhu bilghaib)


Al-Qur'an bercerita tentang umat terdahulu, bercerita tentang kejadian yang
akan datang dan bercerita tentang peristiwa yang terjadi pada masa Rasullah
[Link]ı muhammad SAW tak pernaah belajar dari ahli kitab,disamping itu dia
adalah seorang Ummi. Maka tak lain kisah-kisah ni merupakan wahyu dari dzat yang
maha mengetahui maha ghaib sebagaimana firmannya dalam surah Al-an'am:
[6]:59.13

6. Teori ilmiah (1 jaz ilmi)


Teori-teori ilmiah yang baru-baru ini ditemukan banyak diklaim oleh kalangan
muslim sebagai salah satu sisi kemkjizatan Al-Qur'an namun demikian pembicaraan
Al-Qur'an tentang teori ilmiah tidak keluar 5 point penting. Al-Qur'an tidak pernah
13
Ibid.,hal.55-60

16
menjadikan teori-teori ilmiah sebagai topik pembahasan [Link] teori-teori
semacam itu bersifat temporal dan profan,artinya ia akan selalu berubah sesuai
dengan peerkembagan zaman.
Fungsi Al-Qur'an adalah sebagai kitab hidayah yang memberikan petunjuk
bagi semua manusia. Al-Qur'n selalu mengajak untuk berpikir dan tadabbur tentang
alam dan segala isinya ketika Al-Qur'an menjelaskan tentang alam mikrokosmos
rasa dalam jiwa kita bahwa alam mikrokosmos tersebut adalah ciptaan tuhan yang
selalu patuh terhadap iradahnya dan alam dengan segala macam isinya hanyalaah
bersifat sementara,ra akan hancur [Link] bahasa yang dipakai Al-Qur'an ketika
menjelaskan ayat-ayat kauniyah (alam) selalu menaik pendengar dan pembicara. 14

C .Faedah Kemukjizatan Al-Qur’an


Ijaz al-Quran dapat memberikan manfaat bagi orang yang mempelajari dan
mengkaji Baik itu orang awam ataupun para ilmuan, cendikiawan, dan semua
kalangan manusia yang senantiasa mempergunakan akal sehatnya. Adapun manfaat
yang dapat dipetik dari l’jaz al-Quran akan disebutkan dibawah ini.
1. Kelembutan, keindahan, keserasian kalimat dan redaksial-Quran dapat
memberikan kesegaran kepada akal dan hati, baik orang awam ataupun kaum
cendikiawan.
2. Gaya bahasa yang indah dapat dijadikan sebagai media dakwah untuk menarik
hati orang.
3. Dengan adanya berita-berita ghaib, dapat dijadikan contoh ibrah guna
memperkokoh iman kepada Allah dan membimbing amal ke arah yang benar.
4. Dapat dijadikan hujjah dalam menyampaikan kebenaran al-Qur’an bagi orang-
orang yang ragu.
5. Dapat mengokohkan keyakinan akan kebenaran Risalah Muhammad Saw.
6. Dapat mengetahui keagungan Allah dengan memahami ilmiah yang ada di alam
dunia.
7. Dapat menjadi motivasi untuk selalu bereksperimen, berinovasi, dan berkarya
dalam ilmu pengetahuan.
8. Mengetahui kelemahan dan kekurangan manusia.

14
Ibid.,hal 20-40

17
9. Aturan-aturan hukumnya dapat dijadikan sebagai landasan dalam beribadah, baik
ibadah secara vertikal ataupun horizontal.
10. Dapat menjaga kehormatan, harta, jiwa, akal, dan keturunan dengan menganut dan
mengindahkan tasyri-Nya.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Al-Qur’an adalah mukjizat terbesar yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi
Muhammad SAW sebagai pedoman hidup bagi seluruh umat manusia. Salah satu
kandungan penting dalam Al-Qur’an adalah Qashash al-Qur’an, yaitu kisah-kisah
tentang para nabi, umat terdahulu, serta berbagai peristiwa bersejarah yang penuh
dengan hikmah. Kisah-kisah tersebut bukan sekadar cerita, tetapi sarana pendidikan,
penguat keimanan, pengokoh dakwah, serta pelajaran moral yang berlaku sepanjang
masa. Selain itu, I’jazul Qur’an (kemukjizatan Al-Qur’an) menjadi bukti nyata bahwa
Al-Qur’an benar-benar wahyu Allah. Kemukjizatan ini tampak pada keindahan
bahasa, kesempurnaan susunan ayat, kebenaran berita-berita ghaib, serta kandungan
ilmu dan hukum yang selalu relevan dengan kehidupan manusia. Tidak ada satu pun
manusia ataupun jin yang mampu menandinginya, dan hingga kini Al-Qur’an tetap
terpelihara dalam keaslian serta kemurniannya.
Dengan demikian, Al-Qur’an bukan hanya kitab bacaan, melainkan pedoman
hidup yang mengarahkan manusia menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. Tugas umat
Islam adalah membaca, memahami, menghayati, serta mengamalkan isi
kandungannya dalam kehidupan sehari-hari agar dapat meraih keberkahan dari Allah
SWT.

18
DAFTAR PUSTAKA

Al Munawar, Said Agil Husin. 2004. Al-Qur'an Membangun Tradisi Kesalehan Hakiki.
Jakarta: Ciputat Press.

Amin Suma, Muhammad. 2013. Ulumul Quran. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.

Anwar, Rosihan. 2010. Ulum Al-Qur'an. Bandung: CV Pustaka Setia.

Departemen Agama Republik Indonesia. 2002. Al-Qur’an Al-Kamil. Jakarta: CV Danis


Sunnah.

Manna Khalil Al-Qattan. 2004. Studi Ilmu-Ilmu Al-Qur’an (Terjemahan dari Mabahits fi
Ulumil Qur’an). Jakarta: Pustaka Litera Antar Nusa.

Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy, Teungku. 2002. Ilmu-Ilmu Al-Qur’an. Semarang: PT


Pustaka Rizki Putra.

Shihab, M. Quraisy. 1997. Mukjizat Al-Qur’an. Bandung: Mizan.

Syadali, Ahmad, dan Ahmad Rofi’i. 2005. Ulumul Qur’an. Bandung: CV Pustaka Setia.

Umar, Nasaruddin. 2010. Ulumul Qur’an: Mengungkap Makna-Makna Tersembunyi Al-


Qur’an. Jakarta Selatan: Al-Ghazali Center.

Usman. 2009. Humul Qur’an. Yogyakarta: Teras.

19

Anda mungkin juga menyukai